Senin, November 02, 2026

JEJAK PENGABDIAN Otobiografi Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I Dari Pesantren, Gerakan Mahasiswa, Aktivisme Sosial, Kemanusiaan hingga Perjuangan Membangun Pendidikan

JEJAK PENGABDIAN
Otobiografi Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I
Dari Pesantren, Gerakan Mahasiswa, Aktivisme Sosial, Kemanusiaan hingga Perjuangan Membangun Pendidikan
Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I
Hulu Sungai Tengah – Kalimantan Selatan

IDENTITAS BUKU
Judul: Jejak Pengabdian
Subjudul: Dari Pesantren, Gerakan Mahasiswa, Aktivisme Sosial, Kemanusiaan hingga Perjuangan Membangun Pendidikan
Jenis buku: Otobiografi / Memoar Tokoh
Penulis: Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I
Latar perjalanan: Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan
Periode perjalanan: 1987–2026
Genre: Biografi inspiratif, pendidikan, sosial, organisasi, kemanusiaan, dan kepemimpinan.
Motto:
“Bermanfaat bagi orang lain, yakin usaha sampai.”

DAFTAR ISI
BAGIAN I – AKAR KEHIDUPAN DAN PEMBENTUKAN KARAKTER
Prolog: Sebuah Perjalanan Pengabdian
Desa Dangu, Tempat Sebuah Perjalanan Dimulai
Pesantren dan Pendidikan yang Membentuk Kehidupan
Mengenal Dunia Pengabdian Sejak Dini
BAGIAN II – MENEMUKAN JALAN AKTIVISME
Menjadi Mahasiswa, Menemukan Dunia Baru
Himpunan Mahasiswa Islam dan Tradisi Perkaderan
Menjadi Presiden Mahasiswa
Dari Kampus Menuju Gerakan Kepemudaan
BAGIAN III – BERHADAPAN DENGAN PERSOALAN MASYARAKAT
GEMPPUR dan Kepedulian terhadap Murakata
Meratus, Lingkungan, dan Suara Masyarakat
Membangun Relawan Semut Pemburu Berkah
Khadimul Ummat dan Jalan Pengabdian Sosial
Solidaritas Palestina: Menggerakkan Ratusan Relawan
BAGIAN IV – MEMBANGUN PENDIDIKAN DAN MASA DEPAN
Kembali kepada Dunia Pendidikan
Membangun PKBM Dhiyaul Amin
Pendidikan Kesetaraan di Lingkungan Pesantren
Meningkatkan Mutu dan Kompetensi Tutor
Akreditasi B dan Perjalanan Membangun Kepercayaan
Pendidikan sebagai Jalan Pemberdayaan Masyarakat
BAGIAN V – REFLEKSI PERJALANAN
Organisasi, Kepemimpinan, dan Pelajaran Kehidupan
Catatan tentang Kemanusiaan dan Kebermanfaatan
Perjalanan yang Belum Selesai
Epilog: Yakin Usaha Sampai
Lampiran:
Kronologi perjalanan hidup.
Riwayat pendidikan.
Riwayat organisasi.
Riwayat kegiatan sosial dan kemanusiaan.
Dokumentasi PKBM Dhiyaul Amin.
Dokumentasi pemberitaan media.
Foto-foto perjalanan pengabdian.

