Jumat, Januari 17, 2025

Mengenang Guru Danau Termasuk Salah Satu Murid Abah Guru Sekumpul.. 🔜 RIWAYAT 🔙 KH. ASMUNI (Guru Danau)

  Mengenang Guru Danau Termasuk Salah Satu Murid Abah Guru Sekumpul..


🔜 RIWAYAT 🔙

KH. ASMUNI (Guru Danau)


Guru Danau panggilan akrab bagi Tuan Guru Asmuni. Nama “Danau” yang dilekatkan pada dirinya sebenarnya merupakan nama singkat dari tempat kelahiran dan tempat tinggalnya, Danau Panggang. Danau Panggang merupakan salah satu Kecamatan di daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara yang terletak sekitar 24 km dari kota Amuntai.


Guru Danau dilahirkan pada tahun 50-an di Danau Panggang. Ada yang menulis tahun 1951, tahun 1955, dan adapula yang menulis 1957 sebagai tahun kelahirannya. Ayahnya bernama Haji Masuni dan ibunya bernama Hajjah Masjubah. Dia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara. Ayahnya berasal dari daerah Danau Panggang sedang ibunya berasal dari daerah Marabahan yang pindah ke Danau Panggang.


Guru Danau hidup di lingkungan keluarga yang sederhana dan taat beragama. Orang tuanya dahulu bekerja sebagai buruh kapal atau buruh angkut dengan pendapatan yang pas-pasan. Pendapatan yang pas-pasan itu tidak menghalangi semangat orangtuanya untuk membiayai pendidikan anaknya.


Guru Danau menempuh pendidikan tingkat dasar di Madrasah Ibtidaiah di lingkungan Pesantren Mu’alimin Danau Panggang dan Madrasah Tsanawiyah Pesantren Mu’alimin Danau Panggang. Setelah itu dia meneruskan studinya di tingkat atas (aliyah/ulya) di Pesantren Darussalam Martapura. Selama belajar di Pesantren Darussalam, Guru Danau juga belajar dengan sejumlah ulama berpengaruh (tuan guru) yang bertebaran di wilayah Martapura, diantaranya adalah Tuan Guru Semman Mulya, Tuan Guru Royanidan Tuan Guru Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Ijai. Bahkan setelah memilik pengajian dan pesantren sendiri, secara rutin Guru Danau tetap mengikuti pengajian Guru Ijai di Martapura baik ketika masih di Keraton (Langgar Darul Aman) maupun setelah pindah ke Sekumpul (Langgar Arraudah). Guru Danau terus mengikuti pengajian Guru Ijai sampai sang guru meninggal dunia pada tahun 2005.


Setelah tamat di pesantren Darussalam, Guru Danau sempat pulang ke kampung halamannya. Tidak lama kemudian, pada tahun 1978, atas anjuran Guru Ijai dia kembali belajar di Pesantren Datuk Kalampaian Bangil di Jawa Timur. Di sini dia belajar dengan ulama Kharismatik keturunan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, yaitu Kyai Haji Muhammad Syarwani Abdan (w. 1989). Dengan ulama besar ini, Guru Danau mendapat bimbingan spiritual (suluk) dan belajar secara khusus dengan Guru Bangil dalam waktu tertentu.


Selain ke Bangil, Guru Danau juga berkunjung kesejumlah wilayah di Pulau Jawa seperti Pasuruan, Jember, Malang, Wonosobo, Purwokerto, Solo, dan Yogyakarta menemui ulama dan habaib yang ada di sana. Di antara ulama atau haba`ib yang beliau datangi adalah KH. Hamid Pasuruan, Habib Saleh al-Hamid Jember, Mbah Malik Purwokerto, Kyai Syakur Wonosobo, Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih Malang, Habib Anis al-Habsyi Solo, Habib Ahmad Bafaqih Tempel Yogyakarta. Dengan ulama dan haba`ib ini, Guru Danau belajar sejumlah ilmu, amalan dan mengambil tarekat tertentu. Kegiatan bersilaturahmi dan belajar singkat dengan sejumlah ulama dan haba`ib di Jawa ini dilakukan oleh Guru Danau untuk mendapat berkah ilmu dengan bertemu dan belajar kepada mereka.


Pada tahun 1980, Guru Danau menikah dengan Hj. Jamilah binti Maskur yang berasal dari Bitin. Dari perkawinannya itu, beliau memperoleh tiga belas orang anak (tujuh putra dan enam putri). Nama anak-anaknya adalah Wahid, Ladaniah, Musanna, Mufidah, Muktiah, Noor’Ainah, Noorhasanah, Haudi, Syahli, Mujiburrahman, Mujahidah, Syamsuddin dan M. Naseh.


Guru Danau membuka pengajian agama di Desa Bitin pada tahun 1980 dan mengajar di Pesantren Salatiah. Pada tahun 1981, dia kembali membuka pengajian di kampung halamannya sendiri, Danau Panggang. Guru Danau menceritakan, ketika ingin membuka pengajian, Guru Danau terlebih dahulu meminta izin kepada Guru Ijai. Sang Guru mengizinkan dengan syarat tidak boleh bapintaan (meminta dana dari masyarakat), harus memakai halat (dinding) yang memisahkan laki-laki dan perempuan, dan harus ikhlas. Agar seorang guru dapat ikhlas mengajar, dia harus memiliki kemandirian ekonomi. Dengan kemandirian ini, seorang guru dapat berkonsentrasi mengajar dan berdakwah tanpa mengharap imbalan uang.


Pada tahun-tahun awal, peserta pengajian Guru Danau di Bitin dan Danau Panggang tidak banyak. Namun lama kelamaan jumlahnya semakin meningkat hingga mencapai ribuan orang. Pengajian di Bitin dan Danau Panggang dihadiri jamaah sekitar 3 hingga 6 ribuan. Pengajian di Bitin dilaksanakan pada Sabtu malam (malam Minggu) sedang di Danau Panggang dilaksanakan pada Senin Malam. Di Bitin, pusat pengajian bertempat di rumah Guru Danau di sekitar Pasar Bitin. Karena tidak ada lapangan yang luas, ribuan jamaah pengajian menempati teras dan halaman rumah penduduk sekitar. Banyak dari mereka yang duduk berbaris di pinggir-pinggir jalan hingga mencapai beberapa kilometer. Hal serupa juga terjadi pada pengajian di Danau Panggang. Pusat pengajian bertempat di Mushalla Darul Aman (nama yang sama dengan Langgar Darul Aman tempat Guru Ijai mengajar) yang tepat berada di samping rumah Guru Danau.


Selain mengasuh kedua pengajian besar di atas Guru Danau juga mendirikan dan membina beberapa pesantren. Pada tahun 1982, ia mendirikan pesantren Darul Aman di Kecamatan Babirik (Hulu Sungai Utara). Nama Darul Aman sendiri mengikuti nama Langgar Darul Aman di Keraton tempat Guru Ijai mengajar. Guru Danau juga menamai mushalla di samping rumahnya dengan nama Darul Aman, sama dengan nama langgar gurunya di Keraton Martapura. Pesantren lain yang dibinanya adalah Pesantren Raudatus Sibyan di Desa Longkong Kecamatan Danau Panggang dan Pesantren Ar Raudah I di Jaro Tabalong dan Ar Raudah II di Pangkalanbun.


Pada dekade 1990-an (sekitar 1998), seiring dengan semakin meluasnya pengaruh dan popularitasnya, Guru Danau kembali membuka pengajian di Mabuun Tanjung (Kabupaten Tabalong). Menurut cerita Guru Danau, pada awalnya, Mabuun merupakan sarang pelacuran dan perjudian. Guru Danau berusaha memberantas penyakit sosial ini dengan cara menghubungi pihak-pihak berwenang untuk menutupnya. Namun usaha ini tidak berhasil. Dia mengubah strategi. Dia tidak lagi mengharapkan aparat, tetapi membuka pengajian di tempat itu. Dengan adanya pengajian yang dihadiri oleh ribuan jamaah ini, praktik pelacuran dan perjudian itu tidak mendapat tempat dan berhenti dengan sendirinya. Dengan cara ini, lokasi yang asalnya menjadi tempat maksiat berubah menjadi komplek pengajian.


Pengajian di Mabuun, pengajian ketiga yang diasuh oleh Guru Danau, kemudian menjadi pengajian Guru Danau yang terbesar karena dihadiri oleh puluhan ribu jamaah, ada yang menyebutnya mencapai 40 ribuan jamaah. Kuantitas jamaah yang hadir di tempat ini jauh lebih besar dibanding pengajian di Danau Panggang dan Bitin. Hal ini didukung oleh Komplek pengajian Guru Danau di Mabuun yang memiliki area yang lebih luas kondisinya dibanding pengajian di Bitin dan Danau Panggang sehingga memungkinkan menampung puluhan ribu jamaah. Dengan kuantitas jamaah yang mencapai puluhan ribu jamaah ini, Pengajian Guru Danau di Mabuun disebut-sebut sebagai pengajian terbesar di kawasan Banua Anam.


Pengajian di Mabuun dilaksanakan pada malam Rabu setiap setengah bulan sekali. Guru Danau menyatakan, jarak setengah bulan sekali dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada jamaah pengajian untuk mengumpulkan uang untuk keperluan transportasi mendatangi tempat pengajian. Jamaah yang bertempat tinggal di kawasan Amuntai, Paringin, atau yang berada di kawasan Kalimantan Tengah memiliki persiapan yang lebih luas untuk menghadiri pengajian di Mabuun. Jarak waktu pengajian yang ditetapkan oleh Guru Danau ini cukup membantu sebagian jamaah pengajiannya yang merupakan orang-orang yang memiliki tingkat ekonomi yang rendah. Bagi murid-muridnya yang memiliki tingkat ekonomi menengah ke atas, mendatangi pengajian di Mabuun bukan merupakan persoalan karena mereka memiliki kendaraan pribadi yang dapat digunakan setiap saat. Karena itu, tidak mengherankan, jika sekitar pengajian Guru Danau di Mabuun berjejer mobil dengan jumlah mencapai ratusan buah.


Materi pengajian yang disampaikan oleh Guru Danau di beberapa pengajiannya meliputi materi tauhid, fiqih, tasawuf, hadis, tafsir, kisah-kisah dan lainnya. Dari beberapa kitab yang dikaji, materi tasawuf tampaknya lebih dominan. Beberapa kitab yang pernah diajarkan oleh Guru Danau di pengajiannya, diantaranya adalah Irsyad al-‘Ibad (Zainuddin al-Malibari), Nasha`ih al-‘Ibad (Nawawi al-Bantani), Muraqi al-‘Ubudiyyah (Nawawi al-Bantani), Risalah al-Mu’awanah (Abdullah al-Haddad), Nasha`ih al-Diniyyah (Abdullah al-Haddad), Tuhfah al-Raghibin (Muhammad Arsyad al-Banjari), Syarah Sittin (Ahmad Ramli), Tanqih al-Qawl (Nawawi al-Bantani). Dilihat dari daftar kitab yang digunakan, Guru Danau lebih banyak menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab daripada kitab Arab-Melayu. Walaupun begitu, pengajiannya tetap mudah diikuti oleh jamaah karena isi kitab-kitab itu diterjemahkan dan diberi penjelasan yang ‘ringan’ oleh Guru Danau.


Cara penyampaian Guru Danau dalam pengajian maupun ceramahnya cukup unik. Guru Danau termasuk ulama yang sangat humoris. Dalam setiap ceramah atau pengajiannya dia selalu menyampaikan cerita-cerita lucu, jokes, pantun-pantun, dan singkatan yang diplesetkan yang memancing tawa. Bahkan, Guru Danau tidak segan bercanda dengan murid-muridnya yang berada pada baris depan. Baginya, humor itu penting disisipkan dalam ceramah pengajian agar orang awam dan orang tua dapat terus mengikuti pengajian tanpa merasa bosan dan berat.


Dalam menyajikan isi kitab pengajian, Guru Danau hanya membaca beberapa baris saja. Tetapi penjelasannya cukup luas dan terkadang tidak selalu terfokus dan relevan dengan substansi kitab atau teks yang dibaca karena banyak disisipi oleh cerita, humor, ilustrasi, canda dan sebagainya. Teknik seperti ini tampaknya sangat disukai oleh jamaahnya. Selain mendapat tuntunan, mereka juga mendapat ‘hiburan’ yang menyenangkan. Teknik ini merupakan salah satu daya tarik orang untuk menghadiri pengajian Guru Danau.


Cara penyampaian Guru Danau juga didukung oleh bahasa yang dominan digunakannya, yaitu bahasa Banjar. Bahasa ini merupakan bahasa yang digunakan mayoritas jamaahnya. Penggunaan bahasa lokal ini kemudian dibumbui dengan contoh-contoh dan Ilustrasi-ilustrasi yang pas dengan kondisi lokalitas sosiobudaya dan keseharian masyarakat sekitar sehingga isi ceramahnya sangat merakyat. Dengan cara seperti ini materi yang disampaikannya mudah dipahami oleh jamaahnya yang berasal dari berbagai lapisan sosial.


