Minggu, Oktober 18, 2026

AIKH MUFTI HAJI MUHAMMAD AMIN BIN HAJI MUHAMMAD YA'QUB

 YAIKH MUFTI HAJI MUHAMMAD AMIN BIN HAJI MUHAMMAD YA'QUB


Syaikh Mufti H. Muhammad Amin atau yang biasa disebut Datu Amin Banua Anyar adalah cucu dari Qadhi H. Muhammad Sa'id bin Mu'min. Datuk beliau yaitu Mu'min merupakan seorang menteri kesultanan pada zamannya. Qadhi H. Muhammad Sa'id kawin dengan Tuan Giyat, saudari Tuan Guwat istri Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan. Qadhi H. Muhammad Sa'id dan Tuan Giyat melahirkan Shalihah yang kawin dengan Juragan Ya'qub, perkawinan ini melahirkan empat orang anak yang salah satunya adalah Datu Amin. Dengan demikian, Datu Amin masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Datu Kalampayan.
Semasa muda, Datu Amin aktif belajar agama sejak di kampung halaman sampai menimba ilmu di Kota Makkah Al Mukarramah. Beliau merupakan ulama yang sangat dihormati dan disegani oleh semua kalangan. Tidak hanya dibutuhkan oleh masyarakat, melainkan juga oleh Kesultanan Banjar pada masa itu. Beliau diangkat sebagai mufti di daerah Kuin pada tahun 1876 M atau 1294 H dengan masa jabatan selama kurang lebih 20 tahun.
Saat itu sedang berkecamuk peperangan melawan penjajah Belanda di wilayah Kesultanan Banjar. Sebagai seorang ulama yang hidup dalam suasana peperangan melawan penjajah, Datu Amin juga aktif berjuang bersama rakyat.
Suatu ketika tentara Belanda ingin menangkap Datu Amin, beliau kemudian bersembunyi di lubang pahatan kayu ulin yang ada di dalam rumahnya sehingga tentara Belanda tidak bisa melihat dan mereka terpaksa pulang dengan tangan hampa. Jika pejuang lain ada yang tertangkap Belanda atau terpaksa lari ke dalam hutan untuk menyelamatkan diri, maka Datu Amin cukup bersembunyi di dalam rumahnya sendiri dan selamat dari penjajah Belanda saat itu.
Datu Amin merupakan sosok ulama sekaligus guru agama yang ikhlas berdakwah dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat, beliau sama sekali tidak pernah memungut bayaran atau imbalan jasa kepada murid-muridnya, malah justru sebaliknya beliaulah yang membiayai, memberi makan, dan menjamu murid-muridnya tersebut. Dana untuk keperluan ini semuanya berasal dari milik beliau sendiri tanpa meminta atau mencarikan kepada oranglain.
Datu Amin termasuk ulama yang punya hobi berburu hewan, beliau menyediakan waktu secara khusus untuk keperluan ini sehingga tidak mengganggu jadwal pelajaran agama atau berdakwah. Secara rutin beliau berburu di beberapa hutan di pinggiran Kota Banjarmasin dan di sekitar wilayah Kalimantan Selatan lainnya yang saat itu masih banyak terdapat hewan buruan seperi rusa atau menjangan, kancil, dan lain sebagainya. Murid-murid beliau sudah terbiasa melihatnya.
Ketika berburu, Datu Amin sangat cekatan dalam mengejar hewan-hewan buruannya. Beliau dengan sangat mudah melombat dari satu jurang ke jurang lain dan dari satu gunung ke gunung lain, padahal jaraknya jauh sekali. Hasil hewan buruan tersebut tidak semata-mata untuk beliau dan keluarganya saja, akan tetapi setelah disembelih dan dimasak, beliau juga membagi-bagikannya kepada masyarakat dan murid-muridnya.
Berkat keikhlasan beliau dalam mengajar dan mengabdi di masyarakat, maka banyaklah anak cucu keturunan dan murid-murid beliau yang menjadi ulama, baik di Banua Anyar maupun di daerah lainnya. Oleh keluarganya, Datu Amin menjadi figur kebanggaan yang sulit dicari persamaannya di masa kini, baik dalam berdakwah maupun melaksanakan fungsi sebagai seorang ulama ataupun tokoh masyarakat yang ikhlas dalam mengabdi dan menjalankan syiar agama Islam sehari-hari.
Sebelum wafat, Datu Amin berwasiat agar yang menggantikannya sebagai mufti adalah Syaikh Jamaluddin Al Banjari atau Surgi Mufti. Datu Amin dimakamkan di Banua Anyar, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

 -----------------------------------------------------------------

@copyrightcatatanedwanansari

CatatanEdwanAnsari 2026

di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I