Kamis, Oktober 22, 2026

 Makam H. Imansyah bin Al 'Alimul Fadhil Muhammad Shalih Al Banjari.

Letak: Jalan Tri Kesuma Dalam RT. 02/RW. 01, Kampung Qadhi, Kelurahan Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
Beliau adalah orangtua dari Tuan Guru H. Qusyairin Imansyah atau Guru Mandin Kotabaru.
• H. Imansyah bin Al 'Alimul Fadhil Muhammad Shalih bin Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Arsyad bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman bin Mufti H. Abdul Jalil bin Khalifah H. Syihabuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
• H. Imansyah bin Al 'Alimul Fadhil Muhammad Shalih bin Ruqaiyah binti Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Arif bin H. Abdullah bin Kiyai Ahmad Dipasanta.
Al Fatihah...

HABIB MUHAMMAD BIN IBRAHIM AL HABSYI

 HABIB MUHAMMAD BIN IBRAHIM AL HABSYI

Habib Muhammad lahir di Seiwun, Hadhramaut, Yaman pada tahun 1311 H atau 1893 M. Beliau pertama kali datang ke Indonesia bersama ayahnya yang bernama Habib Ibrahim Al Habsyi, tidak diketahui dengan pasti kapan beliau datang ke Barabai. Beliau seorang Hafizh Al Qur’an yang juga alim dalam berbagai bidang ilmu agama serta taat dalam beribadah, oleh masyarakat beliau dikenal sangat santun dan suka menolong.
Keseharian beliau digunakan untuk mengajar ilmu agama, di samping itu beliau juga memenuhi kebutuhan hidupnya dengan berjualan minyak wangi di berbagai pasar yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Diceritakan bahwa beliau ketika pergi ke pasar untuk berjualan selalu naik sepeda, sambil mengendarai sepeda, beliau mengulang hafalan Al Qur'an nya. Bukan hanya hafalan Al Qur'an, bahkan beliau hafal 3000 Hadits dan sangat kuat ingatannya. Almarhum Tuan Guru H. Muhammad Thaha Ghazali pernah menceritakan bahwa beliau pernah bertanya tentang satu masalah Fiqih kepada Habib Muhammad, kemudian Habib Muhammad menyuruh beliau membuka Kitab Fathul Mu'in halaman sekian dan baris sekian.
Habib Muhammad wafat di Barabai pada hari Rabu tanggal 21 Rabi'ul Akhir 1396 H atau bertepatan dengan 21 April 1976 M.
له الفاتحة...
📍Jl. Keramat Manjang, Kel. Barabai Utara, Kec. Barabai, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan

MONUMEN PERANG BANJAR

 MONUMEN PERANG BANJAR


Monumen ini adalah tugu yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memperingati kematian tentara mereka dalam Perang Banjar tahun 1859 sampai 1863 M. Menurut versi Pemerintah Hindia Belanda, Perang Banjar atau Bandjermasinsche Krijg hanya berlangsung selama empat tahun yaitu dari tahun 1859 hingga 1863 M.
Pendirian monumen ini tidak terlepas dari usulan pemimpin ekspedisi Perang Banjar yaitu Letnan T. M. Verspijck. Usulan tersebut didasarkan pada catatannya tanggal 5 Februari 1860 M di Amuntai dan 2 Maret 1860 M di Banjarmasin.
Pada masa awal pembangunan monumen ini, sempat terjadi silang pendapat Komisi Pembangunan Monumen. Apakah tugu peringatan yang sudah tiba dari Belanda ini diletakkan di Banjarmasin atau di Martapura.
Alasannya, Martapura adalah tempat terhormat di mata para bangsawan dan masyarakat Banjar. Selain itu, di wilayah ini terletak Keraton sebagai tanda otoritas Sultan Banjar. Kalau monumen ini dibangun di Martapura, maka ia akan menjadi tanda bahwa Kesultanan Banjar telah hancur dan Pemerintah Hindia Belanda memiliki kewenangan di sana.
Pada wilayah Martapura juga, operasi pertama Perang Banjar dimulai. Verspijck menuliskan: Dari situlah pasukan Belanda pertama kali menuju kemenangan. Tidak diragukan lagi, tidak ada titik sentral di seluruh wilayah Kalimantan bagian selatan dan timur selain Martapura sebagai titik sejarah.
Setelah perdebatan alot dari Komisi Pembangunan Monumen, akhirnya Banjarmasin dipilih sebagai tempat pendirian monumen ini. Alasannya, Banjarmasin akan terus dikunjungi banyak orang dan monumen untuk orang yang dicintai akan bisa disaksikan setiap hari.
Monumen ini awalnya berada di depan kediaman Residen Belanda di Banjarmasin, tepatnya di alun-alun yang sekarang menjadi Jalan Jenderal Sudirman. Monumen ini diresmikan pada tanggal 19 Februari 1867 M.
Monumen Perang Banjar memiliki ciri khas yang mirip dengan Monumen Waterlooplein di Batavia dan Michielsplein di Padang, keduanya juga dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda. Monumen di Banjarmasin ini terbuat dari besi tuang dan memiliki gaya gothic, lantainya dilapisi marmer, dan dindingnya dihiasi dengan relief bergaya Eropa.
Meskipun monumen peringatan ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda, namun ia tetap memiliki nilai sejarah yang penting karena menjadi saksi bisu Perang Banjar yang sengit. Perang ini menjadi bukti perlawanan rakyat Banjar terhadap penjajahan Belanda.
Walaupun monumen yang asli kini sudah tidak ada lagi di tempat asalnya, jejaknya masih bisa ditelusuri melalui foto-foto tua dan catatan sejarah. Monumen ini menjadi pengingat akan peristiwa penting dalam sejarah Kalimantan Selatan dan perlawanan rakyatnya terhadap penjajahan.
Sumber: Kesultanan Banjar.