Walaupun penyampaian materi dakwahnya sederhana dan mudah dipahami tidak lantas dia dinilai sebagai ulama biasa. Sebagai ulama yang lahir dari lulusan pesantren ternama seperti Pesantren Darussalam yang diakui kualitasnya dalam memproduksi ulama, dia juga merupakan produk dari sejumlah ulama besar, seperti Guru Ijai dan Guru Bangil yang otoritas keulamaannya diakui dan memiliki pengaruh besar. Apalagi, Guru Danau sendiri merupakan salah satu murid Guru Ijai yang dikader untuk meneruskan tradisi keulamaan gurunya di kawasan Hulu Sungai. Karena itu, tidaklah mengheran jika beberapa gaya berceramah dan tradisi pengajian Guru Danau seperti pembacaan Maulid al-Habsyi menjelang pengajian merupakan hasil ‘peniruan’ dari tradisi Guru Ijai. Ketika Guru Ijai wafat, para jamaah pengajiannya di kawasan Hulu Sungai segera mendapat figur pengganti yang mewarisi sebagian kharisma Guru Ijai, yaitu Guru Danau.


Meski mengasuh 3 pengajian besar dan 4 pesantren, dan sibuk berdakwah di mana-mana, Guru Danau bukanlah tuan guru yang hanya terpaku pada aktivitas mengajar dan berdakwah. Guru Danau merupakan sosok ulama yang aktif bekerja dan berbisnis. Sejak muda ia sudah sibuk bekerja. Berbagai usaha telah beliau lakukan, seperti bertani, berdagang dan bisnis lainnya. Dengan kegigihannya berbisnis, beliau dikenal juga sebagai ulama yang memiliki kekayaan dan penghasilan besar dari beberapa usaha bisnisnya. Dari beberapa bisnis Guru Danau yang terpenting adalah usaha emas dan sarang burung walet di daerah Tanjung. Usaha ini terutama usaha sarang burung walet mendatangkan keuntungan besar. Dari usaha sarang burung walet Guru Danau dapat meraih keuntungan milyaran rupiah. Usaha burung walet ini dipelajarinya dari seorang habib di Jawa. Usaha lainnya adalah membeli tanah sebagai investasi. Tanah itu bisa dijual suatu saat.


Dengan pendapatan yang besar dari bisnisnya, wajar jika Guru Danau menjadi orang kaya. Dia memiliki banyak rumah dan memiliki beberapa mobil mewah (Alphard). Dengan mobil Alphard yang dimilikinya, dia dapat bepergian ke mana-mana dengan nyaman. Walaupun memiliki ini semua, Guru Danau tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja. Rezeki yang cukup berlimpah ini tidak digunakan untuk bermegah-megah. Tetapi digunakannya untuk kepentingan dakwah Islam. Menurutnya, mereka yang mengurusi akhirat tidak seharusnya kalah dengan mereka yang mengurusi masalah dunia. Ulama yang memiliki usaha dan kekayaan sendiri akan lebih ikhlas dalam berdakwah dan mengajar karena tidak memiliki kepentingan untuk mendapat bayaran dari jamaahnya.


Dengan kemandirian dan kekayaan yang dimilikinya, Guru Danau dapat membiaya semua pembangunan komplek pengajian dan pesantren yang didirikannya tanpa bantuan pihak lain. Dia tidak mau meminta bantuan dana dari masyarakat (bapintaan) karena khawatir ada yang tidak ikhlas. Demikian juga dia tidak mau menerima dana yang berasal dari pemerintah dan partai politik. Menurutnya, jika satu kali saja mendapat bantuan pemerintah, ulama tidak bisa lagi untuk menasihati penguasa. Bahkan cenderung untuk dimanfaatkan oleh mereka yang memiliki kepentingan tertentu. Kemandirian inilah yang membuat dirinya tidak bisa diintervensi dan didikte oleh penguasa dan partai politik.


Menjadi ulama yang kaya dan mandiri pada figur Guru Danau tidak hanya disebabkan oleh faktor kegigihannya dalam berusaha, tetapi juga terinspirasi oleh sosok gurunya, Guru Ijai, yang juga menjadi ulama yang kaya. Guru Danau termasuk salah satu murid Guru Ijai yang berhasil meniru gurunya pada sisi ini. Tidak banyak murid Guru Ijai yang dapat mengikuti jejaknya seperti Guru Danau.والله عالم بشواب


رَبِّ فَانْفَعْنَا بِبَرْكَتِهِمْ * وَاهْدِنَا الْحُسْنَى بِحُرْمَتِهِمْ

وَأَمِتْنَا فِى طَرِيْقَتِهِمْ * وَمُعَافَاةٍ مِنَ الْفِتَنِ🤲🏻

Sabtu, Januari 11, 2025

Catatan Obat

 



































Makam Tuan Guru H. Muhammad Aini bin H. Ali Al Banjari (Pendiri Pondok Pesantren Subulussalam).

Makam Tuan Guru H. Muhammad Aini bin H. Ali Al Banjari (Pendiri Pondok Pesantren Subulussalam).






Letak: Desa Pematang Karangan, Kecamatan Tapin Tengah, Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan.


Tuan Guru H. Muhammad Aini atau yang lebih dikenal dengan sebutan Guru Ayan dilahirkan di Desa Pematang Karangan pada hari Rabu menjelang Shubuh tanggal 12 Rabi'ul Awwal 1352 H bertepatan dengan 5 Juli 1933 M, beliau anak tertua dari tiga orang bersaudara, ayah beliau bernama H. Ali bin H. Sanusi dan ibu beliau bernama Hj. Basrah binti Tuan Guru H. Badaruddin. Kedua orangtua beliau merupakan orang yang taat beragama dan memperhatikan pentingnya pendidikan agama, sehingga hal ini menjadi salah satu faktor pendukung keberhasilan beliau dalam menuntut ilmu pengetahuan agama. Beliau adalah keturunan generasi kelima dari Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datu Kalampayan, adapun nasab beliau yaitu Tuan Guru H. Muhammad Aini bin H. Ali bin H. Sanusi bin Shalihah binti Khalifah H. Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.


Pendidikan formal beliau dimulai ketika bersekolah di Sekolah Rakyat yang terletak di Desa Pandahan, kemudian beliau melanjutkan belajarnya ke Madrasah Kulliyatul Mu'allimin di Kampung Tambaruntung selama lima tahun. Di samping itu, beliau juga aktif belajar ilmu agama di rumah guru-gurunya, di antaranya adalah:


1. Tuan Guru H. Abdullah Shiddiq, pernah belajar di Makkah sekitar 10 tahun.

2. Tuan Guru H. Hidayatullah.

3. Tuan Guru H. Syamsuni (Tambaruntung).

4. Tuan Guru H. Ali Mansyur (Timbaan).

5. Tuan Guru H. Mahfuzh (Mandurian).

6. Tuan Guru H. Asy'ari (Serawi).

7. Tuan Guru H. Asmuni (Tambaruntung).

8. Tuan Guru H. Bijuri, guru sekaligus mertua beliau.


Setelah tamat dari Madrasah Kulliyatul Mu'allimin, beliau kemudian meneruskan belajarnya ke Pondok Pesantren Darussalam Martapura dari tahun 1950 M sampai 1956 M. Adapun di antara guru-guru beliau, yaitu:


1. Tuan Guru H. Muhammad Samman Mulia.

2. Tuan Guru H. Muhammad Syarwani Abdan.

3. Tuan Guru H. Husin Qadri.

4. Tuan Guru H. Salman Jalil.

5. Tuan Guru H. Muhammad Salim Ma'ruf.

6. Tuan Guru H. Salman Yusuf.

7. Tuan Guru H. Muhammad Ramli.

8. Tuan Guru H. Azhari.

9. Tuan Guru H. Marzuki.

10. Tuan Guru H. Nashrun Thahir.


Setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam, beliau kembali ke kampung halamannya. Beliau kemudian menikah dengan Hj. Aminah binti Tuan Guru H. Bijuri dan dikaruniai sembilan orang anak, yaitu: H. Ibrahim, Hj. Rahmah, H. Muhammad Hasnan, H. Muhammad Syahminan, Hj. Hamdanah, H. Muhammad Thahir Zaki, Hj. Rafiqah, Hj. Arfah, dan Hj. Rajabiah.


Mertua beliau yaitu Tuan Guru H. Bijuri adalah seorang ulama di Desa Pematang Karangan yang memimpin pengajian di Mushalla Darul Aman. Ketika Tuan Guru H. Bijuri wafat pada tahun 1969 M, maka beliaulah yang kemudian menggantikan posisi mertuanya itu memimpin pengajian di mushalla tersebut. Pengajian itu kemudian berkembang pesat dan menjadi besar serta dihadiri ribuan jamaah.


Selain di Mushalla Darul Aman, beliau juga sering memenuhi permintaan masyarakat untuk mengadakan pengajian di tempat-tempat lain seperti di masjid, mushalla, dan sekolah-sekolah. Beliau juga rajin memberikan ceramah di berbagai tempat dalam acara tertentu baik bertempat di masjid, mushalla, sekolah, maupun kantor-kantor pemerintahan. Popularitas beliau pun semakin meluas sehingga dikenal tidak hanya di wilayah Kalimantan Selatan, tetapi juga di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.


Meski sudah menjadi ulama terkenal dan kharismatik, beliau tetap rajin menuntut ilmu kepada Abah Guru Sekumpul di Martapura. Demi belajar kepada Abah Guru Sekumpul, beliau sampai beberapa kali mengubah jadwal pengajiannya. Tercatat selama kurang lebih 24 tahun beliau berguru kepada Abah Guru Sekumpul, dimulai sejak tahun 1976 M sampai wafatnya pada tahun 2000 M.


Setelah berhasil mengembangkan pengajiannya, beliau kemudian melihat perlunya pendirian lembaga pendidikan dalam bentuk pesantren. Atas dukungan dari berbagai pihak termasuk keluarga dan masyarakat, akhirnya beliau mendirikan Pondok Pesantren Subulussalam pada hari Sabtu tanggal 24 Dzulqa'dah 1405 H bertepatan dengan 10 Agustus 1985 M.


Pada fase awal, pesantren ini belum memiliki gedung dan hanya meminjam Balai Desa sebagai tempat belajar, jenjang pendidikan pun masih pada tingkat Madrasah Diniyah Awwaliyah. Pada tahun 1990 M, pesantren ini mulai berkembang dan membuka jenjang pendidikan baru yaitu tingkat Madrasah Diniyah Wustha. Pada fase berikutnya, pesantren ini berkembang pesat hingga memiliki ribuan santri dan jumlah kelas yang terus bertambah. Pada tahun 2005 M, tercatat santri Pondok Pesantren Subulussalam mencapai 2.152 orang dengan jumlah guru sebanyak 33 orang dan 33 kelas.


Tuan Guru H. Muhammad Aini berpulang ke rahmatullah pada malam Senin tanggal 21 Jumadil Ula 1421 H bertepatan dengan 20 Agustus 2000 M dalam usia kurang lebih 67 tahun.


Al Fatihah...


رب فانفعنا ببركتهم واهدنا الحسنى بحرمتهم وأمتنا في طريقتهم ومعافاة من الفتن.



Selasa, Januari 07, 2025

Muhammad Edwan Ansari

 Muhammad Edwan Ansari



Makam Penghulu Muda Yuda Lalana (Syaikh Abu Sulaiman Safjana).

Makam Penghulu Muda Yuda Lalana (Syaikh Abu Sulaiman Safjana).




Letak: Jalan Sarigading, Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan (Belakang Majelis Taklim Darul Khairat).


Penghulu Muda Yuda Lalana adalah seorang penyebar ilmu agama, seorang yang sangat dekat dengan Tuhannya, pengayom dan pemimpin masyarakat pada zamannya. Penghulu Muda Yuda Lalana hanyalah gelar, nama aslinya hingga kini masih menjadi tanda tanya. Beliau mempunyai banyak gelar, tapi beliau lebih suka dipanggil dengan sebutan Yuda Lalana. Adapun gelarnya yang lain ialah Syaikh Abu Sulaiman Safjana.


Kiprahnya sungguh tidak asing di ingatan masyarakat Banua, lebih khusus di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Beliau merupakan pemimpin gerakan Baratib Baamal yang beranggotakan sekitar 200 orang di Desa Jatuh, sebuah gerakan yang dibentuk untuk melawan penjajah Belanda. Penghulu Muda Yuda Lalana selalu memakai jubah kuning, sementara pasukannya memakai jubah putih.


Baratib Baamal secara etimologi berarti berdzikir dan beramal, melakukan sebuah perbuatan yang diiringi dengan dzikir dan doa memohon kebaikan. Pada masa itu, gerakan Baratib Baamal mengajarkan kepada pengikutnya bahwa perjuangan tidak hanya mengandalkan pertahanan fisik dengan berbagai macam jenis persenjataan saja, tapi juga mesti disertai dengan mengisi batin dan memohon perlindungan Allah SWT.


Seperti halnya di daerah lain, di Kabupaten Hulu Sungai Tengah pun pemimpin gerakan Baratib Baamal juga mengeluarkan fatwa bahwa perang melawan penjajah Belanda adalah jihad fi sabilillah. Yang berarti apabila gugur dalam perang, maka akan mendapatkan mati syahid dan digolongkan ke dalam barisan para syuhada.


