K.H. Abdurrahman—yang lebih dikenal masyarakat Banjar dengan panggilan Guru Adu atau Tuan Guru H. Adu Tunggul Irang—adalah salah satu ulama besar dan wali Allah dari Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Garis Keturunan dan Kelahiran
Guru Adu lahir sekitar tahun 1250 Hijriah (1830-an Masehi). Beliau berasal dari nasab ulama terpandang, yaitu putra dari K.H. Zainuddin bin K.H. Abdus Shamad bin K.H. Abdullah Al-Banjari.
Pendidikan Agama
Beliau mengawali pendidikan agama secara nonformal di tanah kelahiran, salah satunya berguru kepada Tuan Guru Haji Muhammad Said di Dalam Pagar, Martapura.
Beliau kemudian melanjutkan menuntut ilmu ke Makkah untuk memperdalam bidang syariat, tarekat, dan hakikat guna memperkuat ajaran Ahlu Sunnah wal Jamaah di tanah Banjar.
Peran Dakwah dan Ketokohan
Pengajaran: Sepulang dari Makkah, Guru Adu memusatkan kegiatan dakwah dan pengajiannya di daerah Tunggul Irang, Martapura. Cara mengajar beliau yang ikhlas dan mendalam melahirkan murid-murid serta generasi penerus ulama terkemuka, di antaranya K.H. Abdul Qadir Hasan dan cucu beliau sendiri, K.H. Husin Qadri.
Pengaruh di Masyarakat: Guru Adu dipandang sebagai sosok wali yang memiliki banyak karomah. Kewibawaan spiritual beliau menjadi perisai moral bagi masyarakat setempat, terutama pada masa imperialisme kolonial Belanda dan Jepang.
Wafat dan Makam
Guru Adu wafat pada hari Jumat, 23 Rabiulawal 1364 Hijriah (1945 Masehi). Jenazah beliau dimakamkan di Desa Tunggul Irang, Martapura, di sebuah komplek pemakaman yang dikenal dengan sebutan Kubah Wali Lima. Hingga kini, makam beliau rutin dihauli dan diziarahi oleh ribuan umat Muslim dari berbagai daerah.
