JEJAK PENGABDIANOtobiografi Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.IDari Pesantren, Gerakan Mahasiswa, Aktivisme Sosial, Kemanusiaan hingga Perjuangan Membangun PendidikanMuhamad Edwan Ansari, S.Pd.IHulu Sungai Tengah – Kalimantan Selatan
IDENTITAS BUKUJudul: Jejak PengabdianSubjudul: Dari Pesantren, Gerakan Mahasiswa, Aktivisme Sosial, Kemanusiaan hingga Perjuangan Membangun PendidikanJenis buku: Otobiografi / Memoar TokohPenulis: Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.ILatar perjalanan: Hulu Sungai Tengah, Kalimantan SelatanPeriode perjalanan: 1987–2026Genre: Biografi inspiratif, pendidikan, sosial, organisasi, kemanusiaan, dan kepemimpinan.Motto:“Bermanfaat bagi orang lain, yakin usaha sampai.”
DAFTAR ISIBAGIAN I – AKAR KEHIDUPAN DAN PEMBENTUKAN KARAKTERProlog: Sebuah Perjalanan PengabdianDesa Dangu, Tempat Sebuah Perjalanan DimulaiPesantren dan Pendidikan yang Membentuk KehidupanMengenal Dunia Pengabdian Sejak DiniBAGIAN II – MENEMUKAN JALAN AKTIVISMEMenjadi Mahasiswa, Menemukan Dunia BaruHimpunan Mahasiswa Islam dan Tradisi PerkaderanMenjadi Presiden MahasiswaDari Kampus Menuju Gerakan KepemudaanBAGIAN III – BERHADAPAN DENGAN PERSOALAN MASYARAKATGEMPPUR dan Kepedulian terhadap MurakataMeratus, Lingkungan, dan Suara MasyarakatMembangun Relawan Semut Pemburu BerkahKhadimul Ummat dan Jalan Pengabdian SosialSolidaritas Palestina: Menggerakkan Ratusan RelawanBAGIAN IV – MEMBANGUN PENDIDIKAN DAN MASA DEPANKembali kepada Dunia PendidikanMembangun PKBM Dhiyaul AminPendidikan Kesetaraan di Lingkungan PesantrenMeningkatkan Mutu dan Kompetensi TutorAkreditasi B dan Perjalanan Membangun KepercayaanPendidikan sebagai Jalan Pemberdayaan MasyarakatBAGIAN V – REFLEKSI PERJALANANOrganisasi, Kepemimpinan, dan Pelajaran KehidupanCatatan tentang Kemanusiaan dan KebermanfaatanPerjalanan yang Belum SelesaiEpilog: Yakin Usaha SampaiLampiran:Kronologi perjalanan hidup.Riwayat pendidikan.Riwayat organisasi.Riwayat kegiatan sosial dan kemanusiaan.Dokumentasi PKBM Dhiyaul Amin.Dokumentasi pemberitaan media.Foto-foto perjalanan pengabdian.
PROLOGSebuah Perjalanan PengabdianSetiap manusia memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Ada yang menempuh jalan panjang melalui pendidikan, ada yang tumbuh melalui pengalaman organisasi, ada yang menemukan makna kehidupan dalam perjuangan sosial, dan ada pula yang mengabdikan sebagian besar waktunya untuk kepentingan masyarakat.Perjalanan hidup saya merupakan perpaduan dari berbagai pengalaman tersebut.Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan yang dimulai dari sebuah desa di Kabupaten Hulu Sungai Tengah akan mempertemukan saya dengan begitu banyak ruang pengabdian. Dari lingkungan pesantren, dunia pendidikan, organisasi mahasiswa, gerakan kepemudaan, aktivitas sosial, kemanusiaan, hingga perjuangan membangun lembaga pendidikan nonformal.Nama saya Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I. Saya lahir di Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, pada 28 Agustus 1987.Bagi saya, kehidupan bukan sekadar perjalanan untuk mencapai keberhasilan pribadi. Ada tanggung jawab sosial yang harus dijalankan, ada ilmu yang perlu dibagikan, ada persoalan masyarakat yang perlu diperhatikan, dan ada kesempatan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Setiap fase kehidupan menghadirkan tantangan dan pengalaman yang berbeda. Dunia organisasi mengajarkan saya tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Gerakan sosial mengajarkan arti keberanian menyuarakan kepentingan masyarakat. Kegiatan kemanusiaan mengajarkan pentingnya solidaritas. Sementara dunia pendidikan mengajarkan bahwa membangun manusia merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.Saya pernah menjadi bagian dari organisasi mahasiswa, dipercaya memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa, terlibat dalam perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam, aktif dalam organisasi kepemudaan, ikut menggerakkan gerakan masyarakat, mendirikan organisasi kerelawanan, serta mengambil tanggung jawab dalam pengembangan lembaga pendidikan.Salah satu perjalanan yang paling berkesan adalah