*Pandiran Warung; _“Babaya…”_*
Kembali, dunia medsos dihebohkan dengan pemberitaan soal rilisnya film animasi *“Merah Putih, One For All”.* Meski baru sebatas teaser, begitu tersebar di dunia maya, ragam komentar negatif justru berhamburan. Terutama dari mereka pegiat di bidang grafis digital. Yah, tak bisa disalahkan, _ulun_ yang _jaba_ saja begitu menonton klip film animasi itu terjebak dalam posisi _nang manuntun nang asa supan..._
Sudahlah plot ceritanya sangat jelek garapan filmnya pun secara kualitas _pina babaya hingkat._ Kita mungkin masih ingat, di awal kemunculan animasi Upin-Ipin produksi malaysia beberapa tahun silam, secara langsung atau tidak seakan “menantang” kemampuan para animator di Indonesia. Kehadiran petualangan Upin-Ipin yang digarap dengan sangat apik oleh rumah produksi _Les' Copaque Production_ coba hendak disaingi para animator Indonesia melalui berbagai serial animasi yang serupa. Sebut saja misal kartun Adit Sopo Jarwo, Nussa, Riko the Series atau serial Keluarga Somat. Lantas, lahirlah beberapa animasi dalam format film layar lebar semisal _Juki, The Battle of Surabaya_ atau yang kemaren baru booming, film animasi _"Jumbo."_
Sebagai penonton _jaba,_ hadirnya serial animasi 'Adit Sopo Jarwo' dan lainnya, meski seiring waktu mengalami peningkatan kualitas garapan teknisnya, secara subjektif _ulun_ menilai bahwa serial ala Indonesia ini secara kualitas penceritaan, tema dan dialog-dialognya masih di bawah serial Upin-Ipin. Bahkan jika mau jujur, dialog ataupun tema masih terasa nuansa “sinetron-sinetron” yang ada. Tanpa kekuatan plot dan tema. Contoh, Adit Sopo Jarwo. Sebagai tontonan anak-anak, ya boleh jadi oke-oke saja. Namun tak bisa dipungkiri, plot cerita, karakter tokoh, rasionalitas adegan dan narasi-narasi dialognya masih jauh di bawah serial Upin dan Ipin. Bukan berusaha memihak, tetapi faktanya semacam itu. Lemahnya plot-plot tiap episode itu membuat kita (atau setidaknya _ulun_) berpikir, apakah tidak ada orang yang memiliki ide lebih kreatif dalam membangun ceritanya.
_Ulun_ belum pernah menonton secara utuh film “Jumbo”, namun dari beberapa potongan film yang ada, _ulun_ kira kualitas animasinya sudah jauh lebih baik dari beberapa tahun terakhir. Namun tiba-tiba _euforia_ itu diruntuhkan dengan rilisnya teaser film “Merah Putih, One For All” yang di proyeksikan akan menjadi tontonan pada rangkaian hari jadi ke-80 kemerdekaan. Film animasi ini konon akan ditayangkan secara serentak di bioskop pada tanggal 14 Agustus 2025 yang akan datang.
Tanpa perlu kita ahli dalam soal animasi atau memiliki kemampuan animator pun barangkali bisa menilai sejelek apa garapan visual animasi film ini. Jika membandingkan pasca tayangnya film animasi "Jumbo" yang cukup banyak diterima masyarakat, maka film animasi “Merah Putih, One For All” membuat semua orang yang peduli jadi tertegun. Bukan sekadar heran, tapi boleh jadi sampai pada level menyesali. Apalagi dari kabar yang beredar biaya produksi film ini memakan dana lebih dari 6 milyar.
_Ulun_ tidak mengetahui apakah dana itu dana mandiri pihak rumah produksi atau memakai dana (anggaran) pemerintah, namun jika yang mendanai ternyata pemerintah melalui APBN atau APBD, maka akhirnya kita akan sadar dan merasa ‘wajar’ bahwa pembuatan film animasi ini digarap _babaya_ saja. Jikapun dana sponsor atau investor, nampaknya ekspektasi bahwa penjualan tiket bioskop akan menutup biaya produksi jadi ranah perjudian yang sangat beresiko.
Di banua sendiri, sudah beberapa kali pembuatan film yang di dalamnya ada keterlibatan APBD. Alhasil sudah bisa ditebak bahkan akan bisa dipastikan gagal atau tidak sesuai ekspektasi. Terakhir, garapan film _“Jendela Seribu Sungai”_ juga boleh dibilang tidak terlalu sukses. Terlalu banyak kelemahan yang bisa diungkapkan meskipun kita juga patut apresiasi atas usaha produksi film ini. Bahwa kemudian ini sebagai bentuk dukungan pemerintah dalam industri perfilman juga hal patut kita hargai. Namun kita juga tidak menampik, setiap yang terkait ‘proyek’ pemerintah akan memaksa kita masuk pada ‘wilayah abu-abu’ yang berakibat pada mempertaruhkan hasil akhir atau kualitas produksinya.
Persoalan _babaya hingkat_ ini, jika terkait dana-dana pemerintah nyatanya tidak hanya bicara di sektor infrastruktur atau pengadaan barang jasa sejenisnya, bahkan sektor industri seni dan budaya pun bisa saja terperangkap dalam pola permainan yang sama. Tak terkecuali soal produksian film tadi. Setidaknya, secara logika saja, pihak produser atau sineas yang terlibat tidak (terlalu) dibebani untuk mengembalikan modal produksi, toh ini proyek, _kok._ Mereka sadar bahwa potensi ruginya minim bahkan boleh saja tidak ada. Beda cerita jika ini dibiayai oleh investor, produser, atau rumah produksi swasta yang mau tidak mau mereka akan memasang spekulasi taruhan tiap memproduksi filmnya.
_Ulun_ kira, jika film animasi “Merah Putih, One For All” dikerjakan dengan motivasi asal ada, _babaya_ sahaja, maka justru ini akan jadi terasa aneh. Sudahlah garapan audio dan visual animasinya di bawah standart, plot ceritanya pun (jika tak khilaf) sangat, sangat lemah yang hanya bercerita soal kehilangan selembar bendera merah putih. Apakah penggarap film ini terlampau miskin ide atau bagaimana, entahlah. Harapannya, yang pasti jangan sampai alasan garapan _babaya hingkat_ ini akibat terkena sindrom sarjana pasar pramuka. Alih-alih bisa dibanggakan, justru jadi bahan tertawaan di dunia animasi dan perfilman.
_(Kayla Untara, 09/08/2025)_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Admin;
Copyright @Catatan Edwan Ansari