Selasa, November 03, 2026

JEJAK PENGABDIAN Dari Desa Dangu Menapaki Jalan Pendidikan, Kepemimpinan, Kemanusiaan, dan Pengabdian

JEJAK PENGABDIAN

Dari Desa Dangu Menapaki Jalan Pendidikan, Kepemimpinan, Kemanusiaan, dan Pengabdian

Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I.

IDENTITAS BUKU

Judul: Jejak Pengabdian

Subjudul: Dari Desa Dangu Menapaki Jalan Pendidikan, Kepemimpinan, Kemanusiaan, dan Pengabdian

Penulis: Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I.

Genre: Autobiografi, memoar, dan dokumentasi perjalanan pengabdian

Asal Penulis: Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

DEDIKASI

Buku ini saya persembahkan kepada kedua orang tua yang telah membesarkan saya dengan kesederhanaan, doa, dan ketulusan.

Kepada ibu, yang doa dan harapannya menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Kepada ayah, yang bersama ibu telah mengajarkan arti kehidupan melalui kerja keras dan kesungguhan.

Kepada istri tercinta, Rahimah, dan kedua anak saya, Muhammad Rafli Ansari serta Muhammad Hasan Baseri, yang menjadi bagian dari perjalanan kehidupan dan pengabdian saya.

Kepada para guru, ulama, sahabat, rekan seperjuangan, keluarga besar organisasi, para relawan, para dermawan, serta seluruh orang yang pernah hadir dan memberikan pelajaran dalam perjalanan ini.

Dan kepada siapa pun yang percaya bahwa kehidupan tidak hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi juga tentang apa yang dapat kita berikan kepada orang lain.

 

 

 

KATA PENGANTAR

Tidak semua perjalanan hidup dimulai dari keadaan yang mudah. Ada yang memulai langkah dari keterbatasan, tumbuh melalui berbagai pengalaman, dan belajar memahami kehidupan dari proses panjang yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Buku ini saya tulis sebagai upaya merekam perjalanan tersebut.

Saya bukan seseorang yang memiliki perjalanan hidup tanpa kekurangan. Saya juga bukan manusia yang selalu berhasil dalam setiap langkah. Ada masa ketika keadaan ekonomi menjadi tantangan, ada masa ketika tanggung jawab terasa berat, ada pengalaman organisasi yang mengajarkan arti kepemimpinan, dan ada perjalanan pengabdian yang mempertemukan saya dengan begitu banyak orang.

Saya berasal dari Desa Dangu, sebuah desa yang menjadi bagian dari perjalanan awal kehidupan saya. Saya tumbuh dalam keluarga petani dengan kehidupan yang sederhana. Dari lingkungan itulah saya mulai mengenal kerja keras, kesabaran, dan arti berusaha.

Perjalanan kemudian membawa saya menempuh pendidikan, belajar di lingkungan pesantren, terlibat dalam organisasi pelajar dan mahasiswa, mengikuti aktivitas kepemudaan, menjalani gerakan sosial, membangun gerakan kerelawanan, hingga mendapatkan amanah dalam dunia pendidikan.

Di antara perjalanan itu, ada nama-nama yang tidak dapat saya pisahkan dari cerita ini. Ada orang tua, guru, ulama, sahabat, rekan organisasi, para relawan, masyarakat, dan keluarga yang memberikan dukungan dengan cara masing-masing.

Buku ini bukan dimaksudkan untuk membesarkan diri atau mengklaim bahwa semua keberhasilan merupakan hasil usaha pribadi. Sebaliknya, saya ingin mencatat bahwa perjalanan panjang selalu melibatkan banyak tangan, banyak doa, dan banyak kebaikan dari orang lain.

Saya menyadari masih terdapat kekurangan dalam penyusunan buku ini. Oleh karena itu, saya berharap catatan ini dapat menjadi dokumentasi perjalanan, bahan refleksi, sekaligus pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memberikan manfaat sesuai kemampuan dan jalan hidupnya.

Semoga setiap ikhtiar yang pernah dilakukan menjadi amal kebaikan dan mendapatkan ridha Allah SWT.

Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I.

DAFTAR ISI

BAGIAN I — AKAR KEHIDUPAN

  1. Anak Desa dari Keluarga Petani
  2. Dangu, Tempat Saya Memulai Kehidupan
  3. Keluarga, Ibu, dan Nilai-Nilai Kehidupan
  4. Masa Muda dan Awal Mengenal Tanggung Jawab
  5. Menempuh Jalan Ilmu di Lingkungan Pesantren
  6. Belajar Mengaji, Belajar Kehidupan
  7. Dari Belajar Menjadi Mengajar

BAGIAN II — MENEMPUH JALAN PENDIDIKAN DAN ORGANISASI

  1. Menjadi Bagian dari Keluarga Besar SMAN 2 Barabai
  2. Belajar Berorganisasi Sejak Muda
  3. Dari OSIS Menuju Organisasi Kepemudaan
  4. BKPRMI dan Pengabdian di Lingkungan Keagamaan
  5. Karang Taruna dan Kepedulian terhadap Desa
  6. Memasuki Dunia Kemahasiswaan
  7. Himpunan Mahasiswa Islam dan Proses Pembentukan Kader
  8. Menjadi Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI
  9. Mengelola Latihan dan Proses Perkaderan
  10. Presiden Mahasiswa STAI Al-Washliyah Barabai
  11. Memimpin di Tengah Keterbatasan
  12. Kritik, Aspirasi, dan Tanggung Jawab Kepemimpinan
  13. KNPI dan Ruang Pengabdian Kepemudaan

BAGIAN III — AKTIVISME DAN GERAKAN SOSIAL

  1. Mengenal Persoalan Masyarakat
  2. GEMPPUR dan Gerakan Kepedulian Murakata
  3. Menyuarakan Aspirasi Masyarakat
  4. Perjuangan Lingkungan dan Persoalan Jalan Daerah
  5. Dari Aktivisme Menuju Pengabdian yang Lebih Luas
  6. Belajar Bekerja, Berdagang, dan Bertahan
  7. Tetap Berproses di Tengah Perubahan Kehidupan

BAGIAN IV — MEMBANGUN GERAKAN KEMANUSIAAN

  1. Semut Pemburu Berkah: Lahir dari Pengalaman Hidup
  2. 28 Agustus 2019: Awal Sebuah Gerakan
  3. Mengajak Kawan-Kawan Bergerak Bersama
  4. Kecil dalam Nama, Besar dalam Harapan
  5. Khadimul Ummat: Jalan untuk Berkhidmat
  6. Membangun Organisasi Kerelawanan
  7. Tiga Sayap Juang Khadimul Ummat
  8. Dakwah, Sosial, Pendidikan, dan Kemanusiaan
  9. Solidaritas Hulu Sungai Tengah Peduli Palestina
  10. Gelombang Pertama: Menghimpun Kepedulian
  11. Gelombang Kedua: Menjaga Api Solidaritas
  12. Ketika Banyak Organisasi Menjadi Satu Gerakan
  13. Kemanusiaan sebagai Jalan Pengabdian

 

BAGIAN V — PENGABDIAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

  1. Memasuki Lingkungan PKBM Dhiyaul Amin
  2. Amanah yang Datang dari Ayahanda
  3. Dari Tutor Menjadi Kepala PKBM
  4. Menghadapi Keterbatasan Perangkat Pembelajaran
  5. Dua Laptop dan Perjuangan Mengikuti ANBK
  6. Menata Dokumen dan Mempersiapkan Akreditasi
  7. Akreditasi Paket B dan Paket C
  8. Rapor Pendidikan: Membaca Hasil dan Kekurangan
  9. BOSP Kinerja dan BOSP Afirmasi
  10. Penguatan Kompetensi melalui Pembelajaran Mendalam
  11. Membuka Program Paket A
  12. Dari Keterbatasan Menuju Penguatan Sarana Pendidikan
  13. Membangun PKBM untuk Masa Depan
  14. Ujian Amanah, Kesabaran, dan Kepercayaan
  15. Keinginan untuk Terus Mengabdi

BAGIAN VI — KELUARGA, NILAI HIDUP, DAN REFLEKSI

  1. Rahimah dan Perjalanan Rumah Tangga
  2. Menjadi Suami dan Ayah
  3. Keluarga sebagai Bagian dari Perjalanan Pengabdian
  4. Bermanfaat bagi Orang Lain
  5. Yakin Usaha Sampai
  6. Hidup untuk Berproses
  7. Pengabdian Tidak Selalu Harus Terlihat

BAGIAN VII — PENUTUP

  1. Jejak yang Ingin Saya Tinggalkan
  2. Pengabdian yang Tidak Mengenal Garis Akhir
  3. Untuk Generasi yang Akan Melanjutkan

Lampiran dokumentasi, daftar organisasi, daftar kegiatan, penghargaan, dan arsip foto.


PROLOG

Perjalanan yang Tidak Selalu Mudah

Setiap manusia memiliki perjalanan hidupnya masing-masing. Ada perjalanan yang terlihat oleh banyak orang, ada pula yang berlangsung dalam kesunyian. Ada keberhasilan yang mudah dikenang, tetapi ada proses panjang di belakangnya yang sering kali tidak diketahui orang lain.

Saya percaya bahwa kehidupan bukan hanya tentang tempat seseorang dilahirkan, jabatan yang pernah diduduki, atau pencapaian yang berhasil diraih. Kehidupan juga tentang bagaimana seseorang menjalani proses, menghadapi keterbatasan, belajar dari kesalahan, dan berusaha memberikan manfaat bagi orang lain.

Saya memulai perjalanan ini dari sebuah desa bernama Dangu, di Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Saya lahir pada 28 Agustus 1987 dalam keluarga petani yang hidup sederhana. Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Kehidupan keluarga kami tidak dibangun di atas kemewahan. Orang tua saya menjalani kehidupan dengan bekerja sebagai petani.

Dari kehidupan sederhana itu, saya mengenal dunia yang sesungguhnya. Saya mengenal kerja keras, memahami bahwa sesuatu membutuhkan usaha, dan belajar bahwa kehidupan tidak selalu memberikan jalan yang mudah.

Ada banyak hal yang kemudian saya jalani: pendidikan, pesantren, organisasi, aktivitas kepemudaan, gerakan sosial, kerelawanan, kehidupan keluarga, dan pengabdian dalam dunia pendidikan.

Saya pernah berada dalam lingkungan organisasi mahasiswa, menjadi Presiden Mahasiswa, terlibat dalam organisasi kepemudaan, membangun gerakan kerelawanan, dan menerima amanah dalam organisasi sosial kemanusiaan.

Saya juga menjalani perjalanan dalam dunia pendidikan nonformal. Di PKBM Dhiyaul Amin, saya belajar bahwa mengelola lembaga pendidikan bukan sekadar mengatur administrasi. Ada peserta didik yang harus dilayani, tutor yang perlu diperkuat, sarana yang harus dikembangkan, dan tanggung jawab yang harus dijaga.

Semua itu tidak terjadi dalam satu hari. Ada proses, tantangan, dan pembelajaran yang menyertainya.

Buku ini adalah catatan perjalanan tersebut. Saya ingin menuliskan apa yang pernah saya jalani, apa yang dapat dipertanggungjawabkan melalui dokumen, dan apa yang menjadi pelajaran dari setiap fase kehidupan.

Saya tidak bermaksud menampilkan diri sebagai manusia yang paling berjasa. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa seseorang yang berasal dari keluarga sederhana juga dapat terus belajar, berorganisasi, bekerja, dan mengabdikan diri.

Sebab bagi saya, kehidupan tidak berhenti pada pencapaian pribadi.

Hidup untuk berproses dan berproses untuk memaknai hidup.


BAGIAN I

AKAR KEHIDUPAN

BAB 1

ANAK DESA DARI KELUARGA PETANI

Saya lahir pada 28 Agustus 1987 di Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Desa Dangu adalah tempat saya memulai kehidupan. Di sanalah saya tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana, mengenal kehidupan masyarakat desa, dan menjalani masa kecil bersama keluarga.

Saya berasal dari keluarga petani. Ayah dan ibu menjalani kehidupan dengan bekerja di sektor pertanian. Kehidupan keluarga kami tidak berlimpah secara materi, tetapi dari lingkungan itulah saya mulai mengenal nilai-nilai yang kemudian menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.

Saya adalah anak pertama dari dua bersaudara. Sebagai anak pertama, saya tumbuh dengan pengalaman dan tanggung jawab dalam keluarga yang ikut membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan.

Salah satu kenangan masa kecil yang masih melekat adalah pengalaman membantu orang tua di sawah. Saya mengenal suasana persawahan, tanah yang berlumpur, dan pekerjaan pertanian yang membutuhkan tenaga serta kesabaran.

Pengalaman itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi saya, kehidupan di tengah keluarga petani memberikan pelajaran yang tidak selalu dapat diperoleh dari ruang kelas.

Saya belajar bahwa sesuatu tidak hadir begitu saja. Ada proses yang harus dijalani. Ada tenaga yang dikeluarkan. Ada kesabaran yang dibutuhkan sebelum seseorang dapat menikmati hasil dari pekerjaannya.

Nilai-nilai itulah yang kemudian menjadi bagian dari cara saya memandang kehidupan.

