Makam H. Sarkawi bin Kiyai Ahmad Dahlan (Gubernur Pertama Kalimantan Selatan).
Letak: Alkah Muslimin, Jalan Keramat Manjang, Kelurahan Barabai Utara, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
H. Sarkawi tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Banua. Beliau bukan sekadar birokrat, melainkan tokoh sentral di balik lahirnya Provinsi Kalimantan Selatan setelah dimekarkan dari Provinsi Kalimantan pada tahun 1957 M. Selain itu, beliau juga dikenang sebagai Bapak Pemuda karena dedikasinya menyatukan organisasi kepemudaan di masa-masa awal kemerdekaan.
Lahir di Barabai pada 15 Desember 1907 M, H. Sarkawi berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Kiyai Ahmad Dahlan, merupakan Jaksa di Amuntai dan pernah menjabat Kiyai di Kotabaru. Garis kepemimpinan itu mengalir dari kakeknya yaitu Kiyai Demang Yudha Negara atau Andin Dirja bin Kiyai Syahabuddin bin Kiyai Martapati.
Pendidikan H. Sarkawi tergolong mentereng di zamannya. Setelah lulus dari HIS, beliau merantau ke Banjarmasin untuk bersekolah di MULO, dan berlanjut ke sekolah pamong praja OSVIA di Makassar.
Momen paling bersejarah terjadi pada 9 Januari 1957 M. Bertempat di Banjarmasin, dilakukan serah-terima jabatan dari Gubernur Kalimantan, R.T.A. Milono, kepada H. Sarkawi sebagai Penjabat Gubernur Kalimantan Selatan. Statusnya kemudian diperkuat melalui SK Presiden RI Nomor 504/M Tahun 1957 pada bulan September di tahun yang sama. Sebelum menjadi Gubernur, beliau pernah menjabat sebagai Kiyai di Batu Mandi.
Tepat pada 17 Agustus 1957 M, bersama Panglima Teritorial VI Tanjungpura, Kusno Utomo, H. Sarkawi memancangkan tiang pertama pembangunan Gedung Pemuda di Banjarmasin. Dua tahun kemudian, gedung tersebut diresmikan sebagai pusat pergerakan pemuda Banua.
Di sektor infrastruktur, H. Sarkawi adalah pemprakarsa pembangunan Jembatan 9 November (dulu dikenal sebagai Jembatan Empat Zaman) yang menghubungkan Pasar Lama dengan Seberang Masjid. Proses pembangunannya penuh perjuangan. Meski sempat terkendala dana dari pusat yang hanya cair 7,5 juta dari usulan 17,5 juta, H. Sarkawi tidak menyerah. Beliau melakukan lobi tambahan biaya hingga akhirnya jembatan tersebut rampung pada tahun 1961 M.
Tidak hanya soal infrastruktur, H. Sarkawi juga sangat peduli pada ketahanan pangan. Beliau sempat menginisiasi perkebunan ubi kayu di Tambang Ulang dan membangun pabrik tapioka di Binuang. Di bidang sosial, beliau menjadi Penasihat Konferensi Kebudayaan Banjarmasin dan memimpin Musyawarah Kerakatan Kalimantan Selatan.
H. Sarkawi wafat di Banjarmasin pada hari Rabu tanggal 2 Rajab 1388 H bertepatan dengan 25 September 1968 M dalam usia kurang lebih 61 tahun, jenazah beliau kemudian dibawa ke Barabai dan dimakamkan di Alkah Muslimin Manjang.