See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/382028366
Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
Book · July 2024
CITATIONS
0
READS
8
8 authors, including:
Mursalin Mursalin
Universitas Islam Negeri Antasari, Indonesia, Banjarmasin
18 PUBLICATIONS 6 CITATIONS
SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Mursalin Mursalin on 06 July 2024.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
UlamabanjaR E N S I K L O P E D I
EDISI 2024
Ahmad Muhajir, Muhammad Bulkini, Muhammad Iqbal,
Mursalin, Muhammad Zainal Abidin (ed.)
ENSIKLOPEDI ULAMA BANJAR
Edisi 2024
Perbaikan dan Pengayaan terhadap Buku
Ulama Banjar daari Masa ke Masa
Jilid 1 dan Jilid 2
ENSIKLOPEDI ULAMA BANJAR
Edisi 2024
Penulis:
Masdari
Wardani
Ahmad Mujahid
Rahmadi
Humaidy
Fathullah Munadi
Mursalin
Ahmad Muhajir
Muhammad Bulkini
Muhammad Iqbal
Muhammad Zainal Abidin
Roisah Rubiyanti
dan para penulis lainnya yang tidak teridentifikasi
Editor:
Ahmad Muhajir
Muhammad Bulkini
Muhammad Iqbal
Mursalin
Muhammad Zainal Abidin
Pemeriksa Aksara:
Akhmad Wafi
Desain Cover:
Mursalin
Layouter:
Fathurrahman
ISBN: 978-623-6268-77-3
Cet. 2 Juni 2024 xliv + 752 + XXXV, ukuran 15,5 x 23 cm
ANTASARI PRESS
Jl. Jenderal Ahmad Yani KM 4,5 Banjarmasin 70235
Kalimantan Selatan Telp. (0511) 3252829 Fax (0511) 3254344
Website: http://lp2m.uin-antasari.ac.id/?s=buku
© Hak cipta dilindungi undang-undang
All right reserved
Pengantar Tim Revisi iii
PENGANTAR TIM REVISI
EDISI 2024
Buku yang ada di tangan pembaca saat ini adalah hasil
perbaikan, penyusunan ulang dan pengayaan terhadap dua jilid buku
Ulama Banjar dari Masa ke Masa terbitan Antasari Press tahun 2018
dan 2019. Berkat rahmat Allah SWT dan kerja serius tim editor,
pekerjaan ini sudah terlihat hasilnya di penghujung tahun 2023. Tim
revisi yang dibentuk pada tahun 2023 bertugas, salah satunya, untuk
merubah pola penyusunan entri riwayat hidup, dari sesuai urutan
kelahiran menjadi sesuai urutan abjad. Dengan kata lain, perubahan
ini dari gaya thabaqat menjadi gaya ensiklopedia. Perubahan susunan
ini diharapkan mempercepat pencarian entri ulama tertentu dalam buku
ini, meskipun pembaca tidak mengetahui waktu kelahiran mereka.
Sebagai ilustrasi, di edisi 2024 ini, riwayat hidup Tuan Guru
Muhammad Zaini Sekumpul, misalnya, diletakkan di deretan tokoh
bernama “Muhammad” di kelompok entri berhuruf awal M. Sementara
dalam buku terdahulu, riwayat hidup beliau ditempatkan di sub bagian
ulama yang lahir pada periode 1940-1949.
Penyusunan ulang ini memerlukan ketelitian dan ketelatenan
mengingat banyaknya jumlah entri yang dipindah urutannya secara
manual. Ahmad Muhajir, Muhammad Bulkini dan Mursalin bahumembahu menangani tugas ini pada bagian akhir proses revisi. Bertiga
mereka menyusun ulang total 276 entri riwayat hidup ulama Banjar,
yang 11 di antaranya merupakan tulisan-tulisan yang baru dibuat di
tahun 2023.
Pola alfabetis yang dipakai dalam buku ini menuntut
pengecekan ulang nama depan setiap tokoh agar pengelompokannya
tepat. Sebagai salah satu hasilnya, pembaca dapat menemukan bahwa
nama depan yang paling populer di kalangan ulama Banjar dalam buku
ini adalah “Muhammad” (72 orang), lalu “Abdu” dengan berbagai variasi
(37 orang) dan “Ahmad” (28 orang). Sudah menjadi pengetahuan umum
bahwa “Muhammad” dan “Ahmad” adalah dua nama bagi nabi sekaligus
rasul terakhir yang Allah utus dengan membawa ajaran Islam untuk
iv Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
seluruh umat manusia. Banyaknya ulama dalam buku ini yang bernama
depan Muhammad terasa pas karena mereka meneruskan dakwah
Islamiyah di zaman mereka masing-masing dengan porsi yang berbedabeda. Selanjutnya, nama “Abdu” dalam Bahasa Indonesia berarti
“Hamba”, suatu kata yang umumnya diikuti oleh Asmaul Husna atau
nama-nama Tuhan yang Mulia. Dalam buku ini, nama “Abdu” paling
banyak diiringi oleh kata “Rahman”, bermakna “Yang Maha Pengasih”,
dimiliki 7 orang tokoh. Ulama Banjar dengan nama tersebut yang sangat
terkenal di edisi ini adalah Syekh Abdurrahman Siddiq (1859 - 1939),
Mufti Kerajaan Indragiri, Riau.
Selanjutnya, “Muhammad Arsyad” adalah nama terpopuler di
antara ulama Banjar yang nama depannya Muhammad. Nama tersebut
dimiliki oleh empat tokoh dari masa yang berbeda-beda, dan yang
terawal masa hidupnya di antara mereka tak lain dan tak bukan adalah
Datu Kalampayan (1735 - 1812). Editor menambahkan nama daerah
sesudah nama belakang tiga Muhammad Arsyad lainnya, misalnya,
Kotabaru, Hantakan dan Samuda, agar pembaca dapat membedakan
mereka dari Datu Kalampayan atau Syekh Muhammad Arsyad AlBanjari. Prinsip yang sama dipakai untuk tokoh-tokoh lain di buku ini
yang memiliki nama sama persis, kecuali jika mereka mempunyai nama
lain yang lebih terkenal di masyarakat. Misalnya, ada dua tuan guru
dari Hulu Sungai Utara dalam buku ini yang bernama Abdul Hamid.
Maka untuk membedakan keduanya di daftar isi, editor menambahkan
nama lain untuk satu orang, yakni “Abdul Hamid atau Haji Tarus” dan
nama daerah untuk tokoh yang satu lagi, “Abdul Hamid Sungai Banar.”
Saat penyusunan entri sesuai abjad pula, salah satu editor
menemukan adanya dua entri yang membahas tokoh yang sama meski
dengan cerita yang sedikit berbeda dan saling melengkapi. Namanya
Haji Bustami Ahmad (1920 – 1969), seorang ahli seni membaca AlQur’an asal Barabai yang mengajar banyak qori dan qoriah di tanah
Banjar. Rupanya hal ini luput dari perhatian tim editor buku sebelumnya.
Maka sebagai perbaikan, kedua kisah itu disatukan sambil menghindari
pengulangan yang tidak perlu. Akibat penggabungan tersebut,
berkuranglah satu entri dari 275 menjadi 274 buah riwayat hidup ulama.
Jumlah entri bertambah menjadi 276 dengan masuknya riwayat hidup
almarhum dosen Fakultas Usluhuddin IAIN Antasari, Profesor Doktor
Pengantar Tim Revisi v
Muhammad Zurkani Jahja, dan Tuan Guru Syaifuddin Zuhri (Abah
Guru Banjar Indah) yang memiliki unsur keulamaan dan ketokohan
yang kuah. Secara substantif, masuknya Haji Bustami Ahmad dalam
buku terdahulu menunjukkan bahwa para penyusunnya memiliki
definisi ulama yang luas hingga memasukkan guru tilawatil Qur’an.
Sesuai pesan, tim editor edisi 2024 tidak mengeluarkan satu tokoh
pun yang telah dimuat oleh para pendahulu dalam buku Ulama Banjar
dari Masa ke Masa jilid 1 dan 2.
Pekerjaan tim editor edisi 2024 tidak sekedar menyusun ulang
entri. Sebelumnya, tim ini banyak melakukan editing bahasa dan redaksi
kalimat terhadap riwayat hidup ulama dari dua buku terdahulu. Melalui
proses tersebut, tim editor berupaya meningkatkan kualitas alur cerita,
mengurangi kekakuan dan pengulangan yang tidak perlu, serta
memperjelas beberapa fakta dan data. Selain tiga editor yang sudah
disebut namanya di atas, Muhammad Iqbal dan Muhammad Zainal
Abidin juga terlibat dalam tugas ini. Dengan sabar dan teliti tim editor
memperbaiki naskah terdahulu sebanyak dan sebaik yang mereka bisa.
Perbaikan alur cerita dapat disebabkan karena adanya riwayat hidup yang
dianggap kurang enak dibaca, misalnya, karena sang tokoh telah
disebutkan wafat di tengah tulisan, namun di separo tulisan sisanya, cerita
beliau saat masih hidup kembali berlanjut. Seolah-olah tokoh itu “hidup
lagi” setelah dikabarkan meninggal. Penyebab lainnya dari perbaikan
redaksi kalimat termasuk kekakuan bahasa di naskah asli, dimana sangat
terlihat kalau sumber tulisan adalah biodata atau curriculum vitae yang
disambung-sambung seadanya. Sebagai hasil dari editing bahasa dan
redaksi kalimat ini, sebagian entri bertambah panjang dan sebagian lagi
menjadi lebih pendek. Tim editor juga memperbaiki beberapa data dan
fakta yang ditemukan keliru atau kurang lengkap di beberapa riwayat
hidup, misalnya, Tuan Guru Haji Badruddin dan Guru Jamhari Arsyad.
Harus diakui adanya sejumlah entri yang tidak disentuh, karena memiliki
kualitas yang sudah begitu bagus atau sebaliknya, karena menuntut terlalu
banyak waktu perbaikan. Hal terakhir ini diakui sebagai suatu
ketidaksempurnaan dalam upaya tim revisi.
Sebagai tambahan, tim ini juga menyelaraskan ejaan sejumlah
kata yang sering terulang di sepanjang buku ini, seperti Syekh (780
kali), Makkah (369 kali) dan Al-Banjari (144 kali). Tim edisi 2024
vi Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
ingin memperbaiki inkonsistensi dalam mengeja kata yang sama yang
mengganggu kenikmatan pembaca. Secara substantif, seringnya katakata tersebut muncul dalam banyak entri mencerminkan pentingnya
Makkah sebagai tujuan berhaji dan mendalami agama Islam, dengan
belajar kepada para syekh di sana. Dalam beberapa kasus, para ulama
Banjar ini sendiri dipanggil “syekh” sebagai pengakuan atas ilmu dan
kontribusi mereka kepada masyarakat dan bangsa.
Pekerjaan paling menarik bagi tim edisi 2024 ini adalah
pengayaan. Karena menginginkan adanya kontribusi lebih, maka tim
ini menetapkan target 10 riwayat hidup baru dengan panjang sekitar
2000 kata per entrinya, didasarkan pada pengumpulan data serius serta
penulisan yang melalui review internal. Target itu tercapai namun namanama ulama yang diusulkan di awal sedikit berbeda dengan hasil akhir.
Ada satu tokoh yang sulit sekali diakses dan satu tokoh lainnya tidak
memberikan izin menerbitkan tulisan yang diajukan kepadanya. Pada
akhirnya, tim edisi 2024 menambahkan nama-nama berikut. Ahmad
Muhajir menulis riwayat hidup Ustaz Mairijani, Guru Syaifuddin Zuhri
dan Ustaz Nursyahid Ramli. Muhammad Bulkini menulis biografi Habib
Ali Khaidir Al Kaff dan Guru Masdar Umar. Muhammad Iqbal menulis
kisah hidup dan karya Guru Mahmud Hasil Palangkaraya, dan bersama
muridnya, Roisah Rubiyanti, memaparkan riwayat hidup Muhammad
Arsyad Samuda. Mursalin menceritakan biografi Guru Ilham Humaidi
dan Pangeran Abu Bakar. Muhammad Zainal Abidin menuliskan kisah
Guru Muhammad Arsyad Hantakan dan Ustaz Hamdani Bakran
Yogyakarta.
Sebagaimana di buku-buku sebelumnya, pilihan tim editor edisi
2024 terhadap 10 ulama ini mengandung sejumlah variasi, yakni: masih
hidup - sudah wafat; masih muda - sudah sepuh; tinggal di Kalimantan
Selatan – menetap di provinsi lain; mengajar di dalam pesantren –
berdakwah di tengah masyarakat; Ustaz sekaligus dosen – ulama nondosen; serta adanya perwakilan dari kalangan habaib dan warga
Muhammadiyah. Variasi-variasi ini diharapkan dapat mencerminkan
keragaman nuansa dan latar belakang Ulama Banjar.
Pada edisi 2024 ini, judul-judul entri ditulis dengan
menyebutkan nama diiringi keterangan tahun lahir dan tahun wafat
Pengantar Tim Revisi vii
jika diketahui, misalnya, Ahmad Zuhdiannor (1972 - 2022). Jika tahun
lahir atau tahun wafat tidak diketahui, maka diganti dengan tiga tanda
titik, misalnya, Abdurrahman Nagara ( ... – 1924) dan Muhammad
Sunan (1890 - ... ). Sebagian tokoh di dalam buku ini masih hidup saat
tim melakukan revisi di tahun 2023, dan untuk mereka, tahun wafat
dikosongkan, misalnya, Abd. Syukur Alhamidy (1954 - ). Semua gelar
keagamaan dan akademis dihapuskan di judul entri, namun
dipertahankan di dalam artikel. Hal ini merupakan jalan tengah bagi
upaya menyusun ulang entri biografis ‘ala ensiklopedia sambil
menghormati budaya lokal dalam memanggil ulama. Satu satunya
tokoh yang tidak dibuang gelarnya hanyalah Penghulu Rasyid (Circa
1810 - 1865). Editor mengambil keputusan ini dengan pertimbangan
subyektif, yakni memudahkan pencarian bagi pembaca, terutama yang
sudah pernah mendengar nama beliau sebelumnya. Gelar penghulu bagi
tokoh ini nyaris tidak terpisahkan sehingga jika yang dicantumkan hanya
Rasyid di judul entri beliau, maka pembaca bisa saja mengira itu Rasyid
yang lain. Terakhir, kata circa digunakan di saat penulis dan editor tidak
mengetahui secara pasti tahun lahir atau tahun wafat seorang tokoh.