H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman Al Banjari.

 Makam Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman Al Banjari.

Letak: Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.
Silsilah nasab:
• Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman bin Syaikh H. Ismail Khatib bin Qadhi H. Ibrahim bin Qadhi H. Muhammad Shalih bin Khalifah H. Zainuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
• Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman bin Syaikh H. Ismail Khatib bin Qadhi H. Ibrahim bin Halimah binti Mufti H. Jamaluddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.
• Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin Al 'Alimul Fadhil H. Abdurrahman bin Syaikh H. Ismail Khatib bin Antung Aminah binti Pangeran H. Muhammad Khatib bin Pangeran Mufti H. Ahmad bin Ratu Aminah binti Pangeran Thaha bin Sultan Tamjidillah bin Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah bin Sultan Sa'idillah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Musta'in Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah bin Raden Mantri Alu bin Raden Bengawan bin Maharaja Sekar Sungsang.
Al Fatihah...

 Menurut Abdullah bin Abbas, dalam masalah berkurban diperbolehkan dengan ayam jago ataupun angsa. Bahkan Syaikh Muhammad Al Fadhali memerintahkan orang fakir untuk mengikuti pendapat ini (daripada tidak berkurban sama sekali). Dan perlu diketahui bahwa hukum ini tidak hanya berlaku pada kurban, tapi juga aqiqah.

(Tausyih 'Ala Ibni Qasim, halaman 269)
Bagi anda yang tidak bisa berkurban dengan ayam, maka tidak sah berkurban dengan telur. Apalagi kurban perasaan karena ditinggal pas lagi sayang-sayangnya

 Makam Tuan Guru H. Bakran bin Ulau bin H. Matarif.

Letak: Handil Kabuau, Desa Makmur, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan.
Tuan Guru H. Bakran dilahirkan di Barabai pada hari Rabu tanggal 12 Syawwal 1356 H bertepatan dengan 15 Desember 1937 M, merupakan salah satu guru pengajar di masa-masa awal berdirinya Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin pimpinan Tuan Guru H. Ahmad Bakri.
Adapun pendidikan beliau ialah Pondok Pesantren Darussalam Martapura, tamat tahun 1960 M. Beliau adalah murid Tuan Guru H. Abdul Qadir Hasan atau Guru Tuha. Beliau dikenal ahli dalam bidang ilmu Nahwu dan Sharaf.
Tuan Guru H. Bakran berpulang ke rahmatullah pada hari Rabu tanggal 5 Rabi'ul Akhir 1438 H bertepatan dengan 4 Januari 2017 M dalam usia kurang lebih 79 tahun.

23 PEJUANG KAMBAT SELATAN

 23 PEJUANG KAMBAT SELATAN


Malam mencekam, 90 pemuda mengendap perlahan, senyap tanpa ada sedikit pun suara. Bermodalkan parang bungkul di pinggang, mereka menyusuri hutan untuk menghidari keramaian.
12 Juni 1949 M, pasukan yang dikomandoi oleh Salimi yang tergabung dalam markas daerah Z-61 dan berbasis di Desa Mahang menyelinap di sela pepohonan dengan berselimutkan dingin dan hanya diterangi sinar rembulan.
Mereka menyelinap menembus hutan melewati Desa Buluan dengan dibantu oleh 13 pejuang Pasukan Alam Gaib dan pasukan dzikir dari Alabio yang dipimpin H. Abdul Kadir untuk menambah kekuatan Z-61 menghancurkan pos militer Belanda yang ada di Desa Jatuh.
Selama perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa masyarakat yang ingin ikut bertempur melawan penjajah, sehingga kekuatan para pejuang bertambah menjadi 150 orang. Sesampainya di pos militer Belanda, ternyata pos itu dalam keadaan kosong.
Bukan tanpa sebab, kosongnya pos militer yang ada di Desa Jatuh memang disengaja, karena informasi penyerangan itu telah bocor oleh spion atau mata-mata Belanda, yakni Pasukan Kucing Hirang di bawah pimpinan Pambakal H. Hasyim.
Pasukan Kucing Hirang merupakan kelompok pribumi yang dibayar Belanda untuk menjadi mata dan telinga mereka, pasukan itu seringkali meresahkan masyarakat, mereka tidak segan menangkap, menyiksa, dan menghancurkan rumah para pejuang.
Merasa dapat menguasai pos militer dan menaklukkan Pasukan Kucing Hirang tanpa perlawanan, para pejuang meneriakkan merdeka dan bersuka cita. Setelah memastikan kemenangan, mereka kembali menyisir jalan setapak untuk kembali pulang ke markas Z-61 di Desa Mahang.
Ternyata pihak Belanda telah menyiapkan strategi yang matang, mereka bersiap untuk mengepung para pejuang dari segala penjuru. Berbekal informasi dari Pasukan Kucing Hirang, mereka mengatur posisi untuk bersembunyi.
Sesampainya para pejuang di simpang empat Kambat Selatan, mereka dikejutkan dengan dentuman tembakan yang membelah angkasa. Merasa terkepung, sebagian pejuang berhamburan tanpa arah. Sedangkan mereka yang terlatih langsung tiarap.
Desing peluru melesat tidak beraturan, menghujani para pejuang. Masyarakat yang ikut berjuang namun belum terlatih, berlarian kesana-kemari.
Merasa situasi sangat genting, H. Abdul Kadir memimpin dzikir dan menancapkan bendera di empat penjuru agar para pejuang bisa berlindung. Riuh dzikir menggema menembus malam, pasukan pejuang duduk bersila dengan mulut yang terus merapalkan kalimat tauhid, berserah diri kepada Tuhan agar terlindung dari hujaman peluru Belanda.
Hujan peluru tidak dapat dibendung lagi, namun anehnya ribuan peluru itu tidak sedikit pun menyentuh para pejuang yang sedang berdzikir. Belanda pun tidak melihat keberadaan mereka, seakan terlindung dinding. Setiap peluru yang datang ke hadapan mereka nampak jatuh di sekitar bendera.
Malam itu terasa panjang, para pejuang perlahan bergerak senyap dan Belanda akhirnya mundur karena kebingungan dengan kejadian yang mereka alami.
Akibat peristiwa itu, 23 orang pejuang yang berasal dari masyarakat biasa gugur terkena tembakan Belanda. Kejadian itu masih menyimpan amarah para pejuang terhadap Belanda dan Pasukan Kucing Hirang.
لهم الفاتحة...
📍Jl. Batuah, Ds. Kambat Selatan, Kec. Pandawan, Kab. Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Makam H. Sarkawi bin Kiyai Ahmad Dahlan (Gubernur Pertama Kalimantan Selatan).

