Sabtu, Oktober 24, 2026

CARA MENYAMPAIKAN MASALAH MURID KEPADA ORANG TUA TANPA MENYAKITI HATI

 CARA MENYAMPAIKAN MASALAH MURID KEPADA ORANG TUA TANPA MENYAKITI HATI ✍️📚🌷




Bapak/Ibu Guru, pernahkah kita merasa bingung saat harus menyampaikan masalah murid kepada orang tuanya?


Kita ingin orang tua mengetahui apa yang terjadi di sekolah, tetapi di sisi lain kita juga tidak ingin mereka merasa disalahkan atau menganggap guru sedang menjelek-jelekkan anaknya.


Situasi seperti ini membutuhkan komunikasi yang baik, tenang, dan penuh empati.


Berikut beberapa hal yang bisa kita lakukan:


✅1. Siapkan fakta yang jelas.

Sampaikan kejadian yang benar-benar kita amati. Hindari menyampaikan dugaan atau kesimpulan tanpa bukti yang cukup.


✅2. Pilih waktu yang tepat.

Jangan menyampaikan masalah ketika sedang emosi atau dalam situasi terburu-buru. Berikan ruang untuk berdiskusi dengan tenang.


✅3. Mulai dengan hal positif.

Sampaikan juga kelebihan, usaha, atau perkembangan baik yang dimiliki anak. Setiap anak memiliki sisi positif yang perlu kita hargai.


✅4. Gunakan bahasa yang sopan.

Daripada mengatakan, “Anak Bapak/Ibu nakal dan susah diatur,” lebih baik katakan, “Saya ingin berdiskusi karena beberapa kali anak mengalami kesulitan mengikuti kesepakatan kelas.”


Fokuslah pada perilaku yang perlu diperbaiki, bukan memberi label buruk kepada anak.


✅5. Dengarkan penjelasan orang tua.

Kita tidak selalu mengetahui seluruh keadaan anak di rumah. Bisa jadi ada kondisi tertentu yang perlu kita pahami bersama.


✅6. Cari solusi bersama.

Diskusikan langkah sederhana yang bisa dilakukan di sekolah dan di rumah. Jangan hanya membicarakan masalah, tetapi bantu menemukan jalan keluarnya.


✅7. Akhiri dengan harapan dan dukungan.

Yakinkan orang tua bahwa guru ingin membantu anak berkembang, bukan mencari kesalahan. Jaga komunikasi agar pendampingan dapat berjalan secara berkelanjutan.


🌱 Ingat, tujuan kita bukan mencari siapa yang salah, melainkan mencari cara terbaik agar anak bisa berkembang.


Guru dan orang tua memiliki peran yang berbeda, tetapi tujuan kita sama: membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.


Mari belajar menyampaikan masalah dengan bijak, mendengarkan dengan empati, dan mendampingi murid dengan hati.


Karena terkadang, cara kita menyampaikan sebuah masalah menentukan apakah orang tua akan merasa diserang atau justru bersedia bekerja sama.


Bapak/Ibu Guru, bagaimana biasanya Anda menyampaikan masalah murid kepada orang tua? Adakah pengalaman yang bisa kita pelajari bersama? 💬



RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) PEMBELAJARAN MENDALAM

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

PEMBELAJARAN MENDALAM


A. IDENTITAS PEMBELAJARAN


Satuan Pendidikan: SMP Negeri 3 Sambelia

Mata Pelajaran: Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

Fase/Kelas: D/VIII

Semester: Ganjil

Materi Pokok: Sistem Pencernaan pada Manusia

Alokasi Waktu: 3 JP (120 menit)

Tahun Pelajaran: 2026/2027

Model Pembelajaran: Problem Based Learning (PBL)

Pendekatan: Pembelajaran Mendalam

Metode: Diskusi, tanya jawab, pengamatan, presentasi, dan refleksi


B. IDENTIFIKASI PEMBELAJARAN


1. Identifikasi Murid


Murid telah mengenal beberapa organ tubuh manusia dan mengetahui bahwa makanan diperlukan untuk menghasilkan energi. Murid memiliki kebiasaan makan yang berbeda-beda sehingga pengalaman mereka dapat dijadikan titik awal pembelajaran.


2. Identifikasi Materi


Materi sistem pencernaan pada manusia mencakup:


- Organ-organ penyusun sistem pencernaan.

- Fungsi organ pencernaan.

- Proses pencernaan mekanis dan kimiawi.

- Peran enzim dalam pencernaan.

- Gangguan sistem pencernaan dan upaya menjaga kesehatannya.


3. Dimensi Profil Lulusan yang Dikembangkan


- Penalaran kritis.

- Komunikasi.

- Kolaborasi.

- Kemandirian.

- Kesehatan.


C. TUJUAN PEMBELAJARAN


Setelah mengikuti pembelajaran, murid diharapkan mampu:


1. Menyebutkan urutan organ pencernaan manusia dengan benar.

2. Menjelaskan fungsi organ-organ pencernaan manusia.

3. Membedakan proses pencernaan mekanis dan kimiawi disertai contoh.

4. Menganalisis hubungan kebiasaan makan dengan kesehatan sistem pencernaan berdasarkan informasi ilmiah.

5. Menyajikan hasil diskusi berupa diagram perjalanan makanan atau poster sederhana tentang sistem pencernaan.

6. Merefleksikan kebiasaan sehari-hari dan menentukan tindakan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan pencernaan.


D. PEMAHAMAN BERMAKNA


Makanan yang dikonsumsi manusia mengalami proses pencernaan agar zat gizinya dapat diserap dan dimanfaatkan tubuh. Memahami sistem pencernaan membantu murid memilih kebiasaan makan yang lebih sehat dan menjaga fungsi organ tubuh.


E. PERTANYAAN PEMANTIK


1. Mengapa makanan harus dicerna sebelum dapat dimanfaatkan tubuh?

2. Apa yang terjadi pada makanan sejak masuk ke mulut sampai dikeluarkan dari tubuh?

3. Mengapa kita perlu mengonsumsi makanan berserat dan minum air yang cukup?

4. Apa yang dapat terjadi jika kita memiliki kebiasaan makan yang kurang sehat?


F. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN


1. Kegiatan Pendahuluan (15 menit)


- Guru memberi salam, mengajak murid berdoa, dan memeriksa kesiapan belajar.

- Guru menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari, misalnya kebiasaan sarapan dan mengonsumsi sayuran.

- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan.

- Guru mengajukan pertanyaan pemantik tentang perjalanan makanan di dalam tubuh.

- Murid menyampaikan pengetahuan awal berdasarkan pengalaman masing-masing.


Prinsip pembelajaran: Berkesadaran dan bermakna.


2. Kegiatan Inti (90 menit)


Tahap 1: Memahami (25 menit)


- Guru menyajikan gambar sistem pencernaan manusia.

- Murid mengamati gambar dan mengidentifikasi organ-organ pencernaan.

- Guru menjelaskan secara singkat urutan organ, fungsi organ, serta perbedaan pencernaan mekanis dan kimiawi.

- Murid membaca bahan ajar dan mencatat konsep penting.

