TUAN GURU MUHAMMAD NUR TAKISUNG, ULAMA AHLI TAUHID DAN MURSYID TAREKAT
TUAN GURU MUHAMMAD NUR TAKISUNG, ULAMA AHLI TAUHID DAN MURSYID TAREKAT
Di Kalimantan Selatan terdapat seorang ulama yang dikenal dengan nama Tuan Guru Muhammad Nur Takisung. Tambahan nama “Takisung” di belakang nama beliau disebabkan karena beliau menetap di kawasan pesisir Pantai Takisung, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Sementara kedua orang tua beliau berasal dari Desa Teluk Selong Seberang, Martapura, Kabupaten Banjar.
Syekh Muhammad Nur Takisung bin Ibrahim Khaurani dikenal sebagai seorang Syekh Mursyid yang menggabungkan tiga tarekat sekaligus, yakni Tarekat Naqsyabandiyah, Syadziliyah, dan Qadiriyah. Beliau disebut sebagai satu-satunya mursyid yang menggabungkan ketiga tarekat tersebut di Kalimantan Selatan, bahkan mungkin di Indonesia.
Tidak banyak orang yang mengetahui silsilah keluarga Tuan Guru Muhammad Nur Takisung. Beliau merupakan putra dari Syekh Ibrahim Khaurani bin Syekh Muhammad Amin, pengarang kitab Bayanullah, bin Syekh Abdullah Khatib bin Syekh Abul Hamim yang bermakam di Gorontalo, bin Syekh Abdul Hamid Abulung, yang makamnya berada di Desa Sungai Batang Seberang, Kecamatan Martapura Barat, Kabupaten Banjar. Dengan demikian, Tuan Guru Muhammad Nur Takisung merupakan dzuriat kelima dari Syekh Abdul Hamid Abulung.
Sejak kecil, Tuan Guru Muhammad Nur telah mempelajari ilmu agama langsung dari orang tuanya, Syekh Ibrahim Khaurani, yang dikenal sebagai seorang alim. Ketika beranjak dewasa, beliau melanjutkan pendidikan agama di Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Di kalangan teman-teman seangkatannya, beliau dikenal dengan sebutan Amat Jawa. Selain belajar di Darussalam, beliau juga mengaji secara khusus kepada Tuan Guru H. Husin Kaderi untuk memperdalam ilmu tasawuf.
Dalam perjalanan spiritualnya, Tuan Guru Takisung juga pernah menjalani khalwat selama puluhan tahun di tengah hutan belukar yang lebat dengan bekal yang sangat terbatas. Kehidupan beliau banyak diisi dengan menuntut ilmu, beribadah, mendekatkan diri kepada Allah SWT., serta membimbing masyarakat.
Tuan Guru Muhammad Nur Takisung dilahirkan di Kediri, Jawa Timur, pada tahun 1918 M. Setelah menjalani kehidupan yang penuh dengan pengabdian dan dakwah, beliau wafat di Desa Takisung pada Rabu, 25 Jumadil Awwal 1414 H, bertepatan dengan 10 November 1993 M, dalam usia sekitar 75 tahun.
Beliau dimakamkan tepat di depan rumahnya di Desa Takisung. Lokasi makam tersebut tidak jauh dari objek wisata Pantai Takisung. Ayahanda beliau, Syekh Ibrahim Khaurani, juga dimakamkan di kawasan sekitar pesisir Pantai Takisung.
Dalam bidang tauhid, Tuan Guru Muhammad Nur memperoleh pelajaran langsung dari ayahandanya, Syekh Ibrahim Khaurani. Ajaran tauhid yang beliau pegang adalah Asy'ariyah-Maturidiyah, dengan penegasan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah.
Tuan Guru Muhammad Nur juga memperdalam ilmu tauhid di Desa Kintap. Di tempat tersebut, beliau kemudian mengajarkan ilmu tauhid kepada sejumlah muridnya. Pengajaran tauhid sangat beliau utamakan agar para murid memiliki dasar akidah yang kuat dalam menjalani kehidupan beragama hingga akhir hayat.
Dalam berdakwah kepada masyarakat, Tuan Guru Takisung senantiasa mengedepankan pentingnya ilmu tauhid sebagai pondasi kehidupan seorang Muslim. Dengan pemahaman tauhid yang kuat, beliau berharap masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan benar serta memperoleh keselamatan dunia dan akhirat.
Tuan Guru Muhammad Nur Takisung dikenal sebagai ulama yang alim, terutama dalam bidang ilmu tauhid dan tasawuf. Dalam berbagai riwayat yang berkembang di tengah masyarakat, beliau juga dikenal memiliki sejumlah karamah.
Semoga Allah SWT. merahmati beliau, mengangkat derajatnya, serta memberikan keberkahan kepada keluarga, dzuriat, murid-murid, dan orang-orang yang mencintai para ulama dan orang-orang saleh.
@copyrightedwanansari
CatatanBangEdwan
2026
di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I