Untuk mengatur strategi perlawanan, Penghulu Muda Yuda Lalana dan pasukannya menjadikan Masjid Al A'la sebagai markas. Masjid Al A'la sendiri didirikan dari tanah hasil wakaf Penghulu Muda Yuda Lalana, beliau sekaligus menjadi pembina pertama masjid tersebut.


Selain sebagai pejuang, Penghulu Muda Yuda Lalana ternyata juga membina majelis taklim yang bernama Ainur Ridha, sebuah majelis taklim tua yang berperan besar dalam perkembangan Islam di Bumi Murakata.


A. Pertempuran 5 Desember 1861 M


Ketika Belanda memperoleh informasi tentang gerakan Baratib Baamal di Desa Jatuh, pada tanggal 5 Desember 1861 M, Belanda menyerbu Desa Jatuh di bawah pimpinan Van der Hayden, Koch, dan opsir lainnya. Ketika serdadu Belanda tiba, mereka disambut dengan serangan secara tiba-tiba dari pasukan Penghulu Muda Yuda Lalana. Dengan teriakan Allahu Akbar, pasukan Penghulu Muda Yuda Lalana menyerbu dengan parang terhunus.


Serangan pertama yang keluar secara tiba-tiba dari semak-semak kebun lada sempat dibalas oleh serdadu Belanda dengan lontaran meriam, sehingga ada korban syahid waktu itu. Serangan mengejutkan itu bukanlah serangan yang terakhir, melainkan masih ada serangan lanjutan. Bahkan seolah-olah tidak ada dari pasukan Penghulu Muda Yuda Lalana yang gugur.


Van der Hayden kemudian memerintahkan kepada pasukannya agar menembakkan meriam secara serempak, namun sungguh sangat aneh tiba-tiba bedil dan meriam tidak berbunyi dan pistol Van der Hayden pun juga ikut membisu. Ketika bedil dan meriam Belanda tidak bisa lagi memuntahkan pelurunya, saat itulah dengan cepat pasukan Penghulu Muda Yuda Lalana menghabisi pasukan Belanda. Penghulu Muda Yuda Lalana yang berjubah kuning dan memakai serban putih mengayunkan tombak ke arah Van der Hayden, pemimpin Belanda itu dapat diselamatkan oleh bawahannya yakni Koch. Tetapi justru Koch yang kena tombak dari Penghulu Muda Yuda Lalana, Koch akhirnya tewas. Pertempuran usai setelah kedua belah pihak berjatuhan korban.


B. Pertempuran 26 Desember 1861 M


Pertempuran selanjutnya terjadi pada 26 Desember 1861 M, pasukan Baratib Baamal berpusat di sekitar Masjid Al A'la, sedangkan pasukan Belanda berpusat di rumah Pambakal. Pertempuran berlangsung beberapa lama dan menimbulkan korban dari kedua belah pihak, dalam pertempuran ini Van der Hayden tewas, sementara Penghulu Muda Yuda Lalana dapat terhindar dari maut.


Gerakan Baratib Baamal berkembang pesat di daerah Amuntai, Balangan, dan Tabalong; menjadi pusat perlawanan yang sangat ditakuti oleh Belanda. Untuk mengantisipasi gerakan ini, Belanda mengutus para ulama dan Mufti untuk mencegah agar rakyat jangan ikut melawan Pemerintah Belanda. Namun sebaliknya, para ulama dan Mufti yang diutus oleh Belanda justru memberi restu dan doa kepada mereka yang ikut berjuang.


Al Fatihah...


رب فانفعنا ببركتهم واهدنا الحسنى بحرمتهم وأمتنا في طريقتهم ومعافاة من الفتن.



Sabtu, Desember 21, 2024

𝗗𝗔𝗙𝗧𝗔𝗥 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗚𝗜𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗞𝗔𝗠 𝗔𝗨𝗟𝗜𝗔, 𝗨𝗟𝗔𝗠𝗔, 𝗗𝗔𝗡 𝗨𝗠𝗔𝗥𝗔 𝗗𝗜 𝗞𝗔𝗟𝗜𝗠𝗔𝗡𝗧𝗔𝗡

 𝗗𝗔𝗙𝗧𝗔𝗥 𝗦𝗘𝗕𝗔𝗚𝗜𝗔𝗡 𝗠𝗔𝗞𝗔𝗠 𝗔𝗨𝗟𝗜𝗔, 𝗨𝗟𝗔𝗠𝗔, 𝗗𝗔𝗡 𝗨𝗠𝗔𝗥𝗔 𝗗𝗜 𝗞𝗔𝗟𝗜𝗠𝗔𝗡𝗧𝗔𝗡 



1. Sultan Suriansyah bin Raden Mantri Alu (Sultan Banjar I).

2. Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah (Sultan Banjar II).

3. Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah (Sultan Banjar III).

4. Sultan Musta'in Billah bin Sultan Hidayatullah (Sultan Banjar IV).

5. Sultan Inayatullah bin Sultan Musta'in Billah (Sultan Banjar V).

6. Sultan Sa'idillah bin Sultan Inayatullah (Sultan Banjar VI).

7. Sultan Tahlilullah bin Sultan Sa'idillah (Sultan Banjar VII).

8. Sultan Tahmidullah bin Sultan Tahlilullah (Sultan Banjar VIII).

9. Sultan Hamidillah bin Sultan Tahmidullah (Sultan Banjar IX).

10. Sultan Tamjidillah bin Sultan Tahmidullah (Sultan Banjar X).

11. Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah bin Sultan Hamidillah (Sultan Banjar XI).

12. Sultan Tahmidillah bin Sultan Tamjidillah (Sultan Banjar XII).

13. Sultan Sulaiman Rahmatullah bin Sultan Tahmidillah (Sultan Banjar XIII).

14. Sultan Adam Al Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman Rahmatullah (Sultan Banjar XIV).

15. Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam Al Watsiq Billah (Sultan Banjar XV).

