Minggu, Oktober 18, 2026

HIKAYAT TUMENGGUNG ABDUL JALIL: KAMINTING PIDAKAN YANG JADI PANGLIMA MUDA PERANG BANJAR

 HIKAYAT TUMENGGUNG ABDUL JALIL: KAMINTING PIDAKAN YANG JADI PANGLIMA MUDA PERANG BANJAR

A. Kelahiran
Tumenggung Abdul Jalil atau Tumenggung Jalil gelar Tumenggung Macan Negara atau Adipati Anom Dinding Raja dilahirkan di Kampung Palimbangan pada tahun 1840 M, beliau adalah Panglima Perang Banjar dengan basis pertahanan di wilayah Banua Lima.
Tumenggung Jalil merupakan seorang jaba (bukan berdarah bangsawan). Sejak kecil, beliau dikenal pemberani dan pendekar dalam ilmu silat. Pada waktu berusia 20 tahun, beliau terlibat dalam perlawanan terhadap Belanda di Desa Tanah Habang dan Lok Bangkai. Karena kepahlawanannya, beliau dikenal sebagai Kaminting Pidakan (jawara).
B. Tumenggung Jalil Menyusun Kekuatan
Pada tahun 1859 M, Tumenggung Jalil telah menyusun kekuatan di Banua Lima. Beliau membuat pos-pos penjagaan di sekitar Babirik, Alabio, dan Sungai Banar. Di sekitar Masjid Amuntai didirikan benteng. Di sungai dibuat rintangan-rintangan sehingga mempersulit bagi kapal yang akan lewat.
C. Pertempuran Di Amuntai, Balangan, Dan Tabalong
Pada awal Februari 1860 M, Belanda mengerahkan Kapal Perang Van Kingsbergen dan Bernet dengan ratusan serdadu dan pasukan meriam yang dipimpin oleh Mayor Gustave Verspijck. Kapal perang itu akhirnya sampai di Alabio, dan seterusnya terpaksa menggunakan kapal atau perahu yang lebih kecil karena rintangan yang banyak di sungai. Pertempuran terjadi di sekitar Masjid Amuntai. Dari masjid inilah keluar prajurit-prajurit rakyat yang tidak mengenal lelah menyerbu dengan hanya bersenjatakan payan (tombak), parang bungkul, dan mandau dengan meneriakkan Allahu Akbar menyerbu Belanda. Korban berjatuhan dan perang terjadi. Semangat membela agama, berjuang melawan orang kafir, dan mati dalam perang adalah semangat patriotisme tinggi yang mengisi dada setiap rakyat yang bertempur melawan penjajah Belanda. Benteng di sekitar masjid dipertahankan dengan kuat di bawah pimpinan Matia atau Mathiyassin, pembantu utama Tumenggung Jalil yang gagah berani menyerbu serdadu Belanda. Ratusan orang menjadi syuhada dalam pertempuran itu, 44 di antaranya dimakamkan di Kaludan. Rumah-rumah penduduk ikut menjadi korban terbakar dan kampung di sekitarnya menjadi saksi kepahlawanan rakyat Amuntai dalam mempertahankan agama. Di antara kampung yang musnah adalah Kampung Karias, dan di antara rumah penduduk yang musnah adalah rumah Tumenggung Jalil. Pertempuran ini terjadi pada 9 Februari 1860 M.
Belanda membuat bivak di bekas benteng yang hancur, benteng baru terletak di pertemuan Sungai Balangan dan Sungai Tabalong. Pasukan-pasukan Pangeran Hidayatullah yang tersebar di sekitar Barabai bergabung dengan pasukan Tumenggung Jalil dan dapat menahan gerakan serdadu Belanda di sekitar Pantai Hambawang. Salah satu serdadu Belanda yang menjadi korban dalam pertempuran di Lampihong adalah Kapten De Jong, pertempuran ini menyebabkan serdadu Belanda mundur. Bantuan serdadu Belanda kemudian diangkut dengan Kapal Perang Bone pada tanggal 15 Mei 1860 M menuju dan menyusuri Sungai Tabalong. Sebelum mencapai daerah Tabalong, serdadu Belanda menghadapi serbuan rakyat di sepanjang sungai yang dilewati. Sesampainya di daerah Tabalong, terjadi pertempuran dengan pasukan Tumenggung Jalil. Perlawanan rakyat cukup sengit menyebabkan serdadu Belanda terpaksa mundur ke daerah Kalua dan Amuntai, baru pada bulan Juni 1860 M Belanda berhasil menduduki daerah Tabalong. Serdadu Belanda menghadapi perlawanan dari pasukan Pangeran Hidayatullah, pasukan Tumenggung Jalil, pasukan Pangeran Antasari, dan pasukan Tumenggung Surapati yang berpusat di Tanah Dusun.
D. Benteng Batu Mandi Dan Benteng Tabalong