PROLOG
Sebuah Perjalanan Pengabdian
Setiap manusia memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Ada yang menempuh jalan panjang melalui pendidikan, ada yang tumbuh melalui pengalaman organisasi, ada yang menemukan makna kehidupan dalam perjuangan sosial, dan ada pula yang mengabdikan sebagian besar waktunya untuk kepentingan masyarakat.
Perjalanan hidup saya merupakan perpaduan dari berbagai pengalaman tersebut.
Saya tidak pernah membayangkan bahwa perjalanan yang dimulai dari sebuah desa di Kabupaten Hulu Sungai Tengah akan mempertemukan saya dengan begitu banyak ruang pengabdian. Dari lingkungan pesantren, dunia pendidikan, organisasi mahasiswa, gerakan kepemudaan, aktivitas sosial, kemanusiaan, hingga perjuangan membangun lembaga pendidikan nonformal.
Nama saya Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I. Saya lahir di Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan, pada 28 Agustus 1987.
Bagi saya, kehidupan bukan sekadar perjalanan untuk mencapai keberhasilan pribadi. Ada tanggung jawab sosial yang harus dijalankan, ada ilmu yang perlu dibagikan, ada persoalan masyarakat yang perlu diperhatikan, dan ada kesempatan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Setiap fase kehidupan menghadirkan tantangan dan pengalaman yang berbeda. Dunia organisasi mengajarkan saya tentang kepemimpinan dan tanggung jawab. Gerakan sosial mengajarkan arti keberanian menyuarakan kepentingan masyarakat. Kegiatan kemanusiaan mengajarkan pentingnya solidaritas. Sementara dunia pendidikan mengajarkan bahwa membangun manusia merupakan pekerjaan panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.
Saya pernah menjadi bagian dari organisasi mahasiswa, dipercaya memimpin Badan Eksekutif Mahasiswa, terlibat dalam perkaderan Himpunan Mahasiswa Islam, aktif dalam organisasi kepemudaan, ikut menggerakkan gerakan masyarakat, mendirikan organisasi kerelawanan, serta mengambil tanggung jawab dalam pengembangan lembaga pendidikan.
Salah satu perjalanan yang paling berkesan adalah ketika terlibat dalam gerakan solidaritas kemanusiaan untuk Palestina pada 2023. Bersama berbagai organisasi dan komunitas, kami menggerakkan ratusan relawan untuk menghimpun kepedulian masyarakat. Kegiatan tersebut berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp181 juta.
Di bidang pendidikan, perjalanan saya berlanjut melalui pengembangan PKBM Dhiyaul Amin di Desa Pamangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara. Sebuah lembaga pendidikan nonformal yang diharapkan mampu membuka kesempatan belajar bagi masyarakat, khususnya para santri dan warga belajar yang membutuhkan pendidikan kesetaraan.
Buku ini bukan dimaksudkan untuk membanggakan jabatan atau mengagungkan perjalanan pribadi. Saya ingin mencatat perjalanan tersebut sebagai dokumentasi kehidupan, sekaligus berbagi pengalaman kepada generasi muda bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkontribusi.
Saya percaya, pengabdian tidak harus menunggu seseorang menjadi pejabat, memiliki kekayaan, atau memperoleh kedudukan tinggi. Pengabdian dapat dimulai dari hal sederhana, dari lingkungan sendiri, dan dari kemampuan yang kita miliki.
Inilah sebagian perjalanan hidup saya. Sebuah perjalanan yang masih terus berlangsung.
BAGIAN I
AKAR KEHIDUPAN DAN PEMBENTUKAN KARAKTER
BAB 1
Desa Dangu, Tempat Sebuah Perjalanan Dimulai
Saya dilahirkan di Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, pada 28 Agustus 1987.
Desa merupakan tempat awal seseorang mengenal kehidupan. Di sanalah lingkungan sosial, budaya, pendidikan, dan nilai-nilai masyarakat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter.
Kabupaten Hulu Sungai Tengah sendiri memiliki tradisi keagamaan dan kehidupan masyarakat yang erat dengan pendidikan Islam, pesantren, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
Dalam perjalanan hidup saya, lingkungan tersebut menjadi bagian penting yang mengantarkan saya mengenal dunia pendidikan agama dan pengabdian.
Saya menyadari bahwa perjalanan seseorang tidak dapat dilepaskan dari tempat ia berasal. Desa bukan sekadar tempat kelahiran, melainkan bagian dari identitas dan sejarah kehidupan.
Dari tempat inilah perjalanan panjang saya dimulai.
[Bagian ini nantinya dilengkapi dengan cerita keluarga, orang tua, saudara, kehidupan masa kecil, lingkungan pergaulan, dan pengalaman yang paling membekas selama tinggal di Desa Dangu.]
BAB 2
Pesantren dan Pendidikan yang Membentuk Kehidupan
Tahun 2004 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan pendidikan saya. Pada tahun tersebut, saya memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Ilung, yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Nurul Muhibbin.
Pendidikan pesantren memberikan pengalaman tersendiri. Pesantren bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan keagamaan, melainkan juga lingkungan pembentukan karakter, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kehidupan sosial.
Dalam lingkungan pendidikan agama, saya mulai memahami bahwa ilmu pengetahuan memiliki hubungan erat dengan tanggung jawab moral. Pengetahuan tidak cukup hanya dipelajari, tetapi juga harus diamalkan dan memberikan manfaat.
Pada masa tersebut, saya juga mulai mengajar Al-Qur'an di TK TPA Al-Qur'an Dhiyaul Abidin Unit 008.
Pengalaman mengajar ini menjadi bagian penting dari perjalanan saya. Saya mulai mengenal bagaimana proses pendidikan berlangsung, bagaimana mendampingi peserta didik, serta bagaimana ilmu yang dimiliki dapat dibagikan kepada orang lain.
Dari pengalaman tersebut, saya semakin mengenal dunia pendidikan yang kelak menjadi salah satu bidang utama dalam perjalanan pengabdian saya.
BAB 3
Mengenal Dunia Pengabdian Sejak Dini
Sebelum memasuki dunia perguruan tinggi, saya telah mengenal kegiatan organisasi melalui lingkungan sekolah dan masyarakat.
Saya pernah terlibat dalam OSIS SMAN 2 Barabai sebagai Koordinator Bidang Keagamaan pada 2005. Saya juga aktif dalam BKPRMI Kecamatan Batang Alai Utara pada periode 2005–2010.
Selain itu, saya pernah menjadi bagian dari Karang Taruna Tunas Jaya Ilung Pasar Lama.
Pengalaman tersebut memperkenalkan saya pada kehidupan organisasi yang sesungguhnya. Saya belajar bahwa kegiatan bersama membutuhkan komunikasi, kerja sama, dan tanggung jawab.
Organisasi juga menjadi ruang untuk mengenal karakter orang lain. Setiap orang memiliki latar belakang, pemikiran, dan cara pandang yang berbeda. Perbedaan tersebut harus dikelola agar tujuan bersama dapat diwujudkan.
Pengalaman awal inilah yang kemudian menjadi bekal ketika saya memasuki dunia organisasi mahasiswa.
BAGIAN II
MENEMUKAN JALAN AKTIVISME
BAB 4
Menjadi Mahasiswa, Menemukan Dunia Baru
Setelah menyelesaikan pendidikan sebelumnya, saya melanjutkan pendidikan tinggi di STAI Al-Washliyah Barabai dengan mengambil program studi Pendidikan Agama Islam.
Menjadi mahasiswa merupakan fase penting dalam kehidupan saya. Perguruan tinggi mempertemukan saya dengan lingkungan intelektual yang lebih luas.
Dunia kampus bukan hanya tempat memperoleh gelar akademik. Di dalamnya terdapat ruang diskusi, organisasi, perkaderan, gerakan mahasiswa, dan berbagai pengalaman yang membentuk kedewasaan berpikir.
Pada masa inilah saya semakin aktif dalam kegiatan organisasi.
Saya menemukan bahwa pendidikan formal dan pengalaman organisasi dapat saling melengkapi. Pendidikan memberikan dasar pengetahuan, sedangkan organisasi memberikan kesempatan untuk mempraktikkan kepemimpinan dan tanggung jawab.
BAB 5
Himpunan Mahasiswa Islam dan Tradisi Perkaderan
Salah satu organisasi yang memberikan pengalaman penting dalam perjalanan saya adalah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Barabai.
Pada periode 2009–2010, saya dipercaya sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai.
Amanah tersebut mempertemukan saya dengan dunia perkaderan mahasiswa. Saya terlibat dalam aktivitas yang berhubungan dengan pembinaan anggota, pengembangan kapasitas kader, dan penguatan kehidupan organisasi.
Bagi saya, perkaderan merupakan proses penting dalam membangun sumber daya manusia. Organisasi tidak cukup hanya memiliki struktur kepengurusan. Organisasi harus mampu membentuk anggota yang memiliki pengetahuan, tanggung jawab, dan kemampuan berkontribusi.
Pada periode 2011–2012, saya kembali memperoleh tanggung jawab sebagai Sekretaris Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Barabai.
Pengalaman tersebut memperkaya pemahaman saya mengenai pentingnya pendidikan organisasi, proses kaderisasi, dan keberlanjutan kepemimpinan.
BAB 6
Menjadi Presiden Mahasiswa
Periode 2010–2011 menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan organisasi saya.
Pada masa itu, saya dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Al-Washliyah Barabai atau Presiden Mahasiswa.
Kepercayaan tersebut merupakan tanggung jawab yang tidak ringan. Memimpin organisasi mahasiswa membutuhkan kemampuan mengoordinasikan berbagai kepentingan, membangun komunikasi, dan menggerakkan mahasiswa dalam kegiatan bersama.
Jabatan Ketua Umum BEM menjadi pengalaman yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter kepemimpinan saya.
Saya belajar bahwa pemimpin tidak hanya berbicara mengenai kewenangan, tetapi juga mengenai kesediaan untuk bertanggung jawab.
Kepemimpinan juga bukan sekadar berada di depan, melainkan bagaimana membangun kerja sama dan memberikan ruang bagi orang lain untuk berkembang.
[Bagian ini perlu dilengkapi dengan nama kabinet BEM, program kerja unggulan, kegiatan besar, persoalan kampus yang pernah dihadapi, dan pengalaman paling berkesan selama menjadi Presiden Mahasiswa.]
BAB 7
Dari Kampus Menuju Gerakan Kepemudaan
Setelah memperoleh pengalaman dalam organisasi mahasiswa, aktivitas saya berkembang ke lingkungan organisasi kepemudaan.
Pada periode 2012–2015, saya dipercaya menjadi Wakil Sekretaris DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Saya juga pernah terlibat dalam kepengurusan Pemuda Pancasila Hulu Sungai Tengah pada 2017–2018.
Pengalaman ini memperluas ruang interaksi saya dengan berbagai kelompok masyarakat dan organisasi kepemudaan.
Saya semakin memahami bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah. Potensi pemuda tidak cukup hanya diarahkan pada kegiatan seremonial, tetapi harus diberikan ruang untuk mengembangkan gagasan, kreativitas, kepemimpinan, dan kepedulian sosial.
BAGIAN III
BERHADAPAN DENGAN PERSOALAN MASYARAKAT
BAB 8
GEMPPUR dan Kepedulian terhadap Murakata
Perjalanan organisasi membawa saya pada keterlibatan yang lebih luas dalam persoalan masyarakat.
Pada 2017, saya terlibat dalam Gerakan Masyarakat Peduli Penyelamat Murakata (GEMPPUR).
Gerakan ini menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan kepedulian terhadap berbagai persoalan daerah.
Dalam perjalanan gerakan tersebut, perhatian terhadap lingkungan, kebijakan publik, dan kawasan Pegunungan Meratus menjadi bagian dari aktivitas yang dijalankan.
Saya belajar bahwa kepedulian terhadap daerah tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembicaraan. Ada kalanya masyarakat harus membangun ruang partisipasi untuk menyampaikan aspirasi secara terbuka dan bertanggung jawab.
Pada Januari 2018, aktivitas penolakan pertambangan batu bara di kawasan Meratus mendapat pemberitaan ANTARA News Kalimantan Selatan. Nama M. Edwan Ansari tercatat sebagai salah satu relawan dalam gerakan tersebut.
Dokumentasi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan aktivisme sosial saya.
BAB 9
Membangun Relawan Semut Pemburu Berkah
Pada 28 Agustus 2019, saya mendirikan Relawan Semut Pemburu Berkah.
Organisasi ini lahir dari keinginan untuk membangun gerakan sosial dan kemanusiaan yang dapat melibatkan lebih banyak masyarakat.
Saya percaya bahwa kepedulian sosial harus memiliki wadah agar dapat dikelola secara lebih terarah.
Melalui Relawan Semut Pemburu Berkah, semangat kedermawanan, kerelawanan, dakwah, dan kemanusiaan diupayakan menjadi bagian dari kegiatan organisasi.
Visi yang dibangun adalah menjadikan organisasi sebagai gerakan sosial keumatan dan kemanusiaan yang profesional dengan mengoptimalkan potensi kedermawanan masyarakat.
Pendirian organisasi tersebut merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk mengubah kepedulian menjadi tindakan.
Saya belajar bahwa gerakan sosial tidak harus dimulai dengan sumber daya yang besar. Hal terpenting adalah adanya tujuan, komitmen, dan kemauan untuk bekerja bersama.
BAB 10
Khadimul Ummat dan Jalan Pengabdian Sosial
Pada 2020, saya terlibat sebagai salah satu pendiri Khadimul Ummat Hulu Sungai Tengah.
Dalam organisasi tersebut, saya dipercaya menjadi Sekretaris Umum.
Khadimul Ummat menjadi bagian dari perjalanan saya dalam mengembangkan aktivitas sosial dan keumatan. Melalui organisasi ini, ruang kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat semakin terbuka.
Saya semakin memahami bahwa kegiatan sosial membutuhkan jaringan, kepercayaan, dan kerja sama.
Tidak ada gerakan besar yang dapat berdiri hanya dengan mengandalkan satu orang. Diperlukan banyak pihak yang bersedia menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, dan sumber daya.
BAB 11
Solidaritas Palestina: Menggerakkan Ratusan Relawan
November 2023 menjadi salah satu fase penting dalam perjalanan kegiatan kemanusiaan saya.
Ketika persoalan kemanusiaan di Palestina mendapat perhatian luas masyarakat, berbagai organisasi dan komunitas di Hulu Sungai Tengah bergerak membangun solidaritas.
Dalam kegiatan tersebut, saya dipercaya menjadi koordinator aksi penggalangan dana untuk Palestina.
PojokBanua.com pada 11 November 2023 memberitakan kegiatan bertajuk Turun ke Jalan, Ratusan Relawan di HST Galang Dana untuk Palestina.
Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 300 orang dan puluhan organisasi maupun komunitas.
Perjalanan penggalangan dana tersebut kemudian menghasilkan donasi sebesar Rp181 juta. Capaian itu diberitakan PojokBanua.com pada 23 November 2023 dengan mencatat keterlibatan 34 organisasi, komunitas, dan lembaga.
Bagi saya, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama. Tidak ada satu orang yang dapat mengklaim seluruh keberhasilan sebuah gerakan kemanusiaan.
Setiap relawan memiliki peran. Ada yang mengoordinasikan kegiatan, ada yang menggalang dukungan, ada yang membantu publikasi, dan ada pula masyarakat yang menyumbangkan sebagian rezekinya.
Dari pengalaman tersebut saya semakin memahami bahwa solidaritas merupakan kekuatan besar ketika kepedulian berhasil disatukan.
BAGIAN IV
MEMBANGUN PENDIDIKAN DAN MASA DEPAN
BAB 12
Kembali kepada Dunia Pendidikan
Setelah melewati berbagai pengalaman organisasi dan gerakan sosial, dunia pendidikan tetap menjadi salah satu ruang pengabdian yang penting bagi saya.
Latar belakang pendidikan agama, pengalaman mengajar Al-Qur'an, dan pendidikan tinggi di bidang Pendidikan Agama Islam menjadi fondasi dalam perjalanan tersebut.
Saya kemudian mengambil peran dalam pengembangan PKBM Dhiyaul Amin di Desa Pamangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Bagi saya, pendidikan merupakan salah satu instrumen paling penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Kesempatan memperoleh pendidikan harus terbuka bagi setiap orang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan dalam mengakses pendidikan formal.
BAB 13
PKBM Dhiyaul Amin: Membangun Harapan Melalui Pendidikan Kesetaraan
PKBM Dhiyaul Amin dikembangkan sebagai lembaga pendidikan nonformal yang menyelenggarakan program kesetaraan Paket B dan Paket C.
Keberadaannya memiliki arti penting bagi masyarakat, khususnya santri dan warga belajar yang membutuhkan akses pendidikan.
Dalam pengembangan lembaga ini, pendidikan nasional diupayakan berjalan berdampingan dengan nilai-nilai pendidikan pesantren.
Pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, penguatan keagamaan, dan pengembangan keterampilan hidup.
Sebagai Kepala PKBM Dhiyaul Amin, saya mengambil tanggung jawab dalam pengelolaan lembaga dan pengembangan program pendidikan.
Perjalanan membangun lembaga pendidikan tentu membutuhkan banyak hal. Diperlukan sumber daya manusia, tata kelola yang baik, administrasi, sarana pembelajaran, dan komitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan.
Saya menyadari bahwa membangun lembaga pendidikan bukan pekerjaan yang selesai dalam satu atau dua tahun. Ia membutuhkan proses panjang dan keterlibatan banyak pihak.
BAB 14
Akreditasi B: Sebuah Tahapan dalam Perjuangan Mutu
Salah satu capaian penting dalam perjalanan kelembagaan PKBM Dhiyaul Amin adalah diperolehnya akreditasi B pada 2025.
Bagi lembaga pendidikan nonformal, akreditasi merupakan bagian dari proses evaluasi dan peningkatan mutu.
Capaian tersebut bukan hanya tentang status administratif, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus memperbaiki tata kelola, proses pembelajaran, kompetensi pendidik, dan pelayanan kepada masyarakat.
Saya memandang akreditasi sebagai tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Setelah sebuah lembaga memperoleh pengakuan mutu, pekerjaan berikutnya adalah mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya.
BAB 15
Meningkatkan Kompetensi Tutor dan Keterampilan Warga Belajar
Pengembangan PKBM Dhiyaul Amin juga diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pada 2026, lembaga ini mengikutsertakan 12 tutor dalam kegiatan workshop produksi, branding, dan pemasaran produk lokal.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan kompetensi tutor agar pembelajaran memiliki hubungan lebih kuat dengan kebutuhan kehidupan masyarakat.
Publikasi Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen pada 6 Agustus 2026 mendokumentasikan kegiatan tersebut.
Saya memandang tutor sebagai bagian penting dari keberhasilan pendidikan kesetaraan. Kualitas pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan pendidik dalam memahami kebutuhan warga belajar.
Karena itu, peningkatan kompetensi harus menjadi proses berkelanjutan.
Pendidikan yang baik bukan hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membuka kesempatan bagi seseorang untuk menjadi lebih mandiri dan produktif.
BAB 16
Pendidikan sebagai Jalan Pemberdayaan Masyarakat
Bagi saya, pendidikan dan pemberdayaan masyarakat merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Lembaga pendidikan harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pendidikan kesetaraan harus memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan potensi dirinya.
PKBM Dhiyaul Amin menjadi ruang untuk mewujudkan gagasan tersebut.
Saya berharap lembaga ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan di Hulu Sungai Tengah.
Perjalanan ini masih panjang. Masih banyak hal yang harus diperbaiki, dikembangkan, dan diperjuangkan.
Namun, setiap langkah kecil dalam pendidikan memiliki arti bagi masa depan masyarakat.
BAGIAN V
REFLEKSI PERJALANAN
BAB 17
Organisasi, Kepemimpinan, dan Pelajaran Kehidupan
Jika saya melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, organisasi merupakan salah satu ruang pembelajaran terbesar dalam kehidupan saya.
Saya belajar menjadi anggota, belajar menjalankan amanah, belajar memimpin, dan belajar bekerja bersama orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.
Saya pernah menjadi pengurus OSIS, aktivis BKPRMI, pengurus Karang Taruna, kader HMI, Ketua Umum BEM, pengurus KNPI, bagian dari GEMPPUR, pendiri Relawan Semut Pemburu Berkah, hingga pendiri Khadimul Ummat.
Setiap organisasi memberikan pengalaman yang berbeda.
Saya memahami bahwa jabatan merupakan amanah yang memiliki batas waktu. Namun, pengalaman, persahabatan, pengetahuan, dan manfaat dari sebuah perjuangan dapat terus dikenang.
BAB 18
Kemanusiaan sebagai Tanggung Jawab Bersama
Kegiatan kemanusiaan mengajarkan saya bahwa persoalan manusia tidak mengenal batas organisasi, wilayah, maupun perbedaan latar belakang.
Pengalaman menggerakkan solidaritas untuk Palestina memberikan pelajaran tentang kekuatan masyarakat ketika bersatu.
Namun, kemanusiaan bukan hanya tentang kegiatan besar atau penggalangan dana dalam jumlah tertentu. Kemanusiaan juga dapat hadir melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat kepada orang lain.
Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk berkontribusi.
BAB 19
Perjalanan yang Belum Selesai
Perjalanan hidup saya masih terus berlangsung.
Masih ada cita-cita, harapan, dan tanggung jawab yang harus dijalankan. Dunia pendidikan masih membutuhkan banyak perhatian. Gerakan sosial masih membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja. Masyarakat masih memiliki berbagai persoalan yang memerlukan kepedulian bersama.
Saya tidak ingin perjalanan ini berhenti pada catatan jabatan dan aktivitas masa lalu.
Saya berharap pengalaman yang telah dilalui dapat menjadi bekal untuk melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat pada masa mendatang.
EPILOG
Yakin Usaha Sampai
Setiap perjalanan memiliki awal, proses, dan tujuan. Namun, dalam kehidupan pengabdian, tujuan tidak selalu berupa pencapaian pribadi.
Ada kepuasan ketika melihat orang lain memperoleh kesempatan pendidikan. Ada kebahagiaan ketika masyarakat dapat bekerja bersama dalam kegiatan kemanusiaan. Ada kebanggaan ketika sebuah lembaga pendidikan berkembang dan memberikan manfaat.
Dari pesantren saya belajar tentang nilai-nilai kehidupan. Dari organisasi saya belajar tentang kepemimpinan. Dari gerakan sosial saya belajar tentang keberanian dan kepedulian. Dari kegiatan kemanusiaan saya belajar tentang solidaritas. Dari dunia pendidikan saya belajar bahwa membangun manusia membutuhkan kesabaran dan perjuangan panjang.
Saya menyadari bahwa tidak semua perjalanan berjalan sesuai harapan. Namun, setiap pengalaman selalu memiliki pelajaran.
Saya ingin terus belajar, bekerja, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan seseorang bukan hanya tentang seberapa tinggi kedudukan yang berhasil dicapai, melainkan juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
Bermanfaat bagi orang lain, yakin usaha sampai.
Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I