16. Tuan Guru H. Jamaluddin bin H. Afif (Pendiri Ponpes Darussalam/Pimpinan Darussalam I).

17. Tuan Guru H. Hasan Ahmad bin Ahmad (Pimpinan Darussalam II).

18. Tuan Guru H. Muhammad Kasyful Anwar bin H. Ismail (Pimpinan Darussalam III).

19. Tuan Guru H. Abdul Qadir Hasan bin H. Hasan Ahmad (Pimpinan Darussalam IV).

20. Tuan Guru H. Muhammad Sya'rani bin H. Muhammad Arif Al Banjari (Pimpinan Darussalam V).

21. Tuan Guru H. Muhammad Salim Ma'ruf bin H. Ma'ruf (Pimpinan Darussalam VI).

22. Tuan Guru H. Badruddin bin Tuan Guru H. Ahmad Zaini (Pimpinan Darussalam VII).

23. Tuan Guru H. Abdussyukur bin Anang Acil (Pimpinan Darussalam VIII).

24. Tuan Guru H. Khalilurrahman bin Tuan Guru H. Muhammad Salim Ma'ruf (Pimpinan Darussalam IX).

25. Habib Idrus bin Hasan Al Habsyi (Kapten Arab I).

26. Habib Hasan bin Idrus Al Habsyi (Kapten Arab II).

27. Habib Alwi bin Abdullah Al Habsyi (Kapten Arab III).

28. Habib Muhammad bin Abdullah Al Habsyi (Kapten Arab IV).

29. Habib Abdullah bin Husein Al Fakhir As Segaf (Kapten Arab V).

30. Syaikh Muhammad Arsyad bin Abdullah Al Banjari (Datu Kalampayan).

31. Tuan Bajut.

32. Tuan Biduri.

33. Tuan Lipur.

34. Tuan Go Hwat Nio (Guwat) binti Asy'ari (Kapten Kodok).

35. Ratu Aminah binti Pangeran Thaha.

36. Tuan Palung.

37. Qadhi H. Abu Su'ud bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

38. Qadhi H. Abu Na'im bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

39. Syaikh Abdurrahman bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

40. Khalifah H. Hasanuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

41. Khalifah H. Zainuddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

42. Hafshah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

43. Mufti H. Jamaluddin bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

44. Pangeran Mufti H. Ahmad bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

45. Ratu Shafiyah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

46. Salman bin Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

47. Salmah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

48. Salimah binti Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari.

49. Syaikh Muhammad Zaini bin H. Abdul Ghani Al Banjari (Abah Guru Sekumpul).

50. H. Abdul Ghani bin H. Abdul Manaf Al Banjari.

51. H. Abdul Manaf bin Muhammad Samman Al Banjari.

52. Muhammad Samman bin H. Muhammad Sa'ad Al Banjari.

53. H. Muhammad Sa'ad bin H. Abdullah Al Banjari.

54. H. Abdullah bin Mufti H. Muhammad Khalid Al Banjari.

55. Mufti H. Muhammad Khalid bin Khalifah H. Hasanuddin Al Banjari.

56. Mufti H. Muhammad As'ad bin Sayyid Utsman Al Banjari.

57. Al 'Alimatul Fadhilah Fatimah binti Syaikh Abdul Wahab Bugis Al Banjari.

58. Qadhi H. Muhammad Sa'id Jazuli Nambau bin Qadhi H. Abu Su'ud Al Banjari.

59. Maimunah binti Kiyai Sastra Jaya Al Banjari.

60. Abu Hasan bin Qadhi H. Abu Na'im Al Banjari.

61. Syaikh Muhammad Thahir bin Khalifah H. Syihabuddin Al Banjari.

62. Shalihah binti Khalifah H. Syihabuddin Al Banjari.

63. Syaikh Zainal bin Syaikh Abdurrahman Al Banjari (Datu Kalangkala).

64. Qadhi H. Mahmud bin H. Muhammad Yasin Al Banjari.

65. Syaikh H. Muhammad Shalih bin Khalifah H. Hasanuddin Al Banjari.

66. H. Muhammad bin Khalifah H. Hasanuddin Al Banjari (Datu Batalas).

67. H. Muhammad Shalih bin Khalifah H. Zainuddin Al Banjari.

68. Syaikh Muhammad Nashir bin H. Abdullah Al Banjari.

69. Hasanah binti Mufti H. Jamaluddin Al Banjari.

70. Qadhi H. Muhammad Amin bin Mufti H. Jamaluddin Al Banjari.

71. Qadhi H. Abdussamad bin Mufti H. Jamaluddin Al Banjari.

72. Syaikh H. Muhammad Khatib bin Pangeran Mufti H. Ahmad Al Banjari.

73. Sayyid Umar Al Attas Al Maghribi.

74. Sayyid Abdurrahman Al Attas Al Maghribi.

75. Sayyid Abdul Majid Al Attas Al Maghribi.

76. Sayyid Abu Bakar bin Abdullah Jamalullail.

77. Syaikh Ali An Nabhani.

78. Syaikh Aminullah (Datu Bagul).

79. Syaikh Abdullah (Datu Gumbil).

80. Datu Insad.

81. Datu Bangkala.

82. Datu Arjan bin Abdullah.

83. Datu Syarifah.

84. Tuan Guru H. Muhammad Nur bin Tuan Guru H. Ibrahim Khaurani.

85. Tuan Guru H. Ibrahim Khaurani bin Syaikh Muhammad Amin.

86. Syaikh Muhammad Amin bin Syaikh Abdullah Khatib.

87. Syaikh Abdullah Khatib bin Syaikh Abul Hamim.

88. Syaikh Abul Hamim bin Syaikh Abdul Hamid Abulung.

89. Syaikh Abdul Hamid Abulung.

90. Syaikh Maulana Syarif Hidayatullah (Khatib Dayan).

91. Syaikh Maulana H. Abdul Malik (H. Batu).

92. Mangkubumi Aria Taranggana.

93. Pangeran Ratu Adipati Antakesuma bin Sultan Musta'in Billah.

94. Ratu Intan Sari binti Maharaja Sukarama.

95. Gusti Muhammad Arsyad.

96. Sayyid Muhammad bin Husein Al Habsyi.

97. Kiyai Datu H. Bukasyim.

98. Syarifah.

99. Wan Hj. Sa'anah.

100. Anak Keturunan Cina.

101. Pangeran Jaga Baya (Patih Masih).

102. Jaya Buana (Patih Kuin).

103. Qadhi H. Muhammad Thahir bin H. Syihabuddin.

104. Tuan Guru H. Abdul Mu'in bin H. Bahruddin Al Banjari.

105. Datu Ma'ad bin Ali (Datu Rambut Panjang).

106. Tuan Guru H. Ahmad Zuhdiannor bin Tuan Guru H. Muhammad Al Banjari (Abah Guru Zuhdi).

107. Habib Hamid bin Abbas Bahasyim (Habib Basirih).

108. Tuan Guru H. Muhammad Ridwan Baseri bin Hasan Basri Al Banjari (Abah Guru Kapuh).

109. Tuan Guru Muhammad Ramli bin Katutut (Wali Katum).

110. Syaikh Syaiban bin Zakaria Dzulkifli (Datu Suban).

111. Syaikh Muhammad Abdussamad Al Palimbani (Datu Sanggul).

112. Syaikh Abdur Ra'uf (Datu Nuraya).

113. Pangeran Antasari bin Pangeran Mas'ud.

114. Ratu Ijah binti Sultan Adam Al Watsiq Billah (Ratu Antasari).

115. Ratu Zulaikha binti Sultan Muhammad Seman.

116. Panglima Batur bin Barui.

117. Hasanuddin bin H. Madjedie.

118. Brigjen TNI (Purn) H. Hasan Basry.

119. Syaikh Abdul Wahab Bugis.

120. Syaikh H. Muhammad Sa'id Wali bin Muhammad Amin Al Banjari.

121. Pangeran Thaha bin Sultan Tamjidillah.

122. Ratu Salimah.

123. Syaikh Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi.

124. Siti Aminah binti Husein.

125. Syaikh Muhammad Afif bin Anang Mahmud Al Banjari (Datu Landak).

126. Pangeran Nata Kusuma (Habib Abdullah bin Abdurrahman As Segaf).

127. Pangeran Muhammad bin Sultan Adam Al Watsiq Billah.

128. Pangeran Ahmad bin Pangeran Rahmatullah.

129. Syaikh Ahmad Shalawat bin Abdullah Al Hadhrami.

130. Syaikh Umar bin Syaikh Muhammad Yusuf Al Banjari (Datu Bajanggut).

131. Datu Mar'i bin Abdullah Marhani.

132. Ahmad Jamaluddin bin Kamaruddin.

133. Syaikh Muhammad Nafis bin Idris bin Husein Al Banjari (Kalua).

134. Penghulu Rasyid bin Ma'ali.

135. Syaikh Abdurrahman bin Syaikh H. Syahabuddin An Naqari.

136. Syaikh Abdurrahim bin Syaikh H. Syahabuddin An Naqari.

137. H. Mulia bin Muhyiddin.

138. Hj. Shafiyah binti Muhammad Al Banjari.

139. Tuan Guru H. Abdurrahman Ali bin H. Muhammad Ali Badrun.

140. Syaikh Muhammad Khalid bin Abdurrahman.

141. Syaikh Sulaiman Wali bin Syaikh Muhammad Nashir Al Banjari.

142. Tuan Guru H. Mahfudz Amin bin Tuan Guru H. Muhammad Ramli (Pendiri Ponpes Ibnul Amin Pamangkih).

143. Tuan Guru H. Muhammad Ramli bin Tuan Guru H. Muhammad Amin.

144. Tuan Guru H. Muhammad Amin bin Abdullah.

145. Tuan Guru H. Muhammad Zuhdi bin Tuan Guru H. Muhammad Ramli.

146. Tuan Guru H. Mukhtar bin H. Salaman.

147. H. Utsman bin H. Salman Al Arsyadi Al Banjari.

148. H. Gusti Hasan Basri bin Gusti Arisin (Wali Pisang).

149. Tuan Guru H. Ahmad Mughni bin Syaikh H. Ismail Al Allabi.

150. Syaikh H. Ismail bin Syaikh H. Muhammad Thahir Al Allabi.

151. Syaikh H. Muhammad Thahir bin Syaikh H. Syihabuddin Al Allabi.

152. Rahmat bin Kapsan (Wali Amut).

153. Tuan Guru H. Abdurrahman Shiddiq bin H. Muhammad Sa'ad Al Banjari (Kampung Kopi).

154. Habib Muhdhar bin Muhammad BSA (Keramat Manjang).

155. Habib Abdullah bin Alwi Al Habsyi.

156. Habib Ali bin Alwi Al Habsyi.

157. Syarifah Syihun binti Alwi Al Habsyi.

158. Hj. Masrah binti Muhammad Samman.

159. Sayyid Muhammad bin Ibrahim Al Habsyi.

160. Sayyid Ibrahim bin Muhammad Al Habsyi.

161. Tuan Guru H. Mukri bin H. Mataip.

162. Sayyid Ibrahim bin Umar Al Habsyi.

163. Syaikh H. Muhammad Thayyib bin Mufti H. Muhammad As'ad Al Banjari (Datu Taniran).

164. Syaikh H. Abdul Qadir bin Syaikh H. Muhammad Thayyib Al Banjari.

165. Pangeran Ahmad bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

166. Ratu Ummi binti Sultan Sulaiman Rahmatullah.

167. Pangeran Syarif Muhammad bin Pangeran Syarif Husein Bahasyim.

168. Ratu Syarifah Fatimah binti Pangeran Syarif Husein Bahasyim.

169. Syaikh Salman Al Farisi bin Qadhi H. Mahmud Al Banjari.

170. Syaikh H. Ahmad bin Mufti H. Muhammad As'ad Al Banjari (Datu Balimau).

171. Tuan Guru H. Zainal Ilmi bin H. Abdussamad Al Banjari.

172. Tuan Guru H. Abdurrahman bin H. Zainuddin (Guru Adu).

173. Tuan Guru H. Ahmad Zaini bin Tuan Guru H. Abdurrahman.

174. Tuan Guru H. Husin Qadri bin Tuan Guru H. Ahmad Zaini Al Banjari.

175. Tuan Guru H. Muhammad Rasyad bin Tuan Guru H. Ahmad Zaini.

176. Syaikh Muhammad Indra bin Abdullah.

177. Tuan Guru H. Abdul Wahab bin H. Abdurrahman (Guru Bujang).

178. Tuan Guru H. Ahmad Anwar bin Tuan Guru H. Abdul Hamid.

179. Tuan Guru H. Muhammad Riduan bin Biduri.

180. Habib Abdullah bin Abdurrahman Maula Khelah.

181. Sarwani bin Sakrani (Wali Isar).

182. Tuan Guru H. Muhammad bin H. Jafri Al Banjari.

183. Syaikh Jamaluddin bin H. Abdul Hamid Qusasi Al Banjari (Surgi Mufti).

184. Tuan Guru H. Abdussyukur bin H. Jamaluddin (Mu'allim Syukur).

185. Tuan Guru H. Abdul Muthalib bin H. Mardiah.

186. Tuan Guru H. Abdussami bin Husin.

187. Tuan H. Nashir.

188. Nini Salbiyah Al Banjari.

189. Ahmad Ghazali bin H. Abdul Ghani Al Banjari.

190. Habib Zein bin Muhammad Al Habsyi.

191. Habib Ali bin Hasan Al Habsyi.

192. Syaikh Muhammad Amin bin Qadhi H. Mahmud Al Banjari.

193. Qadhi H. Abdul Jalil bin Muhammad Amin.

194. Pangeran Syarif Husein bin Awwadh Bahasyim.

195. Pangeran Nata bin Sultan Tahmidillah.

196. Tuan Guru H. Supiannor bin H. Ahmad Sya'rani.

197. Tuan Guru H. Abdul Wahab Sya'rani bin H. Seffa.

198. Fathmah binti H. Muhammad Nashir.

199. Hj. Siti Balqis binti Syaikh Abdurrahman Shiddiq Al Banjari.

200. Sayyid Utsman (menantu Datu Kalampayan).

201. Pangeran Nuh bin Sultan Adam Al Watsiq Billah.

202. Ir. Pangeran Muhammad Nur bin Pangeran Ali.

203. Syaikh Abdurrahman Muda bin H. Abdul Hamid Qusasi Al Banjari.

204. Pangeran Sukarama bin Pangeran Surya Alam (Syaikh Abdul Qadir).

205. Pangeran Angsana.

206. Pangeran Jangsana.

207. Umi binti Qadhi H. Muhammad Amin Al Banjari.

208. Syaikh Abdussamad Khairi.

209. Pangeran Bungur.

210. Pangeran Ahmad bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah.

211. Datu Mastanian.

212. Abdul Gauts (Wali Gaga).

213. Syaikh Abu Bakar (Datu Manggar).

214. Datu Ahmad Nasan bin Abdullah.

215. Pangeran Berahim bin Pangeran Perbatasari.

216. Pangeran Djajatan Tumenang bin Pangeran Perbatasari.

217. Gusti Salman bin Pangeran Berahim.

218. Pangeran Kesuma Giri bin Pangeran Jaya Sumitra.

219. Penghulu Abdul Ghani (Patih Mangun Jaya).

220. Putri Aji Za'iyah binti Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

221. Syaikh H. Muhammad Yusuf bin Mufti H. Muhammad Khalid Al Banjari.

222. Siti Zaleha binti H. Abdul Manaf Al Banjari.

223. H. Sa'aluddin (Utuh Singa).

224. Hj. Maryam binti Syaikh H. Muhammad Sa'id Wali Al Banjari.

225. Datu Anang Mahmud bin Jamaluddin.

226. Syaikh H. Abdullah Khatib bin Syaikh H. Muhammad Shalih Al Banjari.

227. Tuan Guru H. Ahmad Hudhari bin Ali Tuah Al Banjari.

228. Pangeran Arga Kasuma bin Pangeran Muda Muhammad Arifbillah.

229. Pangeran Perbatasari bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

230. Pangeran Subuh bin Sultan Hidayatullah II.

231. Ratu Intan Sari (ibunda Sultan Adam Al Watsiq Billah).

232. Pangeran Raden Zakaria bin Sultan Rahmatullah.

233. Letkol Norsasi Hasbullah Dharma.

234. Gusti Khadijah binti Raden Adipati Danuraja.

235. Anang Djamain bin Raden Tumenggung Kesuma Yudha Negara.

236. Hj. Aluh Indin binti Raden Tumenggung Kesuma Yudha Negara.

237. Pangeran Demang bin Sultan Rahmatullah.

238. H. Muhammad Yusuf bin Abu Su'ud Al Banjari.

239. Syarifah Fatimah Kanzul Arasy.

240. H. Muhammad Yusuf bin Syaikh Muhammad Amin Al Banjari (Anang Usup).

241. Tuan Guru Abdul Wahab bin Haris.

242. Ratu Siti Fatimah binti Pangeran Muhammad Yusuf.

243. Jamaluddin bin Kiyai Ahmad Dipasanta.

244. Gusti Dungking.

245. Abdullah bin Kiyai Ahmad Dipasanta.

246. Syaikh Abdul Qadir.

247. H. Anang Muhammad Thayyib bin H. Abdullah Al Banjari.

248. Pangeran Aminullah Bagus Kusuma bin Sultan Hidayatullah (Kiyai Tano).

249. H. Muhammad Thahir bin Qamaruddin (Datu Kaya).

250. TGB. Mufti H. Anang Jazuli Seman bin Tuan Guru H. Muhammad Seman Al Banjari.

251. Tuan Guru H. Zainuddin bin Abdul Ghani.

252. Pangeran Perbata Suriam.

253. Syaikh Muhammad Ampah.

254. Gusti Putri Kemuning.

255. Putri Larasati binti Syaikh Muhammad Ampah.

256. H. Ahmad Sunbul bin Al 'Alimul Fadhil H. Yahya Al Banjari.

257. Tuan Guru H. Hasyim bin Seman.

258. Tuan Guru H. Muhammad Ya'qub bin H. Ahmad.

259. Tuan Guru H. Muhammad Sa'id bin H. Abdurrasyid.

260. Antung Siti Aminah.

261. Syaikh Mufti H. Muhammad Amin bin Juragan Ya'qub.

262. Habib Hasyim bin Muhammad Al Kaff.

263. Pangeran Ahmid bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

264. Sayyid Ahmad bin Abdurrahman Ba'bud.

265. Tumenggung Ronggo Ibrahim Suria Kasuma bin Bayan Aji.

266. Syarifah Sya'anah binti Abdillah Bahasyim.

267. Tuan Guru H. Ahmad Bakri bin H. Imanuddin (Pendiri Ponpes Al Mursyidul Amin).

268. Tuan Guru H. Masrani bin Jailani (Wali Awang).

269. Tuan Guru H. Bustani bin Asnawi (Pendiri Ponpes Ishlahul Aulad).

270. Pahlawan Guntung Papuyu.

271. Syaikh Ahmad Marzuki bin Syaikh Sulaiman Wali Al Banjari.

272. Syaikh Asriansyah bin H. Muhammad Sa'ad Al Banjari.

273. Tuan Guru H. Muhammad Haderawi bin Tuan Guru H. Muhammad Qaderi Yusuf.

274. Bunda Hj. Rahmah.

275. Qadhi H. Abu Thalhah bin Qadhi H. Abdussamad Al Banjari.

276. H. Mansyur bin Qadhi H. Abu Thalhah Al Banjari.

277. Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Basiyuni bin Qadhi H. Abu Thalhah Al Banjari.

