QADHI HAJI MUHAMMAD JAFRI BIN QADHI HAJI ABDUSSAMAD AL BANJARI
Qadhi H. Muhammad Jafri merupakan putra ketiga dari Qadhi H. Abdussamad bin Mufti H. Jamaluddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari dengan istri kedua beliau yang bernama Markamah binti H. Martaib, beliau dilahirkan sekitar tahun 1262 H atau 1846 M di Kampung Bentok atau Kampung Tengah di Kelurahan Marabahan Kota.
Sejak kecil, Qadhi H. Muhammad Jafri diasuh oleh kedua orangtuanya, bimbingan ilmu agama diberikan langsung oleh ayahnya sendiri yang dikenal sebagai ulama berpengaruh dan mempunyai keluasan ilmu di bidang syariat, thariqat, hakikat, dan makrifat. Meskipun yang dipelajari meliputi ilmu lahiriyah dan ilmu batiniyah, Qadhi H. Muhammad Jafri ternyata lebih cenderung pada ilmu batiniyah. Artinya ilmu makrifat beliau jauh lebih menonjol bila dibandingkan dengan ilmu syariat, thariqat, dan hakikat. Tentu saja hal ini menjadi kegembiraan dan kebanggaan tersendiri bagi orangtuanya yaitu Qadhi H. Abdussamad, dengan begitu Qadhi H. Abdussamad sudah memiliki calon penerus dan pengganti dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sepeninggalnya.
Sosok Qadhi H. Muhammad Jafri memang banyak mewarisi perilaku orangtuanya. Selain rajin dan tekun menuntut ilmu, beliau juga tidak malu membanting tulang untuk bekerja. Sejak kecil beliau sudah terbiasa mengisi waktu di luar mengaji agama dengan bekerja guna mendapatkan penghasilan untuk meringankan beban orangtua dalam memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Dalam bekerja, beliau sudah biasa membaur dengan masyarakat dan sama sekali tidak merasa tinggi hati meskipun beliau merupakan anak seorang ulama sepuh dan sangat berwibawa di masa itu. Karena sifat rendah hati, sopan-santun, dan kasih sayangnya inilah, maka oranglain pun sangat senang bergaul dengan beliau.
Kurang lebih sepuluh tahun lamanya menerima berbagai ilmu pengetahuan dari ayahnya, Qadhi H. Muhammad Jafri diberangkatkan oleh orangtuanya ke Makkah Al Mukarramah, tujuan utamanya selain untuk menunaikan ibadah haji juga untuk menuntut ilmu agama kepada ulama-ulama besar di Makkah dan sekitarnya. Selama empat tahun belajar di sana, setidaknya ada empat orang guru tempat Qadhi H. Muhammad Jafri menuntut ilmu yaitu Syaikh Ali Al Maliki, Syaikh Sa'id Al Makki, Syaikh Amin Al Banjari, dan Syaikh Ali Al Banjari.
Tidak berapa lama setelah kembali dari menuntut ilmu di Makkah, Qadhi H. Muhammad Jafri menikahi putri seorang Demang Bakumpai yang bernama Hafiyah binti H. Abdul Aziz Kiyai Demang Wangsa Negara yang kebetulan masih tetangga beliau sendiri. Jarak rumah beliau dengan ayah gadis yang dinikahi itu hanya sekitar sepuluh meter saja. Dari pernikahannya ini, beliau dikaruniai tujuh orang anak, terdiri dari tiga orang laki-laki dan empat orang perempuan, yaitu: Mahibbah, Abdul Hamid, Mashunah, Hamdi, Maswiyah, H. Abdul Murid, dan Bashrah.
Sebagaimana ayahnya, ketika sudah berada di kampung halaman, Qadhi H. Muhammad Jafri juga membuka pengajian. Beliau mengajarkan berbagai pelajaran agama Islam baik di bidang ilmu syariat maupun ilmu hakikat dan makrifat, hanya saja untuk ilmu makrifat khusus diberikan kepada mereka yang dinilai sanggup dan memenuhi persyaratan, terutama dalam mengamalkan berbagai riyadhah atau amaliyah batiniyah seperti yang berlaku dalam dunia tasawwuf. Qadhi H. Muhammad Jafri dikenal sebagai guru mursyid dua thariqat besar yakni Thariqat Naqsyabandiyah Qadiriyah dan Thariqat Syadziliyah.