Saya tidak ingin melupakan asal-usul. Sebab, dari tempat sederhana itulah perjalanan panjang ini dimulai.

BAB 2

DANGU, TEMPAT SAYA MEMULAI KEHIDUPAN

Setiap orang memiliki tempat yang menjadi bagian penting dari identitas hidupnya. Bagi saya, tempat itu adalah Desa Dangu.

Desa bukan hanya tempat seseorang dilahirkan. Desa juga merupakan lingkungan yang memperkenalkan seseorang kepada kehidupan sosial, hubungan antarmanusia, kebersamaan, dan nilai-nilai yang tumbuh di tengah masyarakat.

Saya tumbuh dalam lingkungan pedesaan Hulu Sungai Tengah. Kehidupan keluarga petani menjadi bagian dari pengalaman awal saya. Dari sana saya mengenal arti kesederhanaan dan memahami bahwa setiap keluarga memiliki perjuangannya masing-masing.

Ketika mengenang masa kecil, salah satu hal yang selalu saya ingat adalah pengalaman membantu di sawah. Tanah berlumpur dan aktivitas pertanian menjadi bagian dari pengalaman hidup yang tidak terpisahkan dari masa kecil saya.

Saya tidak memandang pengalaman itu sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Justru dari pengalaman sederhana itulah saya belajar menghargai pekerjaan dan perjuangan orang tua.

Perjalanan hidup saya kemudian membawa saya keluar dari lingkungan awal untuk menempuh pendidikan dan mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Namun, asal-usul tetap menjadi bagian dari diri saya.

Dari Dangu, saya belajar memulai. Dari keluarga sederhana, saya belajar berusaha. Dan dari kehidupan masyarakat, saya belajar bahwa keberadaan seseorang akan lebih berarti ketika dapat memberikan manfaat bagi lingkungannya.

BAB 3

KELUARGA, IBU, DAN NILAI-NILAI KEHIDUPAN

Keluarga adalah bagian penting dalam perjalanan hidup saya.

Saya tumbuh dalam keluarga petani dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Pengalaman tersebut membentuk pemahaman saya tentang arti perjuangan dan pentingnya pendidikan.

Dalam perjalanan pendidikan, ada masa ketika keadaan ekonomi menjadi tantangan yang sangat berat. Bahkan, pernah muncul keinginan untuk menyerah dan tidak melanjutkan kuliah.

Namun, doa dan harapan ibu menjadi salah satu kekuatan yang membuat saya tetap berusaha melanjutkan perjalanan.

Saya memahami bahwa harapan orang tua bukanlah sesuatu yang ringan. Di balik keinginan agar anaknya memperoleh pendidikan, terdapat pengorbanan, doa, dan harapan tentang masa depan yang lebih baik.

Pengalaman itu menjadi pelajaran bagi saya untuk tidak mudah melupakan perjuangan keluarga.

Saya juga belajar bahwa keberhasilan tidak selalu diukur dari seberapa tinggi seseorang mencapai kedudukan. Ada tanggung jawab yang lebih mendasar, yaitu bagaimana seseorang tetap menghargai orang tua, menjaga keluarga, dan tidak kehilangan nilai-nilai kebaikan dalam menjalani kehidupan.

Pada akhirnya, keluarga tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan saya.

BAB 4

MASA MUDA DAN AWAL MENGENAL TANGGUNG JAWAB

Masa muda merupakan salah satu fase penting dalam pembentukan karakter seseorang.

Pada masa ini, saya mulai mengenal berbagai lingkungan di luar keluarga. Pendidikan, pergaulan, kegiatan keagamaan, dan organisasi memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar tentang tanggung jawab.

Saya mulai mengenal bahwa kehidupan bermasyarakat membutuhkan keterlibatan. Seseorang tidak cukup hanya memperhatikan kepentingan dirinya sendiri. Ada lingkungan yang perlu diperhatikan, ada kegiatan yang membutuhkan bantuan, dan ada persoalan yang memerlukan kepedulian bersama.

Keterlibatan dalam organisasi kemudian menjadi salah satu jalan yang saya tempuh.

Pengalaman organisasi mengajarkan saya untuk berinteraksi dengan banyak orang, memahami perbedaan pandangan, belajar bekerja sama, dan menerima tanggung jawab.

Saya tidak langsung memahami semuanya. Banyak hal yang harus dipelajari melalui proses. Ada pengalaman yang memberikan keberanian, ada pula pengalaman yang menjadi bahan evaluasi.

Dari masa muda itulah benih ketertarikan terhadap organisasi, pendidikan, dan pengabdian sosial mulai tumbuh.

BAB 5

MENEMPUH JALAN ILMU DI LINGKUNGAN PESANTREN

Pendidikan agama menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya.

Pada tahun 2004, saya ikut belajar di Pondok Pesantren Darul Muttaqin Ilung. Setelah tahun 2006, pesantren tersebut berubah nama menjadi Pondok Pesantren Nurul Muhibbin.

Lingkungan pesantren memberikan pengalaman tersendiri dalam perjalanan pendidikan saya. Kegiatan belajar agama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu aktivitas yang saya ingat adalah pembelajaran pada malam hari setelah salat Magrib.

Pada masa itu, kegiatan pembelajaran diikuti oleh banyak orang. Berdasarkan ingatan saya, jumlah yang hadir dapat mencapai ratusan orang, meskipun yang tetap istiqamah mengikuti kegiatan secara rutin sekitar 30–40 orang. Kami bukan santri mukim hanya para pemuda-pemuda desa yang ikut rutin belajar tiap hari di pondok Pesantren

Selain kegiatan pembelajaran di pesantren, saya juga menjadi bagian dari kegiatan awal di Majelis Nurul Muhibbin Ilung yang dipimpin oleh KH. Muhammad Bakhiet. Kegiatan majelis tersebut berlangsung setiap malam Rabu, atau malam Kamis.

Pengalaman berada di lingkungan pesantren dan majelis menjadi bagian dari proses pembentukan diri saya. Saya memperoleh kesempatan untuk belajar, mengikuti kegiatan keagamaan, dan mengenal kehidupan yang menempatkan ilmu serta pembinaan rohani sebagai bagian penting dari keseharian.

Saya memahami bahwa perjalanan menuntut ilmu bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan. Ia juga berkaitan dengan kesungguhan, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, dan usaha memperbaiki diri.

BAB 6

BELAJAR MENGAJI, BELAJAR KEHIDUPAN

Selain menjadi bagian dari lingkungan pendidikan pesantren, saya juga mulai menjalani pengalaman mengajar Al-Qur'an.

Pada periode 2004–2010, saya mengajar Al-Qur'an di TK TPA Al-Qur'an Dhiyaul Abidin Unit 008.

Pengalaman ini menjadi bagian penting dalam perjalanan saya karena memberikan kesempatan untuk tidak hanya belajar, tetapi juga membagikan pengetahuan yang telah diperoleh.

Mengajar memberikan tanggung jawab yang berbeda. Ada amanah untuk menyampaikan pelajaran, ada kepercayaan yang harus dijaga, dan ada kebutuhan untuk terus memperbaiki kemampuan diri.

Saya memandang pengalaman mengajar tersebut sebagai salah satu awal perjalanan pengabdian dalam bidang pendidikan dan keagamaan.

Dari sana saya semakin memahami bahwa ilmu akan lebih bermakna ketika dapat memberikan manfaat kepada orang lain.

Pengalaman itu pula yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang saya dalam dunia pendidikan, hingga pada akhirnya memperoleh amanah untuk ikut mengelola lembaga pendidikan nonformal.

BAB 7

DARI BELAJAR MENJADI MENGAJAR

Ada fase ketika seseorang lebih banyak menerima ilmu. Ada pula fase ketika seseorang mulai diberikan kesempatan untuk membagikan ilmu kepada orang lain.

Bagi saya, pengalaman mengajar di TK TPA Al-Qur'an Dhiyaul Abidin menjadi bagian dari peralihan tersebut.

Perjalanan mengajar sejak 2004 hingga 2010 berlangsung bersamaan dengan proses pendidikan dan aktivitas organisasi yang saya jalani.

Saya belajar bahwa mengajar bukan hanya menyampaikan materi. Mengajar juga menuntut tanggung jawab dan kesungguhan. Seseorang harus berusaha memahami apa yang disampaikan agar dapat diterima oleh orang yang belajar.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu fondasi yang kelak berhubungan dengan perjalanan saya di bidang pendidikan nonformal.

Saya tidak pernah menganggap perjalanan ini selesai hanya karena pernah berada dalam satu lingkungan pendidikan. Setiap pengalaman justru membuka kesempatan untuk belajar kembali.

Dari keluarga petani, saya belajar tentang kerja keras. Dari pesantren, saya belajar tentang ilmu dan pembinaan diri. Dari pengalaman mengajar, saya belajar tentang tanggung jawab membagikan pengetahuan.

Ketiga pengalaman tersebut menjadi bagian dari akar perjalanan pengabdian saya.

 

BAGIAN II

MENEMPUH JALAN PENDIDIKAN DAN ORGANISASI

BAB 8

MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA BESAR SMAN 2 BARABAI

Perjalanan pendidikan saya tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Seiring bertambahnya usia, saya mulai mengenal lingkungan yang lebih luas dan mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah.

Salah satu bagian penting dari perjalanan tersebut adalah ketika saya menjadi bagian dari SMAN 2 Barabai.

Di lingkungan sekolah, saya mulai mengenal organisasi siswa. Bagi saya, organisasi menjadi ruang pembelajaran yang berbeda dari kegiatan akademik. Di sana, seseorang belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyampaikan gagasan, dan menjalankan tanggung jawab.

Pada tahun 2004, saya tercatat sebagai pengurus OSIS SMAN 2 Barabai pada bidang keagamaan. Kemudian, pada tahun 2005, saya kembali menjalankan amanah sebagai Koordinator Bidang Keagamaan.

Saya juga tercatat pernah menjadi Koordinator Hubungan Masyarakat Majelis Perwakilan Kelas (MPK) SMAN 2 Barabai pada tahun 2006.

Keterlibatan dalam organisasi sekolah menjadi salah satu pengalaman awal yang memperkenalkan saya pada dunia kepemimpinan. Saya belajar bahwa sebuah kegiatan tidak dapat berjalan hanya dengan keinginan satu orang. Dibutuhkan koordinasi, komunikasi, dan kesediaan untuk bekerja bersama.

Pengalaman ini menjadi salah satu pintu awal sebelum saya memasuki lingkungan organisasi yang lebih luas, terutama organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.

BAB 9

BELAJAR BERORGANISASI SEJAK MUDA

Ketertarikan saya terhadap organisasi tidak berhenti setelah mengikuti kegiatan di sekolah.

Saya melihat organisasi sebagai tempat untuk belajar sekaligus memberikan kontribusi. Melalui organisasi, seseorang dapat mengenal banyak orang, memahami persoalan masyarakat, dan memperoleh kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan sosial maupun keagamaan.

Namun, saya juga memahami bahwa berorganisasi bukan hanya tentang menjadi pengurus atau memiliki jabatan. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan dan ada kepercayaan yang harus dijaga.

Sejak masa muda, saya mulai terlibat dalam beberapa organisasi. Pengalaman tersebut membentuk proses belajar yang berlangsung secara bertahap.

Saya tidak datang dengan pemahaman yang sempurna tentang kepemimpinan. Banyak hal yang saya pelajari melalui keterlibatan langsung, melalui interaksi dengan orang lain, serta melalui pengalaman menjalankan tugas organisasi.

Dari proses itu saya mulai memahami bahwa seorang pengurus harus bersedia bekerja, bukan hanya hadir ketika ada kegiatan. Ia harus memahami tanggung jawabnya dan berusaha menjalankan amanah sebaik mungkin.

Organisasi juga mengajarkan bahwa perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Hal yang penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dikelola agar tidak menghilangkan tujuan bersama.

BAB 10

BKPRMI DAN PENGABDIAN DI LINGKUNGAN KEAGAMAAN

Selain kegiatan organisasi sekolah, saya juga terlibat dalam organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang keagamaan.

Salah satunya adalah Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia atau BKPRMI Kecamatan Batang Alai Utara.

Dalam perjalanan organisasi saya, BKPRMI menjadi salah satu lingkungan yang mempertemukan semangat kepemudaan dengan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Saya tercatat terlibat sebagai anggota atau pengurus BKPRMI Kecamatan Batang Alai Utara pada periode yang dimulai sekitar tahun 2004 hingga 2010.

Keterlibatan dalam lingkungan kepemudaan masjid memberikan pengalaman bahwa generasi muda memiliki ruang untuk berperan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.

Bagi saya, kegiatan keagamaan dan organisasi kepemudaan bukan dua hal yang harus dipisahkan. Keduanya dapat berjalan bersama dalam membangun karakter, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian sosial.

Pengalaman ini kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang saya dalam bidang dakwah dan pelayanan umat.

BAB 11

KARANG TARUNA DAN KEPEDULIAN TERHADAP DESA

Pada tahun 2007, saya mulai menjalankan amanah yang lebih besar dalam organisasi kepemudaan di lingkungan desa.

