BENTENG GUNUNG MADANG
Perang Banjar dimulai pada tahun 1859 M. Atas saran dari Pangeran Antasari, Pangeran Hidayat, dan Demang Lehman, Tumenggung Antaluddin menyusun kekuatan dan pertahanan di daerah pahuluan dengan mendirikan benteng di Gunung Madang sekitar bulan Agustus 1860 M.
Benteng Gunung Madang dibangun dengan menggunakan tujuh lapis batang kayu Madang yang terdapat di sekitar tempat itu. Luas bangunannya sekitar 400 meter persegi, berbentuk bundar dan bertingkat dua. Tingkat atas digunakan sebagai tempat pengintaian sekaligus tempat pasukan bersenjata api, termasuk tiga pucuk meriam lila.
Pada pinggir puncak bagian selatan dan utara bersusun batu-batu besar, tempat pertahanan yang juga dipersenjatai dengan tiga pucuk meriam lila.
Di bagian barat atau belakang benteng terdapat hutan bambu yang cukup lebat, sementara di bagian timur merupakan jalan menuju benteng. Jalan itu sengaja dibersihkan dari pepohonan dan semak-semak, sebab di depan pintu benteng ada tumpukan kayu-kayu gelondongan yang dapat digulingkan jika serdadu Belanda mencoba naik.
Alat pertahanan lainnya adalah berupa jembatan-jembatan palsu, terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Jika diinjak, jembatan akan berguling. Orang yang tidak waspada akan kehilangan keseimbangan, tercebur ke sungai dan disambut oleh jebakan sungga, yaitu batangan besi runcing yang tersimpan di bawah permukaan air.
Pada beberapa bagian pinggiran sungai juga terpasang sungga, menahan orang yang menyeberang dengan berenang atau naik perahu. Di bentangan padang ilalang terdapat juga lubang-lubang jebakan yang di dalamnya berisi sungga. Selain itu, ada juga jalan rahasia bawah tanah, jalan yang menjadi akses keluar-masuk pasukan penyergap.
Dari Benteng Madang itulah dikirim kelompok-kelompok laskar untuk melakukan penyergapan terhadap pasukan Belanda, terutama terhadap pasukan patroli. Penyergapan-penyergapan yang memakan banyak korban membuat Belanda tidak bisa meremehkan pasukan Antaluddin.
Pada 3 September sampai 22 September 1860 M, Benteng Gunung Madang mendapat lima kali serangan dari pasukan Belanda namun kelimanya berhasil dipatahkan. Benteng Gunung Madang tidak pernah tertembus Belanda selama di bawah pimpinan Tumenggung Antaluddin.
Benteng Gunung Madang terletak di Desa Madang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.