ketika terlibat dalam gerakan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina pada 2023. Bersama berbagai organisasi dan komunitas, kami menggerakkan ratusan relawan untuk menghimpun kepedulian masyarakat. Kegiatan tersebut berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp181 juta.Di bidang pendidikan, perjalanan saya berlanjut melalui pengembangan PKBM Dhiyaul Amin di Desa Pamangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara. Sebuah lembaga pendidikan nonformal yang diharapkan mampu membuka kesempatan belajar bagi masyarakat, khususnya para santri dan warga belajar yang membutuhkan pendidikan kesetaraan.Buku ini bukan dimaksudkan untuk membanggakan jabatan atau mengagungkan perjalanan pribadi. Saya ingin mencatat perjalanan tersebut sebagai dokumentasi kehidupan, sekaligus berbagi pengalaman kepada generasi muda bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi.Saya percaya, pengabdian tidak harus menunggu seseorang menjadi pejabat, memiliki kekayaan, atau memperoleh kedudukan tinggi. Pengabdian dapat dimulai dari hal sederhana, dari lingkungan sendiri, dan dari kemampuan yang kita miliki.Inilah sebagian perjalanan hidup saya. Sebuah perjalanan yang masih terus berlangsung.BAGIAN IAKAR KEHIDUPAN DAN PEMBENTUKAN KARAKTERBAB 1Desa Dangu, Tempat Sebuah Perjalanan DimulaiSaya dilahirkan di Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, pada 28 Agustus 1987.Desa merupakan tempat awal seseorang mengenal kehidupan. Di sanalah lingkungan sosial, budaya, pendidikan, dan nilai-nilai masyarakat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.Kabupaten Hulu Sungai Tengah sendiri memiliki tradisi keagamaan dan kehidupan masyarakat yang erat dengan pendidikan Islam, pesantren, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.Dalam perjalanan hidup saya, lingkungan tersebut menjadi bagian penting yang mengantarkan saya mengenal dunia pendidikan agama dan pengabdian.Saya menyadari bahwa perjalanan seseorang tidak dapat dilepaskan dari tempat ia berasal. Desa bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan bagian dari identitas dan sejarah kehidupan.Dari tempat inilah perjalanan panjang saya dimulai.[Bagian ini nantinya dilengkapi dengan cerita keluarga, orang tua, saudara, kehidupan masa kecil, lingkungan pergaulan, dan pengalaman yang paling membekas selama tinggal di Desa Dangu.]BAB 2Pesantren dan Pendidikan yang Membentuk KehidupanTahun 2004 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan pendidikan saya. Pada tahun tersebut, saya memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Ilung, yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Nurul Muhibbin.Pendidikan pesantren memberikan pengalaman tersendiri. Pesantren bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan keagamaan, melainkan juga lingkungan pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kehidupan sosial.Dalam lingkungan pendidikan agama, saya mulai memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki hubungan erat dengan tanggung jawab moral. Pengetahuan tidak cukup hanya dipelajari, tetapi juga harus diamalkan dan memberikan manfaat.Pada masa tersebut, saya juga mulai mengajar Al-Qur'an di TK TPA Al-Qur'an Dhiyaul Abidin Unit 008.Pengalaman mengajar ini menjadi bagian penting dari perjalanan saya. Saya mulai mengenal bagaimana proses pendidikan berlangsung, bagaimana mendampingi peserta didik, serta bagaimana ilmu yang dimiliki dapat dibagikan kepada orang lain.Dari pengalaman tersebut, saya semakin mengenal dunia pendidikan yang kelak menjadi salah satu bidang utama dalam perjalanan pengabdian saya.BAB 3Mengenal Dunia Pengabdian Sejak DiniSebelum memasuki dunia perguruan tinggi, saya telah mengenal kegiatan organisasi melalui lingkungan sekolah dan masyarakat.Saya pernah terlibat dalam OSIS SMAN 2 Barabai sebagai Koordinator Bidang Keagamaan pada 2005. Saya juga aktif dalam BKPRMI Kecamatan Batang Alai Utara pada periode 2005–2010.Selain itu, saya pernah menjadi bagian dari Karang Taruna Tunas Jaya Ilung Pasar Lama.Pengalaman tersebut memperkenalkan saya pada kehidupan organisasi yang sesungguhnya. Saya belajar bahwa kegiatan