Minggu, Maret 29, 2026

KENAPA NITROGEN JADI BIANG KEROK MUNCULNYA PENYAKIT BLAS PADA PADI

KENAPA NITROGEN JADI BIANG KEROK MUNCULNYA PENYAKIT BLAS PADA PADI


Penyakit blas pada padi disebabkan oleh jamur Pyricularia oryzae, patogen yang dikenal sangat adaptif dan agresif. Penyakit ini dapat menyerang hampir seluruh fase pertumbuhan tanaman padi, mulai dari fase vegetatif hingga generatif. Gejalanya cukup khas, berupa bercak berbentuk belah ketupat pada daun, dan pada fase lanjut dapat menyerang leher malai yang berujung pada kegagalan pengisian bulir.


Di banyak wilayah produksi padi, blas bukan sekadar penyakit biasa. Ia sering muncul tiba tiba, berkembang cepat, dan sulit dikendalikan jika kondisi lingkungan mendukung. Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan ledakan penyakit ini adalah pemupukan nitrogen yang berlebihan.


NITROGEN DALAM SISTEM TANAMAN PADI


Nitrogen adalah unsur hara makro yang sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Dalam tanaman padi, nitrogen berperan dalam pembentukan klorofil, sintesis protein, dan pertumbuhan vegetatif. Tanaman yang cukup nitrogen biasanya menunjukkan warna daun hijau tua dan pertumbuhan yang subur.


Namun di sisi lain, nitrogen juga memiliki karakter yang unik. Ketika tersedia dalam jumlah berlebih, ia tidak hanya mempercepat pertumbuhan tanaman, tetapi juga mengubah struktur jaringan tanaman dan keseimbangan fisiologisnya. Di sinilah hubungan antara nitrogen dan penyakit mulai terlihat.


JARINGAN TANAMAN YANG LEBIH RENTAN


Salah satu mekanisme utama bagaimana nitrogen memicu blas adalah melalui perubahan struktur jaringan tanaman. Tanaman padi yang menerima nitrogen berlebih cenderung memiliki jaringan yang lebih lunak dan kandungan air yang lebih tinggi.


Jaringan yang lunak ini lebih mudah ditembus oleh patogen. Jamur seperti Pyricularia oryzae membutuhkan titik masuk untuk menginfeksi, dan jaringan yang tidak mengeras dengan baik menjadi pintu masuk yang ideal. Selain itu, dinding sel tanaman yang terbentuk dalam kondisi kelebihan nitrogen cenderung lebih tipis, sehingga pertahanan mekanis tanaman melemah.


KETIDAKSEIMBANGAN METABOLISME TANAMAN


Nitrogen juga memengaruhi metabolisme internal tanaman. Dalam kondisi normal, tanaman menghasilkan berbagai senyawa sekunder seperti fenol dan fitoaleksin yang berfungsi sebagai pertahanan alami terhadap patogen.


Ketika nitrogen tersedia berlebih, tanaman lebih fokus pada pertumbuhan vegetatif dibandingkan produksi senyawa pertahanan. Hal ini menyebabkan penurunan konsentrasi senyawa pelindung dalam jaringan tanaman. Dengan kata lain, tanaman tumbuh lebih cepat, tetapi pertahanannya justru melemah.


Kondisi ini memberikan keuntungan bagi patogen. Jamur penyebab blas dapat berkembang lebih mudah karena hambatan biokimia dari tanaman menjadi lebih rendah.


MIKROKLIMAT YANG MENDUKUNG PATOGEN


Pemupukan nitrogen tinggi biasanya menghasilkan kanopi tanaman yang lebih rimbun. Daun menjadi lebih lebat dan saling menutupi. Kondisi ini menciptakan mikroklimat yang lembap di dalam tajuk tanaman.


Kelembapan tinggi adalah salah satu faktor kunci dalam perkembangan penyakit blas. Spora jamur membutuhkan kondisi lembap untuk berkecambah dan menginfeksi jaringan tanaman. Dengan kanopi yang rapat, sirkulasi udara berkurang dan embun atau air dari irigasi bertahan lebih lama di permukaan daun.


Situasi ini menciptakan lingkungan yang sangat ideal bagi patogen untuk berkembang. Bahkan tanpa curah hujan tinggi, kelembapan di dalam tajuk tanaman sudah cukup untuk memicu infeksi.


KETERSEDIAAN NUTRISI BAGI PATOGEN


Nitrogen tidak hanya dimanfaatkan oleh tanaman, tetapi juga oleh patogen. Dalam jaringan tanaman yang kaya nitrogen, tersedia lebih banyak asam amino dan senyawa nitrogen lain yang dapat dimanfaatkan oleh jamur untuk pertumbuhannya.