278. Istuchri Bey bin Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Basiyuni Al Banjari.

279. H. Muhammad Qasthalani bin Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Basiyuni Al Banjari.

280. Sarhiah binti Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Basiyuni Al Banjari.

281. Tuan Guru H. Ahmad Sibawaihi bin Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Basiyuni Al Banjari.

282. Samayah binti Sumandi.

283. Zainal Abidin bin Qadhi H. Abdussamad Al Banjari.

284. Al 'Alimul 'Allamah H. Abdurrazaq bin Qadhi H. Abdussamad Al Banjari.

285. Siti Adawiyah binti Buris.

286. Sumandi.

287. Datu Nursari binti H. Muhammad Arif Al Banjari.

288. Datu Abbas bin Masa'ad Al Banjari.

289. Datu H. Ismail bin Datu Abbas Al Banjari.

290. Panglima Wangkang.

291. H. Abdussamad Sulaiman Haji Basirun.

292. Pangeran Thosin bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

293. Pangeran Husin Mangkubumi Nata bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

294. Habib Ali bin Muhammad Nur bin Ali Ba'bud.

295. Habib Ahmad Badawi As Segaf (Datu Marlim).

296. Syarifah Nur Maya binti Abdurrahman Al Fakhir As Segaf.

297. Habib Abdurrahman bin Husein Al Fakhir As Segaf.

298. Habib Ahmad Bahasyim.

299. Syarifah Najnun.

300. Habib Alwi bin Abu Bakar Al Habsyi.

301. Habib Muhammad Shalih Al Attas.

302. Habib Umar As Segaf.

303. Tuan Guru H. Muhammad Irsyad Zein bin H. Muhammad Zein Al Banjari.

304. H. Abdul Jalil bin H. Abu Thalhah Al Banjari.

305. Syaikh H. Ismail Khatib bin Qadhi H. Ibrahim Al Banjari.

306. Tuan Guru H. Syamsuri bin H. Abdul Ghalib.

307. Tuan Guru H. Muhammad Husin Mughni bin H. Dahlan.

308. Tuan Guru H. Hasan Rusydi bin Tuan Guru H. Husin Qadri Al Banjari.

309. Tuan Guru H. Muhammad Asywadie Syukur bin Syukur.

310. Habib Ahmad bin Abu Bakar Al Habsyi.

311. Habib Abu Bakar bin Salim Al Habsyi.

312. Syarifah Ruqaiyah binti Idrus Bahasyim.

313. Habib Abdullah bin Abu Bakar Al Habsyi.

314. Habib Salim bin Muhammad Al Habsyi.

315. Habib Ahmad bin Hasan Bahasyim.

316. Syarifah Biduri binti Zam-Zam Bahasyim.

317. Syarifah Arbayah binti Zam-Zam Bahasyim.

318. Habib Muhammad bin Alwi bin Syekh Al Habsyi.

319. Sayyid Ali bin Abu Bakar Al Habsyi.

320. Qadhi H. Muhammad Thahir bin H. Syihabuddin.

321. Datu Kinarang Baya Kuning.

322. Datu Darun.

323. H. Ahmad Baharuddin bin H. Muhammad Sa'ad (Wali Kuin).

324. Syaikh Abdurrahman Shiddiq bin Husin As Segaf (Datu Khayan).

325. Datu Marzuki bin Qadhi H. Muhammad Al Banjari.

326. Datu Mahani.

327. Gusti Aminin bin Pangeran Suryanapati.

328. Habib Salimin bin Ahmad bin Abu Bakar Al Balghaits.

329. Datu Diyang binti Syaikh Mufti H. Muhammad Amin.

330. H. Muhammad Taher.

331. Habib Salim bin Hamid Al Kaff.

332. Tuan Guru H. Tarmidzi Abbas bin H. Abbas.

333. H. Muhammad Ya'qub (Juragan Ya'qub).

334. Datu Borak binti Hawa.

335. Tuan Guru H. Hasan Mughni bin Tuan Guru H. Muhammad Marwan.

336. Tuan Guru H. Muhammad Marwan bin Syaikh Mufti H. Muhammad Amin.

337. Sayyid Ahmad Amiruddin Al Habsyi.

338. Umar bin Abdullah bin Syaikh Yusuf (Datu Liwah).

339. Datu Tarmum.

340. H. Utuh Asra bin H. Matahir (Wali Asra).

341. Tuan Guru Muhammad Tarmidzi bin Muhammad Arsyad.

342. Syaikh Abu Na'im bin H. Abu Su'ud.

343. Tuan Guru H. Tasrifin bin H. Muhammad.

344. Syaikh H. Ismail bin Ibrahim Al Banjari (Kai Suntul).

345. Qadhi H. Ahmad Zainal Aqli bin H. Sa'aluddin.

346. H. Hasan bin H. Ahmad Sunbul Al Banjari.

347. Tuan Guru H. Nuzhan Noor bin H. Muhammad Noor Al Banjari.

348. Datu Qasim (Datu Wanyi).

349. Habib Ali bin Abdurrahman Al Baiti As Segaf.

350. Hj. Airmas binti H. Isam Al Banjari.

351. Tuan Guru H. Anang Antung bin H. Raihan.

352. Datu Panjang Pasayangan.

353. Tuan Guru H. Abdul Khaliq bin Muhammad Arifin.

354. Syaikh H. Mahmud bin Syaikh Ali Al Banjari.

355. Sayyid Alwi bin Abdillah As Segaf.

356. Tuan Guru H. Salman Yusuf bin H. Muhammad Yusuf.

357. Tuan Guru H. Muhammad Rafi'i bin Tuan Guru H. Ahmad Radhi.

358. Tuan Guru H. Muhammad Hasyim Mukhtar Al Husaini bin H. Mukhtar Husein.

359. Tuan Guru H. Ahmad Ruyani bin H. Mursyid.

360. Tuan Guru H. Nashrun Thahir bin H. Muhammad Thahir.

361. Datu Abdurrahim Wujud bin Datu Kattab.

362. Datu H. Marhasan bin Datu Abdurrahim Wujud.

363. Qadhi H. Muhammad Thaha bin H. Muhammad Sa'ad Al Banjari.

364. Syarifah Ning.

365. Tuan Guru H. Abdul Ghaffar bin Tuan Guru H. Abdussyukur.

366. Hubabah Mastura binti Shalih Al Habsyi.

367. Tuan Guru H. Zakaria bin H. Alwi.

368. Syarifah Nur.

369. Tuan Guru H. Arsiansyah bin H. Tarmidzi.

370. Datu Kedigdayaan.

371. Syaikh Muhammad Ali bin Syaikh Muhammad Yusuf Al Banjari.

372. Datu H. Anang Atu.

373. Syaikh Khuzaimah bin Abdullah Az Zawajanni.

374. Datu Kindu Mui.

375. Pangeran Abu Bakar bin Pangeran Singosari.

376. Gusti Umar bin Pangeran Abu Bakar.

377. Sayyid Abdullah Al Aydrus.

378. Amuk Hantarukung.

379. Syaikh Muhammad Manshur (Datu Aling).

380. Datu Kumpai.

381. Syaikh Abdul Qadir bin H. Muhammad Thalib Al Banjari.

382. Datu Daim.

383. Abdullah Tsani.

384. Habib Yusuf bin Ibrahim Al Qadiri Al Jailani Al Hasani.

385. Datu Timanggung bin Datu Dabung Dayu (Datu Timang).

386. Datu Ahmad.

387. Tuan Guru H. Askani bin Sahrim.

388. Syaikh Ahmad Nawawi bin H. Abdul Qadir.

389. H. Muhammad Japri bin H. Ya'qub.

390. Syaikh Muhammad Nafis bin Idris Al Banjari (Gunung Keramaian).

391. Syaikh Abdussyukur (Datu Umar).

392. Tuan Guru H. Ismail bin H. Abdullah (Kai Tuan).

393. Tuan Guru H. Hamdi bin Seman.

394. Habib Muhdhar bin Abdul Qadir Bahasyim.

395. Syaikh Abdul Ghani bin Abdurrahim (Datu Taluk Mundu).

396. Tuan Guru H. Anang Ramli Haq bin H. Abdul Qadir.

397. Habib Umar bin Husein Al Aydrus (Habib Umar Janggut).

398. Syarifah Badrun binti Habib Yusuf Al Qadiri Al Jailani Al Hasani.

399. Habib Ja'far bin Sulaiman Baharun.

400. Tuan Guru H. Abdul Majid bin Muhammad Tarif Al Banjari.

401. Tuan Guru H. Muhammad Ramli bin Tuan Guru H. Abdul Majid Al Banjari.

402. Tuan Guru H. Muhammad Shalih bin Tuan Guru H. Abdul Majid Al Banjari.

403. Tuan Guru H. Ermas bin Nadzir.

404. Syarifah Noor binti Habib Ali Al Aydrus.

405. Pangeran Darma Kusuma bin Pangeran Ardi.

406. Habib Ahmad bin Ali Al Aydrus.

407. Habib Syekh bin Muhammad Al Habsyi.

408. Tuan Guru H. Abdul Ghalib bin H. Sarman.

409. H. Sabri bin H. Samman.

410. Habib Selamat bin Utsman Bahasyim.

411. Tuan Guru H. Sirajuddin Qadhi bin H. Ahmad Nawawi Mufti Al Banjari.

412. Hj. Zahidah binti Tuan Guru H. Muhammad Ashli (ibunda Abah Guru Zuhdi).

413. Hj. Ummi Hani binti Syaikh Abdurrahman Shiddiq Al Banjari.

414. Habib Zainal Abidin bin Muhammad Al Maliki Al Hasani.

415. Tuan Guru H. Muradi bin Abdul Manaf An Naqari.

416. Tuan Guru H. Muhammad Daud Yahya bin Yahya.

417. Tuan Guru H. Muhammad Tsani bin H. Zuhri (Pendiri Pondok Pesantren Al Falah).

418. Panglima Bukhari.

419. Landuk.

420. H. Matamin.

421. Pangeran Abdullah bin Sultan Suriansyah (Datu Amandit).

422. Ratu Nurjannah binti Pangeran Abdurrahman.

423. Datu Abdurrahman Shiddiq bin Lima (Wali Kadap).

424. Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Shalih (Guru Putih).

425. Zainal Abidin bin Abdul Karim (Raden Adipati Danuraja).

426. Raden Tumenggung Kesuma Yudha Negara.

427. Raden Tumenggung Mangku Nata Kesuma.

428. Syaikh Muhammad Nurdin bin H. Syamsuddin (Datu Biha).

429. Tuan Guru H. Ahmad Riduan bin Tuan Guru H. Ahmad Dahlan Al Banjari.

430. Hj. Muntiara binti H. Muhammad As'ad Al Banjari.

431. Datu Zainab binti Syaikh H. Muhammad Thayyib Al Banjari.

432. Tuan Guru H. Abdurrasyid bin H. Ramli (Pendiri Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah).

433. Tuan Guru H. Muhammad Ashli bin H. Ahmad.

434. Datu Lukman Hakim bin H. Mushthafa.

435. Datu Puain.

436. Datu Siti Maryam binti Zainal Abidin.

437. Tuan Guru H. Ahmad Syarwani Zuhri bin H. Zuhri Al Banjari (Pendiri Pondok Pesantren Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari).

438. Habib Husain Al Hasani.

439. Habib Gasim bin Mahrus Bahasyim.

440. Sayyid Alwi bin Abdurrahman Ba'bud.

441. Habib Hasan bin Ahmad Al Aydrus.

442. Sayyid Saleh bin Ahmad Al Khirid.

443. Sayyid Agil bin Saleh Al Khirid.

444. Syarifah Mahani binti Pangeran Syarif Thaha Al Aydrus.

445. Syarifah Qamariyah binti Syarif Ali Al Aydrus.

446. Syarifah Mahani binti Habib Gasim Bahasyim.

447. Syarifah Maryam binti Abdullah Al Aydrus (Keramat Pulau Tukung).

448. Pangeran Aji Kemala bin Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

449. Makam Waliyullah (Kebun Sayur, Balikpapan).

450. Habib Thaha bin Pangeran Syarif Hamid As Segaf.

451. Habib Abdurrahman bin Segaf As Segaf.

452. Habib Muhsin bin Abdurrahman As Segaf.

453. Habib Sahil Malik bin Ahmad Bin Yahya.

454. Habib Ahmad bin Hasyim Bin Syahab.

455. Tuan Guru H. Mirza Nur Qadhi bin H. Bahri Nur.

456. Habib Sulaiman bin Karimullah Al Aidid.

457. Syarifah Mahani binti Ahmad Al Aydrus.

458. Tuan Guru H. Luthfi Yusuf bin H. Muhammad Yusuf.

459. Habib Ibrahim bin Abdullah Al Aydrus.

460. Tuan Guru H. Antung Ruslan bin Tuan Guru Qadhi H. Zarkasyi.

461. Sayyid Hamid bin Abdurrahman Baraqbah.

462. Sayyid Seggaf bin Hamid Baraqbah.

463. Sayyid Hamid bin Ja'far Baraqbah.

464. Aji Raja Mahkota Mulia Alam bin Aji Pangeran Tumenggung Bayabaya (Raja Kutai VI).

465. Raja Aji Dilanggar bin Aji Raja Mahkota Mulia Alam (Raja Kutai VII).

466. Raja Aji Pangeran Sinom Panji Mendapa Ing Martapura bin Raja Aji Dilanggar (Raja Kutai VIII).

467. Sultan Aji Muhammad Muslihuddin bin Sultan Aji Muhammad Idris (Sultan Kutai XV).

468. Sultan Aji Muhammad Salehuddin bin Sultan Aji Muhammad Muslihuddin (Sultan Kutai XVI).

469. Sultan Aji Muhammad Sulaiman bin Sultan Aji Muhammad Salehuddin (Sultan Kutai XVII).

470. Sultan Aji Muhammad Alimuddin bin Sultan Aji Muhammad Sulaiman (Sultan Kutai XVIII).

471. Sultan Aji Muhammad Parikesit bin Sultan Aji Muhammad Alimuddin (Sultan Kutai XIX).

472. Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya (Pangeran Noto Igomo).

