Kamis, Oktober 15, 2026

Riwayat Al-Ustadz Abdullah bin Haji Nafiah

P


rofil Singkat & Riwayat Al-Ustadz Abdullah bin Haji Nafiah

Peran & Pengabdian

Pengajar Pondok Pesantren: Beliau merupakan salah seorang ulama dan pendidik yang mengabdikan hidupnya di Pondok Pesantren Ibnul Amin, Pamangkih, Labuan Amas Selatan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.


Pengajar Masyarakat: Selain membimbing para santri di pesantren, beliau aktif memberikan tuntunan keagamaan kepada masyarakat luas, seperti mengajar tata cara ibadah dan perawatan jenazah.

Karakteristik & Istiqomah Menjalankan Sunnah

Keteladanan Akhlak: Beliau dikenal sebagai sosok ulama yang sangat teguh memegang teguh dan mengamalkan sunnah Nabi Muhammad SAW dari aspek penampilan, akhlak, hingga perilaku sehari-hari.

Barang Bawaan Sunnah: Saat bepergian atau melakukan perjalanan, beliau selalu membawa sisir, cermin, dan buku amaliah/doa di dalam tasnya. Kebiasaan ini merupakan wujud pengamalan sunnah Rasulullah SAW dalam menjaga kerapian dan amalan harian.

Kecintaan terhadap Ilmu & Kitab

Kegemaran Membaca & Mengoleksi: Beliau memiliki kebiasaan istimewa, yaitu sangat gemar membeli dan mempelajari kitab-kitab agama.

Perpustakaan Pribadi: Setiap kali pergi ke pasar, beliau hampir selalu pulang membawa beberapa kitab. Koleksi kitabnya begitu melimpah hingga memenuhi ruang tamu rumahnya, sampai-sampai para tamu yang datang duduk berdampingan dengan tumpukan kitab.

Wafat & Penghormatan Terakhir

 Lautan Pelayat: Ketika beliau wafat (rahimahullah), prosesi pemakaman dan salat jenazahnya dihadiri oleh ribuan jemaah dan masyarakat umum.

Keberkahan Jamaah: Banyaknya pelayat yang berbondong-bondong hadir membuat jalan raya di sekitar lokasi dipenuhi oleh masyarakat yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.


 KH. Ahmad Dahlan bin As'ad merupakan salah satu tokoh ulama terpandang dari Desa Lok Bangkai, Kecamatan Amuntai Tengah, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan. Beliau melahirkan garis keturunan ulama karismatik di Amuntai, salah satunya adalah putranya, KH. Ahmad Riduan, yang akrab disapa oleh masyarakat Kalimantan Selatan sebagai Abah Guru Lok Bangkai.

Silsilah dan Kelahiran
Tanggal Lahir: Minggu, 15 Desember 1907 M (9 Dzulqa'dah 1325 H).
Asal Usul: Lahir dan tumbuh di lingkungan masyarakat Amuntai.
Ayah: As'ad.
Pasangan: Hj. Muntiara binti H. As'ad.
Keturunan: Salah satu putra beliau yang terkenal melanjutkan dakwahnya adalah KH. Ahmad Riduan (Guru Lok Bangkai).
Peran dan Dakwah di Lok Bangkai
KH. Ahmad Dahlan dikenal masyarakat sebagai ulama yang teguh mengamalkan dakwah Islam dan mengajarkan ilmu agama (ilmu tauhid, fiqih, dan tasawuf) di wilayah Lok Bangkai. Sebutan "Lok Bangkai" yang melekat pada nama beliau maupun putranya mengacu pada desa tempat tinggal dan pusat syiar dakwah keluarga beliau.
Pendidikan agama yang ketat dan penuh keikhlasan di dalam rumah tangga KH. Ahmad Dahlan menjadi fondasi utama lahirnya ulama-ulama penerus di Amuntai, sehingga nama KH. Ahmad Dahlan dan Guru Lok Bangkai selalu dihormati oleh masyarakat Banjar hingga saat ini

Tuan Guru H. Nuzhan Noor (populer disapa Guru Nuzhan Dalam Pagar) adalah salah satu ulama terkemuka dan disegani asal Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Tuan Guru H. Nuzhan Noor (populer disapa Guru Nuzhan Dalam Pagar) adalah salah satu ulama terkemuka dan disegani asal Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.



 Tuan Guru H. Nuzhan Noor (populer disapa Guru Nuzhan Dalam Pagar) adalah salah satu ulama terkemuka dan disegani asal Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Nasab dan Garis Keturunan
Guru Nuzhan merupakan ulama keturunan langsung dari ulama besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan). Silsilah beliau adalah:
H. Nuzhan Noor bin H. Muhammad Noor bin Khadijah binti Abdullah bin Syekh Muhammad Khatib bin Mufti H. Ahmad bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Kepribadian dan Akhlak
Sifat Pemurah dan Penyabar: Beliau dikenal masyarakat luas sebagai sosok yang sangat sabar, pemurah, dan selalu siap membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Kasih Sayang terhadap Makhluk: Selain keilmuan agamanya yang dalam, beliau memikat hati masyarakat karena akhlak mulianya, termasuk kepedulian tinggi terhadap hewan. Salah satu cerita yang membekas adalah saat beliau bergegas meminta orang lain menyelamatkan seekor kucing yang hanyut di sungai berpegangan pada batang pisang.
Wafat dan Makam
Tanggal Wafat: Beliau wafat pada tanggal 9 Dzulqa'dah 1417 H.
Lokasi Makam: Beliau dimakamkan pada 10 Dzulqa'dah 1417 H di Gang Bani Ismail, tidak jauh dari Masjid Tuhfatur Raghibin, Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kabupaten Banjar. hingga kini makam beliau sering dikunjungi peziarah.

