TUAN GURU CANTUNG
Syaikh H. Muhammad Dahlan bin Ahmad Abbas atau yang masyhur disebut Guru Cantung dimakamkan satu kubah dengan putranya yang bernama Tuan Guru H. Hanafi Gubit. Menurut tokoh masyarakat setempat, kharisma Guru Cantung justru muncul setelah putranya wafat.
Konon, putranya yang menjadi dinding agar kewalian beliau tersembunyi dari orang banyak. Ketika putranya wafat, kewalian beliau tidak bisa lagi ditutup-tutupi. Tuan Guru H. Hanafi Gubit wafat mendahului ayahnya.
Guru Cantung dilahirkan di Amuntai pada 14 Agustus 1932 M. Sewaktu menuntut ilmu pada Tuan Guru H. Muhammad Samman Mulia Al Banjari, beliau diminta untuk pergi mengasingkan diri.
Perintah itu ditaati, beliau segera berangkat menuju sebuah bukit di kawasan Cantung, sekitar 5 kilometer pendakian dari kediaman beliau di Laladang Musafir. Beliau tinggal di Cantung selama 40 tahun, sempat bekerja sebagai pegawai Departemen Penerangan.
Beliau dikenal sebagai sosok yang senang memuliakan tamu, seorang preman yang bertamu beliau peluk dengan suka cita. Beliau mengatakan bahwa preman itu butuh pertolongan, bukan untuk dimusuhi.
Sikap rendah hati tampak dari diri beliau yang tidak segan mendatangi pengajian ulama lain, meskipun pada awal 1980-an beliau sudah membuka pengajian sendiri seputar Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Mustaqim, Cantung. Pengajian beliau diadakan setiap hari Jum'at, masyarakat Cantung dan sekitarnya sangat antusias berhadir.
Masyarakat menyenangi pengajian beliau karena gaya bahasanya sederhana dan mudah dipahami serta tutur katanya lemah lembut.
Keteladanan lain yang bisa diambil ialah beliau enggan menunjukkan kesusahan dan merepotkan oranglain, perilaku ini sudah tampak sejak beliau masih nyantri di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura. Meskipun kehabisan uang untuk membeli beras, beliau tidak pernah mengeluh.
Hal ini rupanya diketahui oleh Tuan Guru H. Husin Qadri Al Banjari, Pengarang Kitab Senjata Mukmin. Beliau disuruh mengipasi tubuh sang guru selepas mandi. Usai mengipasi, beliau diberi uang. Kata Guru Husin Qadri: Ini Dahlan untuk membeli beras, aku tahu kamu sedang kesusahan.
Nama Guru Cantung mulai terkenal berkat Syaikh H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani Al Banjari atau Abah Guru Sekumpul. Pada suatu pengajian di Kampung Keraton, tiba-tiba di tengah pengajian Abah Guru Sekumpul berkata: Pagar Cantung, pagar Cantung.
Di dalam majelis Abah Guru Sekumpul, Guru Cantung biasanya duduk paling belakang. Suatu ketika, Abah Guru Sekumpul yang berada di dalam memanggil nama Guru Cantung yang duduk di luar.
Secara logika tidak mungkin Abah Guru Sekumpul melihat Guru Cantung yang berada di antara ribuan jamaah, kata Abah Guru Sekumpul: Guru Dahlan, jaka baparak ka sini nah, jangan di buncu.
Semua orang tertegun dan mungkin di dalam hati bertanya-tanya, siapakah Guru Dahlan yang disebut-sebut oleh Abah Guru Sekumpul.
Guru Cantung berpulang ke rahmatullah pada hari Sabtu tanggal 15 Mei 2004 M bertepatan dengan 25 Rabi'ul Awwal 1425 H dalam usia kurang lebih 72 tahun. Hari duka itu ditandai dengan hujan lebat, seakan dunia ikut berduka melihat kepulangan beliau. Jenazah beliau kemudian dimakamkan di Laladang Musafir, Desa Sungai Kupang, Kecamatan Kelumpang Hulu, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Di dalam kubah, dipajang foto Guru Cantung bersebelahan dengan Abah Guru Sekumpul. Beliau berdua sangat akrab karena berguru pada ulama yang sama yakni Tuan Guru H. Muhammad Samman Mulia Al Banjari.
Karamah Guru Cantung:
• Pada musim tanam padi, petani berjumlah 30 orang. Namun nasi lapat (nasi buras yang dibungkus daun pisang) hanya tersisa sembilan potong. Logikanya tidak mungkin cukup, tapi setelah Guru Cantung bagikan, semua malah kekenyangan. Bahkan lapatnya masih ada sisa.
• Pernah ada seseorang yang datang kepada Guru Cantung dan meminta air doa untuk dibawa pulang dan dimandikan ke badan, tetapi Guru Cantung menjawab: Tidak usah minta air nanti kamu akan mandi juga. Karena tidak diberi air, orang tersebut pulang. Dan ketika di tengah jalan, dia mandi air hujan padahal saat itu cuacanya sangat panas tetapi hujan muncul secara tiba-tiba.
• Guru Cantung ketika di Kotabaru biasanya melakukan aktivitas sehari-hari menggunakan sepeda. Namun anehnya, ketika beliau menggunakan sepeda dan oranglain menggunakan sepeda motor, yang sampai ke tempat tujuan terlebih dahulu justru adalah beliau. Bahkan dikisahkan bahwa Guru Cantung dari Kotabaru ke Sekumpul hanya menggunakan sepeda, sekali kayuh sudah sampai.
