Makam Datu H. Abul Hasan bin Datu Sudin.
Letak: Desa Durian Rabung, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Di Desa Durian Rabung tersimpan kisah perjuangan seorang tokoh lokal yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda pada masa Perang Banjar di abad ke-19 M.
Sosok itu adalah Datu H. Abul Hasan. Beliau berjuang bersama saudara iparnya yaitu Datu Surgi Muhammad Syahid, suami dari adiknya yang bernama Diyang Kabun. Selain itu, Datu H. Abul Hasan juga dibantu oleh Panglima Dambung, Datu Dulahmat, Datu Cancangan, dan sembilan orang pejuang lainnya. Mereka menghadang penjajah Belanda yang datang memasuki wilayah Kalimantan dari Desa Durian Rabung.
Para pejuang berbekal senjata tradisional seperti parang dan tombak. Uniknya, senjata milik para datu tersebut konon bertuliskan lafazh Arab seperti tahlil, syahadat, dan takbir. Masyarakat kala itu menyebut para pejuang memiliki kesaktian, termasuk kekebalan tubuh.
Dalam perjuangannya, Datu H. Abul Hasan bahkan dikisahkan pernah tertembak. Namun beliau segera pulih dan kembali bertempur.
Pada saat melakukan serangan ke Kuin, mereka beberapa kali berhasil mengusir pasukan Belanda meskipun Belanda datang kembali dengan pasukan yang lebih besar. Akhirnya para datu memutuskan kembali ke Hulu Sungai tepatnya ke Benteng Madang.
Dalam pertempuran di Benteng Madang, Datu Syahid dipercaya sebagai Panglima Perang dan Datu H. Abul Hasan menjadi wakilnya. Pertempuran sengit pun terjadi, Datu Syahid terkena tembakan meriam Belanda dan dibawa ke Padang Batung oleh Datu H. Abul Hasan.
Tidak lama kemudian, Datu Syahid wafat dan perlawanan rakyat melemah. Benteng Madang akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Setelah itu tidak diketahui siapa yang melanjutkan perjuangan merebut kembali Benteng Madang.
Mengenai wafatnya Datu H. Abul Hasan tidak tercatat dengan jelas, namun beliau meninggalkan beberapa orang anak, di antaranya Datu Campa dan Datu Pancau yang dikenal sebagai ulama kharismatik pada zamannya. Hingga kini, sebagian besar penduduk Desa Durian Rabung merupakan keturunan Datu H. Abul Hasan.
Untuk mengenang jasa beliau, pada tahun 1990 an, nama Datu H. Abul Hasan diabadikan menjadi Yayasan Abul Hasan yang menaungi Madrasah Ibtida'iyah, Taman Pendidikan Al Qur'an, dan Madrasah Aliyah.
Kemudian pada tahun 2021 M, nama beliau kembali digunakan untuk Ruang Terbuka Hijau dan Taman Bermain Datu Abul Hasan di Desa Padang Batung yang diresmikan oleh Bupati H. Ahmad Fikri.
Al Fatihah...