Kamis, Oktober 22, 2026

TUMENGGUNG ANTALUDDIN, PANGLIMA PERANG BANJAR YANG GAGAH BERANI

 TUMENGGUNG ANTALUDDIN, PANGLIMA PERANG BANJAR YANG GAGAH BERANI

Pada tanggal 28 April 1860 M, gelar Tumenggung diberikan kepada Antaluddin. Pemberian gelar itu bukan tanpa alasan, beliau adalah orang yang menguasai wilayah Kandangan dan sekitarnya serta memiliki banyak pengikut. Beliau dikenal kebal dan pemberani serta memiliki pengetahuan perang yang mumpuni.
Tumenggung Antaluddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana merupakan salah seorang Panglima Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang, sekarang masuk dalam Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Pada masa itu, Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, dan pasukan Tumenggung Antaluddin berkumpul di sekitar benteng itu pada bulan September 1860 M.
Setelah Pangeran Antasari meninggal dunia karena sakit pada 11 Oktober 1862 M, kekuatan pasukan Banjar di daerah Banua Lima mulai menurun. Perjuangan masih diteruskan di pedalaman Barito dan nama Tumenggung Antaluddin pun tidak lagi terdengar.
• Pertempuran Gunung Madang, 3 September 1860 M
Persiapan benteng pertahanan di Gunung Madang diketahui oleh Belanda sehingga datanglah serangan pasukan Belanda secara mendadak pada 3 September 1860 M, sementara benteng belum selesai dibangun. Serdadu Belanda menyusuri Kampung Karang Jawa dan Ambarai dan langsung menuju Gunung Madang. Serdadu Belanda terkejut, ketika baru mendekati bukit itu, ada serangan mendadak yang menyebabkan beberapa serdadu mereka tewas. Sekali lagi serdadu Belanda mendekati bukit, namun sebelum sampai, serangan kembali menyambut mereka sehingga mereka mundur kembali ke Benteng Amawang.
• Pertempuran Gunung Madang, 4 September 1860 M
Keesokan harinya tanggal 4 September 1860 M, pasukan Infanteri dari Batalyon Ke-13 melakukan serangan kedua. Serdadu Belanda ini dilengkapi dengan mortir dan puluhan orang perantaian untuk membawa perlengkapan perang dan dijadikan umpan dalam pertempuran. Serdadu Belanda melemparkan 3 granat namun tidak berbunyi, dan disambut dengan tembakan dari dalam Benteng Gunung Madang. Di dalam Benteng Gunung Madang terdapat pula beberapa orang perantaian yang lari memihak pasukan Pangeran Hidayatullah ketika terjadi pertempuran di Pantai Hambawang sebelumnya. Ketika Letnan De Brauw dan Sersan De Vries menaiki kaki Gunung Madang, mereka hanya diikuti serdadu bangsa Eropa sedangkan serdadu bangsa bumiputera (pribumi) membangkang tidak ikut bertempur. Letnan De Brauw kena tembak di pahanya, dan 9 orang serdadu Eropa terkapar kena tembak dari arah dalam benteng. Setelah Letnan De Brauw kena tembak, serdadu Belanda mundur dan kembali ke Benteng Amawang. Serangan ketiga dilakukan beberapa hari kemudian setelah Belanda memperoleh bantuan dari Banjarmasin dan Amuntai.
• Pertempuran Gunung Madang, 13 September 1860 M
Pada tanggal 13 September 1860 M, Belanda melakukan kembali serangannya terhadap Benteng Gunung Madang. Serangan ini dipimpin oleh Kapten Koch dengan perlengkapan meriam dan mortir. Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin mempersiapkan pasukan dan menunggu serangan Belanda, sedangkan Pangeran Hidayatullah mengatur strategi untuk menghadapinya. Pertempuran ini terjadi dalam jarak dekat, Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin dengan gagah berani menghadapinya. Ketika bunyi senapan dan meriam bergema, tiba-tiba roda meriamnya hancur kena tembakan. Kapten Koch mempertimbangkan untuk mundur kembali ke Benteng Amawang. Kegagalan serangan Kapten Koch ini tersebar sampai ke Banjarmasin, sehingga Gustave Marie Verspyck memerintahkan Mayor Schuak menyiapkan pasukan Infanteri dari Batalyon Ke-13 yang terdiri dari 91 opsir bangsa Eropa.
• Pertempuran Gunung Madang, 18 September 1860 M
Pada tanggal 18 September 1860 M, Mayor Schuak membawa pasukan dengan dibantu Kapten Koch menyerang Gunung Madang. Belanda membawa sebuah howitzer, sebuah meriam berat dan mortir. Menjelang pukul 11.00 siang, Demang Lehman mulai menyambut serdadu Belanda dengan tembakan. Gustave Marie Verspyck yang berani mendekati benteng dengan pasukannya kena tembak oleh anak buah Tumenggung Antaluddin. Selanjutnya Kapten Koch memerintahkan memajukan meriam, peluru mengenai serdadu pembawa meriam itu dan membuatnya jatuh terguling. Setelah pasukan meriam gagal, dilanjutkan dengan pasukan Infanteri yang mendapat giliran maju. Kapten Koch yang memimpin pasukan Infanteri kena tembak di dadanya dan jatuh tersungkur. Dengan tewasnya Kapten Koch tersebut, serdadu Belanda menjadi bingung dan kehilangan komando. Mereka bergegas menggotong mayat Kapten Koch dan berlari meninggalkan medan pertempuran kembali ke Benteng Amawang. Setelah serangan keempat ini gagal, Belanda mempersiapkan kembali untuk penyerangan yang kelima. Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin juga mempersiapkan siasat untuk menghadapi serangan yang lebih besar. Demang Lehman mendapat bantuan dari Kiyai Cakrawati, pejuang wanita yang selalu menunggang kuda yang berasal dari daerah Gunung Pamaton (Distrik Riam Kanan).
• Pertempuran Gunung Madang, 22 September 1860 M
Serangan kelima terjadi pada tanggal 22 September 1860 M. Belanda mempersiapkan dengan teliti, belajar dari kegagalan empat kali penyerangan sebelumnya. Belanda mempersiapkan mendirikan bivak-bivak dan perlindungan pasukan penembak meriam dengan sistem pengepungan Benteng Gunung Madang. Pertempuran baru terjadi keesokan harinya dengan tembakan meriam dan lemparan granat. Pada pagi hari itu pertempuran tidak terlalu sengit, barulah ketika menjelang pukul 11.00 malam hari, tiba-tiba Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin melakukan serangan besar-besaran dengan meriam dan senapan. Tembakan itu terus-menerus bersahutan sampai menjelang subuh. Karena serangan yang gencar itu, Belanda kehilangan komando di tengah malam yang gelap gulita. Situasi ini dimanfaatkan Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin beserta pasukannya untuk keluar dari benteng, selanjutnya mereka berpencar. Kiyai Cakrawati, seorang pejuang wanita meneruskan perjalanan ke Gunung Pamaton yang kemudian terlibat dalam pertempuran di Gunung Pamaton. Ketika memasuki benteng, alangkah kecewanya Belanda mendapati benteng sudah kosong, hanya ditemukan satu orang mayat yang ditinggalkan.

