Minggu, Oktober 18, 2026

HIKAYAT PANGLIMA WANGKANG: PANGLIMA PERANG BANJAR BARITO DARI SUKU DAYAK BAKUMPAI

 HIKAYAT PANGLIMA WANGKANG: PANGLIMA PERANG BANJAR BARITO DARI SUKU DAYAK BAKUMPAI

Panglima Wangkang merupakan pejuang rakyat Dayak Bakumpai di Marabahan yang gigih berjuang melawan penjajah Belanda, beliau lahir sekitar tahun 1812 M di Bakumpai Marabahan. Ayahnya bernama Demang Kendet asli orang Bakumpai, sedangkan ibunya bernama Ulan berasal dari Padang Basar Amuntai.
Semenjak remaja, Panglima Wangkang telah anti dengan penjajah. Rupanya beliau tidak semata gigih membela kaumnya karena penindasan yang dilakukan penjajah, lebih dari itu ternyata beliau ingin balas dendam atas kematian ayahnya. Sebab pada tahun 1825 M saat beliau berusia 13 tahun, ayahnya tewas digantung oleh Belanda. Diketahui bahwa ayah beliau juga seorang pejuang. Beliau pun bertekad melanjutkan perjuangan ayahnya dengan mengangkat senjata guna membalaskan dendam serta mempertahankan hak-hak masyarakat Bakumpai dari penjajahan.
Pada tahun 1850 M, Panglima Wangkang sudah mulai memimpin pasukan berjumlah 30 orang untuk memerangi penjajah. Serangan pertama dilakukan di benteng Belanda di Banjarmasin, pertempuran pertamanya sebagai panglima perang tidak berjalan mulus karena keterbatasan pasukan dan persenjataan yang kurang memadai. Beliau pun terus berupaya menyusun strategi dan kekuatan untuk melumpuhkan Belanda.
Beliau kemudian membangun markas pertahanan pasukan pertama yang dipusatkan di daerah pedalaman Ujung Panti, kemudian berpindah ke Belandean. Berkali-kali Panglima Wangkang memimpin pasukan menyerbu benteng Belanda di Banjarmasin selalu gagal, baru sekitar tahun 1860 M pasukan Panglima Wangkang berhasil memasuki benteng tersebut, puluhan tentara Belanda roboh bersimbah darah. Menurut cerita, membunuh Belanda di benteng itu sama dengan manangsang gadang (dalam bahasa Bakumpai berarti menebang atau menebas pohon pisang). Selain membunuh penghuni benteng, pasukan Panglima Wangkang juga merampas beberapa pucuk senjata tentara Belanda yang sudah menjadi mayat.
Pada tahun yang sama, tentara Belanda balas menyerang markas pertahanan Belandean, tembak-menembak terjadi. Meskipun tidak berlangsung lama, markas pertahanan dapat dikuasai oleh musuh. Melihat keadaan yang kurang menguntungkan itu, Panglima Wangkang memerintahkan anak buahnya menyelamatkan diri ke dalam hutan. Markas kemudian dipindahkan ke Sungai Badandan tepatnya di Saka Durahman di Hulu Sungai Tunjang, di tempat ini mereka tidak hanya membangun markas pedalaman, lebih dari itu mereka juga membangun benteng yang terbuat dari kayu mahang, sehingga benteng itu dikenal dengan sebutan Benteng Mahang. Untuk mengenang tempat bersejarah itu, nama Saka Durahman diganti dengan nama Simpang Mahang.
Pada tahun 1872 M, pasukan tentara Belanda yang baru didatangkan dari Batavia menyerang Benteng Mahang di Sungai Badandan, tempat pasukan Panglima Wangkang berlindung. Benteng Mahang diberondong tentara Belanda dengan meriam hingga hancur berantakan, pasukan Panglima Wangkang terpaksa lari ke dalam hutan. Dalam pertempuran yang berlangsung hampir sehari penuh itu, Panglima Wangkang gugur, sebutir peluru emas tepat bersarang di antara kedua alis mata beliau.
Menurut informasi orang-orang tua, andai saja bukan karena peluru emas, mungkin Tuhan Yang Maha Pengasih masih melindungi Panglima Wangkang dari marabahaya. Karena Panglima Wangkang dikenal kebal terhadap senjata apa pun yang terbuat dari besi, timah, perak, dan tembaga.
Melihat Panglima Wangkang gugur terkena tembakan, seorang pendampingnya yang setia bernama Panglima Odi segera membawanya masuk ke dalam hutan, mayat Panglima Wangkang disembunyikan di bawah semak belukar. Karena sebelum pertempuran itu meletus, Belanda telah mengumumkan bagi siapa saja yang berhasil menangkap Panglima Wangkang hidup atau mati, akan diberikan hadiah ribuan Gulden.
Pihak Belanda terus mencari mayat Panglima Wangkang sampai larut malam, tetapi tidak ditemukan juga. Pagi harinya, pihak Belanda kembali ke tempat kejadian. Tidak jauh dari benteng itu, mereka menemukan mayat pejuang yang tidak dikenal. Oleh masyarakat, mayat tersebut dikebumikan tidak jauh dari tempat kejadian.
Masyarakat sekitar berkeyakinan bahwa pejuang yang gugur dalam memerangi penjajah itu mati syahid, sehingga mayat pejuang yang tidak dikenal itu diberi nama Syahidun. Pada malam harinya masyarakat menyaksikan di atas makam Syahidun ada cahaya gemerlap dan menebarkan aroma harum mewangi, kejadian itu mereka saksikan tiga malam berturut-turut, mereka menyebut itu sebagai sebuah pertanda keramat. Sehingga sampai sekarang, makam tersebut dikenal dengan sebutan Makam Keramat Syahidun.
Setelah beberapa hari pencarian mayat Panglima Wangkang tidak membuahkan hasil, pihak Belanda mengajak pihak keluarga untuk mencari secara bersama-sama dengan perjanjian: Kalau pihak tuan yang lebih dahulu menemukannya, maka pihak kami (Belanda) tidak akan mengambilnya, tanamlah mayatnya menurut tata cara atau adat istiadat kebiasaan tuan. Tetapi jika pihak kami yang lebih dahulu mendapatkannya, maka sepenuhnya menjadi urusan kami, pihak tuan tidak boleh mengambilnya.
Secara diam-diam, mayat Panglima Wangkang yang masih utuh itu dimakamkan di Marabahan tepatnya di Kampung Bentok Tengah di belakang rumah kediamannya yang sekarang beralamat di Jalan Panglima Wangkang RT. 09 Kelurahan Marabahan Kota.
Panglima Wangkang gugur pada sore Selasa tahun 1872 M, mayat beliau dikuburkan pada malam Jum'at tanpa dimandikan dan tidak memakai peti mati, hal itu dilakukan sesuai amanat beliau sendiri yang berbunyi: Kalau yaku matei, mayatku ela impandui. Karena setiap yaku batulak manyarang Balanda, yaku jadi baudu. Yaku rela matei malawan Balanda. (Kalau aku mati, mayatku jangan dimandikan. Karena setiap aku berangkat menyerang Belanda, aku sudah berwudhu. Aku rela mati melawan Belanda.)
Untuk mengenang perjuangan Putra Bakumpai yang gagah berani ini, namanya diabadikan menjadi nama pasar yaitu Pasar Wangkang dan nama jalan yaitu Jalan Panglima Wangkang. Dan pada tahun 2015 M, Panglima Wangkang dianugerahi gelar Pahlawan Negeri Banjar oleh Sultan H. Khairul Saleh Al Mu'tashim Billah.