MENGENANG PERJUANGAN SALAH SATU CUCU RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM
Sayyid Husain Al Hasani merupakan seorang perwira TNI berpangkat Letnan Dua atau Letda, beliau berasal dari Sulawesi. Awalnya bertugas sebagai tentara di Jawa yang kemudian diminta berangkat ke Kalimantan Timur untuk menggalang kekuatan rakyat melawan penjajah Belanda yang datang membonceng tentara sekutu, beliau berangkat ke Kalimantan Timur dengan menumpang kapal kayu sambil membawa puluhan pucuk senjata dan amunisi untuk bekal perjuangan. Posisi geografis Balikpapan yang strategis dan memiliki potensi sumber daya alam minyak menjadi incaran kolonial Belanda dan Jepang.
Karena jumlah tentara di Balikpapan tidak banyak, maka Sayyid Husain pun mendapatkan tugas untuk melatih dan merekrut rakyat yang dipersiapkan untuk berjuang.
Ada dua kejadian bersejarah yang pernah terjadi di Balikpapan, yaitu usaha penghalangan oleh masyarakat Balikpapan atas kedatangan pasukan tentara Belanda yang memasuki daerah pantai Klandasan Ilir dan pembantaian besar-besaran oleh tentara Jepang terhadap serdadu Belanda untuk memperebutkan Sumur Mathilda yang merupakan sumur minyak pertama yang ditemukan di Balikpapan.
Selepas peperangan, Sumur Mathilda direbut kembali oleh masyarakat Balikpapan. Dan untuk mengenang jasa mereka, dibangunlah ukiran batu dengan bentuk tentara Indonesia bersama masyarakat yang melambangkan perjuangan masyarakat Balikpapan.
Perang gerilya yang dilakukan oleh Sayyid Husain ini ternyata tidak hanya di wilayah Balikpapan, namun beliau juga membawa pasukannya untuk berperang di Sanga-Sanga. Dengan berjalan kaki, para pasukan yang merupakan hasil latihan beberapa minggu ini dengan gagah berani mendatangi kawasan Sanga-Sanga untuk berperang di sana.
Sayyid Husain sangat disegani dan dihormati oleh pasukannya, karena selain sebagai seorang perwira, beliau juga seorang ulama dan keturunan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Karena itulah, selain melatih dan memimpin pasukannya dalam strategi perang, Sayyid Husain pun juga membina mereka dengan ilmu agama dan tuntunan ibadah yang sesuai dengan Al Qur'an dan Hadits.
Sayyid Husain yang lahir pada 17 Agustus 1923 M ini, setelah perang kemerdekaan usai, beliau melanjutkan dinasnya sebagai perwira TNI hanya beberapa tahun saja dan memilih pensiun dini karena panggilan hatinya untuk berdakwah serta membina umat. Kegiatan dakwahnya yang banyak dan tersebar luas membuat masyarakat lebih mengenal Sayyid Husain sebagai seorang ulama daripada seorang perwira militer pejuang kemerdekaan.
Karena jasanya yang begitu besar dalam memerangi penjajah, Sayyid Husain pun banyak mendapatkan penghargaan veteran dari Pemerintah Republik Indonesia.
Sayyid Husain berpulang ke rahmatullah pada hari Senin tanggal 21 Rabi'ul Awwal 1423 H bertepatan dengan 3 Juni 2002 M dalam usia kurang lebih 79 tahun. Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Dharma Agung, Jalan Marsma R. Iswahyudi, Kelurahan Gunung Bahagia, Kecamatan Balikpapan Selatan, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
-----------------------------------------------------------------
@copyrightcatatanedwanansari
CatatanEdwanAnsari
2026
di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I
