Senin, Maret 24, 2025

Sholat fardu kifayah (Mualim Syukur Teluk Tiram BJM) Yang di Imami Yang Mulia Abah Pengasuh Pendiri Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih KH Mahfuz Amin Bin KH Muhammad Ramli Bin KH Muhammad Amin.

 Sholat fardu kifayah (Mualim Syukur Teluk Tiram BJM) Yang di Imami Yang Mulia Abah Pengasuh Pendiri Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih KH Mahfuz Amin Bin KH Muhammad Ramli Bin KH Muhammad Amin.


Semoga yg cinta kepada Ulama yg Mahabbah kepada Wali Wali Allah.

Allah jadikan anak dan keturunannya Wali Wali Allah Juga. Amin Ya Rabbal Alamiinn



Makam Tuan Guru H. Muhammad Zuhdi bin Tuan Guru H. Muhammad Ramli.

 Makam Tuan Guru H. Muhammad Zuhdi bin Tuan Guru H. Muhammad Ramli.



beliau adalah adik dari KH Mahfudz Amin Muassis Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih 

Letak: Desa Pamangkih, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan.


Beliau adalah Pengarang Kitab Tangga Pelajaran Ibadah.

Selasa, Februari 04, 2025

Nasrullah bin Masdi atau yang akrab di panggil Paman Kaum Nasrullah dikenal sebagai marbot yang setia dan tekun menjaga kebersihan masjid Al Amin , Walangku Kasarangan

Nasrullah bin Masdi atau yang akrab di panggil Paman Kaum Nasrullah dikenal sebagai marbot yang setia dan tekun menjaga kebersihan masjid. 

Beliau adalah alumni Pondok Pesantren Al Manshur walangku, 




Paman Kaum, sebutan kaum itu adalah panggilan familiar dalam bahasa Banjar yg  berarti  Marbot Mesjid, 

Marbot, adalah istilah yang diberikan kepada seorang yang bertanggungjawab mengurus keperluan atau masjid, terutama yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan tempat ibadah tersebut.


Kaum Nasrullah yang dengan ketekunannya dalam menjaga kebersihan masjid. sosok yang sangat humble

kepada siapa saja, dalam bahasa Banjar disebut "parawaan" 


Kaum " yang semasa hidupnya rutin puasa Sunnah Senin Kamis ini telah mengabdikan diri menjadi Marbot Mesjid Al Amin (Walangku) Kasarangan lebih dari puluhan tahun, 


begitu mendadak beliau meninggalkan kami semua, hingga di pagi hari Selasa itu banyak teman-teman Alumni Pondok Pesantren Al Manshur dan warga seakan tidak percaya ketika kabar meninggalnya beliau tersebar di grup Messenger WhatsApp Alumni, 

Hinga Siaran melalui Pengeras suara mesjid berkhabar bahwa beliau telah meninggal dunia


baru tadi malam kata salah satu alumni aku berbarengan dengan beliau pulang dari Majelis Nurul Muhibbin Barabai pimpinan KH Muhammad Bakhiet di Kitun, 


warga Jiran Mesjid mengatakan baru tadi tadi subuh menjadi Iman Shalat Fardhu Subuh, 


anak saya Rafli yang sekolah TK Al-Qur'an Al Manshur yang sekolannya berdekatan dengan Mesjid mengatakan 


"Hanyar samalam ulun bapandir lawan Kayi Kaum"


Almarhum memang senang menyapa anak-anak TK Al-Qur'an, 


Salah satunya anak saya Rafli, 


dalam beberapa kali kesempatan Almarhum pernah meminta Rafli untuk Mengumandangkan Iqamah, 

pada saat shalat Ashar


tapi kata Rafli " Ulun supan"


kerena memang masih banyak anak-anak yang lebih tua umurnya dari Rafli yang juga ingin mengumandangkan Iqamah, 


"Ulun Hanyar kalas satu Kayi, supan Ulun"


Itulah jawaban Rafli kala itu


Bah" Hanyar samalam bah ai, Ulun bapandir lawan Kayi kaum"

Kata Rafli " Kayi Batakun "Kelas berapa, Jilid berapa sudah? di TK Al-Qur'an dan di Tahfidz Al Manshur


lalu Rafli bilang Kelas 1, Sudah Al Qur'an baru juz 3 ngaji nya, kalau di Tilawati di Tahfidz masih mahafal Juz 30


dan macam-macam ai lagi Bah ai "

cerita Rafli ketika kami tanya, 


tiga Jum'at yang lalu Terakhir seluruh Jamaah Shalat Fardhu Jum'at mendengar beliau Menjadi Bilal/ Muazin shalat Jum'at