 Makam H. Sarkawi bin Kiyai Ahmad Dahlan (Gubernur Pertama Kalimantan Selatan).

Letak: Alkah Muslimin, Jalan Keramat Manjang, Kelurahan Barabai Utara, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
H. Sarkawi tercatat dengan tinta emas dalam sejarah Banua. Beliau bukan sekadar birokrat, melainkan tokoh sentral di balik lahirnya Provinsi Kalimantan Selatan setelah dimekarkan dari Provinsi Kalimantan pada tahun 1957 M. Selain itu, beliau juga dikenang sebagai Bapak Pemuda karena dedikasinya menyatukan organisasi kepemudaan di masa-masa awal kemerdekaan.
Lahir di Barabai pada 15 Desember 1907 M, H. Sarkawi berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya, Kiyai Ahmad Dahlan, merupakan Jaksa di Amuntai dan pernah menjabat Kiyai di Kotabaru. Garis kepemimpinan itu mengalir dari kakeknya yaitu Kiyai Demang Yudha Negara atau Andin Dirja bin Kiyai Syahabuddin bin Kiyai Martapati.
Pendidikan H. Sarkawi tergolong mentereng di zamannya. Setelah lulus dari HIS, beliau merantau ke Banjarmasin untuk bersekolah di MULO, dan berlanjut ke sekolah pamong praja OSVIA di Makassar.
Momen paling bersejarah terjadi pada 9 Januari 1957 M. Bertempat di Banjarmasin, dilakukan serah-terima jabatan dari Gubernur Kalimantan, R.T.A. Milono, kepada H. Sarkawi sebagai Penjabat Gubernur Kalimantan Selatan. Statusnya kemudian diperkuat melalui SK Presiden RI Nomor 504/M Tahun 1957 pada bulan September di tahun yang sama. Sebelum menjadi Gubernur, beliau pernah menjabat sebagai Kiyai di Batu Mandi.
Tepat pada 17 Agustus 1957 M, bersama Panglima Teritorial VI Tanjungpura, Kusno Utomo, H. Sarkawi memancangkan tiang pertama pembangunan Gedung Pemuda di Banjarmasin. Dua tahun kemudian, gedung tersebut diresmikan sebagai pusat pergerakan pemuda Banua.
Di sektor infrastruktur, H. Sarkawi adalah pemprakarsa pembangunan Jembatan 9 November (dulu dikenal sebagai Jembatan Empat Zaman) yang menghubungkan Pasar Lama dengan Seberang Masjid. Proses pembangunannya penuh perjuangan. Meski sempat terkendala dana dari pusat yang hanya cair 7,5 juta dari usulan 17,5 juta, H. Sarkawi tidak menyerah. Beliau melakukan lobi tambahan biaya hingga akhirnya jembatan tersebut rampung pada tahun 1961 M.
Tidak hanya soal infrastruktur, H. Sarkawi juga sangat peduli pada ketahanan pangan. Beliau sempat menginisiasi perkebunan ubi kayu di Tambang Ulang dan membangun pabrik tapioka di Binuang. Di bidang sosial, beliau menjadi Penasihat Konferensi Kebudayaan Banjarmasin dan memimpin Musyawarah Kerakatan Kalimantan Selatan.
H. Sarkawi wafat di Banjarmasin pada hari Rabu tanggal 2 Rajab 1388 H bertepatan dengan 25 September 1968 M dalam usia kurang lebih 61 tahun, jenazah beliau kemudian dibawa ke Barabai dan dimakamkan di Alkah Muslimin Manjang.

Makam Tuan Guru H. Abdul Wahab bin H. Marzuki.

 Makam Tuan Guru H. Abdul Wahab bin H. Marzuki.