bersama membutuhkan komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab.Organisasi juga menjadi ruang untuk mengenal karakter orang lain. Setiap orang memiliki latar belakang, pemikiran, dan cara pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut harus dikelola agar tujuan bersama dapat diwujudkan.Pengalaman awal inilah yang kemudian menjadi bekal ketika saya memasuki dunia organisasi mahasiswa.BAGIAN IIMENEMUKAN JALAN AKTIVISMEBAB 4Menjadi Mahasiswa, Menemukan Dunia BaruSetelah menyelesaikan pendidikan sebelumnya, saya melanjutkan pendidikan tinggi di STAI Al-Washliyah Barabai dengan mengambil program studi Pendidikan Agama Islam.Menjadi mahasiswa merupakan fase penting dalam kehidupan saya. Perguruan tinggi mempertemukan saya dengan lingkungan intelektual yang lebih luas.Dunia kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Di dalamnya terdapat ruang diskusi, organisasi, perkaderan, gerakan mahasiswa, dan berbagai pengalaman yang membentuk kedewasaan berpikir.Pada masa inilah saya semakin aktif dalam kegiatan organisasi.Saya menemukan bahwa pendidikan formal dan pengalaman organisasi dapat saling melengkapi. Pendidikan memberikan dasar pengetahuan, sedangkan organisasi memberikan kesempatan untuk mempraktikkan kepemimpinan dan tanggung jawab.BAB 5Himpunan Mahasiswa Islam dan Tradisi PerkaderanSalah satu organisasi yang memberikan pengalaman penting dalam perjalanan saya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Barabai.Pada periode 2009–2010, saya dipercaya sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai.Amanah tersebut mempertemukan saya dengan dunia perkaderan mahasiswa. Saya terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan pembinaan anggota, pengembangan kapasitas kader, dan penguatan kehidupan organisasi.Bagi saya, perkaderan merupakan proses penting dalam membangun sumber daya manusia. Organisasi tidak cukup hanya memiliki struktur kepengurusan. Organisasi harus mampu membentuk anggota yang memiliki pengetahuan, tanggung jawab, dan kemampuan berkontribusi.Pada periode 2011–2012, saya kembali memperoleh tanggung jawab sebagai Sekretaris Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Barabai.Pengalaman tersebut memperkaya pemahaman saya mengenai pentingnya pendidikan organisasi, proses kaderisasi, dan keberlanjutan kepemimpinan.BAB 6Menjadi Presiden MahasiswaPeriode 2010–2011 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi saya.Pada masa itu, saya dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Al-Washliyah Barabai atau Presiden Mahasiswa.Kepercayaan tersebut merupakan tanggung jawab yang tidak ringan. Memimpin organisasi mahasiswa membutuhkan kemampuan mengoordinasikan berbagai kepentingan, membangun komunikasi, dan menggerakkan mahasiswa dalam kegiatan bersama.Jabatan Ketua Umum BEM menjadi pengalaman yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter kepemimpinan saya.Saya belajar bahwa pemimpin tidak hanya berbicara mengenai kewenangan, tetapi juga mengenai kesediaan untuk bertanggung jawab.Kepemimpinan juga bukan sekadar berada di depan, melainkan bagaimana membangun kerja sama dan memberikan ruang bagi orang lain untuk berkembang.[Bagian ini perlu dilengkapi dengan nama kabinet BEM, program kerja unggulan, kegiatan besar, persoalan kampus yang pernah dihadapi, dan pengalaman paling berkesan selama menjadi Presiden Mahasiswa.]BAB 7Dari Kampus Menuju Gerakan KepemudaanSetelah memperoleh pengalaman dalam organisasi mahasiswa, aktivitas saya berkembang ke lingkungan organisasi kepemudaan.Pada periode 2012–2015, saya dipercaya menjadi Wakil Sekretaris DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Hulu Sungai Tengah.Saya juga pernah terlibat dalam kepengurusan Pemuda Pancasila Hulu Sungai Tengah pada 2017–2018.Pengalaman ini memperluas ruang interaksi saya dengan berbagai kelompok masyarakat dan organisasi kepemudaan.Saya semakin memahami bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah. Potensi pemuda tidak cukup hanya diarahkan pada kegiatan seremonial, tetapi harus diberikan ruang untuk mengembangkan gagasan, kreativitas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.BAGIAN