Minggu, Oktober 18, 2026

MENGENAL LAMBUNG MANGKURAT: MAHAPATIH NAGARA DIPA

 MENGENAL LAMBUNG MANGKURAT: MAHAPATIH NAGARA DIPA

Lambung Mangkurat adalah anak kedua dari Pendiri Nagara Dipa yaitu Empu Jatmika. Dalam Hikayat Banjar, Lambung Mangkurat digambarkan sebagai sosok yang berjiwa pemimpin, kuat, dan bijaksana. Pembawaannya yang bersahaja membuat semua orang menghormatinya.
Ketika Empu Jatmika meninggal, Lambung Mangkurat menggantikannya memimpin kerajaan. Karena ayahnya melarang keturunannya menjadi raja, maka dia tidak menggunakan gelar tersebut. Selanjutnya Lambung Mangkurat dan saudaranya yang bernama Empu Mandastana menjalankan wasiat ayahnya untuk mencari seorang keturunan dewata untuk dijadikan raja.
Sementara menunggu petunjuk Dewa Batara guna menemukan raja bagi Nagara Dipa, Empu Mandastana melakukan pertapaan di darat dan Lambung Mangkurat melakukan pertapaan di atas air. Dua tahun lamanya mereka melakukan pertapaan namun tidak juga mendapatkan petunjuk apa-apa.
Dalam keadaan putus asa, pada suatu malam Lambung Mangkurat bermimpi, di mana ayahnya menyuruhnya membuat rakit yang dihiasi mayang pinang. Rakit tersebut dihanyutkan di sungai pada malam hari dan dia diperintahkan duduk di atasnya. Dari petunjuk mimpi itu, Lambung Mangkurat akhirnya menemukan seorang putri yang kemudian dikenal dengan nama Putri Junjung Buih. Ketika Putri Junjung Buih menjadi Ratu Nagara Dipa, Lambung Mangkurat menjabat sebagai patih.
Lambung Mangkurat mempunyai salah satu istri bernama Dayang Diparaja, dari sang istri lahir anak perempuan bernama Putri Huripan. Setelah dewasa, Putri Huripan menikah dengan Surya Ganggawangsa, anak Putri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata yang kemudian menjadi Raja Nagara Dipa ke-3. Dari pernikahan itu lahir Putri Kalarang dan Putri Kalungsu.
Pernikahan tersebut menjadikan adanya darah Lambung Mangkurat dalam keturunan Raja-Raja Nagara Dipa setelahnya. Dikisahkan bahwa Lambung Mangkurat mempunyai umur panjang dan menjabat sebagai patih bagi beberapa generasi Raja Nagara Dipa.
Sumber: Kesultanan Banjar.