Al Faqir sendiri terakhir bersalaman berjabat tangan dengan beliau ketika Jum'at kemarin, bahkan ketika banjir kemarin, pada saat beberapa hari sebagian halaman mesjid tergenang air,  beliau sangat sibuk bebersih Mesjid hingga kedepannya, saat sore ketika Al faqir membonceng anak saya Rafli untuk jalan sore melihat orang-orang, anak-anak yang bermain air di jalanan yang berair dan di halaman mesjid 


saya melihat Paman Nasrullah sedang membersihkan Selokan dengan Memakai Jaring kecil di tangan dan di samping beliau ada arco gerobak dorong untuk tempat menampung sampah yg beliau kumpulkan


dengan sambil tersenyum, Al faqir menyapa beliau


"Paman"......


dengan senyum beliau menjawab senyum saya dan sambil melanjutkan bebersih Selokan di depan mesjid


Banyak cerita yang tidak bisa di rangkai dan di tulis, 

 Marbot masjid termasuk dalam golongan fisabilillah yaitu orang yang berjuang di jalan Allah. Pengertian berjuang di jalan Allah ini tidak terbatas pada berjuang secara fisik (perang), namun memelihara dan menjaga tempat ibadah (masjid/mushola) juga termasuk dalam berjuang di jalan Allah.


Kemarin Ribuan orang turut hadir dan menshalatkan Almarhum, yang memang almarhum juga adalah anggota Syarikat Majelis Al  Musthafal Amin yang anggotanya ribuan orang, 



pagi itu juga Al faqir berikan kabar ke salah satu Dewan Guru di Pondok Pesantren Dhiyaul Amin Pamangkih pimpinan KH Ahmad Junaidi, 

mengabarkan bahwa beliau Paman Nasrullah telah berpulang ke Rahmatullah, untuk nantinya Tahlilan dihadiahkan kepada almarhum,  dimana setiap minggunya para santri melaksanakan shalat fardhu Jum'at di Masjid Al Amin, Walangku


shalat Fardhu Kifayah dilakukan sebanyak tiga kali, 


satu kali sebelum shalat ashar dan satu kali setelah ashar dan satu kali bersama Jamaah anggota Majelis


Kini sosok yang murah senyum itu telah pergi, semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik untuk Almarhum,  menerima seluruh amal ibadah dan kebaikannya, mengampuni segala dosa-dosanya


Kasarangan, 

Rabu, 05 Februari 2025

Minggu, Februari 02, 2025

KISAH DATU LANDAK , SANG PENDIRI MESJID KERAMAT AL KAROMAH MARTAPURA

 KISAH DATU LANDAK , SANG PENDIRI MESJID KERAMAT AL KAROMAH MARTAPURA



Julukan “Datu Landak” didapat Syekh Muhammad Afif bukan karena memelihara landak, sebagaimana sahabat Rasulullah SAW yang Abdurrahman bin Sakhr Ad Dausi yang bergelar “Abu Hurairah” karena memelihara banyak kucing.


Syekh Muhammad Afif atau Tuan Guru H Muhammad Afif adalah ulama berpengaruh di zamannya. Gelar Landak yang disematkan masyarakat pada diri beliau bukanlah gelar sembarangan.

 


Sebagaimana diceritakan Tuan Guru H Syaifuddin Zuhri (ulama keturunan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari), Syekh Muhammad Afif bergelar ‘Datu Landak’ dikarenakan mantapnya beliau dalam berzikir.


“Jika beliau berzikir, bulu di badan beliau berdiri, menembus baju yang dikenakan,” ujar ulama sepuh Banjarmasin itu.


Bulu berdiri tegak di setiap Syekh Muhammad Afif ketika berzikir tersebut diibaratkan masyarakat seperti bulu landak. Sehingga masyarakat menjulukinya dengan Datu Landak.


Datu Landak selain dikenal sebagai seorang ulama, beliau juga dikenal memiliki ‘kesaktian’. Riwayat berdirinya masjid Al karomah Martapura adalah salah satu bukti nyata kekeramatan Datu Landak.


Sebagaimana diceritakan dalam buku “Datu-Datu terkenal Kalimantan Selatan”, pada tahun 1896 M/1314 H masyarakat Martapura ingin mendirikan Masjid Jami. Inisiatif tersebut disambut baik dari kalangan ulama dan hartawan. Di antaranya yang mendukung dibangunnya masjid tersebut adalah Haji Muhammad Taher (Kampung Pesayangan) yang dikenal dengan sebutan Datu Kaya dan Haji Muhammad Natsir di kampung Melayu Martapura.


Datu Landak terpilih sebagai orang yang mencari kayu besar untuk dijadikan tiang masjid, bersama dengan Haji Muhammad Khalid bin Yahya, Haji Muhammad Idris, dan M Khottah (tukang pijat). Tiga orang yang menemani Datu Landak adalah keponakan beliau sendiri.