- Guru mengajukan pertanyaan untuk memeriksa pemahaman murid.


Tahap 2: Mengaplikasikan (45 menit)


Guru menyajikan permasalahan berikut:


“Seorang murid sering melewatkan sarapan, jarang mengonsumsi sayuran dan buah-buahan, serta kurang minum air. Ia terkadang mengalami kesulitan buang air besar. Bagaimana sistem pencernaan bekerja, dan kebiasaan apa yang dapat diperbaiki?”


Kegiatan murid:


- Murid dibagi menjadi beberapa kelompok kecil.

- Setiap kelompok mengidentifikasi masalah dalam kasus tersebut.

- Murid menyusun diagram perjalanan makanan melalui organ pencernaan.

- Murid menjelaskan fungsi organ dan proses yang terjadi pada setiap bagian.

- Murid mendiskusikan hubungan konsumsi serat, kecukupan cairan, aktivitas fisik, dan kesehatan pencernaan.

- Murid menyusun saran berdasarkan konsep IPA yang telah dipelajari.

- Setiap kelompok membuat diagram atau poster sederhana sebagai hasil diskusi.


Peran guru:


- Membimbing diskusi dan mengajukan pertanyaan pengarah.

- Memberikan kesempatan kepada semua murid untuk berpendapat.

- Meluruskan miskonsepsi tentang fungsi organ dan proses pencernaan.

- Memberikan bantuan sesuai kebutuhan belajar murid.


Tahap 3: Merefleksikan (20 menit)


- Kelompok mempresentasikan hasil diskusi secara singkat.

- Kelompok lain memberikan pertanyaan atau tanggapan.

- Guru bersama murid menyimpulkan konsep penting tentang sistem pencernaan.

- Murid menuliskan hal yang telah dipahami, hal yang masih membingungkan, dan satu kebiasaan sehat yang akan diupayakan.

- Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil belajar.


Prinsip pembelajaran: Bermakna dan menggembirakan.


3. Kegiatan Penutup (15 menit)


- Guru bersama murid menyimpulkan urutan organ, fungsi organ, dan proses pencernaan.

- Murid mengerjakan asesmen singkat secara individu.

- Guru menyampaikan apresiasi atas partisipasi murid.

- Guru memberikan tindak lanjut berupa pengamatan kebiasaan makan sehari-hari.

- Guru menutup pembelajaran dengan doa dan salam.


G. ASESMEN PEMBELAJARAN


1. Asesmen Diagnostik


Dilaksanakan pada awal pembelajaran melalui tanya jawab.


Contoh pertanyaan:


- Organ apa yang pertama kali menerima makanan?

- Apa fungsi lambung?

- Mengapa tubuh memerlukan makanan?


Tujuan: Mengetahui pengetahuan awal murid dan menentukan bantuan belajar yang diperlukan.


2. Asesmen Formatif


Dilaksanakan selama proses pembelajaran melalui:


- Keaktifan dalam diskusi.

- Ketepatan diagram perjalanan makanan.

- Kemampuan menjelaskan fungsi organ.

- Kemampuan menghubungkan kebiasaan makan dengan kesehatan pencernaan.

- Kerja sama dan komunikasi kelompok.


3. Asesmen Sumatif


Murid menjawab pertanyaan berikut secara individu.


1. Tuliskan urutan organ pencernaan manusia dari mulut sampai anus.

2. Jelaskan dua fungsi lambung dalam proses pencernaan.

3. Apa perbedaan pencernaan mekanis dan kimiawi?

4. Mengapa usus halus berperan penting dalam penyerapan zat gizi?

5. Jelaskan tiga kebiasaan yang dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan beserta alasannya.


4. Rubrik Penilaian Produk Kelompok


Aspek yang dinilai:


- Ketepatan konsep IPA: skor 1–4.

- Kelengkapan informasi: skor 1–4.

- Kejelasan diagram atau poster: skor 1–4.

- Kerja sama dan komunikasi: skor 1–4.


Skor maksimal: 16.


Nilai akhir = (Skor perolehan ÷ 16) × 100.


Kriteria skor:


- 4 = Sangat baik.

- 3 = Baik.

- 2 = Cukup.

- 1 = Perlu bimbingan.


5. Tindak Lanjut


- Murid yang telah mencapai tujuan pembelajaran diberikan tugas pengayaan berupa analisis sederhana tentang peran enzim pencernaan.

- Murid yang belum mencapai tujuan pembelajaran diberikan penjelasan ulang menggunakan gambar organ, kartu urutan organ, dan pertanyaan bertahap.

- Guru menggunakan hasil asesmen untuk merencanakan pembelajaran berikutnya.


H. SUMBER DAN MEDIA BELAJAR


1. Buku IPA SMP/MTs Kelas VIII yang sesuai dengan kurikulum yang digunakan.

2. Gambar atau poster sistem pencernaan manusia.

3. LKPD tentang organ dan proses pencernaan.

4. Video edukasi tentang sistem pencernaan manusia.

5. Lingkungan dan pengalaman sehari-hari murid terkait kebiasaan makan.

6. Kertas, alat tulis, dan perangkat presentasi sederhana.


I. REFLEKSI GURU


Setelah pembelajaran, guru melakukan refleksi dengan pertanyaan berikut:


1. Apakah tujuan pembelajaran telah tercapai?

2. Apakah murid mampu menjelaskan konsep dengan kata-kata sendiri?

3. Apakah kegiatan diskusi membantu murid menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata?

4. Murid mana yang masih memerlukan pendampingan?

5. Apa yang perlu diperbaiki pada pembelajaran berikutnya?


J. REFLEKSI MURID


Murid melengkapi pernyataan berikut:


- Hari ini saya memahami bahwa ....

- Hal yang masih membingungkan bagi saya adalah ....

- Pengetahuan yang dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari adalah ....

- Kebiasaan yang ingin saya perbaiki untuk menjaga kesehatan pencernaan adalah ....


Sambelia, ......................... 2026


Mengetahui,

Kepala Sekolah                             Guru Mata Pelajaran IPA


(...................................)             (...................................)


NIP. ................................             NIP. ................................

HIKAYAT PANGERAN KUSUMA NEGARA: RAJA CANTUNG YANG DIASINGKAN KE BONDOWOSO, JAWA TIMUR

 HIKAYAT PANGERAN KUSUMA NEGARA: RAJA CANTUNG YANG DIASINGKAN KE BONDOWOSO, JAWA TIMUR





Pangeran Kusuma Negara atau Aji Darma merupakan Raja Kerajaan Cantung ke-5 yang sangat dihormati oleh rakyatnya dan disegani oleh kawan maupun lawan. Di dalam mengatur roda pemerintahan, Pangeran Kusuma Negara dibantu oleh Datu Tingkan sebagai penasihat kerajaan sekaligus panglima perangnya.


Pangeran Kusuma Negara sering berinteraksi dengan rakyatnya tanpa pandang bulu. Selain itu, beliau adalah seorang yang taat dalam menjalankan syariat Islam tanpa membedakan agama satu dengan lainnya. Oleh karena itulah, beliau sangat dicintai oleh rakyatnya.