Revisi yang tim ini lakukan adalah pelaksanaan amanah yang
diberikan oleh pimpinan UIN Antasari. Pendanaannya berasal dari
Program Penelitian Kebijakan tahun 2023 yang dikelola oleh LP2M
UIN Antasari. Ketua tim revisi, Ahmad Muhajir, menyampaikan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua anggota yang
mengerjakan tugas masing-masing dengan passion dan aspirasi untuk
meraih kualitas akhir yang bagus. Rapat demi rapat evaluasi yang
dilaksanakan hampir setiap bulan menunjukkan komitmen tinggi dan
ketertarikan yang sama di bidang penulisan biografi ulama. Secara
khusus, perlu disebutkan bahwa Muhammad Bulkini membantu Ahmad
Muhajir memeriksa teks di tahap paling akhir. Desain cover yang indah
merupakan karya Mursalin. Muhammad Iqbal memberi banyak masukan
berharga terkait penata letak, seniman pembuat desain cover dan
percetakan. Dia juga bersedia menempuh perjalanan Palangkaraya –
Banjarmasin untuk menghadiri pertemuan fisik para penulis riwayat
hidup tambahan pada Oktober 2023. Yang terakhir, Muhammad Zainal
Abidin, di tengah kesibukannya yang luar biasa, menjadi pembimbing
bagi tim secara keseluruhan sekaligus kontributor bagi edisi ini. Semoga
viii Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
karya ini bermanfaat dan mengalirkan amal jariyah bagi para ulama
yang dikisahkan, para penulis dan tim-tim editor dari edisi lama hingga
edisi terbaru ini. Kepada para pembaca, tim editor mengucapkan
selamat menikmati.
Banjarmasin, 26 Mei 2024
Tim Revisi Edisi 2024
Ahmad Muhajir, Muhammad Bulkini,
Muhammad Iqbal, Mursalin
dan Muhammad Zainal Abidin.
Pengantar Rektor ix
PENGANTAR REKTOR UIN ANTASARI
Geneologi Intelektual dan Dinamika Sosial Kaum Muslim
Kalimantan Selatan1
Mujiburrahman
Kalimantan Selatan merupakan provinsi yang dihuni oleh
mayoritas suku Banjar. Suku Banjar adalah suku ke-10 terbesar di Indonesia (Suryadinata, Arifin dan Ananta 2003: 31-68). Selain di
Kalimantan Selatan, orang Banjar banyak yang tinggal di Kalimantan
Tengah dan Kalimantan Timur. Di Sumatra, orang Banjar banyak yang
tinggal di provinsi Riau (terutama di Tembilahan), Bangka Belitung
dan Jambi, sedangkan di Jawa dan Sulawesi, mereka terpencar di
berbagai provinsi. Selain itu, banyak pula orang Banjar yang merantau
ke Malaysia, terutama di Perak, Johor, Selangor dan Sabah. Orang
Banjar dikenal sebagai pemeluk agama Islam. Menurut statistik 2010,
hampir semua, yakni 99. 55% orang Banjar yang tinggal di berbagai
tempat itu, beragama Islam. Sedangkan di Kalimantan Selatan, jumlah
penduduk Muslim mencapai lebih dari 97% (Ananta, Arifin, Hasbullah,
Handayani dan Pamono 2015: 263; 267;270). Mungkin karena identitas
keislaman itu pula, selain adanya kedekatan bahasa, orang Banjar
mengidentifikasi diri sebagai bagian dari orang Melayu. Keislaman suku
Banjar tersebut tentu bukan sesuatu yang terwujud secara tiba-tiba. Ia
adalah hasil dari usaha-usaha dakwah yang terus-menerus dilakukan,
terutama oleh tokoh-tokoh agama Islam yang disebut ‘ulama’. Karena
itu pula, para ulama memiliki kedudukan penting dalam kehidupan
masyarakat Banjar hingga sekarang.
Kedudukan dan peran ulama di masyarakat Banjar telah
mengalami perkembangan yang cukup dinamis dari masa ke masa. Hal
ini terutama disebabkan oleh perubahan sosial, politik dan budaya yang
1
Kata pengantar ini adalah penyempurnaan dari versi terdahulu, dan pernah disampaikan
dalam Nadwah Ulama Nusantara VIII yang diselenggarakan oleh Pusat Rantau Timur
Tengah dan Nusantara, Fakulti Pengajian Islam, Universiti Kebangsaan Malaysia
bekerjasama dengan Majelis Islam Sarawak, bertempat di Dewan Majma’ Tuanku Abdul
Halim Mu’adzam Shah Kompleks Islam Sarawak, 23-25 Oktober 2018.
x Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
terjadi sepanjang sejarah masyarakat Banjar. Perubahan-perubahan
tersebut bahkan tidak hanya menyangkut kedudukan dan peran sosial
ulama, melainkan juga menyangkut persepsi masyarakat tentang
berbagai kriteria yang harus dimiliki seseorang yang dianggap sebagai
ulama. Di sisi lain, karena kelembagaan ulama memiliki akar yang
sangat panjang dalam sejarah Islam, maka kita akan menemukan adanya
kesinambungan atau benang merah antara sosok dan peran ulama di
masa lampau, dan yang kita temukan di masa kini.
Berbagai Sebutan untuk Ulama
Sebenarnya, secara sederhana, dinamika keberadaan ulama
Banjar dapat dilihat dari penggunaan sebutan yang dinisbahkan
kepadanya. Kata ‘ulamâ’ diambil dari bahasa Arab, sebagai bentuk
jamak dari kata ‘âlim, artinya orang yang berilmu. Karena ilmu yang
mula-mula berkembang dalam Islam adalah ilmu agama, maka ‘ulamâ’
biasanya adalah orang-orang yang menguasai ilmu- ilmu agama Islam.
Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata ‘ulama’ digunakan sebagai
bentuk tunggal, bukan jamak. Dalam hal penggunaan, kata ‘ulama’
biasanya digunakan sebagai sebutan identitas yang bersifat umum, yang
dikenakan kepada seorang pemuka agama Islam. Karena sifatnya
umum, kita jarang sekali mendengar orang memanggil seseorang dengan
‘pak ulama’ atau ‘ibu ulama’. Untuk memanggil seseorang secara
khusus, biasanya digunakan sebutan lain sesuai dengan budaya
setempat. Misalnya, orang Jawa menyebut ulama dengan ‘kiyai’. Adapun
dalam budaya Banjar, kita temukan sebutan-sebutan seperti ‘tuan guru’,
‘syekh’, ‘datu’, ‘qadhi’, ‘mufti’, ‘mu’allim’ dan ‘Ustaz’ atau ‘Ustazah’.
Sebutan ‘tuan guru’ tampaknya merupakan istilah yang paling awal.
Kata ‘tuan’ dalam bahasa Melayu merupakan panggilan kehormatan
untuk seorang pria. Sedangkan kata ‘guru’ berasal dari bahasa Sanskerta,
yang digunakan untuk menyebut seorang pengajar dan pembimbing
spiritual. Kata ‘guru’ jelas berasal dari budaya Hindu-Budha, yang
berpengaruh cukup besar di Nusantara sebelum kedatangan Islam,
termasuk di daerah Kalimantan Selatan. Patut pula kiranya dicatat
bahwa sebutan ‘tuan guru’ juga dipakai di daerah Nusa Tenggara Barat.
Sedangkan orang Bugis menyebut ulama dengan ‘gurutta’, yang artinya
‘guru kita’.
Pengantar Rektor xi
Selain itu, dalam budaya Banjar, sebutan ‘tuan guru’ biasanya
digabung dengan titel ‘haji’, sehingga menjadi ‘tuan guru haji’. Namun,
dalam panggilan sehari-hari, seorang ulama jarang dipanggil lengkap
dengan ‘tuan guru haji’. Yang sering kita dengar, orang Banjar menyebut
ulamanya dengan ‘pa tuan’, ‘guru’, atau ‘haji’. Penggunaan sebutan
yang terakhir adalah karena umumnya para ulama itu sudah
melaksanakan ibadah haji. Titel ‘haji’ memang bukan khas milik ulama.
Namun karena kebanyakan ulama Banjar sejak abad ke-18 hingga
pertengahan abad ke-20 adalah orang- orang yang berhaji sekaligus
menuntut ilmu di Haramain (Makkah dan Madinah), maka panggilan
‘haji’ itu pada mulanya hampir identik dengan ulama. Adapun sebutan
‘guru’ dan ‘tuan guru’ masih umum digunakan oleh masyarakat Banjar
hingga sekarang, khususnya di kalangan Muslim tradisional. Penggunaan
sebutan ‘guru’ ini biasanya diiringi dengan nama pendek seperti ‘Guru
Zuhdi’ untuk Tuan Guru Haji Zuhdiannor, atau nama tempat di mana
sang ulama menetap dan mengajar, seperti ‘Guru Sekumpul’ yang
merujuk kepada Tuan Guru Haji Zaini bin Abdul Ghani yang menetap
dan mengajar di Sekumpul, Martapura.
Ada lagi sebutan-sebutan yang di zaman sekarang
hampir hampir tidak pernah kita dengar kecuali untuk menyebut
ulama ulama di masa lampau. Sebutan itu antara lain adalah ‘syekh’
dan ‘datu’. Sebutan ‘syekh’ sering digunakan untuk menyebut ulama
kenamaan di Kalimantan Selatan yaitu Syekh Muhammad Arsyad alBanjari (1710-1812 M) dan Syekh Muhammad Nafis al- Banjari (tahun
tepat masa hidupnya belum diketahui). Sebutan ini tampak pada sampul
depan kitab karangan mereka. Mungkin sebutan ‘syekh’ ini berasal dari
sebutan yang digunakan untuk para pengajar agama di Masjidil Haram,
Mekkah. Arsyad al Banjari memang mengajar di tempat itu sebelum ia
kembali ke tanah air. Adapun sebutan ‘datu’ kemungkinan berasal dari
bahasa Melayu ‘dato’, yang digunakan sebagai gelar kehormatan. Dalam
bahasa Banjar sendiri, datu berarti orangtua dari orangtua kakek-nenek
kita. Istilah ‘nini-datu’ dalam bahasa Banjar berarti nenek moyang (ancestors). Dengan demikian, datu adalah gelar kehormatan untuk nenek
moyang atau orang yang dituakan. Karena itu, istilah ‘datu’ hanya
digunakan untuk ulama di masa lampau, seperti Arsyad al-Banjari yang
disebut ‘Datu Kelampayan’, sebagai isyarat kepada makamnya yang
xii Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
terletak di Desa Kelampayan. Dalam konteks ini, salah seorang ulama
keturunan Arsyad al-Banjari, Tuan Guru Haji Syarwani Abdan (1915-
1989 M) atau yang lebih dikenal dengan sebutan ‘Guru Bangil’, pada
tahun 1970 mendirikan sebuah pesantren di Bangil, Jawa Timur, dengan
nama ‘Pesantren Datu Kelampayan’.
Kadang-kadang ulama Banjar disebut dengan kedudukannya
sebagai pemangku hukum agama di masyarakat. Sebutan itu adalah
‘mufti’ dan ‘qadhi’. Mufti dalam terminologi hukum Islam adalah orang yang memberi fatwa, yang kepadanya seorang hakim dapat (tetapi
tidak harus) berkonsultasi. Sedangkan ‘qadhi’ adalah hakim, yakni orang yang berwenang memutuskan perkara di pengadilan berdasarkan
hukum Islam. Sebutan ‘mufti’ yang cukup dikenal adalah untuk Mufti
Jamaludin yang hidup di abad ke-19, anak sekaligus murid Muhamad
Arsyad al-Banjari. Sedangkan sebutan ‘qadhi’ sering dinisbahkan kepada
Qadhi Abdussamad Bakumpai (1822-1899 M), yang merupakan salah
seorang keturunan dari Mufti Jamaluddin sendiri. Abdussamad diangkat
sebagai qadhi untuk daerah sekitar Marabahan, Kalimantan Selatan,
pada masa kekuasaan Belanda.
Adapun sebutan ‘mu’allim’ tampaknya mulai dipopulerkan di
daerah Hulu Sungai Utara, khususnya di Amuntai. Barangkali sebutan
ini pertama kali digunakan di lingkungan Pondok Pesantren Rasyidiyah
Khalidiyah (berdiri tahun 1928), dan kemudian menyebar di
masyarakat. Kata mu’allim juga berasal dari bahasa Arab yang artinya
pengajar. Dengan demikian, kata ‘mu’allim’ tidak jauh berbeda
maknanya dengan kata ‘guru’. Hingga sekarang, masyarakat Amuntai
masih menggunakan sebutan ‘mu’allim’ untuk seorang ulama, baik
yang mengajar di pesantren ataupun yang mengajar di pengajian majelis
taklim saja. Ini tidak berarti bahwa sebutan ‘guru’ tidak digunakan lagi
di Amuntai. Namun, sebutan ‘guru’ tampaknya tidak lagi secara khusus
merujuk kepada pemuka agama Islam. Ia juga digunakan untuk
menyebut pengajar di sekolah-sekolah umum.