Maka berangkatlah mereka berempat ke pedalaman hutan di tepian Sungai Barito. Di perjalanan mereka sempat bertemu dengan orang-orang suku dayak yang menghuni hutan tersebut.


Diceritakan, sempat beradu sakti antara Datu Landak dengan tokoh suku dayak, karena mereka meminta dikalahkan terlebih dulu, jika ingin membawa pohon kayu mereka.


Dari adu sakti tersebut, Datu Landak dapat mengalahkan kesaktian mereka, hingga mereka mengaku kalah dan mengikat tali persahabatan. Orang-orang dayak itu kemudian ikut membantu pencarian kayu yang dimaksud Datu Landak.


Sesampainya di hutan yang dihuni pohon-pohon besar, Datu Landak menghidupkan perapian dengan membakar sesuatu yang menebar wewangian. Setelah asap menebar dan wewangian menjalar, Datu Landak beraksi di luar akal sehat. Beliau mencabuti pohon-pohon besar itu layaknya mencabut rumput saja.


Sekitar 41 batang pohon terkumpul, 4 batang di antaranya adalah kayu yang berukuran lebih besar. 2 kayu cendana dan 2 batang lainnya adalah kayu gaharu.


Lokasi tempat pohon-pohon dicabut itu kemudian menjadi danau. Di tengah danau terdapat serumpan bamban yang berputar, sekarang disebut dengan Bamban Beredar.


Ketika menyeret pohon ke sungai, pohon-pohon besar yang diseret Datu Landak menimbulkan bekas yang cukup besar, hingga menjadi anak sungai. Peristiwa itu kemudian diabadikan dengan nama sungai tersebut, yakni Sungai Landak.


Di lokasi lain, kayu-kayu ditarik itu tidak hanya memberi bekas dengan terbongkarnya tanah, tapi juga mengeluarkan intan permata. Oleh Datu, permata itu disimpan kembali ke dalam tanah, yang beliau beri pagar dari rumpun bamban. Tempat itu kemudian dikenal dengan “loa bamban”.


41 batang kayu itu pun kemudian dibentuk seperti rakit (dengan kayu pelampung) di sungai dan ditarik sebuah kapal.


Kayu pelampung itu di di antaranya dimanfaatkan menjadi beduk Masjid Al Karomah Martapura.


Sesampainya di Martapura, Datu landak dan ketiga keponakannya disambut dengan suka cita. Puluhan sinoman Hadrah ramai menyambut kedatangan beliau.


Pada malam hari, obor dan lilin dinyalakan di lanting untuk menerangi perjalanan kapal yang membawa kayu tersebut.


Pada Minggu 10 Rajab 1315 H/1897 M tepat di jam 09.099 pagi didirikanlah ke empat tiang (soko guru) yang menjadi penopang utama masjid. Proses ganjil juga terjadi selama pendirian.


Sebagaimana disebutkan dalam buku yang sama (Datu-datu Terkenal Kalimantan Selatan), Datu landak hanya menepuk tanah dan 4 batang pohon itu berdiri di tempat yang sudah ditentukan. 

 Dimasa depan  renovasi diadakan pada mesjid ini, seorang tukang kayu diminta untuk memindahkan tiang soko guru, pada saat tukang kayu berada di atas tiang untuk menggergaji, maka muntah darahlah tukang tersebut, akhirnya batal dipindahkan dan berdiri tegak sampai sekarang.

Mesjid  al karomah merupakan saksi perjuangan rakyat banjar dalam melawan penjajahan belanda, mesjid ini sempat dibakar, namun tetap berdiri tegak di tempatnya. Mesjid ini adalah tempat bersemayam ruh para aulia pendirinya dan para syuhada syahid seperti demang lehman yang digantung di pohon beringin besar pekarangannya.


Datu Landak diketahui wafat pada usia 90 tahun pada 1916 M, dan dimakamkan di desa Kelampayan. Tak jauh dengan makam datuknya, Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.


ILAA HADDROTIN_Nabiyil Musthafa Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam ~ WAILAA HADDROTI_Syekh Muhammad Afif Bin Anang Mahmud ~ AL_FATIHA...•...


Mudah"an Berkat kita membaca kisah beliau dan berkat menghadiahkan pahala surat Al-Fatiha ini kita semua mendapat Rahmat dari Allah Swt dan mendapat Aliran Barokah dari pada Datuk Landak

امین یارب العالمین


Allahumma Shalli 'Ala Sayyidina Muhammad Annabiyil Ummi Wa'Ala Alihi Washahbihi Wasallim


.

Jumat, Januari 17, 2025

Mengenang Guru Danau Termasuk Salah Satu Murid Abah Guru Sekumpul.. 🔜 RIWAYAT 🔙 KH. ASMUNI (Guru Danau)

  Mengenang Guru Danau Termasuk Salah Satu Murid Abah Guru Sekumpul..


