Selasa, Oktober 20, 2026

Biografi Al-Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan

 Biografi Al-Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan



Tidak banyak di jumpai dalam kalangan Alawiyyin, seeorang sayyid menekuni suatu Tharekat tertentu di luar “Thareqat keluarga” yaitu Thareqah Alawiyah. Habib Muhsin Bin Ali Al-Hinduan adalah satu dari yang tidak banyak itu. Kebesaran nama Habib Muhsin di kenal luas karena semasa hidupnya ia menjadi mursyid Thareqat Naqsyabandiah Muzhariyah.
Habib Muhsin lahir pada tahun 1921 di Sumenep, Madura , dari pasangan Habib Ali bin salim Al-Hinduan dan Syarifah Zainab binti Muhsin Al-Baiti.
Ia menjalani masa kecilnya sebagaimana anak kecil pada umumnya. Tapi ada sisi menarik yang di dapat dari masa kecilnya . Dulu, bila ayahnya menerima tamu , terkadang ia mendengarkan obrolan sang ayah dari balik pintu ruang dalam. Saat ada jawaban atau perkataan Ayahnya kurang tepat , Ia segera mengambil kitab, Kemudian ia mengambil kitab, kemudian di bukanya kitab itu pada halaman yang memuat permasalahan yang di katakan Ayahnya, sebagai “pesan tak langsung “ darinya kepada sang Ayah.
Menembus rahasia Tasawuf
Saat masih kecilnya itu, ia menimba ilmu di madrasah Makarimul Akhlaq di setiap jenjangnya, Setelah lulus, ia mengabdikan diri sebagai salah seorang pengajar di madrasah itu. Bahkan suatu saat di tunjuk sebagai orang yang memimpin kendali madrasah tersebut.
Jadi, sebelum masuk pada dunia thareqat , pengusaannya di bidang syariat sudah cukup mumpuni . kelengkapan penguasaan dalam ilmi syari’at dan thareqat itu menjadi faktor penting atas terbetuknya ketokohan dalam dirinya secara utuh di kemudian hari.
Pada masa revolusi fisik. Habib Muhsin pun terlibat dalam pertempuran langsung dengan pihak Belanda. Di antaranya dalam pertempuran di Gondanglegi , Malang, dan di Sampang, Madura. Saat itu ia masuk dalam barisan Hizbullah . Banyak anak buahnya atau kawan seperjuangannya di medan pertempuran yang kemudian menjadi penghikutnya dalam thareqat.
Habib Muhsin Belajar Thareqat Naqsyabandiyah dari beberapa guru . Pertama-tama kepada kiai Sirajuddin, kemudian Kiai Fhathul Bari dan akhirnya kepada kiai Syamsuddin . Dua guru yang pertama meninggal dunia sebelum Habib Muhsin menerima ijazah sebagai khalifah, dan gurunya yang ketigalah yang menunjuknya , Habbib Muhsin juga pernah meminta bimbingan ruhani kepada guru Naqsyabandiyah lain yang namanya sangat terkenal di Madura ,kiai Ali Wafa dari Ambuten.
Ia juga meminta ijazah dari dua khalifah kiai Fhathul Bari , yaitu kiai Zainal Abidin dan kiai Mahfudzh.
Di sebutkan pula , Habib Muhsin berkhalwat di mana secara ruhaniah ia menembus sedalam mungkin rahasia perjalanan tasawuf di bawah bimbingan syaikh Thareqat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang sangat di kenal. Haji Jalaluddin Dari Bukit tinggi.
Setelah di akui sebagai Guru (Mursyid) Habib Muhsin dalam waktu singkat jauh mengungguli para guru Thareqat Naqsyabandiah lainnya.
Ia menerbitkan ulang Risalah singkat yang di tulis Kiai Abdul Azhim Al-Manduri (yang ternyata merupakan terjemahan bahasa melayu dari sebuah risalah yang di tulis oleh syaikh Muhamad Shalih Az-Zawawi untuk para muridnya yang berada di indonesia) dan juga menulis beberapa buku kecil.
Sekitar pertengahan tahun 1970-an, Habib Muhsin di anggap sebagai Ulama Kalimantan Barat yang paling luas pengtahuannya, dan juga paling berpengaruh , tidak hanya di kalangan orang Madura yang tinggal dikalimantan, tetapi juga di kalangan pemeluk Islam lainnya. Hal ini di ungkap oleh Martin van Bruinessen dari pendapat sejarawan Malaysa H. Wan Muhammad Shaghir Abdullah yang pada tahun-tahun tersebut memimpin sebuah pondok di Mempawah, Kalimantan Barat.
Pengaruhnya juga terus meluas tidak lagi terbatas pada daerah Madura dan Kalimantan Barat saja. Tetapi juga pada berbagai komunitas pengikutnya yang mengembangkan diri di tempat lain . di antaranya di Banjarmasin dan Ujung Pandang.
Mencair Kembali
Habib Muhsin menghabiskan umurnya di jalan dakwah. Sekalipun ia kelahiran Sumenep ,lahan dakwahnya lebih banyak berada di Kalimantan, khususnya di Pontianak, Kalimantan Barat. memang banyak orang Madura yang bermukim di kalimantan, bahkan sudah beberapa generasi.
Diperkirakan, ada sekitar 180 Masjid dan langgar binaannya, terutama yang terdapat di sepanjang sungai di Pontianak. Setiap kali ia keluar dari Sumenep berangkat ke Pontianak,biasanya pulang kembali ke rumah di Sumenep dalam tempo empat sampai lima bulan.
Setengah bulan di rumah, beristirahat dan menemui sanak keluarganya, ia kembali lagi ke daerah lainnya, seperti di Banjarmasin, atau terkadang ke ujung padang. Demikianlah kehidupan yang dijalani Habib Muhsin waktu demi waktu.
Seperti yang diungkap oleh Habib Ali, salah satu putra Habib Muhsin, setelah Habib Muhsin terjun secara total dalam dunia dakwah, belum pernah Habib Muhsin ini ada di rumah di Sumenap selama sebulan penuh, kecuali pada bulan ramadhan saja. Bila Ramadhan datang, ia khususkan bulan itu untuk beribadah dan berkumpul bersama keluarganya di rumah. Tapi bukan berarti ia menutup pintu dari kedatangan murid-muridnya yang selalu ingin mendatanginya untuk, menimba ilmunya. Setiap malam selesai tarawih, biasanya ia membuka mejelis rauhah dengan membaca kitap Ihya’ Ulumiddin, karya Al-Ghazali, dan kitap Al-Hikam, karya Ibn Atha’illah.
Peneliti Belanda Martin Van Bruinessen, dalam bukunya kitab kuning, pesantren, dan tarekat, menyebutkan, popularitas Habib Muhsin menyurut ketika ia mengambil pilihan untuk masuk Golkar pada masa menjelang Pemilu 1977.
Memang, pilihan itu sepenuhnya ia sadari mengandung risiko yang tidak kecil. Tetapi ia mempunyai pertimbangan sendiri dengan memperhatikan banyak hal dari segala sisi. Sebagaimana yang dituturkan Habib Muhammad, putra tertua Habib Muhsin, hal terpenting yang di perhatikan ayahnya adalah gerak langkah dakwahnya yang harus dapat terus berjalan mulus ke pelosok terpencil manapun adanya.
Pengalaman sebelumnya yang ia dapat saat berdakwah ke berbagai pelosok , hampir selalu ia mengalami berbagai hal yang membuatnya merasa ruang gerak dakwah menjadi sangat terbatas. Dari mulai sekedar interogasi sampai intimidasi ia terima tiap kali ia mendatangi pelosok-pelosok daerah Kalimantan. Maklum saja , memang begitulah kondisi zaman pada saat itu.
Setelah masuk Golkar, di satu sisi Habib Muhsin mendapat banyak kecaman, tapi disisi lain ia memperoleh keleluasaan gerak dalam dakwahnya. Konon ia mendapat surat izin untuk dapat berdakwah di seluruh pelosok Nusantara. Dan itu berlaku selama seumur hidup. Bahkan tidak jarang kepala daerah di daerah yang ia datangi menyambutnya dengan penuh kehangatan. Ia pun berpikir, mereka ini juga adalah sasaran dakwahnya. walau dengan berbagai resiko yang ia terima dengan pilihannya itu, yang terpenting baginya, gerak langkah dakwahnya tidak lagi terhambat.
Pilihan yang diambil Habib Muhsin memang pilihan yang sangat tidak populer pada masa itu. Kalau ia hidup di zaman sekarang, pilihan untuk aktif di mana pun tidak akan lagi jadi masalah. Pandangannya memang pandangan yang jauh ke depan. Baginya, pilihan dalam dunia politik adalah masalah duniawi yang tidak ada hubungannya dengan kualitas keberagaman dirinya.
Uniknya, sekalipun sudah masuk pada kekuatan politik itu, ia hampir tidak pernah terlibat sama sekali, baik sekedar menghadiri acara-acaranya, apalagi berada dalam kepengurusan atau ditunjuk sebagai semacam penasehat. Bahkan kalau pemilihan umum sedang diselenggarakan, ia mengambil undangan dakwah ke satu daerah yang tergolong paling pelosok, dimana panitia pemilihan umum pada saat itu belum menjangkau daerah itu.
Pilihan Habib Muhsin memang sekadar kiat darinya untuk mensiasati ruang gerak dakwahnya.
Pada awalnya, pilihannya itu jelas mendapat tantangan yang luar biasa besar. Banyak pihak yang mulai menjauhinya, bahkan sebagian dari jama’ahnya sendiri perlahan-lahan mundur teratur darinya. Tapi lama-kelamaan kondisinya pun mencair kembali seperti semula.

