Kamis, Oktober 22, 2026

EKSPEDISI MILITER MAJAPAHIT KE NAN SARUNAI & KAITANNYA DENGAN ASAL-USUL PANDAI BESI NAGARA

 EKSPEDISI MILITER MAJAPAHIT KE NAN SARUNAI & KAITANNYA DENGAN ASAL-USUL PANDAI BESI NAGARA

Syair Nan Sarunai Usak Jawa adalah sastra lisan dalam bahasa Dayak Ma'anyan yang mengisahkan Kerajaan Nan Sarunai telah dirusak oleh Jawa (Majapahit). Bait-bait yang berisi sejarah leluhur ini menjadi pegangan sejumlah sejarawan dalam menafsirkan ekspedisi militer yang dilancarkan Kerajaan Majapahit, termasuk sejarawan Dayak yang juga dosen senior Sekolah Tinggi Teologi GKE Banjarmasin, Fridolin Ukur.
Beliau meyakini Kerajaan Nan Sarunai merupakan pemerintahan monarki yang mempersatukan Dayak Ma'anyan di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, yang berpusat di Kabupaten Tabalong. Menurutnya, Kerajaan Nan Sarunai berdiri pada tahun 1309 M saat Raden Japutra Layar dinobatkan menjadi raja. Kerajaan Nan Sarunai kemudian lenyap setelah ditaklukkan armada perang yang dikirim Majapahit dalam beberapa kali ekspedisi.
Menurut peneliti sejarah dari FISIP Universitas Lambung Mangkurat, Apriansyah, setidaknya ada tiga ekspedisi militer yang dilakukan Majapahit. Penyerangan pertama terjadi pada tahun 1309 M atau beberapa tahun setelahnya pada masa pemerintahan Raja II Majapahit bernama Jayanagara yang berkuasa tahun 1309-1328 M. Dengan kekuatan 40 ribu pasukan, Majapahit menyerang Kerajaan Nan Sarunai. Namun penyerangan pertama mengalami kegagalan.
Setelah penyerangan pertama ini gagal, Kerajaan Majapahit nampaknya belum puas dengan hasil itu. Pada masa pemerintahan Raja III Majapahit bernama Tribhuwana Wijaya Tungga Dewi yang berkuasa tahun 1328-1350 M, lewat Maha Patih Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa, Majapahit kembali menyerang Nan Sarunai antara tahun 1339-1341 M. Serangan kedua ini juga berhasil dihalau oleh Nan Sarunai karena mendapat perlawanan hebat dari rakyat Dayak Ma'anyan. Baru pada penyerangan ketiga yang dipimpin oleh Empu Jatmika yang terjadi antara tahun 1355-1362 M, tepatnya pada masa pemerintahan Raja IV Majapahit bernama Hayam Wuruk yang berkuasa tahun 1350-1389 M, Majapahit akhirnya berhasil menaklukkan Nan Sarunai.
Dalam buku karya Paul Michel Munoz berjudul Kerajaan-Kerajaan Awal Kepulauan Indonesia & Semenanjung Melayu (2009) dijelaskan bahwa Empu Jatmika yang mendirikan Kerajaan Nagara Dipa pada tahun 1387 M merupakan seorang yang berasal dari Majapahit, tepatnya dari Kerajaan Kalingga di Kediri, Jawa Timur. Kerajaan Kalingga merupakan vazal Majapahit.
Setelah penyerangan pertama dan kedua, banyak pasukan Majapahit yang tidak pulang ke Jawa. Mereka kawin dengan etnis Melayu-Sriwijaya dan Dayak Ma'anyan yang merupakan nenek moyang orang-orang Amuntai, Alabio, dan Nagara. Mereka ini juga yang membantu Majapahit di ekspedisi ketiga karena sudah mengetahui medan pertempuran, makanya pasukan Empu Jatmika sukses menaklukkan Kerajaan Nan Sarunai.
Di Nagara terdapat pemukiman bekas pasukan Majapahit yang merupakan ahli pandai besi, pembuatan kapal, perabot rumah tangga, tembikar, kenong, gamelan, dan gelang. Sebagian pandai besi Nagara hingga kini masih percaya bahwa leluhur mereka berasal dari Majapahit, terutama para empu atau pandai besi yang mengiringi ekspedisi militer itu. Sedangkan sisa-sisa pasukan Kerajaan Nan Sarunai menyebar dan membentuk suku-suku Dayak baru di pedalaman Sungai Barito seperti di Buntok, Puruk Cahu, Tamiang Layang, dan lain-lain.