Saya tercatat sebagai Ketua Umum Karang Taruna Tunas Jaya Desa Ilung Pasar Lama untuk periode 2007–2012.

Amanah tersebut menjadi pengalaman penting karena organisasi yang dijalankan berada dekat dengan lingkungan masyarakat tempat saya beraktivitas.

Karang Taruna merupakan ruang bagi pemuda untuk belajar mengambil peran dalam kehidupan sosial. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk membangun kebersamaan dan mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan.

Menjadi ketua organisasi tentu membawa tanggung jawab. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk memiliki gagasan, tetapi juga harus mampu membangun komunikasi dan menjaga kerja sama.

Saya memahami bahwa jabatan ketua bukanlah tujuan akhir. Jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan kesungguhan.

Pengalaman di Karang Taruna menjadi bagian dari proses saya mengenal kepemimpinan dalam lingkup yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dari lingkungan desa, saya belajar bahwa pengabdian dapat dimulai dari tempat seseorang tinggal dan berinteraksi setiap hari.

BAB 12

MEMASUKI DUNIA KEMAHASISWAAN

Setelah menempuh pendidikan sebelumnya, perjalanan saya berlanjut ke dunia perguruan tinggi.

Saya tercatat sebagai mahasiswa angkatan 2007 di STAI Al-Washliyah Barabai. Memasuki lingkungan perguruan tinggi membuka pengalaman baru dalam perjalanan pendidikan dan organisasi saya.

Dunia kemahasiswaan memiliki dinamika tersendiri. Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan kegiatan akademik, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengikuti diskusi, organisasi, kegiatan sosial, dan berbagai proses pembentukan kepemimpinan.

Pada masa kuliah, saya aktif dalam organisasi kemahasiswaan. Saya tercatat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Angkatan 2007 STAI Al-Washliyah untuk periode 2007–2012.

Selain itu, saya juga pernah menjadi bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa STAI Al-Washliyah pada Departemen Hubungan Masyarakat periode 2008–2009.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses belajar saya dalam lingkungan kampus.

Namun, perjalanan kuliah tidak selalu berjalan mudah. Salah satu tantangan terbesar yang saya hadapi adalah kondisi ekonomi keluarga.

Ada masa ketika keadaan tersebut membuat saya berpikir untuk menyerah dan menghentikan perjalanan pendidikan. Kuliah membutuhkan biaya, sementara kemampuan ekonomi keluarga sangat terbatas.

Dalam keadaan seperti itu, doa dan harapan ibu menjadi salah satu kekuatan yang membuat saya berusaha bertahan.

Saya menyadari bahwa pendidikan bukan hanya tentang keinginan pribadi. Ada harapan orang tua yang ikut menyertainya.

Karena itu, meskipun menghadapi keterbatasan, saya berusaha melanjutkan proses pendidikan dan tetap aktif dalam kegiatan kemahasiswaan.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa perjuangan pendidikan sering kali berjalan berdampingan dengan perjuangan kehidupan.

BAB 13

HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM DAN PROSES PEMBENTUKAN KADER

Di tengah perjalanan kemahasiswaan, saya juga mengenal dan terlibat dalam Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI Cabang Barabai.

HMI menjadi salah satu ruang penting dalam perjalanan organisasi saya. Melalui organisasi ini, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti proses perkaderan dan pembinaan mahasiswa.

Saya tercatat sebagai Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai pada periode 2009–2010.

Amanah tersebut berkaitan dengan salah satu aspek penting dalam organisasi, yaitu pembinaan anggota.

Bagi saya, pembinaan anggota bukan sekadar kegiatan organisasi. Di dalamnya terdapat proses membangun pemahaman, memperkuat tanggung jawab, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap anggota memiliki kewajiban untuk terus belajar.

Organisasi membutuhkan anggota yang tidak hanya tercatat dalam struktur kepengurusan, tetapi juga memiliki kemauan untuk memahami tujuan dan nilai perjuangannya.

Pengalaman di HMI menjadi bagian dari proses pembentukan cara pandang saya terhadap organisasi, kepemimpinan, dan kehidupan kemahasiswaan.

Saya belajar bahwa seorang kader tidak boleh berhenti pada pengalaman yang telah diperoleh. Ia harus terus membuka diri terhadap pengetahuan, diskusi, dan evaluasi.

BAB 14

MENJADI BAGIAN DARI PROSES PERKADERAN

Perjalanan saya di HMI berlanjut pada amanah berikutnya.

Pada periode 2011–2012, saya tercatat sebagai Sekretaris Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Barabai.

Badan Pengelola Latihan memiliki peran dalam mendukung proses perkaderan organisasi. Melalui pengalaman tersebut, saya semakin mengenal pentingnya proses pendidikan dan pembinaan dalam sebuah organisasi.

Perkaderan tidak dapat dipahami hanya sebagai kegiatan yang diselenggarakan pada waktu tertentu. Ia merupakan proses untuk membentuk pemahaman, memperkuat kapasitas, dan mempersiapkan anggota agar mampu menjalankan tanggung jawab organisasi.

Saya juga mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam forum diskusi dan kegiatan pelatihan pada berbagai kesempatan.

Pengalaman tersebut memperluas ruang belajar saya. Saya memahami bahwa kemampuan seseorang tidak hanya dibangun melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui proses belajar yang berkelanjutan.

Dalam perjalanan organisasi, kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan memang penting. Namun, kemampuan mendengarkan, memahami persoalan, dan menghargai pendapat orang lain juga sama pentingnya.

Dari proses perkaderan inilah saya semakin memahami bahwa organisasi harus menjadi tempat untuk membangun kualitas manusia, bukan sekadar tempat mengumpulkan jabatan.

BAB 15

PRESIDEN MAHASISWA STAI AL-WASHLIYAH BARABAI

Salah satu amanah penting dalam perjalanan kemahasiswaan saya adalah ketika dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa STAI Al-Washliyah Barabai atau Presiden Mahasiswa periode 2010–2011.

Amanah tersebut menjadi salah satu fase yang sangat berarti dalam perjalanan hidup saya.

Menjadi Presiden Mahasiswa bukan hanya tentang memimpin sebuah organisasi kampus. Ada tanggung jawab untuk mengelola organisasi, membangun komunikasi, dan menyuarakan aspirasi mahasiswa.

Pada masa itu, saya beberapa kali terlibat dalam aksi penyampaian kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah.

Saya memandang bahwa mahasiswa memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi dan memberikan kritik terhadap kebijakan publik. Kritik tersebut seharusnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang demokratis, selama dilakukan dengan tanggung jawab dan tetap memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Dalam menjalankan amanah tersebut, saya belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang mudah. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan, ada keputusan yang harus dipertimbangkan, dan ada konsekuensi yang harus dihadapi.

Saya juga menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan. Kondisi tersebut pernah membuat saya mempertimbangkan untuk menyerah dalam pendidikan.

Namun, saya terus berusaha mengingat harapan ibu dan tanggung jawab yang telah saya jalani.

Dari masa itu saya belajar bahwa kepemimpinan tidak cukup hanya dengan keberanian menyampaikan pendapat. Seorang pemimpin juga harus mampu menjaga komitmen, mengelola tanggung jawab, dan tidak melupakan kewajiban terhadap pendidikan serta keluarga.

BAB 16

MEMIMPIN DI TENGAH KETERBATASAN

Menjalankan amanah sebagai Presiden Mahasiswa pada periode 2010–2011 memberikan pengalaman yang tidak dapat saya lepaskan dari perjalanan hidup.

Di satu sisi, saya harus menjalankan tanggung jawab organisasi. Di sisi lain, saya tetap harus menghadapi kebutuhan pribadi dan perjuangan menyelesaikan pendidikan.

Kondisi ekonomi menjadi tantangan yang nyata dalam perjalanan tersebut.

Pernah terlintas keinginan untuk berhenti kuliah. Namun, saya memahami bahwa pendidikan adalah harapan yang telah diperjuangkan dan didoakan oleh orang tua.

Doa ibu menjadi pengingat agar saya tidak mudah menyerah.

Pengalaman ini memberikan pelajaran tentang arti kepemimpinan dalam keadaan terbatas. Seseorang tidak harus menunggu kehidupannya sempurna untuk belajar bertanggung jawab.

Namun, keterbatasan juga mengajarkan pentingnya menyadari kemampuan diri, mengatur prioritas, dan terus berusaha mencari jalan terbaik.

Saya tidak ingin menggambarkan masa itu sebagai perjalanan yang selalu berhasil. Ada kesulitan yang harus dihadapi dan ada banyak hal yang harus dipelajari.

Yang dapat saya ambil dari pengalaman tersebut adalah bahwa tanggung jawab harus dijalani dengan kesungguhan, sementara setiap kekurangan harus menjadi bahan untuk memperbaiki diri.

BAB 17

KRITIK, ASPIRASI, DAN TANGGUNG JAWAB KEPEMIMPINAN

Selama menjalankan amanah dalam organisasi mahasiswa, saya beberapa kali terlibat dalam aksi penyampaian aspirasi dan kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah.

Bagi saya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengalaman aktivisme mahasiswa.

Mahasiswa memiliki kesempatan untuk mengamati persoalan masyarakat, mendiskusikan kebijakan, dan menyampaikan pandangan terhadap berbagai persoalan publik.

Namun, pengalaman tersebut juga mengajarkan bahwa menyampaikan kritik harus disertai tanggung jawab.

Kritik seharusnya tidak hanya berangkat dari ketidakpuasan. Kritik perlu didukung pemahaman terhadap persoalan dan diarahkan pada perbaikan.

Saya belajar bahwa keberanian berbicara harus diimbangi dengan kesediaan untuk mendengar. Sebab, persoalan masyarakat tidak selalu dapat dipahami hanya dari satu sudut pandang.

Pengalaman dalam kegiatan mahasiswa tersebut kemudian menjadi salah satu bekal ketika saya terlibat dalam gerakan sosial dan kepemudaan di luar kampus.

Saya semakin memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan menggerakkan orang lain, melainkan juga tentang kesediaan bertanggung jawab terhadap setiap langkah yang diambil.

BAB 18

KNPI DAN RUANG PENGABDIAN KEPEMUDAAN

Setelah melalui berbagai pengalaman dalam organisasi mahasiswa, perjalanan saya berlanjut ke lingkungan organisasi kepemudaan yang lebih luas.

Saya tercatat menjadi bagian dari Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Pada periode 2012–2015, saya mengemban amanah sebagai Wakil Sekretaris II DPD KNPI Hulu Sungai Tengah.

Keterlibatan dalam KNPI menjadi bagian dari perjalanan saya dalam dunia kepemudaan daerah.

Lingkungan organisasi kepemudaan mempertemukan berbagai latar belakang, gagasan, dan pengalaman. Di dalamnya terdapat ruang untuk membangun komunikasi serta memperkuat peran pemuda dalam kehidupan masyarakat.

Saya memahami bahwa pemuda memiliki potensi untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah. Potensi tersebut perlu diarahkan melalui kegiatan yang produktif, kepedulian sosial, dan kemauan untuk terus belajar.

Pengalaman di KNPI juga menjadi bagian dari proses saya memahami organisasi dalam lingkup yang lebih luas dibandingkan organisasi sekolah maupun kampus.

BAB 19

DARI ORGANISASI MENUJU PENGABDIAN YANG LEBIH LUAS

Jika saya melihat kembali perjalanan sejak masa sekolah hingga memasuki organisasi kepemudaan, ada satu hal yang terasa konsisten: keinginan untuk terus belajar dan mengambil bagian dalam kehidupan sosial.

Saya memulai dari organisasi sekolah, kemudian terlibat dalam kegiatan keagamaan, Karang Taruna, organisasi mahasiswa, HMI, BEM, hingga KNPI.

Setiap organisasi memberikan pengalaman yang berbeda. Ada ruang pembinaan, ruang kepemimpinan, ruang diskusi, dan ruang untuk mengenal persoalan masyarakat.

Saya tidak menganggap semua pengalaman tersebut sebagai pencapaian yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian dari proses pembentukan diri.

Saya belajar bahwa organisasi bukan tujuan akhir. Organisasi adalah salah satu sarana untuk belajar, bekerja sama, dan memberikan kontribusi.

Dari pengalaman itu, saya semakin memahami bahwa pengabdian dapat dilakukan melalui berbagai jalan. Ada yang mengabdi melalui pendidikan, ada yang melalui kegiatan sosial, ada yang melalui dakwah, dan ada pula yang mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan.

Perjalanan saya kemudian berlanjut menuju aktivitas sosial yang lebih luas.

PENUTUP BAGIAN II

ORGANISASI SEBAGAI SEKOLAH KEHIDUPAN

Perjalanan organisasi sejak masa sekolah hingga masa kemahasiswaan telah memberikan banyak pelajaran.

Saya belajar tentang kepemimpinan melalui amanah yang diberikan. Saya belajar tentang tanggung jawab melalui tugas yang harus dijalankan. Saya belajar tentang kebersamaan melalui interaksi dengan berbagai orang.