IIIBERHADAPAN DENGAN PERSOALAN MASYARAKATBAB 8GEMPPUR dan Kepedulian terhadap MurakataPerjalanan organisasi membawa saya pada keterlibatan yang lebih luas dalam persoalan masyarakat.Pada 2017, saya terlibat dalam Gerakan Masyarakat Peduli Penyelamat Murakata (GEMPPUR).Gerakan ini menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kepedulian terhadap berbagai persoalan daerah.Dalam perjalanan gerakan tersebut, perhatian terhadap lingkungan, kebijakan publik, dan kawasan Pegunungan Meratus menjadi bagian dari aktivitas yang dijalankan.Saya belajar bahwa kepedulian terhadap daerah tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembicaraan. Ada kalanya masyarakat harus membangun ruang partisipasi untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka dan bertanggung jawab.Pada Januari 2018, aktivitas penolakan pertambangan batu bara di kawasan Meratus mendapat pemberitaan ANTARA News Kalimantan Selatan. Nama M. Edwan Ansari tercatat sebagai salah satu relawan dalam gerakan tersebut.Dokumentasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan aktivisme sosial saya.BAB 9Membangun Relawan Semut Pemburu BerkahPada 28 Agustus 2019, saya mendirikan Relawan Semut Pemburu Berkah.Organisasi ini lahir dari keinginan untuk membangun gerakan sosial dan kemanusiaan yang dapat melibatkan lebih banyak masyarakat.Saya percaya bahwa kepedulian sosial harus memiliki wadah agar dapat dikelola secara lebih terarah.Melalui Relawan Semut Pemburu Berkah, semangat kedermawanan, kerelawanan, dakwah, dan kemanusiaan diupayakan menjadi bagian dari kegiatan organisasi.Visi yang dibangun adalah menjadikan organisasi sebagai gerakan sosial keumatan dan kemanusiaan yang profesional dengan mengoptimalkan potensi kedermawanan masyarakat.Pendirian organisasi tersebut merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan.Saya belajar bahwa gerakan sosial tidak harus dimulai dengan sumber daya yang besar. Hal terpenting adalah adanya tujuan, komitmen, dan kemauan untuk bekerja bersama.BAB 10Khadimul Ummat dan Jalan Pengabdian SosialPada 2020, saya terlibat sebagai salah satu pendiri Khadimul Ummat Hulu Sungai Tengah.Dalam organisasi tersebut, saya dipercaya menjadi Sekretaris Umum.Khadimul Ummat menjadi bagian dari perjalanan saya dalam mengembangkan aktivitas sosial dan keumatan. Melalui organisasi ini, ruang kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat semakin terbuka.Saya semakin memahami bahwa kegiatan sosial membutuhkan jaringan, kepercayaan, dan kerja sama.Tidak ada gerakan besar yang dapat berdiri hanya dengan mengandalkan satu orang. Diperlukan banyak pihak yang bersedia menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, dan sumber daya.BAB 11Solidaritas Palestina: Menggerakkan Ratusan RelawanNovember 2023 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kegiatan kemanusiaan saya.Ketika persoalan kemanusiaan di Palestina mendapat perhatian luas masyarakat, berbagai organisasi dan komunitas di Hulu Sungai Tengah bergerak membangun solidaritas.Dalam kegiatan tersebut, saya dipercaya menjadi koordinator aksi penggalangan dana untuk Palestina.PojokBanua.com pada 11 November 2023 memberitakan kegiatan bertajuk Turun ke Jalan, Ratusan Relawan di HST Galang Dana untuk Palestina.Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 300 orang dan puluhan organisasi maupun komunitas.Perjalanan penggalangan dana tersebut kemudian menghasilkan donasi sebesar Rp181 juta. Capaian itu diberitakan PojokBanua.com pada 23 November 2023 dengan mencatat keterlibatan 34 organisasi, komunitas, dan lembaga.Bagi saya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama. Tidak ada satu orang yang dapat mengklaim seluruh keberhasilan sebuah gerakan kemanusiaan.Setiap relawan memiliki peran. Ada yang mengoordinasikan kegiatan, ada yang menggalang dukungan, ada yang membantu publikasi, dan ada pula masyarakat yang menyumbangkan sebagian rezekinya.Dari pengalaman tersebut saya semakin memahami bahwa solidaritas merupakan kekuatan besar ketika kepedulian berhasil disatukan.BAGIAN IVMEMBANGUN PENDIDIKAN DAN MASA DEPANBAB 12Kembali kepada Dunia PendidikanSetelah melewati