Perjalanan Terakhir
Habib Muhsin dikenal memiliki jiwa seorang yang dermawan. Dalam hidupnya tak terhitung banyaknya orang yang diangkatnya sebagai anak asuhnya. Anak-anak asuhnya itu diperlakukan sebagaimana ia memperlakukan anak kandungnya. Mereka diberi hadiah pakaian dengan pakaian yang sama seperti yang ia berikan kepada anak-anak kandungnya sendiri. Mereka dibiayai hidupnya oleh Habib Muhsin bukan hanya di masa kecilnya, tapi juga sampai menuntaskan pendidikan mereka kejenjang yang tertinggi. Bahkan sampai mereka menikah pun, Habib Muhsin terlibat dalam kepengurusannya dan pembiayaannya.
Sebagai seorang tokoh tarekat, Habib Muhsin juga dikenal sebagai orang yang memiliki rasa tawakkal kepada Allah SWT yang amat mendalam.
Suatu saat, salah seorang putranya pulang dari sekolah lebih pagi dari biasanya. Ketika ditanyakan kepada putranya perihal kepulangannya itu, sang putra menjawab bahwa gurunya di sekolah memulangkannya karena sudah beberapa bulan ia belum membayar uang sekolah.
Sekalipun Habib Muhsin adalah seorang tokoh besar di zamannya, kehidupan keluarganya memang kehidupan yang sederhana. Wajar saja bila sekadar uang bayaran sekolah anaknya pun sempat tak terbayarkan olehnya.
Habib Muhsin tidak gusar sedikit pun. Dengan tenang ia mengatakan, “Ya sudah, tunggu saja disini. Insya Allah sebentar lagi ada.”
Tidak lama setelah Habib Muhsin mengatakan itu, tiba-tiba ada orang yang menyampaikan kabar tentang adanya wesel untuk Habib Muhsin di kantor pos.
Habib Muhsin kemudian mengatakan “sekarang kamu ambil wesel itu di kantor pos , dan bayarkan ke sekolah untuk uang sekolah kamu itu.”
Sekali waktu, kondisi kesehatan Habib Muhsin sedang terganggu, Tetapi jadwal dakwahnya menuntutnya untuk harus segera berangkat lagi ke Pontianak. Saat itu keluarga banyak yang berharap dan meminta kepadanya untuk mengurungkan rencana dakwahnya kali itu. Kekhawatiran terlihat di mata mereka saat menyaksikan kondisi kesehatan Habib Muhsin yang tampaknya tidak memungkinkan untuk berangkat pada saat itu.
Namun semangat dakwah Habib Muhsin tak luntur oleh karena kondisi kesehatannya yang tidak prima. Ia tetap berketetapan hati untuk berangkat. Yang ada dalam pikirannya pada saat itu tak lain kecuali rasa kasihan kepada murid-murid yang merindukan dirinya dan mengharapkan kedatangannya segera. Tetapi, ia pun tak ingin mengecewakan harapan keluaraganya.
Maka, demi mendengar permintaan keluarganya itu, Habib Muhsin mengatakan, “baiklah. Saya janji , ini perjalanan saya terakhir.... kalau nanti murid-murid saya kangen kepada saya, biar mereka saja yang kesini.”
Sabtu sore , 3 mei 1980 , tak lama setelah setelah keberangkatannya ke Pontianak , terdengarlah kabar , Habib Muhsin Wafat.
Pihak keluarga pun segera mengutus Habib Muhamad bin Ali Al-hinduan untuk mengurus pemberangkatan jenazah Habib Muhsin ke Madura.
Menunggu kedatangan Jenazah Habib Muhsin , puluhan ribu warga tampak menyemut di sumenep. Belum pernah terjadi fenomena berkumpulnya orang sedemikian banyak saat wafatnya seseorang melebihi banyaknya orang berkumpul pada saat menunggu kedatangan jenazah Habib Muhsin.
Minggu menjelang Magrib , jenazah sampai di rumah. Sekitar ba'da isya, jenazah Habib Muhsin pun dimakamkan di sebuah pemakaman umum di kota sumenep.
Banyak pihak menawarkan agar Habib Muhsin di makamkan di satu area pemakaman khusus. Tapi berdasarkan permintaan Habib Muhsin sendiri,permintaan itu tidak dapat di kabulkan. Habib Muhsin ingin jasadnya di makamkan bersama masyarakat umum lainnya.
Rupanya, ini lah yang di maksud oleh Habib Muhsin sebagai perjalan terakhir inilah pula yang ia maksud bahwa bila murid-muridnya kangen kepada diri nya , biar mereka yang mendatangi nya di Sumenep.

