TUMENGGUNG ANTALUDDIN, PANGLIMA PERANG BANJAR YANG GAGAH BERANI
Pada tanggal 28 April 1860 M, gelar Tumenggung diberikan kepada Antaluddin. Pemberian gelar itu bukan tanpa alasan, beliau adalah orang yang menguasai wilayah Kandangan dan sekitarnya serta memiliki banyak pengikut. Beliau dikenal kebal dan pemberani serta memiliki pengetahuan perang yang mumpuni.
Tumenggung Antaluddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana merupakan salah seorang Panglima Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang, sekarang masuk dalam Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Pada masa itu, Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, dan pasukan Tumenggung Antaluddin berkumpul di sekitar benteng itu pada bulan September 1860 M.
Setelah Pangeran Antasari meninggal dunia karena sakit pada 11 Oktober 1862 M, kekuatan pasukan Banjar di daerah Banua Lima mulai menurun. Perjuangan masih diteruskan di pedalaman Barito dan nama Tumenggung Antaluddin pun tidak lagi terdengar.
• Pertempuran Gunung Madang, 3 September 1860 M
Persiapan benteng pertahanan di Gunung Madang diketahui oleh Belanda sehingga datanglah serangan pasukan Belanda secara mendadak pada 3 September 1860 M, sementara benteng belum selesai dibangun. Serdadu Belanda menyusuri Kampung Karang Jawa dan Ambarai dan langsung menuju Gunung Madang. Serdadu Belanda terkejut, ketika baru mendekati bukit itu, ada serangan mendadak yang menyebabkan beberapa serdadu mereka tewas. Sekali lagi serdadu Belanda mendekati bukit, namun sebelum sampai, serangan kembali menyambut mereka sehingga mereka mundur kembali ke Benteng Amawang.
• Pertempuran Gunung Madang, 4 September 1860 M
Keesokan harinya tanggal 4 September 1860 M, pasukan Infanteri dari Batalyon Ke-13 melakukan serangan kedua. Serdadu Belanda ini dilengkapi dengan mortir dan puluhan orang perantaian untuk membawa perlengkapan perang dan dijadikan umpan dalam pertempuran. Serdadu Belanda melemparkan 3 granat namun tidak berbunyi, dan disambut dengan tembakan dari dalam Benteng Gunung Madang. Di dalam Benteng Gunung Madang terdapat pula beberapa orang perantaian yang lari memihak pasukan Pangeran Hidayatullah ketika terjadi pertempuran di Pantai Hambawang sebelumnya. Ketika Letnan De Brauw dan Sersan De Vries menaiki kaki Gunung Madang, mereka hanya diikuti serdadu bangsa Eropa sedangkan serdadu bangsa bumiputera (pribumi) membangkang tidak ikut bertempur. Letnan De Brauw kena tembak di pahanya, dan 9 orang serdadu Eropa terkapar kena tembak dari arah dalam benteng. Setelah Letnan De Brauw kena tembak, serdadu Belanda mundur dan kembali ke Benteng Amawang. Serangan ketiga dilakukan beberapa hari kemudian setelah Belanda memperoleh bantuan dari Banjarmasin dan Amuntai.
• Pertempuran Gunung Madang, 13 September 1860 M
Pada tanggal 13 September 1860 M, Belanda melakukan kembali serangannya terhadap Benteng Gunung Madang. Serangan ini dipimpin oleh Kapten Koch dengan perlengkapan meriam dan mortir. Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin mempersiapkan pasukan dan menunggu serangan Belanda, sedangkan Pangeran Hidayatullah mengatur strategi untuk menghadapinya. Pertempuran ini terjadi dalam jarak dekat, Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin dengan gagah berani menghadapinya. Ketika bunyi senapan dan meriam bergema, tiba-tiba roda meriamnya hancur kena tembakan. Kapten Koch mempertimbangkan untuk mundur kembali ke Benteng Amawang. Kegagalan serangan Kapten Koch ini tersebar sampai ke Banjarmasin, sehingga Gustave Marie Verspyck memerintahkan Mayor Schuak menyiapkan pasukan Infanteri dari Batalyon Ke-13 yang terdiri dari 91 opsir bangsa Eropa.
• Pertempuran Gunung Madang, 18 September 1860 M
Pada tanggal 18 September 1860 M, Mayor Schuak membawa pasukan dengan dibantu Kapten Koch menyerang Gunung Madang. Belanda membawa sebuah howitzer, sebuah meriam berat dan mortir. Menjelang pukul 11.00 siang, Demang Lehman mulai menyambut serdadu Belanda dengan tembakan. Gustave Marie Verspyck yang berani mendekati benteng dengan pasukannya kena tembak oleh anak buah Tumenggung Antaluddin. Selanjutnya Kapten Koch memerintahkan memajukan meriam, peluru mengenai serdadu pembawa meriam itu dan membuatnya jatuh terguling. Setelah pasukan meriam gagal, dilanjutkan dengan pasukan Infanteri yang mendapat giliran maju. Kapten Koch yang memimpin pasukan Infanteri kena tembak di dadanya dan jatuh tersungkur. Dengan tewasnya Kapten Koch tersebut, serdadu Belanda menjadi bingung dan kehilangan komando. Mereka bergegas menggotong mayat Kapten Koch dan berlari meninggalkan medan pertempuran kembali ke Benteng Amawang. Setelah serangan keempat ini gagal, Belanda mempersiapkan kembali untuk penyerangan yang kelima. Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin juga mempersiapkan siasat untuk menghadapi serangan yang lebih besar. Demang Lehman mendapat bantuan dari Kiyai Cakrawati, pejuang wanita yang selalu menunggang kuda yang berasal dari daerah Gunung Pamaton (Distrik Riam Kanan).
• Pertempuran Gunung Madang, 22 September 1860 M
Serangan kelima terjadi pada tanggal 22 September 1860 M. Belanda mempersiapkan dengan teliti, belajar dari kegagalan empat kali penyerangan sebelumnya. Belanda mempersiapkan mendirikan bivak-bivak dan perlindungan pasukan penembak meriam dengan sistem pengepungan Benteng Gunung Madang. Pertempuran baru terjadi keesokan harinya dengan tembakan meriam dan lemparan granat. Pada pagi hari itu pertempuran tidak terlalu sengit, barulah ketika menjelang pukul 11.00 malam hari, tiba-tiba Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin melakukan serangan besar-besaran dengan meriam dan senapan. Tembakan itu terus-menerus bersahutan sampai menjelang subuh. Karena serangan yang gencar itu, Belanda kehilangan komando di tengah malam yang gelap gulita. Situasi ini dimanfaatkan Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin beserta pasukannya untuk keluar dari benteng, selanjutnya mereka berpencar. Kiyai Cakrawati, seorang pejuang wanita meneruskan perjalanan ke Gunung Pamaton yang kemudian terlibat dalam pertempuran di Gunung Pamaton. Ketika memasuki benteng, alangkah kecewanya Belanda mendapati benteng sudah kosong, hanya ditemukan satu orang mayat yang ditinggalkan.