Format 3.2 Persiapan Penggalian Data
Nama Asesor : ______________________________ Provinsi: ________________________
Langkah Kerja
1. Asesor menelaah dokumen berikut untuk
menentukan data mana yang akan digali lebih mendalam pada saat visitasi.
●
Deskripsi Kinerja Asesi
Dalam proses akreditasi nanti, penjabaran ini dilakukan
oleh asesi di dalam Sispena sebelum pelaksanaan visitasi.
Tautan
_______________________
●
Dokumentasi Wajib yang telah diunggah oleh
asesi yaitu
1. Kurikulum di tingkat satuan pendidikan
2. Rencana kerja tahunan
3. Rencana kegiatan dan anggaran satuan
pendidikan
4. Kalender tahunan kegiatan pendidikan
5. Contoh perencanaan pembelajaran
- Secara individu, asesor menulis hasil
telaahnya pada kolom C pada form 3.2
di bawah ini, yaitu rekap
data yang sudah teridentifikasi. Lembar ini
dapat diunduh oleh asesor di Sispena.
- Secara kelompok, asesor mendiskusikan
data apa saja yang perlu dikumpulkan pada saat visitasi. Ketua kelompok menuliskannya di kolom D.
Form 3.2 Lembar Persiapan Penggalian Data
|
A. Butir
|
|
|
D.
Data yang perlu dikumpulkan
saat visitasi (Hasil kerja kelompok) |
|
[Isi dengan Butir
yang sedang ditelaah] |
[Isi dengan
indikator kinerja yang sedang ditelaah] |
[rekap indikator
apa saja yang berusaha dibuktikan oleh sekolah melalui dokumentasi wajib
serta informasi yang disampaikan di dalam deskripsi kinerja] |
[rekap data apa saja yang perlu diverifikasi dengan
menggunakan hasil wawancara, observasi dan penelaahan dokumen] |
|
Butir 1.
Pendidik
menyediakan dukungan sosial emosional bagi peserta didik dalam proses
pembelajaran. |
1. menciptakan interaksi yang setara dan saling
menghargai antara guru dan murid |
|
|
|
2. memberi perhatian kepada murid yang memerlukan dukungan
lebih/khusus. |
|
|
|
|
3. memfasilitasi murid untuk mengembangkan keterampilan
sosial emosional. |
|
|
|
|
4. memberikan umpan balik yang membangun kepercayaan diri murid bahwa
kemampuan dirinya dapat terus berkembang ketika ia mau berusaha. |
|
|
|
|
Butir 2. Pendidik mengelola kelas
untuk menciptakan suasana belajar yang aman, nyaman, dan mendukung
tercapainya tujuan pembelajaran. |
1. menyusun kesepakatan kelas secara partisipatif. |
|
|
|
2. tidak menggunakan tindakan agresif, baik secara
verbal dan nonverbal dalam mengelola perilaku murid. |
|
|
|
|
3. mendorong terbangunnya perilaku positif murid
berbasis tanggung jawab dan konsekuensi. |
|
|
|
|
4.