Sumber :
Majalah Al-Kisah edisi 17 Ramadhan 1430 H

WALI LIMA MARTAPURA Kubah Wali Lima merupakan makam keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan), yang sebelumnya dinamakan makam keluarga atau Makam almarhum Guru Rosyad dan Guru H. Ibad. Namun, karena ada lima ulama kenamaan yang dimakamkan di sana, sehingga masyarakat memberi nama Kubah atau Makam Wali Lima. Wali Lima itu di antaranya KH Abdurrahman atau Tuan Haji Adu, KH Ahmad Zaini, KH Husain Qodri, KH Badaruddin (Guru Ibad) dan KH Muhammad Rosyad.

 KUBAH WALI LIMA MARTAPURA


Kubah Wali Lima merupakan makam keturunan dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan), yang sebelumnya dinamakan makam keluarga atau Makam almarhum Guru Rosyad dan Guru H. Ibad.

Namun, karena ada lima ulama kenamaan yang dimakamkan di sana, sehingga masyarakat memberi nama Kubah atau Makam Wali Lima. Wali Lima itu di antaranya KH Abdurrahman atau Tuan Haji Adu, KH Ahmad Zaini, KH Husain Qodri, KH Badaruddin (Guru Ibad) dan KH Muhammad Rosyad.