🔜 RIWAYAT 🔙

KH. ASMUNI (Guru Danau)


Guru Danau panggilan akrab bagi Tuan Guru Asmuni. Nama “Danau” yang dilekatkan pada dirinya sebenarnya merupakan nama singkat dari tempat kelahiran dan tempat tinggalnya, Danau Panggang. Danau Panggang merupakan salah satu Kecamatan di daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara yang terletak sekitar 24 km dari kota Amuntai.


Guru Danau dilahirkan pada tahun 50-an di Danau Panggang. Ada yang menulis tahun 1951, tahun 1955, dan adapula yang menulis 1957 sebagai tahun kelahirannya. Ayahnya bernama Haji Masuni dan ibunya bernama Hajjah Masjubah. Dia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya berasal dari daerah Danau Panggang sedang ibunya berasal dari daerah Marabahan yang pindah ke Danau Panggang.


Guru Danau hidup di lingkungan keluarga yang sederhana dan taat beragama. Orang tuanya dahulu bekerja sebagai buruh kapal atau buruh angkut dengan pendapatan yang pas-pasan. Pendapatan yang pas-pasan itu tidak menghalangi semangat orangtuanya untuk membiayai pendidikan anaknya.


Guru Danau menempuh pendidikan tingkat dasar di Madrasah Ibtidaiah di lingkungan Pesantren Mu’alimin Danau Panggang dan Madrasah Tsanawiyah Pesantren Mu’alimin Danau Panggang. Setelah itu dia meneruskan studinya di tingkat atas (aliyah/ulya) di Pesantren Darussalam Martapura. Selama belajar di Pesantren Darussalam, Guru Danau juga belajar dengan sejumlah ulama berpengaruh (tuan guru) yang bertebaran di wilayah Martapura, diantaranya adalah Tuan Guru Semman Mulya, Tuan Guru Royanidan Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Ijai. Bahkan setelah memilik pengajian dan pesantren sendiri, secara rutin Guru Danau tetap mengikuti pengajian Guru Ijai di Martapura baik ketika masih di Keraton (Langgar Darul Aman) maupun setelah pindah ke Sekumpul (Langgar Arraudah). Guru Danau terus mengikuti pengajian Guru Ijai sampai sang guru meninggal dunia pada tahun 2005.


Setelah tamat di pesantren Darussalam, Guru Danau sempat pulang ke kampung halamannya. Tidak lama kemudian, pada tahun 1978, atas anjuran Guru Ijai dia kembali belajar di Pesantren Datuk Kalampaian Bangil di Jawa Timur. Di sini dia belajar dengan ulama Kharismatik keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yaitu Kyai Haji Muhammad Syarwani Abdan (w. 1989). Dengan ulama besar ini, Guru Danau mendapat bimbingan spiritual (suluk) dan belajar secara khusus dengan Guru Bangil dalam waktu tertentu.


Selain ke Bangil, Guru Danau juga berkunjung kesejumlah wilayah di Pulau Jawa seperti Pasuruan, Jember, Malang, Wonosobo, Purwokerto, Solo, dan Yogyakarta menemui ulama dan habaib yang ada di sana. Di antara ulama atau haba`ib yang beliau datangi adalah KH. Hamid Pasuruan, Habib Saleh al-Hamid Jember, Mbah Malik Purwokerto, Kyai Syakur Wonosobo, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih Malang, Habib Anis al-Habsyi Solo, Habib Ahmad Bafaqih Tempel Yogyakarta. Dengan ulama dan haba`ib ini, Guru Danau belajar sejumlah ilmu, amalan dan mengambil tarekat tertentu. Kegiatan bersilaturahmi dan belajar singkat dengan sejumlah ulama dan haba`ib di Jawa ini dilakukan oleh Guru Danau untuk mendapat berkah ilmu dengan bertemu dan belajar kepada mereka.


Pada tahun 1980, Guru Danau menikah dengan Hj. Jamilah binti Maskur yang berasal dari Bitin. Dari perkawinannya itu, beliau memperoleh tiga belas orang anak (tujuh putra dan enam putri). Nama anak-anaknya adalah Wahid, Ladaniah, Musanna, Mufidah, Muktiah, Noor’Ainah, Noorhasanah, Haudi, Syahli, Mujiburrahman, Mujahidah, Syamsuddin dan M. Naseh.


Guru Danau membuka pengajian agama di Desa Bitin pada tahun 1980 dan mengajar di Pesantren Salatiah. Pada tahun 1981, dia kembali membuka pengajian di kampung halamannya sendiri, Danau Panggang. Guru Danau menceritakan, ketika ingin membuka pengajian, Guru Danau terlebih dahulu meminta izin kepada Guru Ijai. Sang Guru mengizinkan dengan syarat tidak boleh bapintaan (meminta dana dari masyarakat), harus memakai halat (dinding) yang memisahkan laki-laki dan perempuan, dan harus ikhlas. Agar seorang guru dapat ikhlas mengajar, dia harus memiliki kemandirian ekonomi. Dengan kemandirian ini, seorang guru dapat berkonsentrasi mengajar dan berdakwah tanpa mengharap imbalan uang.