membangun suasana
belajar yang berfokus pada aktivitas belajar. |
|
|
|
|
Butir
3. Pendidik
mengelola proses pembelajaran secara efektif dan bermakna. |
1. merumuskan tujuan pembelajaran dengan mengacu pada kurikulum
sekolah. |
|
|
|
2. melakukan asesmen dengan menggunakan cara yang beragam. |
|
|
|
|
3. menggunakan hasil asesmen untuk mendapatkan informasi tentang kebutuhan belajar murid. |
|
|
|
|
4. menggunakan hasil asesmen sebagai dasar untuk
merancang pembelajaran. |
|
|
|
|
5. merancang kegiatan pembelajaran yang selaras dengan
tujuan pembelajaran. |
|
|
|
|
6. melibatkan murid secara aktif dalam menentukan tujuan
pembelajaran, kegiatan belajar, dan asesmen dengan menggunakan beragam pendekatan
dan cara yang sesuai. |
|
|
|
|
Butir 4. Pendidik memfasilitasi pembelajaran yang efektif dalam membangun keimanan,
ketakwaan, komitmen kebangsaan, kemampuan
bernalar dan memecahkan masalah, serta karakter dan kompetensi lainnya yang relevan
bagi peserta didik. |
1. memfasilitasi murid untuk menguatkan keimanan dan ketakwaan pada Tuhan
untuk membentuk akhlak yang mulia melalui beragam pengalaman belajar. |
|
|
|
2. memfasilitasi murid untuk menguatkan kecintaan
terhadap sejarah, kekayaa n budaya, alam Indonesia, pemikiran, dan karya anak
bangsa melalui pengalaman belajar yang beragam. |
|
|
|
|
3. memfasilitasi murid untuk mengembangkan keingintahuan,
serta kecintaan akan ilmu pengetahuan melalui engalaman belajar yang bermakna
dan reflektif. |
|
|
|
|
4. memfasilitasi murid untuk mengembangkan kemampuan bernalar dan memecahkan
masalah melalui strategi pembelajaran yang mendorong murid berani bertanya, mau
mencoba, dan berkarya. |
|
|
|
|
5. memfasilitasi pembelajaran yang mendorong murid melakukan
refleksi keterhubungan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata untuk dapat
berperan dan memberikan manfaat di
lingkungannya. |
|
|
|
|
Butir 5. Kepala satuan pendidikan menerapkan
budaya refleksi untuk perbaikan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik,
serta evaluasi kinerja untuk rencana pengembangan
profesional bagi pendidik dan tenaga kependidikan |
1. memberi waktu dan kesempatan bagi guru dan tenaga kependidikan
untuk melakukan refleksi kinerja secara rutin. |
|
|
|
2. melakukan kegiatan evaluasi kinerja secara berkala
kepada guru dan tenaga kependidikan. |
|
|
|
|
3. memastikan guru memiliki dokumen rencana pengembangan
profesional diri berdasarkan hasil evaluasi kinerja dan refleksi. |
|
|
|
|
4. mengembangkan program pengembangan profesional guru yang berdampak terhadap peningkatan kualitas
pembelajaran. |
|
|
|
|
Butir 6. Kepala satuan pendidikan menghadirkan
layanan belajar yang partisipatif dan kolaboratif untuk tercapainya visi dan
misi. |
1. kemampuannya memahami visi dan misi sekolah dengan jelas
dan mengomunikasikan kepada pemangku kepentingan. |
|
|
|
2. membangun komunikasi dan interaksi antarwarga secara
berkala. |
|
|
|
|
3. melakukan kolaborasi atau kemitraan dengan orang tua/wali dalam rangka mendukung penyelenggaraan layanan
pendidikan. |
|
|
|
|
4. melakukan kemitraan dengan pihak-pihak lain dalam
rangka mendukung penyelenggaraan layanan pendidikan. |
|
|
|
|
5. melaksanakan evaluasi/refleksi berbasis data dengan melibatkan
murid, pendidik, tenaga pendidikan,
dan orang tua. |
|
|
|
|
6.
menyusun rencana kegiatan
tahunan berdasar evaluasi/refleksi berbasis data. |
|
|
|
|
Butir 7. Kepala satuan pendidikan memastikan
pengelolaan anggaran dilakukan sesuai perencanaan berdasarkan refleksi yang
berbasis data secara transparan dan akuntabel. |
1. mengelola anggaran sekolah dan dilaksanakan sesuai dengan
perencanaan. |
|
|
|
2. merencanakan anggaran sekolah yang disusun bersama dengan
komite sekolah atau pihak terkait. |
|
|
|
|
3. rencana anggaran menunjukkan sumber pendanaan
beserta alokasi pemanfaatannya. |
|
|
|
|
4. mengelola anggaran yang dilaporkan secara berkala