Guru H. Abdul Hay bin Guru H. Muhammad Syahran (dikenal masyarakat dengan sapaan akrab Julak Adul) merupakan salah seorang tokoh ulama dan pendidik di wilayah Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Guru H. Abdul Hay bin Guru H. Muhammad Syahran (dikenal masyarakat dengan sapaan akrab Julak Adul) merupakan salah seorang tokoh ulama dan pendidik di wilayah Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.




Guru H. Abdul Hay bin Guru H. Muhammad Syahran (dikenal masyarakat dengan sapaan akrab Julak Adul) merupakan salah seorang tokoh ulama dan pendidik di wilayah Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Nasab dan Latar Belakang
Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama di Pasayangan, Martapura. Ayah beliau, Guru H. Muhammad Syahran, juga merupakan seorang guru agama/ulama yang disegani di kawasan tersebut.
Kiprah Dakwah dan Pengabdian
Pengajar di Pondok Pesantren Darussalam: Beliau tercatat sebagai salah satu tenaga pengajar (guru) yang mendedikasikan hidupnya untuk mendidik para santri di Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Keilmuan: Beliau dikenal tekun dalam mengajar berbagai disiplin ilmu agama, terutama ilmu-ilmu kearabian (seperti Nahwu dan Sharaf), ilmu tafsir, serta pengajian kitab-kitab kuning.
Pengajian Masyarakat: Selain mengajar di ponpes, beliau aktif membuka pengajian kitab untuk masyarakat umum di kediaman beliau, mushalla, maupun masjid-masjid di sekitar Desa Pasayangan.
Wafat dan Peringatan Haul
Guru H. Abdul Hay wafat pada pertengahan tahun 2020 (sekitar akhir Mei atau awal Juni 2020 / Syawal 1441 H). Jenazah beliau dimakamkan di Kompleks Alkah Ar-Rahmah, Jalan Reel, Gang Al-Barokah, Desa Pasayangan Barat, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.

Peringatan haul beliau rutin dilaksanakan setiap tahunnya di Pasayangan Barat oleh keluarga, murid, dan masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau dalam menyebarkan ilmu agama. 

Tuan Guru KH. Muhammad Yusuf bin H. Muhammad Abu Dzirin (Guru Usuf Pesayangan / Martapura):

  Tuan Guru KH. Muhammad Yusuf bin H. Muhammad Abu Dzirin (Guru Usuf Pesayangan / Martapura):




 Tuan Guru KH. Muhammad Yusuf bin H. Muhammad Abu Dzirin (Guru Usuf Pesayangan / Martapura):1. Latar Belakang & Keluarga

Guru Usuf lahir dan dibesarkan di lingkungan yang kental dengan ilmu agama, yaitu di Kelurahan Pesayangan, Martapura. Beliau adalah putra dari seorang ulama bernama KH. Muhammad Abu Dzirin. Sejak kecil, beliau sudah dididik dalam tradisi keilmuan Islam dan akhlak mulia.
2. Masa Menuntut Ilmu
Beliau mengawali pendidikan agamanya langsung dari sang ayah serta para ulama sepuh di Martapura.
Beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura.
Di antara guru-guru beliau adalah KH. Anang Ramli, KH. Badruddin (Guru Ibad), serta beliau juga mengambil keberkahan ilmu dari KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).
3. Kiprah dan Pengabdian di Pesantren Darussalam
Menjadi Guru/Ustadz: Setelah menyelesaikan pendidikan, beliau diangkat menjadi pengajar tetap di Ponpes Darussalam Martapura.
Keahlian Mengajar: Beliau sangat tekun dan ahli dalam mengajarkan kitab-kitab Melayu gundul (Jawi) dan kitab kuning Arab. Cara mengajar beliau sangat jelas dan gampang dicerna oleh para santri.
Keteladanan: Beliau dikenal sangat disiplin, bersahaja (sederhana), dan penuh kesabaran dalam membimbing murid-muridnya.
4. Wafat dan Peninggalan
Guru Usuf wafat pada malam Selasa, 13 Desember 2016 (13 Rabiul Awal 1438 H) di Pesayangan, Martapura.
Ribuan murid, alumni Darussalam, dan masyarakat melepas keberangkatan beliau dengan rasa duka yang mendalam.
Hasil perjuangan beliau kini terus mengalir melalui ribuan alumni Ponpes Darussalam yang telah menjadi ustadz dan pimpinan majelis ta'lim di berbagai daerah.

Tuan Guru H. Muhammad Fitri bin H. Syahrul Basri (yang dikenal dengan nama Guru Fitri Teluk Tiram)

 Tuan Guru H. Muhammad Fitri bin H. Syahrul Basri (yang dikenal dengan nama Guru Fitri Teluk Tiram) adalah salah satu ulama karismatik yang sangat dihormati di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.