Pada tahun-tahun awal, peserta pengajian Guru Danau di Bitin dan Danau Panggang tidak banyak. Namun lama kelamaan jumlahnya semakin meningkat hingga mencapai ribuan orang. Pengajian di Bitin dan Danau Panggang dihadiri jamaah sekitar 3 hingga 6 ribuan. Pengajian di Bitin dilaksanakan pada Sabtu malam (malam Minggu) sedang di Danau Panggang dilaksanakan pada Senin Malam. Di Bitin, pusat pengajian bertempat di rumah Guru Danau di sekitar Pasar Bitin. Karena tidak ada lapangan yang luas, ribuan jamaah pengajian menempati teras dan halaman rumah penduduk sekitar. Banyak dari mereka yang duduk berbaris di pinggir-pinggir jalan hingga mencapai beberapa kilometer. Hal serupa juga terjadi pada pengajian di Danau Panggang. Pusat pengajian bertempat di Mushalla Darul Aman (nama yang sama dengan Langgar Darul Aman tempat Guru Ijai mengajar) yang tepat berada di samping rumah Guru Danau.


Selain mengasuh kedua pengajian besar di atas Guru Danau juga mendirikan dan membina beberapa pesantren. Pada tahun 1982, ia mendirikan pesantren Darul Aman di Kecamatan Babirik (Hulu Sungai Utara). Nama Darul Aman sendiri mengikuti nama Langgar Darul Aman di Keraton tempat Guru Ijai mengajar. Guru Danau juga menamai mushalla di samping rumahnya dengan nama Darul Aman, sama dengan nama langgar gurunya di Keraton Martapura. Pesantren lain yang dibinanya adalah Pesantren Raudatus Sibyan di Desa Longkong Kecamatan Danau Panggang dan Pesantren Ar Raudah I di Jaro Tabalong dan Ar Raudah II di Pangkalanbun.


Pada dekade 1990-an (sekitar 1998), seiring dengan semakin meluasnya pengaruh dan popularitasnya, Guru Danau kembali membuka pengajian di Mabuun Tanjung (Kabupaten Tabalong). Menurut cerita Guru Danau, pada awalnya, Mabuun merupakan sarang pelacuran dan perjudian. Guru Danau berusaha memberantas penyakit sosial ini dengan cara menghubungi pihak-pihak berwenang untuk menutupnya. Namun usaha ini tidak berhasil. Dia mengubah strategi. Dia tidak lagi mengharapkan aparat, tetapi membuka pengajian di tempat itu. Dengan adanya pengajian yang dihadiri oleh ribuan jamaah ini, praktik pelacuran dan perjudian itu tidak mendapat tempat dan berhenti dengan sendirinya. Dengan cara ini, lokasi yang asalnya menjadi tempat maksiat berubah menjadi komplek pengajian.


Pengajian di Mabuun, pengajian ketiga yang diasuh oleh Guru Danau, kemudian menjadi pengajian Guru Danau yang terbesar karena dihadiri oleh puluhan ribu jamaah, ada yang menyebutnya mencapai 40 ribuan jamaah. Kuantitas jamaah yang hadir di tempat ini jauh lebih besar dibanding pengajian di Danau Panggang dan Bitin. Hal ini didukung oleh Komplek pengajian Guru Danau di Mabuun yang memiliki area yang lebih luas kondisinya dibanding pengajian di Bitin dan Danau Panggang sehingga memungkinkan menampung puluhan ribu jamaah. Dengan kuantitas jamaah yang mencapai puluhan ribu jamaah ini, Pengajian Guru Danau di Mabuun disebut-sebut sebagai pengajian terbesar di kawasan Banua Anam.


Pengajian di Mabuun dilaksanakan pada malam Rabu setiap setengah bulan sekali. Guru Danau menyatakan, jarak setengah bulan sekali dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada jamaah pengajian untuk mengumpulkan uang untuk keperluan transportasi mendatangi tempat pengajian. Jamaah yang bertempat tinggal di kawasan Amuntai, Paringin, atau yang berada di kawasan Kalimantan Tengah memiliki persiapan yang lebih luas untuk menghadiri pengajian di Mabuun. Jarak waktu pengajian yang ditetapkan oleh Guru Danau ini cukup membantu sebagian jamaah pengajiannya yang merupakan orang-orang yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah. Bagi murid-muridnya yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas, mendatangi pengajian di Mabuun bukan merupakan persoalan karena mereka memiliki kendaraan pribadi yang dapat digunakan setiap saat. Karena itu, tidak mengherankan, jika sekitar pengajian Guru Danau di Mabuun berjejer mobil dengan jumlah mencapai ratusan buah.