Beberapa penelitian menunjukkan bahwa patogen seperti Pyricularia oryzae berkembang lebih cepat pada tanaman dengan kandungan nitrogen tinggi. Hal ini berkaitan dengan ketersediaan nutrisi yang mendukung pembentukan hifa dan produksi spora.


Dengan kata lain, kelebihan nitrogen secara tidak langsung juga “memberi makan” patogen.


PENGARUH TERHADAP EKSPRESI KETAHANAN GENETIK


Tanaman padi memiliki gen ketahanan terhadap penyakit blas. Namun ekspresi gen ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, termasuk status hara tanaman.


Dalam kondisi nitrogen tinggi, beberapa gen ketahanan menjadi kurang efektif. Tanaman yang secara genetik tahan bisa menunjukkan gejala penyakit ketika diberi nitrogen berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan tanaman bukan hanya ditentukan oleh genetik, tetapi juga oleh manajemen budidaya.


WAKTU APLIKASI NITROGEN DAN RISIKO BLAS


Bukan hanya jumlah nitrogen yang berpengaruh, tetapi juga waktu aplikasinya. Pemberian nitrogen dalam jumlah besar pada fase akhir vegetatif atau awal generatif sering dikaitkan dengan peningkatan serangan blas leher.


Pada fase ini, tanaman mulai membentuk malai. Jika nitrogen masih tersedia dalam jumlah tinggi, jaringan di sekitar leher malai menjadi sangat rentan. Infeksi pada bagian ini sangat merugikan karena langsung memengaruhi hasil panen.


INTERAKSI DENGAN FAKTOR LINGKUNGAN LAIN


Efek nitrogen terhadap blas tidak berdiri sendiri. Ia berinteraksi dengan faktor lain seperti varietas, kelembapan udara, suhu, dan sistem pengairan.


Misalnya, pada varietas yang rentan, efek nitrogen akan lebih nyata. Begitu juga pada kondisi cuaca mendung dan lembap, dampak pemupukan nitrogen tinggi akan semakin memperparah serangan penyakit.


Sebaliknya, pada kondisi lingkungan yang kering dan varietas yang lebih tahan, efek negatif nitrogen mungkin tidak terlalu terlihat. Namun potensi tetap ada dan bisa muncul ketika kondisi berubah.


-M.E.A)

Sabtu, Maret 21, 2026

π˜½π™„π™Šπ™‚π™π˜Όπ™π™„ π™Žπ™„π™‰π™‚π™†π˜Όπ™ 𝙆𝙃. π™•π˜Όπ™„π™‰π˜Όπ™‡ π™„π™‡π™ˆπ™„

 π˜½π™„π™Šπ™‚π™π˜Όπ™π™„ π™Žπ™„π™‰π™‚π™†π˜Όπ™ 𝙆𝙃. π™•π˜Όπ™„π™‰π˜Όπ™‡ π™„π™‡π™ˆπ™„


KH. Zainal Ilmi atau yang lebih dikenal dengan nama Tuan Guru Zainal Ilmi AL Banjari dilahirkan pada Jum’at malam sekitar pukul 04.30 Wita, 7 Rabiul Awwal 1304 H di Desa Dalam Pagar Martapura. Beliau merupakan zuriat dari Tuan Guru Syech Muhammad Arsyad Al Banjari dimana Ayahnya yang bernama H. Abdus Shamad bin H. Muhammad Said Wali, merupakan keturunan keempat Syech Muhammad Arsyad Al Banjari atau lebih dikenal dengan nama Datu Kalampayan sedangkan ibunya bernama Hj. Qamariyyah.


Pendidikan Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari, sejak kecil sampai dewasa mendapatkan banyak bimbingan ilmu dari keluarganya yang sangat kental dengan tradisi religius Islam, sehingga iman tauhid terbina dan terpelihara di dalam dirinya, mempunyai akhlaq yang terpuji, santun dalam berbicara serta benteng yang kokoh dalam menegakkan perintah Allah Swt dan senantiasa dari perbuatan yang sia-sia.


Selain itu, sedari kecil Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari sudah mempunyai ciri menjadi seorang ulama sebab beliau memiliki ahlaq yang mulia yang tercermin dalam sikap dan perbuatan. Sejak kecil itu pula, Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjarimenyibukkan diri dengan mengisi hari-harinya dengan menuntut ilmu dan beribadah, memelihara waktu dan mengerjakan ibadah-ibadah sunnat, menghindarkan diri dari perbuatan syubhat.