LAMPIRAN I
Kronologi Perjalanan Hidup dan Pengabdian
TahunPeristiwa
1987Lahir di Desa Dangu, Batang Alai Utara
2004Memperdalam pendidikan agama di Pesantren Darul Muttaqin Ilung
2005Aktif dalam OSIS dan BKPRMI
2005–2010Pengurus BKPRMI Kecamatan Batang Alai Utara
2009–2010Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai
2010–2011Ketua Umum BEM STAI Al-Washliyah Barabai
2011–2012Sekretaris Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Barabai
2012–2015Wakil Sekretaris DPD KNPI Hulu Sungai Tengah
2017Terlibat dalam GEMPPUR
2017–2018Pengurus Pemuda Pancasila HST
2018Terlibat dalam gerakan penolakan tambang Meratus
2019Mendirikan Relawan Semut Pemburu Berkah
2020Salah satu pendiri Khadimul Ummat HST dan Sekretaris Umum
2023Koordinator aksi solidaritas Palestina, donasi Rp181 juta
2024Dokumentasi pengembangan PKBM Dhiyaul Amin
2025PKBM Dhiyaul Amin memperoleh akreditasi B
2026Penguatan kompetensi 12 tutor PKBM Dhiyaul Amin
LAMPIRAN II
Daftar Sumber Dokumentasi
ANTARA News Kalimantan Selatan, 29 Januari 2018, pemberitaan Posko Rakyat Bersatu Tolak Tambang.
ANTARA News Kalimantan Selatan, 31 Januari 2018, pemberitaan gerakan penolakan pertambangan di kawasan Meratus.
PojokBanua.com, 11 November 2023, pemberitaan penggalangan dana Palestina.
PojokBanua.com, 23 November 2023, pemberitaan donasi Rp181 juta untuk Palestina.
Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen, 6 Agustus 2026.
Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, 29 Juni 2026.
Data Referensi dan Akreditasi Kemendikdasmen, PKBM Dhiyaul Amin, 2025.
Blog Catatan Muhammad Edwan Ansari, 2020 dan 2023.
Blog Relawan Semut Pemburu Berkah, 2019–2021.
Blog Relawan Semut Pemburu Berkah, dokumentasi PKBM Dhiyaul Amin, 26 Oktober 2024.

CATATAN PENYEMPURNAAN NASKAH
Naskah ini merupakan draf awal otobiografi berdasarkan rekam jejak yang telah terdokumentasi. Untuk menjadikannya buku otobiografi lengkap yang benar-benar merepresentasikan kehidupan penulis, diperlukan pengayaan cerita pribadi, foto, dokumen, dan pengalaman langsung.
x

Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I: Merawat Pengabdian dari Gerakan Mahasiswa, Kemanusiaan hingga Pendidikan untuk Masyarakat

Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I: Merawat Pengabdian dari Gerakan Mahasiswa, Kemanusiaan hingga Pendidikan untuk Masyarakat

Dari ruang perkaderan mahasiswa, gerakan penyelamatan lingkungan Meratus, aksi solidaritas Palestina, hingga pengembangan pendidikan kesetaraan berbasis pesantren. Perjalanan Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I, memperlihatkan bagaimana semangat aktivisme dapat tumbuh menjadi pengabdian sosial dan pendidikan yang berkelanjutan.

HULU SUNGAI TENGAH – Tidak semua perjalanan pengabdian dimulai dari panggung besar. Sebagian justru berawal dari ruang-ruang sederhana: lingkungan pesantren, tempat belajar Al-Qur'an, forum diskusi mahasiswa, hingga kegiatan sosial di tengah masyarakat. Dari ruang-ruang itulah karakter, kepedulian, dan keberanian mengambil tanggung jawab perlahan terbentuk.

Gambaran tersebut dapat ditemukan dalam perjalanan Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I, seorang organisatoris, aktivis sosial, penggerak kemanusiaan, dan praktisi pendidikan asal Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Selama lebih dari dua dekade, perjalanan hidupnya bersentuhan dengan berbagai bidang pengabdian, mulai dari pendidikan keagamaan, organisasi kemahasiswaan, kepemudaan, gerakan masyarakat sipil, filantropi, hingga pengembangan pendidikan nonformal.

Lahir di Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, pada 28 Agustus 1987, Edwan tumbuh dengan latar belakang pendidikan dan lingkungan pesantren. Pada 2004, ia memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Ilung, yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Nurul Muhibbin. Di masa tersebut, ia mulai terlibat dalam kegiatan pendidikan keagamaan dengan mengajar Al-Qur'an di TK TPA Al-Qur'an Dhiyaul Abidin Unit 008.

Pengalaman awal tersebut bukan sekadar aktivitas mengajar. Di sana, ia mulai mengenal arti pengabdian melalui proses berbagi ilmu dan mendampingi anak-anak dalam mempelajari Al-Qur'an. Pengalaman itu kemudian menjadi salah satu fondasi perjalanan panjangnya dalam dunia pendidikan.