 Tuan Guru H. Muhammad Fitri bin H. Syahrul Basri (yang dikenal dengan nama Guru Fitri Teluk Tiram) adalah salah satu ulama karismatik yang sangat dihormati di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Latar Belakang dan Pendidikan
Guru Fitri lahir di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pada tanggal 20 April 1958. Pendidikan dasarnya ditempuh di daerah Kurau dan Rantau, lalu melanjutkan ke MTsN Kelayan di Banjarmasin. Keinginan yang kuat untuk memperdalam ilmu agama membawanya menimba ilmu di Pondok Pesantren Sullamul Ulum, Dalam Pagar, Martapura. Selama menuntut ilmu, beliau belajar dari para ulama ternama Banjar, salah satunya adalah mengaji langsung kepada KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul) di Martapura.
Dakwah dan Peran Masyarakat
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Guru Fitri aktif berdakwah dan mendirikan majelis ilmu di kawasan Teluk Tiram, Banjarmasin. Beliau dikenal sebagai sosok pendidik yang lembut, penyabar, serta sangat dekat dengan masyarakat. Selain mengajar di majelis taklim, beliau juga berperan aktif dalam membina masyarakat sekitar melalui ajaran fikih, tasawuf, dan akhlak.
Wafat dan Warisan
Guru Fitri berpulang di usia muda pada hari Senin, 17 Juni 2002 (7 Rabiul Akhir 1423 H). Jenazah beliau dimakamkan di kawasan Sekumpul, Martapura. Perjuangan dakwah dan keilmuan beliau dilanjutkan oleh para keturunan serta murid-muridnya, salah satunya KH. Ahmad Mubarak (Guru Mubarak Teluk Tiram) yang memimpin Majelis Al-Mubarak di Banjarmasin.

 Tuan Guru H. Muhammad Fitri bin H. Syahrul Basri (yang dikenal dengan nama Guru Fitri Teluk Tiram) adalah salah satu ulama karismatik yang sangat dihormati di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

@copyrightedwanansari

CatatanBangEdwan 2026

di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I

K.H. Abdurrahman

 K.H. Abdurrahman—yang lebih dikenal masyarakat Banjar dengan panggilan Guru Adu atau Tuan Guru H. Adu Tunggul Irang—adalah salah satu ulama besar dan wali Allah dari Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.



Garis Keturunan dan Kelahiran
Guru Adu lahir sekitar tahun 1250 Hijriah (1830-an Masehi). Beliau berasal dari nasab ulama terpandang, yaitu putra dari K.H. Zainuddin bin K.H. Abdus Shamad bin K.H. Abdullah Al-Banjari.
Pendidikan Agama
Beliau mengawali pendidikan agama secara nonformal di tanah kelahiran, salah satunya berguru kepada Tuan Guru Haji Muhammad Said di Dalam Pagar, Martapura.
Beliau kemudian melanjutkan menuntut ilmu ke Makkah untuk memperdalam bidang syariat, tarekat, dan hakikat guna memperkuat ajaran Ahlu Sunnah wal Jamaah di tanah Banjar.
Peran Dakwah dan Ketokohan
Pengajaran: Sepulang dari Makkah, Guru Adu memusatkan kegiatan dakwah dan pengajiannya di daerah Tunggul Irang, Martapura. Cara mengajar beliau yang ikhlas dan mendalam melahirkan murid-murid serta generasi penerus ulama terkemuka, di antaranya K.H. Abdul Qadir Hasan dan cucu beliau sendiri, K.H. Husin Qadri.
Pengaruh di Masyarakat: Guru Adu dipandang sebagai sosok wali yang memiliki banyak karomah. Kewibawaan spiritual beliau menjadi perisai moral bagi masyarakat setempat, terutama pada masa imperialisme kolonial Belanda dan Jepang.
Wafat dan Makam
Guru Adu wafat pada hari Jumat, 23 Rabiulawal 1364 Hijriah (1945 Masehi). Jenazah beliau dimakamkan di Desa Tunggul Irang, Martapura, di sebuah komplek pemakaman yang dikenal dengan sebutan Kubah Wali Lima. Hingga kini, makam beliau rutin dihauli dan diziarahi oleh ribuan umat Muslim dari berbagai daerah.

KH. Muhammad As'ad (Barabai)

KH. Muhammad As'ad (Barabai) dikenal sebagai salah satu ulama pakar hadis dan tokoh pendidikan Islam terkemuka di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Barabai), Kalimantan Selatan. Beliau merupakan sosok pengajar, hakim (Qadi), dan akademisi yang memiliki pengabdian besar bagi masyarakat Banjar.



KH. Muhammad As'ad (Barabai) dikenal sebagai salah satu ulama pakar hadis dan tokoh pendidikan Islam terkemuka di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (Barabai), Kalimantan Selatan. Beliau merupakan sosok pengajar, hakim (Qadi), dan akademisi yang memiliki pengabdian besar bagi masyarakat Banjar. 
Pendidikan
Pendidikan Awal: Mengemban pendidikan dasar dan mengaji kepada para ulama lokal di tanah Banjar.
Mantan Santri Rakha: Melanjutkan pendidikan ke Madrasah Mu'allimin/Ma'had Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) di Amuntai pada tingkat Tsanawiyah (sekitar tahun 1926).
Studi di Mekkah: Menuntut ilmu ke Makkah Al-Mukarramah pada tahun 1930 dan mengenyam pendidikan di Madrasah Ash-Shaulatiyah.
Studi di Mesir: Melanjutkan jenjang perguruan tinggi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir pada fakultas Darul 'Ulum (tingkat Qismul 'Ali) sekitar tahun 1933.
Kiprah dan Pengabdian
Pendidik: Setelah menyelesaikan studi di Timur Tengah, beliau kembali ke Barabai dan aktif mengajar di Madrasah Mu'allimin Barabai serta berbagai majelis ilmu.
Pengadilan Agama (Qadi): Pernah diberi amanah memegang jabatan sebagai Qadi (Hakim Agama) di Barabai.
Perintis Perguruan Tinggi: Menjadi salah satu tokoh perintis lahirnya Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Cabang Barabai (sekarang bagian dari UIN Antasari) dan sempat menjabat sebagai Dekan / Wakil Dekan.
Ulama Hadis: Dikenal di kalangan murid-muridnya sebagai ulama yang sangat konsisten, tegas, dan mendalam penguasaannya dalam bidang ilmu hadis.