Letak: Jalan Tri Kesuma Dalam RT. 02/RW. 01, Kampung Qadhi, Kelurahan Barabai Darat, Kecamatan Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.
Ketika Abah Guru Sekumpul bersilaturahmi ke rumah Tuan Guru H. Abdul Wahab di Kampung Qadhi, beliau meminta Guru Wahab untuk berdoa. Guru Wahab menolak dan mempersilahkan Abah Guru yang membaca doa, namun Abah Guru juga menolak. Kemudian beliau berdua sama-sama menunduk beberapa saat. Saat menunduk itu, Guru Wahab menangis dan mata Abah Guru juga berlinang dengan air mata. Akhirnya tidak ada doa waktu itu dan Abah Guru pamit pulang.
Tuan Guru H. Abdul Wahab merupakan salah satu ulama yang menjadi rujukan para tuan guru di Barabai khususnya dalam bidang ilmu Fiqih. Beliau meninggal dunia di Kampung Qadhi pada hari Ahad tanggal 6 Syawwal 1427 H bertepatan dengan 29 Oktober 2006 M dalam usia 105 tahun.
Di antara guru-guru beliau:
1. Qadhi H. Muhammad Mukhtar bin Qadhi H. Muhammad Hasan (Guru Fiqih dan Falak).
2. Tuan Guru H. Muhammad Kasyful Anwar bin H. Ismail.
3. Tuan Guru H. Muhammad Shalih bin Syihabuddin (Guru Mursyid).
• Tuan Guru H. Abdul Wahab bin H. Marzuki bin Qadhi H. Muhammad Hasan bin Mufti H. Muhammad Sa'id bin H. Muhammad Amin bin H. Abdullah bin Kiyai Ahmad Dipasanta.

Makam Patuan H. Zarkasyi bin Jumadil.

 Makam Patuan H. Zarkasyi bin Jumadil.

Letak: Paimaman Masjid Al Baitul Makmur, Jalan Brigjend H. Hasan Basri, Desa Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Beliau merupakan salah satu tokoh ulama yang ada di Desa Karang Jawa dan masih keturunan dari Tumenggung Antaluddin.
Silsilah nasab:
Patuan H. Zarkasyi bin Jumadil bin Galuhan binti Auja binti Lahuddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana.
Patuan H. Zarkasyi bin Arfiah binti Thair bin Tumenggung Antaluddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana.
Patuan H. Zarkasyi bin Arfiah binti Galuh Basar binti Ahmad Nuruddin bin Undit bin Anin binti Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana.

 Makam Datu Thair bin Tumenggung Antaluddin.

Letak: Desa Karang Jawa, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Datu Thair bin Tumenggung Antaluddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana.
Al Fatihah...

BENTENG GUNUNG MADANG

 BENTENG GUNUNG MADANG

Perang Banjar dimulai pada tahun 1859 M. Atas saran dari Pangeran Antasari, Pangeran Hidayat, dan Demang Lehman, Tumenggung Antaluddin menyusun kekuatan dan pertahanan di daerah pahuluan dengan mendirikan benteng di Gunung Madang sekitar bulan Agustus 1860 M.
Benteng Gunung Madang dibangun dengan menggunakan tujuh lapis batang kayu Madang yang terdapat di sekitar tempat itu. Luas bangunannya sekitar 400 meter persegi, berbentuk bundar dan bertingkat dua. Tingkat atas digunakan sebagai tempat pengintaian sekaligus tempat pasukan bersenjata api, termasuk tiga pucuk meriam lila.
Pada pinggir puncak bagian selatan dan utara bersusun batu-batu besar, tempat pertahanan yang juga dipersenjatai dengan tiga pucuk meriam lila.
Di bagian barat atau belakang benteng terdapat hutan bambu yang cukup lebat, sementara di bagian timur merupakan jalan menuju benteng. Jalan itu sengaja dibersihkan dari pepohonan dan semak-semak, sebab di depan pintu benteng ada tumpukan kayu-kayu gelondongan yang dapat digulingkan jika serdadu Belanda mencoba naik.
Alat pertahanan lainnya adalah berupa jembatan-jembatan palsu, terbuat dari kayu-kayu gelondongan. Jika diinjak, jembatan akan berguling. Orang yang tidak waspada akan kehilangan keseimbangan, tercebur ke sungai dan disambut oleh jebakan sungga, yaitu batangan besi runcing yang tersimpan di bawah permukaan air.
Pada beberapa bagian pinggiran sungai juga terpasang sungga, menahan orang yang menyeberang dengan berenang atau naik perahu. Di bentangan padang ilalang terdapat juga lubang-lubang jebakan yang di dalamnya berisi sungga. Selain itu, ada juga jalan rahasia bawah tanah, jalan yang menjadi akses keluar-masuk pasukan penyergap.
Dari Benteng Madang itulah dikirim kelompok-kelompok laskar untuk melakukan penyergapan terhadap pasukan Belanda, terutama terhadap pasukan patroli. Penyergapan-penyergapan yang memakan banyak korban membuat Belanda tidak bisa meremehkan pasukan Antaluddin.
Pada 3 September sampai 22 September 1860 M, Benteng Gunung Madang mendapat lima kali serangan dari pasukan Belanda namun kelimanya berhasil dipatahkan. Benteng Gunung Madang tidak pernah tertembus Belanda selama di bawah pimpinan Tumenggung Antaluddin.
Benteng Gunung Madang terletak di Desa Madang, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.