Sedangkan sebutan ustâdz untuk laki-laki dan ustâdzah untuk
perempuan berasal dari bahasa Arab yang artinya juga pengajar. Dalam
bahasa Arab modern, kata ustâdz juga berarti Guru Besar (Professor)
di perguruan tinggi. Sebutan ‘Ustaz’ dan ‘Ustazah’ tampaknya baru
Pengantar Rektor xiii
mulai populer di Kalimantan Selatan sekitar awal tahun 1980-an. Mulamula sebutan itu dipakai sebagai panggilan untuk pengajar di pondokpondok pesantren yang didirikan di akhir 1970-an dan awal 1980-an.
Mungkin pula istilah ini pertama kali dibawa oleh para alumni Pondok
Modern Gontor, Ponorogo, yang kemudian mengajar atau bahkan
mendirikan pesantren di daerah ini. Selain itu, sebutan ‘Ustaz’ dan
‘Ustazah’ juga digunakan untuk menyebut para penceramah agama
profesional di perkotaan. Jika kita cermati, sebutan ‘Ustaz’ dan
‘Ustazah’ di masyarakat Banjar tampaknya lebih sering digunakan oleh
kalangan reformis, Muslim perkotaan dan lingkungan kampus,
ketimbang di lingkungan tradisional.
Pendidikan Ulama dan Ulama Sebagai Pendidik
Berbagai sebutan untuk ulama seperti ‘guru’, ‘mu’allim’ dan
‘Ustaz’ secara jelas dan langsung menunjukkan bahwa seorang ulama
adalah pendidik. Karena itu, membicarakan ulama tidak bisa terlepas
dari pendidikan, baik pendidikan yang pernah ia jalani, ataupun
pendidikan yang dia rintis untuk masyarakatnya. Perkembangan sosial,
budaya dan politik yang terjadi dari masa ke masa, tentu turut
mempengaruhi jenis pendidikan apa yang ditempuh oleh seorang ulama
di satu sisi, dan model pendidikan seperti apa yang mereka kembangkan
untuk masyarakat di sisi lain. Kedua sisi ini saling berhubungan dalam
membentuk dan menjaga otoritas keagamaan ulama di masyarakat.
Tidak ada informasi yang rinci mengenai siapa ulama yang
pertama kali mengajarkan agama Islam di wilayah Banjar. Islam
diperkirakan masuk ke daerah ini pada abad ke- 16. Riwayat yang kita
dapatkan dalam Hikajat Bandjar menyebutkan, Sultan Banjar pertama
yang memeluk agama Islam adalah Pangeran Samudera, yang kelak
disebut Sultan Suriansyah (w. 1550). Ketika itu, sang pangeran ingin
merebut kembali kekuasaan dari pamannya, Tumenggung. Karena
merasa tidak mungkin mengalahkan pasukan pamannya, ia kemudian
meminta bantuan Kerajaan Demak di Jawa. Demak menyatakan siap
membantu dengan syarat sang pangeran mau memeluk Islam. Pangeran
Samudera pun bersedia memeluk Islam (Ras 1968). Maka dikirimlah
pasukan dari Demak bersama seorang penghulu bernama Khatib
Dayyan, yang akan mengajarkan agama Islam. Singkat cerita, sang
xiv Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
pangeran akhirnya berhasil meraih kekuasaan. Gelar Sultan Suriansyah
untuk sang pangeran, konon diberikan oleh seorang ulama keturunan
Arab, yang namanya tak disebutkan (Bondan 1953 :14-15).
Tidak ada informasi yang rinci tentang proses Islamisasi sebelum
dan sesudah kedatangan Khatib Dayyan itu. Namun, mengingat Aceh
sudah mengalami Islamisasi pada abad ke-13, mungkin saja para penyiar
Islam juga sudah ada yang tiba di Kalimantan Selatan sebelum abad
ke-16 (Noor 2016). Islamisasi yang intensif kiranya baru dimulai di
abad ke-18 dengan tokoh sentralnya Muhammad Arsyad al-Banjari
(1710-1812 M). Ia merupakan sosok ulama Banjar paling awal, yang
sejarah hidupnya menjadi contoh bagi ulama-ulama di kemudian hari.
Pada usia 30 tahun, Arsyad dikirim oleh Sultan Tamjidillah (1734-
1759 M) ke tanah suci untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu agama
Islam. Menurut cerita, Arsyad belajar di Masjidil Haram Mekkah selama
kurang lebih 30 tahun. Kemudian ia pindah ke Madinah, dan belajar di
kota Nabi ini selama 5 tahun. Selama periode itu, ia tidak hanya belajar,
tapi juga mengajarkan ilmu yang telah diperolehnya kepada orang lain.2
Arsyad al-Banjari pulang ke tanah air pada 1772 M. Setelah
tiba di kesultanan Banjar, ia diberi Sultan Tahmidullah II sebuah lahan
yang cukup luas. Di situ kemudian dibagun perumahan sekaligus langgar
sebagai tempat beribadah dan belajar. Lahan ini kemudian dikenal
dengan nama ‘Dalam Pagar’, konon karena dulu tempat ini dikelilingi
dengan pagar. Kita tidak tahu persis bagaimana model pembelajaran
yang dilaksanakan al-Banjari ketika itu. Namun kiranya tidak akan
meleset kalau kita katakan bahwa pengajian yang dia berikan mengikuti
sistem halaqah sebagaimana yang pernah ia alami sendiri di Haramain.
Sistem halaqah ini, di mana murid-murid duduk berkeliling di hadapan
guru, dalam budaya Banjar dikenal dengan sebutan mangaji baduduk
(belajar dengan duduk di lantai).
Selain mengajar, Arsyad al-Banjari juga menulis buku- buku
agama, yang kemungkinan dijadikannya sebagai bahan pembelajaran.
Hampir semua karya Muhammad Arsyad al Banjari yang sampai kepada
2
Untuk kajian mengenai biografi Muhammad Arsyad al-Banjari, lihat Halidi (1968);
Zamzam (2018); Abdullah (1990) dan Daudi (2003). Untuk kajian tentang jaringan
ulama Nusantara pada masa itu, lihat Azra (2004).
Pengantar Rektor xv
kita ditulisnya dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab (disebut juga
bahasa Jawi atau Arab Melayu), dan hanya sedikit yang ditulis dalam
bahasa Arab. Dengan menggunakan bahasa Melayu, tampak jelas bahwa
ia ingin membantumasyarakat agar dapat dengan lebih mudah memahami
ajaran-ajaran Islam. Patut dicatat bahwa pada saat itu, bahasa Melayu
sudah menjadi lingua franca, yakni bahasa bersama yang digunakan oleh
berbagai suku di Nusantara untuk berkomunikasi satu sama lain. Ini
pula sebabnya mengapa karya karya Arsyad al-Banjari tidak hanya
dikenal di masyarakat Banjar, melainkan juga di Nusantara.
Ketika itu, orang-orang yang menjadi murid Arsyad al-Banjari terdiri
dari keluarganya, anak-anak dan cucu-cucunya, di samping orang-orang
yang bukan dari keluarganya sendiri. Arsyad al- Banjari dianugerahi usia
panjang (102 tahun) dan memiliki isteri yang banyak, dan karena itu
keturunannya cukup banyak pula. Sebagian dari keturunannya ini
kemudian ada yang menjadi ulama dan melanjutkan dakwah Islam ke
berbagai daerah di Kalimantan, bahkan hingga ke Sumatra dan Malaysia.
Demikian pula, murid- murid Arsyad al-Banjari yang bukan dari keluarganya
sendiri, juga kemudian mengajarkan agama di masyarakat.
Jika kita perhatikan ulama-ulama yang berperan di masyarakat
Banjar di akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20, kebanyakan
mereka mengikuti pola pendidikan dan kiprah Arsyad al-Banjari.
Mereka pergi ke Haramain untuk berhaji sekaligus menuntut ilmu
agama, kemudian pulang ke kampung halaman untuk berdakwah, dan
sebagian lagi ada yang membangun lembaga pendidikan dan menulis
kitab-kitab agama. Para ulama yang pergi ke Haramain di akhir abad
ke-19 umumnya terlebih dahulu belajar di Dalam Pagar dengan
Muhammad Arsyad al- Banjari, baru kemudian berangkat ke sana.
Sedangkan mereka yang ke Haramain di abad ke-20, kebanyakan sudah
belajar ilmu agama di berbagai lembaga pendidikan yang sudah tersebar
di Kalimantan Selatan seperti di Nagara, Amuntai, Barabai dan
Martapura (Rahmadi dkk 2009).
Salah satu pusat pendidikan Islam di luar Dalam Pagar, yang
berkembang pesat mulai akhir abad ke-19 adalah di Nagara, Kabupaten
Hulu Sungai Selatan. Jaringan ulama Nagara dapat ditelusuri sampai
ke Arsyad al-Banjari. Salah seorang murid Arsyad al-Banjari adalah
xvi Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
Sa’duddin (Datu Taniran). Selain belajar di Dalam Pagar dengan alBanjari, Sa’duddin juga belajar ke Haramain. Setelah pulang, ia
kemudian mengajar agama di Taniran. Di antara murid-muridnya di
Taniran adalah Muhammad Thahir asal Nagara, yang juga melanjutkan
studi ke Haramain. Dua orang teman Muhammad Thahir yang juga
berasal dari Nagara adalah Abdurrahman dan Azhari. Tiga orang inilah
yang menjadi tokoh ulama Nagara di akhir abad ke-19 hingga paruh
pertama abad ke-20. Pada masa itu, di Nagara berkembang apa yang
disebut langgar barangkap (musalla bertingkat dua), sejenis pesantren
mini yang menjadi tempat penginapan santri sekaligus tempat ibadah
dan belajar. Ulama asal Amuntai dan perintis Pesantren Rasyidiyah
Khalidiyah, Abdurrasyid, pernah belajar di Nagara. Begitu pula, ulama
terkenal dari Barabai, Muhammad Ramli, orangtua dari Mahfuz Amin,
pendiri Pesantren Ibn al-Amin Pemangkih (berdiri 1958), juga pernah
belajar di Nagara (Rahmadi dkk 2009: 168-178; Mandan 2008: 66-70).
Selain itu, ada lagi perubahan penting yang terjadi di abad ke 20,
yaitu orang-orang Nusantara, termasuk orang-orang Banjar, tidak hanya
pergi ke Haramain untuk menuntut ilmu, melainkan juga ke Mesir,
tepatnya ke Universitas al-Azhar. Hal ini antara lain disebabkan karena
Haramain telah dikuasai oleh Dinasti Ibnu Saud yang beraliran Wahabi,
yang bagi kebanyakan mereka tidak cocok dengan paham keagamaan
yang selama ini berkembang di tanah air. Namun di Universitas al-Azhar
sendiri, mereka menemukan model pendidikan yang sudah diperbarui
oleh Muhammad Abduh (1845-1905 M) dan murid beliau, Rasyid Ridha
(1865-1935 M). Dengan ungkapan lain, di Mesir mereka berjumpa dengan
modernisme Islam (Abaza 1994; 2003 dan 2007; Laffan 2004).
Di antara para ulama yang belajar ke al-Azhar pada paruh pertama
abad ke-20 adalah Abdurrasyid (1885-1934 M) dari Pekapuran, Amuntai.
Ia berangkat ke al-Azhar pada tahun 1912 dan kembali ke tanah air
pada 1922. Setibanya di Amuntai, ia memulai dakwah dengan membuka
pengajian di rumah mertuanya. Lalu pada tahun 1924, ia membangun
langgar barangkap model Nagara yang telah disebutkan di atas. Kemudian
ia merintis pendidikan Islam modern berdasarkan sistem klasikal dengan
nama Arabische School pada tahun 1928. Lembaga inilah yang kemudian
menjadi Normaal Islam (pendidikan guru agama Islam) atau Pesantren
Pengantar Rektor xvii
Rasyidiyah Khalidiyah, Amuntai. Setelah Abdurrasyid wafat pada 1934,
ia digantikan oleh Juhri Sulaiman (1907-1972 M), seorang ulama yang
juga alumni al-Azhar (Rahmadi dkk 2009: 205-207).
Sementara itu, di Martapura terjadi suatu perkembangan yang
cukup penting pula di bidang pendidikan Islam. Pada tahun 1914,
seorang ulama bernama H. Jamaluddin, berinisiatif mendirikan
madrasah bernama al-‘Imâd fi Ta’lîm al-Awlâd dengan sistem klasikal.
Tidak banyak informasi yang saya ketahui tentang sosok H. Jamaluddin
ini. Yang jelas ia adalah aktivis gerakan Sarekat Islam (SI), organisasi
Islam pertama dan terbesar di masa kolonial Belanda. Pada masa
berikutnya, madrasah ini dikelola oleh Nahdlatul Ulama (NU) Cabang
Martapura. Madrasah ini kelak dikenal dengan nama ‘Pesantren
Darussalam’, Martapura, yang hingga kini menjadi salah satu pusat
pendidikan calon-calon ulama yang berpengaruh, khususnya di
Kalimantan Selatan (Syaharuddin 2008: 178;183).
Pada paruh kedua abad ke-20, jalur pendidikan ulama masih
tetap mengikuti jalur lama, yakni ke Haramain atau ke Mesir. Namun
ada beberapa perkembangan baru yang sebelumnya belum ada.