SYEIKH NURUDDIN AL-BANJARI AL-MAKKI Ulama Tanah Banjar

  SYEIKH NURUDDIN AL-BANJARI AL-MAKKI Ulama Tanah Banjar

al-Fadhil Tuan Guru Syaikh Muhammad Nuruddin bin Haji Marbu bin Abdullah Thayyib حفظه الله berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan Indonesia. Beliau dilahirkan di sebuah desa bernama Harus, Amuntai pada tanggal 1 September 1960M. Beliau anak yang ketiga dari tujuh bersaudara, dari sebuah keluarga yang taat beragama. Bonda beliau bernama Hajjah Rahmah binti Haji Muhammad Sobri adalah puteri dari seorang tokoh ulama besar di Kalimantan Selatan.
Berhijrah ke Tanah Suci Mekah..
Beliau mendapat pendidikan awal di sekolah rendah di kampung Harus. Kemudian pada tahun 1974 beliau belajar di pondok pesantren Normal Islam. Belum pun sempat menamatkan pengajiannya di pondok tersebut seluruh keluarga beliau telah berhijrah ke tanah suci Makkah. Pada tahun itu juga (1974) beliau meneruskan pengajiannya di madrasah Shaulathiah [sejarah penubuhan madrasah ini boleh didapati disini] sehingga tahun 1982. Selain itu beliau juga mengikuti pengajian yang diadakan umum di Masjidiharam dan juga dirumah para masyaikh. [ pernah aku menziarahi Madrasah Shaulatiah yang tidak jauh dari Masjidil Haram ketika menunaikan haji tahun lepas, aku dikhabarkan madrasah tersebut akan diroboh bagi tujuan membesarkan Masjidil Haram..]
Pada tahun 1982 beliau telah menamatkan pengajiannya dengan kepujian mumtaz (cemerlang) di madrasah Shaulathiah. Di samping itu juga beliau turut mencurahkan ilmunya kepada para pelajar dari Indonesia. Beliau telah mengajarkan kitab Qatrunnada, Fathul Mu’in, ‘Umdatussalik, Bidayatul Hidayah dan lain-lain sebelum naik ke kelas ‘Aliyah.
Beliau merupakan murid kesayangan gurunya asy-Syaikh al-‘Allamah Ismail Utsman Zain al-Yamani رحمه الله . Dan guru inilah yang banyak mewarnai dalam kehidupan beliau. Tuan guru beliau ini banyak meluangkan waktunya yang berharga untuk beliau dan sering mengajaknya untuk menemani Tuanvguru beliau ke Madinah menghadiri program agama dan juga menziarahi maqam baginda Rasulullah صلى الله عليه وسلم.
[Ketika aku di Bogor setelah selesai Multaqo Ulama di Puncak, saat ziarah mahabbah al-Habib Umar dan Syeikh Muhammad anak kepada guru kesayangan beliau.. kelihatan Syeikh Nuruddin sebak kerana sangat gembira kerana zuriat gurunya datang ke maahad beliau, juga buat pertama kali guru mulia alHabib Umar datang ke maahad beliau. Nama pondok beliau sendiri dinamakan sempena nama guru beliau.]
Beliau mencurahkan segala usaha dan tenaganya serta dirinya mendekati para masyaikh untuk berkhidmat dan juga membekali diri dengan ilmu daripada guru-gurunya. Beliau amat gigih dalam belajar, maka tidak hairanlah kalau beliau mendapat tempat di hati para gurunya. Sebut sahaja ulama’ yang ada di Mekah khususnya pasti beliau pernah berguru dengan mereka. Siapa yang tidak mengenali tokoh ulama’ yang harum nama mereka disebut orang semisal Syaikh al-Allamah Hasan al-Masyath yang digelar Syaikh-ul-Ulama’, Syaikh al-Allamah Muhammad Yasin al-Fadani, yang mendapat julukan Syaikhul Hadits wa Musnidud-dunya, Syaikh Ismail Usman Zin al-Yamani yang digelar al-Faqih ad-Darrakah (guru beliau ini menghafal kitab Minhajut Tholibin), Syaikh Abdul Karim Banjar, Syaikh Suhaili al-Anfenani, as-Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, Syaikh Said al-Bakistani dan masih banyak lagi. Kata pepatah arab “cakap sahaja tanpa perlu khuatir”. Kitab-kitab yang dipelajari beliau bersambung sanad hingga kepada pengarang, masyaAllah betapa hebat dan beruntungnya umur beliau dan segala-galanya yang diberikan oleh Allah, tidak salah kalau dikatakan ilmu beliau lebih tua dari umurnya.
Pada tahun 1983 beliau telah melanjutkan pengajiannya di Universiti al-Azhar asy-Syarif dalam bidang syariah hingga mendapat gelar sarjana muda. Kemudian beliau meneruskan lagi pengajiannya di Ma’had ‘Ali Liddirasat al Islamiah di Zamalik sehingga memperolehi diploma am “Dirasat ‘Ulya” pada tahun 1990
Antara guru-gurunya ketika belajar di Mekah dan Mesir adalah adalah:-
asy-Syaikh al-‘Allamah Hasan al-Masyath رحمه الله
asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad Yasin al-Fadani رحمه الله,
asy-Syaikh al-‘Allamah Ismail Utsman Zain al-Yamani al-Makki رحمه الله,
asy-Syaikh ‘Abdullah Said al-Lahji رحمه الله,
asy-Syaikh al ‘Alaamah al-Jalil as-Sayyid ‘Amos رحمه الله
asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad ‘Iwadh al-Yamani رحمه الله
asy-Syaikh Zakaria Bila al-Indonesia رحمه الله
asy-Syaikh Muhammad Syibli al-Banjari رحمه الله
asy-Syaikh Karim al-Banjari رحمه الله
asy-Syaikh ‘Abdul Karim al-Bukhari رحمه الله
asy-‘Adnan al-Afnani رحمه الله
asy-Syaikh Saifurrahman رحمه الله
asy-Syaikh Sahili al-Anfanani رحمه الله
asy-Syaikh Said al-Bakistani رحمه الله
asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits al-Kabir Muhammad Zakaria al-Kandahlawi رحمه الله
asy-Syaikh al-Jalil al-Habib ‘Abdul Qadir as-Saggaf حفظه الله
asy-Syaikh Muhammad Muntashir al-Katani al-Maghribi رحمه الله
asy-Syaikh al-‘Allamah al-Muhaddits al-Habib as-Sayyid Muhammad ‘Alawi al-Maliki رحمه الله
asy-Syaikh al-‘allamah Muhammad Makki al-Hind رحمه الله
asy-Syaikh Muhammad Makhluf رحمه الله
asy-Syaikh al-‘allamah ‘Abdullah bin Hamid رحمه الله
asy-Syaikh al-‘Allamah al-Kabir Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi رحمه الله
asy-Syaikh al-Imam al-Akbar ‘ali Jadul Haq رحمه الله
asy-Syaikh Muhammad Zaki Ibrahim رحمه الله
al-Ustaz ad-Doktor asy-Syaikh Muhammad Tayyib an-Najjar رحمه الله
asy-Syaikh al-Jalil ar-Rabbani Muhammad ‘Abdul Wahid رحمه الله
asy-Syaikh al-‘allamah al-Kabir Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi رحمه الله
asy-Syaikh al-‘Allamah al-Faqih ‘atiyyah Saqr رحمه الله
asy-Syaikh al-‘Allamah Hussin رحمه الله
asy-Syaikh ‘Abdul Hafidz al-Hind رحمه الله
al-Ustadz ad-Doktor Ahmad umar Hasyim حفظه الله,
al-Ustadz ad-Doktor ‘Abdusshobur Syahin
al-Ustadz ad-Doktor ‘Abdul Fattah asy-Syaikh,
al-Ustadz ad-Doktor Nashr Farid,
asy-Syaikh al-‘Arifbillah Yusuf Mahyuddin al-Hasani asy-Syadhuli ad-Darqawi حفظه الله dan ramai lagi.
MENABUR JASA & MENYANDANG GELAR AZHARUS TSANI
Setelah menamatkan pengajian di Universiti al-Azhar beliau menumpukan perhatiannya untuk mencurahkan ilmunya kepada ribuan para pelajar yang datang dari Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia, Singapura dan Thailand yang menuntut di Universiti al Azhar sehingga beliau mendapat gelaran al Azharus Tsani (Azhar ke Dua) satu julukan yang terhormat dan tulus dari masyarakat universiti al Azhar sendiri.
Beliau mengadakan kelas pengajian yang diberi nama “Majlis Al-Banjari Littafaqquh Fiddin” semenjak tahun 1987 sehingga 1998 yang mana buat pertama kalinya diadakan di rumah pelajar Johor dan rumah pelajar Pulau Pinang, di dewan rumah Kedah dan di dewan rumah Kelantan dan juga di masjid Jamik al Path di Madinah Nasr. Di samping mengajar beliau juga menghasilkan kitab-kitab agama berbahasa Arab dalam pelbagai bidang yang banyak tersebar luas di Timur Tengah dan juga di negara Malaysia. Boleh dikatakan setiap para pelajar yang belajar di Al-Azhar Mesir semasa beliau berada di sana pernah menimba ilmu dari tokoh ulama’ muda ini. Dan memanglah semenjak dari awal keterlibatannya dalam dunia ta’lim beliau telahpun menazarkan diri beliau untuk terus menjadi khadim (orang yang berkhidmat) untuk penuntut ilmu agama. Semoga Allah Ta’ala mengurniakan kesihatan dan ke’afiaatan kepada beliau serta keluarganya dan memberikan kesempatan yang seluasnya untuk beliau terus mencurahkan ilmu dan terus menghasilkan karya ilmiah.
