Minggu, Oktober 18, 2026

KISAH WAFATNYA SULTAN MUHAMMAD ALIUDDIN AMINULLAH & SELAMATNYA PANGERAN PUTRA DARI UPAYA PEMBUNUHAN

 KISAH WAFATNYA SULTAN MUHAMMAD ALIUDDIN AMINULLAH & SELAMATNYA PANGERAN PUTRA DARI UPAYA PEMBUNUHAN

Menjadi suatu dilema bagi Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah setelah beliau dewasa, yaitu Sultan Tamjidillah yang merupakan paman sekaligus mertuanya tidak kunjung menyerahkan takhta. Tanpa sepengetahuan Sultan Tamjidillah, beliau pergi berlayar menuju Tabanio dengan menyamar sebagai rakyat biasa. Tabanio saat itu merupakan pusat perdagangan dan perlintasan kapal-kapal besar, dan di sanalah beliau melihat banyak rakyat yang dirugikan oleh monopoli perdagangan Hindia Belanda.
Menurut riwayat, Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah sempat menjadi pimpinan bajak laut di Tabanio dengan mencegat kapal-kapal Belanda dan Eropa yang melintasi kawasan tersebut. Hasilnya beliau bagikan kepada rakyat yang menderita banyak kerugian akibat monopoli Belanda dan kompeninya.
Setelah itu, Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah melanjutkan pelayaran bersama beberapa orang kepercayaannya menuju daerah Sampanahan Tanah Bumbu untuk menemui bibinya yaitu Ratu Mas dan kakeknya yaitu Pangeran Mangu bin Raden Basus.
Setelah bibi dan pamannya mengetahui siapa gerangan yang datang, maka Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah disambut dan dijamu dengan hangat di istana Kerajaan Tanah Bumbu. Kepada mereka, Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah bertukar pikiran dan menceritakan permasalahan yang terjadi di Kesultanan Banjar yang sedang dihadapinya.
Sewaktu berada di Kerajaan Tanah Bumbu, Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah juga menyempatkan diri mengunjungi daerah pedalaman dan pesisir untuk menjalankan amanah ayahandanya yaitu mensyiarkan agama Islam. Dengan didampingi pengawal suruhan Pangeran Mangu, beliau masuk ke daerah pesisir Teluk Pamukan, Sungai Pangu, Sangkuh, Cengal, dan Manunggul. Beliau kemudian tiba di suatu daerah pedalaman dan mendirikan pemukiman yang beliau beri nama Astana Papagaran.
Selain sebagai tempat mensyiarkan agama Islam, Astana Papagaran juga menjadi tempat perlindungan dan persembunyian dari kejaran Belanda karena penyamaran beliau dalam mencegat dan merampok kapal-kapal Belanda sewaktu di Tabanio diketahui oleh pihak Belanda disebabkan ada yang memberitahukannya.
Setelah sekian lama berada di Astana Papagaran, maka timbullah kerinduan Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah kepada keluarga, anak, dan istri di Kesultanan Banjar. Maka pada 12 Maret 1759 M, beliau pulang ke Kesultanan Banjar untuk menjemput anak dan istrinya.
Sesampainya di Kesultanan Banjar, anak dan istri beliau diserahkan langsung oleh Sultan Tamjidillah, begitu pula dengan takhta Kesultanan Banjar. Maka berakhirlah masa pemerintahan Sultan Tamjidillah. Selama memegang pemerintahan, Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah sangat dicintai oleh rakyatnya dikarenakan adil dan bijaksana serta tegas terhadap pihak luar terutama Belanda.
Akibat sikapnya itu, pihak Belanda tidak tinggal diam dan mulai menjalankan siasat liciknya untuk menyingkirkan sang sultan. Belanda mulai menghasut keluarga istana untuk mengawasi gerak-gerik sultan dengan iming-iming gulden yang banyak dan jabatan yang menggiurkan.
Selanjutnya sekitar tahun 1760 M, Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah membawa istri dan anaknya yang bungsu bernama Pangeran Putra pergi berlayar untuk bersilaturahim ke Kerajaan Tanah Bumbu dengan membawa beberapa orang kepercayaan, pengawal, dan pelayan istana. Sesampainya di Tanah Bumbu, beliau terpikir kembali untuk melanjutkan dakwahnya yang sebelumnya telah beliau rintis di Astana Papagaran. Beliau kemudian membawa anak dan istrinya ke Astana Papagaran dan hidup damai di sana.