Pertama, tidak semua orang Banjar yang belajar di Haramain sekadar
mengikuti halaqah di Masjid Nabawi atau Masjidil Haram. Beberapa
orang siswa pesantren yang berprestasi, berhasil mendapatkan beasiswa
dari pemerintah Arab Saudi untuk kuliah di Universitas Umm al-Qura’,
Mekkah atau di Universitas Islam Madinah. Tentu saja ideologi yang
dikembangkan di dua universitas itu adalah Salafi-Wahabi. Meskipun
setelah pulang kampung, mereka tidak otomotis menjadi penyiar paham
Salafi-Wahabi. Kedua, sebagian ulama Banjar tidak lagi pergi ke luar
negeri, melainkan cukup belajar di pesantren yang ada di Kalimantan
Selatan atau di Jawa saja. Kebanyakan mereka belajar di Pesantren
Darussalam, Martapura, atau Ibn al-Amin, Barabai, lalu kemudian
melanjutkan ke Pesantren Datu Kelampayan, Bangil. Ada pula di antara
mereka yang studi di Pondok Modern Gontor (Ponorogo), atau di alSyafi’yah (Jakarta), dan lain-lain. Jumlah mereka ini cukup banyak, dan
sebagian setelah tamat menjadi ulama di masyarakat. Ketiga, sebagian
orang Banjar yang pergi ke luar negeri untuk belajar agama, mereka tidak
lagi hanya pergi ke Haramain atau ke Mesir, tapi juga ada yang belajar ke
xviii Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
Pakistan, Malaysia, dan Hadramaut. Ini menunjukkan semakin banyaknya
jalur pendidikan yang bisa dilalui oleh seorang calon ulama.
Peran ulama di dunia pendidikan terus meningkat berkat
dukungan pemerintah dan masyarakat sipil. Sejak 1970-an hingga
sekarang, jumlah pesantren di Kalimantan Selatan terus bertambah.
Menurut data yang dihimpun oleh Kementerian Agama Provinsi
Kalimantan Selatan, hingga 2017, jumlah pesantren di Kalimantan
Selatan mencapai 208 buah, terdiri dari 36 pesantren tradisional yang
hanya memberikan pelajaran kitab-kitab klasik, dan 172 pesantren yang,
selain memberikan pelajaran kitab-kitab klasik, juga memberikan
pendidikan lainnya, biasanya mengikuti kurikulum madrasah. Di Indonesia, madrasah mulanya adalah pesantren yang mengalami modernisasi
dalam arti mengikuti kurikulum modern yang ditetapkan pemerintah.
Dalam sistem pendidikan di Indonesia, pendidikan madrasah diakui
setara dengan pendidikan umum/sekolah. Lebih tepatnya, kurikulum
madrasah adalah kurikulum sekolah yang ditambah dengan beberapa
pelajaran agama Islam. Ada tiga jenjang madrasah, yaitu ibtidaiyah (tingkat
dasar), tsanawiyah (tingkat menengah) dan aliyah (tingkat atas). Di
Kalimantan Selatan, hingga 2017, jumlah Madrasah Aliyah Negeri (didanai
pemerintah) 41 dan yang swasta 113; Madrasah Tsanawiyah Negeri 80 dan
yang swasta 252; Madrasah Ibtidaiyah Negeri 143, dan yang swasta 380
(Subbag Informasi dan Humas Kemenag Provinsi Kalsel 2018: 35-40; 86).
Selain modernisasi pesantren menjadi madrasah, pada paruh
kedua abad ke-20, ada usaha-usaha ulama Banjar untuk mendirikan
sebuah perguruan tinggi negeri bagi kajian Islam. Inisiatif ini datang
dari para ulama alumni Mesir dan Haramain. Sebuah Fakultas Agama
Islam yang berafiliasi dengan Universitas Lambung Mangkurat didirikan
pada 1958. Pada tahun-tahun berikutnya, fakultas ini berubah menjadi
Fakultas Islamologi, lalu menjadi Fakultas Syariah cabang Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga. Akhirnya, setelah melewati
berbagai proses, pada 20 November 1964, berdirilah Institut Agama
Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin. Pada 2017 lalu, IAIN
Antasari telah beralih status menjadi universitas, yakni Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari. Patut dicatat, Antasari adalah nama seorang
pangeran yang memimpin perjuangan melawan kolonialisme Belanda
Pengantar Rektor xix
di abad ke-19. Perjuangannya didukung oleh para ulama dan gerakan
tarekat di wilayah ini (Sjamsudin 2001).
UIN Antasari sebagai lembaga pendidikan tinggi agama Islam
pada mulanya tentu diniatkan sebagai lembaga pengkaderan ulama. Sejak
didirikan hingga sekarang, tak dapat disangkal bahwa cukup banyak
alumni UIN Antasari yang berperan sebagai ulama di masyarakat. Namun
di sisi lain, UIN sebagai bagian dari Kementerian Agama, adalah juga
lembaga pendidikan bagi calon calon pegawai Kementerian ini. Maka
alumni UIN cukup banyak yang menjadi birokrat saja, bukan ulama.
Meskipun adapula yang dapat menggabungkan perannya sebagai birokrat
sekaligus ulama (ulama-birokrat). Selain itu, UIN sebagai lembaga
akademis, telah memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para
ahli ilmu agama Islam untuk mencapai pendidikan hingga tingkat S-3
(doktor), yang dimulai pada awal 1980-an. Ini kemudian melahirkan
ulama-ulama yang bergelar Doktor dengan wawasan yang semakin luas.
Di sisi lain, beberapa dosen UIN justru lebih memilih karir sebagai
akademisi profesional ketimbang aktif berdakwah di masyarakat sebagai
ulama. Apalagi, setelah menjadi UIN, program-program studi yang
dikembangkan tidak lagi semata-mata di bidang kajian Islam, melainkan
juga bidang kajian ilmu-ilmu alam, sosial dan humaniora.
Berdakwah Melalui Pengajian, Khotbah dan Ceramah
Selain membuka sekolah, madrasah dan pesantren, kegiatan
para ulama sebagai pendidik dan pembimbing masyarakat adalah
memberikan ceramah atau pelajaran agama secara rutin di berbagai
pengajian atau majelis taklim. Sangat mungkin bahwa kegiatan
memberikan pengajian dan ceramah ini sudah dilakukan ulama sejak
periode awal Islam masuk ke daerah Banjar di abad ke-16. Namun tak
ada keraguan pada kita bahwa sejak abad ke 18, yang dirintis oleh
Arsyad al-Banjari, dan abad-abad berikutnya yang diteruskan oleh murid-muridnya, pengajian pengajian sudah dilaksanakan oleh para ulama
di berbagai tempat di Kalimantan Selatan. Melalui pengajian-pengajian
itulah akhirnya Islam menyebar dan meresap dalam kebudayaan Banjar.
Kini pengajian-pengajian sangat marak di masyarakat. Namun
tidak diketahui berapa persis jumlah pengajian yang ada di Kalimantan
Selatan saat ini. Yang jelas, untuk Kota Banjarmasin saja, diperkirakan
xx Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
terdapat lebih dari 100 pengajian. Sangat mungkin kalau ditotal secara
keseluruhan, jumlah pengajian di Kalimantan Selatan mencapai 1000
buah. Pengajian-pengajian itu dilaksanakan di berbagai tempat.
Kebanyakan pengajian dilaksanakan di masjid atau langgar. Hingga
2017, terdapat 2699 buah masjid di Kalimantan Selatan (Subbag
Informasi dan Humas Kemenag Provinsi Kalsel 2018: 20). Selain di
masjid dan langgar, ada pula pengajian di rumah secara bergiliran, seperti
yang dilakukan oleh perkumpulan Yasinan. Bisa pula pengajian
dilaksanakan di rumah sang ulama sendiri, atau di rumah orang kaya
yang memiliki ruang yang cukup luas. Ada pula pengajian di ‘majelis
taklim’, yakni suatu tempat khusus yang dipakai untuk pengajian. Ada
pula pengajian di kantor-kantor, khususnya untuk kalangan eksekutif.
Materi yang diajarkan juga beragam. Pada umumnya materi
pengajian mencakup lima jenis ilmu keislaman yaitu: Tafsir, Hadis,
Tauhid, Fiqh dan Tasawuf. Biasanya, ada kitab tertentu yang dipakai
dalam pengajian tersebut. Misalnya, tafsir yang diajarkan adalah Marâh
Labîd, Hadisnya Shahîh Bukhârî, tauhidnya Kifâyat al-‘Awâm, Fiqhnya, I’ânat
al-Thâlibîn, dan tasawufnya Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn. Kadang-kadang, ada pula
ulama yang mengajarkan kitab karangannya sendiri, yang umumnya
ditulis dalam bahasa Melayu aksara Arab. Selain itu, materi yang cukup
populer di masyarakat adalah manakib ulama-ulama terkenal. Yang
sering dibaca misalnya adalah Manakib Syekh Samman dan Syekh
Abdul Qadir Jailani. Belakangan ini, manakib semakin banyak
ragamnya, termasuk manakib ulama-ulama Banjar sendiri. Manakib
yang cukup populer di kalangan ibu-ibu belakangan ini adalah Manakib
Siti Khadijah, isteri Rasulullah SAW (Mujiburrahman 2013 dan 2014).
Adapun pengajian rutin di kantor-kantor, biasanya jarang sekali
menggunakan bahan ajar atau kitab. Pengajian di kantor- kantor
mungkin lebih tepat disebut ‘ceramah agama’ ketimbang pengajian
karena topiknya lebih fleksibel. Kadangkala panitia yang menentukan
topik yang diinginkan, dan kadangkala diserahkan sepenuhnya kepada
sang ulama sendiri. Biasanya topik yang diangkat bersifat aktual dan
dianggap relevan dengan perkembangan zaman. Ulama yang diundang
ke pengajian jenis ini biasanya adalah orang-orang yang berpendidikan
sarjana, bukan ulama alumni pendidikan tradisional.
Pengantar Rektor xxi
Seorang ulama, biasanya tidak hanya mengisi satu pengajian
saja secara rutin, melainkan beberapa pengajian. Hanya ulama yang
membuka pengajian di rumahnya sendiri dan tidak mau mengajar di
luar yang mengisi satu pengajian saja. Kadang kadang, seorang ulama
mengisi berbagai pengajian khusus untuk bidang ilmu keislaman
tertentu. Misalnya, karena dia dianggap ahli ilmu fiqh, maka dia
mengajarkan fiqh saja, tetapi dia mengajarkannya di berbagai tempat
pengajian. Tetapi ada pula ulama yang mengajarkan ilmu keislaman
yang berbeda di satu pengajian, atau di berbagai pengajian.
Mayoritas peserta pengajian adalah ibu-ibu, meskipun
kebanyakan ulama yang mengisi pengajian itu sendiri adalah laki laki.3
Seorang penceramah agama memperkirakan, untuk di Kota Banjarmasin
saja, sekitar 75% peserta pengajian adalah kaum perempuan. Hal ini
antara lain karena kegiatan pengajian, apalagi yang dilaksanakan pagi
atau sore hari, hanya bisa dihadiri oleh ibu- ibu rumah tangga.
Sedangkan suami-suami mereka sibuk bekerja mencari nafkah. Karena
itu, pengajian untuk kaum lelaki biasanya hanya dilaksanakan malam
hari usai Salat Maghrib hingga Isya’, atau setelah Salat Isya’. Selain itu,
ibu-ibu tampaknya memang lebih aktif mengelola Yasinan dan grup
3
Selain memberikan pengajian rutin, seorang ulama juga sibuk mengisi khotbah. Seorang
ulama pria biasanya mengisi khotbah.3 Ulama perempuan dalam arti ahli agama Islam
dan aktif mendakwahkan Islam di masyarakat memang tidak banyak dibanding lakilaki. Namun patut dicatat, tradisi lisan masyarakat Banjar menyebutkan bahwa penulis
sebenarnya dari kitab Parukunan Jamaluddin, kitab berbahasa Melayu dengan aksara
Arab yang cukup dikenal luas ini, adalah perempuan bernama Fatimah, cucu dari
Muhammad Arsyad al-Banjari, dan anak dari putrinya bernama Syarifah yang menikah
dengan Abdulwahab Bugis. Namun, mungkin karena dalam budaya zaman itu,
perempuan tidak perlu ditampilkan sebagai penulis kitab, maka Parukunan tersebut
dinisbahkan kepada pamannya, Jamaluddin, yang merupakan anak dari Muhammad
Arsyad al-Banjari. Di sisi lain, perempuan banyak sekali yang berperan sebagai guru
agama di sekolah, madrasah hingga pesantren di Indonesia, termasuk di Kalimantan
Selatan. Di perguruan tinggi keagamaan Islam, jumlah dosen perempuan juga cukup
banyak. Begitu pula, jumlah mahasiswi (perempuan) lebih besar dibanding mahasiswa
(laki-laki) di perguruan tinggi keagamaan Islam. Pada 25-27 April 2017 lalu, untuk
pertama kalinya telah dilaksanakan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI)
yang mendapatkan perhatian cukup luas, baik di Indonesia maupun dunia. Mungkin,
ini merupakan kongres ulama perempuan pertama di dunia!
xxii Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
pelantun syair-syair maulid, ketimbang kaum pria. Mungkin hampir di
setiap Rukun Warga (RW) di Kota Banjarmasin, terdapat Yasinan kaum
perempuan, sementara Yasinan kaum pria tidak sebanyak itu.
Jumat hampir tiap minggu. Kalau dia tergolong ulama
terkemuka, jadwal khotbahnya bisa penuh dalam setahun. Apalagi
sekarang jumlah penduduk terus meningkat, sehingga jumlah mesjid
juga semakin banyak. Hal ini menuntut semakin banyaknya khatib yang
diperlukan untuk berkhotbah. Akibatnya, kadang-kadang kita temukan
khatib yang kurang layak. Meskipun serbannya besar melilit di kepala,
tetapi ketika membaca hadis dan ayat al-Qur’an, bacaannya lepas.
Khusus dalam hal khotbah ini pula, dulu hingga sekitar paruh pertama
abad ke-20, di masyarakat Banjar khotbah Jumat kebanyakan masih
disampaikan dalam bahasa Arab. Baru kemudian para ulama
menggabungkan keduanya: khotbah pertama bahasa Indonesia, khotbah
kedua bahasa Arab. Sedangkan untuk kalangan Muslim reformis seperti
Muhammadiyah, penggunaan bahasa Melayu/Indonesia dalam khotbah
tampaknya jauh lebih dahulu daripada kalangan tradisional.
