Minggu, Oktober 18, 2026

YAIKH HAJI MUHAMMAD SYA'YA AN NAQARI AL BANJARI: KEULAMAAN, KETOKOHAN, DAN PERANNYA DALAM MENDUKUNG PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA DI HIJAZ A. Pengantar


SYAIKH HAJI MUHAMMAD SYA'YA AN NAQARI AL BANJARI: KEULAMAAN, KETOKOHAN, DAN PERANNYA DALAM MENDUKUNG PERJUANGAN KEMERDEKAAN INDONESIA DI HIJAZ


A. Pengantar
Dalam sejarah hubungan keilmuan dan budaya antara Indonesia dan Hijaz, muncul figur-figur yang hidupnya tidak hanya terbatas pada satu bidang saja. Mereka menggabungkan antara ilmu, hijrah, perdagangan, pelayanan kepada umat, dan komunikasi dengan dunia Islam. Salah satu figur tersebut adalah Haji Muhammad Sya'ya Al Banjari atau yang dikenal dalam beberapa sumber dan riwayat dengan nama Haji Muhammad Sa'yah, dan namanya ditulis dalam beberapa referensi latin sebagai H. Muhammad Sakya.
B. Kelahiran & Latar Belakang Keluarga
H. Muhammad Sya'ya dilahirkan di Nagara pada tahun 1338 H atau 1920 M, beliau tumbuh di tengah keluarga ulama yang sangat mencintai ilmu agama. Ayahnya adalah Syaikh H. Muhammad Ja'far bin H. Abdussamad bin Yahya bin Ismail An Naqari Al Banjari, seorang ulama terkemuka di Nagara yang dikenal lewat dunia pendidikan Islam dan perjalanannya menuntut ilmu ke Makkah. Adapun ibu beliau bernama Salma binti Syaikh Muhammad Azhari bin Syaikh Muhammad Yasin bin Syaikh Abdul Manaf An Naqari Al Banjari, menunjukkan bahwa garis keturunan ibunya juga berasal dari lingkungan ulama Banjar. Selain itu, beliau juga mempunyai saudara perempuan bernama Aminah yang menikah dengan Tuan Guru H. Halil Nagara, seorang tokoh ulama yang berpengaruh besar di daerah tersebut.
C. Pendidikan & Guru-Gurunya
H. Muhammad Sya'ya memulai pencarian ilmunya di rumahnya sendiri, beliau mendapatkan pendidikan pertamanya dari ayahnya. Pola pendidikan seperti ini biasa terjadi di rumah-rumah keluarga ulama. Pelajar mulai belajar Al Qur'an, ilmu agama, dan bahasa Arab dari ayah atau keluarga mereka. Setelah itu, mereka pindah ke majelis para ulama dan madrasah-madrasah ilmu.
Ketika H. Muhammad Sya'ya tumbuh dewasa, beliau pergi ke Hijaz. Beliau datang ke Makkah saat masih muda, di sanalah babak baru kehidupannya dimulai di lingkungan keilmuan. Saat itu, Makkah menjadi tempat berkumpulnya para ulama dunia Islam serta para pencari ilmu dari India, Indonesia, Asia Tenggara, dan wilayah lainnya. Kota ini memiliki majelis ilmu di Masjidil Haram dan banyak sekolah-sekolah agama.
Salah satu lembaga pendidikan penting bagi H. Muhammad Sya'ya adalah Madrasah Shaulatiyah yang merupakan salah satu sekolah formal tertua di Makkah, tempat ini terkenal karena mengatur sistem pendidikan dan menyebarkan ilmu agama serta bahasa Arab. Madrasah ini menjadi lembaga keilmuan yang berpengaruh dalam sejarah pendidikan di Makkah. Sumber-sumber sejarah menyebutkan madrasah ini didirikan sekitar tahun 1290 H atau 1873 M oleh Syaikh Muhammad Rahmatullah Al Hindi Al Kairanawi, beliau adalah penulis Kitab Izharul Haq.
Kehadiran H. Muhammad Sya'ya di Makkah merupakan kesempatan untuk bertemu dengan sejumlah ulama dan para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia. Riwayat yang beredar dalam biografinya menyebutkan bahwa beliau termasuk orang yang belajar di bawah didikan Syaikh Muhammad Amin Kutbi, salah satu ulama Makkah yang terkenal. Dengan demikian, kepribadian H. Muhammad Sya'ya terbentuk dalam lingkungan yang memadukan antara pendidikan keluarga yang religius di rumah ayahnya dengan pendidikan di sekolah-sekolah keilmuan dan majelis para ulama.
D. Keahlian Dalam Berbahasa Arab
Salah satu yang menonjol dari H. Muhammad Sya'ya adalah kemahirannya berbahasa Arab. Beliau menguasai bahasa Arab dengan sangat baik, baik dalam berbicara maupun menulis. Hal ini membantunya berintegrasi dengan masyarakat Hijaz, berkomunikasi dengan para ulama, pedagang, dan penduduk Makkah, serta memungkinkannya memainkan peran penting dalam menjalin komunikasi antara anggota komunitas Indonesia dan masyarakat Arab.