Saya juga belajar bahwa jabatan tidak selalu membuat seseorang menjadi lebih baik. Justru jabatan seharusnya menjadi pengingat bahwa ada tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Di balik semua pengalaman tersebut, terdapat satu pelajaran yang terus saya pegang: jangan berhenti belajar hanya karena pernah mendapatkan amanah.

Sebab, perjalanan seseorang tidak selesai ketika masa kepengurusan berakhir. Pengalaman yang diperoleh harus menjadi bekal untuk menjalani tanggung jawab berikutnya.

Dari dunia sekolah, kampus, dan organisasi kepemudaan, saya kemudian melangkah menuju ruang pengabdian yang lebih luas.

Perjalanan berikutnya membawa saya lebih dekat kepada persoalan masyarakat, gerakan sosial, dan kemanusiaan.

 

BAGIAN III

AKTIVISME DAN GERAKAN SOSIAL

BAB 20

MENGENAL PERSOALAN MASYARAKAT

Pengalaman berorganisasi memberikan banyak pelajaran kepada saya. Namun, semakin lama saya terlibat dalam berbagai kegiatan, semakin saya memahami bahwa organisasi tidak boleh hanya sibuk dengan urusan internalnya sendiri.

Ada kehidupan masyarakat yang harus diperhatikan. Ada persoalan yang membutuhkan kepedulian. Ada aspirasi yang perlu disampaikan, dan ada keadaan yang menuntut seseorang untuk tidak sekadar menjadi penonton.

Saya mulai melihat bahwa pengabdian memiliki ruang yang sangat luas. Tidak hanya melalui jabatan dalam organisasi, tetapi juga melalui keterlibatan dalam persoalan yang dihadapi masyarakat.

Pengalaman di lingkungan sekolah, pesantren, kampus, HMI, Karang Taruna, dan KNPI menjadi bagian dari bekal saya untuk memahami kehidupan sosial.

Saya belajar bahwa setiap persoalan masyarakat memiliki latar belakang dan kepentingannya sendiri. Karena itu, seseorang perlu berusaha memahami persoalan sebelum mengambil sikap.

Dalam perjalanan berikutnya, saya semakin banyak bersentuhan dengan aktivitas sosial dan gerakan masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Bagi saya, kepedulian tidak cukup hanya disampaikan melalui kata-kata. Kepedulian harus memiliki keberanian untuk diwujudkan dalam tindakan yang bertanggung jawab.

BAB 21

GEMPPUR DAN GERAKAN KEPEDULIAN MURAKATA

Dalam perjalanan aktivisme di Hulu Sungai Tengah, saya terlibat dalam gerakan yang dikenal dengan nama GEMPPUR, singkatan dari Gerakan Masyarakat Peduli Penyelamat Murakata.

Gerakan ini menjadi salah satu bagian dari pengalaman saya dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.

Nama Murakata memiliki kedekatan dengan identitas daerah Hulu Sungai Tengah. Karena itu, kepedulian terhadap Murakata bukan hanya persoalan nama atau simbol daerah, melainkan juga berkaitan dengan perhatian terhadap kehidupan masyarakat dan berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Melalui aktivitas gerakan masyarakat, saya semakin memahami bahwa kepedulian terhadap daerah membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Setiap orang dapat memiliki pandangan yang berbeda terhadap suatu persoalan. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan ruang untuk berdiskusi dan menyampaikan aspirasi.

Bagi saya, gerakan masyarakat harus tetap menempatkan kepentingan publik sebagai perhatian utama. Keberanian menyampaikan pendapat perlu berjalan bersama tanggung jawab, pemahaman terhadap persoalan, dan komitmen menjaga ketertiban.

GEMPPUR menjadi salah satu catatan dalam perjalanan saya memahami arti kepedulian terhadap daerah.

BAB 22

MENYUARAKAN ASPIRASI MASYARAKAT

Tahun 2017 menjadi salah satu periode penting dalam perjalanan aktivisme saya.

Pada masa itu, saya terlibat dalam sejumlah aksi penyampaian aspirasi masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Di antara persoalan yang menjadi perhatian adalah penggunaan jalan kabupaten oleh kendaraan-kendaraan besar serta persoalan yang berkaitan dengan kawasan Meratus.

Keterlibatan dalam aksi-aksi tersebut merupakan bagian dari pengalaman saya dalam menyuarakan perhatian terhadap persoalan daerah.

Saya memahami bahwa jalan merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Jalan digunakan untuk aktivitas sehari-hari, pendidikan, perdagangan, pelayanan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Karena itu, persoalan yang berkaitan dengan penggunaan dan kondisi jalan perlu mendapat perhatian.

Selain itu, persoalan Meratus juga menjadi salah satu isu yang pernah menjadi perhatian dalam gerakan masyarakat yang saya ikuti.

Saya tidak ingin menyederhanakan persoalan-persoalan tersebut hanya menjadi cerita tentang aksi demonstrasi. Di balik setiap aspirasi, selalu ada kepentingan masyarakat yang perlu dipahami secara cermat.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa menyampaikan pendapat merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan dengan pertimbangan. Kritik perlu disampaikan secara jelas, tetapi tetap menjaga penghormatan terhadap orang lain dan ketertiban masyarakat.

Saya juga belajar bahwa sebuah gerakan tidak boleh hanya berhenti pada momentum kegiatan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana kepedulian terhadap persoalan masyarakat tetap terpelihara.

BAB 23

AKTIVISME, KEBERANIAN, DAN TANGGUNG JAWAB

Dalam perjalanan aktivisme, keberanian sering kali menjadi hal yang terlihat oleh masyarakat. Seseorang yang hadir dalam kegiatan penyampaian aspirasi mungkin terlihat sedang memperjuangkan suatu persoalan.

Namun, di balik keberanian tersebut terdapat tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.

Saya belajar bahwa menyampaikan kritik bukan berarti meniadakan penghormatan. Berbeda pendapat bukan berarti harus bermusuhan. Dan memperjuangkan kepentingan masyarakat bukan berarti mengabaikan aturan serta tanggung jawab sosial.

Pengalaman organisasi mengajarkan saya pentingnya koordinasi. Pengalaman aktivisme mengajarkan saya pentingnya memahami persoalan. Sementara kehidupan bermasyarakat mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki dampak terhadap orang lain.

Saya tidak ingin memandang perjalanan aktivisme sebagai ukuran tunggal keberhasilan pengabdian. Ada banyak jalan lain untuk membantu masyarakat, termasuk melalui pendidikan, kegiatan sosial, pelayanan keagamaan, dan gerakan kemanusiaan.

Seiring berjalannya waktu, saya semakin memahami bahwa pengabdian tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan yang terlihat ramai. Ada pekerjaan yang lebih banyak berlangsung di belakang layar, tetapi tetap memiliki manfaat bagi masyarakat.

BAB 24

PENGALAMAN KEPEMUDAAN DAN RUANG PENGABDIAN

Selain pengalaman dalam gerakan masyarakat, perjalanan organisasi saya juga berlanjut melalui keterlibatan dalam organisasi kepemudaan lainnya.

Saya pernah tercatat dalam kepengurusan Pemuda Pancasila Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada periode 2017–2018.

Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan saya mengenal lebih banyak lingkungan organisasi dan kehidupan sosial masyarakat.

Setiap organisasi memiliki karakter, ruang kegiatan, serta tanggung jawab yang berbeda. Namun, saya melihat bahwa semuanya dapat menjadi ruang pembelajaran apabila dijalankan dengan kesungguhan.

Saya semakin memahami bahwa seorang aktivis tidak boleh berhenti pada identitas organisasi. Hal yang lebih penting adalah nilai apa yang dipelajari dan manfaat apa yang dapat diberikan melalui keterlibatan tersebut.

Pengalaman di berbagai organisasi membuat saya bertemu dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Dari pertemuan-pertemuan itulah saya belajar tentang keberagaman pandangan dan pentingnya menjaga komunikasi.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses yang kemudian membawa saya lebih dekat pada kegiatan sosial dan kemanusiaan.

BAB 25

BEKERJA, BERUSAHA, DAN MEMAHAMI KEHIDUPAN

Di luar aktivitas organisasi, saya juga menjalani perjalanan dalam dunia pekerjaan.

Saya pernah bekerja pada bidang pemasaran dan promosi di sebuah perusahaan penyedia layanan telekomunikasi. Pengalaman bekerja memberikan kesempatan bagi saya untuk mengenal dunia profesional dan berinteraksi dengan masyarakat melalui kegiatan pekerjaan.

Dunia kerja memiliki tuntutan yang berbeda dari organisasi. Ada target yang harus dicapai, tanggung jawab pekerjaan yang harus diselesaikan, dan kemampuan berkomunikasi yang perlu terus dikembangkan.

Setelah melalui pengalaman bekerja, saya kemudian menjalani usaha sendiri dan aktivitas perdagangan.

Perjalanan ini memberikan pelajaran bahwa kehidupan tidak hanya berisi kegiatan organisasi atau aktivitas sosial. Ada tanggung jawab ekonomi dan keluarga yang juga harus diperhatikan.

Saya memahami bahwa seseorang perlu berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan keluarga, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tidak semua proses berjalan mudah. Namun, setiap pengalaman memberikan pelajaran tentang kemandirian dan tanggung jawab.

Saya semakin memahami bahwa pengabdian tidak berarti mengabaikan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Justru seseorang perlu berusaha mengelola kehidupannya agar tetap dapat menjalankan tanggung jawab kepada keluarga sekaligus memberikan manfaat kepada lingkungan.

BAB 26

DARI AKTIVISME MENUJU GERAKAN KEMANUSIAAN

Semakin banyak pengalaman yang saya jalani, semakin saya memahami bahwa kepedulian sosial tidak cukup hanya diwujudkan melalui penyampaian aspirasi.

Ada masyarakat yang membutuhkan bantuan langsung. Ada keluarga yang menghadapi kesulitan. Ada orang-orang yang memerlukan dukungan ketika mengalami musibah.

Saya mulai memandang kegiatan sosial dan kemanusiaan sebagai salah satu jalan penting dalam pengabdian.

Pengalaman hidup dalam keluarga sederhana membuat saya memahami bahwa kesulitan ekonomi bukan sekadar angka dalam laporan. Ia dapat menjadi pengalaman nyata yang memengaruhi kehidupan seseorang dan keluarganya.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan mengapa saya memiliki perhatian terhadap kegiatan yang dapat membantu masyarakat.

Saya ingin apa yang saya lakukan tidak hanya berhenti pada pembicaraan tentang kepedulian. Saya ingin ada tindakan nyata, sekecil apa pun kemampuan yang dimiliki.

Dari pemikiran inilah perjalanan saya menuju gerakan kerelawanan semakin kuat.

BAB 27

28 AGUSTUS 2019: LAHIRNYA RELAWAN SEMUT PEMBURU BERKAH

Tanggal 28 Agustus 2019 menjadi salah satu tanggal penting dalam perjalanan pengabdian saya.

Pada tanggal tersebut, saya mendirikan Relawan Semut Pemburu Berkah.

Ada pengalaman pribadi yang menjadi latar belakang lahirnya gerakan ini. Saya berasal dari keluarga sederhana dan pernah merasakan bagaimana kehidupan dalam keterbatasan ekonomi.

Pengalaman tersebut membuat saya memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi lebih banyak orang.

Saya memahami bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama. Ada yang memiliki kekuatan materi, ada yang memiliki tenaga, ada yang memiliki waktu, dan ada pula yang memiliki kemampuan menggerakkan orang lain.

Namun, setiap kemampuan dapat menjadi bagian dari kebaikan apabila digunakan dengan niat yang baik.

Semut Pemburu Berkah lahir dari keinginan untuk mengajak lebih banyak orang bergerak dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

Nama Semut memberikan gambaran tentang gerakan yang tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Seekor semut mungkin terlihat kecil, tetapi semangat kebersamaan mengajarkan bahwa sesuatu yang dikerjakan bersama dapat memberikan manfaat.

Bagi saya, hal yang terpenting bukanlah seberapa besar nama sebuah gerakan, melainkan seberapa jauh gerakan tersebut dapat menghadirkan manfaat.

Tanggal pendirian yang bertepatan dengan hari kelahiran saya menjadi penanda tersendiri dalam perjalanan hidup. Saya ingin menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat bahwa usia dan kehidupan sebaiknya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

BAB 28

SEMUT PEMBURU BERKAH: BERGERAK DARI KEPEDULIAN

Relawan Semut Pemburu Berkah tidak lahir dari keinginan untuk membangun nama pribadi. Gerakan ini lahir dari keinginan untuk memberikan manfaat kepada banyak orang.

Dalam tahap awal, saya mendapatkan dukungan dari teman-teman yang ikut memiliki semangat untuk bergerak bersama.

Saya sering memandang mereka sebagai adik-adik, bukan karena hubungan biologis, melainkan karena kedekatan dalam semangat dan perjuangan.

Mereka adalah adik-adik ideologis yang ikut membangun kebersamaan dalam gerakan kerelawanan.

Saya menyadari bahwa sebuah gerakan tidak akan berjalan apabila hanya bergantung pada satu orang. Dibutuhkan orang-orang yang bersedia menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan kepedulian.

Semut Pemburu Berkah menjadi ruang untuk membangun semangat tersebut.