Ulama juga sering diminta menyampaikan ceramah, khususnya
untuk Peringatan Hari-hari Besar Islam. Di bulan Rabiul Awwal, ia diminta
berceramah seputar Maulid Nabi Muhammad SAW, di bulan Rajab tentang
Isra’ Mi’raj, dan di bulan Ramadan tentang hikmah puasa. Selain itu, kadang
ulama juga diminta memberikan ceramah pada saat upacara Tasmiyah,
yakni pemberian nama bagi seorang bayi, atau pada acara pernikahan.
Berbeda dengan pengajian rutin, ceramah tidak terlalu menuntut keahlian
khusus di bidang ilmu keislaman. Karena itu pula, bagi orang yang memiliki
pengetahuan agama yang memadai (meskipun tidak benar-benar ahli), ia
dapat menjadi penceramah. Apalagi kalau ditunjang oleh kepandaian
berbicara dan melontarkan humor. Belakangan, istilah ‘ceramah’ diganti
dengan ‘taushiyah’, terutama di masyarakat perkotaan. Mungkin hal ini
semula berasal dari kalangan yang menganggap Islamisasi sama dengan
Arabisasi sehigga banyak istilah lokal yang diarabkan. Sedangkan di
masyarakat luas, istilah ‘ceramah’ masih lebih umum digunakan.
Memimpin dan Membimbing Ibadah
Selain berceramah dan berkhotbah, ulama biasanya berperan
penting dalam memimpin pelaksanaan ibadah. Menjadi imam salat
Pengantar Rektor xxiii
berjemaah lima waktu, terutama di langgar dan masjid, merupakan
kegiatan yang sering dilakukan ulama sehari-hari. Salat Jumat, salat
jenazah dan salat Hari Raya, baik Idul Fitri atau Idul Adha, juga biasanya
dipimpin oleh ulama. Di bulan Ramadan, ulama sering pula diminta
sebagai imam salat tarawih. Di kalangan tradisional, ulama juga
memimpin pembacaan tahlil dan talqin untuk orang yang telah
meninggal dunia. Namun patut pula kiranya dicatat bahwa memimpin
ibadah tidak selalu harus dilakukan oleh ulama. Orang yang mampu
membaca Alqur’an dengan fasih dan mengerti tata cara ibadah juga
dapat memimpin ibadah. Di masyarakat Banjar, ada istilah papakihan,
yakni orang yang memiliki pengetahuan agama ala kadarnya alias tidak
mendalam. Seorang papakihan biasanya dapat berperan sebagai
pemimpin ibadah.
Selain itu, membaca doa merupakan peran ulama yang cukup
menonjol hingga sekarang. Dari acara slametan (Banjar: manyalamat)
yang dilaksanakan di rumah hingga acara-acara resmi kenegaraan, ulama
seringkali diminta untuk membacakan doa. Pembacaan doa biasanya
dilakukan dalam bahasa Arab, bahasa yang sakral dalam Islam. Hanya
kadangkala dalam acara acara resmi kenegaraan, doa itu disampaikan
dalam bahasa Indonesia, meski tetap dengan kata- kata pembuka dan
penutup dalam bahasa Arab. Kadangkala ada pula orang yang secara
pribadi minta didoakan kepada seorang ulama agar hajatnya terkabul.
Ulama dianggap masyarakat sebagai orang yang dekat dengan Tuhan,
sehingga jika ia berdoa, doanya diharap akan dikabulkan Tuhan. Di
kalangan tradisional, ulama juga bisa memberikan air penawar yang
sudah didoakan olehnya. Air itu bisa menjadi ‘penerang hati’ agar
seorang anak menjadi pintar dan taat beragama, atau sebagai obat
penyembuh dari suatu penyakit. Air penawar itu ada yang harus
diminum atau cukup dipercikkan ke wajah, atau bisa pula dijadikan
air mandi.
Lebih dari itu, ulama juga membimbing ibadah dan mengajarkan
berbagai doa dan wirid. Dalam pengajian rutin, ulama biasanya
mengajarkan fiqh ibadah seperti wudhu, salat dan haji. Khusus untuk
ibadah haji dan umrah, belakangan ini peran ulama semakin mononjol.
Konon sekarang ini hampir semua tokoh ulama Banjar memiliki
xxiv Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
‘Kelompok Bimbingan Ibadah Haji’ (KBIH). Orang Banjar memang
terkenal sangat gemar naik haji, paling tidak sejak abad ke-18.
Panjangnya antrean calon jemaah haji yang dikelola pemerintah adalah
bukti nyata betapa tingginya minat masyarakat Banjar untuk naik haji.
Selain gemar naik haji, orang Banjar tradisional juga suka dengan amalan
yakni wirid- wirid dan doa-doa. Karena itu, di antara ulama yang
pengajiannya digandrungi masyarakat adalah ulama yang suka
mengajarkan berbagai amalan. Biasanya amalan itu diberikan dengan
suatu penjelasan tentang fadhilat-nya, yakni manfaat manfaat duniawi
dan ukhrawi yang akan diperoleh seseorang jika ia membaca doa atau
wirid tertentu secara rutin.
Ulama, Politik dan Organisasi
Hubungan antara ulama dan kekuasaan di masa Kesultanan
Banjar tampaknya sangat dekat. Seperti telah disinggung, Arsyad alBanjari sendiri pergi belajar ke Haramain atas biaya dari Sultan Banjar.
Begitu pula perannya sebagai ulama setelah kembali ke tanah air,
mendapatkan dukungan penuh dari Sultan. Meskipun demikian, al-Banjari
dalam kitabnya Tuhfat al-Râghibîn (1983) tetap menegaskan bahwa
beberapa upacara tradisional masyarakat Banjar yang kebanyakan
dilaksanakan oleh kalangan bangsawan, adalah bertentangan dengan
akidah Islam, dan karena itu harus ditinggalkan. Ini menunjukkan bahwa,
meskipun al-Banjari dilindungi oleh Sultan, ia tetap berani menyampaikan
kritik. Begitu pula Undang-Undang Sultan Adam (1835 M) tampaknya
banyak dipengaruhi oleh pemikiran keagamaan Arsyad al-Banjari.
Sedangkan tokoh yang secara langsung mempengaruhi Sultan Adam
adalah anak al-Banjari sendiri, yaitu Mufti Jamaluddin.
Namun hubungan ulama dengan penguasa tidak selalu
harmonis. Ulama Banjar pada saat tertentu juga menjadi penggerak
perlawanan terhadap kekuasaan. Pada paruh kedua abad ke-19,
tepatnya pada 1859, perang meletus antara kaum bangsawan
Kesultanan Banjar melawan Belanda. Pada 1860, Belanda
menghapuskan Kesultanan Banjar, dan ini mengakibatkan berlarutlarutnya Perang Banjar hingga 1905. Selama perang itu, para ulama
terlibat dalam mendukung para pejuang yang dipimpin oleh Pangeran
Antasari, dan kemudian anaknya, Muhammad Seman. Sumber-sumber
Pengantar Rektor xxv
Belanda menyebutkan adanya gerakan yang dipimpin haji-haji, yang
menggelorakan semangat jihad melawan Belanda. Gerakan para ulama
melalui tarekat yang disebut baratib- baamal merupakan gerakan
penting yang mendukung perjuangan Antasari (Sjamsuddin 2001;
Steenbrink 1984: 46-51).
Pada paruh pertama abad ke-20, Belanda semakin menancapkan
kakinya di wilayah bekas Kesultanan Banjar. Pada periode ini,
pemerintah kolonial tengah menerapkan ‘politik etis’ yang intinya
memberikan pendidikan modern kepada Bumiputra agar kelak mereka
bisa bergabung dalam kebudayaan Barat (Belanda). Sebenarnya, di abad
ke-19 (1875-1889 M) sudah ada sekolah Belanda di Banjarmasin.
Namun, di paruh pertama abad ke-20, kebijakan politik etis telah
mendorong munculnya organisasi-organisasi yang memperjuangkan
kemerdekaan melalui pendidikan. Pada 1914 Sarekat Islam (SI)
didirikan di Banjarmasin. Pada 1925, Muhammadiyah berdiri di Alabio.
Sementara itu, pada 1927, Nahdlatul Ulama (NU) cabang Martapura
berdiri. Selanjutnya, para ulama tradisionalis Banjar mendirikan organisasi
bernama ‘Musyawaratuthalibin’ pada 1931. Semua organisasi Islam ini,
pada waktu itu mendirikan sekolah-sekolah, yang tidak saja mengajarkan
ilmu-ilmu agama, melainkan juga ilmu pengetahuan umum. Mereka juga
berusaha menanamkan rasa kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan kepada
murid-murid di berbagai sekolah itu (Syaharuddin 2008; Wajidi 2007).
Meskipun semua organisasi Islam di atas memiliki musuh
bersama, yaitu Belanda, tak dapat disangkal bahwa perbedaan paham
keagamaan di antara mereka sempat menimbulkan ketegangan yang
serius di masa itu. Perbedaan paham keagamaan antara ‘Kaum Muda’
dan ‘Kaum Tua’ pernah memicu konflik. Di Amuntai, pada tahun 1926,
pemerintah kolonial Belanda bahkan sempat memfasilitasi debat antara
dua kubu ini. Dalam kasus lainnya, persaingan antara kedua kubu
dalam berebut pengikut dan masjid di Alabio tahun 1931 akhirnya
terpaksa melibatkan pihak keamanaan pemerintah kolonial Belanda
untuk melerai (Saifuddin 1986: 55-57). Dalam otobiografinya, Idham
Chalid juga mencatat adanya konflik antar ulama di Amuntai di tahun
1930- an perihal perbedaan pendapat mengenai niat dalam takbîratul
ihrâm, yang membuat masing masing pendukung ulama tersebut
bersitegang (Mandan 2008: 65).
xxvi Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
Pada masa revolusi, menyusul Proklamasi 17 Agustus 1945, para
ulama banyak yang terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Ada yang
terlibat langsung dalam memimpin pasukan seperti Brigjen Hassan Basry.
Ada pula yang terlibat dalam menjalin organisasi para pejuang seperti
Idham Chalid (Muhajir 2007). Ada pula yang aktif di organisasi gerakan
kemerdekaan sekaligus menjadi penulis/wartawan dan menerbitkan
media cetak seperti Zafry Zamzam (Mansur 2018). Patut dicatat bahwa
ketiga orang ini pernah belajar di Pondok Modern Gontor, Ponorogo,
dan Zafry Zamzam kelak menjadi rektor pertama IAIN Antasari. Ada
pula para ulama yang berperan sebagai pelaksana pengambilan sumpah
setia di bawah kitab suci al-Qur’an. Hal ini untuk menjaga agar tidak
ada pengkhianat di antara sesama pejuang. Pada masa itu, tidak sedikit
ulama yang gugur, atau yang dipenjarakan oleh Belanda.
Namun, setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia,
sebagian tokoh pejuang itu dikecewakan oleh pemerintah pusat. Hassan
Basry misalnya, alih-alih mendapatkan jabatan, dia malah
‘disekolahkan’ ke Kairo pada 1950-1953. Salah seorang kolega Hassan
Basry bernama Ibnu Hadjar bahkan akhirnya menggerakkan
pemberontakan melalui organisasi yang diberi nama Kesatuan Rakjat
Jang Tertindas (KRjT). Ibnu Hadjar kemudian bergabung dengan
gerakan Darul Islam (DI) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo di Jawa
Barat. Pemberontakan Ibnu Hadjar berlangsung cukup lama (1950-
1963) dan dia akhirnya tertangkap dan dieksekusi pemerintah pada
1965 (van Dijk 1981; Iqbal 2014).
Di sisi lain, setelah perang revolusi usai dan Indonesia
memasuki era baru dengan Pemilu pertama, tahun 1955, para ulama
banyak yang terjun ke bidang politik. Hasil pemilu 1955 itu memang
menunjukkan dengan jelas betapa besar pengaruh ulama di Kalimantan
Selatan. Ada dua partai Islam yang bersaing waktu itu, yakni Nahdlatul
Ulama (NU) dan Masyumi, yang keduanya merupakan partai besar. Di
Kalimantan Selatan, NU meraih 48,6% suara, sedangkan Masyumi
meraih 31,9% suara (Feith 1999: 114- 115). Di satu sisi, ini
menunjukkan bahwa peran tokoh-tokoh agama di bidang politik sangat
besar. Di sisi lain, perbedaan paham keagamaan dapat menjadi semakin
runcing karena didorong oleh kepentingan-kepentingan politik.
Pengantar Rektor xxvii
Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), tampaknya
peran politik lebih banyak dimainkan oleh tokoh-tokoh NU ketimbang
Masyumi. Hal ini karena NU menerima Demokrasi Terpimpin dan
ideologi politik Soekarno, NASAKOM, sedangkan Masyumi tidak. Pada
tahun 1960, Masyumi bahkan dibubarkan oleh Bung Karno. Namun
patut kiranya dicermati bahwa pada periode tersebut tokoh-tokoh
Muhammadiyah yang menjadi aktivis Masyumi, adalah orang-orang
yang berjasa membangun kekuatan politik Islam di kawasan yang kini
termasuk Kalimantan Tengah. Ketika terjadi huru-hara politik sebelum
pemerintah pusat memutuskan pemisahan Kalimantan Tengah dari
Kalimantan Selatan pada 1957, beberapa ulama dari Partai Masyumi
ada yang menjadi korban pembunuhan (Miles 1976).
