Orang boleh saja menyembunyikan niatnya, membungkus wajahnya dengan senyum palsu, atau memakai pakaian serapi-rapinya agar terlihat terhormat. Tapi kata-kata tak pernah bisa berbohong. Apa yang sering keluar dari mulut seseorang, itulah jendela kecil menuju isi kepalanya — bahkan isi hatinya.
Aku sudah lama memperhatikan itu. Kau dengarkan baik-baik orang yang suka menyebut segalanya ‘bodoh’, ‘sia-sia’, ‘tidak mungkin’ — biasanya hidupnya memang dipenuhi rasa kalah sebelum berperang. Sementara mereka yang kata-katanya sederhana, tapi sering kau dengar ‘bisa’, ‘mencoba’, ‘baik’, ‘adil’, meski hidupnya tidak selalu mudah, paling tidak hatinya sedang berjuang melawan kenyataan.
Karakter bukan dibaca dari apa yang ditulis orang di biodata. Bukan pula dari ijazah atau gelar. Karakter itu meluncur diam-diam lewat obrolan sehari-hari. Dari caranya menggambarkan orang lain, dari caranya berbicara tentang dunia, dari caranya memberi nama pada kesulitan. Kata sifat itu kecil, tapi di baliknya terselip isi kepalanya: pesimis atau optimis, rendah hati atau sombong, jujur atau penuh tipu daya.
Bangsa ini pun begitu. Kita bisa lihat wajah asli masyarakat kita dari kata-kata yang mengisi beranda, televisi, mimbar-mimbar kekuasaan. Kalau isinya caci maki, hinaan, rasa putus asa — itulah cermin kita. Kalau yang tumbuh adalah kata-kata tentang harapan, tentang kerja, tentang keberanian, berarti ada yang sedang kita perjuangkan bersama.
Maka berhati-hatilah dengan kata-kata. Karena di sanalah karakter bertelur, tumbuh, lalu perlahan menentukan jalan hidupmu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Admin;
Copyright @Catatan Edwan Ansari