473. Syaikh Abu Thalhah bin Mufti H. Muhammad As'ad Al Banjari.

474. Tuan Guru H. Muhammad Husin bin Abdurrahman.

475. KH. Mukaram.

476. Tuan Guru H. Ahmad Darmawi bin Hashil Al Banjari.

477. Tuan Guru H. Abu Qasim bin Hilman.

478. Tuan Guru H. Sulaiman bin H. Muhammad Nashir.

479. Tuan Guru H. Abdul Wahab Sulaiman bin Tuan Guru H. Sulaiman.

480. Tuan Guru H. Muhammad Safwan Zahri bin H. Zahri (Guru Handil).

481. Waliyullah Labay.

482. Tuan Guru H. Masdar bin Ahmad.

483. Syaikh Junaid Noor bin H. Abdul Qadir.

484. Tuan Guru H. Muhammad Mansyur bin H. Muhammad Hasyim Al Banjari.

485. Sayyid Muhammad bin Saleh Bin Yahya.

486. Habib Hasyim bin Musaiyah (Tuan Tunggang Parangan).

487. Syaikh Abdurrahman Al Halabi.

488. Habib Ali Azizi Al Husaini bin Abdullah Bahasyim.

489. Habib Ali Bidin bin Sayyid Ahmid Bahasyim (Kai Kambing).

490. Tuan Guru H. Fakhruddin Wahab bin Tuan Guru H. Abdul Wahab Sya'rani.

491. Habib Ja'far bin Ahmad Baraqbah.

492. Habib Ali bin Muhsin Al Marzaq.

493. Tuan Guru H. Utsman Ibrahim bin H. Durahim.

494. Habib Muhammad bin Idris Ba'bud.

495. Datu Wali Ukir.

496. Sayyid Abdurrahman bin Muhammad As Segaf (Pangeran Bendahara).

497. Tuan Guru H. Ahmad Marzuki bin Nuh Al Banjari.

498. H. Zahri bin Zhahir.

499. Syaikh Sulaiman Kurdi bin Qadhi H. Muhammad Amin Al Banjari.

500. Habib Ali bin Husein Al Aydrus.

501. Datu Abdullah Tarang.

502. Datu Tundan.

503. Habib Abdullah bin Umar Al Balghaits.

504. Tuan Guru H. Muhammad Shaleh bin H. Mahmud (Guru Aleh).

505. Habib Agil bin Abdullah Bilfaqih.

506. Tuan Guru H. Nor Asyikin bin Muhammad Saidi.

507. Datu Lathifah binti Syaikh Muhammad Afif Al Banjari.

508. Tuan Guru H. Sya'rani bin H. Mukri.

509. Tuan Guru H. Irham bin H. Marhasan.

510. Tuan Guru H. Muhammad Asri bin H. Utsman.

511. Habib Sholeh bin Ali Bahasyim.

512. Habib Yasin bin Ali Bahasyim.

513. Habib Hasan bin Ali Bahasyim.

514. Habib Abdullah bin Hasan bin Ali Bahasyim.

515. Habib Hasan bin Awwadh Bahasyim.

516. Syarifah Zaitun Bahasyim.

517. Syaikh Ghazali bin Syaikh Abdurrahman Al Banjari.

518. Habib Thaha bin Husin Al Balghaits.

519. Habib Sulaiman Baharun.

520. Syaikh Muhammad Yusuf bin Syaikh Sa'id Zainal Al Banjari.

521. Syaikh Abdullah bin Syaikh H. Abdul Lathif.

522. Syaikh H. Jamaluddin bin Syaikh Abdullah.

523. Hj. Hasanah binti Syaikh Abdurrahman Shiddiq.

524. Hj. Fatimah binti Mufti H. Muhammad Khalid Al Banjari.

525. Patih Mangun Karsa.

526. Tuan Guru H. Muhammad Laili Manshur bin H. Manshur.

527. Datu Syari'at bin H. Arsal.

528. Ahmad bin Abdullah (Datu Palak).

529. H. Muhammad Yusuf bin Mufti H. Abdul Jalil Al Banjari (Datu Darpa).

530. Syaikh H. Muhammad Ali bin Sultan Aminullah.

531. Datu Muhammad Sa'ad bin H. Ahmad Al Banjari.

532. Tabib Gaboen.

533. Syaikh Muhammad Nashir bin Habib Abdullah Al Habsyi Al Banjari.

534. Syaikh Zailani bin Syaikh Abdullah Al Baghdadi.

535. Sayyid Muhammad Nur bin Husin Al Hasani.

536. Syarifah Nurjannah binti Alwi Al Habsyi (Datu Bintang).

537. Habib Musa bin Mahmud Al Qadri.

538. Keramat Hati.

539. Datu Yamani Hujail.

540. Datu Ishaq bin Libana.

541. H. Muhammad Shalih bin H. Ismail Al Banjari (Datu Anggut).

542. Datu Gusti Libi.

543. Hj. Fatimah binti Syaikh H. Abu Thalhah Al Banjari.

544. Syaikh H. Ma'mur bin Munthaha.

545. Tuan Guru H. Muhammad Janawi bin H. Abdul Hamid.

546. Syaikh H. Abdul Ghani bin Lamit.

547. Mufti H. Muhammad Sa'id bin H. Muhammad Amin.

548. Hj. Hamimah binti Zainuddin.

549. H. Muhammad Shalih Khatib bin Ahmad.

550. Hj. Nurjannah binti Syaikh H. Ahmad Al Banjari.

551. Tuan Guru Qadhi H. Zarkasyi bin Gusti Biduri Uda.

552. Qadhi H. Ahmad bin Abu Na'im (Datu Aqil).

553. Tuan Guru H. Utsman bin H. Abu Bakar.

554. Qadhi H. Muhammad Mukhtar bin Qadhi H. Muhammad Hasan.

555. H. Muhammad Saman bin H. Muhammad Ramli.

556. Pangeran Dipati bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

557. Habib Zein Zainuddin bin Abu Bakar As Segaf.

558. Datu H. Abbas bin Mufti H. Abdul Jalil Al Banjari.

559. Datu Raihanah binti H. As'ad Fakhruddin Al Banjari.

560. H. Muhammad Sa'id bin Syaikh H. Sa'duddin Al Banjari.

561. Habib Muhammad bin Alwi Bahasyim (Habib Unjun).

562. Habib Ali bin Idrus As Segaf.

563. Habib Husein bin Ali As Segaf (Habib Husein Kantin).

564. Tuan Guru H. Abdussamad bin H. Muhammad Amin Al Banjari.

565. H. Muhammad Yunan bin Syaikh Mufti H. Muhammad Amin.

566. Tuan Guru H. Ali Nurdin bin Tuan Guru H. Ghazali Al Banjari.

567. Hj. Khairiah binti H. Abdul Karim Al Banjari.

568. Tuan Guru H. Abdul Karim bin H. Muhammad Arif Al Banjari.

569. Barliansyah bin Abdullah (Datu Kubur Satu).

570. Syaikh Salim Al Baghdadi.

571. Syaikh Muhammad Arif bin Muhammad Seman.

572. Habib Alwi bin Husin Al Balghaits.

573. Utsman bin Idris (Datu Tabat).

574. Syarifah Norsela.

575. Tuan Guru H. Sabran Kacil bin H. Kadri.

576. Syaikh Daud Ilham bin Sa'dullah.

577. Abdussabur bin H. Syamsuri (Kai Sabur).

578. Habib Alwi bin Idrus Bahasyim.

579. Habib Abdullah bin Alwi Bahasyim.

580. Tuan Guru Abdul Hamid bin Mursyidi.

581. Keramat Ahmad Syamhudi.

582. Tuan Guru H. Ahmad Sanusi bin Sadiya (Pendiri Ponpes Darussalim).

583. Tuan Guru H. Abdul Wahab bin H. Abu Bakar.

584. Tuan Guru H. Zainal Aqli bin H. Bakrani (Guru Dahlia).

585. Lamri bin Ibak (Kai Galung).

586. Datu Badau (Panglima Ringgit).

587. Syaikh Safaruddin (Datu Ragai).

588. Syaikh H. Muhammad Sa'id bin H. Muhammad Sa'ad Al Banjari.

589. Datu Landau.

590. Datu Tampil At Turki.

591. Habib Nur Muhammad As Sulthan Al Aydrus.

592. Gusti Ali bin Pangeran Kesuma Giri.

593. Tuan Guru H. Muhammad Salman bin H. Jamaluddin Al Banjari (Guru Salman Tabib).

594. Tuan Guru H. Abdul Hay bin H. Muhammad Syahran.

595. Tuan Guru H. Muhammad Sa'id bin Syaikh H. Ahmad Marzuki Al Banjari (Abah Sa'id).

596. Datu Syarifah.

597. Datu Munah.

598. Datu Sutambal.

599. Tuan Guru H. Jamaluddin bin H. Abul Kasim.

600. Sayyid Abdullah bin Abdurrahman As Segaf (Syaikh Abdullah Turki).

601. Maimunah binti Ahmad.

602. Sayyid Ahmad bin Abdullah As Segaf.

603. Sayyid Muhammad.

604. Sayyid Hasan As Segaf.

605. Sayyidah Fatimah binti Hasan As Segaf.

606. Datu Juman.

607. Dewi Sari.

608. Menteri Jaya Arja.

609. Panglima Mahmud.

610. Syaikh Markusin bin Abdul Ghani Al Banjari.

611. Datu Laif.

612. Tuan Guru Jama'in bin Ajad.

613. Tuan Guru H. Idham Khalid bin Marhanang.

614. Tuan Guru H. Abdullah Jamal bin H. Jamal (Pendiri Ponpes Inayatul Marzuki).

615. Syaikh H. Abdul Hamid bin Zainal Arifin Al Banjari.

616. Hj. Badariyah binti Syaikh H. Jamaluddin Al Banjari.

617. Tuan Guru H. Marzuki bin Madhan.

618. Syaikh H. Abdul Qadir Jailani bin Darman.

619. Sayyid Muhammad Suriani bin Sayyid H. Sami'un Bahasyim.

620. Datu H. Asmail bin H. Tamal.

621. Habib Abdullah bin Ahmad Al Aydrus (Datu Tambal).

622. Syarif Mushthafa bin Pangeran Syarif Ali Al Aydrus.

623. Guru Minin bin H. Syamsuddin.

624. Tuan Guru H. Mukhtar bin H. Salaman.

625. Syaikh H. Abdussalam bin H. Jamaluddin.

626. Hj. Salimah.

627. Ummi Kultsum binti Tuan Guru H. Wan Abdul Karim Al Banjari.

628. Rafi'ah binti H. Muhammad As'ad Al Banjari.

629. Tuan Guru H. Wan Abdul Karim.

630. Tuan Guru H. Abdul Karim bin H. Nafiah.

631. Tuan Guru H. Ahmad Dahlan bin H. As'ad.

632. Wali Jamaluddin bin Tuan Guru H. Zarkasyi Al Banjari.

633. Syaikh Sayyid Sulaiman bin Sayyid Ja'far (Padang Basar).

634. Putri Mayang Sari binti Sultan Suriansyah.

635. Tumenggung Mangku Sari.

636. Syarifah Mahani binti Yahya Bin Yahya.

637. Habib Alwi bin Yahya Bin Yahya.

638. Habib Yahya bin Muhammad Bin Yahya.

639. Syarifah Thalhah binti Yahya Bin Yahya.

640. Aji Raden Ario Tebak bin Aji Pangeran Ratu II.

641. Gusti Utsman bin Gusti Muhammad (Pangeran Singamantri).

642. Sayyid Mukri.

643. Syarifah Nisba.

644. Syarifah Basrah.

645. Sayyid Dillah.

646. Syarifah Siti Masyitah binti Amrullah.

647. Habib Abdurrahman bin Husein Bin Yahya.

648. Habib Ibrahim bin Abdullah Al Aydrus.

649. Datu Singa Lawang.

650. KH. Abdullah Katu bin Muhammad.

651. Pangeran Syarif Hamid bin Ahmad As Segaf.

652. Sultan Aji Muhammad Alamsyah bin Sultan Aji Anom Singa Maulana (Sultan Paser I).

653. Sultan Sepuh Alamsyah I bin Sultan Aji Muhammad Alamsyah (Sultan Paser II).

654. Sultan Sulaiman Alamsyah bin Ratu Agung (Sultan Paser IV).

655. Sultan Ibrahim Alamsyah bin Sultan Aji Muhammad Alamsyah (Sultan Paser V).

656. Sultan Mahmud Han Alamsyah bin Sultan Sulaiman Alamsyah (Sultan Paser VI).

657. Sultan Adam Alamsyah bin Sultan Sulaiman Alamsyah (Sultan Paser VII).

658. Sultan Sepuh Alamsyah II bin Aji Kimas (Sultan Paser VIII).

659. Sultan Abdurrahman Alamsyah bin Sultan Adam Alamsyah (Sultan Paser IX).

660. Pangeran Kasuma bin Sultan Sulaiman Alamsyah.

661. Aji Nai bin Sultan Sepuh Alamsyah I.

662. Aji Ketoi bin Sultan Ibrahim Alamsyah.

663. Aji Rinda bin Sultan Mahmud Han Alamsyah.

664. Pangeran Dipati bin Sultan Adam Alamsyah.

665. Aji Lingga bin Sultan Mahmud Han Alamsyah.

666. Ratu Agung bin Sultan Aji Muhammad Alamsyah.

667. Pangeran Perabu bin Sultan Muhammad Ali Alamsyah.

668. Aji Ratih Anom bin Sultan Ibrahim Alamsyah.

669. Tuan Guru H. Asnawi bin H. Abdurrahman.

670. Tuan Guru H. Asmuni bin H. Masuni (Guru Danau).

671. Syaikh Mufti Muhammad Thayyib bin Syaikh Abdul Manaf (Datu Murung).

672. Tuan Guru H. Muhammad Rawi bin Tuan Guru H. Muhammad Shalih.

673. Tuan Guru H. Ahmad Dahlan bin H. Utsman.

674. Tuan Guru H. Muhammad Rais (Datu Marais).

675. Datu Dulung.

676. Tuan Guru H. Mahfudz bin Tuan Guru H. Abdul Wahab.

677. Tuan Guru H. Abul Hasan Asy'ari.

678. H. Muhammad Ya'qub bin H. Muhammad Husin Al Banjari.

679. Pangeran Ibrahim bin Sultan Tamjidillah.

680. Pangeran Wijaya Kusuma bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

681. Habib Idrus bin Muhammad Bahasyim.

682. Tuan Guru H. Muhammad Ramli bin Tuan Guru H. Ahmad Radhi.

683. Tuan Guru H. Ahmad Busthami bin H. Mukri Al Banjari.

684. Tuan Guru H. Muhammad Nur bin H. Muhammad Arsyad Al Banjari.

685. Syaikh Jalaluddin bin Abu Bakar.

686. Tuan Guru H. Saifuddin Zuhri bin H. Abdurrahman Al Banjari (Abah Guru Banjar Indah).

687. Tuan Guru H. Syahran bin H. Abdul Hamid.

688. Tuan Guru H. Muhammad Hatim bin H. Muhammad Salman Jalil Al Banjari.

689. Pangeran Abdussamad bin Pangeran Muhammad bin Sultan Adam Al Watsiq Billah.

690. Pangeran Syarif Idrus bin Pangeran Syarif Husein bin Awwadh Bahasyim.

691. Tuan Guru H. Umar bin Nafis.

692. Habib Shalih bin Muhammad Bahasyim.

693. Syaikh Surgi H. Markasan bin Syaikh Maulana Iskandar Muda Al Maghribi.

694. Tuan Guru H. Muhammad Mukri Gawith.

695. Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Rijali bin H. Muhammad Husin Al Banjari.