Keinginan untuk memperluas wawasan membawanya melanjutkan pendidikan tinggi di STAI Al-Washliyah Barabai pada program Pendidikan Agama Islam hingga memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I). Namun, kehidupan kampus bagi Edwan bukan hanya tentang ruang kuliah dan aktivitas akademik. Ia juga menemukan ruang pembelajaran lain melalui organisasi mahasiswa.

Dari ruang perkaderan menuju kepemimpinan mahasiswa

Keterlibatan Edwan dalam organisasi telah tumbuh sejak masa sekolah. Ia pernah aktif di OSIS SMAN 2 Barabai, BKPRMI, dan Karang Taruna Tunas Jaya Ilung Pasar Lama. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada kerja kolektif, komunikasi, serta pentingnya keterlibatan generasi muda dalam kehidupan sosial.

Ketika menjadi mahasiswa, aktivitas organisasinya semakin intensif melalui Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Barabai. Pada periode 2009–2010, ia dipercaya sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai. Tanggung jawab tersebut memberinya pengalaman dalam perkaderan, pembinaan anggota, dan pengembangan kapasitas intelektual mahasiswa.

Puncak pengalaman kepemimpinan kampusnya terjadi pada periode 2010–2011 ketika ia dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Al-Washliyah Barabai atau Presiden Mahasiswa.

Jabatan itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan organisasinya. Menjadi pemimpin mahasiswa berarti belajar menyatukan beragam pandangan, membangun komunikasi, mengelola kegiatan, dan memperjuangkan aspirasi bersama.

Pengalaman tersebut berlanjut ketika pada 2011–2012 ia mengemban amanah sebagai Sekretaris Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Barabai. Selanjutnya, pada periode 2012–2015, ia dipercaya menjadi Wakil Sekretaris DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ia juga pernah terlibat dalam kepengurusan Pemuda Pancasila Hulu Sungai Tengah pada periode 2017–2018.

Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa organisasi menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan Edwan. Dari sana, ia tidak hanya memperoleh pengalaman kepemimpinan, tetapi juga membangun jejaring sosial dan memperluas perhatian terhadap persoalan masyarakat.

Ketika aktivisme bertemu dengan kepedulian lingkungan

Perjalanan aktivisme Edwan tidak berhenti di lingkungan kampus dan organisasi kepemudaan. Perhatiannya kemudian meluas pada berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Hulu Sungai Tengah, termasuk persoalan lingkungan dan kawasan Pegunungan Meratus.

Pada 2017, ia terlibat dalam Gerakan Masyarakat Peduli Penyelamat Murakata (GEMPPUR), sebuah gerakan masyarakat yang menjadi wadah penyampaian aspirasi dan kepedulian terhadap persoalan daerah.

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah aktivitas pertambangan batu bara dan dampaknya terhadap kawasan Meratus. Persoalan tersebut menjadi bagian dari dinamika gerakan masyarakat yang memperjuangkan kepentingan lingkungan dan keberlanjutan wilayah.

Keterlibatannya dalam gerakan tersebut terdokumentasi melalui pemberitaan ANTARA News Kalimantan Selatan pada Januari 2018. Dalam pemberitaan mengenai pendirian Posko Rakyat Bersatu Tolak Tambang, nama M. Edwan Ansari disebut sebagai salah satu relawan yang terlibat dalam gerakan penolakan pertambangan batu bara di kawasan Pegunungan Meratus.

Dokumentasi media tersebut menjadi penanda bahwa aktivitas sosialnya telah memasuki ruang gerakan masyarakat sipil, tempat aspirasi publik disuarakan melalui berbagai bentuk partisipasi dan gerakan kolektif.

Semut Pemburu Berkah: Mengubah kepedulian menjadi gerakan

Ada satu hal yang menarik dalam perjalanan Edwan: kepedulian sosial tidak hanya diwujudkan melalui keterlibatan dalam kegiatan yang sudah ada, tetapi juga melalui upaya membangun wadah gerakan sendiri.

Pada 28 Agustus 2019, ia mendirikan Relawan Semut Pemburu Berkah. Organisasi ini lahir dari semangat kedermawanan, kerelawanan, solidaritas, dakwah, dan kemanusiaan.

Nama Semut Pemburu Berkah menggambarkan semangat kerja bersama, ketekunan, dan kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Gerakan ini diarahkan menjadi organisasi sosial keumatan dan kemanusiaan yang mengoptimalkan potensi kedermawanan serta kerelawanan masyarakat.

Pendirian organisasi tersebut merupakan salah satu pencapaian penting dalam perjalanan sosial Edwan. Ia tidak hanya terlibat sebagai aktivis, tetapi juga mengambil inisiatif membangun ruang kolaborasi bagi masyarakat yang ingin terlibat dalam kegiatan sosial.

Dokumentasi pendirian dan visi organisasi tersebut tercatat dalam blog Relawan Semut Pemburu Berkah serta catatan biografi Edwan.

Solidaritas Palestina dan kekuatan kolaborasi masyarakat

Semangat kemanusiaan tersebut kemudian berkembang melalui keterlibatannya dalam Khadimul Ummat Hulu Sungai Tengah. Pada 2020, Edwan tercatat sebagai salah satu pendiri organisasi tersebut dan dipercaya menjabat sebagai Sekretaris Umum.

Salah satu kegiatan yang memperlihatkan jangkauan gerakan solidaritas tersebut adalah aksi penggalangan dana untuk Palestina pada November 2023.

Dalam kegiatan itu, Edwan dipercaya menjadi koordinator aksi yang melibatkan ratusan relawan dan berbagai organisasi, komunitas, serta lembaga di Hulu Sungai Tengah.

PojokBanua.com pada 11 November 2023 memberitakan kegiatan bertajuk Turun ke Jalan, Ratusan Relawan di HST Galang Dana untuk Palestina. Berita tersebut menyebut keterlibatan Muhammad Edwan Ansari sebagai koordinator kegiatan solidaritas.

Pemberitaan berikutnya pada 23 November 2023 mencatat keberhasilan penggalangan dana yang mencapai Rp181 juta. Kegiatan tersebut melibatkan 34 organisasi, komunitas, dan lembaga yang bergabung dalam gerakan kemanusiaan untuk Palestina.

Angka Rp181 juta bukan sekadar jumlah donasi. Di baliknya terdapat kerja kolektif, kepercayaan masyarakat, koordinasi relawan, serta kepedulian berbagai elemen masyarakat terhadap persoalan kemanusiaan.

Bagi Edwan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun solidaritas. Menggerakkan masyarakat dalam jumlah besar tentu bukan perkara sederhana. Dibutuhkan komunikasi, koordinasi, kepercayaan, dan kesediaan berbagai pihak untuk bekerja bersama.

Peristiwa tersebut sekaligus menjadi salah satu dokumentasi publik paling konkret mengenai kontribusinya dalam gerakan kemanusiaan di Hulu Sungai Tengah.

Kembali ke akar pengabdian: Membangun pendidikan berbasis pesantren

Di antara berbagai aktivitas organisasi dan kemanusiaan, dunia pendidikan tetap menjadi salah satu bidang yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan hidup Edwan.

Berangkat dari pengalaman belajar di pesantren, mengajar Al-Qur'an, serta menempuh pendidikan tinggi di bidang Pendidikan Agama Islam, ia kemudian mengambil peran dalam pengembangan PKBM Dhiyaul Amin di Desa Pamangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Lembaga pendidikan nonformal tersebut hadir untuk memperluas kesempatan belajar bagi masyarakat, terutama para santri dan warga belajar yang membutuhkan akses pendidikan melalui jalur kesetaraan.

PKBM Dhiyaul Amin menyelenggarakan program Paket B dan Paket C dengan pendekatan pendidikan yang memadukan kurikulum nasional dan lingkungan pendidikan pesantren. Di dalamnya, pendidikan akademik diharapkan berjalan beriringan dengan pembentukan karakter, penguatan nilai keagamaan, dan keterampilan hidup.

Sebagai Kepala PKBM Dhiyaul Amin, Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I, mengambil tanggung jawab dalam pengembangan kelembagaan, peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan kompetensi tutor, dan pengembangan program pendidikan.

Salah satu capaian kelembagaan yang penting adalah diperolehnya akreditasi B pada 2025. Berdasarkan dokumentasi data satuan pendidikan dan akreditasi Kemendikdasmen, PKBM Dhiyaul Amin tercatat memperoleh status akreditasi tersebut.

Capaian ini menjadi bagian dari proses penguatan mutu lembaga pendidikan nonformal yang dikelolanya. Akreditasi bukan hanya pengakuan administratif, melainkan juga bagian dari upaya membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan pendidikan yang diselenggarakan.

Mengembangkan tutor, memperkuat keterampilan warga belajar

Pengembangan pendidikan yang dilakukan Edwan tidak hanya diarahkan pada pengelolaan administrasi lembaga dan pemenuhan standar pendidikan. Perhatian terhadap kualitas sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam perjalanan PKBM Dhiyaul Amin.

Hal tersebut terlihat dalam publikasi Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen pada 6 Agustus 2026 mengenai penguatan kompetensi tutor. Dalam kegiatan tersebut, PKBM Dhiyaul Amin mengikutsertakan 12 tutor untuk mengikuti workshop produksi, branding, dan pemasaran produk lokal.

Kegiatan ini memperlihatkan upaya memperluas kompetensi tenaga pendidik agar mampu mengembangkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Publikasi Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen pada 29 Juni 2026 juga mendokumentasikan pengembangan pendidikan kesetaraan dan penguatan kompetensi tutor di PKBM Dhiyaul Amin.

Melalui pendekatan tersebut, pendidikan kesetaraan tidak hanya diposisikan sebagai jalur untuk memperoleh ijazah, tetapi juga sebagai sarana membangun kemandirian, keterampilan produktif, dan kemampuan menghadapi tantangan kehidupan.

Bagi lembaga pendidikan berbasis masyarakat, keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur dari aspek akademik. Warga belajar juga perlu memiliki keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, pengembangan tutor, penguatan keterampilan, dan pembelajaran berbasis kebutuhan masyarakat menjadi bagian dari arah pengembangan PKBM Dhiyaul Amin.

Merangkai pengalaman menjadi jejak pengabdian

Jika perjalanan Edwan ditarik dari awal hingga perkembangannya sekarang, terlihat benang merah yang menghubungkan berbagai aktivitas yang pernah dijalankannya.