Pada masa Orde Baru, kebijakan pemerintahan Soeharto adalah
depolitisasi Islam. Pada tahun 1972, semua partai-partai Islam diminta
berfusi ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP). NU yang hingga awal
1980-an masih bergabung dengan PPP, seringkali dianggap sebagai
lawan pemerintah. Sementara itu, sebagian ulama memutuskan untuk
bergabung dengan partai pemerintah, Golkar. Di Kalimantan Selatan,
hingga Pemilu 1982, PPP masih cukup kuat, antara lain karena
dukungan NU dan figur Idham Chalid. Namun beberapa ulama seperti
H. Badaruddin di Martapura, dan H. Mansur di Amuntai, memilih
bergabung dengan Golkar. Perbedaan aliansi politik para ulama ini
sempat menciptakan ketegangan di tengah-tengah umat. Misalnya, di
Amuntai para ulama pendukung PPP biasanya salat Jumat di masjid
Nurul Ibadah, Sungai Karias, meskipun tempat tinggal mereka
berdekatan dengan Masjid Raya, tempat bupati, para pejabat dan tokohtokoh Golkar salat Jumat. Konon, waktu itu ada anggapan bahwa salat
mengikuti imam yang masuk Golkar dianggap tidak sah.
Setelah Orde Baru jatuh tahun 1998 hingga sekarang, figur
para ulama tetap saja menjadi daya tarik politik. Sebagian ulama Banjar
ada yang sepenuhnya terjun ke dunia politik, bahkan ada yang berhasil
menjadi bupati. Sebagian lagi ada yang sekadar menjadi pendukung
calon tertentu. Namun kebanyakan mereka tampaknya hanya
memanfaatkan atau dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan politik yang
tengah bersaing (Muhajir 2009). Situasi Era Reformasi yang demokratis,
xxviii Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
yang memberikan kebebasan berserikat dan berpendapat kepada rakyat,
telah membuka peluang sekaligus tantangan berat kepada para ulama.
Apakah mereka dapat menggunakan situasi ini untuk mencapai tujuantujuan agama yang luhur, atau sebaliknya, mereka justru terseret
kepentingan- kepentingan politik sesaat yang sebenarnya sangat korup?
Ulama, Krisis dan Kharisma
Selain peran ulama sebagai pendidik, pemimpin ibadah dan
pejuang politik, perannya yang lebih penting tampaknya adalah sebagai
konsultan bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Seorang ulama di masyarakat Banjar biasanya melayani masyarakat
nyaris tiap hari, siang dan malam. Pintu rumahnya kadang diketuk
tengah malam atau dini hari oleh orang yang meminta pertolongannya.
Ada yang bertanya soal hukum agama. Ada yang datang minta bantuan
doa untuk anaknya yang sakit. Ada yang datang minta nama untuk
bayi yang baru lahir. Ada pula yang datang karena sakit hati menghadapi
anak yang nakal, atau suami yang kawin lagi. Pokoknya segala macam
persoalan hidup, diajukan kepada sang ulama.
Peran ulama sebagai pengayom dan pelipur hati masyarakat
itu dapat pula terjadi secara tidak langsung, yakni di
pengajian pengajian yang ia berikan. Kadang masyarakat menyukai
pengajian seorang ulama karena merasakan kedamaian dalam
mendengarkan petuah-petuahnya. Hati yang sedih dan gundah menjadi
tenang oleh siraman nasihat-nasihatnya. Boleh jadi pula masyarakat
menyenangi ceramah seorang ulama karena banyak lelucon darinya,
sehingga para pendengarnya terhibur dan tertawa. Adapula seorang
ulama yang disukai jemaahnya karena suaranya yang merdu menyentuh
kalbu. Mungkin pula ia disenangi masyarakat karena kemampuannya
menjelaskan konsep-konsep agama yang rumit menjadi mudah dan
aktual bagi kehidupan sehari-hari.
Seorang ulama yang begitu dekat di hati masyarakat biasanya
adalah seorang yang lambat laun akan menjadi tokoh kharismatik.
Menurut pakar sosiologi agama, Max Weber (1964), tokoh kharismatik
adalah orang yang tampil pada saat yang tepat ketika masyarakat
membutuhkan seorang figur yang dapat menyalurkan kepedihan-
Pengantar Rektor xxix
kepedihan mereka, dan dapat menawarkan jalan keluar di saat krisis.
Secara umum, Indonesia bahkan dunia, terus-menerus menghadapi
krisis multidimensi yang seolah tak berkesudahan. Dalam situasi seperti
ini, terbuka lebar peluang bagi munculnya seorang tokoh kharismatik.
Dalam masyarakat Banjar yang beridentitas Islam, wajar jika tokoh
kharismatik tersebut muncul dari kalangan ulama.
Salah seorang ulama Banjar kharismatik yang dikenal luas adalah
Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (1942-2005), yang lebih dikenal
dengan sebutan ‘Guru Ijai’ atau ‘Guru Sekumpul’. Ia memang tampil
pada saat yang tepat, dengan kualitas-kualitas diri yang dapat
membuatnya melebihi ulama-ulama lain. Secara fisik, ia berperawakan
tinggi dan berwajah tampan. Ia juga memiliki suara yang merdu.
Kemampuannya melantunkan ayat ayat suci al-Qur’ân dengan suara
yang indah tentu saja dapat memukau para pendengarnya. Ia juga adalah
ulama yang berhasil membuat Maulid al-Habsyi (Simth al-Durar)
semakin populer di masyarakat. Lantunan syair-syair Maulid al-Habsyi
yang ia bacakan, apalagi yang kemudian diiringi dengan tabuhan suara
terbang, membuat para peserta pengajiannya hanyut dalam emosi
keagamaan. Namun tidak hanya itu. Ia juga menguasai kitab-kitab klasik
dengan baik, dan mampu menjelaskan konsep-konsep agama yang sulit
dengan bahasa orang awam. Lebih dari itu, ia adalah salah seorang dari
keturunan Muhammmad Arsyad al-Banjari. Ketika sebagian ulama
menjadi pendukung pemerintah (masuk Golkar) di masa Orde Baru,
Guru Ijai tetap berusaha independen. Hal yang sama dia lakukan selama
Era Reformasi sampai ia meninggal dunia. Pendek kata, ia dianggap
para pengagumnya sebagai tokoh alternatif di saat segalanya seolah
tidak bisa dipegang dan dipercaya.
Sebagai Guru yang mengajarkan kitab-kitab tasawuf, tentu saja
ia dipandang oleh murid-muridnya sebagai seorang sufi. Maka tak heran
kalau dia dianggap sebagai orang yang sangat dekat dengan Tuhan,
yang dalam istilah tasawuf disebut ‘wali’. Dalam tradisi tasawuf, salah
satu ciri dari kewalian seseorang adalah adanya karâmah (keramat),
yakni keajaiban-keajaiban yang melampaui hukum alam. Maka berbagai
cerita tentang keramat Guru Ijai beredar. Selain itu, tasawuf lebih
banyak mengandalkan perasaan dan pengalaman, ketimbang penalaran.
xxx Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
Perasaan memang kadang sulit diukur dan dikontrol. Mungkin inilah
sebabnya mengapa para pecinta sang Guru bahkan tak peduli lagi
dengan keselamatan dirinya, berdesak-desakan mau masuk ke Langgar
Arraudhah karena ingin dekat dan melihat wajahnya.
Kecintaan dan kerinduan masyarakat kepada Guru Sakumpul
tidak berhenti setelah dia wafat, bahkan justru tampak semakin
meningkat. Rekaman pengajiannya masih sering diputar, foto fotonya
ditempel di dinding rumah-rumah dan warung-warung, dan makamnya
setiap hari diziarahi masyarakat dari berbagai wilayah. Acara haulnya,
setiap tahun, dihadiri oleh ratusan ribu orang, dari kalangan ulama,
pejabat negara hingga rakyat biasa. Pada haul ke-13 tahun 2018
kemarin, Presiden Joko Widodo juga tertarik untuk hadir. Di
Kalimantan Selatan, upacara haul ini merupakan kegiatan rutin yang
spektakuler. Banyak pihak yang secara sukarela menyumbangkan
makanan dan minuman untuk Jemaah haul yang datang. Rumah-rumah
dan hotel di sekitar Martapura dan Banjarbaru dipenuhi pengunjung.
Selama haul berlangsung, jalan utama ditutup karena diisi oleh jemaah
haul. Pada haul ke-12 tahun 2017 misalnya, panitia yang dibantu 7.
300 relawan, menyediakan 87 posko, 60 toko untuk penginapan gratis,
370 ribu nasi bungkus dan 9000 dus air mineral untuk para tamu.
Demikianlah, kerinduan pada sosok pribadinya yang lembut dan belum
adanya pengganti yang setara, membuat kenangan tentangGuru
Sekumpul semakin indah dalam imajinasi para pecintanya
(Mujiburrahman 2017a; 2018).
Setelah Guru Sekumpul wafat, sebenarnya ada ulama-ulama yang
juga digemari ribuan Jemaah. Mereka ini dapat dianggap sebagai
penerusnya. Saya bersama Rahmadi dan Zainal Abidin (2012) telah
meneliti tiga ulama kharismatik Banjar kontemporer yaitu Guru
Zuhdiannoor, Guru Ahmad Bakhiet dan Guru Asmuni yang lebih dikenal
dengan sebutan Guru Danau. Pengajian tiga tokoh ini selalu dipadati
jemaah yang jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu. Dua dari tiga tokoh
ini, yakni Guru Zuhdiannor dan Guru Danau, memiliki hubungan atau
menghubungkan diri dengan Guru Sekumpul, yakni sebagai murid beliau.
Dalam pengajian pun, tak jarang mereka menyebut-nyebut Guru
Sekumpul. Khusus untuk Guru Zuhdiannor, tidak sedikit jemaah yang
Pengantar Rektor xxxi
menganggap dirinya seperti ‘jelmaan’ Guru Sekumpul, baik itu dalam
cara berpakaiannya ataupun suara dan gaya bicaranya. Adapun Guru
Bakhiet, dia memang tidak mengasosiasikan diri secara khusus dengan
Guru Sekumpul, tetapi dengan ayahandanya sendiri, yakni Guru Ahmad
Nagara, yang juga ulama terkemuka dan, sebagaimana Guru Sekumpul,
adalah keturunan Syekh Arsyad al-Banjari. Yang menarik, tiga tokoh ini
tidak berdomisili dan tidak melaksanakan pengajian di Martapura seperti
Guru Sekumpul. Guru Zuhdi di Banjarmasin, Guru Danau di Amuntai
dan Tanjung, sementara Guru Bakhiet di Barabai dan Balangan.
Barangkali, tidak lama lagi, penerus Guru Sekumpul di Martapura adalah
kedua putra beliau sendiri yang bernama Muhammad Amin Badali dan
Muhammad Hafi Badali. Kata ‘badali’ yang artinya penggantiku,
merupakan isyarat atau harapan bahwa dua anaknya itu akan menjadi
penggantinya. Hanya saja, dua anak ini sekarang masih remaja dan belum
tampil di depan publik sebagai pengajar agama. Selama ini, dalam acara
haul yang besar itu, keduanya baru tampil membacakan syair-syair maulid
al-Habsyi. Wajah mereka yang tampan dan mirip sang ayah membuat
mereka menjadi pusat perhatian jemaah yang hadir.
Penutup: Tantangan dan Harapan
Tak ada keraguan bahwa ulama dan lembaga keulamaan kini
makin menghadapi banyak tantangan, tak terkecuali bagi ulama Banjar.
Salah satunya adalah munculnya orang-orang yang dalam rekam jejak
pendidikan mereka sama sekali tidak pernah dididik di lembaga kajian
keislaman, namun mereka berhasil tampil sebagai ulama di masyarakat.
Kecenderungan ini mulai tampak di Indonesia sekitar pertengahan 1980-
an, ketika kelas menengah Muslim santri di perkotaan tumbuh. Mereka
adalah para sarjana di berbagai bidang ilmu non-agama, namun mereka
mempelajari agama secara otodidak atau belajar secara informal kepada
seorang ahli agama. Banjir buku-buku keislaman dalam bahasa Indonesia sejak 1980-an hingga sekarang, juga turut membantu lahirnya
orang-orang yang sering disebut ‘Cendekiawan Muslim’ ini. Kehadiran
mereka mungkin telah membuat dakwah Islam semakin marak. Tetapi
orang mungkin pula bertanya-tanya: Apakah ini adalah gejala
memudarnya kepercayaan masyarakat terhadap otoritas ulama
konvensional, ataukah kriteria untuk menetapkan seseorang sebagai
ulama sudah banyak berubah?
xxxii Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
Ketika zaman berubah, memasuki era digital dan media sosial,
otoritas keulamaan semakin mengalami persaingan di ruang publik
(Mujiburrahman 2017c). Kadangkala muncul orang orang muda dan baru,
yang pandai menggunakan bahasa gaul, menyajikan agama dengan simbolsimbol yang menarik anak muda, sehingga mereka menjadi idola. Sebagian
dari tokoh idola ini pada dasarnya bukanlah orang yang telah menjalani
pendidikan ilmu-ilmu keislaman yang mendalam, bahkan ada yang baru
masuk Islam. Namun, mereka justru dianggap publik, terutama oleh anakanak muda, sebagai ulama panutan. Lebih parah lagi, orang yang selama
ini diakui sebagai ulama, dan karya-karyanya dibaca luas, justru ditolak
bahkan dicaci-maki. Selain itu, karena kita hidup di era media, dan media
cenderung komersial dan populer, maka perlahan-lahan, ulama yang
ditampilkan media tidak lagi orang yang benar-benar ahli agama, melainkan
orang yang pandai menghibur. Ulama menjadi selebriti, dan gosip-gosip
tentang dirinya, disiarkan dalam acara gosip para artis!