Dalam perjalanan gerakan sosial, pengalaman yang paling penting bukan hanya tentang kegiatan yang berhasil dilaksanakan. Ada proses membangun kepercayaan, menjaga kebersamaan, dan mempertahankan semangat ketika menghadapi berbagai keterbatasan.

Saya memandang bahwa relawan adalah orang-orang yang bersedia mengambil bagian dalam kebaikan tanpa harus selalu menunggu penghargaan.

Mereka mungkin datang dari latar belakang yang berbeda, tetapi memiliki kesempatan untuk bertemu dalam satu tujuan: membantu sesama.

BAB 29

BELAJAR MENGHARGAI SETIAP IKHTIAR

Dalam kegiatan kerelawanan, tidak semua orang dapat memberikan kontribusi dalam bentuk yang sama.

Ada yang membantu dengan tenaga. Ada yang memberikan waktu. Ada yang menghubungkan relawan dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Ada yang memberikan dukungan melalui kemampuan dan sumber daya yang dimiliki.

Saya belajar untuk menghargai setiap bentuk kontribusi tersebut.

Gerakan sosial tidak seharusnya hanya mengukur seseorang dari besarnya bantuan yang diberikan. Kepedulian juga dapat hadir melalui hal-hal sederhana.

Pengalaman hidup saya mengajarkan bahwa bantuan yang terlihat kecil bagi seseorang bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi orang lain.

Karena itu, saya ingin membangun semangat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik sesuai kemampuan masing-masing.

Saya juga memahami bahwa kegiatan kerelawanan membutuhkan tanggung jawab. Kepercayaan masyarakat harus dijaga, bantuan harus dikelola dengan baik, dan setiap kegiatan perlu dilaksanakan secara terbuka serta dapat dipertanggungjawabkan.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan saya membangun gerakan sosial.

BAB 30

PENGABDIAN YANG TUMBUH DARI PENGALAMAN HIDUP

Jika saya melihat kembali perjalanan dari masa kecil hingga berdirinya Semut Pemburu Berkah, ada benang merah yang menghubungkan semuanya.

Saya tumbuh dalam keluarga petani. Saya mengenal keterbatasan ekonomi. Saya menjalani pendidikan dan pengalaman organisasi. Saya belajar dari dunia kerja dan aktivitas sosial.

Semua pengalaman tersebut membentuk cara saya memahami kehidupan.

Saya semakin menyadari bahwa seseorang tidak harus menunggu memiliki segalanya untuk mulai membantu orang lain. Ia dapat memulai dari apa yang dimiliki, dari lingkungan terdekat, dan dari kemampuan yang tersedia.

Semut Pemburu Berkah menjadi salah satu bentuk nyata dari pemahaman tersebut.

Saya tidak menganggap pendirian sebuah gerakan sebagai akhir dari perjuangan. Justru setelah gerakan dibentuk, tanggung jawab yang sesungguhnya dimulai.

Menjaga kepercayaan, merawat kebersamaan, dan mempertahankan semangat kebaikan membutuhkan proses yang panjang.

Saya percaya bahwa setiap ikhtiar yang dilakukan dengan niat baik harus disertai kesungguhan dan tawakal kepada Allah SWT.

Bermanfaat bagi Orang Lain. Yakin Usaha Sampai.

PENUTUP BAGIAN III

DARI KEPEDULIAN MENUJU PELAYANAN UMAT

Perjalanan aktivisme dan gerakan sosial mengajarkan saya bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui banyak cara.

Ada saat ketika saya belajar menyampaikan aspirasi masyarakat. Ada masa ketika saya menjalani pekerjaan dan usaha. Ada pula saat ketika saya mulai membangun gerakan kerelawanan bersama orang-orang yang memiliki semangat serupa.

Semua pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan menuju pengabdian yang lebih luas.

Saya semakin memahami bahwa kebaikan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat tumbuh dari pengalaman hidup, dari kepedulian terhadap orang lain, dan dari kesediaan untuk bekerja bersama.

Setelah Semut Pemburu Berkah berdiri, perjalanan pengabdian saya berlanjut melalui keterlibatan dalam organisasi kerelawanan yang memiliki ruang pelayanan lebih luas.

Di sinilah kisah Khadimul Ummat menjadi bagian berikutnya dari perjalanan hidup saya.

Dari kepedulian, saya belajar bergerak. Dari kebersamaan, saya belajar melayani.

BAGIAN IV

KHADIMUL UMMAT DAN PENGABDIAN UNTUK KEMANUSIAAN

BAB 31

KHADIMUL UMMAT: MELUASKAN RUANG PENGABDIAN

Setelah melalui berbagai pengalaman dalam organisasi, aktivisme, dan gerakan kerelawanan, perjalanan pengabdian saya memasuki tahap berikutnya.

Saya semakin memahami bahwa pelayanan kepada masyarakat membutuhkan ruang gerak yang terorganisasi. Kegiatan sosial, dakwah, pendidikan, dan kemanusiaan memiliki tantangan serta kebutuhan yang berbeda. Namun, semuanya dapat dipertemukan dalam satu semangat, yaitu berkhidmat kepada umat.

Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, lahirlah sebuah organisasi bernama Khadimul Ummat.

Organisasi ini didirikan pada tanggal 30 Desember 2020. Sejak awal, Khadimul Ummat dibangun sebagai organisasi yang mandiri, tidak menjadi bagian dari partai politik maupun organisasi sayap partai politik.

Khadimul Ummat memiliki perhatian pada empat ruang pengabdian, yaitu dakwah, sosial, kemanusiaan, dan pendidikan.

Bagi saya, kehadiran organisasi ini merupakan bagian dari ikhtiar memperluas pelayanan kepada masyarakat. Pengabdian tidak boleh dibatasi oleh satu bidang saja apabila masih banyak kebutuhan umat yang dapat diperhatikan.

Dalam dokumen pendirian organisasi, Habib Nasir bin Usman Alhabsy tercatat sebagai Ketua Umum, sedangkan Muhammad Edwan Ansari, S.Pd.I. tercatat sebagai Sekretaris Umum.

Dalam perjalanan organisasi berikutnya, saya juga mendapat amanah sebagai Ketua Harian. Amanah tersebut merupakan bagian dari proses dan perkembangan kepengurusan Khadimul Ummat.

Saya memahami bahwa jabatan dalam organisasi bukanlah tujuan akhir. Jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan tanggung jawab.

BAB 32

LANDASAN PERJUANGAN DAN NILAI KHADIMUL UMMAT

Setiap organisasi membutuhkan landasan yang menjadi arah dalam menjalankan kegiatan. Khadimul Ummat dibangun dengan berpedoman pada nilai-nilai Islam dan Pancasila.

Dalam kehidupan keagamaan, organisasi ini berpegang pada akidah Ahlussunnah wal Jamaah, dengan corak pemahaman Asy'ari dan fikih mazhab Syafi'i.

Landasan tersebut menjadi bagian dari identitas keagamaan organisasi sekaligus pedoman dalam menjalankan pelayanan kepada umat.

Khadimul Ummat juga memiliki lima nilai penting yang menjadi pegangan dalam perjuangan.

Pertama, pedoman.

Al-Qur'an, As-Sunnah, Al-Ijma, dan Al-Qiyas menjadi pedoman dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam.

Kedua, motto.

"Ikhlas dan Ikhtiar serta Tawakal melayani umat mencari ridha Allah SWT."

Motto ini mengingatkan bahwa pelayanan kepada umat harus dilakukan dengan keikhlasan, disertai usaha yang sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Ketiga, semboyan.

"Berkhidmat kepada umat serta rajut kebersamaan dalam taat kepada Allah SWT."

Semboyan ini menggambarkan bahwa pelayanan dan kebersamaan merupakan bagian penting dalam perjalanan organisasi.

Keempat, filsafat.

"Pertolongan Allah SWT senantiasa kepada para pelayan umat."

Kalimat ini menjadi pengingat bahwa setiap ikhtiar pengabdian membutuhkan pertolongan dan petunjuk Allah SWT.

Kelima, prinsip perjuangan.

"Berjuang adalah kewajiban sedang kemenangan adalah anugerah Allah SWT."

Prinsip ini mengajarkan bahwa manusia berkewajiban berusaha, sedangkan hasil akhir merupakan ketentuan Allah SWT.

Kelima nilai tersebut bukan sekadar rangkaian kalimat organisasi. Nilai-nilai itu menjadi pengingat agar setiap amanah dijalankan dengan keikhlasan dan tanggung jawab.

BAB 33

VISI, MISI, DAN LIMA PARADIGMA PELAYANAN

Khadimul Ummat memiliki visi mewujudkan kehidupan Islami yang Rahmatan lil 'Alamin, dengan semangat persaudaraan dan kepedulian sosial dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Visi tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan beragama harus berjalan bersama kepedulian terhadap sesama dan tanggung jawab kebangsaan.

Misi organisasi diarahkan pada pelayanan umat melalui bidang dakwah, sosial, dan pendidikan.

Untuk memperjelas arah gerak, Khadimul Ummat mengembangkan lima paradigma pelayanan.

  1. Pendidikan keagamaan, sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan pengetahuan keislaman.
  2. Dakwah, sebagai jalan menyampaikan nilai-nilai Islam dan mengajak kepada kebaikan.
  3. Melayani umat, sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
  4. Kemanusiaan dan kesiapsiagaan bencana, sebagai wujud kepedulian terhadap siapa pun yang membutuhkan pertolongan.
  5. Media yang jujur dan amanah, sebagai perhatian terhadap penyampaian informasi yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab.

Lima paradigma tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan umat tidak hanya berlangsung dalam kegiatan keagamaan. Pendidikan, kemanusiaan, dan komunikasi publik juga memiliki peran penting.

Saya memandang bahwa organisasi harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sesuai kemampuan dan sumber daya yang dimiliki.

Karena itu, setiap bidang membutuhkan orang-orang yang bersedia bekerja, belajar, dan menjaga amanah.

BAB 34

MEMBANGUN JARINGAN PELAYANAN DI HULU SUNGAI TENGAH

Khadimul Ummat berpusat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dengan jaringan pelayanan yang dibangun melalui markaz-markaz.

Dalam susunan organisasi yang telah dijelaskan, terdapat 11 Markaz Kecamatan dan 1 Markaz Bersama.

Keberadaan markaz menjadi bagian dari upaya membangun koordinasi dan memperluas jangkauan pelayanan.

Organisasi yang memiliki tujuan luas tidak cukup hanya mengandalkan pengurus di tingkat pusat. Diperlukan hubungan kerja dan kebersamaan dengan orang-orang yang berada di berbagai wilayah.

Dengan adanya jaringan markaz, pelayanan diharapkan dapat lebih dekat dengan masyarakat.

Namun, jaringan organisasi bukan semata-mata persoalan jumlah tempat atau struktur kepengurusan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana setiap bagian mampu menjalankan fungsi dan tanggung jawabnya.

Saya memahami bahwa membangun organisasi membutuhkan proses. Ada komunikasi yang harus dijaga, ada amanah yang harus dibagi, dan ada kebersamaan yang perlu terus dirawat.

Khadimul Ummat menjadi ruang untuk mengembangkan semangat tersebut.

BAB 35

TIGA SAYAP PERJUANGAN KHADIMUL UMMAT

Dalam menjalankan berbagai bidang pengabdian, Khadimul Ummat memiliki tiga sayap organisasi, yaitu Laskar Khadimul Ummat, Annisa Khadimul Ummat, dan Badan Kemanusiaan.

Ketiganya memiliki perhatian dan fungsi yang berbeda, tetapi berada dalam semangat pelayanan yang sama.

1. Laskar Khadimul Ummat

Laskar Khadimul Ummat merupakan bagian dari struktur organisasi.

Sayap ini beranggotakan orang-orang yang mendapatkan pembinaan dan pelatihan untuk mendukung kegiatan pelayanan. Di antaranya membantu pelaksanaan majelis, mendukung pelayanan kepada ulama dan habaib dalam kegiatan majelis, membantu penanganan kebakaran, serta menjalankan kegiatan pembinaan rohani.

Terdapat hubungan keanggotaan yang jelas antara Laskar dan organisasi induk: setiap anggota Laskar merupakan anggota Khadimul Ummat, tetapi tidak setiap anggota Khadimul Ummat menjadi anggota Laskar.

Hal ini menunjukkan bahwa Laskar merupakan bagian khusus dari organisasi dengan tanggung jawab tertentu.

2. Annisa Khadimul Ummat

Annisa Khadimul Ummat merupakan sayap organisasi perempuan.

Kegiatannya diarahkan pada peningkatan keterampilan, pengembangan intelektual, dan pelayanan sosial.

Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Program Keluarga Berkah, yaitu penyaluran bantuan sembako kepada perempuan dhuafa.

Program tersebut memperlihatkan bahwa pelayanan sosial dapat diarahkan untuk memperhatikan kelompok masyarakat yang membutuhkan dukungan.

3. Badan Kemanusiaan

Badan Kemanusiaan atau BK menjadi sayap yang memiliki perhatian terhadap pelayanan kemanusiaan dan bantuan kebencanaan.

Dalam menjalankan tugasnya, pelayanan kemanusiaan tidak dibatasi oleh perbedaan suku, ras, maupun agama.

