TUAN GURU HAJI AHMAD SAM'ANI
Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani dilahirkan di Kampung Basirih pada hari Selasa tanggal 16 Jumadil Akhir 1369 H bertepatan dengan 4 April 1950 M, beliau merupakan anak kedua dari 16 orang bersaudara dari pasangan suami-istri yang shalih dan shalihah, dari seorang ayah yang alim lagi wara bernama Tuan Guru H. Sam'ani bin Tuan Guru H. Tuhalui bin Tuan Guru H. Abdul Karim, sedangkan ibu beliau bernama Hj. Rohani binti Asy'ari.
Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama, orangtuanya sangat menyayangi beliau, ayahnya sudah memberikan pendidikan tarbiyah sejak dini terutama dalam perkara ilmu agama baik secara hal maupun maqal. Pada usia kurang lebih empat tahun, ayahnya mengajak beliau dan keluarga pindah ke Desa Pamangkih, mereka tinggal beberapa waktu di rumah kakeknya yang bernama Tuan Guru H. Tuhalui bin Tuan Guru H. Abdul Karim. Di sanalah Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani mula-mula mendapatkan pembelajaran pertama dalam baca-tulis Al Qur'an yang dibimbing langsung oleh sepupunya yang bernama Hamdan.
Pada usia enam tahun, beliau sudah pandai membaca Al Qur'an dengan fasih dan benar. Pada usia tujuh tahun, beliau beserta keluarga kembali ke Kampung Basirih, beliau kemudian meneruskan belajar ilmu Nahwu dan Sharaf kepada ayahnya sendiri.
Ayah beliau adalah sosok ulama yang sederhana lagi amil, juga memiliki jiwa pendidik yang sangat disiplin dalam mentarbiyah anaknya. Sehingga pada saat Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani kecil, beliau hanya diberi waktu satu jam keluar rumah untuk bermain dan berteman dalam kesehariannya, setelah itu beliau disuruh pulang untuk mengulang pelajaran yang telah diberi oleh ayahnya.
Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani adalah sosok anak yang sangat berbakti kepada kedua orangtuanya, juga memiliki kecerdasan di dalam menangkap dan memahami pelajaran serta memiliki kemampuan yang sangat cepat dalam menghafal, sehingga dalam usia 10 tahun, beliau sudah banyak menghafal matan-matan kitab, salah satunya adalah Matan Al Ajrumiyah berserta maknanya yang beliau hafalkan dalam waktu sembilan hari saja.
Pada tahun 1962 M, ayahnya meminta beliau untuk meneruskan belajarnya ke Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih di bawah pimpinan pendirinya langsung yaitu Tuan Guru H. Mahfudz Amin bin Tuan Guru H. Muhammad Ramli. Di Pondok Pesantren Ibnul Amin inilah, Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani menimba dan memperdalam berbagai fan ilmu agama seperti ilmu Nahwu, Sharaf, Tauhid, Fiqih, dan ilmu Falak. Beliau adalah salah satu murid yang mendapatkan banyak perhatian dari guru-gurunya terutama dari Tuan Guru H. Mahfudz Amin atau Abah Pengasuh karena beliau dikenal berprestasi dan memiliki akhlak yang baik.
Pernah pada suatu hari ketika semua santri sedang menghafal pelajaran di asrama, lalu beliau dilihat oleh salah seorang santri tidak ikut menghafal, kemudian dia menyuruh beliau menghafal seperti santri yang lainnya, namun beliau tetap berbaring dan tidak menghiraukan perkataan santri tersebut. Karena merasa tidak dihiraukan, maka santri itu marah kepada beliau. Sudah menjadi aturan pondok bahwa semua santri harus hafal setiap pelajaran atau isi kitab yang dipelajarinya, kalau ada salah satu santri yang tidak hafal, maka pelajaran tidak akan berjalan dan hanya di pembahasan itu-itu saja. Namun pada saat di mana semua santri sudah hafal dan menyetorkan hafalan pelajarannya, maka tibalah giliran beliau. Betapa terkejut dan herannya santri tersebut setelah mendengar beliau juga hafal dengan lancarnya. Dalam sistem belajar, beliau juga sangat rajin dan tekun, beliau selalu mengikuti setiap pelajaran, sehingga dalam seharinya itu tidak kurang delapan pelajaran yang beliau ikuti.