Bagi dirinya, bahasa Arab bukan sekadar bahasa untuk belajar, melainkan telah menjadi bahasa kehidupan, pekerjaan, perdagangan, dan interaksi sosial. Inilah yang menjelaskan kemampuannya untuk bergerak secara leluasa di kalangan akademis, dunia perdagangan, serta berbagai komunitas pendatang di Hijaz.
E. Menempa & Berdagang Emas
Selain menuntut ilmu, H. Muhammad Sya'ya juga merupakan salah satu pengrajin emas di Makkah yang terkenal karena keahliannya dalam membuat emas dan perhiasan. Profesi pengrajin emas memiliki arti penting di Makkah karena kota tersebut ramai dengan aktivitas perdagangan akibat ibadah haji, umrah, dan kedatangan umat Islam dari seluruh dunia. Selain itu, H. Muhammad Sya'ya juga dikenal di pasar emas Jeddah.
F. Peran Dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Masa kehidupan H. Muhammad Sya'ya tidak terlepas dari berbagai perubahan politik besar yang terjadi di Indonesia pada paruh pertama abad ke-20 M. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 M, Revolusi Nasional Indonesia dimulai untuk melawan kembalinya kolonialisme Belanda. Peristiwa kemerdekaan ini kemudian bertransformasi menjadi isu internasional, di mana bangsa Indonesia yang berada di luar negeri berupaya mendapatkan pengakuan dari negara-negara Islam dan Arab.
Dalam konteks ini, H. Muhammad Sya'ya diinisiasi ikut serta dalam kegiatan nasional Indonesia di Hijaz melalui hubungannya dengan Panitia Kemerdekaan Indonesia yang beroperasi di Arab Saudi, serta keterlibatannya dalam memobilisasi komunitas Indonesia, pelajar, dan jamaah haji untuk mendukung perjuangan kemerdekaan.
Berdasarkan kisah yang beredar tentang riwayat hidupnya, beliau merupakan salah satu tokoh yang berjasa menyampaikan kabar tentang revolusi Indonesia kepada masyarakat dunia Islam, serta memanfaatkan musim haji sebagai momentum berkumpulnya banyak umat Muslim dari berbagai negara. Tugas ini sangat penting pada masa itu karena sarana komunikasi tidak semudah sekarang, sementara propaganda Belanda berupaya menggambarkan konflik tersebut sebagai urusan internal atau pemberontakan semata. Di sisi lain, para pejuang nasional Indonesia berupaya meyakinkan dunia bahwa apa yang sedang terjadi adalah perjuangan murni rakyat demi meraih kemerdekaan dan kedaulatan.
G. Misi Haji Agus Salim Tahun 1947 M
Tahun 1947 M menjadi fase penting dalam diplomasi Indonesia ketika mengirimkan misi ke Timur Tengah untuk mendapatkan pengakuan dan dukungan. H. Agus Salim adalah salah satu tokoh diplomatik paling terkemuka di Indonesia pada fase tersebut, beliau memimpin berbagai misi serta komunikasi dengan negara-negara Arab dan Islam demi meraih pengakuan atas Republik Indonesia.
Sumber-sumber sejarah menegaskan bahwa misi diplomatik Indonesia di Timur Tengah berkontribusi pada perolehan pengakuan penting dari dunia Arab dan Islam, yang paling menonjol adalah pengakuan dari Mesir yang kemudian diikuti oleh pengakuan dari negara-negara lain termasuk Kerajaan Arab Saudi. Sumber-sumber sejarah juga menyebutkan bahwa Kerajaan Arab Saudi memberikan pengakuan secara de jure kepada Republik Indonesia pada November 1947 M, dan pada 24 November 1947 M sebagai penyerahan pengakuan Saudi tersebut.
Kisah khusus tentang H. Muhammad Sya'ya menyebutkan bahwa beliau termasuk di antara tokoh-tokoh yang menyambut misi H. Agus Salim di Hijaz, dan panitia yang terkait dengannya berkontribusi dalam menyediakan dukungan lokal, logistik, serta sosial bagi delegasi. Secara historis, penting untuk membedakan antara peran diplomatik resmi H. Agus Salim bersama delegasi Indonesia dan peran anggota diaspora Indonesia di Hijaz yang menyediakan lingkungan pendukung, komunikasi, dan penyambutan.
H. Dukungan Untuk Pertempuran Nagara
Revolusi Indonesia juga berkaitan dengan perlawanan lokal di berbagai wilayah Nusantara, termasuk wilayah Nagara di Kalimantan Selatan. Narasi dalam biografi H. Muhammad Sya'ya menunjukkan bahwa beliau memantau situasi keluarganya di Tanah Air serta mengirimkan surat-surat dorongan dan dukungan kepada para pejuang, terutama selama peristiwa Palagan Nagara yang berkaitan dengan perlawanan terhadap Belanda pada Januari 1949 M.