TUMENGGUNG ANTALUDDIN, PANGLIMA PERANG BANJAR YANG GAGAH BERANI

 TUMENGGUNG ANTALUDDIN, PANGLIMA PERANG BANJAR YANG GAGAH BERANI

Pada tanggal 28 April 1860 M, gelar Tumenggung diberikan kepada Antaluddin. Pemberian gelar itu bukan tanpa alasan, beliau adalah orang yang menguasai wilayah Kandangan dan sekitarnya serta memiliki banyak pengikut. Beliau dikenal kebal dan pemberani serta memiliki pengetahuan perang yang mumpuni.
Tumenggung Antaluddin bin Asmara bin Imang binti Sugarta bin Tumenggung Kartawidana merupakan salah seorang Panglima Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang, sekarang masuk dalam Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
Pada masa itu, Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman, dan pasukan Tumenggung Antaluddin berkumpul di sekitar benteng itu pada bulan September 1860 M.
Setelah Pangeran Antasari meninggal dunia karena sakit pada 11 Oktober 1862 M, kekuatan pasukan Banjar di daerah Banua Lima mulai menurun. Perjuangan masih diteruskan di pedalaman Barito dan nama Tumenggung Antaluddin pun tidak lagi terdengar.
• Pertempuran Gunung Madang, 3 September 1860 M
Persiapan benteng pertahanan di Gunung Madang diketahui oleh Belanda sehingga datanglah serangan pasukan Belanda secara mendadak pada 3 September 1860 M, sementara benteng belum selesai dibangun. Serdadu Belanda menyusuri Kampung Karang Jawa dan Ambarai dan langsung menuju Gunung Madang. Serdadu Belanda terkejut, ketika baru mendekati bukit itu, ada serangan mendadak yang menyebabkan beberapa serdadu mereka tewas. Sekali lagi serdadu Belanda mendekati bukit, namun sebelum sampai, serangan kembali menyambut mereka sehingga mereka mundur kembali ke Benteng Amawang.
• Pertempuran Gunung Madang, 4 September 1860 M
Keesokan harinya tanggal 4 September 1860 M, pasukan Infanteri dari Batalyon Ke-13 melakukan serangan kedua. Serdadu Belanda ini dilengkapi dengan mortir dan puluhan orang perantaian untuk membawa perlengkapan perang dan dijadikan umpan dalam pertempuran. Serdadu Belanda melemparkan 3 granat namun tidak berbunyi, dan disambut dengan tembakan dari dalam Benteng Gunung Madang. Di dalam Benteng Gunung Madang terdapat pula beberapa orang perantaian yang lari memihak pasukan Pangeran Hidayatullah ketika terjadi pertempuran di Pantai Hambawang sebelumnya. Ketika Letnan De Brauw dan Sersan De Vries menaiki kaki Gunung Madang, mereka hanya diikuti serdadu bangsa Eropa sedangkan serdadu bangsa bumiputera (pribumi) membangkang tidak ikut bertempur. Letnan De Brauw kena tembak di pahanya, dan 9 orang serdadu Eropa terkapar kena tembak dari arah dalam benteng. Setelah Letnan De Brauw kena tembak, serdadu Belanda mundur dan kembali ke Benteng Amawang. Serangan ketiga dilakukan beberapa hari kemudian setelah Belanda memperoleh bantuan dari Banjarmasin dan Amuntai.
• Pertempuran Gunung Madang, 13 September 1860 M
Pada tanggal 13 September 1860 M, Belanda melakukan kembali serangannya terhadap Benteng Gunung Madang. Serangan ini dipimpin oleh Kapten Koch dengan perlengkapan meriam dan mortir. Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin mempersiapkan pasukan dan menunggu serangan Belanda, sedangkan Pangeran Hidayatullah mengatur strategi untuk menghadapinya. Pertempuran ini terjadi dalam jarak dekat, Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin dengan gagah berani menghadapinya. Ketika bunyi senapan dan meriam bergema, tiba-tiba roda meriamnya hancur kena tembakan. Kapten Koch mempertimbangkan untuk mundur kembali ke Benteng Amawang. Kegagalan serangan Kapten Koch ini tersebar sampai ke Banjarmasin, sehingga Gustave Marie Verspyck memerintahkan Mayor Schuak menyiapkan pasukan Infanteri dari Batalyon Ke-13 yang terdiri dari 91 opsir bangsa Eropa.
• Pertempuran Gunung Madang, 18 September 1860 M
Pada tanggal 18 September 1860 M, Mayor Schuak membawa pasukan dengan dibantu Kapten Koch menyerang Gunung Madang. Belanda membawa sebuah howitzer, sebuah meriam berat dan mortir. Menjelang pukul 11.00 siang, Demang Lehman mulai menyambut serdadu Belanda dengan tembakan. Gustave Marie Verspyck yang berani mendekati benteng dengan pasukannya kena tembak oleh anak buah Tumenggung Antaluddin. Selanjutnya Kapten Koch memerintahkan memajukan meriam, peluru mengenai serdadu pembawa meriam itu dan membuatnya jatuh terguling. Setelah pasukan meriam gagal, dilanjutkan dengan pasukan Infanteri yang mendapat giliran maju. Kapten Koch yang memimpin pasukan Infanteri kena tembak di dadanya dan jatuh tersungkur. Dengan tewasnya Kapten Koch tersebut, serdadu Belanda menjadi bingung dan kehilangan komando. Mereka bergegas menggotong mayat Kapten Koch dan berlari meninggalkan medan pertempuran kembali ke Benteng Amawang. Setelah serangan keempat ini gagal, Belanda mempersiapkan kembali untuk penyerangan yang kelima. Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin juga mempersiapkan siasat untuk menghadapi serangan yang lebih besar. Demang Lehman mendapat bantuan dari Kiyai Cakrawati, pejuang wanita yang selalu menunggang kuda yang berasal dari daerah Gunung Pamaton (Distrik Riam Kanan).
• Pertempuran Gunung Madang, 22 September 1860 M
Serangan kelima terjadi pada tanggal 22 September 1860 M. Belanda mempersiapkan dengan teliti, belajar dari kegagalan empat kali penyerangan sebelumnya. Belanda mempersiapkan mendirikan bivak-bivak dan perlindungan pasukan penembak meriam dengan sistem pengepungan Benteng Gunung Madang. Pertempuran baru terjadi keesokan harinya dengan tembakan meriam dan lemparan granat. Pada pagi hari itu pertempuran tidak terlalu sengit, barulah ketika menjelang pukul 11.00 malam hari, tiba-tiba Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin melakukan serangan besar-besaran dengan meriam dan senapan. Tembakan itu terus-menerus bersahutan sampai menjelang subuh. Karena serangan yang gencar itu, Belanda kehilangan komando di tengah malam yang gelap gulita. Situasi ini dimanfaatkan Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin beserta pasukannya untuk keluar dari benteng, selanjutnya mereka berpencar. Kiyai Cakrawati, seorang pejuang wanita meneruskan perjalanan ke Gunung Pamaton yang kemudian terlibat dalam pertempuran di Gunung Pamaton. Ketika memasuki benteng, alangkah kecewanya Belanda mendapati benteng sudah kosong, hanya ditemukan satu orang mayat yang ditinggalkan.