696. Letkol Inf. Tuan Guru H. Qudrah Adnan bin H. Ramli.

697. Datu Muhammad Arsyad bin H. Muhammad Zein Al Banjari.

698. Tuan Guru H. Abdullah Ahmad Qusasi.

699. Habib Muhsin bin Idrus Bahasyim.

700. Syaikh Muhammad Yusuf bin Syaikh Muhammad Ayyub Abidin.

701. Gusti H. Muhammad Sa'id bin Gusti Isa.

702. Habib Umar bin Ahmad Al Habsyi.

703. Tuan Guru H. Muhammad Hanafi Gobit bin H. Abdurrahim Gobit.

704. Syaikh H. Muhammad Ghazali bin H. Abdul Hamid (Kubah Dingin Nagara).

705. Syaikh H. Muhammad Thaher bin H. Syahabuddin bin Syaikh Abdul Manaf.

706. Tuan Guru H. Abdurrahman bin Syaikh H. Ismail Khatib Al Banjari.

707. Tuan Guru H. Muhammad Hamdani bin H. Muhdat.

708. Tuan Guru H. Muhammad Seman bin H. Abdul Qadir.

709. Syaikh Badruddin bin Syaikh Kamaluddin.

710. Tuan Guru H. Ahmad Ghazali bin Tuan Guru H. Ahmad Marzuqi Al Banjari.

711. Tuan Guru H. Ahmad Marzuqi bin Tuan Guru Musthafa.

712. Tuan Guru Musthafa bin H. Muhammad Arsyad.

713. Datu Aminah binti Syaikh Abdullah Khatib Al Banjari.

714. Datu Hasanah binti Syaikh Abdullah Khatib Al Banjari.

715. Datu H. Muhammad Arsyad bin H. Muhammad Shalih.

716. Datu Siti binti Datu H. Muhammad Arsyad.

717. Datu Hj. Aisyah binti H. Abu Su'ud.

718. Qadhi H. Muhammad Arfan bin Muhammad Hasanul Basri Al Banjari.

719. Tuan Guru H. Muhammad Syarwani bin H. Kastan Al Banjari.

720. Mangkubumi Aria Taranggana.

721. Ratu Kumala Sari.

722. Fathul Jannah binti Syaikh H. Abdullah Khatib Al Banjari.

723. H. Muhammad Arif bin Seman.

724. H. Abdurrahim bin H. Abu Su'ud.

725. Datu H. Zakaria bin H. Abdullah Al Banjari.

726. Datu Syahabuddin.

727. Tuan Guru H. Muhammad Nawawi bin H. Salman.

728. Datu Bati-Bati.

729. Datu Zainal Abidin bin Sulaiman (Datu Peluru).

730. Tuan Guru H. Ja'far bin H. Muhammad Nadzir Al Banjari.

731. Datu H. Muhammad Arif.

732. Datu Hj. Fatimah.

733. Halimatul Fauziah binti Syaikh H. Ismail Khatib Al Banjari.

734. Qadhi H. Ibrahim bin Qadhi H. Muhammad Shalih Al Banjari.

735. Fathul Maushili bin Syaikh H. Ismail Khatib Al Banjari.

736. Hj. Aisyah binti H. Abdurrahman Sarawak.

737. Aminah binti Syaikh H. Muhammad Khatib Al Banjari.

738. Hj. Khadijah binti H. Abdul Jalil Al Banjari.

739. Syaja'ah binti H. Muhammad Sa'ad Al Banjari.

740. Umi binti Qadhi H. Muhammad Amin Al Banjari.

741. H. Abdus Sattar bin H. Abdul Muthalib Al Banjari.

742. Tuan Guru H. Abdullah Khatib bin H. Abdul Manaf Al Banjari (Guru Shalawat).

743. Tuan Guru H. Syansuri bin H. Muhriz.

744. Tuan Guru H. Ahmad Qamuli bin H. Abdul Murad.

745. Tuan Guru H. Gusti Syarkawi bin Gusti Muhammad Dari.

746. Tuan Guru H. Muhdhar bin Mukhtar.

747. Abah Sibawaihi bin Muhammad Thayyib.

748. Tuan Guru H. Muhammad bin Tuan Guru H. Badruddin.

749. Habib Abdullah bin Abdurrahman As Segaf.

750. Syaikh Ahmad Sya'rani bin H. Muhammad Thayyib.

751. Tuan Guru H. Muhammad Qari bin Abdul Qadir Al Banjari.

752. Tuan Guru H. Muhammad Yusuf bin H. Muhammad Abu Zirin.

753. Datu Ganun.

754. Fatimah binti Qadhi H. Muhammad Al Banjari.

755. Datu As'ad.

756. Datu Abdul Jalil.

757. Syaikh Abu Hasan bin Syaikh Abdul Manaf.

758. Tuan Guru H. Muhammad Yusran bin H. Sya'rani.

759. Syaikh H. Syahabuddin bin Syaikh Abdul Manaf.

760. Syaikh Muhammad Yasin bin Syaikh Abdul Manaf.

761. Syaikh Muhammad Azhari bin Syaikh Muhammad Yasin.

762. Syaikh Abdussamad bin Syaikh Muhammad Azhari (Datu Jagau).

763. Siti Hajar binti Ibrahim Al Makkiyah.

764. Tuan Guru H. Kaderi bin H. Hasan Suni.

765. Aluh Acil binti Syaikh H. Ismail Al Allabi.

766. H. Muhammad Saleh Fauzi bin Tuan Guru H. Kaderi.

767. Hj. Fatimah.

768. Hj. Sa'diyah binti Syaikh H. Ismail Al Allabi.

769. Syaikh Muhammad Thahir bin Sultan Hamidinsyah.

770. Tuan Guru H. Muhammad Yusuf bin Ahmad.

771. Tuan Qadhi H. Muhammad Sarakhsi bin Syaikh Muhammad Azhari.

772. Syarifah Fatmah binti Sayyid As'ad Hasyim Al Maliki Al Hasani.

773. Tuan Guru H. Muhammad Ali Bayanan bin Barak.

774. Habib Ahmad bin Husein Al Idrus.

775. H. Muhammad Yasin (Panglima Perang Banjar).

776. Panglima Dambung bin Tumenggung Antaluddin.

777. Syarifah Gading binti Sayyid Jamaluddin.

778. Syaikh Ismail bin Syaikh Abdul Manaf.

779. Tuan Guru H. Abdul Aziz Syarbaini.

780. Hj. Habibah binti Tuan Guru Mufti H. Utsman.

781. Hj. Siti Aisyah binti Tuan Guru H. Dahlan.

782. Tuan Guru H. Abu Hurairah bin Tuan Guru H. Muhammad Aini.

783. Datu Ali Ahmad.

784. Datu Singakarsa.

785. Datu Kurba.

786. H. Dahlan (Datu Gambah).

787. Datu Barda.

788. Datu Nursitiwana.

789. Syaikh H. Ahmad Barmawi bin Abdul Jalil.

790. Tuan Guru Badaruddin bin Syaikh H. Ahmad Barmawi.

791. Datu Memben.

792. Datu Lumpung.

793. Datu Iduh.

794. Datu Ilyas Bakul.

795. Muhammad Ali bin H. Muhammad Arif (Pangeran Masdipati Jaya Samudera).

796. H. Alimuddin.

797. H. Abdul Murid bin Qadhi H. Muhammad Jafri Al Banjari.

798. Qadhi H. Muhammad Bijuri bin Zainuddin Al Banjari.

799. Qadhi H. Muhammad Jafri bin Qadhi H. Abdussamad Al Banjari.

800. Gusti H. Sa'aluddin bin Gusti Muhammad Saleh (Datu Labah).

801. Hafiyah binti H. Abdul Aziz Kiyai Demang Wangsa Negara.

802. Datu H. Sulaiman bin Barman bin Sultan H. Abdul Muluk.

803. Tuan Guru H. Muhammad Riduan bin Biduri.

804. Tuan Guru H. Ahmad Anwar bin Tuan Guru H. Abdul Hamid.

805. Tuan Guru H. Asdi bin H. Tubun.

806. Tuan Guru Mu'allim H. Muhammad Suni bin H. Tuh Halus.

807. Datu Ahmad bin Abdullah.

808. Datu Muhammad bin Abdullah.

809. Habib Ma'rus bin Ahmad Bahasyim.

810. Habib Hasan bin Ma'rus Bahasyim.

811. Habib Husein bin Ma'rus Bahasyim.

812. Syarifah Khadijah binti Ma'rus Bahasyim.

813. Pangeran Syarif Ja'far bin Pangeran Syarif Husein bin Awwadh Bahasyim.

814. Pangeran H. Amirul Mu'minin bin Pangeran Muhammad Kasim.

815. Pangeran H. Penghulu Muhammad Seman bin Pangeran Muhammad Kasim.

816. Tuan Guru H. Busyra bin H. Abdullah.

817. Hj. Mastura binti Tuan Guru H. Muhammad Nur Al Banjari.

818. Datu Palembang.

819. Datu Haur Kuning.

820. Datu Tabib Anang Irang bin Latuk.

821. Tuan Guru H. Muhammad Zabidi bin H. Muhammad Arsyad Al Banjari.

822. Panglima Manggala.

823. Pangeran Syaikh Syarif Qasim Al Baghdadi.

824. Pangeran Mangkubumi Kencana Ungu.

825. Qadhi H. Muhammad Shiddiq bin H. Muhammad Qasim Al Banjari.

826. H. Muhammad Noor bin Hasan Al Banjari.

827. H. Masa'ad bin Ma'ad Al Banjari.

828. Al 'Alimul Fadhil H. Muhammad Arif bin H. Abdullah bin Kiyai Ahmad Dipasanta.

829. Sayyid Ja'far bin Husein bin Abdullah bin Husein Al Fakhir As Segaf.

830. Tuan Guru H. Masdar bin H. Umar Al Banjari.

831. Ratu Syarifah Aminah binti Syarif Nuh Mufti Prambanan.

832. Datu Tarsyid.

833. Datu Malik (Takuti).

834. Datu Muhammad Alwi bin Abdul Ghani Al Banjari.

835. Datu Muhammad Qasim bin Muhammad Ali Al Banjari.

836. Pangeran Ahmad bin Pangeran Rahmatullah.

837. Habib Husin Bukhari bin Muhammad Nur Ba'bud.

838. Habib Ahmad bin Husin Bukhari Ba'bud.

839. Pangeran Kasir bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

840. Pangeran Aminullah.

841. Pangeran Abdul Karim bin Pangeran Muhammad.

842. Pangeran Syarif Husein bin Muhammad Baharun (Darma Kusuma).

843. Ratu Jaipah binti Syarif Muhammad Syarifuddin Ja'far Al Qadri (Raden Jamal).

844. Pangeran Ahmad bin Pangeran Abdullah bin Sayyid Abdurrahman Al Attas Al Maghribi.

845. Syaikh Sayyid Muhammad Shiddiq (Datu Komporjaya).

846. Sayyid Ja'far.

847. Syaikh Surgi Muhammad Najib bin Kafsin.

848. Pangeran Suria Mataram bin Sultan Adam Al Watsiq Billah.

849. Pangeran Nata Alam bin Pangeran Gapur Alam.

850. Pangeran Gapur Alam.

851. Tuan Syaikh Abdul Jalil.

852. Pangeran Hamim bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

853. Pangeran Sungging Anom bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

854. Pangeran Muhammad bin Sultan Sulaiman Rahmatullah.

855. Pangeran Syarif Alwi bin Sultan Syarif Abdurrahman Al Qadri.

