BULUH MARINDU: PEMIKAT WARISAN LELUHUR DAYAK MERATUS
Buluh marindu adalah benda pemikat warisan leluhur suku Dayak Meratus yang berukuran tidak lebih besar dan panjang dari bilah korek api dibelah dua, berwarna merah hati, warna abadi dalam cinta.
Ada tata cara dan ritual tersendiri dalam memelihara dan menggunakannya. Sebelum digunakan, bilah kecil tipis berwarna merah hati itu dicampur dengan minyak dan kapas terlebih dahulu, kemudian disimpan ke dalam botol kecil dan ditapakan selama tujuh minggu. Jika ritual ini tidak dijalankan, maka khasiat sakti dari buluh marindu tidak akan menyatu dengan minyak.
Selang satu tahun, secara berkala minyak di dalam botol diberi bubuk dari kikisan emas mentah, ritual ini dilakukan agar kualitas dan khasiat sakti buluh marindu tetap terjaga. Tanda bahwa minyak yang bercampur dengan bilah buluh marindu sudah hidup dan siap dipakai adalah ketika tali botol dipegang, maka botol akan berayun dengan sendirinya.
Memakai buluh marindu juga dilakukan dengan cara dan ritual tertentu. Minyak dari buluh marindu yang sudah disimpan dan ditapakan di dalam botol diambil lalu dioleskan pada benda yang mau dijual atau dilariskan.
Jika penggunaannya untuk diri atau tubuh manusia, maka minyak dalam botol diambil dengan cara mencelupkan ibu jari tangan kanan. Kemudian ibu jari tangan kanan yang sudah basah terkena minyak disatukan dengan ujung ibu jari tangan kiri. Kedua ibu jari yang bertangkup itu digesek-gesekkan dengan cara diputar berlawanan arah sebanyak tujuh putaran.
Selanjutnya, minyak yang menempel di kedua ujung ibu jari dioleskan pada alis kanan dan kiri dengan cara bersilang. Ibu jari kanan mengoles alis sebelah kiri, sedangkan ibu jari kiri mengoles alis sebelah kanan. Gerakan mengoles ini dilakukan secara bersamaan sebanyak tujuh kali dengan dimulai dari pangkal alis bagian dalam ke arah ujung alis menuju pelipis.
Berikutnya, sisa minyak yang masih melekat di ibu jari kanan dan kiri dicolekkan ke mata dari bawah ke atas sambil mengucap pantun mantra berikut:
𝘒𝘢𝘺𝘶 𝘣𝘢𝘥𝘶𝘳𝘪 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘴𝘬𝘶 𝘮𝘢𝘯𝘥𝘪, 𝘬𝘶𝘭𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪 𝘬𝘢 𝘴𝘶𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨, 𝘬𝘢𝘺𝘢 𝘣𝘪𝘥𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘶𝘩𝘢𝘬𝘶 𝘸𝘢𝘩𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘳𝘪𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘢𝘮𝘢𝘯𝘥𝘢𝘯𝘨.
Di samping untuk pemakaian sendiri oleh pemiliknya, minyak buluh marindu juga bisa diberikan kepada oranglain dengan mengambil bagian kapas yang sudah menyatu dengan minyak di dalam botol, syaratnya kapas di dalam botol harus sudah berwarna kuning. Jika kapas masih berwarna putih, maka belum siap diberikan.
Sumber: Kesultanan Banjar.