Perkembangan kepengurusan organisasi Islam adalah fenomena
lain yang patut dicermati pula. Para pengurus organisasi-organisasi Islam, yang dulu biasanya dipegang oleh orang yang di masyarakat dianggap
ulama, sekarang tidak lagi selalu demikian. Hal ini bisa berarti bahwa
ada keterbukaan di kalangan ulama itu sendiri. Seorang ulama kadang
memang tidak memiliki keterampilan administratif dan manajerial yang
baik. Dengan merekrut orang lain yang memiliki keterampilan tersebut,
organisasi diharapkan akan berjalan lebih baik. Di sisi lain, fenomena ini
dapat pula berarti bahwa di Era Reformasi yang demokratis sejak jatuhnya
Soeharto pada 1998 silam, organisasi Islam sebagai organisasi massa,
sangat rentan dengan berbagai kepentingan politik, termasuk kepentingan
mereka yang berada di luar lingkaran ulama untuk ‘memanfaatkan’
organisasi-organisasi Islam tersebut.
Selain itu, dalam era globalisasi yang berbasis pada teknologi
digital sekarang ini, segala macam jenis informasi dapat dengan mudah
dan murah diakses oleh siapapun. Di bidang keagamaan, suka atau tidak
suka, generasi muda sekarang berhadapan dengan banyak pilihan, baik
itu aneka paham keagamaan dalam Islam sendiri, ataupun paham-paham
yang bertentangan dengan nilai- nilai Islam. Berkat globalisasi, gerakangerakan Islam selain Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhamadiyah, juga
merambah Indonesia seperti Jamaah Tabligh, Hizbut Tahrir, Salafi, Syiah
Pengantar Rektor xxxiii
dan lain-lain. Di Kalimantan Selatan, gerakan-gerakan ini cukup
berkembang. Di antara gerakan-gerakan Islam tersebut, yang cukup
menimbulkan ketegangan dengan paham dan organisasi Islam yang telah
mapan adalah gerakan Salafi yang cenderung skripturalis dan puritan.
Di Kalimantan Selatan, mereka mulai berkembang sejak awal abad ke21. Perkembangan kaum Salafi ini tidak terlepas dari peran para ulamanya.
Mereka umumnya mendapatkan pendidikan di Arab Saudi atau di
pesantren yang berhaluan paham Salafi yang didukung Saudi. Semula
para ulama ini berdakwah di masjid-masjid Muhammadiyah, tetapi
kemudian memisahkan diri karena sudah tidak sejalan. Kaum Salafi ini
kemudian membangun masjid-masjid sendiri. Mereka juga membangun
lembaga-lembaga pendidikan, dan melaksanakan dakwah tidak hanya
di masjid dan majelis taklim, melainkan juga melalui media cetak dan
elektronik modern seperti buku, majalah, brosur, radio, televisi, Youtube
dan jejaring media sosial. Jika dibandingkan dengan organisasi organisasi
Islam yang ada, kaum Salafi jauh lebih intensif menggunakan multimedia dalam gerakan dakwah mereka (Alisyahbana 2015).
Kehadiran ulama-ulama Salafi hanyalah salah satu contoh
bahwa tantangan berat yang dihadapi para ulama sekarang adalah
bagaimana menghadapi dan menyikapi perbedaan paham keagamaan,
baik internal kaum Muslim sendiri ataupun antar agama. Di Indonesia, ketegangan dan konflik intra- dan antar umat beragama sudah
pernah terjadi, bahkan sampai ke tingkat yang berdarah-darah. Di
Kalimantan Selatan memang tidak pernah terjadi konflik yang parah
dan panjang, tetapi percikan percikan api ketegangan kadangkala
terjadi pula (Mujiburrahman 2017b). Dengan semakin terbukanya pintu
hubungan antar manusia di era globalisasi ini, perjumpaan antar
perbedaan sulit dihindari, bahkan semakin intensif. Apalagi, Indonesia telah menjalankan demokratisasi politik yang berarti rakyat diberikan
kebebasan untuk berserikat dan berpendapat. Di alam demokrasi,
perbedaan bahkan benturan antar perbedaan adalah hal biasa dan wajar.
Namun, jika kita tidak pandai mengelola perbedaan itu secara damai
dan berkeadilan, maka akan berujung pada konflik dan kehancuran.
Sementara otoritas keagamaan ulama mulai bergeser dan
menghadapi kontestasi, masyarakat terus mengalami krisis yang
seringkali menimbulkan kegelisahan bahkan kepanikan. Kesenjangan
xxxiv Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
ekonomi antara yang kaya dan miskin masih sangat lebar, rata-rata
pendidikan rakyat masih rendah, angka kemiskinan dan pengangguran
masih tinggi, dan layanan kesehatan masih belum memuaskan. Mungkin
karena kegalauan itulah, penyalahgunaan narkoba dan obat terlarang
meningkat, dan anak- anak muda menenggak minuman keras di sudutsudut kota yang temaram. Semua ini tentu menuntut peran serta para
ulama dalam membimbing umat. Orang Banjar memang sejak dulu
kala dikenal senang berhaji dan berumrah, dan hingga sekarang,
rombongan demi rombongan umrah datang dan pergi silih berganti.
Seorang pimpinan maskapai penerbangan mengatakan kepada saya
bahwa penghasilan terbesar yang diraih oleh perusahaannya di
Kalimantan Selatan adalah dari rombongan umrah. Namun, apakah
ulama cukup berkutat dengan urusan ritual keagamaan belaka tanpa
peduli dengan krisis sosial yang tengah berlaku? Seharusnya tidak.
Sebagai tokoh yang suaranya didengar dan nasihatnya diikuti, para
ulama sangat diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk
meningkatkan taraf pendidikan, memberdayakan mereka yang miskin
melalui penyaluran zakat, infaq dan sedekah, serta mendukung program-program kesehatan yang bermanfaat.
Wallâhua’lam bi al-Shawâb
Daftar Isi xxxiii
DAFTAR ISI
PENGANTAR TIM REVISI EDISI 2024...................................... iii
PENGANTAR REKTOR UIN ANTASARI................................ vii
DAFTAR ISI................................................................................... xxxiii
A........................................................................................................ 1
1. Abd. Syukur Alhamidy (1954 - )............................................... 3
2. Abdul Aziz Syarbini (1932 - 1998)........................................... 3
3. Abdul Chalik Dachlan (1928 - )............................................... 4
4. Abdul Chaliq Jafrie (1931 - ....)................................................ 7
5. Abdul Gaffar Syukur (2021 - 2021)......................................... 8
6. Abdul Ghani bin Buna (1840 - 1958) ..................................... 9
7. Abdul Hamid atau Haji Tarus (1949 - 1974).......................... 10
8. Abdul Hamid Sungai Banar (1896 - 1951).............................. 11
9. Abdul Karim Al-Banjari (1923 - 2002).................................... 12
10. Abdul Muis (1919 - 1992)..................................................... 19
11. Abdul Muis Basyri (1953 - )............................................... 24
12. Abdul Muthalib bin H. Mardiah (1909 - 1992)...................... 25
13. Abd. Muthalib Muhyiddin (1918 - 1974).............................. 28
14. Abdul Qadir (1830 - ....)....................................................... 31
15. Abdul Qadir Hasan (1891 - 1978)....................................... 31
16. Abdul Qadir Noor (1911 - 1980).......................................... 32
17. Abdul Syukur (1928 - 2007)................................................. 36
18. Abdul Wahab (1901 - 1973)................................................. 41
19. Abdul Wahab Sya’rani (1910 - 1978)..................................... 42
20. Abdul Wahid HAZ (1949 - ).................................................. 43
xxxiv Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
21. Abdulkadir Munsyi (1949 - ).................................................. 46
22. Abdullah Karim (1955 - )....................................................... 49
23. Abdullah Madjerul (1929 - 2007).......................................... 51
24. Abdullah Shiddiq (1895 - 1976).............................................. 51
25. Abdurrahman atau Tunji Adu (circa 1834 - 1945)................ 53
26. Abdurrahman Ismail (1914 - 1972)......................................... 56
27. Abdurrahman Ismail Dalam Pagar (1916 - 1990).................. 61
28. Abdurrahman Nagara (... - 1924).......................................... 62
29. Abdurrahman Siddiq (1859 - 1939)....................................... 66
30. Abdurrahman Sidik As-Segaf (... - 1850)............................... 70
31. Abdurrahman Sungai Banar (1910 - 1965)........................... 72
32. Abdurrasyid (1884 - 1934)..................................................... 73
33. Abdurrasyid Nasar (1927 - ....)................................................ 76
34. Abdus Syukur Jamaluddin (1901 - 1990)............................... 77
35. Abdussamad (1908 - 1998).................................................. 79
36. Abdussamad Bakumpai (1822 - 1899).................................. 81
37. Abdussami (circa 1923 - 1982).............................................. 85
38. Abu Bakar (1857 - 1930)....................................................... 88
39. Abu Hurairah (1931 - 1999).................................................. 99
40. Achmad Nawawi Panjaratan (1901 - 1967)......................... 99
41. Adijani Al-Alabij (1941 - 2013)............................................. 107
42. Adnani Iskandar (1929 - 2011).............................................. 110
43. A. Athaillah (1944 - ...)........................................................... 114
44. Ahmad Bakeri (1959 - 2013).................................................. 118
45. Ahmad Barmawi (1882 - ...)................................................... 120
46. Ahmad Djamhari (1912 - ...).................................................. 124
Daftar Isi xxxv
47. Ahmad Fahmi Zamzam (1959 - ...)....................................... 125
48. Ahmad Gazali (1941 - ...)....................................................... 126
49. Ahmad Ghazali (... - 1989)..................................................... 127
50. A. Hafiz Anshari (1956 - ...)................................................... 130
51. Ahmad Hassan (1913 - 1983)................................................. 134
52. Ahmad Hudhari (1937 - 2014)................................................ 135
53. Ahmad Husaini (1952 - ...)..................................................... 136
54. Ahmad Khatib (1866 - 1956)................................................. 137
55. Ahmad Mughni (circa 1903 - 1994)....................................... 138
56. Ahmad Nabhan Rasyid (1929 - 2002)................................... 139
57. Ahmad Nawawi Marfu (1921 - 2013)..................................... 140
58. Ahmad Nudja H. Sa’al (1933 - 2008)................................... 141
59. Ahmad Riduan (1946 - 1998)................................................. 142
60. Ahmad Suhaimi (1941 - ...)..................................................... 145
61. Ahmad Supian (1952 - ...)....................................................... 146
62. Ahmad Syaukani Arsyad (1959 - ...)....................................... 147
63. Ahmad Zaini (1889 - 1966).................................................... 148
64. Ahmad Zamani (1954 - 2019)................................................ 149
65. Ahmad Zuhdiannor (1972 - 2020)......................................... 151
66. Ahmadi Hasan (1958 - ....)...................................................... 154
67. Ahmadi Isa (1948 - 2015)....................................................... 155
68. Ahmadi Syukran (1960 - ....)................................................... 157
69. Akh. Fauzi Aseri (1955 - ....).................................................. 159
70. Alfani Daud (1933 - 2006)...................................................... 161
71. Ali Khaidir bin Hasan Al Kaff (1977 - ....)........................... 167
72. Ali Nordin Gazali (1936 - 2005)............................................ 182
xxxvi Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
73. Amberanie Hamidy (1940 - ....)............................................. 184
74. Anang Djazouly Fadhil (1936 - 2011).................................... 185
75. Anang Ramli HAQ (1927 - 2013).......................................... 187
76. Anang Sya’rani (circa 1914 - 1969)......................................... 190
77. Anwar Isa (1946 - 2020)......................................................... 191
78. Artani Hasbi (1946 - )........................................................ 193
79. Asfiani Norhasani (1973 - ....)................................................ 196
80. Asmaran (1955 - 2021)........................................................... 197
81. Asmuni atau Guru Danau (1951 - 2024)............................... 198
82. Asranuddin Gadu (1937- 2007)............................................. 204
83. Asy’ariy Sulaiman (1909 - 1981)............................................ 208
B .................................................................................................. 213
84. Baderi (1912 - 1992)............................................................... 215
85. Baderi (circa 1911 – 1981)..................................................... 216
86. Badruddin (1937 – 1992)........................................................ 217
87. Baijuri (1918 – 1975).............................................................. 220
88. Basran Noor (1937 – 2004).................................................... 221
89. Basri BY (1927 - ….).............................................................. 224
90. Bijuri (1915 - ….).................................................................... 225
91. Birhasani (1921 - ….).............................................................. 227
92. Bustami Ahmad (1920 – 1969)............................................... 228
93. Busyairi Madjidi (1930 – 1999).............................................. 230
C ................................................................................................. 233
94. Chairani Idris (1951 - )............................................................ 235
D ...................................................................................................... 237
95. Dahlan (1912 – 1987)............................................................. 239
Daftar Isi xxxvii
96. Darsani (1938 – 1972)............................................................ 240
97. Dja’far Saberan (1920 - ...)...................................................... 241
98. Djamaluddin (1919 - ...).......................................................... 242
99. Djamhuri Arsyad (1940 - 2022).............................................. 243
100. Dzukhran Erfan Ali (1959 - )............................................... 244
F ................................................................................................... 247
101. Farid Wadjdy (1954 - ).......................................................... 249
G .................................................................................................. 251
102. Gazali (1907 - 1970)............................................................ 253
103. Gazali Kadhi (1910 - 1971)............................................. 255
104. Gurdan Hadi (1912 - 1992).................................................. 257
H ................................................................................................... 259
105. Hamdani Bakran (1960 - ).................................................... 261
106. Hamid Bahasyim (circa 1860 - 1949)................................... 269
107. Hamzah Abbas (1939 – ...)................................................... 271
108. Hasan Baseri (1918 - 1979).................................................. 272
109. Hasan Basri (1920 - 1998).................................................... 274
110. Hasan Effendi (1954 - ....).................................................... 281
111. Hasan Mugeni Marwan (1905 - 1983)................................ 285
112. Hasan Said (1938 – 1994)..................................................... 289
113. Hasbullah Yasin (1915-1945)............................................... 290
114. Hasyim (circa 1915 – 1974).................................................. 293
115. Hormansyah Haika (1940 – 2017)...................................... 294
116. Humaidi Dakhlan (1934 - 2016).......................................... 295
117. Husain Ahmad (1942 – )....................................................... 296
118. Husin (1908 - 1978).............................................................. 298
xxxviii Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
119. Husin Naparin (1947 - )...................................................... 301