Pangeran Kusuma Negara menikah dengan Aji Utin binti Pangeran Muda Muhammad Arifbillah atau Aji Samarang. Dari pernikahannya itu, beliau dikaruniai dua orang anak, yaitu:


1. Putri Aji Ambarwati.

2. Putri Aji Kurbawati.


Pada masa itu, wilayah Kerajaan Cantung di bawah Pemerintah Hindia Belanda. Pangeran Kusuma Negara tidak menyukai dan sangat menentang pemerintahan kolonial yang dianggap merugikan rakyat, khususnya rakyat Cantung.


Kerajaan Cantung mencapai kemakmurannya pada era kepemimpinan Pangeran Kusuma Negara sehingga membuat iri lawan-lawannya. Banyak cara telah dilakukan oleh lawan-lawannya untuk mengambil alih kekuasaan.


Kolonial Belanda yang terkenal dengan politik adu domba menyusun strategi untuk menjatuhkan kekuasaan Pangeran Kusuma Negara. Pada tahun 1890 M, beliau dianggap makar oleh Belanda karena ikut membantu Gusti Muhammad Arsyad dan Sultan Muhammad Seman dalam Perang Banjar. Akhirnya pada Selasa pagi tanggal 20 Agustus 1901 M, beliau dibawa ke Surabaya melalui jalur laut. Kemudian diteruskan ke Pelabuhan Panarukan di Situbondo, dan selanjutnya diasingkan ke Bondowoso dengan pengawalan ketat.


Pangeran Kusuma Negara berpulang ke rahmatullah di tempat pengasingannya pada hari Selasa tanggal 17 Muharram 1348 H bertepatan dengan 25 Juni 1929 M. Jenazah beliau kemudian dimakamkan bersebelahan dengan makam ibundanya di Kelurahan Badean, Kecamatan Bondowoso, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.


Keluarga Kerajaan Cantung yang ikut diasingkan pada waktu itu:


1. Pangeran Kusuma Negara.

2. Ratu Jumantan binti Sultan Ali Akbar.

3. Permaisuri Aji Utin binti Pangeran Muda Muhammad Arifbillah.

4. Putri Aji Ambarwati binti Pangeran Kusuma Negara.

5. Putri Aji Kurbawati binti Pangeran Kusuma Negara.

6. Datu Tingkan/Kapitan.


Silsilah nasab Pangeran Kusuma Negara dari jalur ayah:


1. Pangeran Kusuma Negara bin

2. Aji Madura/Aji Daha bin

3. Aji Jawa bin

4. Aji Raden/Dipati Anom Alamsyah bin

5. Aji Negara/Sultan Sepuh Alamsyah I (Sultan Paser II) bin

6. Aji Geger/Sultan Aji Muhammad Alamsyah (Sultan Paser I) bin

7. Raja Aji Anom Singa Maulana (Raja Sadurangas IV) bin

8. Raja Aji Mas Anom Indra/Raden Katatang (Raja Sadurangas III) bin

9. Raja Aji Mas Pati Indra/Raden Aria Mandalika (Raja Sadurangas II) bin

10. Pangeran Abu Manshur Indra Jaya + Ratu Putri Petung (Raja Sadurangas I).


Silsilah nasab Pangeran Kusuma Negara dari jalur ibu:


1. Pangeran Kusuma Negara bin

2. Ratu Jumantan binti

3. Sultan Ali Akbar (Raja Sampanahan I) bin

4. Pangeran Prabu/Sultan Sepuh (Raja Bangkalaan, Cengal, dan Manunggul I) bin

5. Pangeran Dipati/Daeng Malewa.


Catatan:


• Raja Aji Mas Pati Indra/Raden Aria Mandalika kawin dengan Putri Limbuk binti Pangeran Dipati Antasari bin Sultan Musta'in Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah.

• Pangeran Abu Manshur Indra Jaya adalah bangsawan Arab dari Giri Kedaton, suami dari Sri Sukma Dewi/Ratu Putri Petung binti Aji Tunggul/Aria Manau/Kakah Ukop.

• Aji Tunggul/Aria Manau/Kakah Ukop adalah bawahan Sultan Musta'in Billah, Sultan Banjar IV.

• Komplek Makam Pangeran Kusuma Negara telah dijadikan Situs Cagar Budaya ke-1312 oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso, sedangkan rumah tahanan politik yang diberikan Pemerintah Hindia Belanda dijadikan Situs Cagar Budaya ke-1313.