 • Makam Datu Halimah binti Muhammad Agil (Datu Dara).

• Makam Sayyid Muhammad Abdullah Husin.
• Makam Syaikh Ahmad Hanafi Al Bantani (Datu Panjang).
Letak: Kuburan Muslimin 40, Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Datu Halimah atau Datu Dara merupakan salah satu keturunan dari Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan, adapun nasab beliau yaitu Datu Halimah binti Fathmah binti Qadhi H. Muhammad bin Datu Ahmad Balimau bin Mufti H. Muhammad As'ad bin Syarifah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari. Sedangkan dari jalur ayahnya, beliau keturunan Palembang. Ayah beliau bernama Muhammad Agil bin Syihabuddin. Keturunan-keturunan beliau tersebar di Kalimantan Selatan, Jakarta, Surabaya, dan Sumatera.
Sayyid Muhammad Abdullah Husin dikisahkan berasal dari Demak, beliau merupakan ulama besar di masanya. Peninggalan beliau berupa kitab yang berisi tentang ilmu Ma'rifat dan disimpan oleh keturunan beliau di Kandangan. Beliau wafat pada tahun 1298 H atau 1881 M dalam usia kurang lebih 50 tahun.
Syaikh Ahmad Hanafi Al Bantani merupakan seorang ulama yang berasal dari Banten, beliau datang ke Lawahan untuk berdakwah. Pada saat beliau wafat, semua muridnya berebut untuk mengangkat jenazahnya. Ketika itulah hal aneh terjadi, tubuh beliau tiba-tiba menjadi panjang hingga semua murid dapat memegangnya. Karena itulah beliau bergelar Datu Panjang.

Makam Kuburan Muslimin 40. Letak: Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.

 Makam Kuburan Muslimin 40.

Letak: Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Mereka adalah orang-orang yang menjadi korban perang melawan penjajah Belanda di Kampung Lawahan tepatnya di Tatah Halayung pada tanggal 16 November 1859 M. Perang ini terjadi karena Belanda membalas serangan rakyat Lawahan di bawah pimpinan Sambang bin Datu Aling yang tergabung dalam pasukan Datu Aling ketika menyerang tambang batubara dan Benteng Oranje Nassau milik Belanda di Pengaron pada 28 April 1859 M.
Peperangan ini terjadi sangat dahsyat dan menimbulkan banyak korban. Rumah-rumah dan perkampungan semuanya habis dibakar oleh Belanda. Perang ini juga mengakibatkan Datu Aling dan anaknya yang bernama Galuh Saranti meninggal dunia. Konon di dalam makam ini dikuburkan 40 orang dalam satu liang lahat.

HANTASAN RAJA BAGALUNG

 HANTASAN RAJA BAGALUNG

Pangeran Bagalung bin Maharaja Sukarama memiliki nama kecil Raden Bali. Menurut riwayat, pasca Pangeran Mangkubumi naik takhta menjadi Raja Daha, Pangeran Bagalung meninggalkan pusat kerajaan di Nagara. Beliau kemudian menetap di Kampung Berangas dan menjabat sebagai Adipati di sana.
Saban hari Sabtu, Pangeran Bagalung menghadap Maharaja Mangkubumi di Keraton Nagara Daha. Tidak berapa lama setelah menghadap yang terakhir, beliau jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Pangeran Bagalung meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Raden Harja dan seorang anak perempuan bernama Raden Lamarsari. Setelah wafatnya beliau, Raden Lamarsari menetap di Muara Bahan. Di kemudian hari, anak cucunya ini menurunkan para priayi di Muara Rampiau dan di Muara Bahan.
Menurut Andin Kamal Pasha, Rama Andin yang menetap di Tapin secara umum atau Lawahan secara khusus diperkirakan asal-usul leluhurnya hampir keseluruhan berasal dari wilayah Marampiau, Pabaungan, Muhara Muning, Sungai Rutas, Margasari dan sekitarnya. Leluhur mereka rata-rata bergelar Rama yang menandakan memiliki silsilah lurus dari laki-laki.
Secara metafisika sejak dahulu sampai sekarang, beberapa anak cucu keturunan Rama Andin, baik yang tinggal di Kampung Lawahan ataupun kampung lainnya, sering melihat penampakan ruhaniyah dari Pangeran Bagalung. Beliau terlihat berjubah putih penuh wibawa, rambut disanggul, memakai pedang di pinggang serta menaiki kuda putih dengan bunyi gemerincing berpadu irama tapak kaki kuda.
Sehingga sebagian besar anak cucu Rama Andin di wilayah Tapin meyakini kalau mereka berasal dari keturunan Pangeran Bagalung. Bahkan di Kampung Lawahan ada satu jalan kecil diberi nama Hantasan Raja Bagalung, karena beliau selalu lewat di jalan itu.
Menurut keterangan dari mereka yang pernah melihat penampakan ruhaniyah Pangeran Bagalung, arah pulang beliau selalu ke arah Barat, kalau dari Lawahan ke arah Margasari.

Sumber : Ahmad Khatib.

Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram bin Rama Ubaidillah.

 Makam Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram bin Rama Ubaidillah.

Letak: Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Al 'Alimul Fadhil Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram dilahirkan pada tahun 1910 M. Beliau menuntut ilmu agama di Desa Dalam Pagar, Martapura. Kemudian melanjutkan ke Nagara, berguru kepada Syaikh H. Ismail bin Syaikh H. Muhammad Thahir Al Allabi dan menjadi teman seperguruan dari Wali Katum. Selesai dari Nagara, beliau kembali ke kampung halamannya di Desa Lawahan. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya ke Desa Pabaungan, berguru kepada Tuan Guru H. Ahmad Barmawi bin Abdul Jalil. Di Pabaungan, beliau seperguruan dengan Tuan Guru H. Abdurrahman bin Tuan Guru H. Ismail (Mandurian).
Pada tahun 1940 an, Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram membina umat di bidang keagamaan bersama mertuanya yaitu Tuan Guru H. Abdul Aziz. Di antara ilmu yang diajarkan ialah ilmu Fiqih dengan Kitab I'anatuth Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Syatha' dan setiap sore Jum'at di rumahnya mengajarkan ilmu Tasawwuf dengan Kitab Ad Durrun Nafis karya Syaikh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari.
Menjelang akhir hidupnya, Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram mengalami sakit tenggorokan yang menyebabkan pita suara beliau rusak sehingga tidak jelas ketika bersuara. Namun berkat taufik dan qudrat Allah SWT, setiap kali beliau membaca Al Qur'an dan mengimami shalat di Langgar As Sa'adah Lawahan, suara beliau kembali normal. Dan setelah itu, suara beliau kembali hilang.
Kurang lebih tahun 1964 M, Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram pernah berkata sambil duduk di depan teras mushalla, kata beliau nanti di Desa Lawahan ini akan ada pelabuhan dan jalan besar, kalau malam lampunya akan kelihatan sampai ke tempat kita. Ternyata apa yang beliau katakan terbukti terjadi setelah 50 tahun kemudian, yaitu pelabuhan dan jalan hauling angkutan batubara.
Di sisi lain, Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram selalu mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat. Beliau mempunyai kebiasaan mengkhatamkan Al Qur'an setiap hari dan pada malam harinya mengerjakan Qiyamul Lail sampai subuh.
Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram berpulang ke rahmatullah pada subuh hari Jum'at tanggal 27 Sya'ban 1395 H bertepatan dengan 5 September 1975 M dalam usia 65 tahun, disaksikan oleh istri dan anak beliau yang bernama Ahmad Yazidi. Beliau wafat dalam keadaan sujud saat melaksanakan shalat Subuh.
Ketika jenazah beliau dimakamkan di hari yang sama, cuaca mendung dan gerimis turut membasahi bumi seolah-olah ikut bersedih karena kepergian beliau. Salah satu yang membaca talqin ialah Tuan Guru H. Ghazali bin Abdurrahim (Lumbu Raya).
Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram meninggalkan sebuah lembaga pendidikan Islam bernama Madrasah Normal Islam Hidayatullah yang beliau dirikan pada tahun 1956 M dan masih berjalan hingga hari ini.
Sumber: Ahmad Khatib. Andin Syarifuddin bin Andin Sulaiman Kurdi bin Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram.