MENGHASILKAN KARYA ILMIAH
Beliau telah melibatkan diri dalam dunia penulisan semenjak tahun 1991. Beliau telah menghasilkan karangan dan juga mentahqiq kitab-kitab mu’tabar tidak kurang daripada 50 buah karangan kebanyakkannya dalam bahasa Arab.
Kitab tulisan beliau:
Masalah utama haid dan pernafasan
Pertanyaan, kecurigaan, dan keraguan terhadap mukjizat Isra'ah dan Isra Mi'raj serta menyikapinya
Al-Mukhtar tentang suku-suku Arab dan adat istiadatnya
عدب المصافحة
Siapakah Al-Mahdi Al-Natihar?
Bidang ekonomi dalam Islam
Pernyataan Mufti Republik Mesir tentang Kemanfaatan Bank dalam Keseimbangan Ilmu Pengetahuan Rakyat
perjalanan wanita
Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan
informasi Anda
Pengoperasian Perangkat Lunak Manajemen Risiko
احمك العدة في الإسلام
Pendapat ulama tentang masalah perpindahan anggota
Layanan Pelanggan dan Layanan Pelanggan
Perintah dan larangan munkar dalam kitab dan sunnah
Al-Abra dengan beberapa mukjizat orang baik, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian
Muhammad Noor Al-Din Merbu Al-Banjari Al-Makkai dan Al-Ahadith Al-Massalsa
Al-Jawhar Al-Hassan dari Ahadits Sayyidna Utsman Affan radhiyallahu 'anhu
Perlindungan Hutang yang Dapat Diserap dengan Baik
Manajemen Risiko yang Tidak Dapat Dihindari
Perlindungan Lingkungan dan Keamanan Rumah Tangga yang Dapat Disewakan
الكواكب الدري من احاديث سيدنا ابي سعيد الخدري رضي الله عنه
Al-Kawakb al-Aghar dengan beberapa hadits Sayyed Abdullah bin Omar, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian
Apa yang Harus Dilakukan Jika Anda Tidak Dapat Melakukannya?
Al-Quttabs dari Hadits Sayyed Abdullah bin Abbas, semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian
Apa yang Harus Dilakukan Saat Ini?
Penolakan beserta alasan dan ketentuannya
Tawfiq al-Bari untuk menjelaskan dan melengkapi permasalahan klarifikasi Imam Nawawi
Tempatnya ilmu dan ulama serta akhlaknya para ulama
dan masih banyak lagi
Diantara kitab-kitabnya dia tahqiq dan ta'liq
Pesan belas kasihan
Perlindungan Hutang dan Perlindungan Hutang
Layanan Keamanan Rumah Tangga
Syarat Haji bagi yang lain
Hassan al-Basri
pendirian haji ghaly bahwa peningkatan ibadahnya tidak buruk
Ciri-ciri Nabi صلى الله عليه وسلم
يستان العرفين
dan masih banyak lagi
MAJLIS PENGAJIAN BELIAU Dl TANAH AIR MALAYSIA
Pada tahun 1998 beliau telah diperlawa untuk mengajar di Maahad Tarbiah Islamiah (MTI), Derang Kedah, yang diasaskan oleh al-Marhum Ustaz Niamat Bin Yusuf رحمه الله pada tahun 1980. Beliau tidak ubah umpama hujan yang menyuburkan bumi yang lama kehausan siramannya. Beliau menetap di MTI Derang hinggalah tahun 2002. Beliau merupakan tenaga pengajar yang utama lagi disegani yang banyak memperuntukkan masa beliau untuk para pelajar di Maahad ‘Ali Littafaqquh Fiddin, Derang.
[gambar sebelah ini adalah gambar Shaikh Hasan al-Masyath]
Di samping itu beliau juga dijemput mengadakan pengajian dan ceramah bulanan atau mingguan di masjid-masjid, sekolah-sekolah. majlis-majlis perayaan agama malah suara beliau telah lantang bergema menyampaikan syiar agama di hotel-hotel, di pejabat kerajaan sama ada di negeri Kedah Pulau Pinang, Perak, Kelantan dan Terangganu. Setiap kali pengajian yang diadakan pasti akan bertambah jumlah hadirin yang tidak mahu ketinggalan menimba ilmu dan menerima siraman rohani daripada beliau. Selepas 4 tahun menabur bakti di bumi Kedah beliau telah pulang ke tempat asal kelahirannya untuk menubuhkan pesantren beliau sendiri di Kalimantan dan seterusnya pada tahun 2004 beliau menubuhkan Maahad az-Zein al-Makki al-‘Ali Litafaqquh Fiddin di Ciampiea, Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Dan disinilah beliau menetap dan mendiri bakal ulama.
KELEBIHAN BELIAU..
Yang pertama dan utama adalah beliau selalu istiqamah dalam apa jua yang dikerjakannya. Beliau mempunyai semangat yang luar biasa tinggi, tegas dengan prinsip dan berdisiplin tinggi, berwibawa, bersemangat ketika menyampaikan ilmu. Diantara kelebihan beliau lagi walaupun banyak kelebihan beliau yang lain iaitu beliau tidak pernah kelihatan letih walaupun jauh dan lama masa mengajar, banyak tempat pengajian yang beliau hadiri dan juga kelebihannya lagi pasti ada perkara baru yang disampaikan oleh beliau dalam pengajarannya. Adapun kehebatan beliau dalam menyampaikan ilmu mengaitkan masalah semasa dengan apa yang disampaikannya sungguh amat luar biasa dan amat member kesan sekali kepada para hadirin. Beliau bukan sahaja mencurahkan ilmu kepada muridnya bahkan terlebih utama lagi beliau memberi didikan adab semasa belajar. Itu merupakan fadhlun minallah kepada hamba-hambanya yang bertaqwa kepadanya.
[gambar diatas ialah gambar Shaikh Yasin al-Fadani. Salah satu daripada sanad hadits musalsal yang dikontroversikan oleh bekas Mufti Perlis yang Syeikh Nuruddin terima dari Syeikh Yasin]
IRSYADAT AL FADHIL
(Petikan ucapan sulung al-Fadhil Syeikh Muhammad Nuruddin hari pertama pengajian di kelas al-Ma’hadul ‘Ali Lit Tafaqquh Fiddin Derang, Kedah – pada hari Itsnin 9 Ramadhan 1419H bersamaan 28 Disember 1998 M.)
Jangan tersilau dengan gelar PhD atau MA dan sebagainya. Penubuhan al Ma’hadul ‘All Littafaqquh Fiddin ini untuk mendapat redha Allah dan membawa misi dan visi Nasratu Dinillah Taala dan adda‘watu ilallah Menuntut ilmu untuk menolong agama Allah, bukan untuk sijil, syahadah atau untuk dunia serta pangkat.
Terlalu murah kalau dengan ilmu hanya untuk mendapat gaji lumayan. Kalau belajar hanya untuk duit akan terhenti dengan duit, dapat duit tinggal ilmu.
Tanggungjawab kita lah terhadap ilmu di tanahair khususnya dan seluruh dunia umumya.
Siapkan diri untuk berkorban demi ilmu, agama. Ilmu untuk agama dan akhirat.
Bekerjalah untuk Islam, jangan biarkan musuh Islam mengukut tanah umat Islam dikeranakan ulama kita tidur sedang kita asyik bertengkar sesama sendiri.
Jadilah ‘abidan lillah (hamba kepada Allah jangan ‘abidan li makhluk (hamba kepada makhluk). Menuntut ilmu harus ikhlas baru berkat.
Berakhlaklah dengan guru yang kita mengaji dengannya. Mohon restu guru, dekati dan dampingi mereka merupakan kunci dan rahsia keberhasilan.
Hormatilah kitab-kitab, susun dengan baik dan terhormat, jangan letak sesuatu di atas kitab, membawa kitab jangan seperti menenteng ikan sahaja, dakapkan ke dada.
Akhlak juga harus besar sebagaimana besarnya kitab-kitab yang kita pelajari dan beramallah, jangan sampai belajar di kelas Tafaqquh tapi tak berminat untuk beramal.
Saya bukan seperti kebanyakan guru silat yang menyimpan langkah-langkah atau jurus-jurus maut yang mematikan dari diketahui murid-murid.
wahai Allah! berkatilah guru kami ini.. temukanlah kami dengan mereka yang menunjukkan ke jalan-Mu.. amin Allumma amiin…
peribadinya berzikir, zikir menjadi keperibadiannya.. Allah tujuannya, Rasulullah s.a.w teladan dalam hidupnya. Dunia ini menjadi syurga sebelum syurga sebenarnya.. bumi menjadi masjid baginya.. tempat ia berpijak hamparan sejadah baginya.. Kalau dia berbicara, bicaranya ilmu dan dakwah. Kalau dia berdiam,diamnya zikir.. nafasnya tasbih, matanya penuh rahmat Allah, penuh kasih sayang. telinganya terjaga fikirannya baik sangka. hatinya.. subhanallah! diam-diam berdoa. tangan bersedeqah, kakinya berjihad ia tidak mahu melangkah sia-sia. kekuatannya silaturrahim. Kerinduannya ialah tegaknya kalimah Allah, sabar pakaiannya