Pengalaman di pesantren membentuk fondasi keagamaan. Organisasi mahasiswa melatih kepemimpinan dan kemampuan mengelola gerakan. Aktivitas kepemudaan memperluas jaringan sosial. Gerakan masyarakat mengembangkan kepekaan terhadap persoalan daerah. Relawan Semut Pemburu Berkah dan Khadimul Ummat menjadi wadah aktualisasi kepedulian kemanusiaan. Sementara PKBM Dhiyaul Amin menjadi ruang pengabdian dalam bidang pendidikan.

Rekam jejak tersebut mencakup sejumlah pencapaian yang terdokumentasi, mulai dari Ketua Umum BEM STAI Al-Washliyah Barabai, Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai, Wakil Sekretaris DPD KNPI Hulu Sungai Tengah, keterlibatan dalam GEMPPUR, pendiri Relawan Semut Pemburu Berkah, salah satu pendiri Khadimul Ummat Hulu Sungai Tengah, hingga Kepala PKBM Dhiyaul Amin.

Dalam bidang pendidikan, akreditasi B PKBM Dhiyaul Amin pada 2025 dan partisipasi 12 tutor dalam workshop peningkatan kompetensi pada 2026 menjadi bagian dari capaian kelembagaan yang dapat ditelusuri melalui dokumentasi resmi.

Sementara itu, keberhasilan penggalangan dana Rp181 juta untuk Palestina pada 2023 menjadi salah satu bukti konkret kemampuan membangun kolaborasi dan menggerakkan solidaritas masyarakat.

Berbagai pengalaman tersebut tidak harus dipahami sebagai deretan jabatan semata. Lebih dari itu, semuanya menggambarkan perjalanan seorang organisatoris yang terus memperluas ruang pengabdiannya, dari lingkungan mahasiswa menuju masyarakat luas, kemudian mengambil peran dalam pengembangan pendidikan.

Pengabdian sebagai perjalanan yang terus berlanjut

Perjalanan Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I, memberikan gambaran bahwa pengabdian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Dari mengajar Al-Qur'an, membina mahasiswa, menyuarakan kepedulian lingkungan, menggerakkan relawan kemanusiaan, hingga mengembangkan pendidikan kesetaraan, setiap fase menghadirkan pengalaman dan tanggung jawab yang berbeda.

Motto yang tercantum dalam catatan biografinya, “Bermanfaat bagi orang lain, yakin usaha sampai,” menjadi ungkapan yang menggambarkan semangat perjalanan tersebut.

Di tengah berbagai tantangan masyarakat, pendidikan dan kemanusiaan tetap membutuhkan orang-orang yang bersedia mengambil bagian. Bagi Edwan, ruang pengabdian itu dapat hadir dalam berbagai bentuk: melalui organisasi, gerakan sosial, kegiatan kerelawanan, maupun lembaga pendidikan.

Dari Desa Dangu hingga berbagai ruang pengabdian di Hulu Sungai Tengah, perjalanan tersebut menjadi bagian dari kisah seorang putra daerah yang menapaki jalan panjang aktivisme dan pendidikan. Sebuah perjalanan yang tidak hanya berbicara tentang apa yang pernah dicapai, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman dan kepedulian dapat terus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.


Sumber referensi dan dokumentasi:

  1. ANTARA News Kalimantan Selatan, 29 Januari 2018, pemberitaan Posko Rakyat Bersatu Tolak Tambang.

  2. ANTARA News Kalimantan Selatan, 31 Januari 2018, pemberitaan gerakan penolakan pertambangan batu bara di Pegunungan Meratus.

  3. PojokBanua.com, 11 November 2023, Turun ke Jalan, Ratusan Relawan di HST Galang Dana untuk Palestina.

  4. PojokBanua.com, 23 November 2023, pemberitaan penggalangan donasi Rp181 juta untuk Palestina.

  5. Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen, 6 Agustus 2026, publikasi penguatan kompetensi tutor PKBM Dhiyaul Amin.

  6. Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, 29 Juni 2026, publikasi pengembangan pendidikan kesetaraan.

  7. Data Referensi dan Akreditasi Kemendikdasmen, PKBM Dhiyaul Amin, 2025.

  8. Blog Catatan Muhammad Edwan Ansari, dokumentasi biografi dan perjalanan organisasi, 2020 dan 2023.

  9. Blog Relawan Semut Pemburu Berkah, dokumentasi pendirian dan profil organisasi, 2019–2021.

  10. Blog Relawan Semut Pemburu Berkah, dokumentasi profil PKBM Dhiyaul Amin, 26 Oktober 2024.

Artikel disusun berdasarkan dokumentasi biografi, organisasi, dan pemberitaan yang tersedia. Informasi mengenai jabatan dan pencapaian mengikuti sumber yang dirujuk dan tetap memerlukan konfirmasi dokumen primer untuk kebutuhan publikasi resmi.

Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I: Dari Aktivis Mahasiswa, Penggerak Kemanusiaan hingga Pengembang Pendidikan, Jejak Pengabdian untuk Umat dan Masyarakat di Kalimantan Selatan

Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I: Dari Aktivis Mahasiswa, Penggerak Kemanusiaan hingga Pengembang Pendidikan, Jejak Pengabdian untuk Umat dan Masyarakat di Kalimantan Selatan

HULU SUNGAI TENGAH – Perjalanan pengabdian seseorang tidak selalu diukur dari jabatan yang pernah diduduki atau penghargaan yang berhasil diraih, tetapi juga dari sejauh mana kehadirannya memberikan manfaat bagi masyarakat. Prinsip itulah yang tergambar dalam perjalanan Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I, seorang aktivis sosial, penggerak kemanusiaan, organisatoris, dan praktisi pendidikan yang memiliki rekam jejak panjang dalam berbagai bidang pengabdian di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Lahir di Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, pada 28 Agustus 1987, Edwan tumbuh dengan latar belakang pendidikan agama dan lingkungan pesantren. Perjalanan pendidikannya menjadi fondasi bagi tumbuhnya kepedulian terhadap persoalan sosial, keagamaan, pendidikan, dan kemasyarakatan. Pada 2004, ia memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Ilung, yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Nurul Muhibbin. Pada periode tersebut, ia juga mulai mengambil peran dalam pendidikan keagamaan masyarakat dengan mengajar Al-Qur'an di TK TPA Al-Qur'an Dhiyaul Abidin Unit 008. Pengalaman awal tersebut menjadi salah satu titik penting yang mempertemukannya dengan dunia pendidikan dan pengabdian keagamaan.

Semangat untuk terus mengembangkan pengetahuan kemudian membawanya menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Washliyah Barabai pada program Sarjana Pendidikan Agama Islam hingga memperoleh gelar S.Pd.I. Di lingkungan perguruan tinggi, aktivitasnya tidak hanya terfokus pada perkuliahan, tetapi juga berkembang melalui organisasi kemahasiswaan. Ia pernah aktif dalam OSIS SMAN 2 Barabai, BKPRMI, serta Karang Taruna Tunas Jaya Ilung Pasar Lama. Pengalaman tersebut menjadi awal terbentuknya karakter kepemimpinan, kemampuan berorganisasi, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat.

Perjalanan organisasinya semakin berkembang ketika bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Barabai. Pada periode 2009–2010, Edwan dipercaya sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai. Amanah tersebut memperlihatkan keterlibatannya dalam proses perkaderan, pembinaan intelektual, dan pengembangan kapasitas mahasiswa. Tidak berhenti di sana, pada periode 2010–2011 ia dipercaya menjabat sebagai Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STAI Al-Washliyah Barabai atau Presiden Mahasiswa. Jabatan tersebut menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan kepemimpinannya sebagai mahasiswa. Pengalaman mengelola organisasi kampus, membangun komunikasi, mengoordinasikan kegiatan, serta memperjuangkan aspirasi mahasiswa menjadi bekal dalam perjalanan pengabdiannya di kemudian hari.

Setelah melalui berbagai pengalaman di organisasi mahasiswa, Edwan melanjutkan aktivitas perkaderan dan kepemudaan. Pada periode 2011–2012, ia tercatat sebagai Sekretaris Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Barabai. Selanjutnya, pada periode 2012–2015, ia dipercaya menjadi Wakil Sekretaris DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Ia juga pernah terlibat dalam kepengurusan Pemuda Pancasila Hulu Sungai Tengah pada periode 2017–2018. Rangkaian pengalaman tersebut memperlihatkan konsistensinya dalam membangun ruang partisipasi pemuda dan memperkuat peran organisasi sebagai sarana pengembangan kepemimpinan serta pengabdian kepada masyarakat.

Keterlibatan Edwan dalam gerakan sosial semakin terlihat ketika ia mengambil bagian dalam berbagai persoalan kemasyarakatan dan lingkungan. Pada 2017, ia terlibat dalam Gerakan Masyarakat Peduli Penyelamat Murakata (GEMPPUR), sebuah gerakan masyarakat yang menjadi wadah penyampaian aspirasi dan kepedulian terhadap berbagai persoalan di Hulu Sungai Tengah. Perhatian terhadap lingkungan dan keberlanjutan kawasan Pegunungan Meratus menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam aktivitas gerakan tersebut. Pemberitaan ANTARA News Kalimantan Selatan pada 29 Januari 2018 mengenai warga yang mendirikan Posko Rakyat Bersatu untuk menolak pertambangan batu bara di kawasan Meratus menyebut M. Edwan Ansari sebagai salah satu relawan dalam gerakan tersebut. Pemberitaan ANTARA pada 31 Januari 2018 juga mendokumentasikan keterlibatannya dalam gerakan penolakan pertambangan tersebut. Dua publikasi itu menjadi jejak pemberitaan media eksternal yang memperlihatkan keterlibatannya dalam gerakan masyarakat sipil dan kepedulian terhadap lingkungan.

Kiprah sosialnya kemudian berkembang ke bidang kemanusiaan dan filantropi. Pada 28 Agustus 2019, Edwan mendirikan Relawan Semut Pemburu Berkah, sebuah gerakan kerelawanan yang dibangun atas semangat kepedulian, kedermawanan, solidaritas, dakwah, dan kemanusiaan. Organisasi ini membawa gagasan untuk mengoptimalkan potensi kedermawanan masyarakat serta mengembangkan gerakan sosial yang profesional dan berorientasi pada pelayanan umat. Pendirian Relawan Semut Pemburu Berkah menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan pengabdiannya karena menghadirkan wadah bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Dokumentasi mengenai pendirian, visi, dan misi organisasi tersebut dapat ditelusuri melalui blog Relawan Semut Pemburu Berkah dan catatan biografi Edwan.