Guru Busyairi bin Hj. Dahri merupakan salah satu tokoh ulama dan figur keagamaan lokal yang dihormati oleh masyarakat Rantau Bujur, kawasan pedalaman di wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

 Guru Busyairi bin Hj. Dahri



Guru Busyairi bin Hj. Dahri merupakan salah satu tokoh ulama dan figur keagamaan lokal yang dihormati oleh masyarakat Rantau Bujur, kawasan pedalaman di wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Profil dan Silsilah
Latar Belakang Keluarga: Beliau adalah putra dari Hj. Dahri, sosok tokoh masyarakat yang disegani di kawasan tersebut.

Datu Landak (bernama asli Syekh Muhammad Afif) adalah ulama besar dan wali Allah asal Martapura, Kalimantan Selatan

Datu Landak (bernama asli Syekh Muhammad Afif)


Datu Landak (bernama asli Syekh Muhammad Afif) adalah ulama besar dan wali Allah asal Martapura, Kalimantan Selatan, yang hidup pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Beliau juga merupakan ayah kandung dari Syekh Abdurrahman Siddiq (Datu Sapat/Datu Safat).
Datu Landak (bernama asli Syekh Muhammad Afif) adalah ulama besar dan wali Allah asal Martapura, Kalimantan Selatan, yang hidup pada a Silsilah dan Asal-Usul
Syekh Muhammad Afif lahir di Desa Dalam Pagar, Martapura. Beliau memiliki garis keturunan yang istimewa:
Dari jalur ibu: Cicit dari Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kelampayan) melalui jalur ibunya (Sari binti Khalifah Zainuddin bin Datu Kelampayan).
Dari jalur ayah: Memiliki garis keturunan bangsawan Jawa, yakni cicit dari Pangeran Diponegoro (Kyai Dipasunda/Pangeran Diponegoro).
Asal-Usul Gelar "Datu Landak"
Gelar Datu Landak melekat pada diri beliau karena sebuah peristiwa karamah saat beliau mencari kayu ulin untuk pembangunan masjid. Dikisahkan bahwa saat berada di dalam hutan kawasan Barito, beliau mampu menundukkan dan mencabut pohon-pohon ulin berukuran raksasa dengan sangat mudah, layaknya mencabut rumput. Ketika membawa dan mengangkut kayu-kayu besar tersebut, duri-duri tajam dan kayu yang mencuat di sekeliling tubuhnya tampak seperti bulu-bulu tajam pada hewan landak, sehingga masyarakat menyapa dan mengenalnya dengan julukan Datu Landak.
Peran dalam Pembangunan Masjid Agung Al-Karomah Martapura
Jasa terbesar Datu Landak yang dicatat dalam sejarah Kalimantan Selatan adalah perannya sebagai penyedia dan pendiri tiang utama (tiang guru) Masjid Agung Al-Karomah Martapura.
Beliau yang mencari dan menebang 4 batang kayu ulin raksasa di kawasan hutan Barito.
Kayu-kayu ulin tersebut kemudian dihanyutkan melalui aliran sungai hingga sampai ke Martapura.
Keempat tiang ulin keramat tersebut dipasang pada tahun 1897 M (1315 H) dan hingga kini masih dipertahankan sebagai fondasi utama di dalam bangunan modern Masjid Agung Al-Karomah Martapura.
Wafat
Syekh Muhammad Afif (Datu Landak) wafat pada tahun 1916 M (sekitar usia 90 tahun). Makam beliau terletak di Desa Kalampayan, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, tidak jauh dari kompleks makam buyutnya, Datu Kelampayan. Makam beliau hingga saat ini selalu ramai dikunjungi peziarah.

Guru Abdurrahman Siddiq (dikenal juga sebagai Syekh Abdurrahman Siddiq atau Datu Sapat)

Guru Abdurrahman Siddiq (dikenal juga sebagai Syekh Abdurrahman Siddiq atau Datu Sapat)



Guru Abdurrahman Siddiq (dikenal juga sebagai Syekh Abdurrahman Siddiq atau Datu Sapat) adalah seorang ulama besar dan Mufti Kerajaan Indragiri asal Martapura, Kalimantan Selatan, yang menyebarkan Islam di wilayah Riau dan Kepulauan Riau.Silsilah dan Masa Muda
Lahir pada tahun 1857 M di Dalam Pagar, Martapura, beliau merupakan cicit dari ulama tersohor Nusantara, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kelampayan), dan putra dari Syekh Muhammad Afif (Datu Landak). Ditinggal wafat ibunya sejak kecil, beliau dibesarkan oleh bibinya dan mendalami ilmu agama di tanah kelahirannya sebelum berangkat ke Makkah. Beliau menimba ilmu di Masjidil Haram selama belasan tahun hingga dipercaya menjadi pengajar di sana.
Berdakwah dan Bermukim di Sapat
Sekembalinya dari Makkah, beliau melakukan perjalanan dakwah di wilayah Melayu. Pada sekitar tahun 1907–1908, beliau memutuskan untuk menetap di Kampung Sapat, Kecamatan Kuindra, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Di Sapat, beliau mendirikan pesantren, membuka lahan pertanian, dan membimbing masyarakat lokal serta para perantau Banjar. Dari tempat inilah gelar Datu Sapat melekat pada nama beliau.
Diatas Menjadi Mufti Indragiri
Melihat kedalaman ilmu dan reputasinya yang luas, Sultan Kerajaan Indragiri, Sultan Mahmud Shah, mengangkat beliau sebagai Mufti Kerajaan Indragiri pada tahun 1910. Menariknya, beliau meminta agar tidak diberi gaji dari kerajaan, memilih untuk menopang hidupnya sendiri lewat berkebun kelapa dan bersawah.
Karya dan Warisan
Selain mengajar, beliau aktif menulis karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab Melayu (Jawi). Belasan kitab tulisan beliauseperti Aqa'id al-Iman, Asrar al-Salat, dan Amal Ma'rifah—menjadi rujukan ajaran tasawuf, tauhid, dan fiqih yang tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Wafat
Guru Abdurrahman Siddiq wafat pada tanggal 10 Maret 1939 (18 Muharram 1358 H) di usia 82 tahun. Makam beliau di Kampung Sapat, Indragiri Hilir, Riau, hingga kini menjadi salah satu pusat peziarahan religi yang sering dikunjungi masyarakat dari berbagai pelosok Nusantara dan negara tetangga.