Setelah empat tahun menimba ilmu atau tepatnya pada waktu beliau berumur 16 tahun, beliau diangkat menjadi guru di Pondok pesantren Ibnul Amin, diangkat langsung oleh Abah Pengasuh Tuan Guru H. Mahfudz Amin. Setahun mengajar atau saat umur beliau kurang lebih 17 tahun, beliau mendapat tugas dari Abah Pengasuh untuk terjun ke masyarakat dan menjadi Khatib di Masjid Pamangkih. Beliaulah santri yang pertama kali disuruh menjadi Khatib. Mendapat tugas yang demikian, beliau meminta izin dan restu kepada beberapa tuan guru yang ada di sana, mereka pun memberi izin dan dukungan yang penuh kepada beliau.
Pada setiap libur pondok 15 hari sekali, beliau sering berkunjung ke tempat Al Mukarram Al 'Arif Billah Tuan Guru H. Muhammad Ramli atau biasa dikenal dengan sebutan Guru Tuha untuk tabarukan, bersalaman, dan meminta doa. Selain itu, beliau adalah salah satu santri yang mendapat izin untuk mengikuti pelajaran Abah Pengasuh yang mengajar para dewan guru pondok pesantren. Di antara 40 orang santri pada saat itu, hanya tiga orang yang diberikan izin yaitu Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani (Basirih), Tuan Guru H. Ahmad Fauzi (Manado, Sulawesi Utara), dan Tuan Guru H. Ma'mun (Pamangkih).
Dengan segala prestasi yang beliau tunjukkan, maka pada tahun 1968 M atau bertepatan dengan usia beliau 18 tahun, beliau diminta oleh Abah Pengasuh sebagai salah satu perwakilan santri pertama untuk mengajar di Pondok Pesantren Sabilal Muhtadin di Kalimantan Tengah. Hal ini juga didasari atas permintaan beberapa guru dan masyarakat di sana. Sebelum berangkat, beliau diberi wasiat oleh Abah Pengasuh agar memperbanyak dzikir dan qiyamul lail atau shalat di tengah malam. Setelah kurang lebih tiga tahun atau tepatnya pada tahun 1971 M, beliau kembali ke kampung halamannya dan mengajar di Madrasah Darussa'adah Basirih.
Semangat beliau dalam menuntut ilmu tidaklah habis dan sirna, beliau kemudian melanjutkan memperdalam ilmu Tauhid dan Tasawwuf kepada Tuan Guru H. Umar Nafis. Beliau juga sempat mengambil ijazah Thariqat Syadziliyah kepada Tuan Guru H. Muhammad Nur atau Kai Penghulu di Desa Dalam Pagar, Martapura. Atas izin dan perintah daripada ayahandanya, kesempatan menuntut ilmu juga beliau gunakan untuk belajar kepada seorang ulama yang tidak diragukan lagi kealimannya yaitu Tuan Guru H. Abdussyukur atau Mu'allim Syukur Teluk Tiram.
Pada tahun 1978 M, maka dibangunlah madrasah pesantren yang pertama atas inisiatif ayahanda beliau yaitu H. Sam'ani di Kampung Basirih Banjarmasin. Yang mana pondok pesantren tersebut pertama kali diberi nama Al Mahfudziyah Li Tab'iyatil Aminiyah, nama tersebut diambil dengan maksud tabaruk dengan Tuan Guru H. Mahfudz Amin. Namun tatkala Tuan Guru H. Mahfudz Amin berkunjung ke pesantren tersebut, beliau menggantinya dengan nama Aminiyah saja. Dan kemudian ditambah ال (Al) oleh Tuan Guru H. Umar Nafis, maka nama tersebut menjadi Pondok Pesantren Al Aminiyah hingga sekarang.