 • Makam Datu Halimah binti Muhammad Agil (Datu Dara).

• Makam Sayyid Muhammad Abdullah Husin.
• Makam Syaikh Ahmad Hanafi Al Bantani (Datu Panjang).
Letak: Kuburan Muslimin 40, Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Datu Halimah atau Datu Dara merupakan salah satu keturunan dari Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan, adapun nasab beliau yaitu Datu Halimah binti Fathmah binti Qadhi H. Muhammad bin Datu Ahmad Balimau bin Mufti H. Muhammad As'ad bin Syarifah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari. Sedangkan dari jalur ayahnya, beliau keturunan Palembang. Ayah beliau bernama Muhammad Agil bin Syihabuddin. Keturunan-keturunan beliau tersebar di Kalimantan Selatan, Jakarta, Surabaya, dan Sumatera.
Sayyid Muhammad Abdullah Husin dikisahkan berasal dari Demak, beliau merupakan ulama besar di masanya. Peninggalan beliau berupa kitab yang berisi tentang ilmu Ma'rifat dan disimpan oleh keturunan beliau di Kandangan. Beliau wafat pada tahun 1298 H atau 1881 M dalam usia kurang lebih 50 tahun.
Syaikh Ahmad Hanafi Al Bantani merupakan seorang ulama yang berasal dari Banten, beliau datang ke Lawahan untuk berdakwah. Pada saat beliau wafat, semua muridnya berebut untuk mengangkat jenazahnya. Ketika itulah hal aneh terjadi, tubuh beliau tiba-tiba menjadi panjang hingga semua murid dapat memegangnya. Karena itulah beliau bergelar Datu Panjang.

Makam Kuburan Muslimin 40. Letak: Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.

 Makam Kuburan Muslimin 40.

Letak: Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Mereka adalah orang-orang yang menjadi korban perang melawan penjajah Belanda di Kampung Lawahan tepatnya di Tatah Halayung pada tanggal 16 November 1859 M. Perang ini terjadi karena Belanda membalas serangan rakyat Lawahan di bawah pimpinan Sambang bin Datu Aling yang tergabung dalam pasukan Datu Aling ketika menyerang tambang batubara dan Benteng Oranje Nassau milik Belanda di Pengaron pada 28 April 1859 M.
Peperangan ini terjadi sangat dahsyat dan menimbulkan banyak korban. Rumah-rumah dan perkampungan semuanya habis dibakar oleh Belanda. Perang ini juga mengakibatkan Datu Aling dan anaknya yang bernama Galuh Saranti meninggal dunia. Konon di dalam makam ini dikuburkan 40 orang dalam satu liang lahat.