uan Guru H. Ahmad Ruyani bin Darulquthni.

 Makam T


uan Guru H. Ahmad Ruyani bin Darulquthni.

Letak: Desa Pandulangan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Makam Datu Ahmad dan Datu Hasan.

 Makam Datu Ahmad dan Datu Hasan.


Letak: Paimaman Masjid Al Mujahidin, Desa Padang Batung, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Datu Ahmad dan Datu Hasan merupakan dua orang bersaudara, anak dari Datu H. Abul Hasan. Datu Ahmad bergelar Datu Campa, sedangkan Datu Hasan bergelar Datu Pancau.
Bersama tokoh masyarakat seperti Gulu Arsan, Su'abas, H. Abdul Kadir, dan H. Sukri, Datu Ahmad dan Datu Hasan mendirikan Masjid Al Mujahidin pada tahun 1911 M.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Al Mujahidin juga digunakan sebagai tempat untuk menyusun strategi melawan penjajahan. Bahkan masjid ini pernah menjadi tempat persembunyian H. Hasan Basri.
Al Fatihah...

Makam Datu H. Abul Hasan bin Datu Sudin.

 Makam Datu H. Abul Hasan bin Datu Sudin.

Letak: Desa Durian Rabung, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Di Desa Durian Rabung tersimpan kisah perjuangan seorang tokoh lokal yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda pada masa Perang Banjar di abad ke-19 M.
Sosok itu adalah Datu H. Abul Hasan. Beliau berjuang bersama saudara iparnya yaitu Datu Surgi Muhammad Syahid, suami dari adiknya yang bernama Diyang Kabun. Selain itu, Datu H. Abul Hasan juga dibantu oleh Panglima Dambung, Datu Dulahmat, Datu Cancangan, dan sembilan orang pejuang lainnya. Mereka menghadang penjajah Belanda yang datang memasuki wilayah Kalimantan dari Desa Durian Rabung.
Para pejuang berbekal senjata tradisional seperti parang dan tombak. Uniknya, senjata milik para datu tersebut konon bertuliskan lafazh Arab seperti tahlil, syahadat, dan takbir. Masyarakat kala itu menyebut para pejuang memiliki kesaktian, termasuk kekebalan tubuh.
Dalam perjuangannya, Datu H. Abul Hasan bahkan dikisahkan pernah tertembak. Namun beliau segera pulih dan kembali bertempur.
Pada saat melakukan serangan ke Kuin, mereka beberapa kali berhasil mengusir pasukan Belanda meskipun Belanda datang kembali dengan pasukan yang lebih besar. Akhirnya para datu memutuskan kembali ke Hulu Sungai tepatnya ke Benteng Madang.
Dalam pertempuran di Benteng Madang, Datu Syahid dipercaya sebagai Panglima Perang dan Datu H. Abul Hasan menjadi wakilnya. Pertempuran sengit pun terjadi, Datu Syahid terkena tembakan meriam Belanda dan dibawa ke Padang Batung oleh Datu H. Abul Hasan.
Tidak lama kemudian, Datu Syahid wafat dan perlawanan rakyat melemah. Benteng Madang akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Setelah itu tidak diketahui siapa yang melanjutkan perjuangan merebut kembali Benteng Madang.
Mengenai wafatnya Datu H. Abul Hasan tidak tercatat dengan jelas, namun beliau meninggalkan beberapa orang anak, di antaranya Datu Campa dan Datu Pancau yang dikenal sebagai ulama kharismatik pada zamannya. Hingga kini, sebagian besar penduduk Desa Durian Rabung merupakan keturunan Datu H. Abul Hasan.
Untuk mengenang jasa beliau, pada tahun 1990 an, nama Datu H. Abul Hasan diabadikan menjadi Yayasan Abul Hasan yang menaungi Madrasah Ibtida'iyah, Taman Pendidikan Al Qur'an, dan Madrasah Aliyah.
Kemudian pada tahun 2021 M, nama beliau kembali digunakan untuk Ruang Terbuka Hijau dan Taman Bermain Datu Abul Hasan di Desa Padang Batung yang diresmikan oleh Bupati H. Ahmad Fikri.
Al Fatihah...

Makam Brigjen TNI (Purn) H. Muhammad Yusi bin H. Muhammad Yusuf.

 Makam Brigjen TNI (Purn) H. Muhammad Yusi bin H. Muhammad Yusuf.

Letak: Pusara Pejuang, Desa Karang Jawa Muka, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
H. Muhammad Yusi merupakan salah satu pimpinan perlawanan terhadap penjajahan Jepang dan gerakan revolusi mempertahankan kemerdekaan, teman seperjuangan H. Hasan Basri dan H. Abrani Sulaiman.
Beliau wafat pada hari Ahad tanggal 23 Syawwal 1409 H bertepatan dengan 28 Mei 1989 M dalam usia 71 tahun. Beliau dianugerahi tanda kehormatan Bintang Gerilya yang menjadikannya mempunyai hak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional.

H. ABU HASAN BIN QADHI H. ABU NA'IM BIN SYAIKH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJAR

 H. ABU HASAN BIN QADHI H. ABU NA'IM BIN SYAIKH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI

Salah satu cucu Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan yang bermakam di Nagara, anak dari Qadhi H. Abu Na'im dengan istrinya yang bernama Siti.
H. Abu Hasan menurunkan beberapa orang anak, di antaranya: Muhammad Hamid, H. Muhammad Arif, Muhammad Thayyib, H. Muhammad Khalid, Muhammad Arsyad, Sa'duddin, Husin, Abdul Hadi, Halimah, Ummi, Zahrah, dan Galuh Kacil.
Salah satu keturunan beliau yang terkenal adalah Prof. Dr. Ir. H. Ismet Ahmad, seorang politikus, birokrat, dan dosen berkebangsaan Indonesia.
له الفاتحة...
Ds. Panggandingan, Kec. Daha Utara, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

