ANTAYA
========
Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah (Rakha) Amuntai. “Antaya, antaya,” teriak seorang santri. Para santri yang bergerombol duduk santai di pelataran asrama itupun bubar, berlarian masuk kamar kemudian duduk dengan tekun membaca buku. Mengapa ? Karena ada sidak dari pengasuh pondok yang dipanggil “antaya”.
Di malam Kamis habis Magrib, lain lagi ceritanya; sejumlah santri keluar ingin rekreasi ke pasar Amuntai; 300-an meter saja dari pondok (di Jembatan Pamintangan), tiba-tiba saja berlarian pulang ke pondok dan ada yang sembunyi entah dimana. Mengapa ? Karena terlihat dikejauhan “antaya” mengendarai sepedanya menuju pondok.
Beliau itulah pengasuh pondok, H. Nafiah bin H. Djamal (lahir di Amuntai 27 Ramadhan 1343 H (1922 M). Ia dipanggil “antaya” karena kalau mengajar selalu bertanya dengan mengangkat tangan sambil menunjuk entah siapa sembari berkata: “anta (kamu) …ya”, lalu ia sebut nama murid yang harus menjawab. Di masyarakat ia dipanggil mualim Nafiah.
Hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, karena Sabtu, 12 Januari 2008 bertepatan dengan 3 Muharram 1429 H, mualim H. Nafiah meninggal jam 05.00 WITA disaat-saat umat Islam setempat melaksanakan shalat fardhu Shubuh. Beliau wafat di rumahnya jalan Lambung Mangkurat RT. 7 No. 20 Pelampitan Hulu, Amuntai Tengah; setelah koma sejak Ashar hari sebelumnya. Sebenarnya ia tidak mempunyai penyakit selain penyakit tua, kakinya lemah tak bisa berdri dan tak kuat berjalan beberapa waktu menjelang akhir hayatnya, seakan-akan kecapean setelah sekian tahun berselang ia harus mondar mandir antara rumahnya dan PP. Rakha yang selalu dalam hati dan pikirannya. Shalat jenazah dimulai hari itu jam 11.00 siang sampai jam 14.20 WITA, ribuan pelayat datang silih berganti dan kemudian jenazahnya dikebumikan di alkah keluarga di Pelampitan Hulu, Amuntai. PP. Rakhapun berduka, kendati hari itu langit masih cerah.
H. Nafiah tamat sekolah rakyat th 1934, kemudian menimba ilmu di Pondok Modern Gontor, Ponorogo th 1939 s/d 1943. Guru mengajinya antara lain tuan guru H. Abdul Hamid Sungai Banar dan tuan guru KH. Chalid Tangga Ulin. Ia mulai mengajar di Madrasah Sullamun Najah Telaga Selaba (1943), Madrasah Rasyidiyah Pekapuran (1944-1946), Madrasah Normal Islam (1947-1951) dan termasuk salah seorang pendiri Perguruan Normal Islam di Rakha. Pernah menjabat anggota DPRD tingkat dua Hulu Sungai Utara (1964-1988) dan Ketua Nahdatul Ulama Kabupaten Hulu Sungai Utara (1953-1999). Teman-teman seangkatannya adalah KH. Abdul Muthallib M, KH. Ahmad Mansyur dan KH. Idham Chalid. Ditahun 1937 beliau dibawa naik haji oleh orang tuanya, menjadikan tanah suci Makkah selalu menjadi tumpuan ingatannya dan ia ingin umat Islam banyak bisa mengunjunginya, terbukti ia adalah orang pertama di Indonesia yang mempelopori usaha penyelenggara Biro Perjalanan Haji dan Umrah.
Penampilannya sederhana, berpakaian serba putih, hanya sepatu yang hitam. Beliau selalu senyum terhadap anak didiknya, tidak pernah ditemukan ia marah. Penulis yang pernah mondok di PP. Rakha (th 1962 s/d 1972) sangat merasakan sentuhan lembutnya dalam memberikan pengajaran dan pendidikan dan barangkali semua yang pernah berguru kepadanya.
Bila anda membuka buku “Apa dan Siapa dari Utara, Profil dan Kinerja Anak Banua” yang disusun atas prakarsa H. Ahmad Makkie. BA, naskah ditulis H. Kamarul Hidayat, di halaman 71 anda akan menemukan fotonya terpampang dengan senyuman khasnya; di situ tercatat antara lain : “kunci keberhasilan beliau dalam meniti karirnya adalah dilandasi niat karena Allah SWT semata dan memperoleh dukungan dari isteri dan anak-anaknya. Prinsip hidupnya berani mengoreksi dan siap dikoreksi.”
Selamat jalan “antaya,” guru kami mualim H. Nafiah dalam usia 86 tahun, yang menyusul isteri beliau (wafat th 2001) dan kedua puteranya H. Syaifullah dan H. Barkatullah yang meninggal beberapa tahun sebelumnya.
Penulis: KH. Husin Naparin, Lc, MA



