SYAMSUDDIN NOOR, SALAH SATU PUTRA TERBAIK BANUA YANG NAMANYA DIABADIKAN JADI NAMA BANDARA
Kapten Udara (Anumerta) Muhammad Syamsuddin Noor merupakan salah satu Perwira TNI Angkatan Udara. Namanya diabadikan di Lanud Syamsuddin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Muhammad Syamsuddin Noor adalah putra asli Kalimantan yang lahir di Alabio, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan pada 5 November 1924 M sebagai putra ketiga dari enam bersaudara pasangan H. Abdul Ghaffar Noor (Pensiunan Kiyai Besar Kepala Federasi Kalimantan Tenggara) dan Hj. Putri Ratna Willis, putri Pangeran H. Amir Husin Kusuma, Raja Terakhir Pulau Laut.
Pada Tahun 1932 M, beliau masuk sekolah HIS di Batavia. Setelah lulus dari HIS pada Tahun 1939 M, beliau melanjutkan pendidikan MULO di Bogor, Jawa Barat. Pada tahun 1942 M setamatnya dari MULO, beliau kemudian melanjutkan ke sekolah AMS di Yogyakarta dan berhasil lulus pada tahun 1945 M.
Setelah menamatkan pendidikan umumnya di AMS Yogyakarta, Muhammad Syamsuddin Noor muda merasa terpanggil untuk memasuki dunia kemiliteran bagian udara, kemudian pada tahun itu juga beliau melanjutkan pendidikan di Militarie Academie (MA) Yogyakarta selama satu tahun. Pada tahun 1946 M setelah lulus dari Akademi Militer, beliau kemudian meneruskan sekolah kejuruan penerbangan di Yogyakarta hingga tahun 1947 M.
Untuk lebih meningkatkan kemampuannya di dunia penerbangan, beliau mengikuti pendidikan dan latihan penerbangan pesawat udara di India dan Burma selama kurun waktu 1947 sampai dengan 1950 M. Di Burma, beliau menjadi Pilot pesawat pada penerbangan Indonesian Airways.
Sepulangnya dari Burma pada tahun 1950 M, Kapten Udara (Anumerta) Muhammad Syamsuddin Noor menerbangkan pesawat Dakota T-446 milik AURI di Lanud Andir Bandung, hingga musibah menimpanya pada saat melaksanakan tugas penerbangan dari Lanud Andir Bandung menuju Tasikmalaya. Peristiwa terjadi pada hari Ahad tanggal 16 Shafar 1370 H bertepatan dengan 26 November 1950 M sekitar pukul 17.00 waktu setempat, diakibatkan kerusakan mesin ditambah cuaca buruk menyelimuti langit di sekitar Gunung Galunggung.
Pesawat yang sedang berbelok tiba-tiba menabrak cadas dinding gunung di lereng Gunung Galunggung yang terletak kurang lebih 15 km di sebelah tenggara Malang Bong, Ciawi, Tasikmalaya. Beliau gugur sebagai kusuma bangsa pada usia 26 tahun dan dianggap sebagai salah seorang pelopor bagi lahirnya Indonesian Airways.
Beliau dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung pada hari Rabu tanggal 29 November 1950 M, diiringi penembakan Salvo serta penaburan bunga oleh rekan-rekan penerbang dari pesawat Capung yang melintas di atas Taman Makam Pahlawan.