Pada 2020, semangat pengabdian sosial dan keumatan kembali diwujudkan melalui keterlibatannya sebagai salah satu pendiri Khadimul Ummat Hulu Sungai Tengah. Dalam organisasi tersebut, ia dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Umum. Khadimul Ummat menjadi salah satu ruang konsolidasi kegiatan sosial dan kemanusiaan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat, organisasi, dan komunitas. Salah satu kegiatan besar yang memperlihatkan jangkauan gerakan solidaritas tersebut adalah aksi penggalangan dana untuk rakyat Palestina pada November 2023. Pemberitaan PojokBanua.com pada 11 November 2023 dengan judul Turun ke Jalan, Ratusan Relawan di HST Galang Dana untuk Palestina menyebut Muhammad Edwan Ansari sebagai koordinator kegiatan. Aksi solidaritas tersebut melibatkan lebih dari 300 orang dan puluhan organisasi maupun komunitas.

Tidak hanya itu, PojokBanua.com pada 23 November 2023 juga memberitakan keberhasilan penggalangan donasi untuk Palestina yang mencapai Rp181 juta. Kegiatan tersebut melibatkan 34 organisasi, komunitas, dan lembaga yang bersatu dalam aksi kemanusiaan. Edwan disebut sebagai koordinator kegiatan tersebut. Capaian penggalangan dana ini menjadi salah satu dokumentasi penting dalam rekam jejak pengabdiannya karena memperlihatkan kemampuan membangun kolaborasi lintas organisasi, menggerakkan relawan, dan menghimpun kepedulian masyarakat untuk membantu persoalan kemanusiaan di tingkat internasional. Di tengah berbagai tantangan sosial, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa gerakan kemanusiaan dapat tumbuh melalui kerja bersama, solidaritas, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat.

Selain aktivitas organisasi dan kemanusiaan, perhatian Edwan terhadap dunia pendidikan terus berkembang. Pengalaman awal mengajar Al-Qur'an, pendidikan pesantren, serta latar belakang akademik Pendidikan Agama Islam menjadi bekal dalam mengembangkan pendidikan berbasis masyarakat. Salah satu bentuk nyata dari pengabdiannya adalah keterlibatannya dalam pengembangan PKBM Dhiyaul Amin yang berlokasi di Desa Pamangkih Seberang, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Lembaga pendidikan nonformal tersebut hadir untuk memperluas akses pendidikan masyarakat, khususnya bagi para santri dan warga belajar yang membutuhkan kesempatan memperoleh pendidikan melalui jalur kesetaraan.

PKBM Dhiyaul Amin menyelenggarakan program pendidikan kesetaraan Paket B dan Paket C dengan pendekatan yang berupaya memadukan pendidikan nasional dan lingkungan pendidikan pesantren. Melalui lembaga ini, pendidikan akademik diharapkan berjalan berdampingan dengan pembentukan karakter, penguatan nilai keagamaan, serta pengembangan keterampilan hidup. Sebagai Kepala PKBM Dhiyaul Amin, Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I, mengambil peran dalam pengelolaan kelembagaan, pengembangan program pembelajaran, penguatan kompetensi tutor, serta peningkatan kualitas layanan pendidikan bagi warga belajar. Pengembangan pendidikan tersebut menjadi kelanjutan dari perjalanan pengabdiannya yang sejak awal telah bersentuhan dengan dunia pendidikan dan pembinaan keagamaan.

Perjalanan kelembagaan PKBM Dhiyaul Amin juga memiliki capaian administratif yang penting. Berdasarkan dokumentasi data satuan pendidikan dan akreditasi yang dirujuk dari Kemendikdasmen, PKBM Dhiyaul Amin tercatat memperoleh akreditasi B pada 2025. Capaian ini menjadi salah satu tonggak penting dalam pengembangan lembaga karena menunjukkan bahwa satuan pendidikan tersebut telah melalui proses penilaian mutu berdasarkan standar akreditasi yang berlaku. Bagi sebuah lembaga pendidikan nonformal berbasis masyarakat dan pesantren, akreditasi merupakan bagian penting dari upaya membangun kepercayaan masyarakat serta meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Komitmen terhadap peningkatan mutu tidak berhenti pada capaian akreditasi. Edwan juga mendorong pengembangan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan PKBM Dhiyaul Amin. Hal tersebut terlihat dalam publikasi Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen pada 6 Agustus 2026 mengenai penguatan kompetensi tutor melalui kegiatan workshop produksi, branding, dan pemasaran produk lokal. Dalam kegiatan tersebut, PKBM Dhiyaul Amin mengikutsertakan 12 tutor. Kegiatan ini memperlihatkan arah pengembangan pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pada keterampilan praktis dan kewirausahaan. Publikasi Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen pada 29 Juni 2026 juga mendokumentasikan upaya penguatan kompetensi tutor dan pengembangan pendidikan kesetaraan di PKBM Dhiyaul Amin.

Dalam pandangan pengembangan pendidikan masyarakat, kemampuan membaca, menulis, dan memperoleh ijazah pendidikan kesetaraan perlu diikuti dengan keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, penguatan kapasitas tutor, pembelajaran berbasis kebutuhan warga belajar, serta pengembangan keterampilan produktif menjadi bagian penting dari arah pengembangan PKBM Dhiyaul Amin. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai proses memperoleh pengakuan akademik, tetapi juga sebagai jalan untuk membangun kemandirian, meningkatkan kemampuan ekonomi, serta memperluas kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

Di luar aktivitas organisasi, kemanusiaan, dan pendidikan, Edwan juga memiliki perhatian terhadap kegiatan literasi dan pengembangan pemikiran. Pengalaman mengikuti perkaderan, forum diskusi, kegiatan seminar, serta berbagai aktivitas organisasi menjadi bagian dari proses pengembangan kapasitas intelektualnya. Dokumentasi biografi yang ditulis dalam blog pribadi pada 2020 dan 2023 memuat perjalanan pendidikan, pengalaman organisasi, aktivitas sosial, serta berbagai gagasan yang berkembang selama menjalankan pengabdian. Catatan tersebut memberikan gambaran kronologis mengenai perjalanan seorang organisatoris yang berupaya menghubungkan pengalaman intelektual dengan praktik pengabdian di tengah masyarakat.

Jika ditelusuri secara keseluruhan, perjalanan Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I, memperlihatkan beberapa bidang pencapaian yang saling berkaitan. Dalam bidang pendidikan, ia menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Agama Islam dan mengambil tanggung jawab sebagai Kepala PKBM Dhiyaul Amin. Dalam bidang kepemimpinan, ia pernah menjadi Ketua Umum BEM STAI Al-Washliyah Barabai dan Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai. Dalam bidang kepemudaan, ia pernah mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris DPD KNPI Hulu Sungai Tengah. Dalam bidang gerakan masyarakat, ia terlibat dalam GEMPPUR dan gerakan kepedulian terhadap lingkungan Meratus. Dalam bidang kemanusiaan, ia mendirikan Relawan Semut Pemburu Berkah serta menjadi salah satu pendiri Khadimul Ummat Hulu Sungai Tengah. Sementara dalam bidang pengembangan pendidikan, ia mengambil bagian dalam pengembangan PKBM Dhiyaul Amin hingga memperoleh akreditasi B pada 2025 dan mendorong peningkatan kompetensi 12 tutor melalui workshop pada 2026.

Berbagai pencapaian tersebut merupakan bentuk rekam jejak organisasi, kepemimpinan, dan pengabdian yang terdokumentasi. Nilai penting dari perjalanan tersebut tidak hanya terletak pada banyaknya organisasi yang pernah diikuti, tetapi juga pada keberlanjutan aktivitas yang dijalankan dari satu bidang ke bidang lainnya. Pengalaman sebagai aktivis mahasiswa membentuk kemampuan kepemimpinan, pengalaman gerakan masyarakat memperkuat kepekaan sosial, kegiatan kerelawanan mengembangkan solidaritas kemanusiaan, sedangkan pengelolaan lembaga pendidikan menjadi ruang aktualisasi pengabdian dalam jangka panjang.

Dengan perjalanan yang dimulai dari lingkungan pesantren, berkembang melalui organisasi mahasiswa, kemudian meluas ke gerakan sosial, kemanusiaan, dan pendidikan, Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I, menjadi salah satu figur lokal dengan rekam jejak pengabdian di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Perjalanannya menunjukkan bahwa aktivitas organisasi dapat menjadi bekal untuk membangun gerakan sosial, sementara pengalaman sosial dapat diarahkan menjadi kontribusi nyata dalam pengembangan pendidikan masyarakat.

Motto yang tercantum dalam catatan biografinya, “Bermanfaat bagi orang lain, yakin usaha sampai,” menjadi gambaran semangat yang mewarnai perjalanan tersebut. Sebuah prinsip yang menempatkan kebermanfaatan sebagai orientasi pengabdian dan kerja keras sebagai jalan untuk mencapai tujuan.

Pada akhirnya, perjalanan Muhamad Edwan Ansari bukan hanya tentang riwayat jabatan, pengalaman organisasi, atau capaian kelembagaan. Lebih dari itu, perjalanan tersebut merupakan cerita tentang proses belajar, membangun jaringan, menggerakkan masyarakat, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan memperluas kesempatan pendidikan. Dari ruang perkaderan mahasiswa hingga ruang kelas pendidikan kesetaraan, dari gerakan penyelamatan lingkungan hingga solidaritas untuk Palestina, jejak pengabdiannya menjadi bagian dari dinamika sosial dan pendidikan di Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Sumber dan dokumentasi pemberitaan:

  1. PojokBanua.com, 11 November 2023, Turun ke Jalan, Ratusan Relawan di HST Galang Dana untuk Palestina.

  2. PojokBanua.com, 23 November 2023, pemberitaan penggalangan donasi Rp181 juta untuk Palestina oleh relawan gabungan Hulu Sungai Tengah.

  3. ANTARA News Kalimantan Selatan, 29 Januari 2018, pemberitaan pendirian Posko Rakyat Bersatu Tolak Tambang.

  4. ANTARA News Kalimantan Selatan, 31 Januari 2018, pemberitaan gerakan masyarakat menolak pertambangan batu bara di kawasan Pegunungan Meratus.

  5. Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal Kemendikdasmen, 6 Agustus 2026, publikasi penguatan kompetensi tutor PKBM Dhiyaul Amin.

  6. Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, 29 Juni 2026, publikasi pengembangan pendidikan kesetaraan.