PANGERAN SINGASARI BIN SULTAN SULAIMAN RAHMATULLAH

 PANGERAN SINGASARI BIN SULTAN SULAIMAN RAHMATULLAH

Ketika huru-hara di lingkungan Kesultanan Banjar mulai terasa akibat campur tangan Belanda, Pangeran Singasari memilih meninggalkan keraton di Martapura. Beliau kemudian menetap di daerah Kalua, di sana beliau sangat dihormati dan dikenal sebagai tokoh anti Belanda.
Menurut peneliti Belanda, Karel A. Steenbrink, Pangeran Singasari membangun kekuatan di daerah Balangan dan Tabalong serta ikut pula dalam sejumlah perlawanan secara gerilya melawan Belanda.
Ketika Pangeran Antasari terdesak di Martapura dan Pangeran Hidayatullah ditangkap lalu dibuang Belanda ke Cianjur pada tahun 1862 M, Pangeran Antasari menggeser perlawanannya ke daerah Tabalong. Di sana Pangeran Antasari sempat bertemu dengan Pangeran Singasari.
Di Kalua, Pangeran Singasari kawin dengan Putri Halimah dan dikaruniai beberapa orang anak, di antaranya:
1. Pangeran Muhammad Amin (Mahar Kuning, Kalua).
2. Putri Suasa.
3. Putri Salamah.
4. Putri Anisa.
5. Putri Anjung (Selongan, Tanjung).
6. Pangeran Muhammad Jidi (Kotabaru).
7. Putri Habibah (Makkah).
8. Pangeran Abu Bakar (Marindi, Tabalong).
9. Gusti Buntat (Tanjung).
Pangeran Abu Bakar bin Pangeran Singasari aktif berjuang bersama putra Pangeran Muhammad Seman bin Pangeran Antasari yaitu Gusti Berkek, dibantu Gusti Buasan, Gusti Tisa, Gusti Mahmud, Utuh Kalambuai, dan lain-lain.
Adapun Putri Suasa binti Pangeran Singasari kawin dengan Pangeran Ngantung dan melahirkan Gusti Abdullah, Gusti Abdullah kemudian mempunyai anak bernama Gusti Suasa, Gusti Suasa kawin dengan Kiyai Ahmad Dahlan dan melahirkan H. Syarkawi, Gubernur Pertama Kalimantan Selatan.
Selain itu, di antara keturunan Pangeran Singasari lainnya yang sangat terkenal ialah H. Gusti Syamsir Alam dan Sultan H. Khairul Saleh, Sultan Banjar sekarang.
Pangeran Singasari wafat pada tahun 1311 H bertepatan dengan 1893 M, dimakamkan di samping Masjid Pusaka Banua Lawas, Tabalong. Di atas makam beliau terdapat batu nisan tua yang cukup besar dan bertuliskan tahun 1311 H sebagai tahun wafatnya.
• Silsilah nasab: Pangeran Singasari bin Sultan Sulaiman Rahmatullah bin Sultan Tahmidillah Nata Alam bin Sultan Tamjidillah Badarul Alam bin Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah bin Sultan Sa'idillah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Musta'in Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah.
له الفاتحة...
Ds. Banua Lawas, Kec. Banua Lawas, Kab. Tabalong, Kalimantan Selatan.

LEGENDA TELAGA DARAH EMPU MANDASTANA YANG TERLETAK DI DALAM KOMPLEKS CANDI AGUNG AMUNTAI

 LEGENDA TELAGA DARAH EMPU MANDASTANA YANG TERLETAK DI DALAM KOMPLEKS CANDI AGUNG AMUNTAI

Alkisah pada zaman dahulu kala pernah terjadi peristiwa pembunuhan dua orang pemuda kembar kakak-beradik anak dari Empu Mandastana yang bernama Bambang Sukmaraga dan Bambang Patmaraga, dibunuh oleh pamannya sendiri yaitu Patih Lambung Mangkurat karena adanya kekhawatiran lantaran Putri Junjung Buih mempunyai perasaan kepada si kembar, di mana Putri Junjung Buih pernah menjatuhkan bunga Nagasari sebagai tanda cinta.
Dalam legenda diceritakan, Putri Junjung Buih sangat disayangi rakyat Nagara Dipa, di mana Kecantikan dan keramahannya tersebar hingga ke negeri lainnya.
Putri Junjung Buih dibesarkan di lingkungan kerajaan bersama si kembar keponakan Patih Lambung Mangkurat, mereka tumbuh menjadi dewasa hingga kedekatan mereka bertiga membuat semua orang terpana.
Dari perhatian semua kerabat dan pejabat kerajaan, sangatlah tidak lazim karena mereka bertiga terlihat seperti sepasang kekasih yang tidak bisa terpisahkan. Apalagi Putri Junjung Buih sangat menyukai kakak-beradik kembar yang memang sangat tampan di Negeri Dipa tersebut.
Para tetua agama dan Patih Lambung Mangkurat mendapat pesan bahwa jodoh Putri Junjung Buih adalah seorang Putra Raja dari kerajaan di Jawa, di mana nantinya Patih Lambung Mangkurat lah yang diutus untuk menjemput calon suami Putri Junjung Buih. Namun yang menjadi kendala adalah sepasang kakak-beradik kembar yang begitu sangat dicintai Putri Junjung Buih. Bila terjadi Putri Junjung Buih mengawini kakak-beradik itu, maka akan menggemparkan Kerajaan Nagara Dipa dan diramalkan akan membawa kehancuran karena Putri Junjung Buih telah ditetapkan oleh Dewata bahwa jodohnya adalah Pangeran dari Tanah Jawa.
Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka dilangsungkanlah musyawarah kerajaan dan diputuskan agar Patih Lambung Mangkurat memisahkan kedua keponakannya itu dari Putri Junjung Buih. Karena Patih Lambung Mangkurat merasa dipermalukan, maka akhirnya beliau mengambil keputusan untuk membunuh kedua keponakannya tersebut.
Suatu hari, Patih Lambung Mangkurat mengajak mereka berdua untuk mencari ikan dengan cara malunta dan membawa semua perlengkapan yang dibutuhkan. Mulanya ibu mereka berfirasat tidak enak, tetapi kedua anak kembar itu berpesan kepada ibunya: Wahai ibu, kami pergi malunta bersama paman. Jika terjadi apa-apa dengan kami berdua, maka bunga Puspa ini akan layu dan mati. Namun jika tidak terjadi apa-apa, maka bunga Puspa ini akan tetap segar dan mewangi. Sebelumnya sepasang kembar ini pun juga memberikan setangkai bunga Puspa dan berpesan hal yang sama kepada Putri Junjung Buih.
Akhirnya pergilah si kembar bersama Patih Lambung Mangkurat dengan menaiki perahu ke daerah Loksuga. Dan ketika malunta, terkaitlah jaring lunta tersebut di dalam air dan diperintahkan oleh Patih Lambung Mangkurat agar mereka menyelam, si kembar itu lalu dibunuh. Mayat si kembar tenggelam di dasar Lu'uk dan tidak timbul lagi, namun ada yang meyakini bahwa si kembar tetap hidup di alam lain.
Empu Mandastana dan istri merasakan hal yang tidak wajar, karena bunga Puspa yang ditinggalkan oleh kedua anak mereka lenyap dari hadapan. Begitu pun dengan bunga Puspa yang ada di tangan Putri Junjung Buih tiba-tiba menghilang begitu saja ketika Putri Junjung Buih sedang duduk di jendela Keraton sambil mencium bunga tersebut. Dengan perasaan sedih, Putri Junjung Buih memandang ke arah langit dan melihat keduanya melambaikan tangan kepadanya.
Lu'uk Badangsanak terletak di Desa Loksuga, Kecamatan Haur Gading, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Lu'uk Badangsanak berada di Sungai Palimbangan yang mengalir terus sampai ke Sungai Tabalong.
Kisah ini ada kaitannya dengan Telaga Darah Empu Mandastana atau biasa disebut Pancuran Telaga Darah Lu'uk Badangsanak, yaitu tempat Empu Masdastana dan istrinya bunuh diri lantaran mendengar kabar bahwa anak kembar mereka dibunuh oleh pamannya sendiri. Konon, air di Telaga Darah Empu Mandastana berwarna merah.