kepada pemangku kepentingan. |
|
|
|
|
Butir 8. Kepala satuan pendidikan memimpin
pengelolaan sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan pembelajaran yang berpusat
pada peserta didik. |
1. menyusun perencanaan pengadaan sarana dan prasarana berdasar
analisis kebutuhan pembelajaran. |
|
|
|
2. memanfaatkan sarana dan rasarana yang dimiliki secara optimal. |
|
|
|
|
3. memenuhi sarana dan prasarana untuk kebutuhan pembelajaran secara mandiri
atau bermitra. |
|
|
|
|
4. melaksanakan mekanisme pemeliharaan sarana dan
prasarana di lingkungan sekolah. |
|
|
|
|
Butir 9. Kepala satuan pendidikan mengembangkan
kurikulum di tingkat satuan pendidikan yang selaras dengan kurikulum nasional. |
1. melakukan analisis karakteristik sekolah untuk
penyusunan kurikulum sekolah. |
|
|
|
2. mengembangkan kurikulum sekolah
yang relevan dengan kebutuhan belajar murid dan merujuk pada kurikulum nasional. |
|
|
|
|
3. menyusun dan melaksanakan mekanisme evaluasi berkala
untuk memastikan kurikulum di tingkat sekolah relevan dengan kebutuhan
belajar murid |
|
|
|
|
Butir 10. Satuan pendidikan memastikan
terbangunnya iklim kebinekaan bagi peserta didik, pendidik, dan tenaga
kependidikan. |
1. membangun sikap menghargai keberagaman murid. |
|
|
|
2. mengenali keberagaman profil guru, tenaga kependidikan,
dan murid. |
|
|
|
|
3. membangun sikap menghargai kesetaraan gender guru,
tenaga kependidikan, dan murid. |
|
|
|
|
Butir 11. Satuan pendidikan menyediakan
lingkungan belajar yang inklusif untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta
didik yang beragam. |
1. memiliki kebijakan dan/atau prosedur yang mengakomodasi
lingkungan belajar yang inklusif bagi berbagai kebutuhan belajar murid. |
|
|
|
2. melaksanakan program bagi pendidik, orang tua/wali,
dan murid untuk mengakomodasi kebutuhan belajar murid yang beragam. |
|
|
|
|
3. melaksanakan kegiatan yang memfasilitasi pembelajaran
untuk murid dengan kebutuhan yang beragam. |
|
|
|
|
Butir 12. Satuan pendidikan mewujudkan
iklim lingkungan belajar yang aman secara psikis bagi peserta didik,
pendidik, dan tenaga kependidikan. |
1. melaksanakan kebijakan dan program untuk mencegah
dan menangani perundungan dan kekerasan lainnya. |
|
|
|
2. memiliki guru dan tenaga kependidikan yang memahami
tata laksana penanganan perundungan dan kekerasan lainnya. |
|
|
|
|
3. melibatkan orangtua/wali dalam pencegahan dan penanganan
perundungan dan kekerasan lainnya. |
|
|
|
|
Butir 13. Satuan
pendidikan memastikan keselamatan peserta didik, pendidik, dan tenaga
kependidikan. |
1. memiliki/menggunakan bangunan dengan kondisi baik
(tidak rusak sedang dan/atau rusak berat). |
|
|
|
2. melaksanakan prosedur keselamatan murid melalui pengawasan
dan pemeliharaan terhadap sarana dan prasarana. |
|
|
|
|
3. melaksanakan prosedur dan perlengkapan Pertolongan
Pertama pada Kecelakaan (P3K). |
|
|
|
|
4. mempunyai dan melaksanakan
prosedur mitigasi bencana yang relevan
dengan kondisi yang ada. |
|
|
|
|
Butir 14. Satuan pendidikan menjamin
lingkungan yang sehat dan memiliki/melaksanakan program yang membangun kesehatan
fisik dan mental pada peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan. |
1. melaksanakan program untuk menjaga kebugaran murid,
pendidik, dan tenaga kependidikan. |
|
|
|
2. menyediakan layanan Unit Kesehatan Sekolah (UKS)
atau terhubung dengan fasilitas kesehatan terdekat. |
|
|
|
|
3. mendorong tersedianya pilihan makanan di lingkungan
dan sekitar sekolah yang tidak mengandung pemanis buatan, zat pewarna dan pengawet
makanan yang tidak aman. |
|
|
|
|
4. melaksanakan program untuk membangun kesadaran
tentang kesehatan mental pada murid,
guru, dan tenaga kependidikan. |
|
|
|
|
5. memberi kesempatan untuk kebutuhan istirahat dan
bergerak aktif bagi murid, guru, dan tenaga kependidikan. |
|
|
|
|
6. melaksanakan edukasi tentang kesehatan reproduksi
dan pencegahan adiksi. |
|
|