Kamis, Oktober 22, 2026

HANTASAN RAJA BAGALUNG

 HANTASAN RAJA BAGALUNG

Pangeran Bagalung bin Maharaja Sukarama memiliki nama kecil Raden Bali. Menurut riwayat, pasca Pangeran Mangkubumi naik takhta menjadi Raja Daha, Pangeran Bagalung meninggalkan pusat kerajaan di Nagara. Beliau kemudian menetap di Kampung Berangas dan menjabat sebagai Adipati di sana.
Saban hari Sabtu, Pangeran Bagalung menghadap Maharaja Mangkubumi di Keraton Nagara Daha. Tidak berapa lama setelah menghadap yang terakhir, beliau jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Pangeran Bagalung meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Raden Harja dan seorang anak perempuan bernama Raden Lamarsari. Setelah wafatnya beliau, Raden Lamarsari menetap di Muara Bahan. Di kemudian hari, anak cucunya ini menurunkan para priayi di Muara Rampiau dan di Muara Bahan.
Menurut Andin Kamal Pasha, Rama Andin yang menetap di Tapin secara umum atau Lawahan secara khusus diperkirakan asal-usul leluhurnya hampir keseluruhan berasal dari wilayah Marampiau, Pabaungan, Muhara Muning, Sungai Rutas, Margasari dan sekitarnya. Leluhur mereka rata-rata bergelar Rama yang menandakan memiliki silsilah lurus dari laki-laki.
Secara metafisika sejak dahulu sampai sekarang, beberapa anak cucu keturunan Rama Andin, baik yang tinggal di Kampung Lawahan ataupun kampung lainnya, sering melihat penampakan ruhaniyah dari Pangeran Bagalung. Beliau terlihat berjubah putih penuh wibawa, rambut disanggul, memakai pedang di pinggang serta menaiki kuda putih dengan bunyi gemerincing berpadu irama tapak kaki kuda.
Sehingga sebagian besar anak cucu Rama Andin di wilayah Tapin meyakini kalau mereka berasal dari keturunan Pangeran Bagalung. Bahkan di Kampung Lawahan ada satu jalan kecil diberi nama Hantasan Raja Bagalung, karena beliau selalu lewat di jalan itu.
Menurut keterangan dari mereka yang pernah melihat penampakan ruhaniyah Pangeran Bagalung, arah pulang beliau selalu ke arah Barat, kalau dari Lawahan ke arah Margasari.

Sumber : Ahmad Khatib.