KH.ABDUL WAHID AL MAKKI AL BANJARI, Pimpinan Pondok pesantren Darul Hidayah Barabai

 *KH.ABDUL WAHID AL MAKKI AL BANJARI*


Pimpinan Pondok pesantren Darul Hidayah Barabai
Tuan Guru Abdul Wahid al-Makki al-Banjari adalah salahseorang ulama yang ada di kota Barabai Hulu Sungai Tengah. Beliaudilahirkan di Barabai tahun 1949. Beliau merupakan anak keduadari 12 bersaudara. Nama dan silsilah beliau secara lengkap adalahHaji Abdul Wahid bin Haji Anwar Zaini bin Ahmad Zaini bin HajiMuhammad Ali. Singkat HAZ di belakang nama beliau merupakan singkatan dari nama ayahnya, yaitu Haji Anwar Zaini. Sedang ibunya bernama Fatimah binti Muhammad Semman. Dari pihak ayah, silsilah beliau sampai kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Ahmad bin Pangeran Diponegoro. Silsilahnya dengan Syekh Muhammad Arsyad adalah Abdul Wahid bin Anwar Zaini bin Nursamahbinti Abu Bakar bin Maimunah binti Qaddhi Ahmad Barabai binHanifah bin Anang Mahmud bin Sari binti Khalifah Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.Tuan Guru Abdul Wahid menikah dengan Juwairiah bintiHaji Ahmad Abdul Hadi ketika beliau sedang menuntut ilmudi Makkah. Neliau dikaruniai lima orang anak. Salah satunyameninggal di Makkah ketika kecil. Keempat anaknya yang masihhidup adalah Muhammad Makki, Siti Aminah, Siti Maimunah, danHamidah. Mereka semua merupakan guru-guru yang mengajar diMa’had (Pesantren) Darul Hidayah Barabai.
pada usia 21 tahun beliau berangkat ke Makkah al-Mukarramah bersama orang tuanya untuk menuntut ilmu agama. Di kota suci umat Islam ini beliau tinggal selama 10 tahun, dari 1970 hingga 1980.
Di antara guru-gurunya tempatnya belajar selagi masih di
Barabai adalah Habib Muhammad, Haji As’ad, Haji Ra’iy, Haji
Abdurrahman. Sementara guru-gurunya di Makkah adalah Syekh
Hasan Muhammad al-Masysyath (w. 1399 H), Syaikh Yasin al-Fadaniy (w. 1410 H), Syaikh Ismail ‘Utsman Zein al-Yamani al-
Makki (w. 1414 H), Syaikh Abdullah bin Sa’id al-Lahji (w. 1408 H),
Syaikh Muhammad Iwadh al-Yamani, Syaikh Zakariya Bila, Syaikh
Muhammad Syibli, Syaikh Abdul Karim al-Banjari, Syaikh Adnanial-Afghani, Syekh Abdul Karim al-Bukhari, Syekh Saifurrahman,Syaikh Suhaili al-Maghribi, Syaikh Sa’id al-BakistaniSyekh Sayyid‘Alawi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Sayyid Muhammad bin Alawi
al-Maliki, Syaikh Muhammad Yahya Aman al-Makki, Syaikh SayyidMuhammad al-Arabi al-Falistini, Syaikh Hasan Sa’id al-Yamani,
Syaikh Muhammad Nur Saif, Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi,
Syaikh Jabir al-Yamani, Syekh Sayyid Umar al-Yamani, SyaikhMuhammad Ali al-Yamani, Syaikh Sayyid Hasan al-Qadri,Syaih
Muhammad Makki al-Fakistani al-Hindi.
Tuan Guru Abdul Wahid termasuk ulama yang zuhud danwara`. Beliau tidak mengejar popularitas sehingga undangan danpermintaan agar beliau tampil atau pengajian beliau ditampilkandi televisi lokal atau dimuat di surat kabar beliau tolak denganhalus. Beliau juga tidak berkenan menerima bantuan dana yangtidak jelas sumbernya dan kehalalannya meskipun itu berasal daripejabat pemerintah.
beliau juga membuka majelis taklimdi Masjid Darul Hidayah dan di rumah beliau. Di majelis ini beliaumengajarkan kitab-kitab mu’tabar dan juga mengajarkan kitabatau risalah yang beliau tulis sendiri. Jadwal pengajian beliaudalam seminggu cukup padat, ada yang dilaksanakan pada waktupagi, sore dan adapula yang dilaksanakan malam hari. Pengajianbeliau dihadiri masyarakat umum dan santri baik laki-laki maupunperempuan. Di antara kitab mu’tabar yang beliau ajarkan adalah
Ihya` ‘Ulum ad-Din
karya Imam al-Ghazali dan
Nasha`ih al-‘Ibad
karya Syekh Nawawi al-Bantani. Sementara kitab atau risalah yangmerupakan karya beliau sendiri yang diajarkan di pengajian diantaranya adalah
Qawl al-Hidayah, Subul an-Najah, Shawt al-Hidayah,Thuruq as-Salamah
, dan
Dhiya` al-Qulub
karya tulis beliau :
Karya tulis Tuan Guru Abdul Wahid cukup banyak karenabeliau termasuk ulama Banjar kontemporer yang produktifmenulis. Beliau telah menghasilkan karya dalam berbagai disiplinkeislaman. Di antara karya-karya tulis beliau adalah:
1) Nasha`ihad-Diniyyah wa Qiyadah ash-Shalihin
2) Nur al-‘Ibadah Dawa`al-Qulub
3) Shawt al-Hidayah Mukhtashar Ma’rifah Waliy Allah al-Haqq wa an-Nafs
4) Dhiya` al-Qulub wa al-‘Uqul Mukhtashar Bayan al-Halal wa al-Haram wa Syubhah ‘ala al-Islam
5) Subul an-Najah Mukhtashar Bayan al-‘Amilin Dunya
6) Thuruq as-Salamah
7) Qawl al-Mukhtar Ushul at-Tafsir
😎 Is’af al-Fiqh al-Islamiy
9) Tadzkirah al-Lisan min al-Ahadits al-Mawdhu’ah ‘ala Sayyid al-Basyar
10) Qiyadah al-‘Ubudiyyah
11) At-Tafsir li Ibn Anwar Zayni
12) Risalah al-Ka’bah al-Musyarrafah
13) Wadh’ al-Murtafa’ Masa`il al-
Ma`mum wa al-Imam
14) Qawl al-Hidayah

KH.ABDUL WAHID AL MAKKI AL BANJARI, Pimpinan Pondok pesantren Darul Hidayah Barabai