  7. Data Referensi Kemendikdasmen dan dokumentasi akreditasi PKBM Dhiyaul Amin tahun 2025.

  8. Blog Catatan Muhammad Edwan Ansari, dokumentasi biografi dan perjalanan organisasi tahun 2020 dan 2023.

  9. Blog Relawan Semut Pemburu Berkah, dokumentasi pendirian organisasi pada 28 Agustus 2019.

  10. Blog Relawan Semut Pemburu Berkah, dokumentasi profil dan pengembangan PKBM Dhiyaul Amin, 26 Oktober 2024.

Catatan: Narasi ini merupakan profil berdasarkan dokumentasi yang tersedia. Penyebutan jabatan, kegiatan, dan pencapaian mengikuti sumber yang dirujuk; bukan pernyataan bahwa seluruh informasi telah diverifikasi secara independen oleh setiap media. Penghargaan individu yang belum memiliki bukti dokumentasi tidak dicantumkan sebagai prestasi resmi.

Wijhah Al-Washliyah

 

 

 

KATA PENGANTAR

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Wijhah Al-Washliyah: Arah dan Tujuan Perjuangan Al-Jam’iyatul Washliyah”. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau.

Makalah ini disusun untuk menambah pemahaman mengenai Wijhah Al-Washliyah sebagai arah, tujuan, dan orientasi perjuangan organisasi. Pembahasan mencakup pengertian wijhah, landasan dan tujuan perjuangan, bidang pengabdian, hubungan wijhah dengan shibghah, serta penerapannya dalam kehidupan anggota dan kader.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, terutama karena rumusan resmi organisasi perlu selalu merujuk pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga yang berlaku. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca, khususnya pelajar, mahasiswa, dan kader Al-Washliyah, dalam memahami serta mengamalkan nilai-nilai perjuangan organisasi.

........................, ........................ 2026

Penulis


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

   A. Latar Belakang …………………………………………………………………………………………………

   B. Rumusan Masalah …………………………………………………………………………………………….

   C. Tujuan Penulisan ……………………………………………………………………………………………...

   D. Manfaat Penulisan …………………………………………………………………………………………….

BAB II PEMBAHASAN

   A. Pengertian Wijhah Al-Washliyah …………………………………………………………………………….

   B. Sejarah Singkat Al-Jam’iyatul Washliyah …………………………………………………………………...

   C. Landasan Wijhah Al-Washliyah ……………………………………………………………………………...

   D. Tujuan Perjuangan Al-Washliyah ……………………………………………………………………………

   E. Bidang Perjuangan Al-Washliyah ……………………………………………………………………………

   F. Hubungan Wijhah dan Shibghah …………………………………………………………………………….

   G. Implementasi Wijhah dalam Kehidupan Kader ……………………………………………………………

   H. Tantangan Mewujudkan Wijhah Al-Washliyah ……………………………………………………………

BAB III PENUTUP

   A. Kesimpulan …………………………………………………………………………………………………….

   B. Saran ……………………………………………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA


 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Organisasi merupakan wadah bagi sekelompok orang untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Dalam kehidupan umat Islam, organisasi dapat menjadi sarana untuk memperkuat persaudaraan, mengembangkan pendidikan, menyebarkan dakwah, serta melaksanakan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Al-Jam’iyatul Washliyah, yang dikenal sebagai Al-Washliyah, merupakan organisasi kemasyarakatan Islam yang berdiri pada 30 November 1930 di Medan, Sumatera Utara. Organisasi ini berkembang dengan perhatian terhadap pendidikan, dakwah, dan pengabdian sosial. Perjalanan organisasi tersebut menunjukkan pentingnya arah perjuangan yang jelas agar kegiatan yang dilakukan tetap sejalan dengan cita-cita pendiriannya.

Salah satu konsep yang penting dalam memahami arah perjuangan organisasi ialah wijhah. Secara umum, wijhah berarti arah, tujuan, atau orientasi. Dalam konteks Al-Washliyah, wijhah dapat dipahami sebagai arah perjuangan yang menuntun organisasi dan kader untuk mengamalkan ajaran Islam serta berkontribusi bagi terwujudnya masyarakat yang beriman, bertakwa, cerdas, adil, dan makmur.

Pemahaman terhadap wijhah tidak cukup berhenti pada pengetahuan teoritis. Nilai tersebut perlu diterapkan melalui tindakan nyata, seperti menuntut ilmu, melaksanakan dakwah dengan bijaksana, menjaga persatuan, menjalankan amanah organisasi, dan membantu masyarakat. Oleh karena itu, pembahasan Wijhah Al-Washliyah penting bagi anggota, kader, dan peserta didik yang mempelajari Kealwashliyahan.

B. Rumusan Masalah

1.   Apa pengertian Wijhah Al-Washliyah?

2.   Bagaimana sejarah singkat Al-Jam’iyatul Washliyah?

3.   Apa landasan dan tujuan perjuangan Al-Washliyah?

4.   Apa saja bidang perjuangan yang menjadi sarana pelaksanaan wijhah?

5.   Bagaimana hubungan wijhah dengan shibghah Al-Washliyah?

6.   Bagaimana penerapan wijhah dalam kehidupan anggota dan kader?

7.   Apa tantangan dalam mewujudkan Wijhah Al-Washliyah?

C. Tujuan Penulisan

8.   Menjelaskan pengertian Wijhah Al-Washliyah.

9.   Mengetahui sejarah singkat berdirinya Al-Jam’iyatul Washliyah.

10.       Memahami landasan dan tujuan perjuangan organisasi.

11.       Menguraikan bidang pengabdian yang berkaitan dengan pelaksanaan wijhah.

12.       Menjelaskan hubungan wijhah dengan shibghah.

13.       Mengidentifikasi bentuk penerapan wijhah dalam kehidupan kader.

14.       Menumbuhkan semangat pengabdian kepada umat dan bangsa.

D. Manfaat Penulisan

Secara teoretis, makalah ini diharapkan menambah wawasan tentang arah perjuangan Al-Washliyah. Secara praktis, makalah ini dapat menjadi bahan belajar bagi pelajar, mahasiswa, dan kader untuk menghubungkan pemahaman organisasi dengan tindakan nyata. Secara organisatoris, pembahasan ini diharapkan mendorong partisipasi, tanggung jawab, dan semangat pengabdian.


 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Wijhah Al-Washliyah

1. Pengertian Wijhah secara Bahasa

Kata wijhah berasal dari bahasa Arab وِجْهَةٌ yang secara umum bermakna arah, tujuan, atau orientasi. Makna ini menggambarkan arah yang hendak dituju seseorang atau suatu kelompok. Dalam organisasi, wijhah membantu menjelaskan cita-cita yang hendak dicapai dan menjadi acuan dalam merencanakan kegiatan.

2. Pengertian Wijhah dalam Konteks Al-Washliyah

Dalam konteks Al-Jam’iyatul Washliyah, wijhah dapat dipahami sebagai arah atau orientasi perjuangan organisasi. Wijhah memberi pedoman bagi anggota dan kader agar kegiatan organisasi tidak berjalan tanpa tujuan, melainkan diarahkan pada cita-cita yang sesuai dengan asas, tujuan, dan ketentuan organisasi.

Dokumen referensi yang digunakan dalam penyusunan makalah menjelaskan bahwa Wijhah Al-Washliyah berkaitan dengan cita-cita menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam serta mewujudkan masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., cerdas, adil, makmur, dan diridai Allah Swt. Untuk penggunaan resmi, redaksi tujuan tersebut hendaknya dicocokkan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al-Washliyah edisi yang berlaku.

3. Hakikat Wijhah

·Arah perjuangan: memberi orientasi bagi kebijakan, program, dan kegiatan organisasi.

·Pedoman bertindak: membantu kader menentukan sikap dan menjalankan amanah sesuai tujuan organisasi.

·Tujuan pengabdian: mengarahkan tenaga, ilmu, waktu, dan sumber daya untuk kemaslahatan umat.

·Pengikat persatuan: menyatukan langkah anggota dalam mengejar cita-cita bersama.

Dengan demikian, wijhah bukan sekadar istilah atau rumusan ideal. Wijhah perlu tercermin dalam cara organisasi menyusun program, mengelola kegiatan, membina kader, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

B. Sejarah Singkat Al-Jam’iyatul Washliyah

Al-Jam’iyatul Washliyah didirikan pada 30 November 1930 di Medan, Sumatera Utara. Organisasi ini tumbuh dari lingkungan pelajar dan pengajar yang menaruh perhatian pada pendidikan Islam, persatuan umat, dan pembinaan masyarakat. Latar sejarah tersebut menunjukkan bahwa organisasi hadir sebagai wadah untuk menggerakkan kegiatan keagamaan dan sosial secara terorganisasi.

Nama Washliyah berkaitan dengan makna menghubungkan atau mempererat hubungan. Makna tersebut sejalan dengan semangat memperkuat ukhuwah, menghubungkan masyarakat dengan ajaran Islam, dan membangun kerja sama dalam kebaikan. Dalam perkembangannya, Al-Washliyah menjalankan berbagai kegiatan pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.

Sejarah organisasi menjadi latar untuk memahami pentingnya wijhah. Cita-cita organisasi perlu diwariskan dan diwujudkan oleh generasi berikutnya melalui pembelajaran, pembinaan, dan pengabdian yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

C. Landasan Wijhah Al-Washliyah

1. Al-Qur’an dan Sunah

Al-Qur’an dan Sunah merupakan sumber utama ajaran Islam yang menjadi pedoman umat Islam. Salah satu ayat yang dapat direnungkan dalam kaitannya dengan semangat berjuang dan beramal ialah Surah As-Saff ayat 10–11, yang mengajak orang beriman untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta bersungguh-sungguh berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa.

Dalam kehidupan organisasi, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui kesungguhan menuntut ilmu, menjalankan amanah, melaksanakan dakwah secara bijaksana, serta mengerahkan kemampuan untuk kegiatan yang bermanfaat. Pengutipan ayat sebagai landasan khusus wijhah perlu tetap merujuk pada penjelasan resmi organisasi apabila digunakan dalam kajian formal.

2. Asas dan Ketentuan Organisasi

Pemahaman terhadap wijhah perlu dikaitkan dengan asas, tujuan, serta aturan organisasi yang tertuang dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Dokumen organisasi menjadi rujukan utama untuk memastikan bahwa rumusan tujuan, struktur, dan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3. Nilai Persatuan dan Pengabdian

Wijhah juga dapat dipahami melalui semangat persatuan dan pengabdian. Anggota dan kader perlu menjaga hubungan baik, menghormati perbedaan pendapat, bermusyawarah, serta bekerja sama dalam program yang membawa manfaat. Nilai ini membuat tujuan organisasi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang dirasakan masyarakat.