Pada tahun 1981 M, beliau berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Kedatangan ke Tanah Suci beliau gunakan dengan sebaik-baiknya terutama untuk bertemu dengan para ulama di sana di antaranya yaitu Syaikh Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani, pertemuan itu beliau maksudkan untuk bertabaruk dan mengambil sanad-sanad ijazah keilmuan sekaligus untuk menyampaikan surat dari guru beliau yaitu Tuan Guru H. Mahfuzh Amin. Saat itu beliau ditemani oleh sabahatnya yang merupakan salah satu murid kesayangan dan tangan kanan Syaikh Yasin yaitu Tuan Guru H. Muhammad Abrar Dahlan.
Setelah surat itu disampaikan, kemudian membacalah Syaikh Yasin akan isi surat itu sambil tersenyum dan lalu beliau bertanya: Ahmad, berapa tahun mengajar di pondok? Maka dijawab oleh Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani: Dua tahun.
Kemudian setelah itu, beliau mendapatkan sanad ilmu dan ijazah dari Syaikh Yasin serta diberi beberapa kitab yang seluruh isinya juga diijazahkan kepada beliau. Karena saking banyaknya ijazah yang diterima beliau, maka berkatalah Tuan Guru H. Muhammad Abrar Dahlan: Alangkah sangat beruntungnya pian, walau hanya beberapa hari di sini, namun ijazah yang diterima sama dengan orang yang muqim dan menjadi murid Syaikh Yasin selama puluhan tahun.
Selama beliau berada di Kota Makkah Al Mukarramah dan pulang-pergi ke kediaman Syaikh Yasin, beliau juga sempat bertemu dengan seorang ulama yang terkenal kealiman dan kewaliannya yaitu Syaikh Sayyid Abdullah bin Muhammad bin Shiddiq Al Ghumari Al Maghribi Al Hasani yang sedang melakukan kunjungan ke Madrasah Darul 'Ulum di Makkah Al Mukarramah. Kesempatan ini juga beliau gunakan untuk mengambil sanad-sanad keilmuan dan ijazah serta beberapa risalah dari Syaikh Sayyid Abdullah.
Setelah selesai menunaikan ibadah haji dan hendak pulang ke Tanah Air, maka berpesanlah Tuan Guru H. Muhammad Abrar Dahlan agar beberapa ijazah yang telah banyak diterima dapat diberikan kepada sepupunya yaitu H. Muhammad Shalih (Pakapuran).
Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani di dalam kesehariannya sangatlah aktif mengisi pengajian atau majelis ta'lim di sekitar Kota Banjarmasin terutama majelis malam Rabu yang bertempat di kediaman H. Abdullah (Basirih Kubah). Kegiatan beliau atas majelis malam Rabu tersebut sangatlah beliau perhatikan mengingat pesan dan wasiat dari guru beliau yaitu Tuan Guru H. Umar Nafis, seorang alim lagi wara dan juga seorang Hafizh Al Qur'an. Tuan Guru H. Umar Nafis sangat menaruh perhatian yang mendalam kepada Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani, sehingga beberapa waktu sebelum wafatnya, beliau bercerita yang sebelumnya tidak pernah diceritakan kepada oranglain bahwa beliau sudah 35 kali bermimpi bertemu Rasulullah SAW.
Pada tahun 1991 M, pelaksanaan pembangunan Pondok Pesantren Al Aminiyah yang kedua yang mana lokasinya tersebut seperti yang ada saat ini merupakan bentuk amal shalih, amal jariyah, dan wakaf dari keluarga besar Bapak H. Busyra Manshur, semoga Allah SWT membalasnya dengan pahala berlipat ganda, aamiin.