SIAPAKAH SOSOK SYAIKH SHIDDIQ ORANG NAGARA YANG DISEBUT GURU MULKANI SEBAGAI GURU DATU KALAMPAYAN SEWAKTU KECIL?

 SIAPAKAH SOSOK SYAIKH SHIDDIQ ORANG NAGARA YANG DISEBUT GURU MULKANI SEBAGAI GURU DATU KALAMPAYAN SEWAKTU KECIL?

Pada suatu masa terjadi sengketa kekuasaan antara Sultan Agung Raden Kasuma Lalana Suryanata II bin Ratu Agung Sultan Inayatullah dengan keponakannya yaitu Sultan Tahlilullah Amrullah Bagus Kasuma. Sultan Tahlilullah bersama anaknya Sultan Tahmidullah kemudian menyingkir ke Batang Alai, Batang Alai sekarang ini meliputi Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan atau Amandit.
Pada waktu itu, ayah Datu Kalampayan yang bernama Abdullah setelah bermukim di Nagara pindah ke Kampung Jambu Kandangan, di sana sudah terjalin persahabatan antara Abdullah dan Sultan Tahmidullah. Inilah sebabnya ketika di Lok Gabang, Sultan Tahmidullah (dalam riwayat lain Sultan Tahlilullah) memelihara Datu Kalampayan kecil dan mengirimnya belajar agama ke Batang Alai.
Pada zaman itu, Batang Alai dipimpin oleh Raden Tumenggung Kertanegara, biasa dipanggil Gusti Tumenggung. Gusti yang dimaksud adalah sapaan untuk orang yang dituakan, bukan gelar Gusti dari Kesultanan Banjar. Karena pada masa itu belum ada gelar Gusti di Kesultanan Banjar, adanya setelah Sultan Tahmidillah Nata Alam.
Selain sebagai seorang umara, Raden Tumenggung Kertanegara juga merupakan seorang ulama. Nama asli beliau ialah Syaikh Abdullah Shiddiq, ayah dari Kiyai Martapati. Kepada beliaulah Datu Kalampayan sewaktu kecil belajar ilmu agama di Batang Alai. Menurut riwayat, Syaikh Abdullah Shiddiq masih keturunan Raja Daha. Beliau dimakamkan di Desa Lok Besar, Kecamatan Batang Alai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
sumber : Ahmad Khatib

MENGENAL DAERAH NAGARA SEBAGAI PUSAT PENGOLAHAN LOGAM DI KALIMANTAN SELATAN

 MENGENAL DAERAH NAGARA SEBAGAI PUSAT PENGOLAHAN LOGAM DI KALIMANTAN SELATAN

Bagi masyarakat Kalimantan Selatan tentu tidak asing lagi dengan daerah yang bernama Nagara, sebuah wilayah yang saat ini terbagi menjadi tiga kecamatan yaitu Daha Selatan, Daha Utara, dan Daha Barat yang masuk dalam administratif Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Daerah Nagara merupakan wilayah rawa-rawa dan perairan yang mayoritas dihuni oleh Suku Banjar Batang Banyu. Sebelum identitas Banjar lahir, wilayah ini merupakan ibukota Kerajaan Daha. Pada tahun 1898 M, Nagara resmi menjadi bagian dari Kandangan yang kelak menjadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Selain produksi ikan air tawar yang melimpah, daerah Nagara terkenal sebagai pusat pengolahan berbagai macam bahan logam untuk berbagai keperluan seperti senjata dan lain sebagainya. Senjata produksi pandai besi dari Nagara sangat terkenal dari segi kualitasnya. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan orang-orang Nagara mempunyai keahlian dalam pengolahan bahan logam. Hingga saat ini, pandai besi terkenal yang tersebar di Kalimantan Selatan mayoritas masih keturunan pandai besi dari Nagara.
Dalam buku Metallurgie und Fruhe Besiedlungsgeschichte Indonesiens dari Wolfgang Marschall Tubingen menceritakan tentang laporan seorang Eropa bernama Gerbowsky (1899 M) mengenai daerah Nagara yang merupakan sebuah kota rumah panggung dengan 10.000 penduduk serta macam-macam hasil industrinya terutama senjata. Gerbowsky mendatangi seorang pandai besi Nagara lalu memesan sebuah belati. Gerbowsky melihat semua tahapan pembuatan belati itu ditempa dengan teknik tempa lipat yang menggabungkan dua bahan besi sekaligus.
Kemudian laporan Hendriks sekitar tahun 1840 an tentang 70 pengrajin senjata api di Nagara yang masing-masing mempunyai tugas dalam membuat senjata api model lokal ataupun Eropa. Apabila sultan minta dibuatkan senjata, maka mereka membuatkannya tanpa dibayar dengan jaminan mereka bebas pajak dari sultan.

Di manakah Keraton Kerajaan Daha?

 Di manakah Keraton Kerajaan Daha?

Kerajaan Daha merupakan sebuah kerajaan yang pernah eksis di Kalimantan Selatan sekitar tahun 1475 sampai 1526 M. Hingga saat ini, tidak ada yang tahu persis letak pusat kerajaan. Beberapa sumber menyebutkan di Muara Hulak Nagara, namun tidak ada bukti pasti.
Akan tetapi orang Nagara meyakini bahwa Daha memang kerajaan tua yang kaya dan berpusat di Nagara sekarang. Beberapa buktinya ialah warga seringkali melihat tiang-tiang ulin tua bekas bangunan besar yang masih tertancap dan muncul ke permukaan saat sungai surut.
Selain itu, warga juga sering menemukan berbagai macam perhiasan emas serta pusaka-pusaka tua di dasar Sungai Nagara. Beberapa temuan masih utuh dan terlihat ukiran yang indah.

