SURAT YANG MENENTUKAN TAKDIR: PERPISAHAN DEMANG LEHMAN & PANGERAN HIDAYATULLAH
Dari persembunyiannya, Demang Lehman mengirim surat kepada Verspijck. Dalam surat tersebut, dia mengatakan bahwa pelarian itu adalah hasil rencananya. Demang Lehman menegaskan bahwa dia akan berbuat apa saja demi keselamatan dan kesejahteraan Pangeran Hidayatullah. Ini merupakan bentuk pengabdiannya kepada bangsa Banjar dan tanah airnya. Dan dia juga menyesalkan tindakan Verspijck yang membakar Pasayangan dan Kertak Baru yang dianggapnya sebagai tindakan yang berlebihan.
Verspijck membalas surat itu dengan nada marah. Dalam balasannya, Residen Belanda tersebut mengungkapkan bahwa pembakaran yang dilakukannya tidak sebanding dengan kesalahan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman. Bahkan dia menilai bahwa seluruh Martapura yang dibumihanguskan pun masih terlalu ringan sebagai penebus dosa mereka.
Belanda berupaya keras mencari Demang Lehman dan Pangeran Hidayatullah. Verspijck memerintahkan pengepungan ketat di sekitar Martapura. Mereka juga menjaga ketat muara sungai. Verspijck yakin, dengan strategi ini, Pangeran Hidayatullah pasti terkepung.
Untuk memperkuat tekanan, Verspijck mengeluarkan surat perintah penangkapan kepada Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman. Keduanya resmi menjadi target utama Belanda.
Selain itu, Belanda juga membuat pengumuman besar yang disampaikan di alun-alun Martapura pada 13 Februari 1862 M. Dalam pengumuman itu, Verspijck mencancam rakyat dengan pembatasan bahan makanan seperti beras. Dia menyatakan, selama Pangeran Hidayatullah belum kembali, pasokan bahan makanan akan dihentikan dan rakyat akan menghadapi kelaparan. Ancaman ini jelas dimaksudkan untuk menekan rakyat agar memberikan informasi atau bahkan memaksa Pangeran Hidayatullah menyerah.
Akibat strategi Belanda ini, banyak anggota keluarga Pangeran Hidayatullah yang tertangkap. Mereka adalah kelompok pertama yang tidak ikut dalam pelarian. Meskipun demikian, Belanda tidak berhasil menemukan keberadaan Pangeran Hidayatullah.
Tidak dapat menangkap Pangeran Hidayatullah, Belanda beralih menyandera Ratu Siti, ibu dari Pangeran Hidayatullah. Belanda menekan istri mendiang Sultan Muda Abdurrahman itu agar mau membuat surat dengan cap cincinnya. Dalam keadaan tertekan, Ratu Siti akhirnya membuat surat itu dengan bantuan juru tulis Belanda. Namun tanpa sepengetahuan Ratu Siti, Belanda mengubah dan menambah beberapa redaksi surat tersebut. Surat yang seharusnya berisi permohonan biasa, kini berisi pesan palsu yang menyuruh Pangeran Hidayatullah mendatangi Belanda dan menyerahkan diri.
Belanda mengirimkan surat itu kepada Kepala Distrik Riam Kanan. Belanda memang mencurigai Pangeran Hidayatullah bersembunyi di sana, dan Belanda juga menduga bahwa kepala distrik telah membantu pelarian Pangeran Hidayatullah.
Surat itu sampai ke tangan Pangeran Hidayatullah. Setelah membacanya, dia segera membalas surat tersebut. Sebagai anak yang berbakti, dia amat mematuhi perintah ibunya untuk menyerahkan diri kepada Belanda. Pangeran Hidayatullah mengirim surat balasan pada 27 Februari 1862 M, isinya adalah keputusan berat untuk memenuhi tuntutan Belanda demi keselamatan ibunya. Alangkah hancurnya perasaan Demang Lehman mengetahui hal itu. Usahanya gagal, dia merasa termakan upaya licik Belanda.
Saat itu juga, perpisahan mengharukan antara Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman terjadi. Dengan perasaan yang campur aduk, Demang Lehman memohon diri berpisah dengan junjungannya itu. Di hadapan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman bersumpah akan meneruskan perlawanan sampai Pangeran Hidayatullah kembali ke Martapura. Pangeran Hidayatullah merestui tekad dan langkah perjuangan Demang Lehman, tidak lupa pula mantan mangkubumi itu mengucapkan terima kasih atas pengabdiannya selama ini.
Sumber: Mansyur & Mursalin, Demang Lehman, halaman 186-190.