Adapun Tuan Guru Zainal Ilmi Al

Banjari dalam menuntut ilmu, di antara Gurunya adalah orang tuanya sendiri, yakni KH. Abdus Shamad. Padanya beliau belajar ilmu arabiyyah, fiqih, dan hadist selama kurang lebih 6 tahun. Kemudian KH. Muhammad Amin bin Qadhi H. Mahmud, Syech Abdurrahman Muda, KH. Abbas bin Mufti H. Abdul Jalil, KH. Abdullah bin KH. Muhammad Shaleh, KH. Muhammad Ali bin Abdullah Al Banjari, KH. Khalid, KH. Ahmad Nawawi, serta KH. Ismail Dalam Pagar Martapura (ayah dari KH. Abdur Rahman Ismail, mantan Kepala Kementerian Agama Kabupaten Banjar), KH. Ahmad Wali Kuin Banjarmasin (murid Haji Masaid Wali, Kakek dari Guru KH. Zainal Ilmi).


Dari guru-gurunya tersebut-lah Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari mendapatkan ilmu pengetahuan agama yang kemudian beliau amalkan dalam kehidupan sehari- hari.


Menurut suatu riwayat Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari adalah Khalifah dari Mufti Indragiri Riau yakni Syech Abdurrahman Shiddiq Al Banjari atau lebih dikenal dengan sebutan Datu Sapat. Ketika Tuan Guru Abdurrahman Shiddiq Al Banjari hendak berangkat ke Tembilahan Riau, Beliau (red: Tuan Guru Abdurrahman Shiddiq Al Banjari) ditanya seseorang di Kampung Dalam Pagar, ” Siapakah pengganti Guru di Kampung ini kalau Guru berangkat nanti ? ”. Kemudian Beliau menjawab : ” Anang Ilmi (Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari) penggantiku, ” sambil menepuk bahu Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari. Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari, terperanjat mendengar keputusan sekaligus amanah dari Syech Abdurrahman Siddiq Al Banjari kepadanya.


Mulai saat bahunya ditepuk itulah, Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari tak pernah lagi mendonggakkan wajahnya atau senantiasa menunduk. Kedermawanan Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari memiliki perawakan gemuk dan tidak terlalu tinggi.


Meskipun demikian, Beliau sangat dihormati dikalangan masyarakat dan kalangan ulama sendiri. Sebab bukanlah ukuran jasmani yang mereka lihat melainkan kedalaman ilmu yang dimilki dan ahlak yang terpuji yang sungguh mempesona dan membuat orang- orang memuliakannya. Kemudian dari pada itu, Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari memilki jiwa sosial yang sangat tinggi, hal ini terlihat bahwasanya Beliau suka menyantuni para faqir miskin dan janda- janda tua.


Sungguh betapa tingginya ilmu Beliau hingga menyembunyikan sifat kedermawanannya semasa hidup hingga tiada orang lain yang mengetahuinya ( red: Cukup Allah Swt yang Maha Mengetahui) kecuali orang-orang terdekat beliau sahaja yang mengetahuinya. Konon diceritakan, Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari membagi- bagikannya ketika malam tiba secara sembunyi-sembunyi dan ketika pagi menjelang, fakir miskin dan janda-janda tua yang diberikan sedekah kaget dengan rezeki yang ada didepan rumah mereka. Hal yang demikian, terus-menerus terjadi selama Beliau masih hidup.


Menjelang Wafatnya Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari di masa hidupnya juga pernah diangkat sebagai penasehat badan pemulihan keamanan daerah Kabupaten Banjar sekitar Tahun 1956, ketika terjadi pemberontakan Ibnu Hajar. Setiap Jum’at, Beliau memberikan ceramah kepada masyarakat yang terpengaruh dengan adanya pemberontakan tersebut. Menjelang wafatnya Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari masih menyempatkan waktu untuk berdakwah.


Sebagaimana diceriterakan, pada waktu itu Beliau ada jadwal mengisi ceramah di Karang Intan. Padahal disinyalir kuat Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari sudah tahu kewafatannya kia dekat. Sebab Beliau menyuruh seseorang untuk ketempat mertuanya, mengabarkan pada istrinya yang lagi menginap disana agar secepatnya pulang ke rumah.


Dengan pesan singkat dari Guru Zainal Ilmi, ” Cepat pulang nanti tidak sempat.”. Selain itu, pula sebelum berangkat ke Karang Intan untuk berdakwah, Beliau berkata kepada orang yang ada disekitarnya waktu itu, ” Nanti banyak orang, nanti banyak orang. ” Tak lama setelah itu, Beliaupun berangkat ke Karang Intan. Setelah acara tersebut selesai, Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari mendadak sakit dan berujung wafatnya di tempat dakwahnya, Karang Intan, Jum’at pada tanggal 13 Dzulqaidah1375 H bertepatan dengan 21 Juni 1956 M pada pukul 12 siang.