1. Tutur.

2. H. Hendri Nindianto, S.H.

3. Mansyur, S.Pd., M.M.

4. Bang Jul Borneo, Sekretaris LAK3C.

disalin dari tulisan Ahmad Khatib


Kamis, Oktober 22, 2026

KERAJAAN JATUH ALAI & GELAR ANDIN RAMA DI HULU SUNGAI

 KERAJAAN JATUH ALAI & GELAR ANDIN RAMA DI HULU SUNGAI

Kerajaan Jatuh Alai memang tidak begitu dikenal, bahkan mungkin oleh penduduk Alai sendiri. Namun laporan mengenai keberadaannya berjejeran dalam buku-buku yang terbit di Negeri Eropa. Kerajaan Jatuh Alai dilaporkan menguasai seluruh wilayah dan sungai-sungai yang bermuara di Danau Bangkau di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Pangeran Tumenggung yang pernah menjadi Raja Terakhir Kerajaan Nagara Daha menyingkir ke wilayah Alai dan berhasil mempertahankan wilayah tersebut dari serangan pasukan Pangeran Samudera dan pasukan Kesultanan Demak, beliau dan keturunannya kemudian memerintah wilayah Alai dan Amandit sebagai penerus Kerajaan Nagara Daha yang kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Jatuh Alai. Dengan demikian, Kerajaan Jatuh Alai bisa dikatakan perpanjangan kekuasaan dinasti Maharaja Sukarama. Kerajaan Jatuh Alai dikabarkan masih eksis hingga awal tahun 1700 an.
Dalam Hikayat, Kerajaan Jatuh Alai disebut juga sebagai kelompok raja yang kalah yang menguasai wilayah pahuluan. Dalam buku Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Kalimantan Selatan terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun 1983 M disebutkan bahwa gelar Pangeran, Andin, dan Rama merupakan gelar bagi keturunan raja yang kalah. Dalam tradisi keluarga keturunan Andin di wilayah Hulu Sungai, Rama adalah gelar bagi seorang Andin yang dihormati dan berpengaruh.
Istilah raja yang kalah adalah persepsi yang dibangun oleh hikayat-hikayat yang diproduksi Kesultanan Banjar untuk melegitimasi kemenangan mereka dalam peperangan dengan Kerajaan Nagara Daha. Pada halaman 52 dalam buku Voyagie Gedaan Door Jacob Janssen De Roy Na Borneo En Atchin In 'T Jaar 1691 En Vervolgens Op Ordre Van Den Hoogh Edelen Heer Willem Van Outhoorn, Kerajaan Jatuh Alai dilaporkan oleh De Roy tahun 1690 M yang telah melakukan perjalanan ke wilayah Alai dan menghadap langsung Raja Kerajaan Jatuh. Laporan De Roy sendiri terbit pertama kali pada tahun 1700 M, menjadikannya sebagai laporan paling klasik dari Barat mengenai wilayah pedalaman selatan Pulau Kalimantan yang bisa menjadi bahan komparasi dan koreksi secara kritis atas informasi-informasi yang ada pada Hikayat Banjar.
Andin dan Rama di daerah Hulu Sungai merupakan bangsawan tinggi dan utama yang mempunyai hak istimewa untuk menduduki jabatan-jabatan pemerintahan seperti pambakal, lurah, demang, hingga tumenggung. Sampai hari ini, sebagian keluarga Andin dan Rama masih memegang atau melaksanakan adat istiadat serta kebiasaan Kerajaan Nagara Daha seperti memberikan kuncir dan melaksanakan upacara badudus bagi anak-anak mereka.
Hilangnya Kerajaan Jatuh Alai juga menjadi misteri tersendiri, nama Kerajaan Jatuh sebenarnya disematkan pertama kali oleh Francois Valentyn dalam buku Oud En Nieuw Oost-Indie yang terbit tahun 1726 M. Pendiri Kerajaan Jatuh Alai yang juga Raja Terakhir Kerajaan Nagara Daha yaitu Pangeran Tumenggung yang berkuasa di Alai sebenarnya juga tidak terbantahkan karena informasi tertulis seperti dalam Hikayat Banjar dan berbagai kronik lama yang didokumentasikan oleh Belanda dan Perancis selama tahun 1800 M memang menyebutkan hal yang sama, dan hal tersebut terkonfirmasi dalam tradisi keluarga Andin Rama yang tetap mempertahankan prinsip dan tutur mereka yang membela Pangeran Tumenggung. Selain itu, ada juga tokoh yang bernama Gusti Tumenggung atau Tumenggung Gusti yang keratonnya berada di Banua Asam Palajau dan berkuasa di Alai pada tahun 1690 M seperti yang dilaporkan oleh De Roy. Juga ada nama seorang tokoh penting lainnya yang disebut pemimpin utama Alai pada masa-masa sebelum dan sesudah dihapuskannya Kesultanan Banjar tahun 1859 M yang bernama Ahmad Jangol Wira Negara di Palajau.
Pada tahun 1865 M, Alai dibagi menjadi dua distrik yaitu Distrik Labuan Amas dan Distrik Batang Alai, masing-masing dipimpin oleh tokoh-tokoh penting selama perang Hulu Sungai tahun 1859-1861 M. Distrik Labuan Amas diserahkan kepada Jang Rasmi yang kemudian bergelar Tumenggung Karta Yuda Negara dan Distrik Batang Alai diserahkan kepada Tumenggung Yudha Karsa. Setelah beberapa tahun kemudian, Distrik Batang Alai dipimpin oleh Kiyai Demang Yudha Negara. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh penting yang masih diingat keluarga-keluarga Andin (baca Tichelman G.L 'Een Gezaghebber-Resident yang terbit tahun 1939 M).
Laporan lain juga menyebutkan mengenai Orang Sepuluh atau Sepuluh Pambakal dari Alai yang membantu sultan dalam menghadapi pemberontakan Pangeran Surya dan Pangeran Ahmad yang dibantu pasukan Bugis dari wilayah Pasir pada pertengahan tahun 1700 M (baca Kroniek Der Zuider En Oosterafdeeling Van Borneo yang terbit tahun 1936 M).

DATU KABUL SUNGAI BANAR AMUNTAI

DATU KABUL SUNGAI BANAR AMUNTAI
Syaikh Syarif Abu Bakar Kanzul Arasy atau Datu Kabul Sungai Banar merupakan seorang ulama pada masanya, beliau termasuk salah satu dari Datu Sepuluh Amuntai. Masjid pertama yang dibangun di daerah ini adalah Masjid Jami' Sungai Banar yang dipimpin langsung oleh beliau. Di antara keturunan beliau yang masyhur ialah Syarif Anang Abdul Karim dan Raden Adipati Danuraja. Dahulu makam beliau memiliki kubah dan ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah, namun sayang kubah tersebut sekarang sudah dihancurkan dan makam beliau diganti dengan nama Syaikh Muhammad Nurdin atau Datu Biha.
Kisah Penemuan Makam & Pembangunan Kubah
Ketika hendak melakukan pelebaran masjid, masyarakat meminta izin kepada ahli waris tanah yaitu Anang Salman yang berdomisili di Pulau Jawa. Saat datang ke Sungai Banar, Anang Salman menyisir rerumputan dan menemukan satu makam yang bersih. Kata beliau inilah makam Datu Kabul, tolong dipelihara. Adapun yang membangunkan kubah ialah Tuan Guru H. Asmuni atau Abah Guru Danau melalui muridnya H. Hambali yang mempunyai toko bangunan di daerah Tanjung.
Silsilah nasab:
1. Syaikh Syarif Abu Bakar Kanzul Arasy.
2. Syarif Husain.
3. Sultan Abul Ma'ali Ahmad.
4. Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Qadir.
5. Sultan Maulana Muhammad Nashruddin.
6. Sultan Maulana Yusuf.
7. Sultan Syarif Maulana Hasanuddin.
8. Al Quthbuz Zaman Sayyidul Kamil Syaikh Muhammad Nuruddin Sultan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
له الفاتحة...
Alkah Masjid Jami' Sungai Banar, Ds. Ujung Murung, Kec. Amuntai Selatan, Kab. Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.