Singkat cerita, dari sekian banyak pelayan istana yang dibawa, ternyata ada penyusup yang ikut serta mengiringi kepergian sang sultan karena diperintah oleh keluarga istana yang terpengaruh gulden dan jabatan dari Pemerintah Hindia Belanda. Pelayan tersebut disuruh membubuhkan racun yang sudah disiapkan untuk membunuh sang sultan beserta keluarganya di Astana Papagaran.
Malapetaka pun terjadi, tepat pada malam Jum'at tanggal 15 Januari 1761 M, Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah dan istrinya yang bernama Ratu Sara binti Sultan Tamjidillah menghembuskan nafas terakhirnya di Astana Papagaran. Beliau wafat setelah mengimami shalat Isya akibat mencicipi makanan dan minuman yang telah diberi racun oleh pelayan istana. Selain menewaskan Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah dan Ratu Sara, tragedi pada malam itu juga menewaskan beberapa orang pengawal pribadi dan tokoh masyarakat yang menjadi kepercayaan sultan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Namun menurut riwayat, anak sultan yang bungsu yang berumur ± 1,5 tahun tidak sempat mencicipi makanan dan minuman yang dihidangkan pada malam itu. Mengetahui hal tersebut, pengasuh anak sultan dan pengawal sultan yang baru datang ke Astana Papagaran segera melarikan anak bungsu sultan yang bernama Pangeran Putra untuk dibawa ke Sampanahan dan melaporkan kejadian malam itu kepada Raja Tanah Bumbu yang saat itu dijabat oleh Pangeran Mangu.
Atas perintah Raja Tanah Bumbu, pihak istana langsung bergerak menuju Astana Papagaran untuk memakamkan jasad Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah, Ratu Sara, para punggawa, pengawal, dan tokoh masyarakat setempat yang wafat dalam tragedi malam itu. Berita duka tersiar ke istana Kesultanan Banjar, Kesultanan Kotawaringin, dan Kesultanan Paser. Duka dan kesedihan turut dirasakan oleh seluruh pembesar kerajaan dan rakyatnya.
Pangeran Putra yang selamat dari tragedi malam itu kemudian diasuh oleh Pangeran Mangu. Dan untuk keselamatannya, nama Pangeran Putra diganti oleh Pangeran Mangu menjadi Pangeran Muhammad Amin bin Pangeran Mangu. Setelah dewasa, Pangeran Muhammad Amin menjadi Raja Kusan Ke-2 dengan nama Pangeran H. Muhammad. Jabatan Raja Kusan diserahkan oleh kakaknya yang bernama Pangeran Amir.
Sebelumnya, Pangeran Amir menziarahi makam kedua orangtuanya yaitu Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah dan Ratu Sara di Astana Papagaran. Setelah berziarah, beliau bersilaturahim ke Kerajaan Tanah Bumbu yang saat itu Raja Tanah Bumbu dijabat oleh Ratu Mas binti Pangeran Mangu. Ratu Mas lalu menceritakan kepada Pangeran Amir bahwa Pangeran Muhammad Amin yang berada di dalam istana tersebut adalah adiknya yang paling bungsu yang dulu bernama Pangeran Putra. Mengetahui adiknya masih hidup, isak tangis keharuan dan kerinduan Pangeran Amir pun akhirnya seketika pecah. Astana Papagaran kini masuk ke dalam daerah administratif Desa Limbungan, Kecamatan Hampang, Kabupaten Kotabaru.
Keterangan:
• Ratu Mas binti Pangeran Mangu bin Raden Basus bin Sultan Sa'idullah.
• Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan Hamidullah bin Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah bin Sultan Sa'idullah.
Sumber:
1. Saijul Kurnain, S.H.
2. Prof. Dr. Budi, S.E., M.Sc.
3. Mansyur, S.Pd., M.M.
4. Peduli Makam Al Khairat Kesultanan Banjar.
5. LAKPL (Lembaga Adat Kerajaan Pulau Laut).
6. LAK3C (Lembaga Adat Kerukunan & Kerakatan Kerajaan Cantung).
Penulis: Ahmad Khatib.
Tampilkan lebih sedikit