HANTASAN RAJA BAGALUNG

 HANTASAN RAJA BAGALUNG

Pangeran Bagalung bin Maharaja Sukarama memiliki nama kecil Raden Bali. Menurut riwayat, pasca Pangeran Mangkubumi naik takhta menjadi Raja Daha, Pangeran Bagalung meninggalkan pusat kerajaan di Nagara. Beliau kemudian menetap di Kampung Berangas dan menjabat sebagai Adipati di sana.
Saban hari Sabtu, Pangeran Bagalung menghadap Maharaja Mangkubumi di Keraton Nagara Daha. Tidak berapa lama setelah menghadap yang terakhir, beliau jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia.
Pangeran Bagalung meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Raden Harja dan seorang anak perempuan bernama Raden Lamarsari. Setelah wafatnya beliau, Raden Lamarsari menetap di Muara Bahan. Di kemudian hari, anak cucunya ini menurunkan para priayi di Muara Rampiau dan di Muara Bahan.
Menurut Andin Kamal Pasha, Rama Andin yang menetap di Tapin secara umum atau Lawahan secara khusus diperkirakan asal-usul leluhurnya hampir keseluruhan berasal dari wilayah Marampiau, Pabaungan, Muhara Muning, Sungai Rutas, Margasari dan sekitarnya. Leluhur mereka rata-rata bergelar Rama yang menandakan memiliki silsilah lurus dari laki-laki.
Secara metafisika sejak dahulu sampai sekarang, beberapa anak cucu keturunan Rama Andin, baik yang tinggal di Kampung Lawahan ataupun kampung lainnya, sering melihat penampakan ruhaniyah dari Pangeran Bagalung. Beliau terlihat berjubah putih penuh wibawa, rambut disanggul, memakai pedang di pinggang serta menaiki kuda putih dengan bunyi gemerincing berpadu irama tapak kaki kuda.
Sehingga sebagian besar anak cucu Rama Andin di wilayah Tapin meyakini kalau mereka berasal dari keturunan Pangeran Bagalung. Bahkan di Kampung Lawahan ada satu jalan kecil diberi nama Hantasan Raja Bagalung, karena beliau selalu lewat di jalan itu.
Menurut keterangan dari mereka yang pernah melihat penampakan ruhaniyah Pangeran Bagalung, arah pulang beliau selalu ke arah Barat, kalau dari Lawahan ke arah Margasari.

Sumber : Ahmad Khatib.

Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram bin Rama Ubaidillah.

 Makam Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram bin Rama Ubaidillah.

Letak: Desa Lawahan, Kecamatan Tapin Selatan, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.
Al 'Alimul Fadhil Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram dilahirkan pada tahun 1910 M. Beliau menuntut ilmu agama di Desa Dalam Pagar, Martapura. Kemudian melanjutkan ke Nagara, berguru kepada Syaikh H. Ismail bin Syaikh H. Muhammad Thahir Al Allabi dan menjadi teman seperguruan dari Wali Katum. Selesai dari Nagara, beliau kembali ke kampung halamannya di Desa Lawahan. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya ke Desa Pabaungan, berguru kepada Tuan Guru H. Ahmad Barmawi bin Abdul Jalil. Di Pabaungan, beliau seperguruan dengan Tuan Guru H. Abdurrahman bin Tuan Guru H. Ismail (Mandurian).
Pada tahun 1940 an, Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram membina umat di bidang keagamaan bersama mertuanya yaitu Tuan Guru H. Abdul Aziz. Di antara ilmu yang diajarkan ialah ilmu Fiqih dengan Kitab I'anatuth Thalibin karya Sayyid Abu Bakar Syatha' dan setiap sore Jum'at di rumahnya mengajarkan ilmu Tasawwuf dengan Kitab Ad Durrun Nafis karya Syaikh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari.
Menjelang akhir hidupnya, Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram mengalami sakit tenggorokan yang menyebabkan pita suara beliau rusak sehingga tidak jelas ketika bersuara. Namun berkat taufik dan qudrat Allah SWT, setiap kali beliau membaca Al Qur'an dan mengimami shalat di Langgar As Sa'adah Lawahan, suara beliau kembali normal. Dan setelah itu, suara beliau kembali hilang.
Kurang lebih tahun 1964 M, Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram pernah berkata sambil duduk di depan teras mushalla, kata beliau nanti di Desa Lawahan ini akan ada pelabuhan dan jalan besar, kalau malam lampunya akan kelihatan sampai ke tempat kita. Ternyata apa yang beliau katakan terbukti terjadi setelah 50 tahun kemudian, yaitu pelabuhan dan jalan hauling angkutan batubara.
Di sisi lain, Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram selalu mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat. Beliau mempunyai kebiasaan mengkhatamkan Al Qur'an setiap hari dan pada malam harinya mengerjakan Qiyamul Lail sampai subuh.
Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram berpulang ke rahmatullah pada subuh hari Jum'at tanggal 27 Sya'ban 1395 H bertepatan dengan 5 September 1975 M dalam usia 65 tahun, disaksikan oleh istri dan anak beliau yang bernama Ahmad Yazidi. Beliau wafat dalam keadaan sujud saat melaksanakan shalat Subuh.
Ketika jenazah beliau dimakamkan di hari yang sama, cuaca mendung dan gerimis turut membasahi bumi seolah-olah ikut bersedih karena kepergian beliau. Salah satu yang membaca talqin ialah Tuan Guru H. Ghazali bin Abdurrahim (Lumbu Raya).
Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram meninggalkan sebuah lembaga pendidikan Islam bernama Madrasah Normal Islam Hidayatullah yang beliau dirikan pada tahun 1956 M dan masih berjalan hingga hari ini.
Sumber: Ahmad Khatib. Andin Syarifuddin bin Andin Sulaiman Kurdi bin Tuan Guru H. Rama Muhammad Idram.

uan Guru H. Ahmad Ruyani bin Darulquthni.

 Makam T


uan Guru H. Ahmad Ruyani bin Darulquthni.

Letak: Desa Pandulangan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.

Makam Datu Ahmad dan Datu Hasan.

 Makam Datu Ahmad dan Datu Hasan.