120. Husin Qadri (1909 - 1967)................................................... 308
I .................................................................................................. 313
121. Iberahim (1951 - 2010)......................................................... 315
122. Idham Chalid (1922 - 2010)................................................. 316
123. Ilham Humaidi (1989 - )....................................................... 318
124. Ismail bin Abdullah (1887 - 1962)....................................... 328
125. Ismail Jaferi (1931 - ....)........................................................ 331
126. Ismail Khatib (1858 - 1946).................................................. 331
J .................................................................................................. 333
127. Jailani Abin Dullah (1947-2014).......................................... 335
128. Jamaluddin (1937 – 2000)..................................................... 336
129. Jamhari Arsyad (1945 – 2003)............................................. 337
130. Juhri Sulaiman (1907 – ….).................................................. 340
K ................................................................................................... 341
131. Kamrani Buseri (1950 - )...................................................... 343
132. Kasyful Anwar (1887 - 1940)............................................... 345
133. Khalilurrahman (1945 - 2021).............................................. 347
134. Kusairin Imansyah (1936 - 2005)......................................... 349
L .................................................................................................. 353
135. Lukman Hakim (1860 - 1992).............................................. 355
M .................................................................................................. 361
136. Machrany (1935 – ....)........................................................... 363
137. Mahfuz Amin (1916-1995)................................................... 365
138. Mahlan Amin (1918 – 1988)................................................ 367
139. Mahlani (1947 - ....).............................................................. 370
Daftar Isi xxxix
140. Mahmud Hasil (1950 - )........................................................ 371
141. Mahyuddin Barni (1962 - ).................................................... 379
142. Mairijani (1979 - )................................................................. 380
143. Mansur Ismail (1905 - 1983)................................................ 388
144. Mansyur (1920 - 2002)......................................................... 390
145. Marali (1912 – 1998)............................................................ 391
146. Masdar Umar (1939 - ).......................................................... 393
147. Masrawan (1926 – 2005)................................................. 402
148. Mastur Jahri (1920 - 1987).................................................... 403
149. Matran Salman (1930 - ....)................................................... 410
150. Mirhan AM (1956 - )............................................................ 411
151. Misbahulmunir Abbas (1955 - )........................................... 412
152. Mochjar Dahri (1953 - ... ).................................................. 413
153. Moh. Masrani Hamdan (1950 - ....).................................... 414
154. Muchtar HS (1942 – 2023).................................................. 415
155. Muchyar Usman (1923 - …)............................................... 416
156. Mugeni Hasar (1951 - )......................................................... 417
157. Muhammad Afandi (1917 - ....)........................................... 420
158. Muhammad Aini (1933 - 2000)............................................ 422
159. Muhammad Akhyar Abdi (1958 - )...................................... 424
160. Muhammad Amin (circa 1840 - 1893)................................ 426
161. Muhammad Anshari Noordin (1954 - )............................. 428
162. Muhammad Anwar Masy’ari (1933 – 2002)...................... 429
163. Muhammad Arifin Ilham (1969 - 2019)............................... 430
164. Muhammad Arsyad Kotabaru (1917-2003)........................ 432
165. Muhammad Arsyad Al Banjari (1710 – 1812)...................... 434
xl Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
166. Muhammad Arsyad Hantakan (1974 - ).............................. 440
167. Muhammad Arsyad Samuda (1874 - 1960)........................ 449
168. Muhammad Asywadie Syukur (1939 – 2010)................... 458
169. Muhammad As’ad (1908 - 1991)......................................... 460
170. Muhammad Atha (1949 - ....)............................................... 461
171. Muhammad Bahrul Ilmi (1961 - )....................................... 462
172. Muhammad Bakhiet (1966 - ).............................................. 464
173. Muhammad Basuni Sulaiman (1930 – ....)........................ 469
174. Muhammad Basyiri (circa 1870 - 1939)............................... 470
175. Muhammad Dachlan (1932 – 2004).................................... 473
176. Muhammad Daud Yahya (1920 - .…)................................. 475
177. Muhammad Fadli Muis (1969 - )........................................ 478
178. Muhammad Fitri (1958 - 2002)............................................ 481
179. Muhammad Gazali (1959 - 2008)........................................ 428
180. Muhammad Haderawi (1955 - ….)..................................... 484
181. Muhammad Hamdan Chalid (1936 - 2019)...................... 485
182. Muhammad Hamdan Luqman (1950 - ….)......................... 487
183. Muhammad Hanafie Gobit (1915 - 1990).......................... 489
184. Muhammad Hasyim Mochtar El-Husaini (1918 – 1985).. 498
185. Muhammad Husni Nurin (1960 – 2017)........................... 499
186. Muhammad Idris (1953 - 2009)......................................... 500
187. Muhammad Imran (1902 - 2000)......................................... 501
188. Muhammad Jaferi (1875 - 1932)......................................... 502
189. Muhammad Jafri (1858 - ….)............................................... 506
190. Muhammad Janawi (1922 - 2004)....................................... 510
191. Muhammad Khairan Alie (1929 – 1992).......................... 511
Daftar Isi xli
192. Muhammad Khalid (1858 - 1963)....................................... 512
193. Muhammad Kurdi Baseri (1933 - 1993)............................. 517
194. Muhammad Laily Mansur (1937 – ).................................... 518
195. Muhammad Mahlan (circa 1890 - ....)................................ 520
196. Muhammad Marzuki Ismail (1964 - )................................. 523
197. Muhammad Muchlis (1952 - ).............................................. 524
198. Muhammad Nafis bin Idris Al-Banjari (circa 1735 - 1812)... 527
199. Muhammad Nashrun Thahir (1916–1988)......................... 531
200. Muhammad Nur (1920 - 1982).......................................... 532
201. Muhammad Qasthalani (1942 – 2009)............................... 532
202. Muhammad Rafi’ie (1923 - 1966)....................................... 534
203. Muhammad Rafi’ie Hamdie (1940 – 1990).......................... 535
204. Muhammad Ramli atau Haji Walad (1901 - 1981).............. 541
205. Muhammad Ramli Anang (1934 – )................................... 542
206. Muhammad Ridwan Baseri (1965 - 2021).......................... 544
207. Muhammad Rosyad (1939 – 2000)..................................... 549
208. Muhammad Suberi Akhyatie (1935 – 1998)....................... 551
209. Muhammad Salman Jalil (1916 - 2000)............................... 553
210. Muhammad Sarni (1915 - 1988)........................................... 554
211. Muhammad Sunan (1890 - ….)........................................... 557
212. Muhammad Syamsuri (1922 – 2000).................................. 560
213. Muhammad Syarwani Abdan (1915 – 1989)....................... 562
214. Muhammad Syatta Alie (1927 - ….)................................... 569
215. Muhammad Syaukani (1955 - )............................................ 571
216. Muhammad Syukeri Unus (1948 - )................................... 572
217. Muhammad Thayib (1933 – 2010).................................... 573
xlii Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
218. Muhammad Thayib atau Datu Taniran (1779 - 1861)........ 575
219. Muhammad Tsani (1918 – 1986)......................................... 578
220. Muhammad Umar Yasin (1938 – ....)................................... 580
221. Muhammad Yakub (1932 - ....)............................................ 580
222. Muhammad Yasar (1915–1979)........................................... 581
223. Muhammad Yuseran (1942 – 2020)..................................... 584
224. Muhammad Yusran Seman (1935 – ....).............................. 585
225. Muhammad Yusuf (1904 – 1961)........................................ 586
226. Muhammad Zaini Ghani (1942 – 2005)............................. 587
227. Muhammad Zuhri (1926 - 2002).......................................... 595
228. Muhammad Zurkani Jahja (1941 - 2004)........................... 599
229. Muhdar (1901 - 1995).......................................................... 606
230. Muhri (1958 - )...................................................................... 609
231. Mukeri Yunus (1955 - )......................................................... 610
232. Mukhyar Sani (1957 - )....................................................... 611
233. Munawwar (1971 - )........................................................... 613
234. Muradi (1907 - 1985)........................................................... 616
235. Murjani Sani (1954 - )........................................................... 620
N ...................................................................................................... 625
236. Napiah Amuntai (1922 - ….)............................................... 627
237. Napiah Barabai (1901 - 1976).............................................. 628
238. Nawardi (1968 - ).................................................................. 629
239. Noor Asyikin (1954 - 2020).............................................. 632
240. Nur Salim Safran (1952 – 2001).......................................... 633
241. Nursyahid Ramli (1955 - ).................................................. 634
242. Nuruddin Marbu al-Banjari (1960 - )................................... 643
Daftar Isi xliii
P ...................................................................................................... 649
243. Penghulu Rasyid (Circa 1810 - 1865).................................. 651
Q ................................................................................................... 655
244. Quderah Adenan (1924 - 1986)........................................... 657
R ...................................................................................................... 659
245. Rif ’an Syafruddin (1972 - ).................................................. 661
246. Rusdiansyah Asnawi (1941 – 2016).................................... 661
S .................................................................................................... 665
247. Sa’duddin (1929 - 1991)....................................................... 667
248. Saberan Afandi (1942 - )...................................................... 667
249. Saifuddin Birhasani (1913 - 1983)........................................ 669
250. Salim Ma’ruf (1913 - 1979).................................................. 671
251. Salman Al-Farisi (circa 1858 - 1931)................................... 672
252. Satar (1920 - 1983)................................................................ 675
253. Seman Mulya (1918 - 1990)................................................ 667
254. Sjamhudar Uchtary (1921 - 2005)......................................... 678
255. Sjamsuri Arsjad (1925 - 1998).............................................. 679
256. Sulaiman Effendi (1900 - 1971)........................................... 680
257. Sulaiman Nain (1939 - 2006)................................................ 681
258. Sulaiman Wali (1863 - 1926)................................................. 685
259. Suni (... - 2003)..................................................................... 686
260. Syafriansyah (1931 - 2014).................................................. 690
261. Syahran (1916–1986)........................................................... 692
262. Syaifuddin Sabda (1958 - ).................................................. 694
263. Syaifuddin Zuhri (1952 – 2024)........................................... 695
264. Syarbaini Mastur (1940 – 2024)........................................... 710
xliv Ensiklopedi Ulama Banjar Edisi 2024
265. Syarkawi Berahim (1929 – 1987)......................................... 712
266. Syarwani (1983 - ....)........................................................ 717
T ...................................................................................................... 721
267. Tabrani Ali Maksum (1938 - ....)........................................ 724
268. Tajuddin (1891 - 1975)......................................................... 710
269. Tarmizi Abbas (1920 - 1988).............................................. 727
U ...................................................................................................... 731
270. Umar Baqi (circa 1905 - 1970)............................................ 733
271. Usman (1900 - 1971).......................................................... 734
Z ...................................................................................................... 737
272. Zafri Zamzam (1918 - 1972)............................................... 739
273. Zainal Arifin Zamzam (1942 - ....)..................................... 746
274. Zainal Ilmi (1886 - 1956)..................................................... 748
275. Zamzam (1922 - ....)........................................................... 749
276. Zarkasyi Hasby (1952 - ....).................................................. 751
LAMPIRAN-LAMPIRAN................................................................. I
Sambutan Ketua MUI Kalimantan Selatan..................................... III
Pengantar Ketua Tim Redaksi Terdahulu..................................... V
Pengantar Tim Penulis Buku Edisi 2019......................................... XXXIII
UUllaammaabbaannjjaaRR EEE NNN SSS II KK LL OO PP EE DD II I K L O P E D I
EEEDDDIII
SSSIII222000222444
Diterbitkan oleh:
Antasari Press
Jl. Jenderal Ahmad Yani KM 4,5
Banjarmasin 70235 Kalimantan Selatan
Email : antasaripress@uin-antasari.ac.id
Website: antasaripress.uin-antasari.ac.id
Kedudukan dan peran ulama di masyarakat Banjar telah mengalami perkembangan yang
cukup dinamis dari masa ke masa. Hal ini terutama disebabkan oleh perubahan sosial,
politik dan budaya yang terjadi sepanjang sejarah masyarakat Banjar. Perubahanperubahan tersebut bahkan tidak hanya menyangkut kedudukan dan peran sosial ulama,
melainkan juga menyangkut persepsi masyarakat tentang berbagai kriteria yang harus
dimiliki seseorang yang dianggap sebagai ulama. Di sisi lain, karena kelembagaan ulama
memiliki akar yang sangat panjang dalam sejarah Islam, maka kita akan menemukan
adanya kesinambungan atau benang merah antara sosok dan peran ulama di masa
lampau, dan yang kita temukan di masa kini.
Prof. Dr. H. Mujiburrahman, MA - Rektor UIN Antasari
Buku Ulama Banjar Dari Masa Ke Masa ini merupakan program prioritas dalam rangka
meningkatkan komitmen kita mengimplementasikan informasi, komunikasi keberadaan
ulama di Kalsel yang dewasa ini tanggung jawabnya terus berpacu dengan gerakan
akumulasi dari dua kekuatan kolutif “penguasa dan pengusaha” dalam merefleksikan
kehendak zaman yang pada satu sisi sangat hedonis dan mengagungkan materialisme
global dan pada sisi lain amar ma’ruf dan nahi munkar juga gencar dilakukan dengan
segala bentuk dan metode yang sangat variatif, namun tanpa evaluasi komprehensif
pada tataran output dakwah.
KH. Husin Naparin, Lc., MA - Ketua MUI Kalimantan Selatan
View publication stats