Makam Syaikh H. Muhammad Ja'far bin H. Abdussamad An Naqari.
Letak: Desa Paramaian, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Syaikh H. Muhammad Ja'far bin H. Abdussamad bin Yahya bin Ismail (+ Galuh Nuriah) An Naqari merupakan salah satu ulama besar di Nagara pada masanya, beliau lama menuntut ilmu di Makkah Al Mukarramah, salah satu guru beliau yaitu Syaikh Muhammad Ali bin Husain Al Maliki.
Di dalam salah satu manaqib disebutkan bahwa beliau memiliki anak yang beliau nikahkan dengan Tuan Guru H. Halil Nagara. Diperkirakan beliau meninggal pada tahun 1950 M, dan di antara murid beliau yaitu Tuan Guru H. Mahfuzh Amin Pamangkih. Tuan Guru H. Muhammad Bakhiet pernah berkata: Kalau ingin melihat guru yang alim, maka lihatlah murid-muridnya.
Area makam beliau biasa disebut Alkah Sungkul Kanas, terletak tidak jauh dari Langgar Al Falah di Desa Paramaian. Di belakang langgar tersebut masih ada salah satu cucu beliau, kami memanggilnya Acil Dijah. Kata Acil Dijah, saking berwibawanya Syaikh H. Muhammad Ja'far, ketika beliau lewat, tidak akan ada orang yang berbuat sia-sia, mereka malu kalau beliau tahu dan melihatnya.
Pagar makam beliau dikelilingi dengan ukiran kalimat-kalimat berbahasa Arab, yaitu:
١. لا إله إلا الله محمد رسول الله.
٢. لا إله إلا الله جل ثناءه # لا إله إلا الله تعالى كبرياءه.
٣. لا إله إلا الله الملك الحق المبين # محمد رسول الله صادق الوعد الأمين.
٤. لا إله إلا الله جل جلاله # حم عسق # كهيعص.
𝗦𝗘𝗟𝗔𝗜𝗡 𝗨𝗟𝗔𝗠𝗔, 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗔𝗨 𝗝𝗨𝗚𝗔 𝗦𝗘𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗘𝗝𝗨𝗔𝗡𝗚
Pada Oktober 1945 M, atas prakarsa Panitia Persiapan Republik Indonesia Merdeka (PPRIM) yang diketua oleh Umar Rasyid, maka dilakukanlah pengibaran bendera Merah Putih dan nyanyian lagu Indonesia Raya di halaman kantor Kiyai Wedana Muhammad Yusran yang diikuti tidak kurang dari 40 orang. Inilah tonggak awal pengambil-alihan sementara pemerintahan di Nagara sepeninggal Jepang dan ketika itu Belanda belum datang ke Nagara. Barulah beberapa bulan kemudian, Belanda mulai memasuki Nagara. Walaupun suasana politik cukup panas, namun Nagara relatif tenang sampai tahun 1947 M. Tentara Belanda yang sudah masuk ke Nagara belum menyulut konflik dengan masyarakat kecuali hanya insiden-insiden kecil.
Meskipun demikian, Belanda tetap mewaspadai daerah Nagara sebagai daerah potensial yang berbahaya. Hal ini karena beberapa pertimbangan. Masyarakat Nagara terkenal agamis dan banyak terdapat ulama, bahkan di masa lalu Nagara merupakan sentral tempat orang belajar agama, terutama dari daerah-daerah Hulu Sungai atau Banua Lima, sehingga ada ungkapan: Belum dikatakan seorang itu alim apabila belum menuntut ilmu ke Nagara.
Dari pengalaman Belanda, di setiap daerah yang agamis dan banyak ulamanya, pasti gigih perlawanannya terhadap penjajah, sepeti di Aceh, Sumatra Barat, Banten, Jawa Timur, Makassar, dan lain-lain.
Masyarakat Nagara saat itu relatif sejahtera kehidupan perekonomiannya karena majunya industri kecil dan rumah tangga, terutama kerajinan besi serta perdagangan. Belanda mencurigai masyarakat Nagara akan menyuplai logistik dan persenjataan ke daerah-daerah lain, terutama lewat sungai yang saat itu merupakan prasarana transportasi utama.
Untuk mengantisipasi ancaman ini, maka pada akhir tahun 1948 M, Residen Belanda di Banjarmasin, AG Deelman, mengirim seorang tokoh diplomasi Belanda bernama Van der Plaas ke Nagara. Ia datang menjumpai seorang ulama besar Nagara saat itu, Syaikh H. Muhammad Ja'far.
Ia mendarat di Kampung Pakan Dalam (Paramaian sekarang) dan speed boat yang ditumpanginya ditambatkan di sungai depan rumah Syaikh H. Muhammad Ja'far. Bersamanya ikut empat orang pejabat Belanda, termasuk H. Abdul Ghani dan Kiyai Wedana Muhammad Yusran. Van der Plaas yang konon lama belajar agama Islam di Makkah bercakap-cakap dengan Syaikh H. Muhammad Ja'far menggunakan bahasa Arab.
Permintaannya agar dengan kharismanya, Syaikh H. Muhammad Ja'far dapat menjinakkan rakyat Nagara dan sekitarnya. Tegasnya agar jangan sampai rakyat dan pejuang angkat senjata melawan Belanda. Sebagai imbalan, ulama besar ini akan diberi jabatan Qadhi Besar di Kalimantan Selatan, menjadi Ketua Jam'iyah Islamiyah Kalimantan Selatan bentukan Belanda, mendapat gaji besar dan mobil mewah merk Dodge yang saat itu hanya dimiliki oleh dua orang di Kalimantan Selatan, yaitu Gubernur Belanda dan H. Umar Lampihong.
Syaikh H. Muhammad Ja'far menolak dengan halus permintaan tersebut, alasan beliau ialah karena dirinya sudah tua, sudah dekat dengan kematian, dan tidak berambisi menduduki jabatan-jabatan prestisius atau mengejar harta berlimpah. Soal perjuangan diserahkan kepada kemauan rakyat saja. Padahal sebenarnya beliau anti penjajahan dan putra beliau H. Muhammad Sakya di Hijaz Arab Saudi menjadi anggota Komite Kemerdekaan Indonesia yang selalu mendorong agar perjuangan terus dikobarkan. Tidak itu saja, hampir setiap hari terutama malam hari berdatangan para pemuda pejuang di Banua Lima minta dimandikan oleh beliau supaya lebih memiliki kekuatan untuk berjuang melawan Belanda.
Menghadapi jawaban tersebut, Van der Plaas pulang dengan tangan hampa dan mencoba melakukan pendekatan-pendekatan di daerah lainnya. Konon menjelang akhir hayatnya, Van der Plaas masuk Islam karena ilmu agama yang dimilikinya dan kesadaran bahwa penjajahan yang dilakukan oleh bangsanya tidak dapat dibenarkan bahkan jika dipandang dari sudut mana pun.
Setelah pertempuran Palagan Nagara 2 Januari 1949 M, pasukan Belanda yang bertambah banyak mengamuk, menangkapi sejumlah orang yang dianggap berbahaya, sampai-sampai membuka jendela rumah saja akan mereka tembak. Pasukan Belanda melakukan penyisiran ke seluruh kampung, kecuali Kampung Pakan Dalam tidak mereka obrak-abrik, konon karena sudah dihalat oleh Syaikh H. Muhammad Ja'far.