SEJARAH MASJID JAMI' SUNGAI BANAR AMUNTAI

 SEJARAH MASJID JAMI' SUNGAI BANAR AMUNTAI

Letak: Desa Ujung Murung, Kecamatan Amuntai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Provinsi Kalimantan Selatan.
Masjid Jami' Sungai Banar adalah masjid pertama di daerah Sungai Banar atau Amuntai Selatan, didirikan pada tahun 1804 M atau 1218 H. Dikisahkan pada zaman dahulu sejumlah warga Amuntai yang sedang berguru kepada Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari di Martapura menerima saran dari Syaikh Arsyad agar dibangun sebuah masjid di wilayah Amuntai, kebetulan saat itu memang belum ada masjid. Selain itu, Syaikh Arsyad juga memberikan satu buah Al Qur'an tulisan tangan. Bak gayung bersambut, saran itupun disambut hangat warga Amuntai. Dengan bersama-sama, masyarakat mempersiapkan pembangunan masjid seperti batu, kayu, sirap, dan lain-lain. Hingga kini bahan baku masjid seperti kayu ulin, tiang, balok, papan, dan sirap masih dapat disaksikan di sekitar masjid. Lokasi pertama yang dipilih sekitar 500 meter dari lokasi masjid yang sekarang.
Keanehan terjadi menjelang pemasangan tiang masjid, mendadak masyarakat terkejut melihat sejumlah tiang besar yang terbuat dari kayu ulin itu hilang dari tempat pembuatannya. Setelah dilakukan pencarian ternyata tiang-tiang tersebut berada di tepi sungai di lokasi yang sekarang, ketika itu sungai tersebut belum ada namanya. Tentu saja kegaduhan muncul mengenai siapa yang memindahkan tiang-tiang yang memiliki bobot beberapa ton itu, untuk mengangkat satu tiang saja dibutuhkan puluhan orang, apalagi lebih dari satu tiang. Padahal malam sebelumnya, masyarakat masih melihat tiang-tiang tersebut masih berada di tempatnya. Keanehan itu pada akhirnya dipandang sebagai sebuah isyarat bahwa lokasi masjid haruslah berada di tempat tiang-tiang itu berada sekarang, maka dimulailah pembangunan masjid tersebut. Di kemudian hari tiang-tiang masjid tersebut ada yang dikeramatkan. Bangunan asli masjid berukuran 25 x 20 meter, berbentuk mirip Rumah Adat Banjar, memakai tiang, dan bertingkat. Bahan-bahan rangka, lantai, dan dinding dari kayu ulin dengan bagian atap dari sirap yang tinggi. Ketika itu belum dibuat menara. Sedangkan mimbar merupakan wakaf pribadi dari H. Mahmud (tokoh masyarakat setempat) yang ukirannya dikerjakan oleh dua orang ahli ukir pada masa itu yaitu Buha dan Thahir, mimbar itu terbuat dari kayu ulin berukuran 3,8 x 1 meter dengan total tinggi 4,5 meter terdiri dari badan 2 meter dan menara mimbar 2,5 meter.
Usai masjid dibangun, terjadi lagi peristiwa aneh. Ketika itu masyarakat bersyukur menyaksikan jerih payahnya rampung, mereka pun bermusyawarah menentukan nama terbaik untuk masjid itu. Tetapi belum ada keputusan yang diambil, tiba-tiba datanglah sebuah perahu yang merapat di tepi sungai dekat masjid. Penumpang perahu yang tampak seperti pedagang itupun turun dan meminta izin kepada masyarakat untuk menunaikan shalat, karena kebetulan bertepatan dengan tibanya waktu shalat. Tentu saja masyarakat merasa senang karena orang tersebut merupakan jamaah shalat pertama dari daerah lain. Setelah shalat, orang itu kembali melanjutkan perjalanannya, tetapi masyarakat terkejut melihat sebuah kantong berisi uang tertinggal di tepi sungai dekat perahu tadi bersandar. Mereka pun sepakat untuk menyimpannya kalau-kalau orang itu kembali, apalagi setelah diingat-ingat orang itu berperilaku baik dan alim. Benar saja, beberapa hari kemudian orang itu datang lagi. Masyarakat pun kembali bergembira melihat si pemilik kantong berisi uang yang cukup banyak itu. Mereka bukan saja menyerahkan hak orang itu, melainkan juga menjamunya makan. Pada waktu itulah, orang yang tidak diketahui jati dirinya itu berkata: Urang-urang di sini banar-banar kadada nang culasnya. Kemudian orang itu bertanya seputar nama sungai tempat perahunya bersandar dan juga nama masjid yang baru dibangun itu, masyarakat serentak menggelengkan kepalanya, baik sungai ataupun masjid memang belum ada namanya. Orang itupun tersenyum sambil berkata: Bagaimana kalau sungai itu diberi nama Sungai Banar dan masjidnya diberi nama Masigit Sungai Banar? Serentak masyarakat bertakbir memuji kebesaran Allah SWT, kebuntuan masyarakat memberi nama masjid itupun akhirnya terpecahkan. Setelah itu pria itupun pergi dan tidak ada seorang pun yang mengetahui asal-usulnya.
Hingga kini masyarakat meyakini pria misterius itu adalah Wali Allah SWT. Sebagai buktinya, pernah ada beberapa kali upaya penggantian nama masjid tetapi masyarakat tetap tidak bisa menerima. Upaya penggantian nama pernah terjadi pada tahun 1990 M, nama masjid diganti menjadi Masjid Baiturrahman, nama baru ini bahkan disahkan dalam sertifikat di Kantor Pertanahan Hulu Sungai Utara. Pada tahun 2000 M, muncul nama baru yaitu Masjid Istiqamah, nama ini pun tercantum dalam Skep Kakanwil Depag Kalsel tentang Penetapan Nomor Induk Masjid dengan nomor urut 1764090/61916. Tetapi nama-nama baru itu sangat tidak populer dan hampir tidak pernah disebut masyarakat kecuali nama Masjid Sungai Banar, belakangan nama masjid ditambah menjadi Masjid Jami' Sungai Banar untuk menunjukkan sebagai masjid besar dan bersejarah. Berdirinya Masjid Jami' Sungai Banar menyemarakkan kehidupan beragama masyarakat Amuntai dan sekitarnya, bahkan ada yang datang dari wilayah lain untuk belajar dan menuntut ilmu agama, keberadaannya dapat dikatakan sebagai pusat pengembangan syiar agama Islam pada masa itu.
• Sebagai Pusat Pendidikan Agama Islam
Sejak awal, masjid ini bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan agama Islam. Beberapa ulama besar yang pernah mengajar di masjid ini antara lain:
1. Tuan Guru H. Abdul Qadir (L. 1830 M).
2. Tuan Guru H. Ahmad bin Tuan Guru H. Abdul Qadir (1860-1944 M).
3. Tuan Guru H. Ahmad Khatib bin Muhammad Arif (1866-1956 M).
4. Tuan Guru H. Abdul Hamid bin H. Muhammad Shalih (1873-1941 M).
5. Tuan Guru H. Abdul Hamid bin H. Jamaluddin (1896-1951 M).
• Pasukan Gaib & Perlawanan
Pada masa perjuangan kemerdekaan, masjid ini juga digunakan sebagai pusat strategi. Dikenal pula adanya kelompok Pasukan Gaib yang digembleng oleh para ulama, mereka merupakan para santri yang diberi ilmu-ilmu spiritual dan kesaktian. Pasukan ini dipimpin oleh Matali dan wakilnya Itar dengan anggota berjumlah sekitar 70 orang. Dalam salah satu aksi, mereka pernah menyerbu markas Belanda dengan perlengkapan sederhana berupa kain putih penutup mimbar dan tongkat khatib. Aksi ini berakhir dengan kemenangan telak tanpa korban jiwa di pihak mereka.
• Tiang Perdamaian
Selain sebagai pusat pendidikan dan perjuangan, masjid ini juga menjadi tempat perdamaian antar suku. Ketika terjadi konflik antar suku ataupun lintas keyakinan, maka pihak-pihak terkait secara bersama-sama mendatangi masjid untuk melakukan ishlah (perdamaian). Salah satu tiang masjid yang menjadi tempat perjanjian damai bahkan hingga kini masih dianggap keramat oleh sebagian orang, meski tidak semua orang mengetahui tiang mana yang dimaksud.
• Ziarah, Tirakat, Dan Hajat Naik Haji
Masjid Jami' Sungai Banar juga menjadi tempat tirakat oleh masyarakat dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Sebagian besar peziarah datang untuk beribadah dan memohon kepada Allah agar hajat mereka dikabulkan. Hajat yang paling terkenal ialah permohonan untuk bisa naik haji. Masyarakat percaya, jika seseorang bersungguh-sungguh beribadah, berdzikir, dan tirakat di masjid ini, maka Allah akan memudahkan jalan mereka ke Tanah Suci, meski secara ekonomi mereka belum mampu. Tradisi ini disertai nazar, apabila hajat terkabul, maka akan kembali lagi ke masjid untuk menunaikan nazar tersebut

 Makam H. Imansyah bin Al 'Alimul Fadhil Muhammad Shalih Al Banjari.