 *KH.ABDUL WAHID AL MAKKI AL BANJARI*

Pimpinan Pondok pesantren Darul Hidayah Barabai
Tuan Guru Abdul Wahid al-Makki al-Banjari adalah salahseorang ulama yang ada di kota Barabai Hulu Sungai Tengah. Beliaudilahirkan di Barabai tahun 1949. Beliau merupakan anak keduadari 12 bersaudara. Nama dan silsilah beliau secara lengkap adalahHaji Abdul Wahid bin Haji Anwar Zaini bin Ahmad Zaini bin HajiMuhammad Ali. Singkat HAZ di belakang nama beliau merupakan singkatan dari nama ayahnya, yaitu Haji Anwar Zaini. Sedang ibunya bernama Fatimah binti Muhammad Semman. Dari pihak ayah, silsilah beliau sampai kepada Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Ahmad bin Pangeran Diponegoro. Silsilahnya dengan Syekh Muhammad Arsyad adalah Abdul Wahid bin Anwar Zaini bin Nursamahbinti Abu Bakar bin Maimunah binti Qaddhi Ahmad Barabai binHanifah bin Anang Mahmud bin Sari binti Khalifah Zainuddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari.Tuan Guru Abdul Wahid menikah dengan Juwairiah bintiHaji Ahmad Abdul Hadi ketika beliau sedang menuntut ilmudi Makkah. Neliau dikaruniai lima orang anak. Salah satunyameninggal di Makkah ketika kecil. Keempat anaknya yang masihhidup adalah Muhammad Makki, Siti Aminah, Siti Maimunah, danHamidah. Mereka semua merupakan guru-guru yang mengajar diMa’had (Pesantren) Darul Hidayah Barabai.
pada usia 21 tahun beliau berangkat ke Makkah al-Mukarramah bersama orang tuanya untuk menuntut ilmu agama. Di kota suci umat Islam ini beliau tinggal selama 10 tahun, dari 1970 hingga 1980.
Di antara guru-gurunya tempatnya belajar selagi masih di
Barabai adalah Habib Muhammad, Haji As’ad, Haji Ra’iy, Haji
Abdurrahman. Sementara guru-gurunya di Makkah adalah Syekh
Hasan Muhammad al-Masysyath (w. 1399 H), Syaikh Yasin al-Fadaniy (w. 1410 H), Syaikh Ismail ‘Utsman Zein al-Yamani al-
Makki (w. 1414 H), Syaikh Abdullah bin Sa’id al-Lahji (w. 1408 H),
Syaikh Muhammad Iwadh al-Yamani, Syaikh Zakariya Bila, Syaikh
Muhammad Syibli, Syaikh Abdul Karim al-Banjari, Syaikh Adnanial-Afghani, Syekh Abdul Karim al-Bukhari, Syekh Saifurrahman,Syaikh Suhaili al-Maghribi, Syaikh Sa’id al-BakistaniSyekh Sayyid‘Alawi bin Abbas al-Maliki, Syaikh Sayyid Muhammad bin Alawi
al-Maliki, Syaikh Muhammad Yahya Aman al-Makki, Syaikh SayyidMuhammad al-Arabi al-Falistini, Syaikh Hasan Sa’id al-Yamani,
Syaikh Muhammad Nur Saif, Syaikh Muhammad Amin al-Kutbi,
Syaikh Jabir al-Yamani, Syekh Sayyid Umar al-Yamani, SyaikhMuhammad Ali al-Yamani, Syaikh Sayyid Hasan al-Qadri,Syaih
Muhammad Makki al-Fakistani al-Hindi.
Tuan Guru Abdul Wahid termasuk ulama yang zuhud danwara`. Beliau tidak mengejar popularitas sehingga undangan danpermintaan agar beliau tampil atau pengajian beliau ditampilkandi televisi lokal atau dimuat di surat kabar beliau tolak denganhalus. Beliau juga tidak berkenan menerima bantuan dana yangtidak jelas sumbernya dan kehalalannya meskipun itu berasal daripejabat pemerintah.
beliau juga membuka majelis taklimdi Masjid Darul Hidayah dan di rumah beliau. Di majelis ini beliaumengajarkan kitab-kitab mu’tabar dan juga mengajarkan kitabatau risalah yang beliau tulis sendiri. Jadwal pengajian beliaudalam seminggu cukup padat, ada yang dilaksanakan pada waktupagi, sore dan adapula yang dilaksanakan malam hari. Pengajianbeliau dihadiri masyarakat umum dan santri baik laki-laki maupunperempuan. Di antara kitab mu’tabar yang beliau ajarkan adalah
Ihya` ‘Ulum ad-Din
karya Imam al-Ghazali dan
Nasha`ih al-‘Ibad
karya Syekh Nawawi al-Bantani. Sementara kitab atau risalah yangmerupakan karya beliau sendiri yang diajarkan di pengajian diantaranya adalah
Qawl al-Hidayah, Subul an-Najah, Shawt al-Hidayah,Thuruq as-Salamah
, dan
Dhiya` al-Qulub
karya tulis beliau :
Karya tulis Tuan Guru Abdul Wahid cukup banyak karenabeliau termasuk ulama Banjar kontemporer yang produktifmenulis. Beliau telah menghasilkan karya dalam berbagai disiplinkeislaman. Di antara karya-karya tulis beliau adalah:
1) Nasha`ihad-Diniyyah wa Qiyadah ash-Shalihin
2) Nur al-‘Ibadah Dawa`al-Qulub
3) Shawt al-Hidayah Mukhtashar Ma’rifah Waliy Allah al-Haqq wa an-Nafs
4) Dhiya` al-Qulub wa al-‘Uqul Mukhtashar Bayan al-Halal wa al-Haram wa Syubhah ‘ala al-Islam
5) Subul an-Najah Mukhtashar Bayan al-‘Amilin Dunya
6) Thuruq as-Salamah
7) Qawl al-Mukhtar Ushul at-Tafsir
😎 Is’af al-Fiqh al-Islamiy
9) Tadzkirah al-Lisan min al-Ahadits al-Mawdhu’ah ‘ala Sayyid al-Basyar
10) Qiyadah al-‘Ubudiyyah
11) At-Tafsir li Ibn Anwar Zayni
12) Risalah al-Ka’bah al-Musyarrafah
13) Wadh’ al-Murtafa’ Masa`il al-
Ma`mum wa al-Imam
14) Qawl al-Hidayah

PENDIRI RAKHA AMUNTAI Nama Tuan Guru Haji Abdurrasyid sangat tersohor.

 