Seiring berjalannya waktu dan dukungan dari para dermawan, maka selesailah pembangunan pondok pesantren pada tahun 1992 M yang tetap dipimpin oleh ayahanda beliau. Setelah berjalan kurang lebih dua tahun atau tepatnya pada tahun 1994 M, ayahanda beliau berpulang ke rahmatullah. Maka kepemimpinan dan kepengurusan pondok otomatis berpindah kepada Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani sampai wafatnya.
Satu tahun setelah wafatnya ayahandanya, beliau mendapat kabar tentang jatuh sakitnya guru tercinta yaitu Tuan Guru H. Mahfudz Amin dan beliau bergegas menjenguk sang guru di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Dalam pertemuan itu, Tuan Guru H. Mahfudz Amin sempat menyampaikan pesan kepada beliau: Ahmad, hadapilah pondok الذي فيه (maksudnya apa adanya).
Pesan terakhir inilah yang menjadi semangat dan motivasi bagi beliau dalam mengemban amanah pondok pesantren sehingga sampai saat ini kegiatan belajar-mengajar masih berjalan dengan baik. Setelah 40 hari kemudian tepatnya pada hari Ahad tanggal 21 Dzulhijjah 1415 H bertepatan dengan 21 Mei 1995 M, guru beliau yaitu Tuan Guru H. Mahfudz Amin berpulang ke rahmatullah.
Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani adalah seorang ulama yang menghimpun akan ilmu Syari'at, Thariqat, dan Hakikat. Dalam kesehariannya, beliau selalu memberikan nasihat dan ilmu yang bermanfaat bagi keluarga dan santri-santrinya serta bagi siapa saja yang datang berkunjung kepadanya. Selain itu, beliau merupakan sosok ulama yang hidup dalam kesederhanaan, selalu memuliakan setiap tamu yang datang kepadanya, baik dari golongan pemerintahan maupun dari golongan orang awam sekalipun. Siapa saja yang datang akan merasa sangat diperhatikan dan dimuliakan oleh beliau. Sifat pemurah dan juga rendah hati nampak jelas dari diri beliau hingga akhir hayatnya.
Tuan Guru H. Ahmad Sam'ani pada tahun 2022 M sudah mulai mengalami sakit-sakitan, namun semua itu tidak mengurangi semangat beliau dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama. Sampai akhirnya pada malam Senin tanggal 5 Rabi'ul Awwal 1446 H bertepatan dengan 8 September 2024 M setelah shalat Maghrib dan masih berada di atas hamparan sajadah untuk menunggu waktu shalat Isya, beliau berpulang ke rahmatullah dalam usia 74 tahun. Ketika wafatnya, beliau masih dalam keadaan berwudhu dan kalimat terakhir yang keluar dari mulut beliau yaitu لا إله إلا الله (laa ilaaha illallaah).
Jenazah beliau dimakamkan di Komplek Pondok Pesantren Al Aminiyah, Jalan Tembus Mantuil, Basirih Ulu RT. 16, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Mudah-mudahan Allah SWT membalas setiap amal kebaikan beliau dan menempatkan beliau di tempat terbaik di sisinya, aamiin yaa rabbal 'aalamiin.
Di antara wasiat beliau:
• Lebih baik mempunyai satu orang murid yang bersungguh-sungguh dalam belajar daripada banyak namun tidak bersungguh-sungguh dalam mempelajarinya.
• Ilmu adalah benteng diri, maka hiasilah diri itu dengan ilmu. Ilmu yang bermanfaat menjadikan sinar pancaran di dalam hati, dan jadikanlah ilmu itu pimpinan pada nafsumu, niscaya keberuntungan selalu menyertaimu.
• Kalau engkau ingin mendapatkan keselamatan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat, maka lakukanlah dua perkara ini, yaitu senantiasa bertakwa kepada Allah di setiap keadaan dan gantungkan serta serahkan dirimu hanya kepada Allah.
Sumber: Guru Abdul Muqsith & Guru Abdul Aziz.
-----------------------------------------------------------------
@copyrightcatatanedwanansari
CatatanEdwanAnsari
2026
di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I
.jpg)