Letak: Jalan Tri Kesuma Dalam RT. 02/RW. 01, Kampung Qadhi, Kelurahan Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
Beliau adalah orangtua dari Tuan Guru H. Qusyairin Imansyah atau Guru Mandin Kotabaru.
• H. Imansyah bin Al 'Alimul Fadhil Muhammad Shalih bin Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Arsyad bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman bin Mufti H. Abdul Jalil bin Khalifah H. Syihabuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
• H. Imansyah bin Al 'Alimul Fadhil Muhammad Shalih bin Ruqaiyah binti Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Arif bin H. Abdullah bin Kiyai Ahmad Dipasanta.
Al Fatihah...

HABIB MUHAMMAD BIN IBRAHIM AL HABSYI

 HABIB MUHAMMAD BIN IBRAHIM AL HABSYI

Habib Muhammad lahir di Seiwun, Hadhramaut, Yaman pada tahun 1311 H atau 1893 M. Beliau pertama kali datang ke Indonesia bersama ayahnya yang bernama Habib Ibrahim Al Habsyi, tidak diketahui dengan pasti kapan beliau datang ke Barabai. Beliau seorang Hafizh Al Qur’an yang juga alim dalam berbagai bidang ilmu agama serta taat dalam beribadah, oleh masyarakat beliau dikenal sangat santun dan suka menolong.
Keseharian beliau digunakan untuk mengajar ilmu agama, di samping itu beliau juga memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan minyak wangi di berbagai pasar yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Diceritakan bahwa beliau ketika pergi ke pasar untuk berjualan selalu naik sepeda, sambil mengendarai sepeda, beliau mengulang hafalan Al Qur'an nya. Bukan hanya hafalan Al Qur'an, bahkan beliau hafal 3000 Hadits dan sangat kuat ingatannya. Almarhum Tuan Guru H. Muhammad Thaha Ghazali pernah menceritakan bahwa beliau pernah bertanya tentang satu masalah Fiqih kepada Habib Muhammad, kemudian Habib Muhammad menyuruh beliau membuka Kitab Fathul Mu'in halaman sekian dan baris sekian.
Habib Muhammad wafat di Barabai pada hari Rabu tanggal 21 Rabi'ul Akhir 1396 H atau bertepatan dengan 21 April 1976 M.
له الفاتحة...
📍Jl. Keramat Manjang, Kel. Barabai Utara, Kec. Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan

MONUMEN PERANG BANJAR

 MONUMEN PERANG BANJAR


Monumen ini adalah tugu yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memperingati kematian tentara mereka dalam Perang Banjar tahun 1859 sampai 1863 M. Menurut versi Pemerintah Hindia Belanda, Perang Banjar atau Bandjermasinsche Krijg hanya berlangsung selama empat tahun yaitu dari tahun 1859 hingga 1863 M.
Pendirian monumen ini tidak terlepas dari usulan pemimpin ekspedisi Perang Banjar yaitu Letnan T. M. Verspijck. Usulan tersebut didasarkan pada catatannya tanggal 5 Februari 1860 M di Amuntai dan 2 Maret 1860 M di Banjarmasin.
Pada masa awal pembangunan monumen ini, sempat terjadi silang pendapat Komisi Pembangunan Monumen. Apakah tugu peringatan yang sudah tiba dari Belanda ini diletakkan di Banjarmasin atau di Martapura.
Alasannya, Martapura adalah tempat terhormat di mata para bangsawan dan masyarakat Banjar. Selain itu, di wilayah ini terletak Keraton sebagai tanda otoritas Sultan Banjar. Kalau monumen ini dibangun di Martapura, maka ia akan menjadi tanda bahwa Kesultanan Banjar telah hancur dan Pemerintah Hindia Belanda memiliki kewenangan di sana.
Pada wilayah Martapura juga, operasi pertama Perang Banjar dimulai. Verspijck menuliskan: Dari situlah pasukan Belanda pertama kali menuju kemenangan. Tidak diragukan lagi, tidak ada titik sentral di seluruh wilayah Kalimantan bagian selatan dan timur selain Martapura sebagai titik sejarah.
Setelah perdebatan alot dari Komisi Pembangunan Monumen, akhirnya Banjarmasin dipilih sebagai tempat pendirian monumen ini. Alasannya, Banjarmasin akan terus dikunjungi banyak orang dan monumen untuk orang yang dicintai akan bisa disaksikan setiap hari.
Monumen ini awalnya berada di depan kediaman Residen Belanda di Banjarmasin, tepatnya di alun-alun yang sekarang menjadi Jalan Jenderal Sudirman. Monumen ini diresmikan pada tanggal 19 Februari 1867 M.
Monumen Perang Banjar memiliki ciri khas yang mirip dengan Monumen Waterlooplein di Batavia dan Michielsplein di Padang, keduanya juga dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda. Monumen di Banjarmasin ini terbuat dari besi tuang dan memiliki gaya gothic, lantainya dilapisi marmer, dan dindingnya dihiasi dengan relief bergaya Eropa.
Meskipun monumen peringatan ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, namun ia tetap memiliki nilai sejarah yang penting karena menjadi saksi bisu Perang Banjar yang sengit. Perang ini menjadi bukti perlawanan rakyat Banjar terhadap penjajahan Belanda.
Walaupun monumen yang asli kini sudah tidak ada lagi di tempat asalnya, jejaknya masih bisa ditelusuri melalui foto-foto tua dan catatan sejarah. Monumen ini menjadi pengingat akan peristiwa penting dalam sejarah Kalimantan Selatan dan perlawanan rakyatnya terhadap penjajahan.
Sumber: Kesultanan Banjar.

H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman Al Banjari.

 Makam Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman Al Banjari.

Letak: Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.
Silsilah nasab:
• Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman bin Syaikh H. Ismail Khatib bin Qadhi H. Ibrahim bin Qadhi H. Muhammad Shalih bin Khalifah H. Zainuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
• Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman bin Syaikh H. Ismail Khatib bin Qadhi H. Ibrahim bin Halimah binti Mufti H. Jamaluddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
• Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman bin Syaikh H. Ismail Khatib bin Antung Aminah binti Pangeran H. Muhammad Khatib bin Pangeran Mufti H. Ahmad bin Ratu Aminah binti Pangeran Thaha bin Sultan Tamjidillah bin Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah bin Sultan Sa'idillah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Musta'in Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah bin Raden Mantri Alu bin Raden Bengawan bin Maharaja Sekar Sungsang.
Al Fatihah...

 Menurut Abdullah bin Abbas, dalam masalah berkurban diperbolehkan dengan ayam jago ataupun angsa. Bahkan Syaikh Muhammad Al Fadhali memerintahkan orang fakir untuk mengikuti pendapat ini (daripada tidak berkurban sama sekali). Dan perlu diketahui bahwa hukum ini tidak hanya berlaku pada kurban, tapi juga aqiqah.

