Minggu, Oktober 18, 2026

WARISAN YANG TERPECAH & WASIAT PERDAMAIAN: PANGERAN TUMENGGUNG & PANGERAN SURIANSYAH

 WARISAN YANG TERPECAH & WASIAT PERDAMAIAN: PANGERAN TUMENGGUNG & PANGERAN SURIANSYAH

Di balik derasnya Sungai Barito dan rimbunnya hutan Kalimantan, tersembunyi kisah lama tentang dua orang pangeran, dua darah bangsawan, dua tafsir sejarah, namun dalam satu kisah yang terus hidup di antara generasi.
Versi keturunan Pangeran Suriansyah menyebutkan bahwa takhta Banjar sejatinya diwariskan oleh Maharaja Sukarama kepada cucu kesayangannya, Pangeran Suriansyah, melalui wasiat. Namun ambisi sang paman, Pangeran Tumenggung, membuat takhta itu direbut hingga perang pun pecah. Cerita ini hidup dalam naskah kuno, meski baru ditulis dua abad setelah peristiwa.
Sebaliknya, keturunan Pangeran Tumenggung membawa narasi yang berbeda, bahwa Pangeran Tumenggung adalah pewaris sah dan putra kandung raja. Bagi mereka, tuduhan merebut takhta adalah fitnah sejarah yang dibuat untuk menjatuhkan martabat sang pangeran yang sesungguhnya hanya menjalankan haknya.
Satu kisah dijaga dalam tulisan, satu lagi diwariskan lewat lisan. Dua versi yang tidak bisa dipaksa untuk saling mengalah, tapi bisa dijadikan pelajaran. Karena sejarah bukan hanya tentang siapa yang benar, tapi tentang bagaimana kita belajar dari perbedaan versi. Kita bukan lagi para pewaris dendam, tapi penerus nilai. Mari membacanya dengan hati terbuka, agar sejarah menjadi jembatan bukan jurang.
_______________###_______________
Rahasia di balik kisah ini mudah-mudahan membawa berkah. Apa pun cerita sejarah di masa lampau, kita bagian dari sejarah itu. Suka atau tidak suka, kita tidak bisa pungkiri betapa kelamnya sejarah kita dahulu.
Jika kita mau menunduk sejenak, mau merenungkan, yang berlalu biarlah berlalu, jadikan pelajaran untuk masa yang akan datang. Tidak ada gunanya mengingat masa lalu kalau hanya untuk saling bergesekan yang tidak ada manfaat dan banyak mudharatnya.
Jika kita melihat kesalahan oranglain saja, tentu akan banyak yang dilihat dan tidak akan ada habisnya. Tetapi kita sebagai orang yang berakal dan beriman, kita dididik oleh datu-datu kita, orangtua kita, bahkan guru-guru kita untuk tidak gampang berprasangka jahat dan tetaplah sangka baik. Bukankah manusia itu tempatnya salah dan khilaf, kesalahan bisa terjadi karena disengaja ataupun lupa dan selalu ada hikmahnya.
Mari kita pererat tali silaturahmi, rapatkan barisan, satukan tujuan, dan jangan bercerai-berai. Karena di luar sana, cepat atau lambat, akan ada gelombang-gelombang yang lebih dahsyat yang akan menerpa Banua kita tercinta ini.
_______________###_______________
Wasiat Pangeran Tumenggung:
Damai di pusara harusnya jadi caramin gasan damai di dunia. Mudahan buhan diakau kawa babulik sapa, badangsanak manunggal.