Minggu, Oktober 18, 2026

SITUS PATIH MUHUR: KISAH SAHABAT YANG AKHIRNYA JADI SETERU

 SITUS PATIH MUHUR: KISAH SAHABAT YANG AKHIRNYA JADI SETERU


Patih Muhur merupakan salah seorang pemimpin Dayak Bakumpai yang menjadi salah satu dari lima orang patih yang ikut menobatkan Sultan Suriansyah sebagai Raja Banjar. Sebagai tokoh awal berdirinya Kesultanan Banjar, Patih Muhur pun diangkat menjadi Mantri Ampat bersama Patih Balit, Patih Balitung, dan Patih Kuin. Selain menjabat Mantri Kesultanan Banjar, Patih Muhur juga bertindak sebagai hakim. Bahkan dalam sebuah sidang yang digelar para mantri, Patih Muhur termasuk yang menyarankan Sultan Suriansyah agar meminta bantuan Kesultanan Demak di masa Sultan Trenggono untuk mengirim pasukan guna melawan pasukan Pangeran Tumenggung dari Kerajaan Daha.
Hubungan antara Patih Muhur dan Sultan Suriansyah awalnya baik-baik saja. Hingga pada suatu hari, Sultan Suriansyah ingin menikahi adik perempuan Patih Muhur. Lamaran diterima dengan syarat adik Patih Muhur tetap menganut kepercayaan lamanya yaitu Kaharingan. Seiring berjalannya waktu, Sultan Suriansyah mengislamkan adik Patih Muhur.
Dianggap melanggar, Patih Muhur pun marah dan menculik adiknya. Ketegangan antara dua sahabat ini pun tidak dapat terelakkan. Dalam menghadapi kepungan pasukan Kesultanan Banjar, Patih Muhur memilih mundur ke Pulau Petak, Kapuas. Saat meninggalkan kampung, Patih Muhur memerintahkan pasukannya untuk membumihanguskan tempat tinggalnya sebelum diserbu pasukan lawan.
Situs Patih Muhur terletak di Desa Patih Muhur, Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Menurut cerita turun-temurun, situs ini dulunya merupakan sebuah rumah adat Banjar yang sangat besar. Saat ditemukan pada tahun 1982 M, banyak ulin dengan diameter besar berserakan. Di beberapa sudut terdapat tiang ulin besar yang disebut ulin datu dengan kondisi patah bekas hangus terbakar. Dan sudah ada beberapa tiang ulin yang diambil oleh warga sebelum akhirnya dilarang pemerintah. Beberapa orang mengaku pernah mencungkil ulin tersebut untuk dibawa pulang, namun beberapa waktu kemudian mereka mengembalikannya lagi karena tiba-tiba terserang sakit.
Menurut hasil penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin, gelondongan kayu ulin pada Situs Patih Muhur yang ditanam dan membentuk pola tertentu ternyata disusun dengan menggunakan konstruksi kalang sunduk. Dan berdasarkan hasil carbon dating dari sampel kayunya, diketahui bahwa kayu-kayu ulin ini berasal dari abad ke-14 M. Selain itu, fragmen keramik asing juga banyak ditemukan di permukaan tanah di sekitar areal situs ini, terutama dari China dan Eropa.
Saya yang telah melihat langsung Situs Patih Muhur ini pun masih keheranan, bagaimana cara orang dahulu mengangkat ulin-ulin sebesar ini tanpa bantuan alat berat