berbagai pengalaman organisasi dan gerakan sosial, dunia pendidikan tetap menjadi salah satu ruang pengabdian yang penting bagi saya.Latar belakang pendidikan agama, pengalaman mengajar Al-Qur'an, dan pendidikan tinggi di bidang Pendidikan Agama Islam menjadi fondasi dalam perjalanan tersebut.Saya kemudian mengambil peran dalam pengembangan PKBM Dhiyaul Amin di Desa Pamangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.Bagi saya, pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.Kesempatan memperoleh pendidikan harus terbuka bagi setiap orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan formal.BAB 13PKBM Dhiyaul Amin: Membangun Harapan Melalui Pendidikan KesetaraanPKBM Dhiyaul Amin dikembangkan sebagai lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program kesetaraan Paket B dan Paket C.Keberadaannya memiliki arti penting bagi masyarakat, khususnya santri dan warga belajar yang membutuhkan akses pendidikan.Dalam pengembangan lembaga ini, pendidikan nasional diupayakan berjalan berdampingan dengan nilai-nilai pendidikan pesantren.Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan keagamaan, dan pengembangan keterampilan hidup.Sebagai Kepala PKBM Dhiyaul Amin, saya mengambil tanggung jawab dalam pengelolaan lembaga dan pengembangan program pendidikan.Perjalanan membangun lembaga pendidikan tentu membutuhkan banyak hal. Diperlukan sumber daya manusia, tata kelola yang baik, administrasi, sarana pembelajaran, dan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan.Saya menyadari bahwa membangun lembaga pendidikan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Ia membutuhkan proses panjang dan keterlibatan banyak pihak.BAB 14Akreditasi B: Sebuah Tahapan dalam Perjuangan MutuSalah satu capaian penting dalam perjalanan kelembagaan PKBM Dhiyaul Amin adalah diperolehnya akreditasi B pada 2025.Bagi lembaga pendidikan nonformal, akreditasi merupakan bagian dari proses evaluasi dan peningkatan mutu.Capaian tersebut bukan hanya tentang status administratif, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus memperbaiki tata kelola, proses pembelajaran, kompetensi pendidik, dan pelayanan kepada masyarakat.Saya memandang akreditasi sebagai tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan masyarakat.Setelah sebuah lembaga memperoleh pengakuan mutu, pekerjaan berikutnya adalah mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya.BAB 15Meningkatkan Kompetensi Tutor dan Keterampilan Warga BelajarPengembangan PKBM Dhiyaul Amin juga diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.Pada 2026, lembaga ini mengikutsertakan 12 tutor dalam kegiatan workshop produksi, branding, dan pemasaran produk lokal.Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan kompetensi tutor agar pembelajaran memiliki hubungan lebih kuat dengan kebutuhan kehidupan masyarakat.Publikasi Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen pada 6 Agustus 2026 mendokumentasikan kegiatan tersebut.Saya memandang tutor sebagai bagian penting dari keberhasilan pendidikan kesetaraan. Kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan pendidik dalam memahami kebutuhan warga belajar.Karena itu, peningkatan kompetensi harus menjadi proses berkelanjutan.Pendidikan yang baik bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka kesempatan bagi seseorang untuk menjadi lebih mandiri dan produktif.BAB 16Pendidikan sebagai Jalan Pemberdayaan MasyarakatBagi saya, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.Lembaga pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pendidikan kesetaraan harus memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan potensi dirinya.PKBM Dhiyaul Amin menjadi ruang untuk mewujudkan gagasan tersebut.Saya berharap lembaga ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan di Hulu Sungai Tengah.Perjalanan ini masih panjang. Masih banyak hal yang harus diperbaiki, dikembangkan, dan diperjuangkan.Namun, setiap langkah kecil dalam pendidikan memiliki arti bagi masa depan masyarakat.BAGIAN VREFLEKSI PERJALANANBAB 17Organisasi, Kepemimpinan, dan Pelajaran KehidupanJika saya melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, organisasi