Kamis, Oktober 15, 2026

Guru Abdurrahman Siddiq (dikenal juga sebagai Syekh Abdurrahman Siddiq atau Datu Sapat)

Guru Abdurrahman Siddiq (dikenal juga sebagai Syekh Abdurrahman Siddiq atau Datu Sapat)



Guru Abdurrahman Siddiq (dikenal juga sebagai Syekh Abdurrahman Siddiq atau Datu Sapat) adalah seorang ulama besar dan Mufti Kerajaan Indragiri asal Martapura, Kalimantan Selatan, yang menyebarkan Islam di wilayah Riau dan Kepulauan Riau.Silsilah dan Masa Muda
Lahir pada tahun 1857 M di Dalam Pagar, Martapura, beliau merupakan cicit dari ulama tersohor Nusantara, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kelampayan), dan putra dari Syekh Muhammad Afif (Datu Landak). Ditinggal wafat ibunya sejak kecil, beliau dibesarkan oleh bibinya dan mendalami ilmu agama di tanah kelahirannya sebelum berangkat ke Makkah. Beliau menimba ilmu di Masjidil Haram selama belasan tahun hingga dipercaya menjadi pengajar di sana.
Berdakwah dan Bermukim di Sapat
Sekembalinya dari Makkah, beliau melakukan perjalanan dakwah di wilayah Melayu. Pada sekitar tahun 1907–1908, beliau memutuskan untuk menetap di Kampung Sapat, Kecamatan Kuindra, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Di Sapat, beliau mendirikan pesantren, membuka lahan pertanian, dan membimbing masyarakat lokal serta para perantau Banjar. Dari tempat inilah gelar Datu Sapat melekat pada nama beliau.
Diatas Menjadi Mufti Indragiri
Melihat kedalaman ilmu dan reputasinya yang luas, Sultan Kerajaan Indragiri, Sultan Mahmud Shah, mengangkat beliau sebagai Mufti Kerajaan Indragiri pada tahun 1910. Menariknya, beliau meminta agar tidak diberi gaji dari kerajaan, memilih untuk menopang hidupnya sendiri lewat berkebun kelapa dan bersawah.
Karya dan Warisan
Selain mengajar, beliau aktif menulis karya-karya keagamaan dalam bahasa Arab Melayu (Jawi). Belasan kitab tulisan beliauseperti Aqa'id al-Iman, Asrar al-Salat, dan Amal Ma'rifah—menjadi rujukan ajaran tasawuf, tauhid, dan fiqih yang tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Wafat
Guru Abdurrahman Siddiq wafat pada tanggal 10 Maret 1939 (18 Muharram 1358 H) di usia 82 tahun. Makam beliau di Kampung Sapat, Indragiri Hilir, Riau, hingga kini menjadi salah satu pusat peziarahan religi yang sering dikunjungi masyarakat dari berbagai pelosok Nusantara dan negara tetangga.



@copyrightedwanansari

CatatanBangEdwan 2026

di tulis ulang oleh Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I