HIKAYAT TABIB RASIN: SEBUAH TUTUR LISAN DARI TAMBAK ANYAR MARTAPURA & MUNCULNYA BISMILLAH DALAM MANTRA DAYAK
Dalam beberapa mantra dan ritus Dayak, kita akan menemukan kata Bismillah atau lengkapnya Bismillahirrahmanirrahim. Hal ini konon ada kaitannya dengan kisah kedatangan rombongan Tabib Rasin dari Samarkand Uzbekistan ke Kalimantan Selatan pada zaman Kerajaan Nan Sarunai.
Tabib Rasin dalam tutur lisan turun-temurun masyarakat Tambak Anyar khususnya dan Martapura umumnya dianggap sebagai sosok pahlawan sekaligus pendakwah, beliau dijuluki Kelana Balaung Surban, Tabib Mujarab, Tabib Wali, dan Datu Bajanggut.
Tabib Rasin berkelana dari Samarkand ke Persia, lalu terus ke Makkah dan Madinah. Dari Madinah, beliau beserta 100 orang rombongan naik kapal layar dan sampai di Perlak Aceh. Dari Perlak, beliau bersama 10 orang sahabatnya sampai di Kalimantan Selatan. Beliau menetap di Lumangkan dan menyebarkan Islam di kalangan Suku Dayak Biaju di kawasan Batang Banyu Martapura yang sekarang letaknya sekitar Desa Tambak Anyar Ulu, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar.
Tabib Rasin merupakan sosok mubaligh yang memiliki kemampuan dalam banyak hal, beliau ahli pengobatan, ahli tasawuf, ahli bela diri, penyair, pedagang, dan seorang ayah serta kakek yang penyayang. Beliau memiliki akhlaqul karimah, mampu beradaptasi dengan lingkungan yang belum mengenal Islam. Dakwahnya santun, mengutamakan jalan damai, namun tidak pernah mengenal kata mundur dalam menyampaikan kebenaran.
Meskipun memiliki darah campuran Arab dan Cina, Tabib Rasin tidak pernah menampakkan sikap rasialisme dan eksklusivisme. Beliau justru membaur dalam kehidupan komunitas Dayak Biaju dan merajut hubungan dengan komunitas Dayak Bukit dan Dayak Ma'anyan. La ikraha fiddin (tidak ada paksaan dalam memeluk agama Islam) dan lakum dinukum waliyadin (bagimu agamamu dan bagiku agamaku) adalah jalan dakwahnya. Keshalihan pribadi dan sosial diwujudkannya tanpa pamrih sebagai khadimul ummah atau pelayan masyarakat. Jalan dakwahnya yang penuh etika Islam dan kesantunan personal inilah yang menjadi kunci keberhasilannya menuntun hidayah Allah kepada komunitas Dayak.
Dikisahkan pada suatu ketika ada seorang putri Dayak di pedalaman Kalimantan yang mengalami sakit berkepanjangan dan sudah dibawa berobat ke mana-mana namun tidak kunjung mendapatkan kesembuhan, maka datanglah Tabib Rasin dengan niat ingin membantu dan Alhamdulillah putri tersebut sembuh berkat wasilah beliau.
Dari sanalah banyak orang Dayak yang belajar tasawuf dan bacaan-bacaan Islam, meskipun sebagian besar dari mereka masih menganut kepercayaan lamanya. Dan dari sanalah ada istilah persaudaraan antara Dayak (Kaharingan) dan Arab (Islam).
Sumber:
• Folks of Dayak.
• Hikayat Tabib Rasin, Drs. Yusliani Noor, M.Pd.
• Kesultanan Banjar.