Rincian perjuangan dan dukungan:
• Dukungan moral: Mengirim surat dukungan kepada para pejuang di Nagara.
• Perjuangan diplomasi: Mengirim telegram dan surat kepada masyarakat internasional serta anggota diaspora.
• Tujuan aksi: Melawan propaganda kolonial Belanda dan menonjolkan keabsahan perjuangan kemerdekaan Indonesia.
I. Kepedulian Terhadap Para Pelajar
Hijaz dahulu menjadi pusat kedatangan para pelajar yang menuntut ilmu, dan masyarakat Asia Tenggara sangat bergantung pada jaringan para ulama, penduduk lokal, dan pedagang untuk membantu urusan tempat tinggal, pendidikan, serta komunikasi mereka. Dari sinilah nama H. Muhammad Sya'ya dikaitkan dengan bantuan kepada para pelajar, pemenuhan sebagian kebutuhan mereka, serta menjaga hubungan antara mereka dengan lingkungan keilmuan dan komunitas Indonesia.
Hal tersebut merupakan kelanjutan alami dari perannya sebagai keturunan keluarga ulama, karena beliau tetap mempertahankan tradisi keluarganya dalam melayani ilmu dan para penuntutnya meskipun bentuk pelayanannya bersifat sosial dan disesuaikan dengan kehidupannya di Hijaz.
J. Koneksi Haji Muhammad Sya'ya Dengan Warisan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari
Kepribadian H. Muhammad Sya'ya tidak dapat dipahami secara terpisah dari warisan ilmiah keluarganya. Ayahnya, Syaikh H. Muhammad Ja'far bin H. Abdussamad, berasal dari silsilah keilmuan Banjar yang terhubung dengan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan, salah satu ulama Asia Tenggara paling terkenal yang namanya dikaitkan dengan Makkah dan tradisi keilmuan Islam di Nusantara.
Perpindahan H. Muhammad Sya'ya ke Hijaz merupakan kelanjutan dari jalur sejarah yang panjang dalam keluarganya, migrasi dari Nagara ke Makkah, menuntut ilmu, lalu menetap dan melayani komunitas. Namun beliau menambahkan dimensi baru pada warisan ini melalui perdagangan serta aktivitas sosial dan nasional.
K. Wafat
Setelah menjalani kehidupan selama delapan dekade, H. Muhammad Sya'ya wafat di Makkah pada tahun 1421 H atau 2000 M dalam usia 80 tahun. Jenazahnya kemudian dimakamkan di pemakaman Ma'la, dekat dengan Makam Sayyidah Khadijah Al Kubra. Kepergiannya menandai akhir dari perjalanan hidup seorang ulama yang menghabiskan sebagian besar usianya di Hijaz, namun tetap terikat pada akar keluarganya di Nagara, latar belakang keluarganya yang religius dan berilmu, serta masyarakat Banjar dan Indonesia tempat beliau hidup. Hidupnya adalah sebuah perjalanan melintasi dua tempat yang berjauhan secara jarak, namun tetap terhubung secara batin dan keilmuan.
Para jamaah haji dan pelajar asal Indonesia bukan sekadar pengunjung di Hijaz, sebagian dari mereka menetap, menikah, berdagang, menimba ilmu dari para ulama, lalu menjadi bagian dari masyarakat Hijaz. Dari lingkungan inilah H. Muhammad Sya'ya muncul. Di satu sisi, beliau adalah putra Nagara. Di sisi lain, beliau adalah tokoh Makkah dan Jeddah. Dan di sisi lain lagi, beliau merupakan figur dari komunitas Indonesia yang turut ambil bagian dalam peristiwa-peristiwa besar Indonesia pada abad ke-20 M.
L. Penutup
H. Muhammad Sya'ya bin Syaikh H. Muhammad Ja'far bin H. Abdussamad An Naqari Al Banjari adalah sosok yang layak untuk dikaji dan didokumentasikan dalam sejarah hubungan antara Asia Tenggara dan Hijaz. Beliau dipandang bukan sekadar sebagai individu dari komunitas Indonesia, melainkan sebagai teladan yang dalam hidupnya memadukan unsur ilmu, hijrah, perdagangan, pelayanan sosial, serta keterikatan pada perjuangan nasional.
Al Fatihah...
رب فانفعنا ببركتهم واهدنا الحسنى بحرمتهم وأمتنا في طريقتهم ومعافاة من الفتن.
Malam Selasa, 12 Rabi'ul Awwal 1448 H.
Sumber: H. Badi bin H. Busyra bin Syaikh H. Muhammad Sya'ya di Thuwal, Jeddah, Arab Saudi.