Ketika wafatnya Tuan Guru Zainal Ilmi Al

Banjari tersebut musim pada waktu itu sedang kemarau. Tanah dan sungai menjadi kering, sehingga untuk dimakamkan di Desa Kelampaian disamping makam orang tuanya mendapat kendala yang berarti. Sebab, untuk ke Kelampaian saat itu harus melalui jalur sungai, sedangkan sungai sebagai sarana transportasi tersebut tak dapat digunakan karena kekeringan. Dengan demikian, muncullah inisiatif untuk memakamkan Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari ditempat lain.


Seperti, di Desa Dalam Pagar, pun demikian ada juga inisiatif dari kalangan ABRI (sekarang TNI) yakni Hasan Basri yang mengusulkan agar ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bumi Kencana. Sebab, ia dianggap sebagai sesepuh angkatan bersenjata. Semua usulan terebut disambut baik oleh ahli waris. 


Namun ahli waris tetap menginginkan jasad almarhum dimakamkan di Kalampaian berdekatan dengan Datuknya Syech Muhammad Arsyad Al Banjari, kendati hal itu mendekati tidak mungkin pada saat itu. Allah Swt Maha Berkehendak, tak disangka dan tak diduga Jum’at malam (malam Sabtu) hujan turun dengan derasnya, sehingga sungai yang tadinya kering menjadi berair hingga bisa dilewati perahu yang membawa jenazah dan rombongan sanak keluarga yang mengiringi jenazah Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari. Dan pada hari Sabtu, 14 Dzulqaidah Tahun 1375 Hijriyah dengan suasana yang penuh khidmat jasadnya dimakamkan di samping makam orang tuanya KH. Abdu Shamad di Kalampaian berdekatan dengan Datuknya Syech Muhammad Arsyad Al Banjari. Semoga Tuan Guru Zainal Ilmi Al Banjari yang kita cintai ditinggikan derajatnya disisi Allah SWT.


SUMBER : BLOG SAYYID FAJAR



#guruzainalilmi

#biografikhzainalilmi

#syekhzainalilmialbanjari

Jumat, Maret 13, 2026

π˜½π™„π™Šπ™‚π™π˜Όπ™π™„ π™Žπ™„π™‰π™‚π™†π˜Όπ™ 𝙆𝙃. π™π™Žπ™ˆπ˜Όπ™‰ (π™ˆπ™π™π™π™„ π™†π˜Όπ™‰π˜Ώπ˜Όπ™‰π™‚π˜Όπ™‰)

 π˜½π™„π™Šπ™‚π™π˜Όπ™π™„ π™Žπ™„π™‰π™‚π™†π˜Όπ™ 𝙆𝙃. π™π™Žπ™ˆπ˜Όπ™‰ (π™ˆπ™π™π™π™„ π™†π˜Όπ™‰π˜Ώπ˜Όπ™‰π™‚π˜Όπ™‰) 



KH. Usman  lahir di Amuntai tahun 1911 M (1329 H). Beliau adalah Mufti untuk wilayah Kandangan dan Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. (Ada kemiripan nama dengan KH. Usman bin H. Abubakar, lahir di Barabai, yang juga dipanggil Usman Mufti, penulis)

Silsilah nasab beliau adalah KH. Usman bin H. Husin Khatib bin H. Muhammad Said (Mufti Amuntai) bin Muhammad Amin bin Abdullah bin Kiai Dipasanta bin Pardi. Artinya beliau sepupu 3 x dengan nenek Guru Sekumpul, yaitu Salbiyah bin Yusuf bin Utih bin H. Muhammad Arif bin Abdullah bin Kiai Dipasanta.


KH. Usman  berperan  didalam pembentukan dan  pengembangan Fakultas Syari’ah  Kandangan sebagai cikal bakal berdirinya IAIN Antasari Banjarmasin. Sebelum berbagai fakultas yang ada di Kalsel dilebur menjadi IAIN, beliau adalah pendidik di Pondok Pesantren “Rasyidiyah Khalidiyah” Amuntai. Selanjutnya beliau diangkat sebagai Dekan Fakultas Syari’ah Kandangan yang pertama (1964)


KH. Usman berpulang kerahmatullah pada tahun 1985 M (1405 H) di Kandangan dalam usia kurang lebih 74 tahun (lihat buku “Profil Fakultas Syari’ah IAIN Antasari”, Banjarmasin : IAIN Antasari, 2016, halaman 57). Khilaf ada juga yang menyebutkan bahwa beliau berpulang ke rahmatullah pada malam selasa 16 Sya’ban 1399 H atau 11 Juli 1979 M), dan dimakamkan di Desa Pandai, Kandangan.


SUMBER : BLOG MAJELIS ULAMA DAN WALI


#