Letak: Paimaman Masjid Al Mujahidin, Desa Padang Batung, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Datu Ahmad dan Datu Hasan merupakan dua orang bersaudara, anak dari Datu H. Abul Hasan. Datu Ahmad bergelar Datu Campa, sedangkan Datu Hasan bergelar Datu Pancau.
Bersama tokoh masyarakat seperti Gulu Arsan, Su'abas, H. Abdul Kadir, dan H. Sukri, Datu Ahmad dan Datu Hasan mendirikan Masjid Al Mujahidin pada tahun 1911 M.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Al Mujahidin juga digunakan sebagai tempat untuk menyusun strategi melawan penjajahan. Bahkan masjid ini pernah menjadi tempat persembunyian H. Hasan Basri.
Al Fatihah...

Makam Datu H. Abul Hasan bin Datu Sudin.

 Makam Datu H. Abul Hasan bin Datu Sudin.

Letak: Desa Durian Rabung, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
Di Desa Durian Rabung tersimpan kisah perjuangan seorang tokoh lokal yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah Belanda pada masa Perang Banjar di abad ke-19 M.
Sosok itu adalah Datu H. Abul Hasan. Beliau berjuang bersama saudara iparnya yaitu Datu Surgi Muhammad Syahid, suami dari adiknya yang bernama Diyang Kabun. Selain itu, Datu H. Abul Hasan juga dibantu oleh Panglima Dambung, Datu Dulahmat, Datu Cancangan, dan sembilan orang pejuang lainnya. Mereka menghadang penjajah Belanda yang datang memasuki wilayah Kalimantan dari Desa Durian Rabung.
Para pejuang berbekal senjata tradisional seperti parang dan tombak. Uniknya, senjata milik para datu tersebut konon bertuliskan lafazh Arab seperti tahlil, syahadat, dan takbir. Masyarakat kala itu menyebut para pejuang memiliki kesaktian, termasuk kekebalan tubuh.
Dalam perjuangannya, Datu H. Abul Hasan bahkan dikisahkan pernah tertembak. Namun beliau segera pulih dan kembali bertempur.
Pada saat melakukan serangan ke Kuin, mereka beberapa kali berhasil mengusir pasukan Belanda meskipun Belanda datang kembali dengan pasukan yang lebih besar. Akhirnya para datu memutuskan kembali ke Hulu Sungai tepatnya ke Benteng Madang.
Dalam pertempuran di Benteng Madang, Datu Syahid dipercaya sebagai Panglima Perang dan Datu H. Abul Hasan menjadi wakilnya. Pertempuran sengit pun terjadi, Datu Syahid terkena tembakan meriam Belanda dan dibawa ke Padang Batung oleh Datu H. Abul Hasan.
Tidak lama kemudian, Datu Syahid wafat dan perlawanan rakyat melemah. Benteng Madang akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Setelah itu tidak diketahui siapa yang melanjutkan perjuangan merebut kembali Benteng Madang.
Mengenai wafatnya Datu H. Abul Hasan tidak tercatat dengan jelas, namun beliau meninggalkan beberapa orang anak, di antaranya Datu Campa dan Datu Pancau yang dikenal sebagai ulama kharismatik pada zamannya. Hingga kini, sebagian besar penduduk Desa Durian Rabung merupakan keturunan Datu H. Abul Hasan.
Untuk mengenang jasa beliau, pada tahun 1990 an, nama Datu H. Abul Hasan diabadikan menjadi Yayasan Abul Hasan yang menaungi Madrasah Ibtida'iyah, Taman Pendidikan Al Qur'an, dan Madrasah Aliyah.
Kemudian pada tahun 2021 M, nama beliau kembali digunakan untuk Ruang Terbuka Hijau dan Taman Bermain Datu Abul Hasan di Desa Padang Batung yang diresmikan oleh Bupati H. Ahmad Fikri.
Al Fatihah...

Makam Brigjen TNI (Purn) H. Muhammad Yusi bin H. Muhammad Yusuf.

 Makam Brigjen TNI (Purn) H. Muhammad Yusi bin H. Muhammad Yusuf.

Letak: Pusara Pejuang, Desa Karang Jawa Muka, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan.
H. Muhammad Yusi merupakan salah satu pimpinan perlawanan terhadap penjajahan Jepang dan gerakan revolusi mempertahankan kemerdekaan, teman seperjuangan H. Hasan Basri dan H. Abrani Sulaiman.
Beliau wafat pada hari Ahad tanggal 23 Syawwal 1409 H bertepatan dengan 28 Mei 1989 M dalam usia 71 tahun. Beliau dianugerahi tanda kehormatan Bintang Gerilya yang menjadikannya mempunyai hak untuk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional.

H. ABU HASAN BIN QADHI H. ABU NA'IM BIN SYAIKH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJAR

 H. ABU HASAN BIN QADHI H. ABU NA'IM BIN SYAIKH MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARI

Salah satu cucu Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan yang bermakam di Nagara, anak dari Qadhi H. Abu Na'im dengan istrinya yang bernama Siti.
H. Abu Hasan menurunkan beberapa orang anak, di antaranya: Muhammad Hamid, H. Muhammad Arif, Muhammad Thayyib, H. Muhammad Khalid, Muhammad Arsyad, Sa'duddin, Husin, Abdul Hadi, Halimah, Ummi, Zahrah, dan Galuh Kacil.
Salah satu keturunan beliau yang terkenal adalah Prof. Dr. Ir. H. Ismet Ahmad, seorang politikus, birokrat, dan dosen berkebangsaan Indonesia.
له الفاتحة...
Ds. Panggandingan, Kec. Daha Utara, Kab. Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.