BALAMPAH: TRADISI URANG BANJAR YANG SUDAH ADA SEJAK ZAMAN DAHULU KALA
Balampah adalah mengasingkan diri dari keramaian untuk mencapai tingkatan ilmu atau hajat tertentu dalam budaya Banjar. Kegiatan balampah biasanya dilakukan di tempat-tempat keramat atau bersejarah. Kata lampah berarti berpantang dari sesuatu dalam waktu tertentu. Biasanya tujuan yang ingin dicapai dalam balampah ialah memperoleh ilmu laduni, mencari sahabat gaib, meminta kharisma agar dihormati atau disegani, dan meraih kekuatan tubuh atau kekebalan.
Waktu yang paling disukai untuk melakukan balampah adalah malam Jum'at di bulan purnama. Konon waktu tersebut akan membukakan rezeki, jodoh, ilmu yang luas, dan membuat orang yang memandang menjadi merasa sayang. Ketika zaman penjajahan, banyak para pejuang melakukan balampah untuk bisa meningkatkan kekuatan dan memperoleh kekebalan.
Balampah terdiri dari beberapa macam, di antaranya balampah untuk menemui sahabat gaib Camariah dan Tubaniah, menemui Malaikat Muakkal, menemui jin atau macan gaib, balampah pujidina, dan mandi awet muda. Tata cara dan amalan yang dibaca berbeda-beda pada tiap kegiatan balampah yang diinginkan. Misalnya pada mandi awet muda, dilakukan dengan cara mandi pada waktu subuh di sungai besar selama tujuh hari berturut-turut. Dalam prosesnya perlu membaca sebuah mantra.
Setelah Islam menyebar, terdapat kisah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang menyendiri di Gua Hira sebelum diangkat menjadi rasul, maka kegiatan balampah pada praktiknya bercampur dengan amalan doa-doa ditambah shalawat kepada nabi dan mantra-mantra sugesti yang diambil dari ayat-ayat Al Qur'an.
Sekarang sudah jarang terlihat orang yang melakukan kegiatan balampah, mungkin sebagian dari masyarakat masih ada yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi dan tidak ingin diketahui oleh oranglain. Singkatnya, balampah merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Banjar dan sudah ada sejak zaman dahulu kala.
Sumber: Kesultanan Banjar.