Tumenggung Jalil kemudian membuat benteng di Batu Mandi, dan dari benteng ini dapat memutuskan hubungan serdadu Belanda antara Barabai dan Lampihong. Benteng ini terletak di atas sebuah bukit dan di sekitarnya diberi rintangan-rintangan seperti parit, lubang perangkap, tali jerat, dan potongan pohon kayu besar yang sewaktu-waktu dapat digulingkan dari atas bukit. Benteng ini dipercayakan kepada Penghulu Mudin. Ketika serdadu Belanda menyerbu dan menaiki bukit yang dijadikan benteng ini, banyak sekali yang mati dari pihak Belanda karena ranjau yang dibuat. Di antara yang mati adalah pimpinan penyerbuan yaitu Sersan Van De Bosch. Karena gagal menaiki benteng tersebut, serdadu Belanda menembaki benteng dengan meriam dari bawah. Sementara itu, Pangeran Antasari memperkuat Benteng Tabalong. Pangeran Antasari menaikkan bendera di atas benteng itu, yaitu bendera merah dengan dua buah keris bersilang.
Benteng Batu Mandi dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah. Di samping itu terdapat pula Pangeran Syarif Umar (ipar Pangeran Hidayatullah) dan Pangeran Utsman (keponakan Pangeran Hidayatullah). Sedangkan Tumenggung Jalil mempersiapkan pertahanan di sepanjang Sungai Balangan. Sebelum sampai ke benteng ini, terdapat kubu-kubu pertahanan di batang Balangan. Di daerah Batang Alai terdapat kekuatan di bawah pimpinan Demang Jaya Negara Seman dan Tumenggung Jayapati. Pusat kekuatan telah dibagi dan dipencar-pencar, Pangeran Antasari tetap bertahan di sekitar Amuntai, Kalua, dan Tabalong, sedangkan Tumenggung Jalil berada di pusat kekuatan di Pasimbi dan berusaha menghambat gerakan serdadu Belanda menuju Batu Mandi. Kubu-kubu pertahanan Tumenggung Jalil selain di Pasimbi juga terdapat di Lampihong, Layap, Muara Pitap, dan lain-lain.
Ketika serdadu Belanda sampai ke Benteng Batu Mandi pada tanggal 13 Oktober 1860 M, benteng itu telah dikosongi. Belanda sangat kecewa, karena sebelum mencapai Benteng Batu Mandi, serdadu Belanda menghadapi perlawanan yang gencar dari segala pelosok.
E. Pertempuran Di Benteng Tundakan, 24 September 1861 M
Garis pertahanan Pangeran Antasari seperti Benteng Pengaron, Benteng Tundakan, dan Gunung Tongka (di daerah Barito) merupakan basis perjuangan yang tidak mudah ditaklukkan Belanda. Tumenggung Jalil setelah terpukul di Banua Lima kemudian menggabungkan diri ke Benteng Tundakan bersama-sama Tumenggung Baro dan Pangeran Maradipa. Ketika terjadi pertempuran menghadapi pasukan serdadu Belanda yang menyerbu Benteng Tundakan, banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Benteng dipertahankan dengan sekuat tenaga oleh para pejuang yang tidak kenal menyerah, mati syahid adalah tujuan mereka dalam setiap pertempuran menghadapi orang kafir Belanda. Pertempuran itu terjadi pada 24 September 1861 M. Tumenggung Jalil mempertahankan benteng itu bersama-sama Pangeran Antasari dan tokoh pejuang lainnya. Benteng Tundakan hanya dipertahankan dengan 30 pucuk meriam dan senapan yang jauh lebih kecil dibanding dengan persenjataan Belanda. Meskipun dengan persenjataan yang kecil, tetapi dengan semangat juang yang tinggi, akhirnya Belanda terpaksa mundur dan dapat dihalau dari tempat pertempuran. Dengan demikian, Benteng Tundakan dapat dipertahankan dan diselamatkan. Setelah pertempuran selesai, ternyata Tumenggung Jalil gugur sebagai syuhada. Jenazahnya ditemukan dalam tumpukan mayat-mayat serdadu Belanda, jauh di luar benteng. Ketika perang sedang berkecamuk, Tumenggung Jalil mengamuk ke tengah-tengah musuh, beliau menjadi korban bersama-sama serdadu Belanda yang dibunuhnya. Tumenggung Jalil menjadi syahid, seorang putra terbaik Banua telah pergi meninggalkan kita selama-lamanya. Kebencian Belanda kepada Tumenggung Jalil sebagai musuh yang paling ditakutinya membuat Belanda berusaha mencari di mana kuburannya, akhirnya pengkhianat perjuangan memberitahu letak kuburan tersebut. Kuburan Tumenggung Jalil dibongkar kembali oleh kaki tangan penjajah, tengkorak kepalanya diambil dan dibawa ke Negeri Belanda.
Tumenggung Jalil gugur sebagai syahid pada hari Selasa tanggal 24 September 1861 M bertepatan dengan 19 Rabi'ul Awwal 1278 H dalam usia 21 tahun.