Prinsip tersebut penting karena nilai kemanusiaan mengajarkan bahwa setiap orang yang membutuhkan pertolongan layak mendapatkan perhatian.

Ketiga sayap ini menunjukkan bahwa pelayanan umat dapat dilakukan melalui berbagai bentuk pengabdian.

BAB 36

BELAJAR MENJAGA AMANAH ORGANISASI

Menjadi bagian dari organisasi yang memiliki banyak bidang pelayanan bukanlah perkara ringan.

Ada tanggung jawab yang harus dijalankan, ada komunikasi yang perlu dijaga, dan ada kepercayaan yang harus dipelihara.

Saya belajar bahwa organisasi tidak dapat berjalan hanya dengan semangat pada saat pendirian. Semangat tersebut harus diterjemahkan menjadi kerja yang berkelanjutan.

Dalam perjalanan Khadimul Ummat, saya memahami pentingnya membangun kebersamaan dan menghargai peran setiap orang.

Tidak semua orang harus berada di posisi yang sama. Setiap orang memiliki kemampuan dan tanggung jawab masing-masing.

Karena itu, keberhasilan organisasi tidak semestinya hanya dilihat dari satu nama atau satu jabatan. Ia merupakan hasil kerja bersama dari orang-orang yang mengambil bagian sesuai amanahnya.

Bagi saya, menjadi pelayan umat berarti bersedia belajar untuk menempatkan kepentingan pelayanan di atas kepentingan pribadi.

BAB 37

PALESTINA: KEPEDULIAN YANG MELAMPAUI BATAS DAERAH

Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan Khadimul Ummat adalah keterlibatan dalam aksi solidaritas untuk Palestina.

Kepedulian terhadap Palestina memperlihatkan bahwa perhatian kemanusiaan tidak harus berhenti pada batas wilayah tempat seseorang tinggal.

Masyarakat Hulu Sungai Tengah memiliki kesempatan untuk menunjukkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan yang terjadi jauh dari daerah mereka.

Aksi solidaritas ini melibatkan berbagai organisasi, komunitas, relawan, dan unsur masyarakat.

Keterlibatan banyak pihak menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Sebab, gerakan kemanusiaan membutuhkan kebersamaan dan kepercayaan.

Dalam kegiatan ini, saya mendapatkan amanah sebagai Ketua Koordinator pada dua gelombang aksi solidaritas.

Amanah tersebut mengajarkan saya bahwa koordinasi merupakan salah satu unsur penting dalam kegiatan penggalangan dan penyaluran bantuan.

Pengumpulan donasi bukanlah akhir dari kegiatan. Dana yang dipercayakan masyarakat harus dikelola dan disalurkan melalui jalur yang telah ditentukan.

Karena itu, transparansi, ketelitian, dan tanggung jawab menjadi hal yang harus diperhatikan.

BAB 38

GELOMBANG PERTAMA: SOLIDARITAS MASYARAKAT HULU SUNGAI TENGAH

Pada gelombang pertama, aksi solidaritas Palestina dilaksanakan melalui gerakan bersama yang melibatkan berbagai organisasi, komunitas, dan relawan.

Dalam kegiatan tersebut, saya dipercaya menjadi Ketua Koordinator.

Muhammad Lutfi Yahya bertugas sebagai sekretaris, Taufiqur Rahman sebagai bendahara, dan Munsyi Kusnadi sebagai koordinator lapangan.

Posko utama kegiatan berpusat di Markaz Khadimul Ummat.

Keterlibatan berbagai unsur masyarakat memperlihatkan bahwa kepedulian dapat menyatukan orang-orang dari lingkungan dan organisasi yang berbeda.

Berdasarkan catatan kegiatan, dana yang berhasil dihimpun pada gelombang pertama mencapai:

Rp185.560.232

Dana tersebut disalurkan melalui BAZNAS Republik Indonesia.

Bagi saya, angka tersebut bukan sekadar jumlah uang yang terkumpul. Di dalamnya terdapat kepercayaan masyarakat dan kontribusi banyak pihak yang telah ikut mengambil bagian.

Karena itu, setiap rupiah yang dititipkan harus dipandang sebagai amanah.

Pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa kegiatan kemanusiaan membutuhkan koordinasi yang baik, pembagian tugas, dan jalur penyaluran yang jelas.

BAB 39

GELOMBANG KEDUA: MELANJUTKAN KEPEDULIAN

Setelah gelombang pertama, kepedulian masyarakat terhadap Palestina kembali diwujudkan melalui gelombang kedua.

Kegiatan penggalangan dana berlangsung pada 2 Desember sampai 31 Desember 2023.

Pengumpulan donasi dilakukan pada hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu selama bulan Desember, dengan titik kegiatan di berbagai persimpangan dan pasar di wilayah Hulu Sungai Tengah.

Dalam gelombang kedua ini, saya kembali mendapatkan amanah sebagai Ketua Koordinator.

Sarju bertugas sebagai sekretaris, sedangkan Taufiqur Rahman, S.H. menjadi bendahara.

Markaz Khadimul Ummat kembali menjadi posko utama kegiatan.

Gelombang kedua menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Semangat tersebut kembali dilanjutkan melalui penggalangan bantuan yang melibatkan banyak pihak.

Berdasarkan catatan kegiatan, jumlah donasi yang berhasil dihimpun mencapai:

Rp135.581.857

Dana tersebut disalurkan melalui Yayasan Salam Palestina, yang dipimpin oleh KH Muhammad Syahid Joban, Lc.

Bagi saya, kegiatan ini menjadi pengalaman penting dalam memahami tanggung jawab seorang koordinator. Menggerakkan orang untuk berdonasi harus disertai tanggung jawab dalam memastikan amanah tersebut sampai melalui jalur penyaluran yang ditetapkan.

Kegiatan kemanusiaan tidak boleh hanya mengejar besarnya angka pengumpulan. Kepercayaan masyarakat harus tetap menjadi hal utama.

BAB 40

CATATAN ANGKA DAN AMANAH KEMANUSIAAN

Dua gelombang aksi solidaritas Palestina yang melibatkan masyarakat Hulu Sungai Tengah menghasilkan jumlah donasi sebagai berikut:

Gelombang

Jumlah donasi

Jalur penyaluran

Pertama

Rp185.560.232

BAZNAS RI

Kedua

Rp135.581.857

Yayasan Salam Palestina

Total

Rp321.142.089

Dua jalur penyaluran

Total donasi dari kedua gelombang tersebut mencapai Rp321.142.089.

Angka ini merupakan hasil partisipasi banyak pihak, bukan hasil kerja satu orang atau satu organisasi saja.

Berbagai organisasi, komunitas, relawan, dan masyarakat ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Saya memandang bahwa salah satu pelajaran terbesar dari kegiatan ini adalah pentingnya membangun kepercayaan.

Masyarakat memberikan bantuan karena memiliki harapan agar amanah tersebut dapat disampaikan kepada pihak yang membutuhkan. Oleh karena itu, pengelolaan dan penyaluran bantuan harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa gerakan kemanusiaan membutuhkan kerja sama yang melampaui batas organisasi.

Tidak penting siapa yang paling banyak disebut. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh pihak dapat bekerja bersama untuk tujuan kemanusiaan.

BAB 41

MAKNA PENGABDIAN DALAM KHADIMUL UMMAT

Perjalanan bersama Khadimul Ummat memberikan pengalaman tersendiri dalam kehidupan saya.

Organisasi ini mempertemukan berbagai bidang pelayanan dalam satu ruang pengabdian. Dakwah, sosial, pendidikan, dan kemanusiaan menjadi bagian dari arah geraknya.

Saya belajar bahwa melayani umat membutuhkan kesabaran. Tidak semua kegiatan berjalan sesuai harapan, dan tidak semua proses dapat diselesaikan dengan cepat.

Ada tanggung jawab yang membutuhkan perencanaan. Ada kegiatan yang membutuhkan koordinasi. Ada pula keadaan yang menuntut kesiapan untuk membantu.

Pengalaman dalam aksi solidaritas Palestina menjadi salah satu contoh bahwa kebersamaan dapat menghasilkan gerakan yang luas.

Namun, saya juga memahami bahwa pengabdian tidak boleh berhenti pada kegiatan besar yang menarik perhatian. Pelayanan kepada masyarakat harus terus tumbuh melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Saya ingin tetap memegang prinsip bahwa setiap amanah harus dijalankan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.

Sebab, pada akhirnya, pengabdian bukan tentang seberapa tinggi posisi seseorang dalam organisasi, melainkan seberapa besar tanggung jawab yang bersedia ia jalankan.

PENUTUP BAGIAN IV

BERKHIDMAT KEPADA UMAT

Khadimul Ummat menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdian saya.

Dari organisasi ini, saya belajar tentang pelayanan yang lebih luas, tentang pentingnya jaringan, dan tentang kekuatan kebersamaan.

Pengalaman dalam kegiatan dakwah, sosial, pendidikan, serta kemanusiaan memberikan pelajaran bahwa setiap bidang membutuhkan kesungguhan.

Dua gelombang aksi solidaritas Palestina juga menjadi pengingat bahwa kepedulian masyarakat dapat melampaui batas daerah dan organisasi.

Saya menyadari bahwa masih banyak hal yang dapat dilakukan dan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.

Namun, saya percaya bahwa pengabdian tidak harus menunggu seseorang menjadi sempurna. Pengabdian dimulai dari kesediaan untuk mengambil tanggung jawab, belajar dari pengalaman, dan terus berusaha memberikan manfaat.

Berkhidmat kepada umat bukan sekadar semboyan, melainkan amanah yang harus diwujudkan dalam kehidupan.

 

BAGIAN V

PENGABDIAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN

PKBM DHIYAUL AMIN

BAB 42

AWAL PENGABDIAN DI PKBM DHIYAUL AMIN

Setelah melalui perjalanan panjang dalam organisasi, aktivisme, dan gerakan sosial, saya mendapatkan kesempatan untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan melalui PKBM Dhiyaul Amin.

Kesempatan itu hadir atas permintaan dan amanah Ayahanda KH. Ahmad Junaidi, pengasuh Pondok Pesantren Dhiyaul Amin.

Bagi saya, amanah tersebut bukan sekadar kesempatan untuk bekerja di sebuah lembaga pendidikan. Ada tanggung jawab yang lebih luas, yaitu ikut mengambil bagian dalam perjuangan pendidikan bagi masyarakat.

Pada tanggal 31 Agustus 2024, saya diberi amanah menjadi seorang guru di PKBM Dhiyaul Amin.

Saat itu, saya mulai mengenal lebih dekat keadaan lembaga, peserta didik, para tutor, dan berbagai kebutuhan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan.

Saya memahami bahwa pendidikan nonformal memiliki tantangan tersendiri. Peserta didik datang dengan latar belakang, pengalaman, dan kebutuhan yang beragam. Karena itu, pelayanan pendidikan harus disesuaikan dengan keadaan mereka.

Pada masa awal bergabung, saya melihat masih banyak hal yang perlu dibenahi. Pengelolaan pembelajaran, administrasi, sarana prasarana, pembiayaan, dan koordinasi menjadi beberapa hal yang membutuhkan perhatian.

Saya tidak memandang keadaan tersebut sebagai alasan untuk menjauh. Justru dari situlah saya mulai belajar memahami tanggung jawab pengabdian di lembaga pendidikan.

Saya juga menyadari bahwa membangun lembaga tidak dapat dilakukan sendirian. Diperlukan dukungan pimpinan pondok, para tutor, tenaga kependidikan, peserta didik, serta seluruh pihak yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.

BAB 43

ANBK PERTAMA DAN DUA BUAH LAPTOP

Salah satu pengalaman awal yang sangat membekas dalam perjalanan saya di PKBM Dhiyaul Amin adalah pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer atau ANBK.

Saat itu, PKBM menghadapi pelaksanaan ANBK pertama. Kami ingin memastikan peserta didik tetap mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan tersebut meskipun fasilitas yang tersedia masih sangat terbatas.

Saya masih mengingat bahwa ketika itu PKBM hanya memiliki dua buah laptop.

Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan. Pelaksanaan asesmen berbasis komputer membutuhkan perangkat yang memadai, sedangkan lembaga belum memiliki fasilitas sesuai kebutuhan.

Namun, keterbatasan tidak boleh langsung membuat kami menyerah.

Kami kemudian berikhtiar meminjam Chromebook dari SDN 2 Kasarangan dengan izin Dinas Pendidikan agar peserta didik tetap dapat mengikuti ANBK.

Bagi saya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran yang sangat penting.

Perjuangan pendidikan tidak selalu dimulai dari gedung yang megah atau fasilitas yang lengkap. Kadang-kadang, perjuangan dimulai dari kemampuan mencari jalan keluar atas keterbatasan yang ada.

Kami hanya ingin memastikan bahwa peserta didik tidak kehilangan kesempatan belajar dan mengikuti asesmen karena keadaan fasilitas yang belum sempurna.

Dari pengalaman itu, saya semakin memahami bahwa seorang pendidik bukan hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran. Seorang pendidik juga harus memiliki kepedulian terhadap kesempatan dan masa depan peserta didiknya.