EKSPEDISI MILITER MAJAPAHIT KE NAN SARUNAI & KAITANNYA DENGAN ASAL-USUL PANDAI BESI NAGARA

 EKSPEDISI MILITER MAJAPAHIT KE NAN SARUNAI & KAITANNYA DENGAN ASAL-USUL PANDAI BESI NAGARA

Syair Nan Sarunai Usak Jawa adalah sastra lisan dalam bahasa Dayak Ma'anyan yang mengisahkan Kerajaan Nan Sarunai telah dirusak oleh Jawa (Majapahit). Bait-bait yang berisi sejarah leluhur ini menjadi pegangan sejumlah sejarawan dalam menafsirkan ekspedisi militer yang dilancarkan Kerajaan Majapahit, termasuk sejarawan Dayak yang juga dosen senior Sekolah Tinggi Teologi GKE Banjarmasin, Fridolin Ukur.
Beliau meyakini Kerajaan Nan Sarunai merupakan pemerintahan monarki yang mempersatukan Dayak Ma'anyan di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, yang berpusat di Kabupaten Tabalong. Menurutnya, Kerajaan Nan Sarunai berdiri pada tahun 1309 M saat Raden Japutra Layar dinobatkan menjadi raja. Kerajaan Nan Sarunai kemudian lenyap setelah ditaklukkan armada perang yang dikirim Majapahit dalam beberapa kali ekspedisi.
Menurut peneliti sejarah dari FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Apriansyah, setidaknya ada tiga ekspedisi militer yang dilakukan Majapahit. Penyerangan pertama terjadi pada tahun 1309 M atau beberapa tahun setelahnya pada masa pemerintahan Raja II Majapahit bernama Jayanagara yang berkuasa tahun 1309-1328 M. Dengan kekuatan 40 ribu pasukan, Majapahit menyerang Kerajaan Nan Sarunai. Namun penyerangan pertama mengalami kegagalan.
Setelah penyerangan pertama ini gagal, Kerajaan Majapahit nampaknya belum puas dengan hasil itu. Pada masa pemerintahan Raja III Majapahit bernama Tribhuwana Wijaya Tungga Dewi yang berkuasa tahun 1328-1350 M, lewat Maha Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa, Majapahit kembali menyerang Nan Sarunai antara tahun 1339-1341 M. Serangan kedua ini juga berhasil dihalau oleh Nan Sarunai karena mendapat perlawanan hebat dari rakyat Dayak Ma'anyan. Baru pada penyerangan ketiga yang dipimpin oleh Empu Jatmika yang terjadi antara tahun 1355-1362 M, tepatnya pada masa pemerintahan Raja IV Majapahit bernama Hayam Wuruk yang berkuasa tahun 1350-1389 M, Majapahit akhirnya berhasil menaklukkan Nan Sarunai.
Dalam buku karya Paul Michel Munoz berjudul Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia & Semenanjung Melayu (2009) dijelaskan bahwa Empu Jatmika yang mendirikan Kerajaan Nagara Dipa pada tahun 1387 M merupakan seorang yang berasal dari Majapahit, tepatnya dari Kerajaan Kalingga di Kediri, Jawa Timur. Kerajaan Kalingga merupakan vazal Majapahit.
Setelah penyerangan pertama dan kedua, banyak pasukan Majapahit yang tidak pulang ke Jawa. Mereka kawin dengan etnis Melayu-Sriwijaya dan Dayak Ma'anyan yang merupakan nenek moyang orang-orang Amuntai, Alabio, dan Nagara. Mereka ini juga yang membantu Majapahit di ekspedisi ketiga karena sudah mengetahui medan pertempuran, makanya pasukan Empu Jatmika sukses menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai.
Di Nagara terdapat pemukiman bekas pasukan Majapahit yang merupakan ahli pandai besi, pembuatan kapal, perabot rumah tangga, tembikar, kenong, gamelan, dan gelang. Sebagian pandai besi Nagara hingga kini masih percaya bahwa leluhur mereka berasal dari Majapahit, terutama para empu atau pandai besi yang mengiringi ekspedisi militer itu. Sedangkan sisa-sisa pasukan Kerajaan Nan Sarunai menyebar dan membentuk suku-suku Dayak baru di pedalaman Sungai Barito seperti di Buntok, Puruk Cahu, Tamiang Layang, dan lain-lain.

