Kamis, Oktober 22, 2026

KERAJAAN JATUH ALAI & GELAR ANDIN RAMA DI HULU SUNGAI

 KERAJAAN JATUH ALAI & GELAR ANDIN RAMA DI HULU SUNGAI

Kerajaan Jatuh Alai memang tidak begitu dikenal, bahkan mungkin oleh penduduk Alai sendiri. Namun laporan mengenai keberadaannya berjejeran dalam buku-buku yang terbit di Negeri Eropa. Kerajaan Jatuh Alai dilaporkan menguasai seluruh wilayah dan sungai-sungai yang bermuara di Danau Bangkau di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Pangeran Tumenggung yang pernah menjadi Raja Terakhir Kerajaan Nagara Daha menyingkir ke wilayah Alai dan berhasil mempertahankan wilayah tersebut dari serangan pasukan Pangeran Samudera dan pasukan Kesultanan Demak, beliau dan keturunannya kemudian memerintah wilayah Alai dan Amandit sebagai penerus Kerajaan Nagara Daha yang kemudian lebih dikenal sebagai Kerajaan Jatuh Alai. Dengan demikian, Kerajaan Jatuh Alai bisa dikatakan perpanjangan kekuasaan dinasti Maharaja Sukarama. Kerajaan Jatuh Alai dikabarkan masih eksis hingga awal tahun 1700 an.
Dalam Hikayat, Kerajaan Jatuh Alai disebut juga sebagai kelompok raja yang kalah yang menguasai wilayah pahuluan. Dalam buku Sistem Kesatuan Hidup Setempat Daerah Kalimantan Selatan terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta tahun 1983 M disebutkan bahwa gelar Pangeran, Andin, dan Rama merupakan gelar bagi keturunan raja yang kalah. Dalam tradisi keluarga keturunan Andin di wilayah Hulu Sungai, Rama adalah gelar bagi seorang Andin yang dihormati dan berpengaruh.
Istilah raja yang kalah adalah persepsi yang dibangun oleh hikayat-hikayat yang diproduksi Kesultanan Banjar untuk melegitimasi kemenangan mereka dalam peperangan dengan Kerajaan Nagara Daha. Pada halaman 52 dalam buku Voyagie Gedaan Door Jacob Janssen De Roy Na Borneo En Atchin In 'T Jaar 1691 En Vervolgens Op Ordre Van Den Hoogh Edelen Heer Willem Van Outhoorn, Kerajaan Jatuh Alai dilaporkan oleh De Roy tahun 1690 M yang telah melakukan perjalanan ke wilayah Alai dan menghadap langsung Raja Kerajaan Jatuh. Laporan De Roy sendiri terbit pertama kali pada tahun 1700 M, menjadikannya sebagai laporan paling klasik dari Barat mengenai wilayah pedalaman selatan Pulau Kalimantan yang bisa menjadi bahan komparasi dan koreksi secara kritis atas informasi-informasi yang ada pada Hikayat Banjar.
Andin dan Rama di daerah Hulu Sungai merupakan bangsawan tinggi dan utama yang mempunyai hak istimewa untuk menduduki jabatan-jabatan pemerintahan seperti pambakal, lurah, demang, hingga tumenggung. Sampai hari ini, sebagian keluarga Andin dan Rama masih memegang atau melaksanakan adat istiadat serta kebiasaan Kerajaan Nagara Daha seperti memberikan kuncir dan melaksanakan upacara badudus bagi anak-anak mereka.
Hilangnya Kerajaan Jatuh Alai juga menjadi misteri tersendiri, nama Kerajaan Jatuh sebenarnya disematkan pertama kali oleh Francois Valentyn dalam buku Oud En Nieuw Oost-Indie yang terbit tahun 1726 M. Pendiri Kerajaan Jatuh Alai yang juga Raja Terakhir Kerajaan Nagara Daha yaitu Pangeran Tumenggung yang berkuasa di Alai sebenarnya juga tidak terbantahkan karena informasi tertulis seperti dalam Hikayat Banjar dan berbagai kronik lama yang didokumentasikan oleh Belanda dan Perancis selama tahun 1800 M memang menyebutkan hal yang sama, dan hal tersebut terkonfirmasi dalam tradisi keluarga Andin Rama yang tetap mempertahankan prinsip dan tutur mereka yang membela Pangeran Tumenggung. Selain itu, ada juga tokoh yang bernama Gusti Tumenggung atau Tumenggung Gusti yang keratonnya berada di Banua Asam Palajau dan berkuasa di Alai pada tahun 1690 M seperti yang dilaporkan oleh De Roy. Juga ada nama seorang tokoh penting lainnya yang disebut pemimpin utama Alai pada masa-masa sebelum dan sesudah dihapuskannya Kesultanan Banjar tahun 1859 M yang bernama Ahmad Jangol Wira Negara di Palajau.
Pada tahun 1865 M, Alai dibagi menjadi dua distrik yaitu Distrik Labuan Amas dan Distrik Batang Alai, masing-masing dipimpin oleh tokoh-tokoh penting selama perang Hulu Sungai tahun 1859-1861 M. Distrik Labuan Amas diserahkan kepada Jang Rasmi yang kemudian bergelar Tumenggung Karta Yuda Negara dan Distrik Batang Alai diserahkan kepada Tumenggung Yudha Karsa. Setelah beberapa tahun kemudian, Distrik Batang Alai dipimpin oleh Kiyai Demang Yudha Negara. Dan masih banyak lagi tokoh-tokoh penting yang masih diingat keluarga-keluarga Andin (baca Tichelman G.L 'Een Gezaghebber-Resident yang terbit tahun 1939 M).
Laporan lain juga menyebutkan mengenai Orang Sepuluh atau Sepuluh Pambakal dari Alai yang membantu sultan dalam menghadapi pemberontakan Pangeran Surya dan Pangeran Ahmad yang dibantu pasukan Bugis dari wilayah Pasir pada pertengahan tahun 1700 M (baca Kroniek Der Zuider En Oosterafdeeling Van Borneo yang terbit tahun 1936 M).