BAB 44

1 JULI 2025: MENERIMA AMANAH SEBAGAI KEPALA PKBM

Perjalanan saya di PKBM Dhiyaul Amin kemudian memasuki babak baru.

Pada tanggal 1 Juli 2025, saya kembali mendapatkan amanah yang lebih besar, yaitu menjadi Kepala PKBM Dhiyaul Amin.

Amanah tersebut tentu tidak ringan.

Saya menyadari bahwa menjadi kepala lembaga pendidikan bukan hanya tentang memimpin kegiatan administrasi. Ada tanggung jawab terhadap mutu pembelajaran, pengelolaan sumber daya manusia, pelayanan peserta didik, sarana prasarana, keuangan, serta keberlangsungan lembaga.

Saya juga menyadari bahwa ilmu dan pengalaman saya masih memiliki banyak keterbatasan.

Ada pertanyaan yang muncul dalam diri saya: mampukah saya menjalankan amanah ini dengan baik?

Namun, saya berusaha memandang amanah tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Saya tidak ingin menganggap jabatan sebagai tanda bahwa seseorang sudah mengetahui segala sesuatu. Justru ketika menerima amanah kepemimpinan, seseorang harus semakin bersedia belajar, mendengarkan, dan menerima masukan.

Saya memahami bahwa PKBM Dhiyaul Amin bukan milik pribadi saya. Lembaga ini memiliki sejarah, pendiri, pembina, keluarga besar, tutor, peserta didik, dan masyarakat yang menjadi bagian dari perjalanan perkembangannya.

Karena itu, tanggung jawab saya adalah ikut menjaga dan mengembangkan lembaga sesuai amanah yang diberikan.

BAB 45

MENGHADAPI PRA-VISITASI AKREDITASI

Belum genap tiga bulan menjalankan amanah sebagai kepala PKBM, kami harus menghadapi persiapan pra-visitasi akreditasi.

Pada September 2025, persiapan untuk kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada November 2025 mulai menjadi perhatian utama.

Waktu yang tersedia terasa sangat singkat. Kami harus menyiapkan kembali dokumen-dokumen sejak awal berdirinya PKBM pada tahun 2023.

Ketika proses penelusuran dilakukan, ternyata banyak dokumen belum tertata dengan baik. Ada dokumen yang belum lengkap, ada arsip yang tercecer, dan ada pula bagian administrasi yang harus disusun kembali.

Saya mulai memahami bahwa pekerjaan kepala lembaga bukan hanya memastikan kegiatan pembelajaran berjalan. Ada tanggung jawab untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan memiliki dokumentasi dan bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Persiapan akreditasi menjadi salah satu ujian awal kepemimpinan saya.

Kami harus bekerja dengan waktu yang terbatas, sementara dokumen yang perlu disiapkan sangat banyak.

Dalam kondisi tersebut, saya berusaha mengajak seluruh pihak untuk bekerja bersama. Saya memahami bahwa keberhasilan persiapan tidak mungkin hanya bergantung pada kepala PKBM.

Kami membutuhkan bantuan orang-orang yang memahami bidang masing-masing, khususnya dalam penyusunan dokumen kurikulum dan pembelajaran.

BAB 46

39 BUNDEL DOKUMEN DAN PERJUANGAN ADMINISTRASI

Salah satu bagian paling berat dalam persiapan akreditasi adalah penyusunan dokumen.

Berdasarkan kebutuhan persiapan saat itu, terdapat 39 bundel dokumen wajib dengan jumlah halaman mencapai ratusan.

Dokumen tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari:

  1. Dokumen perencanaan lembaga.
  2. Dokumen kurikulum dan pembelajaran.
  3. Dokumen pendidik dan tenaga kependidikan.
  4. Dokumen peserta didik.
  5. Dokumen keuangan.
  6. Dokumen sarana dan prasarana.
  7. Dokumen penjaminan mutu dan evaluasi.
  8. Berbagai dokumen pendukung lainnya.

Bagi orang yang tidak terlibat langsung, pekerjaan tersebut mungkin terlihat seperti kegiatan mengumpulkan berkas.

Namun, bagi kami, setiap dokumen memiliki fungsi penting. Dokumen harus menggambarkan bagaimana lembaga direncanakan, dikelola, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi hasil, dan melakukan perbaikan.

Dalam proses itu, kami harus mencari kembali arsip lama dan menyusun dokumen yang belum lengkap.

Waktu persiapan banyak digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan administrasi. Ada pekerjaan yang harus diperiksa kembali, ada data yang perlu disesuaikan, dan ada dokumen yang harus disusun secara lebih sistematis.

Saya sangat bersyukur karena tidak menjalani proses tersebut sendirian.

Dukungan Ayahanda KH. Ahmad Junaidi, keluarga besar PKBM, para tutor, serta orang-orang yang membantu menjadi kekuatan dalam proses itu.

Saya juga memberikan penghargaan khusus kepada Wakil Kepala Bidang Kurikulum yang membantu menyiapkan berbagai dokumen pembelajaran dan administrasi pendukung.

Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan berarti mengerjakan semuanya sendiri. Kepemimpinan juga berarti membangun kerja sama dan memberikan ruang bagi setiap orang untuk berkontribusi sesuai kemampuannya.

BAB 47

AKREDITASI B: HASIL KERJA BERSAMA

Setelah melalui proses persiapan dan penilaian, PKBM Dhiyaul Amin memperoleh hasil akreditasi untuk Program Paket B dan Paket C dengan predikat B (Baik).

Hasil tersebut tercantum dalam SK Nomor 606/BAN-PDM/SK/2025.

Berdasarkan dokumen yang menjadi pegangan lembaga, hasil akreditasi tersebut berlaku hingga tahun 2030.

Bagi saya, hasil ini menjadi salah satu pencapaian penting dalam perjalanan PKBM Dhiyaul Amin.

Namun, saya tidak ingin memandang hasil akreditasi sebagai keberhasilan pribadi.

Akreditasi merupakan hasil dari berbagai unsur yang saling berkaitan. Ada dukungan pimpinan pondok, kerja para tutor, tenaga kependidikan, pengelola, serta pihak-pihak yang membantu proses persiapan.

Saya hanya menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.

Hasil akreditasi B juga bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Predikat baik harus menjadi dorongan agar lembaga terus meningkatkan mutu pelayanan pendidikan.

Saya memahami bahwa akreditasi bukan tujuan akhir. Tujuan yang lebih penting adalah memastikan peserta didik mendapatkan pelayanan pembelajaran yang baik, lingkungan pendidikan yang mendukung, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka.

BAB 48

RAPOR PENDIDIKAN: MELIHAT HASIL DAN KEKURANGAN

Selain akreditasi, salah satu hal yang menjadi perhatian kami adalah Rapor Pendidikan.

Rapor Pendidikan membantu kami melihat capaian lembaga sekaligus mengenali bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.

Ketika membandingkan hasil tahun 2024 dan 2025, kami melihat sejumlah perkembangan yang menggembirakan. Namun, terdapat pula indikator yang mengalami penurunan sehingga perlu mendapat perhatian.

Pada Program Paket B, capaian literasi meningkat dari 62,22 menjadi 85,71, atau naik 23,49 poin.

Capaian numerasi Paket B meningkat dari 55,56 menjadi 73,81, atau naik 18,25 poin.

Sementara itu, kualitas pembelajaran meningkat dari 59 menjadi 61,84, atau naik 2,84 poin.

Pada Program Paket C, capaian numerasi meningkat dari 67,74 menjadi 73,33, atau naik 5,59 poin.

Namun, capaian literasi Paket C mengalami penurunan dari 93,55 menjadi 76,67, atau turun 16,88 poin. Meskipun demikian, indikator tersebut masih berada dalam kategori hijau berdasarkan catatan evaluasi kami.

Data tersebut memberikan gambaran bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak selalu berlangsung secara merata.

Ada indikator yang meningkat, ada yang perlu dipertahankan, dan ada pula yang membutuhkan strategi perbaikan lebih lanjut.

Kami juga memberikan perhatian terhadap kualitas pembelajaran, karakter peserta didik, serta kemampuan numerasi.

Saya belajar bahwa laporan pendidikan tidak boleh hanya dibaca untuk mencari angka yang baik. Laporan tersebut harus digunakan sebagai bahan refleksi untuk mengetahui apa yang sudah berjalan dan apa yang masih perlu diperbaiki.

Bagi saya, keberanian melihat kekurangan merupakan bagian penting dari kepemimpinan.

BAB 49

DARI DUA LAPTOP MENUJU PENGUATAN SARANA DIGITAL

Salah satu perubahan yang sangat terasa dalam perjalanan PKBM Dhiyaul Amin adalah perkembangan sarana pembelajaran.

Saya masih mengingat masa ketika lembaga hanya memiliki dua laptop dan harus meminjam Chromebook untuk pelaksanaan ANBK.

Seiring berjalannya waktu, lembaga mulai mendapatkan tambahan sarana dan prasarana.

Pada tahun 2025, PKBM Dhiyaul Amin memperoleh Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Lembaga juga memperoleh satu unit Laptop Merah Putih beserta hard disk dari kementerian.

Selain bantuan tersebut, pengadaan melalui BOSP 2025 mencakup sejumlah perangkat dan perlengkapan, di antaranya dua laptop untuk operator Dapodik dan ARKAS, dua belas laptop Acer Aspire Lite, satu proyektor, satu printer, kipas angin, meja siswa, papan tulis, serta perlengkapan pendukung lainnya.

Inventaris lembaga juga mencatat adanya Smart TV 50 inci yang diperoleh sebagai hadiah Juara II Kualitas Data Dapodik pada kegiatan Apresiasi GTK Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah tahun 2024.

Dalam refleksi yang saya sampaikan pada Juni 2026, jumlah komputer yang dimiliki PKBM telah mencapai 21 unit.

Perkembangan ini menjadi pengingat bagi saya tentang perubahan yang dapat terjadi melalui proses dan ikhtiar bersama.

Dulu kami berusaha mencari perangkat pinjaman agar peserta didik dapat mengikuti ANBK. Kemudian, perlahan-lahan lembaga mulai memiliki sarana sendiri.

Tentu perjalanan penguatan fasilitas belum selesai. Teknologi terus berkembang dan kebutuhan pembelajaran juga semakin beragam.

Namun, saya bersyukur karena lembaga telah memiliki modal awal yang lebih baik untuk memperkuat pembelajaran berbasis digital.

BAB 50

MEMPERLUAS LAYANAN PENDIDIKAN MELALUI PAKET A

Pada tahun 2025, PKBM Dhiyaul Amin juga membuka Program Paket A yang setara dengan pendidikan sekolah dasar.

Pembukaan program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas layanan pendidikan kepada masyarakat.

Saya memahami bahwa kebutuhan pendidikan masyarakat tidak selalu sama. Ada yang membutuhkan layanan setara sekolah dasar, ada yang membutuhkan pendidikan setara SMP, dan ada pula yang membutuhkan pendidikan setara SMA.

PKBM memiliki peran untuk memberikan kesempatan belajar melalui jalur pendidikan kesetaraan.

Dengan dibukanya Paket A, layanan pendidikan di PKBM Dhiyaul Amin menjadi lebih luas.

Ke depan, lembaga juga merencanakan persiapan akreditasi Program Paket A pada tahun 2027/2028.

Bagi saya, perluasan program bukan sekadar menambah nama layanan. Setiap program harus disiapkan dengan pengelolaan, pendidik, pembelajaran, administrasi, dan sarana pendukung yang sesuai.

Karena itu, pembukaan Paket A harus diikuti dengan penguatan kualitas penyelenggaraan pendidikan.

BAB 51

PENGUATAN LEMBAGA MELALUI BOSP KINERJA DAN BOSP AFIRMASI

Dalam perjalanan pengembangan lembaga, PKBM Dhiyaul Amin memperoleh dukungan melalui program bantuan pemerintah.

Salah satunya adalah BOSP Kinerja tahun 2025.

Berdasarkan catatan kinerja lembaga, PKBM Dhiyaul Amin menjadi salah satu dari dua PKBM di Kabupaten Hulu Sungai Tengah dari total 13 PKBM yang memperoleh BOSP Kinerja pada tahun tersebut.

Capaian ini menjadi salah satu bentuk pengakuan terhadap kinerja lembaga, sekaligus tanggung jawab untuk terus menjaga kualitas pengelolaan.

PKBM juga memperoleh BOSP Afirmasi tahun 2025.

Dukungan tersebut diharapkan dapat membantu penguatan sarana multimedia dan perangkat pembelajaran yang masih dibutuhkan.

Selain itu, PKBM Dhiyaul Amin mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam untuk Kepala Sekolah dan dua orang guru melalui BGTK Kalimantan Selatan. Dalam catatan kinerja lembaga, keikutsertaan tersebut disebut sebagai satu-satunya PKBM di Hulu Sungai Tengah yang mengikuti pelatihan tersebut.

Saya memandang bahwa dukungan pemerintah harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab.

Bantuan bukan sekadar tambahan anggaran atau barang inventaris. Bantuan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan dan memberikan manfaat kepada peserta didik.