PENDIRI RAKHA AMUNTAI

Nama Tuan Guru Haji Abdurrasyid sangat tersohor. Beliau dikenal bukan karena keulamaannya saja, melainkan juga dikenal sebagai pendiri pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha). Rasyidiyah diambil dari nama beliau sendiri. Ulama besar ini telah melahirkan ulama-ulama muda yang dari masa ke masa giat mengembangkan syiar Islam. Di lingkungan Pesantren beliau dipanggil Mualim Wahid yang berarti Guru Utama.
Tuan Guru Abdurrasyid dilahirkan di Desa Pekapuran Amuntai pada tahun 1884. Sebagai anak tunggal beliau dipelihara oleh kedua orang tuanya dengan baik dan dalam suasana kesederhanaan. Sejak kecil beliau sudah sangat rajin belajar. Pada usia 7 tahun sudah khatam Alquran. Dalam menuntut ilmu agama, beliau belajar pada ulama-ulama besar baik yang ada di sekitar tempat tinggalnya maupun yang ada di daerah lain. Beliau pernah berguru pada Tuan Guru Haji Umar Awang Padang Kelua, Tuan Guru Ahmad Sungai Banar Amuntai, Tuan Guru Jaferi bin Umar Teluk Betung Alabio, dan Tuan Guru Abdul Rahman Pasungkan Nagara serta banyak lagi ulama-ulama lainnya.
Dalam usia dua puluh tahun beliau menikah dengan Siti Fatimah anak Abdurrahman Sidik dan Masayu, orang yang terpandang di masyarakat. Fatimah mempunyai seorang saudara bernama Abdul Kadir. Perkawinan Tuan Guru Abdurrasyid dengan Fatimah membuahkan enam orang anak, masing-masing bernama Zahrah, Muhibbah, Ramli, Zuhriah, Asnah, dan Ahmad Nabhan.
Setelah kawin dan dikaruniai 4 orang anak (sebelum Asnah dan Ahmad Nabhan lahir), atas restu keluarganya Abdurrasyid pergi ke Mesir bersama sahabatnya H. Mansur dari Johor dengan menumpang kapal laut pada tahun 1912. Haji Abdurrasyid orang yang pertama belajar di Universitas Al-Azhar. Beliau berhasil mengantongi Syahadah Al Alamiyah Lil Ghuraba. Di Kairo beliau sempat menyusun kitab Perukunan. Hasil dari penjualan kitab tersebt sebagian beliau pergunakan untuk membiayai keperluan studinya di samping beasiswa yang telah diperolehnya dari Universitas. Untuk Menambah penghasilannya beliau bekerja pada sebuah restoran di kota Kairo, mendistribusikan roti kepada pelanggan dan membantu penerbit dengan men tashih beberapa karangan yang dicetak dengan bahasa Melayu.
Setelah bermukim selama sepuluh tahun di pusat pendidikan Islam itu Tuan Guru Abdurrasyid kembali ke tanah air dengan terlebih dahulu singgah di Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Sejak tiba kembali di kampung halamannya pada tahun 1922, beliau memfokuskan perhatiannya pada bidang pendidikan. Sejalan dengan kehendak masyarakat masa itu, maka pada tanggal 13 Oktober 1922 beliau mulai membuka pengajian agama dengan mengambil tempat di rumah mertuanya. Model pengajiannya menggunakan sistem halqah di mana santri duduk bersila mengelilingi guru yang memberikan pelajaran.
Pada tahun 1924 dengan bantuan berbagai pihak beliau membangun sebuah langgar bertingkat dua yang terletak di tepian sungai Tabalong, tidak jauh dari rumahnya. Selain untuk shalat, langgar ini juga berfungsi sebagai tempat pengajian umum yang dilaksanakan setiap hari Sabtu mulai jam 10. 00 pagi diakhiri dengan shalat zuhur berjamaah. Mulai dari langgar inilah Tuan Guru Abdurrasyid mendirikan sekolah Islam yang dikelola secara modern. Sekolah yang dikelolanya memiliki lima lokal dengan perlengkapan belajar menggunakan meja, kursi dan papan tulis. Seiring dengan perkembangan pendidikan yang kiat diminati, maka dibukalah sekolah tingkat Tsanawiyah.
Pada tahun 1926 Tuan Guru Abdurrasyid mendirikan gedung baru yang letaknya tidak jauh dari lokasi sekolah sebelumnya. Bangunan sekolah tersebut berbentuk “U” terdiri dari enam lokal yang dilengkapi dengan peralatan yang modern. Biayanya sebagian berasal dari pribadi beliau sendiri dan sebagian bantuan masyarakat, hingga berhasil dihimpun 7.000 golden. Di awal tahun 1928, sekolah itu resmi diberi nama Arabische School, dengan jenjang pelajaran dinaikkan hingga tingkat Aliyah. Pendirian Arabische School bertujuan untuk mencetak kader pendidik, guru, mubaligh dan pemimpin masyarakat. Dalam mengelola sekolah ini, Tuan Guru Abdurrasyid mengajak kalangan ulama untuk berpartisipasi sebagai guru di Arabische School tersebut.
Arabische School mengalami kemajuan yang sangat pesat. Sekolah ini beberapa kali mengalami pergantian nama. Ketika beliau menyerahkan pesantren tersebut kepada Tuan Guru Juhri sulaiman (1931-1941), namanya diubah menjadi Al-Madrassatur Rasyidiah. Pemberian nama ini adalah untuk mengenang jasa pendirinya yaitu Tuan Guru Abdurrasyid. Ketika M. Arief Lubis (dari Sumatera) memimpin pesantren tersebut (1942-1944), pelajaran ilmu pengetahuan umum dimasukkan dan nama pesantren itupun diubah menjadi Ma’had Rasyidiyah. Pada masa kepemimpinan KH. Idham Chalid (sejak 1945) namanya dirubah lagi dengan Normal Islam, kemudian diganti menjadi Rasyidiyah Khalidiyah yang disingkat dengan Rakha (1963). Sistem dan metode pendidikannya disesuaikan dengan pendidikan dan pengajaran Pondok Modern Gontor Ponorogo.
Tuan Guru Abdurrasyid pernah pula memimpin sebuah sekolah yang bernama Al-Madrasah Al Wathaniah di Kandangan. Sekolah tersebut didirikan oleh muridnya yaitu M. Subeli yang pernah belajar di Arabische School. Beliau juga membuka pengajian umum untuk masyarakat dan para ulama di kota itu. Kemudian atas inisiatif murid-muridnya, yaitu M. As’ad dan Usman Abu Bakar, berdirilah Madrasah Diniyah Islamiyah yang sebelumnya dipimpin oleh Tuan Guru Muchtar (Mufti Onder Distrik) Barabai tahun 1933.
Pada bulan Januari 1934 beliau kembali ke Amuntai dalam keadaan sakit. Beliau dirawat oleh dokter Rumah Sakit Amuntai dengan perawatan di rumah. Pada hari Ahad tanggal 4 Februari 1934 bertepatan dengan tanggal 19 syawal 1353 H jam 16.00 di hadapan isteri, anak-anak dan keluarga serta beberapa orang muridnya, beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir berpulang ke rahmatullah. Acara pemakaman beliau, dihadiri tidak kurang dari 200 ulama diantara 2000 orang yang ikut mensholatkan jenazah almarhum. Beliau dimakamkan di samping rumahnya di desa Pekapuran Amuntai pada sore hari Senin tanggal 5 Februari 1934.
Menjelang akhir hayatnya, Tuan Guru Abdurrasyid sempat berpesan agar murid-muridnya berusaha memelihara dan mengembangkan perguruan yang telah dirintisnya. Tuan Guru yang dalam kesehariannya sangat sederhana dan bersahaja itu tidak pernah memiliki rumah sendiri. Ketika istrinya mendesak agar membangun rumah karena anak-anak sudah mulai dewasa, beliau menjawab : “sekolahan kita adalah rumah kita dan santrinya adalah anak-anak kita”. Dari rumahnya yang semula bernama Arabische School itu telah lahir anak-anak bangsa yang tumbuh menjadi pemuka Islam, tersebar di Kalimantan sampai ke Jawa, Sumatera dan daerah-daerah lainnya di Nusantara ini.
Sumber Naskah: Tim Penulis LP2M UIN Antasari Banjarmasin dan MUI Provinsi Kalimantan Selatan

Habib Muhammad bin Achmad Al-Attas

 Habib Muhammad bin Achmad Al-Attas


Habib Muhammad bin Achmad al-Attas dilahirkan pada Ahad malam Senin, 18 Rabi’ul Awal 1361 (3 Mei 1942) di Dusun Jeruk, Gampong Pucok Alue Dua, Kecamatan Simpang Ulim, Kabupaten Aceh Timur.

Rupanya, kelahiran dan wafatnya Habib Muhammad al-Attas pada hari yang sama. Habib Muhammad dilahirkan dari pasangan Habib Achmad bin Husin al-Attas dan Syarifah Asyura binti Hasan al-Kaff. Habib Muhammad mempunyai lima saudara. Kesemuanya meninggal sebelum mereka dewasa.

Sejak kecil, Habib Muhammad sudah menjadi perantau mulai di Medan hingga ke Jakarta. Saat beranjak dewasa, Habib Muhammad memohon izin kepada ibundanya untuk hijrah ke Jakarta. Sebagai musafir yang tidak memiliki sanak keluarga, sang habib pun hidup berpindah-pindah. Suatu ketika, Habib Muhammad mengikuti pengajian di Majelis Ta'lim Masjid An-Nur Petamburan Jakarta Barat dengan Habib Achmad bin Ali Alatas.

Singkat cerita, menikahlah Habib Muhammad dengan Puteri Habib Achmad bin Ali Alatas. Pernikahan Habib Muhammad bin Achmad dengan Syarifah Maryam binti Achmad dikaruniai seorang putri bernama Syarifah Fatimah. Putri Habib Muhammad ini dinikahi oleh Habib Muhsin bin Zet Alatas.

Semasa hidupnya, Habib Muhammad bin Achmad pernah belajar agama di Hadramaut Yaman Selatan. Di Singapura, ia juga pernah belajar kepada Syekh Khatib.
Di antara gurunya yang lain yaitu Habib Ali bin Husin al-Attas, Habib Ali al-Habsyi Kwitang Jakarta Pusat, Habib Anis Solo, juga para habaib lainnya serta para ulama di Nusantara.

Dalam sejarah kehidupannya, Habib Muhammad bin Achmad pernah menetap di Makkah Arab Saudi selama 13 tahun. Ia tidak pernah lepas shalat lima waktu di Masjidil Haram. Selama hayatnya, tercatat ia menunaikan ibadah haji lebih dari 29 kali.

الفاتحه...🤲