Materi pengajian yang disampaikan oleh Guru Danau di beberapa pengajiannya meliputi materi tauhid, fiqih, tasawuf, hadis, tafsir, kisah-kisah dan lainnya. Dari beberapa kitab yang dikaji, materi tasawuf tampaknya lebih dominan. Beberapa kitab yang pernah diajarkan oleh Guru Danau di pengajiannya, diantaranya adalah Irsyad al-‘Ibad (Zainuddin al-Malibari), Nasha`ih al-‘Ibad (Nawawi al-Bantani), Muraqi al-‘Ubudiyyah (Nawawi al-Bantani), Risalah al-Mu’awanah (Abdullah al-Haddad), Nasha`ih al-Diniyyah (Abdullah al-Haddad), Tuhfah al-Raghibin (Muhammad Arsyad al-Banjari), Syarah Sittin (Ahmad Ramli), Tanqih al-Qawl (Nawawi al-Bantani). Dilihat dari daftar kitab yang digunakan, Guru Danau lebih banyak menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab daripada kitab Arab-Melayu. Walaupun begitu, pengajiannya tetap mudah diikuti oleh jamaah karena isi kitab-kitab itu diterjemahkan dan diberi penjelasan yang ‘ringan’ oleh Guru Danau.


Cara penyampaian Guru Danau dalam pengajian maupun ceramahnya cukup unik. Guru Danau termasuk ulama yang sangat humoris. Dalam setiap ceramah atau pengajiannya dia selalu menyampaikan cerita-cerita lucu, jokes, pantun-pantun, dan singkatan yang diplesetkan yang memancing tawa. Bahkan, Guru Danau tidak segan bercanda dengan murid-muridnya yang berada pada baris depan. Baginya, humor itu penting disisipkan dalam ceramah pengajian agar orang awam dan orang tua dapat terus mengikuti pengajian tanpa merasa bosan dan berat.


Dalam menyajikan isi kitab pengajian, Guru Danau hanya membaca beberapa baris saja. Tetapi penjelasannya cukup luas dan terkadang tidak selalu terfokus dan relevan dengan substansi kitab atau teks yang dibaca karena banyak disisipi oleh cerita, humor, ilustrasi, canda dan sebagainya. Teknik seperti ini tampaknya sangat disukai oleh jamaahnya. Selain mendapat tuntunan, mereka juga mendapat ‘hiburan’ yang menyenangkan. Teknik ini merupakan salah satu daya tarik orang untuk menghadiri pengajian Guru Danau.


Cara penyampaian Guru Danau juga didukung oleh bahasa yang dominan digunakannya, yaitu bahasa Banjar. Bahasa ini merupakan bahasa yang digunakan mayoritas jamaahnya. Penggunaan bahasa lokal ini kemudian dibumbui dengan contoh-contoh dan Ilustrasi-ilustrasi yang pas dengan kondisi lokalitas sosiobudaya dan keseharian masyarakat sekitar sehingga isi ceramahnya sangat merakyat. Dengan cara seperti ini materi yang disampaikannya mudah dipahami oleh jamaahnya yang berasal dari berbagai lapisan sosial.


Walaupun penyampaian materi dakwahnya sederhana dan mudah dipahami tidak lantas dia dinilai sebagai ulama biasa. Sebagai ulama yang lahir dari lulusan pesantren ternama seperti Pesantren Darussalam yang diakui kualitasnya dalam memproduksi ulama, dia juga merupakan produk dari sejumlah ulama besar, seperti Guru Ijai dan Guru Bangil yang otoritas keulamaannya diakui dan memiliki pengaruh besar. Apalagi, Guru Danau sendiri merupakan salah satu murid Guru Ijai yang dikader untuk meneruskan tradisi keulamaan gurunya di kawasan Hulu Sungai. Karena itu, tidaklah mengheran jika beberapa gaya berceramah dan tradisi pengajian Guru Danau seperti pembacaan Maulid al-Habsyi menjelang pengajian merupakan hasil ‘peniruan’ dari tradisi Guru Ijai. Ketika Guru Ijai wafat, para jamaah pengajiannya di kawasan Hulu Sungai segera mendapat figur pengganti yang mewarisi sebagian kharisma Guru Ijai, yaitu Guru Danau.