MENGENAL TANJUNGPURI, KERAJAAN MELAYU-DAYAK DI KALIMANTAN SELATAN

 MENGENAL TANJUNGPURI, KERAJAAN MELAYU-DAYAK DI KALIMANTAN SELATAN

Sekitar abad ke-5 M, berdiri sebuah kerajaan yang terletak di Kalimantan Selatan bernama Tanjungpuri. Bermula berdirinya Kerajaan Tanjungpuri ialah saat kedatangan orang-orang Melayu yang berasal dari Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera antara tahun 400-500 M. Oleh karena kebudayaan pendatang Melayu sudah lebih maju, mereka lalu mendirikan kampung yang lama-kelamaan berubah menjadi sebuah kerajaan kecil.
Para pendatang Melayu tersebut banyak yang melakukan perkawinan dengan penduduk setempat yaitu Suku Dayak Ma'anyan, Dayak Bukit, dan Dayak Ngaju; sehingga Kerajaan Tanjungpuri tersebut penduduknya terdiri dari orang-orang Melayu dan Dayak. Perpaduan kedua suku inilah yang akhirnya menjadi Suku Banjar.
Selama berabad-abad lamanya Kerajaan Tanjungpuri berdiri, penduduknya sangat makmur dan sejahtera. Kemudian pada tahun 1309 M, berdiri kerajaan orang Dayak Ma'anyan yang bernama Kerajaan Nan Sarunai. Kerajaan Tanjungpuri dan Nan Sarunai saling berkeluarga dan berteman dekat, bahkan tidak pernah ada permusuhan di antara kedua kerajaan tersebut. Walaupun kedua kerajaan tersebut berbeda keyakinan, tetapi tetap saling menghormati, menjaga, dan saling membantu. Kerajaan Tanjungpuri kebanyakan pengikut ajaran Buddha, sedangkan Kerajaan Nan Sarunai kebanyakan pengikut ajaran Kaharingan.
Sementara itu sumber lain menyebutkan, Kerajaan Tanjungpuri adalah kerajaan yang sama dengan Kerajaan Nan Sarunai di Kalimantan Selatan. Kemudian kekuasaan yang semula dipegang oleh orang lokal diambil alih oleh dinasti baru bernama Nagara Dipa yang berdarah Majapahit.
Pada masa itu, Kerajaan Majapahit sangat berambisi untuk menguasai Nusantara. Hal itu terjadi karena Maha Patih Gajah Mada telah bersumpah tidak akan menikmati kesenangan duniawi sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kendali Majapahit, sumpah tersebut dikenal dengan sebutan Sumpah Palapa. Oleh para politikus Majapahit, kata menguasai diperhalus menjadi mempersatukan Nusantara. Ada mata-mata Majapahit yang berdalih berdagang ke kotaraja kedua kerajaan tadi, didapatlah informasi bahwa kedua kerajaan tersebut sangat makmur dan istananya berlapis emas. Mendengar hal itu, Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit, begitu berambisi untuk menguasai kedua kerajaan.
Pada tahun 1356 M, Majapahit melakukan serangan pertama kali ke Kerajaan Tanjungpuri. Namun serangan tersebut gagal dikarenakan Kerajaan Tanjungpuri bekerjasama dengan Kerajaan Nan Sarunai. Pada tahun 1358 M, Majapahit menyerang kembali Kerajaan Tanjungpuri dan lagi-lagi mengalami kegagalan. Majapahit akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan peperangan lagi dengan Kerajaan Tanjungpuri.
Setelah beberapa kali terjadi peperangan, Kerajaan Tanjungpuri mengalami banyak kerusakan yang sangat parah, terutama pada infrastruktur kerajaan. Akibat dari banyaknya kerusakan tersebut, akhirnya Kerajaan Tanjungpuri menjadi lemah dan perdagangan menjadi sepi. Setelah kejadian itu, pusat pemerintahan yang semula berada di Tanjung kemudian dipindahkan ke daerah Amuntai dan berubah nama menjadi Kerajaan Kuripan. Kerajaan Kuripan kemudian berubah menjadi Kerajaan Nagara Dipa.
Kerajaan Tanjungpuri mempunyai beberapa orang panglima, antara lain:
1. Panglima Alai, merupakan ahli politik dan strategi.
2. Panglima Tabalong, merupakan seorang yang gagah, kuat, pemberani, dan berjiwa kesatria.
3. Panglima Balangan, merupakan seorang yang sangat tampan, pintar, dan suka mencari ilmu.
4. Panglima Hamandit.
5. Panglima Tapin, merupakan saudara kembar Panglima Hamandit, mereka berdua berwatak keras dan suka berkelahi.
Kelima panglima tersebut merupakan lima orang bersaudara anak dari pasangan Datu Intingan dan Dayang Baiduri. Datu Intingan adalah saudara dari Datu Dayuhan (Kepala Suku Dayak Meratus), sedangkan Dayang Baiduri merupakan putri pendatang Melayu keturunan Sriwijaya.
Kemudian kelima panglima kerajaan masing-masing mendapat tanah kekuasaan di daerah lima aliran sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus. Daerah lima aliran sungai tersebut akhirnya bernama sesuai dengan nama lima Panglima Tanjungpuri. Panglima Alai mendapat wilayah yang bernama Batang Alai (sekarang Kabupaten Hulu Sungai Tengah), Panglima Tabalong mendapat wilayah yang bernama Batang Tabalong (sekarang Kabupaten Tabalong), Panglima Balangan mendapat wilayah yang bernama Batang Balangan (sekarang Kabupaten Balangan), Panglima Hamandit mendapat wilayah yang bernama Batang Hamandit (sekarang Kabupaten Hulu Sungai Selatan), dan Panglima Tapin mendapat wilayah yang bernama Batang Tapin (sekarang Kabupaten Tapin).
Ada kisah menarik antara dua panglima kembar yaitu Panglima Hamandit dan Panglima Tapin, yang mana keduanya sama-sama menghendaki anak Raja Tanjungpuri yang bernama Putri Diyang Bulan, sampai-sampai mereka berdua bertengkar. Namun dikarenakan sama-sama sakti, maka tidak ada yang mampu saling mengalahkan. Akhirnya oleh Putri Diyang Bulan, mereka disuruh beradu baigal (berjoget), ternyata Panglima Tapin lebih hebat berjoget daripada Panglima Hamandit. Oleh karena itu, orang-orang Tapin banyak yang menguasai kesenian Japin Bagandut. Putri Diyang Bulan masih belum mantap hati memilih di antara keduanya. Akhirnya Putri Diyang Bulan kembali menyuruh mereka untuk beradu pantun, ternyata Panglima Hamandit yang lebih hebat, makanya orang-orang daerah Hamandit banyak menguasai bidang sastra.
Karena sama-sama mempunyai kelebihan, Putri Diyang Bulan menjadi semakin bingung sendiri. Karena kebingungan, akhirnya Putri Diyang Bulan memilih kawin dengan Panglima Alai. Oleh sebab itu, orang-orang Hamandit dan Tapin banyak yang tidak suka dengan orang-orang Alai kalau dalam urusan cinta dan perempuan. Panglima Tabalong dan Panglima Balangan yang mengetahui soal cinta segi empat di antara saudaranya tersebut lebih memilih netral, tidak memihak ke mana-mana. Datu Dayuhan dan Datu Intingan yang melihat hal tersebut akhirnya cepat turun tangan berusaha untuk mempersatukan persaudaraan mereka. Oleh karena itu, setiap tahun diadakan upacara Aruh Ganal di daerah pahuluan sana.

Makam Syaikh Malikul Amin. Letak: Desa Pakan Dalam, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan. Salah satu ulama pada masanya, cicit dari Syaikh Umar Jati bin Syaikh Malikun Nazwa.

 Makam Syaikh Malikul Amin.

Letak: Desa Pakan Dalam, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Salah satu ulama pada masanya, cicit dari Syaikh Umar Jati bin Syaikh Malikun Nazwa.

Makam Syaikh Umar Jati bin Syaikh Malikun Nazwa.
Letak: Desa Pakan Dalam, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Siapa sangka di balik semak belukar ini bermakam salah seorang ulama dan waliyullah agung, beliau adalah Syaikh Umar Jati. Menurut riwayat, dahulu beliau merupakan seorang pendakwah dan penyebar Islam pada masa Kerajaan Daha.
Selain itu, beliau juga merupakan murid dari Syaikh Maulana Dzatul Kahfi bin Syaikh Maulana Ahmad bin Maulana Isa. Ketika belajar kepada Syaikh Maulana Dzatul Kahfi, beliau seperguruan dengan Pangeran Walangsungsang (Pendiri Kesultanan Cirebon) dan Nyai Rara Santang (ibunda Sunan Gunung Jati).

Datu Umar & Nini Amas binti Syaikh H. Abu Hasan.

 Makam Datu Umar & Nini Amas binti Syaikh H. Abu Hasan.

Letak: Jalan Hakurung Dalam, Desa Hakurung, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Datu Umar dan Nini Amas adalah pasangan suami-istri yang banyak menurunkan dzuriyat-dzuriyat yang alim, di antara dzuriyat beliau berdua ialah Ayahanda Tuan Guru H. Mahran Yasin (Khalifah Tarekat Junaidiyah), Ayahanda Tuan Guru H. Muhammad Busyairi, Ustadz Muhammad Qurthubi (Guru Muda), dan lain-lain.
Menurut cerita, Datu Umar adalah saudara kandung dari Syarif Husein yang merupakan Amir Makkah pada era Kekhalifahan Utsmaniyah. Datu Umar dikabarkan meninggalkan Makkah untuk menyelamatkan diri dari pemberontakan Wahabi di Hijaz. Adapun Syarif Husein memilih Yordania sebagai tempat bermukim hingga akhir hayatnya. Hingga hari ini, anak cucu keturunan Syarif Husein menjadi penguasa di Yordania dan Irak.

Andin Mukhtar bin Andin Murad (Datu Utar).

 Makam Andin Mukhtar bin Andin Murad (Datu Utar).

Letak: Jalan Hakurung Dalam, Desa Hakurung, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Salah satu peninggalan beliau ialah Kitab Syarabul 'Asyiqin karya Syaikh Hamzah Fansuri.

Syaikh H. Muhammad Ja'far bin H. Abdussamad An Naqari. Letak: Desa Paramaian, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.

 Makam Syaikh H. Muhammad Ja'far bin H. Abdussamad An Naqari.