Untuk kelancaran pengajian, Qadhi H. Muhammad Jafri mendirikan bangunan khusus berlantai dua yang letaknya persis berhadapan dengan rumah beliau di pinggir Sungai Barito. Lantai kedua dimanfaatkan untuk mendirikan shalat berjamaah dan pengajian serta majelis taklim, sedangkan lantai dasar digunakan sebagai tempat tinggal murid-murid yang berasal dari luar daerah. Di sinilah mereka menginap selama menuntut ilmu layaknya semacam asrama santri. Khusus untuk membimbing pengamalan thariqat dan suluk, beliau memakai balai yang dahulu digunakan ayahnya yakni di kubah atau lokasi makam.
Dengan adanya bangunan bertingkat itu, rumah kediaman Qadhi H. Muhammad Jafri ramai didatangi para penuntut ilmu dari berbagai daerah. Terkadang rumah dengan arsitektur Rumat Adat Banjar Bubungan Tinggi dengan langgarnya itu juga dikunjungi kaum muslimin atau masyarakat pada umumnya yang ingin meminta fatwa dan memecahkan berbagai macam persoalan atau masalah-masalah agama yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi setelah ayahnya wafat, maka yang menggantikannya sebagai qadhi adalah beliau dan otomatis beliaulah yang menggantikan ayahnya dalam menyelesaikan berbagai masalah umat.
Qadhi H. Muhammad Jafri tampaknya memiliki kelebihan tersendiri dibanding ayahnya, beliau diberi kelebihan lain oleh Allah SWT. Sebab selain sebagai ulama dan juru dakwah yang handal, beliau juga bisa menolong oranglain dalam hal mengembalikan barang atau harta benda yang hilang karena dicuri. Dengan memohon doa kepada Allah SWT, barang yang dibawa pencuri tadi dikembalikan lagi kepada pemiliknya. Demikian pula halnya dengan masalah-masalah pelik lainnya yang dialami masyarakat yang sulit dipecahkan, dalam hal ini beliau sering diminta bantuan untuk menyelesaikannya hingga persoalan itu dapat diatasi. Lantaran kelebihan inilah, masyarakat sering menganggap beliau sebagai seorang ulama yang berilmu tinggi.
Mereka yang sempat hidup sezaman dengan Qadhi H. Muhammad Jafri menilai bahwa beliau bisa dikatakan sebagai ulama yang lebih modern dibanding ulama semasanya, salah satu indikasi kemodernan beliau adalah cara berpakaiannya di mana beliau tidak selalu memakai surban dan jubah sebagaimana kebiasaan ulama pada masa itu, justru beliau sering memakai stelan jas tutup dengan peci bundar berwarna hitam. Sehingga bila dilihat sekilas tidak tampak sebagai seorang ulama besar, tetapi terkesan seperti orang biasa saja. Kemudian apabila bepergian jauh, beliau menggunakan kendaraan sendiri yakni kuda berwarna putih.
Meski berpakaian lebih modern, Qadhi H. Muhammad Jafri tetap menunjukkan pola hidupnya yang sederhana dan apa adanya, padahal beliau adalah ulama besar dan berwibawa serta memiliki pengaruh di masyarakat maupun di kalangan pemerintahan kolonial kala itu. Sifat qana'ah yang beliau miliki benar-benar patut diteladani, tampaknya beliau tidak mau memanfaatkan status sosial yang dimiliki untuk kepentingan pribadi maupun keluarga. Beliau lebih memilih untuk bekerja sebagai pedagang karet, sebab saat itu usaha karet cukup lumayan hasilnya. Selain itu di waktu-waktu senggangnya, beliau suka terlibat dalam pengelolaan sawah, ladang, dan perkebunan.
Usia Qadhi H. Muhammad Jafri tidak sepanjang usia ayahnya, namun kiprah aktif beliau sebagai ulama dan tokoh pemimpin umat serta pembimbing masyarakat tidak kalah pentingnya. Yang jelas antara beliau dengan ayahnya ada banyak kesamaan dalam menegakkan prinsip amar makruf nahi munkar dan demi tersebarnya syiar agama Islam di Negeri Banjar, khususnya di Bakumpai Marabahan Kabupaten Barito Kuala.
Qadhi H. Muhammad Jafri berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu tanggal 16 Jumadil Akhir 1332 H atau bertepatan dengan 13 Mei 1914 M dalam usia kurang lebih 68 tahun. Jenazah beliau dikebumikan di alkah kubah yang berada di belakang rumah beliau sendiri, berkumpul dengan makam keluarga dan mertua. Sebagai ulama panutan yang banyak meninggalkan keteladanan dan murid, adalah hal wajar jika makam beliau sering diziarahi. Sepeninggal beliau syiar dan dakwah Islam terus berlanjut, perjuangan dalam mengembangkan ilmu agama tidak terhenti. Ada tiga orang yang bisa dikatakan menjadi penerus beliau yaitu Qadhi H. Muhammad Bijuri, H. Abdul Murid, dan Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Basiyuni.