@copyrightedwanansari

CatatanBangEdwan 2026

di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I

LATAR

 







Tuan Guru H. Muhammad Supian Noor (Guru Supian Keraton) adalah seorang ulama kharismatik asal Keraton, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, yang dikenal sebagai sepupu sekaligus pewaris estafet majelis dari Abah Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani)




Tuan Guru H. Muhammad Supian Noor (Guru Supian Keraton) adalah seorang ulama kharismatik asal Keraton, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, yang dikenal sebagai sepupu sekaligus pewaris estafet majelis dari Abah Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani)

Tuan Guru H. Muhammad Supian Noor (Guru Supian Keraton) adalah seorang ulama kharismatik asal Keraton, Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, yang dikenal sebagai sepupu sekaligus pewaris estafet majelis dari Abah Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani)Profil dan Nasab
Nama Lengkap: Tuan Guru H. Muhammad Supian Noor bin H. Ahmad Sya'rani.
Hubungan Keluarga: Merupakan sepupu dari Abah Guru Sekumpul dan keponakan dari Guru Seman Mulya.
Wafat: Jumat dini hari, tanggal 26 November 2010 M (20 Hijriah).
Makam: Bersebelahan dengan makam H. Abdul Ghani (ayah dari Abah Guru Sekumpul) di kompleks pemakaman Patih Mangun Jaya, Kelurahan Keraton, Martapura.
Peran dan Pengabdian
Guru Pengajar: Aktif mengajar dan mendidik santri sebagai guru di darussalam martapura
Pengajian Rutin: Mengisi pengajian agama di kediamannya serta di Langgar Darul Aman (Keraton, Martapura)—tempat yang dahulu juga pernah menjadi pusat pengajian Abah Guru Sekumpul.
Penerus Amalan: Abah Guru Sekumpul pernah berwasiat bahwa kelak jika beliau tiada, pembacaan Maulid, Burdah, dan Dalail tetap dilanjutkan dan dipimpin oleh Guru Supian Noor.

KH Muhammad Fadhlan bin H. Asy'ari (lebih dikenal sebagai Guru Fadhlan Asy'ari) merupakan ulama kharismatik asal Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.


KH Muhammad Fadhlan bin H. Asy'ari (lebih dikenal sebagai Guru Fadhlan Asy'ari) merupakan ulama kharismatik asal Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Beliau dikenal luas sebagai sosok ulama terpandang sekaligus sepupu dekat dari ulama besar Banjar, KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).

 KH Muhammad Fadhlan bin H. Asy'ari (lebih dikenal sebagai Guru Fadhlan Asy'ari) merupakan ulama kharismatik asal Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. 
Silsilah dan Nasab Kekerabatan
Guru Fadhlan lahir di Martapura pada 15 Desember 1962. Hubungan kekerabatan beliau dengan Abah Guru Sekumpul berasal dari jalur ibu. Ibu beliau, Hj. Siti Zaleha, merupakan adik kandung dari H. Abdul Ghani (ayahanda dari Abah Guru Sekumpul). Selain itu, jalur nasab keluarga beliau juga tersambung hingga ulama besar Kalimantan, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan).
Pendidikan dan Pengabdian Ilmu
Guru Fadhlan tumbuh dalam tradisi keilmuan Islam yang kental di Martapura:
Pendidikan: Beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Beliau juga sempat berguru langsung di Bangil, Jawa Timur, kepada ulama besar KH Muhammad Syarwani Abdan (Guru Bangil).
Kedekatan Khusus: Beliau dikenal sangat dekat dan tawadu kepada Abah Guru Sekumpul, bahkan dipercaya aktif mendampingi (khaddam) Abah Guru Sekumpul, terutama semasa beliau mengalami sakit.
Jabatan dan Kiprah: Beliau pernah mengemban amanah sebagai Wakil Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura, Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Banjar, serta Awan PBNU. Beliau juga pernah menjabat di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banjar.
Wafat di Tanah Suci
Guru Fadhlan Asy'ari berpulang ke rahmatullah pada hari Kamis, 20 Oktober 2022 (bertepatan dengan 24 Rabiul Awal 1444 H) di Kota Suci Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi, saat sedang menjalankan ibadah umrah. Jenazah beliau disalatkan di Masjidil Haram dan dimakamkan di kompleks pemakaman bersejarah Jannatul Ma'la (Mu'alla), Makkah.

@copyrightedwanansari

CatatanBangEdwan 2026

di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I

KH. Muhammad Jahri (sering disapa Guru Jahri atau Mualim Jahri) Kalimantan Selatan. Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Muta'allimin.