(Tausyih 'Ala Ibni Qasim, halaman 269)
Bagi anda yang tidak bisa berkurban dengan ayam, maka tidak sah berkurban dengan telur. Apalagi kurban perasaan karena ditinggal pas lagi sayang-sayangnya

 Makam Tuan Guru H. Bakran bin Ulau bin H. Matarif.

Letak: Handil Kabuau, Desa Makmur, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.
Tuan Guru H. Bakran dilahirkan di Barabai pada hari Rabu tanggal 12 Syawwal 1356 H bertepatan dengan 15 Desember 1937 M, merupakan salah satu guru pengajar di masa-masa awal berdirinya Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin pimpinan Tuan Guru H. Ahmad Bakri.
Adapun pendidikan beliau ialah Pondok Pesantren Darussalam Martapura, tamat tahun 1960 M. Beliau adalah murid Tuan Guru H. Abdul Qadir Hasan atau Guru Tuha. Beliau dikenal ahli dalam bidang ilmu Nahwu dan Sharaf.
Tuan Guru H. Bakran berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu tanggal 5 Rabi'ul Akhir 1438 H bertepatan dengan 4 Januari 2017 M dalam usia kurang lebih 79 tahun.

23 PEJUANG KAMBAT SELATAN

 23 PEJUANG KAMBAT SELATAN


Malam mencekam, 90 pemuda mengendap perlahan, senyap tanpa ada sedikit pun suara. Bermodalkan parang bungkul di pinggang, mereka menyusuri hutan untuk menghidari keramaian.
12 Juni 1949 M, pasukan yang dikomandoi oleh Salimi yang tergabung dalam markas daerah Z-61 dan berbasis di Desa Mahang menyelinap di sela pepohonan dengan berselimutkan dingin dan hanya diterangi sinar rembulan.
Mereka menyelinap menembus hutan melewati Desa Buluan dengan dibantu oleh 13 pejuang Pasukan Alam Gaib dan pasukan dzikir dari Alabio yang dipimpin H. Abdul Kadir untuk menambah kekuatan Z-61 menghancurkan pos militer Belanda yang ada di Desa Jatuh.
Selama perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa masyarakat yang ingin ikut bertempur melawan penjajah, sehingga kekuatan para pejuang bertambah menjadi 150 orang. Sesampainya di pos militer Belanda, ternyata pos itu dalam keadaan kosong.
Bukan tanpa sebab, kosongnya pos militer yang ada di Desa Jatuh memang disengaja, karena informasi penyerangan itu telah bocor oleh spion atau mata-mata Belanda, yakni Pasukan Kucing Hirang di bawah pimpinan Pambakal H. Hasyim.
Pasukan Kucing Hirang merupakan kelompok pribumi yang dibayar Belanda untuk menjadi mata dan telinga mereka, pasukan itu seringkali meresahkan masyarakat, mereka tidak segan menangkap, menyiksa, dan menghancurkan rumah para pejuang.
Merasa dapat menguasai pos militer dan menaklukkan Pasukan Kucing Hirang tanpa perlawanan, para pejuang meneriakkan merdeka dan bersuka cita. Setelah memastikan kemenangan, mereka kembali menyisir jalan setapak untuk kembali pulang ke markas Z-61 di Desa Mahang.
Ternyata pihak Belanda telah menyiapkan strategi yang matang, mereka bersiap untuk mengepung para pejuang dari segala penjuru. Berbekal informasi dari Pasukan Kucing Hirang, mereka mengatur posisi untuk bersembunyi.
Sesampainya para pejuang di simpang empat Kambat Selatan, mereka dikejutkan dengan dentuman tembakan yang membelah angkasa. Merasa terkepung, sebagian pejuang berhamburan tanpa arah. Sedangkan mereka yang terlatih langsung tiarap.
Desing peluru melesat tidak beraturan, menghujani para pejuang. Masyarakat yang ikut berjuang namun belum terlatih, berlarian kesana-kemari.
Merasa situasi sangat genting, H. Abdul Kadir memimpin dzikir dan menancapkan bendera di empat penjuru agar para pejuang bisa berlindung. Riuh dzikir menggema menembus malam, pasukan pejuang duduk bersila dengan mulut yang terus merapalkan kalimat tauhid, berserah diri kepada Tuhan agar terlindung dari hujaman peluru Belanda.
Hujan peluru tidak dapat dibendung lagi, namun anehnya ribuan peluru itu tidak sedikit pun menyentuh para pejuang yang sedang berdzikir. Belanda pun tidak melihat keberadaan mereka, seakan terlindung dinding. Setiap peluru yang datang ke hadapan mereka nampak jatuh di sekitar bendera.
Malam itu terasa panjang, para pejuang perlahan bergerak senyap dan Belanda akhirnya mundur karena kebingungan dengan kejadian yang mereka alami.
Akibat peristiwa itu, 23 orang pejuang yang berasal dari masyarakat biasa gugur terkena tembakan Belanda. Kejadian itu masih menyimpan amarah para pejuang terhadap Belanda dan Pasukan Kucing Hirang.
لهم الفاتحة...
📍Jl. Batuah, Ds. Kambat Selatan, Kec. Pandawan, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Makam H. Sarkawi bin Kiyai Ahmad Dahlan (Gubernur Pertama Kalimantan Selatan).

 Makam H. Sarkawi bin Kiyai Ahmad Dahlan (Gubernur Pertama Kalimantan Selatan).

Letak: Alkah Muslimin, Jalan Keramat Manjang, Kelurahan Barabai Utara, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
H. Sarkawi tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Banua. Beliau bukan sekadar birokrat, melainkan tokoh sentral di balik lahirnya Provinsi Kalimantan Selatan setelah dimekarkan dari Provinsi Kalimantan pada tahun 1957 M. Selain itu, beliau juga dikenang sebagai Bapak Pemuda karena dedikasinya menyatukan organisasi kepemudaan di masa-masa awal kemerdekaan.
Lahir di Barabai pada 15 Desember 1907 M, H. Sarkawi berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Kiyai Ahmad Dahlan, merupakan Jaksa di Amuntai dan pernah menjabat Kiyai di Kotabaru. Garis kepemimpinan itu mengalir dari kakeknya yaitu Kiyai Demang Yudha Negara atau Andin Dirja bin Kiyai Syahabuddin bin Kiyai Martapati.
Pendidikan H. Sarkawi tergolong mentereng di zamannya. Setelah lulus dari HIS, beliau merantau ke Banjarmasin untuk bersekolah di MULO, dan berlanjut ke sekolah pamong praja OSVIA di Makassar.
Momen paling bersejarah terjadi pada 9 Januari 1957 M. Bertempat di Banjarmasin, dilakukan serah-terima jabatan dari Gubernur Kalimantan, R.T.A. Milono, kepada H. Sarkawi sebagai Penjabat Gubernur Kalimantan Selatan. Statusnya kemudian diperkuat melalui SK Presiden RI Nomor 504/M Tahun 1957 pada bulan September di tahun yang sama. Sebelum menjadi Gubernur, beliau pernah menjabat sebagai Kiyai di Batu Mandi.
Tepat pada 17 Agustus 1957 M, bersama Panglima Teritorial VI Tanjungpura, Kusno Utomo, H. Sarkawi memancangkan tiang pertama pembangunan Gedung Pemuda di Banjarmasin. Dua tahun kemudian, gedung tersebut diresmikan sebagai pusat pergerakan pemuda Banua.
Di sektor infrastruktur, H. Sarkawi adalah pemprakarsa pembangunan Jembatan 9 November (dulu dikenal sebagai Jembatan Empat Zaman) yang menghubungkan Pasar Lama dengan Seberang Masjid. Proses pembangunannya penuh perjuangan. Meski sempat terkendala dana dari pusat yang hanya cair 7,5 juta dari usulan 17,5 juta, H. Sarkawi tidak menyerah. Beliau melakukan lobi tambahan biaya hingga akhirnya jembatan tersebut rampung pada tahun 1961 M.
Tidak hanya soal infrastruktur, H. Sarkawi juga sangat peduli pada ketahanan pangan. Beliau sempat menginisiasi perkebunan ubi kayu di Tambang Ulang dan membangun pabrik tapioka di Binuang. Di bidang sosial, beliau menjadi Penasihat Konferensi Kebudayaan Banjarmasin dan memimpin Musyawarah Kerakatan Kalimantan Selatan.
H. Sarkawi wafat di Banjarmasin pada hari Rabu tanggal 2 Rajab 1388 H bertepatan dengan 25 September 1968 M dalam usia kurang lebih 61 tahun, jenazah beliau kemudian dibawa ke Barabai dan dimakamkan di Alkah Muslimin Manjang.

