Minggu, Oktober 18, 2026

SEJARAH MALUKA: NEGARA BONEKA INGGRIS DI DALAM WILAYAH KESULTANAN BANJAR

 SEJARAH MALUKA: NEGARA BONEKA INGGRIS DI DALAM WILAYAH KESULTANAN BANJAR


Pada tahun 1811 M, Inggris mengambil alih wilayah Nusantara dari Belanda. Kerajaan-kerajaan yang dulu berhubungan dagang dengan Belanda digantikan oleh perwakilan Inggris di setiap daerahnya. Perubahan kekuatan dagang ini juga berpengaruh kepada Kesultanan Banjar. Di tahun yang sama, seorang Inggris bernama Alexander Hare ditunjuk sebagai residen di Banjarmasin. Sebagai residen, Hare bertugas menjadi penghubung antara Pemerintah Inggris dengan Sultan Banjar. Sebelumnya, Hare diketahui merupakan pengusaha yang menjadi pegawai maskapai dagang Inggris bernama East India Company atau EIC.
Hubungan yang baik antara Sultan Banjar, Sultan Sulaiman Rahmatullah, dengan Alexander Hare berbuah hasil yang manis bagi Inggris. Pada tahun 1812 M, Sultan Sulaiman memberikan sebuah wilayah bernama Distrik Maluka seluas 1.400 mil persegi. Wilayah ini meliputi Sungai Maluka, Liang Anggang, Kurau, dan Pulau Lamai.
Pemerintahan Hare di dalam Maluka terkesan tidak terbatas, bahkan tidak ada halangan dari sultan. Kemungkinan disebabkan saat itu Inggris memberikan jaminan keamanan kepada Kesultanan Banjar melalui jalur lautnya. Lambat laun obsesi Hare semakin besar, dia berkeinginan menjadikan Maluka menyerupai Singapura, Macau, dan Hongkong. Ini dibuktikan dengan pembukaan lahan kebun dan sawah besar-besaran, industri perkayuan, dan pembuatan perahu. Bahkan Hare mencetak mata uang sendiri untuk Maluka.
Karena kekuasaannya yang tidak tersentuh inilah, beberapa sumber Inggris menyatakan Hare mempunyai negara sendiri dan berani mengambil gelar Raja Kulit Putih Dari Borneo. Hare juga mendatangkan narapidana dan gelandangan dari Pulau Jawa untuk dijadikan penduduk sekaligus pekerjanya.
Menurut J.U. Lontaan ketika menjelajah Kalimantan pada tahun 1985 M. Dari Raffles, Hare mendapat bantuan 4000 orang tenaga dari tahanan, mereka dipekerjakan sebagai petani kopi, petani lada, petani sayur, dan lain sebagainya. Di antara mereka terdapat juga orang-orang pandai kayu. Adapun dari Sultan Banjar, Hare mendapatkan 200 orang budak untuk membuka daerah yang dikuasakan kepadanya.
Selain itu, Alexander Hare disebut juga sebagai laki-laki pengumpul wanita. Wanita-wanita itu dijadikannya sebagai selir atau istri piaraan yang melayani keperluannya dan menjadi cikal-bakal terbentuknya harem.
Pada tahun 1816 M, Belanda berhasil kembali ke Nusantara dan masa pemerintahan Raffles berakhir. Lambat laun Maluka mengalami kerugian dan penurunan produksi sampai akhirnya Hare terusir dari Maluka dan menyudahi kekuasaannya.
Awalnya Hare masih diizinkan untuk mempertahankan kekuasaannya di Maluka, namun kemudian muncul isu yang menyebutkan bahwa dia memusuhi Belanda dan hendak memperluas kekuasaan Inggris di sana. Pada akhirnya Pemerintah Hindia Belanda menyatakan bahwa Hare tidak lagi memiliki hak hukum di Kalimantan dan gelarnya sebagai penguasa Maluka dicabut, kemudian dia bersama haremnya yang berjumlah 40 wanita Melayu dipaksa meninggalkan wilayah tersebut.
Ketika Hare diusir Belanda, diketahui bahwa dia telah mempekerjakan 1492 budak, terdiri dari 907 laki-laki, 462 wanita, dan 123 anak-anak. Ada satu teori yang menyatakan asal mula nama Kota Pelaihari diambil dari nama belakang Alexander Hare ini.