 KH. Muhammad Jahri (sering disapa Guru Jahri atau Mualim Jahri) merupakan salah satu ulama kharismatik dan ulama sepuh terkemuka asal Kalimantan Selatan. Beliau dikenal sebagai sosok pendidik yang sangat tawadhu, ulama ahli tasawuf, serta pengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Muta'allimin.



 KH. Muhammad Jahri (sering disapa Guru Jahri atau Mualim Jahri) merupakan salah satu ulama kharismatik dan ulama sepuh terkemuka asal Kalimantan Selatan. Beliau dikenal sebagai sosok pendidik yang sangat tawadhu, ulama ahli tasawuf, serta pengajar di Pondok Pesantren Darussalam Martapura dan pendiri Pondok Pesantren Raudhatul Muta'allimin.Riwayat Hidup dan Pendidikan
KH. Muhammad Jahri lahir di Desa Teluk Haur, Kecamatan Haur Gading, Amuntai pada hari Senin, 28 Mei 1934 M (14 Shafar 1353 H) dari pasangan H. Ismail bin Hasan bin Sa'ad. Beliau menimba ilmu agama sejak muda di Takhassus Diny (yang kini berkembang menjadi Ponpes Rakha Amuntai).
Sepanjang menuntut ilmu, beliau berguru kepada banyak ulama ternama Kalimantan, di antaranya:
Habib Abubakar bin Salim al-Habsyi
KH. Abdul Wahab Sya'rani (Palimbangan)
KH. Muhammad Chalid (Tangga Ulin)
KH. Saberan Katjil (Alabio)
KH. Zaini Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul - Martapura)
Perjuangan Dakwah dan Keilmuan
Sejak tahun 1960-an, KH. Muhammad Jahri mulai aktif mengajar dan membuka majelis-majelis pengajian. Dalam kiprahnya:
Pengajar Madrasah Darussalam Martapura: Beliau menjadi salah satu penggalang keilmuan para santri di Pondok Pesantren Darussalam Martapura bersama para masyaikh lainnya.
Pengasuh Majelis & Pesantren: Beliau mengasuh majelis taklim dan mengajarkan kitab-kitab tasawuf seperti Sirajut Thalibin.
Mendirikan Pesantren Raudhatul Muta'allimin: Pada tahun 1991, beliau mendirikan pesantren di tanah kelahirannya yang awalnya memanfaatkan bangunan hibah bekas gudang padi dari masyarakat sebelum berkembang pesat menjadi kompleks pesantren putra dan putri.
Wafat
Tuan Guru KH. Muhammad Jahri berpulang ke Rahmatullah pada hari Sabtu, 2 Maret 2013 M (20 Rabi'ul Akhir 1434 H) dan dimakamkan di Desa Haur Gading, Amuntai. Perjuangan dan keteladanan beliau terus dikenang oleh para murid, santri, dan masyarakat Banjar hingga saat ini

@copyrightedwanansari

CatatanBangEdwan 2026

di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I

Tuan Guru H. Muhammad Dahlan bin Achmad Abbas (yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Guru Cantung) merupakan seorang ulama karismatik asal Kalimantan Selatan.

 Tuan Guru H. Muhammad Dahlan bin Achmad Abbas (yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Guru Cantung) merupakan seorang ulama karismatik asal Kalimantan Selatan.



Tuan Guru H. Muhammad Dahlan bin Achmad Abbas (yang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Guru Cantung) merupakan seorang ulama karismatik asal Kalimantan Selatan.
Latar Belakang dan Keluarga
Beliau lahir dari pasangan H. Achmad Abbas dan Hj. Nuriah. Dalam silsilahnya, beliau masih memiliki hubungan kekerabatan dengan ulama-ulama besar di Tanah Banjar.
Kiprah Dakwah dan Kehidupan
Gelar "Guru Cantung": Julukan ini melekat pada beliau karena sebagian besar masa hidup dan perjuangan dakwahnya dipusatkan di kawasan Cantung, Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Pengajaran Ilmu Agama: Beliau aktif mengajar berbagai cabang ilmu agama Islam, mulai dari fikih, tasawuf, hingga tauhid, serta mengasuh majelis ilmu yang dihadiri oleh masyarakat luas dari berbagai penjuru daerah.
Pengaruh Sosial: Selain dikenal akan kedalaman ilmu agamanya, beliau dipandang oleh masyarakat sekitar sebagai sosok pengayom yang teduh, dermawan, serta memiliki keluhuran akhlak.
Wafat dan Penghormatan
Makam beliau terletak di wilayah Cantung/Bungkukan (Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan). Sampai saat ini, maqam dan peringatan haul beliau rutin dikunjungi oleh para peziarah serta jamaah yang ingin mengenang jasa-jasa dakwahnya.

@copyrightedwanansari

CatatanBangEdwan 2026

di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I

Ahmad Ghazali merupakan adik kandung dari ulama besar asal Martapura, Kalimantan Selatan, yaitu KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).

Ahmad Ghazali merupakan adik kandung dari ulama besar asal Martapura, Kalimantan Selatan, yaitu KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).
Ahmad Ghazali merupakan adik kandung dari ulama besar asal Martapura, Kalimantan Selatan, yaitu KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul).

