Minggu, Oktober 18, 2026

PERKENALAN PERTAMA ORANG BANJAR DENGAN BELANDA & HANCURNYA ISTANA KUIN

 PERKENALAN PERTAMA ORANG BANJAR DENGAN BELANDA & HANCURNYA ISTANA KUIN

Pada masa pemerintahan Sultan Musta'in Billah, perkenalan pertama orang Banjar dengan Belanda terjadi ketika beberapa pedagang Banjar melakukan aktivitas perdagangan di pelabuhan Banten pada tahun 1596 M. Akibat sikap Belanda yang sombong, para pedagang di Kesultanan Banten tidak mau menjual lada kepada para pedagang Belanda, sehingga mereka tidak memperoleh lada di Banten.
Saat itu di pelabuhan Banten, berlabuh dua buah kapal jung berisi muatan lada dari Kesultanan Banjar yang dibawa oleh pedagang-pedagang Banjar. Lada merupakan komoditas ekspor primadona Kesultanan Banjar pada abad ke-17 M. Karena tidak memperoleh lada di Banten, maka Belanda merampok lada dari dua buah kapal tersebut. Bagi orang Banjar, peristiwa itu menjadi kesan awal yang buruk terhadap Belanda.
Sedangkan bagi Belanda, pertemuan dengan orang Banjar tersebut menjadi informasi awal mengenai asal-usul lada itu, sehingga timbul keinginan mengetahui daerah Banjarmasin.⁣⁣ Belanda kemudian mengirim sebuah ekspedisi ke Banjarmasin pada 17 Juli 1607 M yang dipimpin oleh Koopman Gillis Michielzoon. Utusan Belanda dan seluruh anggotanya diajak ke darat dan semuanya dibunuh serta harta benda dan kapalnya dirampas, peristiwa pembantaian itu menyebabkan Belanda tidak pernah berhasil tinggal lama di Banjarmasin.
Sebuah ekspedisi kemudian dikirim oleh otoritas VOC ke Banjarmasin untuk mengkonfirmasi kejadian tersebut. Kapal-kapal hazewind, brak, halve maan, dan klein veere berangkat pada tanggal 20 Maret 1612 M. Pada tahun 1612 M tersebut, secara mengejutkan armada Belanda tiba di Banjarmasin untuk membalas atas terbunuhnya ekspedisi Gillis Michielzoon pada tahun 1607 M. Armada ini menyerang Banjarmasin dari arah Pulau Kembang dan menembaki Kuin yang pada saat itu merupakan ibu kota Kesultanan Banjar.
Penyerangan ini menghancurkan Banjar lama yang merupakan istana Sultan Banjar, karena itulah kemudian ibu kota kesultanan dipindahkan dari Kuin ke Kayu Tangi oleh Sultan Musta'in Billah. Meskipun ibu kota kesultanan telah dipindahkan, namun aktivitas perdagangan di pelabuhan Banjarmasin tetap ramai dan hubungan dagang dengan bangsa asing tetap berjalan terutama dengan Inggris.