merupakan salah satu ruang pembelajaran terbesar dalam kehidupan saya.Saya belajar menjadi anggota, belajar menjalankan amanah, belajar memimpin, dan belajar bekerja bersama orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.Saya pernah menjadi pengurus OSIS, aktivis BKPRMI, pengurus Karang Taruna, kader HMI, Ketua Umum BEM, pengurus KNPI, bagian dari GEMPPUR, pendiri Relawan Semut Pemburu Berkah, hingga pendiri Khadimul Ummat.Setiap organisasi memberikan pengalaman yang berbeda.Saya memahami bahwa jabatan merupakan amanah yang memiliki batas waktu. Namun, pengalaman, persahabatan, pengetahuan, dan manfaat dari sebuah perjuangan dapat terus dikenang.BAB 18Kemanusiaan sebagai Tanggung Jawab BersamaKegiatan kemanusiaan mengajarkan saya bahwa persoalan manusia tidak mengenal batas organisasi, wilayah, maupun perbedaan latar belakang.Pengalaman menggerakkan solidaritas untuk Palestina memberikan pelajaran tentang kekuatan masyarakat ketika bersatu.Namun, kemanusiaan bukan hanya tentang kegiatan besar atau penggalangan dana dalam jumlah tertentu. Kemanusiaan juga dapat hadir melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat kepada orang lain.Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berkontribusi.BAB 19Perjalanan yang Belum SelesaiPerjalanan hidup saya masih terus berlangsung.Masih ada cita-cita, harapan, dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Dunia pendidikan masih membutuhkan banyak perhatian. Gerakan sosial masih membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja. Masyarakat masih memiliki berbagai persoalan yang memerlukan kepedulian bersama.Saya tidak ingin perjalanan ini berhenti pada catatan jabatan dan aktivitas masa lalu.Saya berharap pengalaman yang telah dilalui dapat menjadi bekal untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat pada masa mendatang.EPILOGYakin Usaha SampaiSetiap perjalanan memiliki awal, proses, dan tujuan. Namun, dalam kehidupan pengabdian, tujuan tidak selalu berupa pencapaian pribadi.Ada kepuasan ketika melihat orang lain memperoleh kesempatan pendidikan. Ada kebahagiaan ketika masyarakat dapat bekerja bersama dalam kegiatan kemanusiaan. Ada kebanggaan ketika sebuah lembaga pendidikan berkembang dan memberikan manfaat.Dari pesantren saya belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Dari organisasi saya belajar tentang kepemimpinan. Dari gerakan sosial saya belajar tentang keberanian dan kepedulian. Dari kegiatan kemanusiaan saya belajar tentang solidaritas. Dari dunia pendidikan saya belajar bahwa membangun manusia membutuhkan kesabaran dan perjuangan panjang.Saya menyadari bahwa tidak semua perjalanan berjalan sesuai harapan. Namun, setiap pengalaman selalu memiliki pelajaran.Saya ingin terus belajar, bekerja, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya tentang seberapa tinggi kedudukan yang berhasil dicapai, melainkan juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.Bermanfaat bagi orang lain, yakin usaha sampai.Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I
LAMPIRAN IKronologi Perjalanan Hidup dan Pengabdian
| Tahun | Peristiwa |
|---|---|
| 1987 | Lahir di Desa Dangu, Batang Alai Utara |
| 2004 | Memperdalam pendidikan agama di Pesantren Darul Muttaqin Ilung |
| 2005 | Aktif dalam OSIS dan BKPRMI |
| 2005–2010 | Pengurus BKPRMI Kecamatan Batang Alai Utara |
| 2009–2010 | Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai |
| 2010–2011 | Ketua Umum BEM STAI Al-Washliyah Barabai |
| 2011–2012 | Sekretaris Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Barabai |
| 2012–2015 | Wakil Sekretaris DPD KNPI Hulu Sungai Tengah |
| 2017 | Terlibat dalam GEMPPUR |
| 2017–2018 | Pengurus Pemuda Pancasila HST |
| 2018 | Terlibat dalam gerakan penolakan tambang Meratus |
| 2019 | Mendirikan Relawan Semut Pemburu Berkah |
| 2020 | Salah satu pendiri Khadimul Ummat HST dan Sekretaris Umum |
| 2023 | Koordinator aksi solidaritas Palestina, donasi Rp181 juta |
| 2024 | Dokumentasi pengembangan PKBM Dhiyaul Amin |
| 2025 | PKBM Dhiyaul Amin memperoleh akreditasi B |
| 2026 | Penguatan kompetensi 12 tutor PKBM Dhiyaul Amin |