Kehidupan Singkat
Kelahiran & Kemiripan Fisik: Ahmad Ghazali lahir ketika Abah Guru Sekumpul berusia sekitar dua tahun. Menurut riwayat, perawakan dan raut wajahnya sangat mirip dengan Abah Guru Sekumpul, mulai dari bentuk tubuh hingga warna kulit.
Latar Belakang: Beliau lahir pada masa pendudukan Jepang di Indonesia.
Wafat di Usia Muda: Pada masa itu terjadi wabah penyakit malaria. Saat berusia sekitar 4–5 bulan, Ahmad Ghazali terjangkit malaria dan wafat meski telah diusahakan pengobatan.
Lokasi Makam
Makam beliau terletak di Jalan Makam, Kelurahan Keraton, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

KH. Basman bin H. Salman (dikenal juga dengan sebutan Abah Guru Basman) adalah salah satu ulama karismatik asal Kalimantan Selatan

KH. Basman bin H. Salman (dikenal juga dengan sebutan Abah Guru Basman) adalah salah satu ulama karismatik asal Kalimantan Selatan yang dikenal tawadhu dan istikamah membina umat di kawasan pedesaan.



KH. Basman bin H. Salman (dikenal juga dengan sebutan Abah Guru Basman) adalah salah satu ulama karismatik asal Kalimantan Selatan yang dikenal tawadhu dan istikamah membina umat di kawasan pedesaan.

Kelahiran dan Masa Muda
Abah Guru Basman lahir pada tahun 1935 di Desa Palimbangan, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara (Amuntai), Kalimantan Selatan. Beliau tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan nilai-nilai keagamaan.
Pendidikan Agama
Dalam menuntut ilmu, beliau menimba pendidikan agama di Pondok Pesantren Darussalam Martapura, lembaga pendidikan Islam tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan yang melahirkan banyak ulama besar. Di sana beliau memperdalam berbagai disiplin ilmu agama, seperti fiqih, tauhid, hingga ilmu tasawuf.
Kiprah Dakwah dan Majelis Taklim
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Guru Basman memilih jalur dakwah yang cenderung uzlah (menjauh dari keramaian dan publikasi). Beliau menetap dan membina masyarakat pedesaan di wilayah Barito Kuala, tepatnya di Desa Tinggiran Baru (Tinggiran Sobarjo), Kecamatan Mekarsari.
Pengajian Tasawuf: Beliau membuka majelis pengajian rutin di kediaman beliau. Salah satu kitab utama yang beliau ajarkan kepada jemaah adalah kitab Hidayatus Salikin karya Syekh Abdus Shamad al-Palimbani.
Sanad Thariqah: Beliau juga memegang dan mengijazahkan Thariqah Sammaniyah kepada para murid dan jemaahnya.
Kepribadian dan Akhlak
Masyarakat setempat mengenal Abah Guru Basman sebagai sosok ulama yang sangat sederhana, ramah, dan tidak mementingkan kepopuleran. Majelis beliau selalu diisi oleh warga sekitar dan musafir yang ingin mengambil keberkahan ilmu serta nasihat-nasihat tasawuf yang menyejukkan hati.

@copyrightedwanansari

CatatanBangEdwan 2026

di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I

Syekh Abu Thalhah (Haji Abu Thalhah) adalah salah satu tokoh ulama pejuang penyebar agama Islam di wilayah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

 Syekh Abu Thalhah (Haji Abu Thalhah) adalah salah satu tokoh ulama pejuang penyebar agama Islam di wilayah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Garis Keturunan dan Silsilah
Syekh Abu Thalhah merupakan keturunan dari ulama besar Kalimantan Selatan, yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan). Beliau adalah putra dari Mufti H.M. As'ad bin Syarifah binti Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Misi Dakwah ke Tanah Kutai
Sebelum Kalimantan Timur berkembang seperti sekarang, orang tua dan sesepuh beliau mengutus Syekh Abu Thalhah bersama saudara-saudaranya untuk berdakwah menyebarkan syiar Islam ke berbagai wilayah Kalimantan. Dari beberapa bersaudara yang diutus ke area berbeda (seperti Sampit, Kandangan, dan Pagatan), Syekh Abu Thalhah mendapatkan amanah untuk berdakwah ke wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara.
Peran dan Kiprah
Syiar Agama: Beliau mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, fikih, dan tauhid kepada masyarakat lokal di Tanah Kutai pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia.
Kehidupan di Tenggarong: Syekh Abu Thalhah menetap dan melanjutkan dakwah hingga akhir hayatnya di wilayah Tenggarong, yang menjadi pusat Kesultanan Kutai Kartanegara kala itu.
Makam dan Wisata Religi
Makam (kubah) Syekh Abu Thalhah terletak di Kelurahan Melayu / kawasan Timbau, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Keberadaan makam beliau kini menjadi salah satu situs ziarah dan wisata religi yang sering didatangi masyarakat lokal maupun peziarah dari luar daerah, khususnya Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Al-Mukarram Guru Muhammad Husein merupakan salah seorang ulama dan keturunan dari ulama besar tanah Banjar di Kalimantan Selatan.

 

Al-Mukarram Guru Muhammad Husein merupakan salah seorang ulama dan keturunan dari ulama besar tanah Banjar di Kalimantan Selatan.



Al-Mukarram Guru Muhammad Husein merupakan salah seorang ulama dan keturunan dari ulama besar tanah Banjar di Kalimantan Selatan.