D. Tujuan Perjuangan Al-Washliyah

Dalam dokumen referensi, tujuan Al-Washliyah dirumuskan sebagai menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., cerdas, adil, makmur, dan diridai Allah Swt. Karena redaksi resmi dapat mengikuti edisi AD/ART tertentu, rumusan ini sebaiknya diperiksa kembali sebelum dijadikan kutipan hukum atau organisasi.

1. Menegakkan dan Menjunjung Tinggi Agama Islam

Tujuan ini bermakna menjadikan ajaran Islam sebagai pedoman dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi, dan masyarakat. Pelaksanaannya dapat berupa penguatan pemahaman agama, pembinaan ibadah, pengembangan akhlak, serta kegiatan dakwah yang santun dan bertanggung jawab.

2. Mewujudkan Masyarakat Beriman dan Bertakwa

Keimanan dan ketakwaan menjadi landasan pembentukan pribadi Muslim. Kader diharapkan memadukan pemahaman agama dengan perilaku yang jujur, amanah, disiplin, dan peduli kepada sesama.

3. Mewujudkan Masyarakat Cerdas

Kecerdasan dikembangkan melalui pendidikan, pembelajaran sepanjang hayat, penguasaan ilmu pengetahuan, dan keterampilan. Pendidikan juga perlu membentuk kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, serta memanfaatkan teknologi secara bijaksana.

4. Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur

Keadilan dan kemakmuran berkaitan dengan upaya membangun kehidupan yang layak, memberikan kesempatan yang baik kepada masyarakat, dan menumbuhkan kepedulian terhadap kelompok yang membutuhkan. Kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan dapat menjadi sarana untuk mendukung tujuan tersebut.

5. Mencapai Keridaan Allah Swt.

Orientasi spiritual perjuangan adalah mencari keridaan Allah Swt. Oleh karena itu, pelaksanaan program organisasi perlu dilandasi niat yang baik, cara yang benar, kejujuran, tanggung jawab, dan manfaat yang nyata.

E. Bidang Perjuangan Al-Washliyah

1. Pendidikan

Pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan pengetahuan dan membentuk karakter. Perjuangan di bidang pendidikan dapat dilakukan melalui penyelenggaraan lembaga pendidikan, pengembangan pembelajaran agama dan umum, peningkatan kompetensi pendidik, serta pembinaan peserta didik agar berilmu dan berakhlak.

2. Dakwah

Dakwah merupakan upaya menyampaikan ajaran Islam dan mengajak masyarakat kepada kebaikan. Kegiatan dakwah dapat berupa pengajian, ceramah, pembinaan keagamaan, diskusi, dan pemanfaatan media digital. Dakwah perlu dilaksanakan dengan ilmu, kebijaksanaan, keteladanan, dan sikap menghormati masyarakat.

3. Sosial Kemasyarakatan

Kegiatan sosial merupakan bentuk kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Bentuknya dapat berupa bantuan bagi masyarakat yang membutuhkan, kegiatan kemanusiaan, pendampingan, dan program pemberdayaan. Pelaksanaan kegiatan sosial hendaknya terencana, transparan, dan berkelanjutan.

4. Kaderisasi dan Pengembangan Organisasi

Kaderisasi diperlukan untuk menjaga kesinambungan perjuangan. Kader perlu dibekali pemahaman organisasi, keterampilan kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, dan tanggung jawab. Dengan pembinaan yang baik, kader diharapkan dapat meneruskan perjuangan organisasi sesuai dengan tantangan zamannya.

F. Hubungan Wijhah dan Shibghah

Dokumen referensi menjelaskan Wijhah dan Shibghah sebagai dua konsep yang saling melengkapi. Wijhah berhubungan dengan arah dan tujuan perjuangan, sedangkan Shibghah berhubungan dengan warna, identitas, atau kepribadian khas yang tercermin dalam sikap dan perilaku kader.

Shibghah dalam dokumen referensi dibahas melalui enam unsur, yaitu istiqamah, kesalehan ritual dan sosial, shilah atau keterhubungan, akhlak al-karimah, mujahadah, dan madaniah. Unsur-unsur tersebut disajikan di sini sebagai ringkasan dari dokumen yang diberikan, bukan sebagai pengganti rujukan resmi organisasi.

Aspek

Wijhah

Shibghah

Fokus

Arah dan tujuan perjuangan

Karakter dan identitas kader

Pertanyaan

Ke mana perjuangan diarahkan?

Bagaimana nilai perjuangan tercermin?

Penerapan

Tujuan, program, dan kebijakan

Sikap, akhlak, dan perilaku

Wijhah tanpa penghayatan karakter dapat membuat perjuangan kehilangan keteladanan. Sebaliknya, karakter baik tanpa pemahaman tujuan dapat membuat kegiatan kehilangan arah. Karena itu, keduanya perlu dibina bersama melalui pendidikan, pengkaderan, dan pengalaman berorganisasi.

G. Implementasi Wijhah dalam Kehidupan Kader

1. Memperkuat keimanan dan ketakwaan

Kader berupaya menjaga ibadah, memperdalam pengetahuan agama, dan membiasakan perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam.

2. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan

Kader terus belajar, memperluas wawasan, mengembangkan literasi digital, serta meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan bekerja sama.

3. Aktif dalam organisasi

Kader berpartisipasi dalam kegiatan yang sesuai dengan kemampuan, menjalankan tugas secara disiplin, dan menjaga komunikasi.

4. Menjaga persatuan

Kader mengedepankan musyawarah, menghormati perbedaan, dan menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik.

5. Menjadi teladan

Kader menunjukkan kejujuran, amanah, kesantunan, kepedulian, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

6. Mengabdi kepada masyarakat

Kader terlibat dalam kegiatan pendidikan, dakwah, sosial, dan kemanusiaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

H. Tantangan Mewujudkan Wijhah Al-Washliyah

1. Pemahaman yang Belum Merata

Tidak semua anggota memiliki tingkat pemahaman yang sama tentang tujuan dan arah perjuangan organisasi. Pendidikan Kealwashliyahan, diskusi, kajian, dan pelatihan kader dapat membantu memperkuat pemahaman tersebut.

2. Perubahan Sosial dan Teknologi

Perkembangan teknologi membuka peluang untuk memperluas pendidikan dan dakwah, tetapi juga menuntut literasi digital dan sikap kritis. Kader perlu memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab dan memeriksa kebenaran informasi.

3. Partisipasi dan Kaderisasi

Organisasi memerlukan kader yang aktif dan bersedia memikul tanggung jawab. Program yang relevan, pembagian tugas yang jelas, dan kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi dapat meningkatkan partisipasi.

4. Pengelolaan Sumber Daya

Program pendidikan, dakwah, dan sosial membutuhkan sumber daya manusia, sarana, dan pendanaan. Perencanaan, transparansi, kerja sama, dan evaluasi diperlukan agar sumber daya digunakan secara efektif.

5. Menjaga Kesatuan Tujuan

Perbedaan pendapat dapat muncul dalam organisasi. Perbedaan hendaknya diselesaikan melalui musyawarah, dengan tetap berpedoman pada aturan organisasi dan mengutamakan tujuan bersama.

Tantangan tersebut menunjukkan bahwa wijhah memerlukan komitmen, pembinaan berkelanjutan, dan tindakan nyata. Arah perjuangan akan lebih bermakna apabila diwujudkan melalui program yang terukur serta memberi manfaat kepada umat dan masyarakat.


 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Wijhah Al-Washliyah merupakan arah, tujuan, atau orientasi perjuangan Al-Jam’iyatul Washliyah. Wijhah membantu organisasi dan kader memahami cita-cita yang hendak diwujudkan serta menjadi pedoman dalam melaksanakan kegiatan.

Dalam dokumen referensi, tujuan perjuangan Al-Washliyah berkaitan dengan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam serta mewujudkan masyarakat yang beriman, bertakwa, cerdas, adil, makmur, dan diridai Allah Swt. Tujuan tersebut dilaksanakan melalui berbagai bidang pengabdian, terutama pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan.

Wijhah memiliki hubungan yang erat dengan Shibghah. Wijhah memberikan arah perjuangan, sedangkan Shibghah mencerminkan karakter atau identitas kader. Keduanya perlu dikembangkan secara seimbang agar kader tidak hanya memahami tujuan organisasi, tetapi juga memperlihatkan akhlak dan perilaku yang sesuai dengan nilai perjuangannya.

Dengan demikian, setiap anggota dan kader perlu mempelajari, memahami, dan mengamalkan Wijhah Al-Washliyah melalui peningkatan pengetahuan, tanggung jawab organisasi, penjagaan persatuan, serta pengabdian nyata kepada umat dan bangsa.

B. Saran

15.       Anggota dan kader hendaknya mempelajari wijhah melalui sumber Kealwashliyahan dan dokumen resmi organisasi.

16.       Pengurus hendaknya memperkuat pendidikan dan kaderisasi agar arah perjuangan dipahami secara merata.

17.       Lembaga pendidikan hendaknya menghubungkan pembelajaran Kealwashliyahan dengan praktik karakter, kepemimpinan, dan pengabdian sosial.

18.       Kader muda hendaknya memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pendidikan, dakwah, dan kegiatan sosial.

19.       Setiap kegiatan organisasi hendaknya direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi berdasarkan tujuan serta ketentuan organisasi yang berlaku.


 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Jam’iyatul Washliyah. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Al-Jam’iyatul Washliyah. Gunakan edisi resmi yang berlaku.

Al-Jam’iyatul Washliyah. “Sejarah Al-Jam’iyatul Washliyah.” Situs resmi organisasi. https://washliyah.or.id/public/sejarah

Al-Jam’iyatul Washliyah. “Mencermati Makna Asas Al-Washliyah.” Situs resmi organisasi, 26 September 2021. https://washliyah.or.id/blog/2021/09/26/mencermati-makna-asas-al-washliyah/

Al-Qur’an al-Karim. Surah As-Saff ayat 10–11.

Cintani Azzuhra, Dani Aulia Balqis, dan Mhd Rafli Bachtiar. (2025). Makalah Wijhah dan Shibghah Al-Washliyah. Makalah mata kuliah Kealwashliyahan, Universitas Muslim Al-Washliyah. Dokumen referensi yang diberikan.