Meski mengasuh 3 pengajian besar dan 4 pesantren, dan sibuk berdakwah di mana-mana, Guru Danau bukanlah tuan guru yang hanya terpaku pada aktivitas mengajar dan berdakwah. Guru Danau merupakan sosok ulama yang aktif bekerja dan berbisnis. Sejak muda ia sudah sibuk bekerja. Berbagai usaha telah beliau lakukan, seperti bertani, berdagang dan bisnis lainnya. Dengan kegigihannya berbisnis, beliau dikenal juga sebagai ulama yang memiliki kekayaan dan penghasilan besar dari beberapa usaha bisnisnya. Dari beberapa bisnis Guru Danau yang terpenting adalah usaha emas dan sarang burung walet di daerah Tanjung. Usaha ini terutama usaha sarang burung walet mendatangkan keuntungan besar. Dari usaha sarang burung walet Guru Danau dapat meraih keuntungan milyaran rupiah. Usaha burung walet ini dipelajarinya dari seorang habib di Jawa. Usaha lainnya adalah membeli tanah sebagai investasi. Tanah itu bisa dijual suatu saat.


Dengan pendapatan yang besar dari bisnisnya, wajar jika Guru Danau menjadi orang kaya. Dia memiliki banyak rumah dan memiliki beberapa mobil mewah (Alphard). Dengan mobil Alphard yang dimilikinya, dia dapat bepergian ke mana-mana dengan nyaman. Walaupun memiliki ini semua, Guru Danau tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja. Rezeki yang cukup berlimpah ini tidak digunakan untuk bermegah-megah. Tetapi digunakannya untuk kepentingan dakwah Islam. Menurutnya, mereka yang mengurusi akhirat tidak seharusnya kalah dengan mereka yang mengurusi masalah dunia. Ulama yang memiliki usaha dan kekayaan sendiri akan lebih ikhlas dalam berdakwah dan mengajar karena tidak memiliki kepentingan untuk mendapat bayaran dari jamaahnya.


Dengan kemandirian dan kekayaan yang dimilikinya, Guru Danau dapat membiaya semua pembangunan komplek pengajian dan pesantren yang didirikannya tanpa bantuan pihak lain. Dia tidak mau meminta bantuan dana dari masyarakat (bapintaan) karena khawatir ada yang tidak ikhlas. Demikian juga dia tidak mau menerima dana yang berasal dari pemerintah dan partai politik. Menurutnya, jika satu kali saja mendapat bantuan pemerintah, ulama tidak bisa lagi untuk menasihati penguasa. Bahkan cenderung untuk dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki kepentingan tertentu. Kemandirian inilah yang membuat dirinya tidak bisa diintervensi dan didikte oleh penguasa dan partai politik.


Menjadi ulama yang kaya dan mandiri pada figur Guru Danau tidak hanya disebabkan oleh faktor kegigihannya dalam berusaha, tetapi juga terinspirasi oleh sosok gurunya, Guru Ijai, yang juga menjadi ulama yang kaya. Guru Danau termasuk salah satu murid Guru Ijai yang berhasil meniru gurunya pada sisi ini. Tidak banyak murid Guru Ijai yang dapat mengikuti jejaknya seperti Guru Danau.والله عالم بشواب


رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ * وَاهْدِنَا الْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِمْ

وَأَمِتْنَا فِى طَرِيْقَتِهِمْ * وَمُعَافَاةٍ مِنَ الْفِتَنِ🤲🏻

Sabtu, Januari 11, 2025

Catatan Obat

 



































Makam Tuan Guru H. Muhammad Aini bin H. Ali Al Banjari (Pendiri Pondok Pesantren Subulussalam).

Makam Tuan Guru H. Muhammad Aini bin H. Ali Al Banjari (Pendiri Pondok Pesantren Subulussalam).






Letak: Desa Pematang Karangan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.


Tuan Guru H. Muhammad Aini atau yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Ayan dilahirkan di Desa Pematang Karangan pada hari Rabu menjelang Shubuh tanggal 12 Rabi'ul Awwal 1352 H bertepatan dengan 5 Juli 1933 M, beliau anak tertua dari tiga orang bersaudara, ayah beliau bernama H. Ali bin H. Sanusi dan ibu beliau bernama Hj. Basrah binti Tuan Guru H. Badaruddin. Kedua orangtua beliau merupakan orang yang taat beragama dan memperhatikan pentingnya pendidikan agama, sehingga hal ini menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan beliau dalam menuntut ilmu pengetahuan agama. Beliau adalah keturunan generasi kelima dari Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan, adapun nasab beliau yaitu Tuan Guru H. Muhammad Aini bin H. Ali bin H. Sanusi bin Shalihah binti Khalifah H. Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.


