Minggu, Oktober 18, 2026

BAGAMPIRAN DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT BANJAR

 BAGAMPIRAN DALAM KEPERCAYAAN MASYARAKAT BANJAR

Dalam kehidupan masyarakat Banjar, banyak sekali fenomena-fenomena menarik yang layak untuk ditelusuri. Salah satu dari fenomena tersebut adalah yang berkenaan dengan hubungan kekerabatan antara manusia dengan orang gaib yang sering disebut dengan istilah bagampiran.
Orang gaib di sini ialah orang yang telah digaibkan oleh Allah SWT, baik ketika masih dalam kandungan atau setelah lahir dan besar. Bagi masyarakat Banjar, istilah bagampiran dengan orang gaib merupakan sesuatu yang tidak asing, dan kepercayaan ini telah diyakini oleh masyarakat secara turun-temurun.
Dalam bahasa Banjar, bagampiran berasal dari kata gampir yang berarti berdampingan, berdempetan, atau menjadi satu secara bersama-sama. Dengan demikian, bagampiran bisa bermakna kembar dan menjadi satu. Namun gampir yang dimaksud dalam bahasa Banjar bukan berarti bersatu secara fisik, melainkan secara non fisik dan tidak berada dalam dimensi yang sama. Yang satu hidup di alam nyata, sedangkan yang satunya lagi di alam gaib.
Jika kesurupan bersifat sementara, maka bagampiran lebih permanen. Karena itu bagampiran berbeda dengan kesurupan. Walaupun orang yang digampiri atau dirasuki sama-sama tidak sadar, namun kesurupan lebih membawa kepada mudharat, sedangkan orang yang dimasuki oleh gampirannya lebih bersifat menolong. Bahkan bagampiran biasanya terjadi pada waktu-waktu tertentu yang memang diperlukan, misalnya karena ada orang meminta pertolongan dan hajat tertentu atau karena ada sesuatu yang bersifat penting yang hendak diberitahukan oleh gampirannya.
Dalam realitas masyarakat Banjar sendiri, bagampiran adalah sesuatu yang bersifat personal dan magis. Setidaknya ada empat jenis bagampiran, yaitu:
1. Bagampiran dengan kembaran sendiri yang dianggap hilang atau gaib atau meninggal ketika sama-sama dilahirkan.
2. Bagampiran dengan anggota keluarga yang telah meninggal dunia atau memiliki hubungan darah (geneologis).
3. Bagampiran dengan tokoh-tokoh yang pernah hidup pada masa lalu yang telah gaib dan menjadi penghuni alam gaib, misalnya seperti Pangeran Suryanata, Putri Junjung Buih, dan lain sebagainya.
4. Bagampiran dengan orang-orang dari alam gaib yang kadang-kadang hadir dan menjelma dalam bentuk tertentu, misalnya bentuk binatang seperti ular, belalang, dan lain-lain.
Implikasi dari bagampiran itu sendiri biasanya menjadikan seseorang yang digampiri memiliki semacam kekuatan yang disebut mana atau tuah. Mana adalah kekuatan gaib atau kekuatan batin yang rahasianya tidak diketahui, bersifat personal dan misterius, serta melekat pada suatu benda atau seseorang yang dianggap luar biasa.