Letak: Desa Paramaian, Kecamatan Daha Utara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Syaikh H. Muhammad Ja'far bin H. Abdussamad bin Yahya bin Ismail (+ Galuh Nuriah) An Naqari merupakan salah satu ulama besar di Nagara pada masanya, beliau lama menuntut ilmu di Makkah Al Mukarramah, salah satu guru beliau yaitu Syaikh Muhammad Ali bin Husain Al Maliki.
Di dalam salah satu manaqib disebutkan bahwa beliau memiliki anak yang beliau nikahkan dengan Tuan Guru H. Halil Nagara. Diperkirakan beliau meninggal pada tahun 1950 M, dan di antara murid beliau yaitu Tuan Guru H. Mahfuzh Amin Pamangkih. Tuan Guru H. Muhammad Bakhiet pernah berkata: Kalau ingin melihat guru yang alim, maka lihatlah murid-muridnya.
Area makam beliau biasa disebut Alkah Sungkul Kanas, terletak tidak jauh dari Langgar Al Falah di Desa Paramaian. Di belakang langgar tersebut masih ada salah satu cucu beliau, kami memanggilnya Acil Dijah. Kata Acil Dijah, saking berwibawanya Syaikh H. Muhammad Ja'far, ketika beliau lewat, tidak akan ada orang yang berbuat sia-sia, mereka malu kalau beliau tahu dan melihatnya.
Pagar makam beliau dikelilingi dengan ukiran kalimat-kalimat berbahasa Arab, yaitu:
١. لا إله إلا الله محمد رسول الله.
٢. لا إله إلا الله جل ثناءه # لا إله إلا الله تعالى كبرياءه.
٣. لا إله إلا الله الملك الحق المبين # محمد رسول الله صادق الوعد الأمين.
٤. لا إله إلا الله جل جلاله # حم عسق # كهيعص.
𝗦𝗘𝗟𝗔𝗜𝗡 𝗨𝗟𝗔𝗠𝗔, 𝗕𝗘𝗟𝗜𝗔𝗨 𝗝𝗨𝗚𝗔 𝗦𝗘𝗢𝗥𝗔𝗡𝗚 𝗣𝗘𝗝𝗨𝗔𝗡𝗚
Pada Oktober 1945 M, atas prakarsa Panitia Persiapan Republik Indonesia Merdeka (PPRIM) yang diketua oleh Umar Rasyid, maka dilakukanlah pengibaran bendera Merah Putih dan nyanyian lagu Indonesia Raya di halaman kantor Kiyai Wedana Muhammad Yusran yang diikuti tidak kurang dari 40 orang. Inilah tonggak awal pengambil-alihan sementara pemerintahan di Nagara sepeninggal Jepang dan ketika itu Belanda belum datang ke Nagara. Barulah beberapa bulan kemudian, Belanda mulai memasuki Nagara. Walaupun suasana politik cukup panas, namun Nagara relatif tenang sampai tahun 1947 M. Tentara Belanda yang sudah masuk ke Nagara belum menyulut konflik dengan masyarakat kecuali hanya insiden-insiden kecil.
Meskipun demikian, Belanda tetap mewaspadai daerah Nagara sebagai daerah potensial yang berbahaya. Hal ini karena beberapa pertimbangan. Masyarakat Nagara terkenal agamis dan banyak terdapat ulama, bahkan di masa lalu Nagara merupakan sentral tempat orang belajar agama, terutama dari daerah-daerah Hulu Sungai atau Banua Lima, sehingga ada ungkapan: Belum dikatakan seorang itu alim apabila belum menuntut ilmu ke Nagara.
Dari pengalaman Belanda, di setiap daerah yang agamis dan banyak ulamanya, pasti gigih perlawanannya terhadap penjajah, sepeti di Aceh, Sumatra Barat, Banten, Jawa Timur, Makassar, dan lain-lain.
Masyarakat Nagara saat itu relatif sejahtera kehidupan perekonomiannya karena majunya industri kecil dan rumah tangga, terutama kerajinan besi serta perdagangan. Belanda mencurigai masyarakat Nagara akan menyuplai logistik dan persenjataan ke daerah-daerah lain, terutama lewat sungai yang saat itu merupakan prasarana transportasi utama.
Untuk mengantisipasi ancaman ini, maka pada akhir tahun 1948 M, Residen Belanda di Banjarmasin, AG Deelman, mengirim seorang tokoh diplomasi Belanda bernama Van der Plaas ke Nagara. Ia datang menjumpai seorang ulama besar Nagara saat itu, Syaikh H. Muhammad Ja'far.
Ia mendarat di Kampung Pakan Dalam (Paramaian sekarang) dan speed boat yang ditumpanginya ditambatkan di sungai depan rumah Syaikh H. Muhammad Ja'far. Bersamanya ikut empat orang pejabat Belanda, termasuk H. Abdul Ghani dan Kiyai Wedana Muhammad Yusran. Van der Plaas yang konon lama belajar agama Islam di Makkah bercakap-cakap dengan Syaikh H. Muhammad Ja'far menggunakan bahasa Arab.
Permintaannya agar dengan kharismanya, Syaikh H. Muhammad Ja'far dapat menjinakkan rakyat Nagara dan sekitarnya. Tegasnya agar jangan sampai rakyat dan pejuang angkat senjata melawan Belanda. Sebagai imbalan, ulama besar ini akan diberi jabatan Qadhi Besar di Kalimantan Selatan, menjadi Ketua Jam'iyah Islamiyah Kalimantan Selatan bentukan Belanda, mendapat gaji besar dan mobil mewah merk Dodge yang saat itu hanya dimiliki oleh dua orang di Kalimantan Selatan, yaitu Gubernur Belanda dan H. Umar Lampihong.
Syaikh H. Muhammad Ja'far menolak dengan halus permintaan tersebut, alasan beliau ialah karena dirinya sudah tua, sudah dekat dengan kematian, dan tidak berambisi menduduki jabatan-jabatan prestisius atau mengejar harta berlimpah. Soal perjuangan diserahkan kepada kemauan rakyat saja. Padahal sebenarnya beliau anti penjajahan dan putra beliau H. Muhammad Sakya di Hijaz Arab Saudi menjadi anggota Komite Kemerdekaan Indonesia yang selalu mendorong agar perjuangan terus dikobarkan. Tidak itu saja, hampir setiap hari terutama malam hari berdatangan para pemuda pejuang di Banua Lima minta dimandikan oleh beliau supaya lebih memiliki kekuatan untuk berjuang melawan Belanda.
Menghadapi jawaban tersebut, Van der Plaas pulang dengan tangan hampa dan mencoba melakukan pendekatan-pendekatan di daerah lainnya. Konon menjelang akhir hayatnya, Van der Plaas masuk Islam karena ilmu agama yang dimilikinya dan kesadaran bahwa penjajahan yang dilakukan oleh bangsanya tidak dapat dibenarkan bahkan jika dipandang dari sudut mana pun.
Setelah pertempuran Palagan Nagara 2 Januari 1949 M, pasukan Belanda yang bertambah banyak mengamuk, menangkapi sejumlah orang yang dianggap berbahaya, sampai-sampai membuka jendela rumah saja akan mereka tembak. Pasukan Belanda melakukan penyisiran ke seluruh kampung, kecuali Kampung Pakan Dalam tidak mereka obrak-abrik, konon karena sudah dihalat oleh Syaikh H. Muhammad Ja'far.