Pendidikan formal beliau dimulai ketika bersekolah di Sekolah Rakyat yang terletak di Desa Pandahan, kemudian beliau melanjutkan belajarnya ke Madrasah Kulliyatul Mu'allimin di Kampung Tambaruntung selama lima tahun. Di samping itu, beliau juga aktif belajar ilmu agama di rumah guru-gurunya, di antaranya adalah:


1. Tuan Guru H. Abdullah Shiddiq, pernah belajar di Makkah sekitar 10 tahun.

2. Tuan Guru H. Hidayatullah.

3. Tuan Guru H. Syamsuni (Tambaruntung).

4. Tuan Guru H. Ali Mansyur (Timbaan).

5. Tuan Guru H. Mahfuzh (Mandurian).

6. Tuan Guru H. Asy'ari (Serawi).

7. Tuan Guru H. Asmuni (Tambaruntung).

8. Tuan Guru H. Bijuri, guru sekaligus mertua beliau.


Setelah tamat dari Madrasah Kulliyatul Mu'allimin, beliau kemudian meneruskan belajarnya ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura dari tahun 1950 M sampai 1956 M. Adapun di antara guru-guru beliau, yaitu:


1. Tuan Guru H. Muhammad Samman Mulia.

2. Tuan Guru H. Muhammad Syarwani Abdan.

3. Tuan Guru H. Husin Qadri.

4. Tuan Guru H. Salman Jalil.

5. Tuan Guru H. Muhammad Salim Ma'ruf.

6. Tuan Guru H. Salman Yusuf.

7. Tuan Guru H. Muhammad Ramli.

8. Tuan Guru H. Azhari.

9. Tuan Guru H. Marzuki.

10. Tuan Guru H. Nashrun Thahir.


Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam, beliau kembali ke kampung halamannya. Beliau kemudian menikah dengan Hj. Aminah binti Tuan Guru H. Bijuri dan dikaruniai sembilan orang anak, yaitu: H. Ibrahim, Hj. Rahmah, H. Muhammad Hasnan, H. Muhammad Syahminan, Hj. Hamdanah, H. Muhammad Thahir Zaki, Hj. Rafiqah, Hj. Arfah, dan Hj. Rajabiah.


Mertua beliau yaitu Tuan Guru H. Bijuri adalah seorang ulama di Desa Pematang Karangan yang memimpin pengajian di Mushalla Darul Aman. Ketika Tuan Guru H. Bijuri wafat pada tahun 1969 M, maka beliaulah yang kemudian menggantikan posisi mertuanya itu memimpin pengajian di mushalla tersebut. Pengajian itu kemudian berkembang pesat dan menjadi besar serta dihadiri ribuan jamaah.


Selain di Mushalla Darul Aman, beliau juga sering memenuhi permintaan masyarakat untuk mengadakan pengajian di tempat-tempat lain seperti di masjid, mushalla, dan sekolah-sekolah. Beliau juga rajin memberikan ceramah di berbagai tempat dalam acara tertentu baik bertempat di masjid, mushalla, sekolah, maupun kantor-kantor pemerintahan. Popularitas beliau pun semakin meluas sehingga dikenal tidak hanya di wilayah Kalimantan Selatan, tetapi juga di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.


Meski sudah menjadi ulama terkenal dan kharismatik, beliau tetap rajin menuntut ilmu kepada Abah Guru Sekumpul di Martapura. Demi belajar kepada Abah Guru Sekumpul, beliau sampai beberapa kali mengubah jadwal pengajiannya. Tercatat selama kurang lebih 24 tahun beliau berguru kepada Abah Guru Sekumpul, dimulai sejak tahun 1976 M sampai wafatnya pada tahun 2000 M.


Setelah berhasil mengembangkan pengajiannya, beliau kemudian melihat perlunya pendirian lembaga pendidikan dalam bentuk pesantren. Atas dukungan dari berbagai pihak termasuk keluarga dan masyarakat, akhirnya beliau mendirikan Pondok Pesantren Subulussalam pada hari Sabtu tanggal 24 Dzulqa'dah 1405 H bertepatan dengan 10 Agustus 1985 M.


Pada fase awal, pesantren ini belum memiliki gedung dan hanya meminjam Balai Desa sebagai tempat belajar, jenjang pendidikan pun masih pada tingkat Madrasah Diniyah Awwaliyah. Pada tahun 1990 M, pesantren ini mulai berkembang dan membuka jenjang pendidikan baru yaitu tingkat Madrasah Diniyah Wustha. Pada fase berikutnya, pesantren ini berkembang pesat hingga memiliki ribuan santri dan jumlah kelas yang terus bertambah. Pada tahun 2005 M, tercatat santri Pondok Pesantren Subulussalam mencapai 2.152 orang dengan jumlah guru sebanyak 33 orang dan 33 kelas.


Tuan Guru H. Muhammad Aini berpulang ke rahmatullah pada malam Senin tanggal 21 Jumadil Ula 1421 H bertepatan dengan 20 Agustus 2000 M dalam usia kurang lebih 67 tahun.


Al Fatihah...


رب فانفعنا ببركتهم واهدنا الحسنى بحرمتهم وأمتنا في طريقتهم ومعافاة من الفتن.