856. Ratu Sekar Sari binti Sultan Tahmidillah.

857. H. Aberani bin H. Sulaiman (Gubernur Ke-3 Kalsel).

858. Ir. H. Muhammad Sa'id bin H. Bahar (Gubernur Ke-7 Kalsel).

859. Drs. H. Gusti Hasan Aman bin H. Gusti Aman Sa'ad (Gubernur Ke-8 Kalsel).

860. Habib Abdullah bin Idrus Al Masyhur.

861. Tuan Guru H. Ma'mun bin H. Anang Basyri Al Banjari.

862. Tuan Guru H. Muhammad Arsyad bin Abdullah.

863. Tuan Guru H. Muhammad Zuhri bin Abdullah.

864. Tuan Guru Gusti Rumansyah bin Gusti Madari bin Gusti Sa'aluddin.

865. Tuan Guru H. Hadhari bin Thayyib (Pendiri Pondok Pesantren An Najah).

866. Tuan Guru H. Kacil bin H. Napiah.

867. Datu Tamim.

868. Datu Fulan bin Fulan (Penulis Al Qur'an).

869. Datu Panglima Pangeran Abdullah.

870. Datu Rimpai.

871. Datu Palangaian.

872. Datu Ishak.

873. Datu Mahmud.

874. Datu Bakung.

875. Syarifah Nur Syifa binti Habib Nunci As Segaf.

876. Habib Nunci bin Ali bin Muhdhar As Segaf.

877. Tuan Guru H. Abdul Khaliq bin H. Jafri.

878. Habib Abdullah bin Alwi As Segaf.

879. Habib Abdullah bin Ahmad Al Aydrus.

880. Tuan Guru H. Asnawi bin Syihabuddin.

881. H. Muhammad Sa'ad bin Mufti H. Abdul Jalil Al Banjari.

882. Syarif Muhdhar bin Abdurrahman Al Azmatkhan Al Husaini.

883. Tuan Guru H. Muhammad Nur Aini bin H. Nurdin.

884. Tuan Guru H. Abdurrahman bin Tuan Guru H. Ismail (Mandurian).

885. Syaikh H. Hasbullah bin Syaikh H. Muhammad Kasan.

886. Syaikh H. Muhammad Kasan.

887. Tuan Guru H. Muhammad Nawawi (Pendiri Pondok Pesantren An Nawawiyah).

888. Datu H. Basri bin Muhammad Arif.

889. H. Muhammad Shalih Zakaria bin Abdul Karim (Datu Tarang).

890. Kai H. Sanusi bin Abdul Manaf (Wali Al Qur'an).

891. Datu Kudui.

892. Kai Azamulrabi bin Muhammad Shalih.

893. Ummina Hj. Fatimah binti H. Ahmad.

894. Datu H. Ahmad bin Dulari.

895. Tuan Guru H. Muhammad Arsyad (Kalibaru).

896. Tuan Guru H. Ahmad (Kahakan).

897. H. Junaidi bin H. Muhammad Nur.

898. Tuan Guru H. Musa Yusuf bin H. Muhammad Yusuf.

899. Tuan Guru H. Mursyid.

900. Tuan Guru H. Sabri bin H. Hanafiah.

901. Tuan Guru H. Ismail Kaderi.

902. Tuan Guru H. Abdullah Majrul bin H. Abdullah Manshur.

903. Tuan Guru H. Muhammad Shalih bin Syihabuddin.

904. Tuan Guru H. Abdul Ghani (Telaga Air Mata).

905. Habib Hasan bin Abdullah bin Pangeran Syarif Husein bin Awwadh Bahasyim.

906. Syarifah Fatimah binti Abdullah Bahasyim.

907. Syarifah Ra'anah binti Abdullah Bahasyim.

908. Tuan Guru H. Syamsun bin H. Shalih.

909. Tuan Guru H. Muhammad As'ad bin H. Muhammad Yusuf.

910. Habib Abdullah bin Alwi Al Habsyi.

911. Habib Ali bin Alwi Al Habsyi.

912. Syarifah Syihun binti Alwi Al Habsyi.

913. Hj. Masrah binti Muhammad Samman.

914. Tuan Guru H. Hasbullah bin Abdullah.

915. Datu Palajau.

916. Tuan Guru H. Jafri bin H. Ismail.

917. Tuan Guru H. Muhammad Yusuf bin H. Abdurrahman.

918. Tuan Guru H. Muhammad Yusuf bin Atun.

919. Datu Kupang Ranggas (Raja Alai).

920. Tuan Guru H. Abdul Ghani bin H. Muhammad Nashir.

921. Tumenggung Jayapati.

922. Tuan Guru H. Abdul Malik bin H. Tarmum.

923. Tuan Guru H. Badrun.

924. Tuan Guru H. Abdurrahman bin H. Ahmad.

925. Datu Haji Abdullah.

926. Datu Pangeran.

927. Syaikh Sayyid Sulaiman (Pakacangan).

928. Tuan Guru H. Asri Hasyim bin H. Zuhri.

929. Tuan Guru H. Abdurrahman Ismail bin Ismail.

930. Tuan Guru H. Ismail bin H. Ramli.

931. Tuan Guru H. Sulaiman Effendi bin H. Muhammad Rais.

932. Jamail bin Sutajaya (Datu Balai).

933. Muhammad Karamuji (Datu Putih).

934. Siti Warqiyah binti H. Muhammad Hafif (Aluh Idut).

935. Tuan Guru Abi Hurairah bin Sulaiman.

936. Datu Muhammad Manshur Al Maturidi bin Qadhi H. Muhammad Amin Al Banjari.

937. Datu Habibah binti Yahya Al Banjari.

938. Tuan Guru H. Sa'id bin H. Matarib.

939. Tuan Guru H. Abdul Qadir Nur bin Buwasin (Guru Janggut/Guru Dodol).

940. Tuan Guru H. Ahmad Zarkasyi bin Abdul Muthalib Al Banjari.

941. Habib Ibrahim bin Hasyim bin Ja'far Al Aydrus.

942. Tuan Guru H. Muhammad Subki bin H. Muhammad Arsyad Al Banjari.

943. Al Fadhil Muhammad Ramliannur bin H. Haddar.

944. Tuan Guru H. Abdul Hamid Husin.

945. Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim Baraqbah.

946. Habib Muhammad Rafi bin Hasan bin Abdurrahman Baraqbah.

947. Datu H. Amir bin H. Muhammad Alwi Al Banjari.

948. Habib Ahmad bin Yusuf bin Ibrahim Al Qadiri Al Jailani Al Hasani.

949. Kiyai Mesa Jaladri bin Tumenggung Suta Dipa.

950. Habib Abdullah bin Alwi Al Hamid.

951. Habib Umar bin Alwi As Segaf Al Bahlega.

952. Habib Muhammad bin Abdullah Al Habsyi.

953. Sayyid Utsman bin Muhammad Ba'bud.

954. Habib Salim bin Alwi bin Masyhur bin Abu Bakar Bin Syahab.

955. Habib Ali bin Abdul Qadir bin Husein Al Jufri.

956. Habib Hasan bin Abdurrahman Al Kaff.

957. Tuan Guru H. Muhammad Abik bin Udang.

958. Syaikh Abdussamad Al Banjari.

959. Sayyid Jibril bin Ismail Al Hasani.

960. Tuan Guru H. Muhammad Syahdan bin Abdullah.

961. Habib Hasan bin Idrus Al Habsyi.

962. Putri Aji Miki binti Sultan Muhammad Sepuh.

963. Sayyid Abu Bakar bin Mahmud Ar Rifa'i.

964. Syarifah Aisyah binti Sayyid Zein Al Qudsi Al Hasani.

965. Habib Alwi bin Muhammad Al Balghaits.

966. Habib Muhammad bin Abdullah Al Balghaits.

967. Habib Umar bin Muhammad Al Balghaits.

968. Habib Hasyim bin Alwi Al Balghaits.

969. Tuan Guru H. Muhammad Syahran bin Salman Bilal.

970. Tuan Guru H. Azhari bin Aman.

971. Habib Ja'far bin Abdullah bin Alwi Al Kaff.

972. Wan Thamrin bin Syarif Abu Bakar Al Qadri.

973. Datu Manlasa bin Hamid.

974. Tuan Guru H. Ahmad Nawawi Marfu' bin Marfu'.

975. Habib Abdul Hamid bin Idrus Al Aydrus.

976. Tuan Guru H. Muhammad Zaini bin Mahmuda.

977. Pangeran Muhammad Yusuf bin Pangeran Ibrahim.

978. Ratu Kasuari.

979. Pangeran Qasim bin Pangeran Wijaya Kusuma.

980. Datu Muhammad Mahmud Al Qabul (Datu Kabul).

981. Ratu Sara binti Sultan Tamjidillah.

982. Sayyid Tajuddin bin Ali Al Mahdali.

983. Habib Umar bin Hasyim Al Khirid.

984. Syarif Alwi bin Pangeran Syarif Umar Al Aydrus.

985. Syarifah Muzannah binti Pangeran Syarif Umar Al Aydrus.

986. Syarif Husin bin Pangeran Syarif Umar Al Aydrus.

987. Pangeran Agung bin Sultan Sulaiman Alamsyah.

988. Ratu Intan II binti Aji Jawa.

989. Pangeran Syarif Umar bin Pangeran Syarif Ali Al Aydrus.

990. Sayyid Husein bin Abdullah Al Fakhir As Segaf.

991. Sayyid Hasan bin Husein Al Fakhir As Segaf.

992. Andi Tangkung binti Pangeran Muda Mahdi Arifbillah (Raja Pagatan & Kusan VIII).

993. Daeng Mahmud bin Abdul Karim.

994. Andi Sallo bin Pangeran Muda Mahdi Arifbillah (Raja Pagatan & Kusan IX).

995. Indo Upe binti Pangeran Daeng Suwidi.

996. Pangeran Syarif Utsman bin Pangeran Syarif Ali Al Aydrus.

997. Pangeran Syarif Ahmad bin Pangeran Syarif Ali Al Aydrus.

998. Pangeran Syarif Thaha bin Pangeran Syarif Ali Al Aydrus.

999. Pangeran Syarif Hamid bin Pangeran Syarif Ali Al Aydrus.

1000. Putri Sri Sukma Dewi.


1001. Putri Dwi Sri Sundari.

1002. Pangeran Antagiri bin Pangeran Prabunata.

1003. Putri Aji Kurbawati binti Pangeran Aji Kesuma Negara.

1004. Tuan Guru Abdussamad bin H. Abdul Hamid.

1005. Habib Qadri bin Badri Al Balghaits.

1006. Habib Mushthafa Ahmad bin Shalih Al Aydrus.

1007. Tuan Guru H. Muhammad Ridwan Shalih bin H. Aini.

1008. Habib Shalih bin Mukhtar Al Aydrus.

1009. Syarifah Aminah binti Salim As Segaf.

1010. Habib Muhammad bin Abdullah Al Attas.

1011. Habib Harun bin Abdurrahman Bahasyim.

1012. Habib Utsman bin Segaf Al Aydrus.

1013. Syaikh Mufti H. Muhammad Arsyad bin Mufti H. Muhammad As'ad Al Banjari.

1014. Syaikh H. Muhammad Dahlan bin Ahmad Abbas (Guru Cantung).

1015. Tuan Guru H. Hanafi Gubit bin Syaikh H. Muhammad Dahlan.

1016. Ratu Intan Sari binti Syaikh Jamaluddin.

1017. Pangeran Syarif Ali bin Abdurrahman Al Aydrus.

1018. Pangeran Syarif Hasan bin Pangeran Syarif Ali Al Aydrus.