Makam Tuan Guru H. Abdul Wahab bin H. Marzuki.

 Makam Tuan Guru H. Abdul Wahab bin H. Marzuki.

Letak: Jalan Tri Kesuma Dalam RT. 02/RW. 01, Kampung Qadhi, Kelurahan Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
Ketika Abah Guru Sekumpul bersilaturahmi ke rumah Tuan Guru H. Abdul Wahab di Kampung Qadhi, beliau meminta Guru Wahab untuk berdoa. Guru Wahab menolak dan mempersilahkan Abah Guru yang membaca doa, namun Abah Guru juga menolak. Kemudian beliau berdua sama-sama menunduk beberapa saat. Saat menunduk itu, Guru Wahab menangis dan mata Abah Guru juga berlinang dengan air mata. Akhirnya tidak ada doa waktu itu dan Abah Guru pamit pulang.
Tuan Guru H. Abdul Wahab merupakan salah satu ulama yang menjadi rujukan para tuan guru di Barabai khususnya dalam bidang ilmu Fiqih. Beliau meninggal dunia di Kampung Qadhi pada hari Ahad tanggal 6 Syawwal 1427 H bertepatan dengan 29 Oktober 2006 M dalam usia 105 tahun.
Di antara guru-guru beliau:
1. Qadhi H. Muhammad Mukhtar bin Qadhi H. Muhammad Hasan (Guru Fiqih dan Falak).
2. Tuan Guru H. Muhammad Kasyful Anwar bin H. Ismail.
3. Tuan Guru H. Muhammad Shalih bin Syihabuddin (Guru Mursyid).
• Tuan Guru H. Abdul Wahab bin H. Marzuki bin Qadhi H. Muhammad Hasan bin Mufti H. Muhammad Sa'id bin H. Muhammad Amin bin H. Abdullah bin Kiyai Ahmad Dipasanta.

Makam Patuan H. Zarkasyi bin Jumadil.

 Makam Patuan H. Zarkasyi bin Jumadil.

Letak: Paimaman Masjid Al Baitul Makmur, Jalan Brigjend H. Hasan Basri, Desa Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Beliau merupakan salah satu tokoh ulama yang ada di Desa Karang Jawa dan masih keturunan dari Tumenggung Antaluddin.
Silsilah nasab:
Patuan H. Zarkasyi bin Jumadil bin Galuhan binti Auja binti Lahuddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana.
Patuan H. Zarkasyi bin Arfiah binti Thair bin Tumenggung Antaluddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana.
Patuan H. Zarkasyi bin Arfiah binti Galuh Basar binti Ahmad Nuruddin bin Undit bin Anin binti Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana.

 Makam Datu Thair bin Tumenggung Antaluddin.

Letak: Desa Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Datu Thair bin Tumenggung Antaluddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana.
Al Fatihah...

BENTENG GUNUNG MADANG

 BENTENG GUNUNG MADANG

Perang Banjar dimulai pada tahun 1859 M. Atas saran dari Pangeran Antasari, Pangeran Hidayat, dan Demang Lehman, Tumenggung Antaluddin menyusun kekuatan dan pertahanan di daerah pahuluan dengan mendirikan benteng di Gunung Madang sekitar bulan Agustus 1860 M.
Benteng Gunung Madang dibangun dengan menggunakan tujuh lapis batang kayu Madang yang terdapat di sekitar tempat itu. Luas bangunannya sekitar 400 meter persegi, berbentuk bundar dan bertingkat dua. Tingkat atas digunakan sebagai tempat pengintaian sekaligus tempat pasukan bersenjata api, termasuk tiga pucuk meriam lila.
Pada pinggir puncak bagian selatan dan utara bersusun batu-batu besar, tempat pertahanan yang juga dipersenjatai dengan tiga pucuk meriam lila.
Di bagian barat atau belakang benteng terdapat hutan bambu yang cukup lebat, sementara di bagian timur merupakan jalan menuju benteng. Jalan itu sengaja dibersihkan dari pepohonan dan semak-semak, sebab di depan pintu benteng ada tumpukan kayu-kayu gelondongan yang dapat digulingkan jika serdadu Belanda mencoba naik.
Alat pertahanan lainnya adalah berupa jembatan-jembatan palsu, terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Jika diinjak, jembatan akan berguling. Orang yang tidak waspada akan kehilangan keseimbangan, tercebur ke sungai dan disambut oleh jebakan sungga, yaitu batangan besi runcing yang tersimpan di bawah permukaan air.
Pada beberapa bagian pinggiran sungai juga terpasang sungga, menahan orang yang menyeberang dengan berenang atau naik perahu. Di bentangan padang ilalang terdapat juga lubang-lubang jebakan yang di dalamnya berisi sungga. Selain itu, ada juga jalan rahasia bawah tanah, jalan yang menjadi akses keluar-masuk pasukan penyergap.
Dari Benteng Madang itulah dikirim kelompok-kelompok laskar untuk melakukan penyergapan terhadap pasukan Belanda, terutama terhadap pasukan patroli. Penyergapan-penyergapan yang memakan banyak korban membuat Belanda tidak bisa meremehkan pasukan Antaluddin.
Pada 3 September sampai 22 September 1860 M, Benteng Gunung Madang mendapat lima kali serangan dari pasukan Belanda namun kelimanya berhasil dipatahkan. Benteng Gunung Madang tidak pernah tertembus Belanda selama di bawah pimpinan Tumenggung Antaluddin.
Benteng Gunung Madang terletak di Desa Madang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.