1. Nasab dan Silsilah Family
Nama: Guru Muhammad Husein bin Al-Mukarram Asy-Syekh H. Ahmad Dahlan.
Ayahanda: Al-Mukarram Asy-Syekh H. Ahmad Dahlan (dikenali secara luas oleh masyarakat Kalimantan Selatan sebagai Guru Cantung).
Gelaran Ayahanda: Syekh H. Ahmad Dahlan dipanggil "Guru Cantung" atau "Pagar Cantung" (gelaran yang dipopularkan oleh KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani / Abah Guru Sekumpul) kerana peranan dan kepemimpinan dakwah beliau di wilayah Cantung, Kabupaten Kotabaru.
2. Pendidikan dan Pembentukan Akhlak
Guru Muhammad Husein dibesarkan di dalam persekitaran keluarga yang sangat menitikberatkan pendidikan ilmu agama Islam, akhlak, dan tasawuf. Sejak kecil, beliau menimba ilmu serta bimbingan rohani secara langsung daripada ayahanda beliau, Guru Cantung, yang dikenali mempunyai sanad keilmuan yang kukuh (termasuk berguru kepada Syekh Seman Mulia di Martapura).
3. Peranan Dakwah dan Ketokohan
Meneruskan Legasi Guru Cantung: Selepas pemergian Guru Cantung, Guru Muhammad Husein meneruskan dakwah, mengajar ilmu-ilmu asas agama, dan memimpin majlis-majlis pengajian yang diasaskan oleh keluarga beliau.
Teladan Akhlak: Beliau dikenali dalam kalangan jamaah dan masyarakat tempatan sebagai sosok yang rendah hati (tawadhu'), pemurah, serta tegas dalam menjaga adab dan ukhuwah sesama umat.
Penghormatan Masyarakat: Beliau mendapat gelaran Al-Mukarram sebagai bentuk penghormatan dan pengiktirafan masyarakat tempatan terhadap keilmuan serta kepemimpinan rohani beliau.

Guru Fathurrahman bin KH. Asli Husaini Samarinda

Guru Fathurrahman bin KH. Asli Husaini merupakan salah satu tokoh ulama pengajar dan penerus dakwah dari Samarinda, Kalimantan Timu



Guru Fathurrahman bin KH. Asli Husaini merupakan salah satu tokoh ulama pengajar dan penerus dakwah dari Samarinda, Kalimantan Timur.

Nasab dan Latar Belakang
Ayahanda: KH. Asli Husaini bin Jaim, ulama terkemuka kelahiran Alabio, Kalimantan Selatan, yang hijrah ke Kalimantan Timur dan mendirikan Pondok Pesantren Darul Ihsan di Teluk Lerong Ilir, Samarinda pada tahun 1978.
Garis Keilmuan: Dibesarkan dalam lingkungan keluarga pejuang dakwah yang berpegang teguh pada tradisi keilmuan Islam, penguasaan bahasa Arab, serta pengajian kitab-kitab klasik (kitab kuning).
Pendidikan dan Kiprah Dakwah
Menimba Ilmu Agama: Guru Fathurrahman mendapat pendidikan awal dan bimbingan akhlak langsung dari ayah beliau, sebelum mendalami ilmu keagamaan secara khusus di berbagai pesantren.
Meneruskan Estafet Pesantren: Selepas wafatnya KH. Asli Husaini pada tahun 2001 (1422 H), Guru Fathurrahman melanjutkan ikhtiar dan dakwah sang ayah dalam memimpin serta mengemban amanah pengelolaan Pondok Pesantren Darul Ihsan Samarinda.
Pengajaran dan Majlis: Beliau aktif membimbing para santri dan jamaah majlis taklim, berfokus pada pengajaran tauhid, fiqih, akhlak, serta pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

K.H. Ahmad Sibawaihi (dikenal luas dengan sapaan Guru Bawai) merupakan salah satu tokoh ulama kharismatik asal Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Beliau adalah putra dari ulama tersohor Marabahan, Qadhi H.M. Basyuni.


 K.H. Ahmad Sibawaihi (dikenal luas dengan sapaan Guru Bawai) merupakan salah satu tokoh ulama kharismatik asal Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Beliau adalah putra dari ulama tersohor Marabahan, Qadhi H.M. Basyuni.

 K.H. Ahmad Sibawaihi (dikenal luas dengan sapaan Guru Bawai) merupakan salah satu tokoh ulama kharismatik asal Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Beliau adalah putra dari ulama tersohor Marabahan, Qadhi H.M. Basyuni.Garis Keturunan dan Keilmuan
Guru Bawai tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang memiliki jalur nasab dan sanad ilmu yang kuat di tanah Banjar. Ayah beliau, Qadhi H.M. Basyuni, merupakan salah satu guru dari ulama besar Kalimantan Selatan, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Abah Guru Sekumpul). Garis keturunan beliau bersambung hingga ke tokoh ulama besar Kalimantan Selatan, Syekh Abdussamad (Datu Samad) Marabahan dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kelampayan).
Kiprah Dakwah dan Akhlak
Pengajaran Ilmu: Guru Bawai melanjutkan estafet dakwah para pendahulunya di Marabahan dengan memimpin pengajian agama serta membimbing masyarakat tempatan.
Kedekatan Ulama: Beliau memiliki hubungan yang erat dengan para ulama sezamannya, termasuk kedekatan khidmat dan silaturahmi dengan Abah Guru Sekumpul.
Akhlakul Karimah: Beliau sangat dikenal oleh jemaah dan masyarakat luas karena keluhuran budi pekertinya, terutamanya sifat tawaduk dan tradisi beliau yang selalu memuliakan serta mengistimewakan setiap tamu yang berkunjung.
Peninggalan dan Peringatan Haul
Pusat kegiatan keagamaan dan pengajian beliau berpusat di kawasan Masjid Nurul Anwar (yang juga dikenal sebagai Masjid Hijau) di Marabahan. Setelah beliau wafat, acara peringatan haul beliau rutin dilaksanakan setiap tahunnya di Masjid Nurul Anwar dan senantiasa dipadati oleh ribuan jemaah dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan.