Senin, Oktober 19, 2026

MERIAM PENINGGALAN KESULTANAN BANJAR ZAMAN SULTAN SA'IDILLAH

 MERIAM PENINGGALAN KESULTANAN BANJAR ZAMAN SULTAN SA'IDILLAH


• Meriam yang terletak di depan halaman Kantor Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Banjar ini ditemukan oleh para pekerja bangunan saat penggalian fondasi pembangunan Pasar Batuah Martapura pada tahun 2004 M.
• Meriam ini merupakan senjata api tradisional untuk menyerang, bisa juga berfungsi sebagai senjata pertahanan. Selain itu, meriam ini bisa juga digunakan pada saat momen-momen tertentu seperti penobatan sultan, menerima tamu kehormatan, dan penanda waktu berbuka puasa selama bulan Ramadhan.
• Bahan meriam terbuat dari besi, tidak ada inskripsi dan meriam dibuat polos tanpa ornamen. Meriam ini memiliki panjang 290 cm dengan kaliber lubang peluru 11 cm, ukuran ujung meriam berdiameter 23 cm, bagian tengahnya berdiameter 29 cm, dan ukuran diameter pangkal 39 cm.
• Meriam ini merupakan peninggalan Kesultanan Banjar era pemerintahan Sultan Sa'idillah bin Sultan Inayatullah, Raja Kesultanan Banjar Ke-6 yang memerintah tahun 1637 - 1660 M.
• Penempatan senjata meriam demikian cenderung berpindah-pindah, namun biasanya tidak jauh dari pusat ibu kota kerajaan.

Makam Raden Brangta bin Pangeran Suria Winata.

 Makam Raden Brangta bin Pangeran Suria Winata.

Letak: Kompleks Makam Sultan Adam, Jalan Sultan Adam, Kelurahan Jawa, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.
Raden Brangta bin Pangeran Suria Winata bin Pangeran Husin Mangkubumi Nata bin Sultan Sulaiman Rahmatullah merupakan Kepala Distrik Martapura. Pada masa Hindia Belanda, distrik adalah bagian wilayah administratif pemerintahan setingkat kecamatan. Sekarang ini wilayah Distrik Martapura menjadi bagian dari wilayah Kota Banjarbaru dan beberapa kecamatan di Kabupaten Banjar. Suku Banjar yang mendiami wilayah bekas distrik ini disebut orang Martapura atau orang Kayu Tangi.

Makam Raden Mas Kromo.

 Makam Raden Mas Kromo.

Letak: Jalan Antasari, Kelurahan Jawa, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.
ASAL-USUL NAMA KAMPUNG JAWA DI MARTAPURA
Raden Mas Kromo merupakan salah satu pendatang awal dari Suku Jawa di Martapura yang berasal dari Solo, Jawa Tengah. Pada awal kedatangannya, beliau bekerja sebagai pemelihara kuda milik Raden Brangta yang saat itu menjabat sebagai Kepala Distrik Martapura.
Raden Mas Kromo kemudian membuka suatu wilayah untuk dijadikan tempat bermukim. Di tempat tersebut, beliau membangun rumah tinggal sekaligus membuka lahan untuk berkebun. Seiring berjalannya waktu, kawasan itu semakin banyak didiami oleh Suku Jawa sehingga dinamakan Kampung Jawa.
Seiring perkembangan wilayah dan pemekaran administratif di Kabupaten Banjar, kawasan ini kini telah berubah status menjadi wilayah Kelurahan Jawa dan Desa Jawa Laut di Kecamatan Martapura. Di wilayah Kelurahan Jawa terdapat Makam Sultan Adam Al Watsiq Billah, Raja Ke-14 Kesultanan Banjar.

SUNGGA: SENJATA MEMATIKAN PERANG BANJAR DARI GUNUNG MADANG KANDANGAN

 SUNGGA: SENJATA MEMATIKAN PERANG BANJAR DARI GUNUNG MADANG KANDANGAN


Saat pertempuran mempertahankan Benteng Gunung Madang, pasukan Tumenggung Antaluddin memasang sungga di sekeliling benteng.
Sungga dipasang sebagai jebakan untuk pasukan Belanda yang berani mendekati benteng. Tanah yang telah dibuat lubang ditutupi daun kering sehingga pasukan musuh yang tidak waspada akan terjatuh ke dalam lubang dan langsung tertusuk sungga yang telah ditanam.
Sungga menjadi bagian senjata penting dalam mempertahankan Benteng Gunung Madang. Karena itulah dalam lima kali penyerbuan, pasukan Belanda tidak dapat menaklukkan benteng tersebut.
Saat ini salah satu sungga yang digunakan oleh pasukan Tumenggung Antaluddin pada Perang Banjar tersimpan di Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru.

JUKUNG TAMBANGAN ERA SULTAN TAHMIDILLAH NATA ALAM YANG TERLUPAKAN

 JUKUNG TAMBANGAN ERA SULTAN TAHMIDILLAH NATA ALAM YANG TERLUPAKAN


Jukung Tambangan ditemukan terbenam lumpur pada kedalaman 1,5 m di Sungai Saka Raden anak Sungai Nagara, Desa Baulin, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin pada Juni 2009 M.
Jukung Tambangan ini berukuran panjang 12,40 m, lebar 1,34 m, dan dalam 59 cm. Kondisi jukung 80% baik, sebagian rusak, dan pada samping belakang telah mengalami pelapukan. Berdasarkan hasil analisa C-14 di Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL) Bandung, jukung ini berumur absolut 1765-1825 M atau sekitar pertengahan abad ke-18 hingga awal abad ke-19 M.
Dari sumber di atas dapat diketahui bahwa Jukung Tambangan mulai berkembang pada masa pemerintahan Sultan Tahmidillah Nata Alam hingga Sultan Adam Al Watsiq Billah yang artinya secara arkeologis dan historis jukung ini telah berusia melebihi dua abad.
Jukung Tambangan terbuat dari kayu ulin, biasa digunakan oleh para saudagar atau orang kaya sekitar tahun 1843-1884 M. Pada pertengahan abad ke-19 M, atap sirap dari kayu ulin mulai digunakan dan diperdagangkan.
Namun kemudian sejak awal abad ke-20 M, Jukung Tambangan sudah banyak digunakan untuk antar-jemput penumpang yang bepergian, bertemu keluarga, kematian, perkawinan, dan sebagainya. Baik oleh orang kebanyakan, maupun oleh para bangsawan dan orang kaya.
Sabtu, 10 Shafar 1448 H.

MENGENAL PANDAN LIRIS/BAGIWAS: JUKUNG KHAS URANG BANJAR

 MENGENAL PANDAN LIRIS/BAGIWAS: JUKUNG KHAS URANG BANJAR


Jukung ini ditemukan di dasar sungai Desa Sapala, Kecamatan Paminggir, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Daerah ini merupakan rawa yang sangat luas. Dilihat dari lokasi penemuannya, jukung ini merupakan alat transportasi danau pada masa lalu.
Jukung Pandan Liris atau Jukung Bagiwas adalah jenis jukung tradisional khas Suku Banjar di Kalimantan Selatan. Jukung ini tidak memiliki lunas dari balokan kayu di bagian dasarnya, melainkan dinding perahu disatukan membentuk huruf V.
Jukung tipe ini pernah dipakai oleh para pejuang Perang Banjar seperti Tumenggung Abdul Jalil dalam pergerakan melawan penjajah Belanda di wilayah Banua Lima (1859-1881 M). Selain itu, Jukung Bagiwas juga pernah digunakan untuk menjemput Syaikh H. Sa'duddin Al Banjari atau Datu Taniran dari Martapura ke Taniran pada tahun 1812 M.
Untuk statusnya saat ini, Jukung Bagiwas termasuk jenis perahu tradisional Banjar yang sudah punah akibat pergeseran penggunaan sarana transportasi air bermesin serta akses jalan darat.

UKUNG SUDUR: JUKUNG TERTUA WARISAN SUKU BANJAR

 JUKUNG SUDUR: JUKUNG TERTUA WARISAN SUKU BANJAR


Jukung Sudur adalah perahu tradisional Suku Banjar di Kalimantan Selatan yang diyakini sebagai prototipe tertua dari semua jenis jukung, sudah digunakan sejak 2500 tahun yang lalu. Jukung ini dibuat dari satu batang kayu utuh yang dipahat cekung memanjang layaknya lesung yang sangat besar.
Ditemukan terpendam dalam lumpur di tepi Sungai Tarasi, Desa Kaludan Besar, Kecamatan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara pada tahun 1994 M. Jukung Sudur ini diperkirakan dibuat pada abad ke-15 M, bahan dari batang pohon tunggal yang dipahat cekung memanjang. Panjangnya kurang lebih 17 m, sedangkan ukuran biasa panjangnya hanya sekitar 3 sampai 5 m. Dilihat dari ukurannya yang sangat panjang, diduga jukung ini dahulu digunakan sebagai sarana pengangkutan barang.
Bayangkan 600 tahun yang lalu, jukung sepanjang ini meluncur di atas sungai Kalimantan. Membawa barang, mungkin juga orang. Sungai adalah jalan raya masa itu. Tidak ada aspal, tidak ada tol. Semua urusan hidup bertumpu pada aliran sungai.
Untunglah Museum Lambung Mangkurat memajangnya. Jika tidak, mungkin hanya tinggal cerita. Atau lebih parah, jadi kayu bakar. Kini siapa saja bisa datang melihatnya, mengagumi keterampilan leluhur, dan merenungkan betapa kuatnya hubungan orang Banjar dengan sungai. Sungai adalah jalan, sungai adalah hidup, dan Jukung Sudur adalah saksi bisunya.

CANDI LARAS: SITUS PENINGGALAN HINDU-BUDDHA DI KALIMANTAN SELATAN

 CANDI LARAS: SITUS PENINGGALAN HINDU-BUDDHA DI KALIMANTAN SELATAN

Candi Laras adalah situs candi Hindu-Buddha berukuran kecil yang terletak di Desa Candi Laras, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupeten Tapin, Kalimantan Selatan. Daerah tempat berdirinya Candi Laras oleh masyarakat sekitar dinamakan Tanah Tinggi. Pada situs candi ditemukan potongan-potongan Arca Batara Guru memegang cupu, Lembu Nandini, dan Lingga. Semuanya disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru.
Letak candi tidak berada pada lokasi yang strategis, sehingga diperkirakan candi tersebut didirikan untuk maksud-maksud tertentu dan diperkirakan merupakan candi kerajaan. Di dalam daerah yang berdekatan dengan candi, yaitu daerah aliran Sungai Amas, ditemukan pula sebuah Arca Buddha Dipankara dan potongan batu yang bertuliskan aksara Pallawa yang berkaitan dengan agama Buddha.
Arca tersebut berbunyi siddha, selengkapnya seharusnya berbunyi jaya siddha yatra yang berarti perjalanan ziarah yang mendapat berkah. Kalimat tersebut mengingatkan pada baris kesepuluh Prasasti Kedukan Bukit peninggalan Kerajaan Sriwijaya abad ke-7 M yang berbunyi sriwijaya jaya siddha yatra subhiksa. Kemiripan kalimat kedua prasasti mungkin menunjukkan adanya hubungan antara Kerajaan Sriwijaya dengan Tapin.
Situs purbakala Candi Laras diperkirakan dibangun pada tahun 1300 M oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari Kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang sebagian besar warga Tapin.
Koleksi Museum Lambung Mangkurat:
1. Sisa patung Nandi.
2. Replika Nandi.
3. Replika Syiwa sebagai Batara.
4. Pecahan patung Batara Guru.
5. Alas patung.
6. Patahan Lingga.
7. Replika Lingga Yoni.

KOPIAH JANGANG: KOPIAH TRADISIONAL SUKU BANJAR YANG DAHULU HANYA DIPAKAI OLEH ALIM ULAMA & KAUM SANTRI

 KOPIAH JANGANG: KOPIAH TRADISIONAL SUKU BANJAR YANG DAHULU HANYA DIPAKAI OLEH ALIM ULAMA & KAUM SANTRI


KOPIAH JANGANG: KOPIAH TRADISIONAL SUKU BANJAR YANG DAHULU HANYA DIPAKAI OLEH ALIM ULAMA & KAUM SANTRI
Proses pembuatan kopiah jangang tergolong rumit karena akar kayu itu sepenuhnya dianyam menggunakan pola-pola khusus dan dikerjakan secara manual oleh tangan-tangan manusia. Polanya ada yang berupa gelombang, bunga teratai, dan hati. Akar jangang biasanya diambil di pedalaman hutan Kalimantan seperti di Puruk Cahu dan Muara Teweh.
Saat baru diambil dari pohonnya, biasanya akarnya itu akan dikupas kulit luarnya terlebih dahulu. Setelah itu barulah tampak kulit lapisan kedua. Di lapisan ketiga teksturnya lebih lembut, biasanya disebut hati jangang. Yang bisa diolah menjadi kopiah adalah kulit lapisan kedua dan hatinya, adapun kulit luarnya keras sehingga tidak bisa dibentuk jadi kopiah.
Hasil olahan kulit lapisan kedua dengan hatinya sangat jauh berbeda. Kopiah berbahan kulit jangang lapisan kedua lebih keras, tebal, dan lubangnya besar-besar jika dibandingkan dengan kopiah berbahan hati jangang. Kopiah berbahan hati jangang jauh lebih halus dan lembut, anyamannya tampak lebih rapi, rapat, lubangnya kecil-kecil, dan motifnya lebih indah.
Proses pembuatannya memakan waktu lama. Untuk yang berbahan kulit lapisan kedua, satu buahnya dibuat selama dua hari. Sementara yang berbahan hati, satu buahnya bisa mencapai sebulan baru selesai. Tidak heran jika harga jual
kopiah jangang berbahan hati lebih mahal, yaitu mencapai 400.000 sampai 500.000 perbuahnya. Sementara yang berbahan kulit jangang lapisan kedua berkisar antara 30.000 hingga 125.000.
Di balik pesona dan kerumitan pembuatannya, kopiah jangang ternyata memiliki strata sosial tersendiri bagi masyarakat Banjar di masa lalu. Ratusan tahun yang lalu, masyarakat Muslim di Kalimantan Selatan belum mengenal jenis peci atau songkok seperti yang ada sekarang ini. Oleh karena itu, masyarakat berinisiatif membuat sendiri untuk keperluan beribadah.
Dahulu pemakainya hanya para santri dan ulama. Menurut cerita orang-orang tua zaman dahulu, siapa yang memakai kopiah jangang dianggap bisa membaca doa atau memimpin majelis pengajian. Makanya dahulu kopiah ini tidak dipakai oleh sembarang orang, hanya para santri dan ulama yang sekiranya bisa dipercaya menjadi imam shalat atau penceramah yang berhak memakainya. Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya peminat dari luar kalangan pesantren, kopiah ini kemudian turun kasta menjadi kopiah yang umum dipakai masyarakat.

Minggu, Oktober 18, 2026

KARAS HATI URANG BANJAR MELAWAN PENJAJAH

 KARAS HATI URANG BANJAR MELAWAN PENJAJAH

Jika di daerah lain masih banyak peninggalan perang yang dapat dikunjungi, maka di Banua Banjar hampir tidak ada lagi. Sisa peninggalan Perang Banjar banyak yang dibiarkan sehancur-hancurnya bahkan istana sultan sendiri.
Perjuangan orang Banjar dalam melawan Belanda yang sudah sampai titik darah penghabisan berbuah kebencian yang sangat panjang. Semangat yang membara ini menyebabkan banyak peninggalan masa perang yang hancur dan dibiarkan begitu saja. Pejuang dan rakyat Banjar seolah tidak mau lagi melihat adanya bekas peninggalan penjajah.
Benteng Oranje Nassau di Pengaron, Benteng Tabanio di Tanah Laut, Benteng Tundakan di Balangan, dan sebagainya dibiarkan hancur begitu saja. Bahkan Benteng Tatas di Banjarmasin yang sangat dominan juga hancur, begitu juga dengan Monumen Perang Banjar yang dibangun Belanda dan diperkirakan terletak dekat Benteng Tatas juga hilang. Menurut sebagian sejarawan, Benteng Tatas dan bangunannya dihancurkan Belanda agar tidak digunakan oleh Jepang.
Di antara pelajaran yang bisa kita petik dari kisah ini adalah bahwa para leluhur kita, baik dari kalangan bangsawan, ulama, tokoh masyarakat, maupun rakyat biasa pada umumnya, mereka semua adalah pejuang yang memiliki militansi dan keberanian yang tinggi dalam membela negerinya. Mereka rela mengorbankan segalanya termasuk nyawanya demi kehormatan agama dan bangsanya.

PUSAKA RAJA TUMPANG: SIMBOL PERSAUDARAAN, PERLINDUNGAN, DAN PENGHORMATAN DARI PANGERAN SAMUDERA

 PUSAKA RAJA TUMPANG: SIMBOL PERSAUDARAAN, PERLINDUNGAN, DAN PENGHORMATAN DARI PANGERAN SAMUDERA


Pada masa mudanya, Pangeran Samudera pernah dalam situasi genting karena diburu oleh lawan-lawan politiknya. Beliau kemudian bersembunyi di desa kecil bernama Belandean yang saat itu adalah wilayah aman di pinggiran sungai besar.
Di sanalah seorang tokoh kharismatik dan pemberani bernama Mantri Jaya Arja menjadi pelindung Pangeran Samudera. Mantri Jaya Arja dikenal sebagai pemimpin lokal yang setia, berilmu bela diri tinggi, dan memiliki jaringan rakyat yang kuat di pedalaman.
Setelah naik takhta dan mendirikan Kesultanan Banjar dengan bantuan Kesultanan Demak, Pangeran Samudera tidak melupakan jasa para pelindungnya. Sebagai bentuk terima kasih dan penghormatan, beliau memberikan sebuah keris pusaka kepada Mantri Jaya Arya.
Keris itu dinamakan Raja Tumpang yang bermakna pemberian seorang raja yang pernah menumpang, yakni menumpang hidup, menumpang harapan, dan menumpang masa depan.
Sumber: Sultan H. Khairul Saleh Al Mu'tashim Billah.

SYAMSUDDIN NOOR, SALAH SATU PUTRA TERBAIK BANUA YANG NAMANYA DIABADIKAN JADI NAMA BANDARA

 SYAMSUDDIN NOOR, SALAH SATU PUTRA TERBAIK BANUA YANG NAMANYA DIABADIKAN JADI NAMA BANDARA

Kapten Udara (Anumerta) Muhammad Syamsuddin Noor merupakan salah satu Perwira TNI Angkatan Udara. Namanya diabadikan di Lanud Syamsuddin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Muhammad Syamsuddin Noor adalah putra asli Kalimantan yang lahir di Alabio, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan pada 5 November 1924 M sebagai putra ketiga dari enam bersaudara pasangan H. Abdul Ghaffar Noor (Pensiunan Kiyai Besar Kepala Federasi Kalimantan Tenggara) dan Hj. Putri Ratna Willis, putri Pangeran H. Amir Husin Kusuma, Raja Terakhir Pulau Laut.
Pada Tahun 1932 M, beliau masuk sekolah HIS di Batavia. Setelah lulus dari HIS pada Tahun 1939 M, beliau melanjutkan pendidikan MULO di Bogor, Jawa Barat. Pada tahun 1942 M setamatnya dari MULO, beliau kemudian melanjutkan ke sekolah AMS di Yogyakarta dan berhasil lulus pada tahun 1945 M.
Setelah menamatkan pendidikan umumnya di AMS Yogyakarta, Muhammad Syamsuddin Noor muda merasa terpanggil untuk memasuki dunia kemiliteran bagian udara, kemudian pada tahun itu juga beliau melanjutkan pendidikan di Militarie Academie (MA) Yogyakarta selama satu tahun. Pada tahun 1946 M setelah lulus dari Akademi Militer, beliau kemudian meneruskan sekolah kejuruan penerbangan di Yogyakarta hingga tahun 1947 M.
Untuk lebih meningkatkan kemampuannya di dunia penerbangan, beliau mengikuti pendidikan dan latihan penerbangan pesawat udara di India dan Burma selama kurun waktu 1947 sampai dengan 1950 M. Di Burma, beliau menjadi Pilot pesawat pada penerbangan Indonesian Airways.
Sepulangnya dari Burma pada tahun 1950 M, Kapten Udara (Anumerta) Muhammad Syamsuddin Noor menerbangkan pesawat Dakota T-446 milik AURI di Lanud Andir Bandung, hingga musibah menimpanya pada saat melaksanakan tugas penerbangan dari Lanud Andir Bandung menuju Tasikmalaya. Peristiwa terjadi pada hari Ahad tanggal 16 Shafar 1370 H bertepatan dengan 26 November 1950 M sekitar pukul 17.00 waktu setempat, diakibatkan kerusakan mesin ditambah cuaca buruk menyelimuti langit di sekitar Gunung Galunggung.
Pesawat yang sedang berbelok tiba-tiba menabrak cadas dinding gunung di lereng Gunung Galunggung yang terletak kurang lebih 15 km di sebelah tenggara Malang Bong, Ciawi, Tasikmalaya. Beliau gugur sebagai kusuma bangsa pada usia 26 tahun dan dianggap sebagai salah seorang pelopor bagi lahirnya Indonesian Airways.
Beliau dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung pada hari Rabu tanggal 29 November 1950 M, diiringi penembakan Salvo serta penaburan bunga oleh rekan-rekan penerbang dari pesawat Capung yang melintas di atas Taman Makam Pahlawan.

SEJARAH MIGRASI URANG BANJAR KE SUMATERA DAN MALAYSIA

 SEJARAH MIGRASI URANG BANJAR KE SUMATERA DAN MALAYSIA


Orang Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak cucu dari para migran etnik Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi besar.
Pertama, pada tahun 1780 M terjadi migrasi besar-besaran ke Pulau Sumatera. Etnik Banjar yang menjadi pendatang ketika itu adalah para penyokong Pangeran Amir yang kalah dalam perang saudara Kesultanan Banjar. Mereka terpaksa melarikan diri dari wilayah Kesultanan Banjar. Karena sebagai musuh politik, mereka sudah pasti akan dijatuhi hukuman mati.
Kedua, pada tahun 1862 M terjadi lagi migrasi besar-besaran ke Pulau Sumatera. Etnik Banjar yang menjadi pendatang ialah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar, mereka terpaksa melarikan diri dari pusat pemerintahan Kesultanan Banjar di Martapura atas alasan yang sama. Pasukan Belanda yang menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar sudah menguasai daerah-daerah di wilayah Kesultanan Banjar.
Ketiga, pada tahun 1905 M etnik Banjar kembali melakukan migrasi besar-besaran ke Pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi pemimpin di Kesultanan Banjar syahid di tangan Belanda.
Kemudian migrasi Suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir terjadi sekitar tahun 1885 M di masa pemerintahan Sultan Isa, Raja Indragiri sebelum raja yang terakhir. Tokoh etnik Banjar yang terkenal di daerah ini ialah Syaikh Abdurrahman Shiddiq Al Banjari atau Datu Sapat yang berasal dari Martapura dan memegang jabatan sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.
Salah satu alasan utama Suku Banjar memilih Indragiri Hilir sebagai tempat perantauan ialah dikarenakan tidak diberlakukannya sistem Rodi atau kerja paksa oleh Pemerintah Hindia Belanda saat itu. Meskipun Belanda masih mengendalikan wilayah tersebut melalui Kerajaan Indragiri, masyarakat tetap memiliki kebebasan bertani dan berdagang. Selain itu, keadaan alam Indragiri Hilir yang mirip dengan Kalimantan Selatan juga menjadi faktor pendukung berkembangnya komunitas Banjar di sana.
Saat ini, Indragiri Hilir memiliki populasi sekitar 639.450 jiwa dengan 242.991 jiwa di antaranya adalah orang Banjar atau keturunannya yang tersebar di 20 kecamatan dan 192 desa. Wilayah dengan populasi Banjar terbesar meliputi Tembilahan Hulu, Tembilahan Kota, Tempuling, Enok, Batang Tuaka, dan Kuala Indragiri (Sapat). Menariknya, dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat di wilayah ini tetap menggunakan Bahasa Banjar dengan dialek Pahuluan sebagai bahasa komunikasi utama.
Dalam masa-masa tersebut, Suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain ke Negeri Kedah, Perak (Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor (Sabak Bernam, Tanjung Karang), dan Johor (Batu Pahat). Tokoh etnik Banjar yang terkenal dari Malaysia adalah Syaikh Husein bin H. Muhammad Nashir Al Banjari atau Syaikh Husein Kedah yang dahulu menjabat sebagai Mufti Kerajaan Kedah. Salah seorang tokoh etnik Banjar dari Malaysia yang terkenal di zaman ini ialah Dato Seri Harussani bin H. Zakaria yang menjadi Mufti Negeri Perak dari tahun 1985 hingga wafatnya pada tahun 2021 M.

SITUS PATIH MUHUR: KISAH SAHABAT YANG AKHIRNYA JADI SETERU

 SITUS PATIH MUHUR: KISAH SAHABAT YANG AKHIRNYA JADI SETERU


Patih Muhur merupakan salah seorang pemimpin Dayak Bakumpai yang menjadi salah satu dari lima orang patih yang ikut menobatkan Sultan Suriansyah sebagai Raja Banjar. Sebagai tokoh awal berdirinya Kesultanan Banjar, Patih Muhur pun diangkat menjadi Mantri Ampat bersama Patih Balit, Patih Balitung, dan Patih Kuin. Selain menjabat Mantri Kesultanan Banjar, Patih Muhur juga bertindak sebagai hakim. Bahkan dalam sebuah sidang yang digelar para mantri, Patih Muhur termasuk yang menyarankan Sultan Suriansyah agar meminta bantuan Kesultanan Demak di masa Sultan Trenggono untuk mengirim pasukan guna melawan pasukan Pangeran Tumenggung dari Kerajaan Daha.
Hubungan antara Patih Muhur dan Sultan Suriansyah awalnya baik-baik saja. Hingga pada suatu hari, Sultan Suriansyah ingin menikahi adik perempuan Patih Muhur. Lamaran diterima dengan syarat adik Patih Muhur tetap menganut kepercayaan lamanya yaitu Kaharingan. Seiring berjalannya waktu, Sultan Suriansyah mengislamkan adik Patih Muhur.
Dianggap melanggar, Patih Muhur pun marah dan menculik adiknya. Ketegangan antara dua sahabat ini pun tidak dapat terelakkan. Dalam menghadapi kepungan pasukan Kesultanan Banjar, Patih Muhur memilih mundur ke Pulau Petak, Kapuas. Saat meninggalkan kampung, Patih Muhur memerintahkan pasukannya untuk membumihanguskan tempat tinggalnya sebelum diserbu pasukan lawan.
Situs Patih Muhur terletak di Desa Patih Muhur, Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Menurut cerita turun-temurun, situs ini dulunya merupakan sebuah rumah adat Banjar yang sangat besar. Saat ditemukan pada tahun 1982 M, banyak ulin dengan diameter besar berserakan. Di beberapa sudut terdapat tiang ulin besar yang disebut ulin datu dengan kondisi patah bekas hangus terbakar. Dan sudah ada beberapa tiang ulin yang diambil oleh warga sebelum akhirnya dilarang pemerintah. Beberapa orang mengaku pernah mencungkil ulin tersebut untuk dibawa pulang, namun beberapa waktu kemudian mereka mengembalikannya lagi karena tiba-tiba terserang sakit.
Menurut hasil penelitian Balai Arkeologi Banjarmasin, gelondongan kayu ulin pada Situs Patih Muhur yang ditanam dan membentuk pola tertentu ternyata disusun dengan menggunakan konstruksi kalang sunduk. Dan berdasarkan hasil carbon dating dari sampel kayunya, diketahui bahwa kayu-kayu ulin ini berasal dari abad ke-14 M. Selain itu, fragmen keramik asing juga banyak ditemukan di permukaan tanah di sekitar areal situs ini, terutama dari China dan Eropa.
Saya yang telah melihat langsung Situs Patih Muhur ini pun masih keheranan, bagaimana cara orang dahulu mengangkat ulin-ulin sebesar ini tanpa bantuan alat berat

WARISAN YANG TERPECAH & WASIAT PERDAMAIAN: PANGERAN TUMENGGUNG & PANGERAN SURIANSYAH

 WARISAN YANG TERPECAH & WASIAT PERDAMAIAN: PANGERAN TUMENGGUNG & PANGERAN SURIANSYAH

Di balik derasnya Sungai Barito dan rimbunnya hutan Kalimantan, tersembunyi kisah lama tentang dua orang pangeran, dua darah bangsawan, dua tafsir sejarah, namun dalam satu kisah yang terus hidup di antara generasi.
Versi keturunan Pangeran Suriansyah menyebutkan bahwa takhta Banjar sejatinya diwariskan oleh Maharaja Sukarama kepada cucu kesayangannya, Pangeran Suriansyah, melalui wasiat. Namun ambisi sang paman, Pangeran Tumenggung, membuat takhta itu direbut hingga perang pun pecah. Cerita ini hidup dalam naskah kuno, meski baru ditulis dua abad setelah peristiwa.
Sebaliknya, keturunan Pangeran Tumenggung membawa narasi yang berbeda, bahwa Pangeran Tumenggung adalah pewaris sah dan putra kandung raja. Bagi mereka, tuduhan merebut takhta adalah fitnah sejarah yang dibuat untuk menjatuhkan martabat sang pangeran yang sesungguhnya hanya menjalankan haknya.
Satu kisah dijaga dalam tulisan, satu lagi diwariskan lewat lisan. Dua versi yang tidak bisa dipaksa untuk saling mengalah, tapi bisa dijadikan pelajaran. Karena sejarah bukan hanya tentang siapa yang benar, tapi tentang bagaimana kita belajar dari perbedaan versi. Kita bukan lagi para pewaris dendam, tapi penerus nilai. Mari membacanya dengan hati terbuka, agar sejarah menjadi jembatan bukan jurang.
_______________###_______________
Rahasia di balik kisah ini mudah-mudahan membawa berkah. Apa pun cerita sejarah di masa lampau, kita bagian dari sejarah itu. Suka atau tidak suka, kita tidak bisa pungkiri betapa kelamnya sejarah kita dahulu.
Jika kita mau menunduk sejenak, mau merenungkan, yang berlalu biarlah berlalu, jadikan pelajaran untuk masa yang akan datang. Tidak ada gunanya mengingat masa lalu kalau hanya untuk saling bergesekan yang tidak ada manfaat dan banyak mudharatnya.
Jika kita melihat kesalahan oranglain saja, tentu akan banyak yang dilihat dan tidak akan ada habisnya. Tetapi kita sebagai orang yang berakal dan beriman, kita dididik oleh datu-datu kita, orangtua kita, bahkan guru-guru kita untuk tidak gampang berprasangka jahat dan tetaplah sangka baik. Bukankah manusia itu tempatnya salah dan khilaf, kesalahan bisa terjadi karena disengaja ataupun lupa dan selalu ada hikmahnya.
Mari kita pererat tali silaturahmi, rapatkan barisan, satukan tujuan, dan jangan bercerai-berai. Karena di luar sana, cepat atau lambat, akan ada gelombang-gelombang yang lebih dahsyat yang akan menerpa Banua kita tercinta ini.
_______________###_______________
Wasiat Pangeran Tumenggung:
Damai di pusara harusnya jadi caramin gasan damai di dunia. Mudahan buhan diakau kawa babulik sapa, badangsanak manunggal.

 Makam Datu Abdul Manaf bin Abdullah.

Letak: Alkah Kalangkala, Jalan Karya Bakti RT. 04/RW. 08, Kampung Gumpal, Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan.
Datu Abdul Manaf bin Abdullah bin Darham bin Ilyas merupakan seorang tuan guru pada masanya yang ikut berjuang mengangkat senjata melawan penjajahan, beliau gugur dalam salah satu perang gerilya menghadapi tentara Belanda. Makam beliau ditemukan secara tidak sengaja ketika penggalian liang lahat untuk makam salah satu warga yang baru meninggal. Setelah mencapai kedalaman beberapa meter, para penggali kubur dikejutkan dengan temuan jenazah yang masih utuh lengkap dengan bau harum melati dan kain kafan putih bersih yang membungkusnya. Adapun keturunan beliau sudah terputus atau tidak ada lagi.
Sumber: Habib Ahmad Basyaiban.

SEJARAH MALUKA: NEGARA BONEKA INGGRIS DI DALAM WILAYAH KESULTANAN BANJAR

 SEJARAH MALUKA: NEGARA BONEKA INGGRIS DI DALAM WILAYAH KESULTANAN BANJAR


Pada tahun 1811 M, Inggris mengambil alih wilayah Nusantara dari Belanda. Kerajaan-kerajaan yang dulu berhubungan dagang dengan Belanda digantikan oleh perwakilan Inggris di setiap daerahnya. Perubahan kekuatan dagang ini juga berpengaruh kepada Kesultanan Banjar. Di tahun yang sama, seorang Inggris bernama Alexander Hare ditunjuk sebagai residen di Banjarmasin. Sebagai residen, Hare bertugas menjadi penghubung antara Pemerintah Inggris dengan Sultan Banjar. Sebelumnya, Hare diketahui merupakan pengusaha yang menjadi pegawai maskapai dagang Inggris bernama East India Company atau EIC.
Hubungan yang baik antara Sultan Banjar, Sultan Sulaiman Rahmatullah, dengan Alexander Hare berbuah hasil yang manis bagi Inggris. Pada tahun 1812 M, Sultan Sulaiman memberikan sebuah wilayah bernama Distrik Maluka seluas 1.400 mil persegi. Wilayah ini meliputi Sungai Maluka, Liang Anggang, Kurau, dan Pulau Lamai.
Pemerintahan Hare di dalam Maluka terkesan tidak terbatas, bahkan tidak ada halangan dari sultan. Kemungkinan disebabkan saat itu Inggris memberikan jaminan keamanan kepada Kesultanan Banjar melalui jalur lautnya. Lambat laun obsesi Hare semakin besar, dia berkeinginan menjadikan Maluka menyerupai Singapura, Macau, dan Hongkong. Ini dibuktikan dengan pembukaan lahan kebun dan sawah besar-besaran, industri perkayuan, dan pembuatan perahu. Bahkan Hare mencetak mata uang sendiri untuk Maluka.
Karena kekuasaannya yang tidak tersentuh inilah, beberapa sumber Inggris menyatakan Hare mempunyai negara sendiri dan berani mengambil gelar Raja Kulit Putih Dari Borneo. Hare juga mendatangkan narapidana dan gelandangan dari Pulau Jawa untuk dijadikan penduduk sekaligus pekerjanya.
Menurut J.U. Lontaan ketika menjelajah Kalimantan pada tahun 1985 M. Dari Raffles, Hare mendapat bantuan 4000 orang tenaga dari tahanan, mereka dipekerjakan sebagai petani kopi, petani lada, petani sayur, dan lain sebagainya. Di antara mereka terdapat juga orang-orang pandai kayu. Adapun dari Sultan Banjar, Hare mendapatkan 200 orang budak untuk membuka daerah yang dikuasakan kepadanya.
Selain itu, Alexander Hare disebut juga sebagai laki-laki pengumpul wanita. Wanita-wanita itu dijadikannya sebagai selir atau istri piaraan yang melayani keperluannya dan menjadi cikal-bakal terbentuknya harem.
Pada tahun 1816 M, Belanda berhasil kembali ke Nusantara dan masa pemerintahan Raffles berakhir. Lambat laun Maluka mengalami kerugian dan penurunan produksi sampai akhirnya Hare terusir dari Maluka dan menyudahi kekuasaannya.
Awalnya Hare masih diizinkan untuk mempertahankan kekuasaannya di Maluka, namun kemudian muncul isu yang menyebutkan bahwa dia memusuhi Belanda dan hendak memperluas kekuasaan Inggris di sana. Pada akhirnya Pemerintah Hindia Belanda menyatakan bahwa Hare tidak lagi memiliki hak hukum di Kalimantan dan gelarnya sebagai penguasa Maluka dicabut, kemudian dia bersama haremnya yang berjumlah 40 wanita Melayu dipaksa meninggalkan wilayah tersebut.
Ketika Hare diusir Belanda, diketahui bahwa dia telah mempekerjakan 1492 budak, terdiri dari 907 laki-laki, 462 wanita, dan 123 anak-anak. Ada satu teori yang menyatakan asal mula nama Kota Pelaihari diambil dari nama belakang Alexander Hare ini.

HIKAYAT TABIB RASIN: SEBUAH TUTUR LISAN DARI TAMBAK ANYAR MARTAPURA & MUNCULNYA BISMILLAH DALAM MANTRA DAYAK

 HIKAYAT TABIB RASIN: SEBUAH TUTUR LISAN DARI TAMBAK ANYAR MARTAPURA & MUNCULNYA BISMILLAH DALAM MANTRA DAYAK

Dalam beberapa mantra dan ritus Dayak, kita akan menemukan kata Bismillah atau lengkapnya Bismillahirrahmanirrahim. Hal ini konon ada kaitannya dengan kisah kedatangan rombongan Tabib Rasin dari Samarkand Uzbekistan ke Kalimantan Selatan pada zaman Kerajaan Nan Sarunai.
Tabib Rasin dalam tutur lisan turun-temurun masyarakat Tambak Anyar khususnya dan Martapura umumnya dianggap sebagai sosok pahlawan sekaligus pendakwah, beliau dijuluki Kelana Balaung Surban, Tabib Mujarab, Tabib Wali, dan Datu Bajanggut.
Tabib Rasin berkelana dari Samarkand ke Persia, lalu terus ke Makkah dan Madinah. Dari Madinah, beliau beserta 100 orang rombongan naik kapal layar dan sampai di Perlak Aceh. Dari Perlak, beliau bersama 10 orang sahabatnya sampai di Kalimantan Selatan. Beliau menetap di Lumangkan dan menyebarkan Islam di kalangan Suku Dayak Biaju di kawasan Batang Banyu Martapura yang sekarang letaknya sekitar Desa Tambak Anyar Ulu, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar.
Tabib Rasin merupakan sosok mubaligh yang memiliki kemampuan dalam banyak hal, beliau ahli pengobatan, ahli tasawuf, ahli bela diri, penyair, pedagang, dan seorang ayah serta kakek yang penyayang. Beliau memiliki akhlaqul karimah, mampu beradaptasi dengan lingkungan yang belum mengenal Islam. Dakwahnya santun, mengutamakan jalan damai, namun tidak pernah mengenal kata mundur dalam menyampaikan kebenaran.
Meskipun memiliki darah campuran Arab dan Cina, Tabib Rasin tidak pernah menampakkan sikap rasialisme dan eksklusivisme. Beliau justru membaur dalam kehidupan komunitas Dayak Biaju dan merajut hubungan dengan komunitas Dayak Bukit dan Dayak Ma'anyan. La ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam) dan lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) adalah jalan dakwahnya. Keshalihan pribadi dan sosial diwujudkannya tanpa pamrih sebagai khadimul ummah atau pelayan masyarakat. Jalan dakwahnya yang penuh etika Islam dan kesantunan personal inilah yang menjadi kunci keberhasilannya menuntun hidayah Allah kepada komunitas Dayak.
Dikisahkan pada suatu ketika ada seorang putri Dayak di pedalaman Kalimantan yang mengalami sakit berkepanjangan dan sudah dibawa berobat ke mana-mana namun tidak kunjung mendapatkan kesembuhan, maka datanglah Tabib Rasin dengan niat ingin membantu dan Alhamdulillah putri tersebut sembuh berkat wasilah beliau.
Dari sanalah banyak orang Dayak yang belajar tasawuf dan bacaan-bacaan Islam, meskipun sebagian besar dari mereka masih menganut kepercayaan lamanya. Dan dari sanalah ada istilah persaudaraan antara Dayak (Kaharingan) dan Arab (Islam).
Sumber:
• Folks of Dayak.
• Hikayat Tabib Rasin, Drs. Yusliani Noor, M.Pd.
• Kesultanan Banjar.

SULTAN ADAM: RAJA BANJAR YANG GEMAR MENUNTUT ILMU AGAMA KEPADA ANAK CUCU DATU KALAMPAYAN

 SULTAN ADAM: RAJA BANJAR YANG GEMAR MENUNTUT ILMU AGAMA KEPADA ANAK CUCU DATU KALAMPAYAN

Sultan Adam Al Watsiq Billah merupakan putra pertama dari Sultan Sulaiman Rahmatullah dengan istrinya yang bernama Ratu Intan Sari, beliau dilahirkan di Karang Intan pada tahun 1785 M.
Sultan Adam adalah Raja Kesultanan Banjar ke-14 yang memerintah selama 32 tahun, yaitu dari tahun 1825 hingga 1857 M. Beliau dikenal sebagai raja yang arif bijaksana dan rajin menuntut ilmu agama terutama kepada anak cucu Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan.
Di antara guru-guru beliau tersebut, yaitu:
1. Qadhi H. Abu Na'im bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
2. Khalifah H. Syihabuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
3. Mufti H. Jamaluddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
4. Pangeran Mufti H. Ahmad bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
5. Qadhi H. Mahmud bin Asiah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
6. Mufti H. Muhammad Arsyad bin Mufti H. Muhammad As'ad bin Syarifah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Selain itu, beliau mempunyai hak-hak prerogatif dalam masalah politik dan agama, hak tersebut tertulis dalam peraturan hukum yang dibuat pada tahun 1835 M yang dikenal sebagai Undang-Undang Sultan Adam. Isinya sangat banyak memuat fatwa ulama, khususnya fatwa Mufti H. Jamaluddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Sultan Adam berpulang ke rahmatullah pada hari Ahad tanggal 13 Rabi'ul Awwal 1274 H bertepatan dengan 1 November 1857 M dalam usia kurang lebih 72 tahun.

GELAR-GELAR YANG DIPAKAI DI KESULTANAN BANJAR 1. Kepala Negara:

 GELAR-GELAR YANG DIPAKAI DI KESULTANAN BANJAR

1. Kepala Negara:
• Tuan Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan.
• Kebawah Duli Yang Maha Mulia Seri Sultan.
• Yang Dipertuan Negara.
• Seri Paduka Yang Dipertuan.
2. Kepala Pemerintahan:
• Pangeran Mangkubumi.
• Pangeran Ratu Anum.
3. Istri Permaisuri Sultan Dari Kalangan Bangsawan:
• Ratu Sultan.
• Ratu Ibu.
4. Istri Permaisuri Sultan Dari Bukan Kalangan Bangsawan Yang Melahirkan Pewaris Takhta:
• Nyai Ratu.
5. Istri Sultan Dari Bangsawan Lainnya:
• Ratu.
6. Istri Sultan Dari Bukan Bangsawan Lainnya:
• Nyai.
7. Pewaris Takhta Kesultanan:
• Sultan Muda.
8. Istri Utama Sultan Muda Dari Bangsawan:
• Ratu Sultan Muda.
9. Istri Utama Sultan Muda Dari Bukan Bangsawan:
• Nyai Besar.
10. Putra Sulung Dari Permaisuri (Calon Sultan Muda):
• Pangeran Dipati Tuha.
• Pangeran Ratu.
11. Putra Kedua Dari Permaisuri (Calon Mangkubumi):
• Pangeran Dipati Anum.
• Pangeran Ratu Anum.
• Tuan Raden Dipati.
12. Putra Lainnya Yang Menjabat Adipati:
• Pangeran Adipati.
• Pangeran Dipati.
13. Pangeran Yang Mewakili Sultan:
• Raja Muda.
14. Cucu/Cicit/Piut Jalur Laki-Laki:
• Ketika masih muda: Gusti.
• Ketika sudah dewasa/dinikahkan: Pangeran.
15. Keturunan Laki-Laki Setelah Generasi Keempat Bukan Dari Garis Laki-Laki:
• Ketika masih muda: Antung.
• Ketika sudah dewasa/dinikahkan: Gusti.
16. Anak Perempuan Dari Permaisuri/Selir:
• Ketika belum dinikahkan: Putri.
• Ketika sudah dinikahkan: Ratu (ditambah nama suami).
• Ketika dinikahkan dengan bangsawan Arab: Ratu Syarif.
17. Keturunan Dari Bangsawan Arab (Sayyid/Syarif) Yang Menikah Dengan Putri Sultan/Putri Mangkubumi:
• Pangeran Syarif.
18. Anak Laki-Laki Dari Ratu Syarif:
• Pangeran Syarif.
19. Anak Perempuan Dari Ratu Syarif:
• Syarifah Putri.
20. Laki-Laki Bukan Bangsawan Yang Menikah Dengan Putri Sultan/Putri Mangkubumi:
• Raden.
21. Keturunan Dari Gusti Perempuan Yang Menikah Dengan Kalangan Bukan Bangsawan:
• Antung (separuh Gusti).
22. Keturunan Dari Antung Perempuan Yang Menikah Dengan Kalangan Bukan Bangsawan:
• Andin (separuh Antung).
23. Andin Laki-Laki Yang Disukai Sultan Karena Dedikasinya:
• Raden.
24. Keturunan Dari Andin Perempuan Yang Menikah Dengan Kalangan Bukan Bangsawan:
• Nanang (separuh Andin).
25. Keturunan Laki-Laki Dari Saudara-Saudara Empu Jatmika:
• Nanang.
26. Keturunan Laki-Laki Dari Adipati Banua Lima/Anak Cucu Orang Sepuluh:
• Anang/Nanang.
27. Keturunan Perempuan Dari Adipati Banua Lima/Anak Cucu Orang Sepuluh:
• Aluh/Galuh.
28. Pejabat Birokrasi:
• Kiyai.
• Demang.
• Tumenggung.
29. Pendekar Pengawal:
• Tagab.