Karena itu, pengelolaan bantuan harus mengikuti ketentuan yang berlaku dan disertai administrasi yang tertib.

BAB 52

MENGEMBANGKAN SARANA UNTUK MASA DEPAN

Perkembangan sarana PKBM Dhiyaul Amin terus menjadi perhatian dalam perencanaan lembaga.

Dalam inventaris tahun 2026, terdapat tambahan sarana yang meliputi tujuh unit komputer PC, dua rak buku, empat papan tulis, enam meja siswa, perlengkapan olahraga, serta perlengkapan pendukung lainnya.

Keberadaan komputer menjadi salah satu modal untuk mengembangkan pembelajaran dan keterampilan digital.

Saya memiliki harapan agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk kegiatan pembelajaran reguler, tetapi juga untuk pelatihan keterampilan komputer bagi para santri dan santriah.

Selain itu, pengembangan perpustakaan juga menjadi bagian dari rencana penguatan budaya literasi.

Bagi saya, perpustakaan bukan sekadar ruangan yang berisi buku. Perpustakaan harus menjadi ruang untuk menumbuhkan kebiasaan membaca, memperluas pengetahuan, dan membangun rasa ingin tahu.

Rencana pengembangan sarana ini masih membutuhkan proses, dukungan, dan pengelolaan yang berkelanjutan.

Saya memahami bahwa pembangunan lembaga tidak dapat dilakukan dalam satu waktu. Ada prioritas yang harus ditentukan dan ada kebutuhan yang perlu dipenuhi secara bertahap.

BAB 53

KEPEMIMPINAN, KEKURANGAN, DAN KEPERCAYAAN

Menjalankan amanah sebagai kepala PKBM memberikan banyak pelajaran kepada saya.

Saya belajar bahwa memimpin lembaga pendidikan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada persoalan yang harus diselesaikan, ada keputusan yang perlu dipertimbangkan, dan ada keadaan yang menuntut kesabaran.

Dalam perjalanan tersebut, saya juga pernah menghadapi masa sulit ketika amanah sebagai kepala PKBM sempat dinonaktifkan.

Saya memilih menghadapi keadaan itu dengan sabar. Saya berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi dan menyampaikan pengakuan atas kekurangan serta kesalahan saya sendiri.

Saya memahami bahwa dalam hubungan pengabdian, seseorang tidak boleh hanya menuntut untuk dimengerti. Ia juga harus bersedia mengevaluasi diri.

Alhamdulillah, Abah memberikan maaf. Kemudian Ayahanda kembali memanggil dan memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjalankan amanah sebagai kepala PKBM.

Kepercayaan tersebut menjadi pengingat bahwa amanah bukan sesuatu yang boleh dianggap ringan.

Saya tidak ingin membuka hal-hal internal yang tidak perlu menjadi konsumsi publik. Cukuplah pengalaman itu menjadi pelajaran tentang kesabaran, kerendahan hati, keberanian mengakui kekurangan, dan pentingnya menjaga hubungan baik.

Sejak saat itu, saya semakin memahami bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan mengatur orang lain. Kepemimpinan juga tentang kemampuan memperbaiki diri sendiri.

BAB 54

CITA-CITA BESAR PENDIDIKAN DHIYAUL AMIN

Dalam perjalanan mengembangkan PKBM Dhiyaul Amin, saya dan keluarga besar lembaga memiliki harapan agar pelayanan pendidikan dapat terus berkembang.

Cita-cita yang disimpan adalah suatu hari menghadirkan lembaga pendidikan formal Dhiyaul Amin mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA.

Saya menyadari bahwa cita-cita tersebut bukan pekerjaan sederhana. Diperlukan perencanaan, sumber daya manusia, sarana prasarana, pembiayaan, legalitas, dan dukungan berbagai pihak.

Namun, cita-cita besar tidak harus membuat seseorang berhenti melangkah hanya karena belum dapat diwujudkan hari ini.

Kami ingin memulai dari penguatan lembaga yang sudah ada.

Peningkatan kualitas pembelajaran, penguatan literasi dan numerasi, pengembangan keterampilan, penataan administrasi, serta penguatan sarana multimedia menjadi bagian dari prioritas.

Kami juga ingin mengembangkan program keterampilan yang dapat memberikan bekal kepada peserta didik untuk menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.

Bagi saya, pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memperoleh ijazah. Pendidikan harus membantu seseorang mengembangkan ilmu, akhlak, keterampilan, kemandirian, dan kemampuan menghadapi masa depan.

BAB 55

MENGABDI SELAMA KEPERCAYAAN MASIH DIBERIKAN

Setelah melalui berbagai pengalaman di PKBM Dhiyaul Amin, saya semakin memahami bahwa pengabdian dalam dunia pendidikan merupakan perjalanan panjang.

Ada masa ketika kami harus berjuang dengan fasilitas yang sangat terbatas. Ada masa ketika administrasi harus disusun kembali. Ada masa ketika akreditasi menjadi tanggung jawab besar. Ada pula masa ketika lembaga mulai memperoleh berbagai dukungan dan menunjukkan perkembangan.

Semua itu menjadi bagian dari perjalanan bersama.

Saya menyadari bahwa apa yang telah dicapai bukan hasil kerja satu orang. Ada Ayahanda KH. Ahmad Junaidi yang memberikan amanah dan dukungan. Ada para tutor dan tenaga kependidikan yang menjalankan tugas. Ada peserta didik yang menjadi alasan utama mengapa pendidikan harus terus berjalan. Ada pula orang-orang yang membantu dengan cara masing-masing.

Saya juga menyadari bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

Masih ada sarana yang perlu dilengkapi. Masih ada mutu pembelajaran yang harus ditingkatkan. Masih ada administrasi yang perlu diperkuat. Masih ada cita-cita yang belum terwujud.

Namun, selama masih ada kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri, saya ingin terus mengambil bagian dalam perjalanan tersebut.

Saya pernah menyampaikan sebuah harapan yang menjadi pegangan pribadi dalam menjalankan amanah ini:

"Saya ingin mengabdi di PKBM Dhiyaul Amin hingga akhir hayat, selama Ayahanda masih memberikan kepercayaan dan merestui saya untuk terus mengabdi."

Kalimat itu bukan berarti saya menganggap diri tidak memiliki kekurangan. Justru saya memahami bahwa pengabdian membutuhkan kesediaan untuk terus belajar, menerima nasihat, dan memperbaiki kesalahan.

Saya ingin menjadikan PKBM Dhiyaul Amin sebagai salah satu jalan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, agama, dan umat.

Bagi saya, jabatan adalah titipan. Kepercayaan adalah amanah. Dan pendidikan adalah salah satu jalan pengabdian yang harus dijaga dengan kesungguhan.

PENUTUP BAGIAN V

PENDIDIKAN SEBAGAI JALAN PENGABDIAN

Perjalanan di PKBM Dhiyaul Amin memperlihatkan kepada saya bahwa membangun lembaga pendidikan membutuhkan kesabaran dan kerja bersama.

Dari dua laptop pada masa awal pelaksanaan ANBK, kami kemudian berusaha memperkuat sarana pembelajaran secara bertahap.

Dari dokumen yang belum tertata, kami berusaha menyusun administrasi lembaga agar lebih baik.

Dari proses persiapan akreditasi, kami mendapatkan hasil B untuk Program Paket B dan Paket C.

Dari evaluasi Rapor Pendidikan, kami belajar melihat capaian sekaligus kekurangan.

Dari berbagai bantuan dan dukungan, kami mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki sarana dan memperluas layanan pendidikan.

Namun, semua itu bukan akhir perjalanan.

Masih ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan banyak cita-cita yang perlu diperjuangkan.

Saya berharap PKBM Dhiyaul Amin terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan belajar, membangun akhlak, mengembangkan keterampilan, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Saya juga berharap seluruh orang yang pernah mengambil bagian dalam perjuangan lembaga ini mendapatkan balasan kebaikan dari Allah SWT.

Sebab, pendidikan bukan hanya tentang mendirikan lembaga dan memberikan ijazah. Pendidikan adalah ikhtiar menjaga harapan dan membuka masa depan.

 

BAGIAN VI

KELUARGA, NILAI KEHIDUPAN, DAN MAKNA PENGABDIAN

BAB 56

KELUARGA: BAGIAN PENTING DALAM PERJALANAN HIDUP

Di balik perjalanan seseorang, selalu ada kehidupan pribadi yang menjadi bagian penting dari kisahnya.

Perjalanan organisasi, aktivitas sosial, pekerjaan, dan pengabdian dalam dunia pendidikan merupakan bagian dari kehidupan saya. Namun, ada ruang lain yang tidak kalah penting, yaitu keluarga.

Saya menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berbicara tentang apa yang dilakukan di tengah masyarakat. Ada tanggung jawab di rumah yang juga harus dijaga. Ada orang-orang terdekat yang menjadi bagian dari perjalanan hidup dan masa depan.

Saya berasal dari keluarga sederhana. Ayah dan ibu bekerja sebagai petani. Dari kehidupan keluarga itulah saya mengenal arti kerja keras dan kesederhanaan.

Pengalaman masa kecil di Desa Dangu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan saya. Kehidupan keluarga petani mengajarkan bahwa segala sesuatu membutuhkan usaha dan kesabaran.

Ketika kemudian saya menjalani kehidupan berkeluarga, saya semakin memahami bahwa tanggung jawab seseorang bertambah luas.

Keluarga bukan sekadar tempat kembali setelah menjalankan berbagai aktivitas. Keluarga juga menjadi ruang untuk belajar tentang tanggung jawab, kesetiaan terhadap amanah, dan arti kehidupan.

BAB 57

MEMBANGUN RUMAH TANGGA

Pada tahun 2013, saya menikah dengan Rahimah.

Pernikahan tersebut menjadi salah satu babak penting dalam perjalanan hidup saya. Sejak saat itu, kehidupan tidak lagi hanya berpusat pada tanggung jawab pribadi, tetapi juga pada tanggung jawab membangun rumah tangga.

Saya memahami bahwa membangun keluarga merupakan proses yang membutuhkan kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab.

Kehidupan rumah tangga tidak dapat diukur hanya dari keadaan yang terlihat. Di dalamnya terdapat berbagai tanggung jawab yang harus dijalankan bersama.

Bagi saya, keluarga merupakan bagian penting yang harus mendapatkan perhatian di tengah berbagai aktivitas di luar rumah.

Saya ingin perjalanan pengabdian kepada masyarakat tetap berjalan tanpa melupakan tanggung jawab terhadap keluarga.

Sebab, kebermanfaatan seseorang seharusnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan yang luas, tetapi juga oleh orang-orang yang hidup bersamanya.

BAB 58

DUA PUTRA DAN HARAPAN MASA DEPAN

Dari pernikahan dengan Rahimah, kami dikaruniai dua orang putra, yaitu Muhammad Rafli Ansari dan Muhammad Hasan Baseri.

Kehadiran anak-anak menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga kami.

Sebagai seorang ayah, saya memahami bahwa mendidik anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada tanggung jawab untuk memberikan teladan, mendampingi pertumbuhan, serta mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

Saya berharap kedua putra saya dapat tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak baik, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi orang lain.

Saya juga ingin mereka memahami bahwa kehidupan membutuhkan proses. Tidak semua hal dapat diperoleh dengan mudah, dan setiap cita-cita memerlukan usaha.

Saya tidak ingin memaksakan jalan hidup tertentu kepada mereka. Namun, saya berharap nilai-nilai kebaikan, kejujuran, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama dapat menjadi bekal dalam perjalanan mereka kelak.

Bagi saya, keberhasilan sebagai orang tua bukan hanya tentang apa yang dapat diberikan kepada anak, tetapi juga tentang nilai-nilai baik yang dapat diwariskan melalui kehidupan sehari-hari.

BAB 59

KASARANGAN: TEMPAT KELUARGA MENJALANI KEHIDUPAN

Setelah membangun rumah tangga, keluarga kami tinggal di Desa Kasarangan, Kecamatan Labuan Amas Utara.

Tempat tinggal menjadi bagian dari kehidupan keluarga dan perjalanan pengabdian saya.

Di satu sisi, saya memiliki aktivitas dalam organisasi, pendidikan, dan kegiatan sosial. Di sisi lain, ada kehidupan keluarga yang harus tetap diperhatikan.

Saya memahami bahwa menjalani berbagai tanggung jawab membutuhkan pengelolaan waktu dan kemampuan menentukan prioritas.

Tidak semua pekerjaan dapat dilakukan sekaligus. Ada saat ketika seseorang harus menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan, dan ada saat ketika perhatian perlu diberikan kepada keluarga.

Saya terus belajar menjaga keseimbangan tersebut.

Bagi saya, kehidupan yang bermanfaat bukanlah kehidupan yang hanya dipenuhi kegiatan di luar rumah. Kehidupan yang baik juga membutuhkan tanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungan terdekat.

BAB 60

DARI DESA DANGU: AKAR YANG TIDAK DILUPAKAN

Saya lahir dan tumbuh di Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

Di tempat itulah perjalanan hidup saya dimulai pada tanggal 28 Agustus 1987.

Saya tumbuh dalam keluarga petani dengan kehidupan yang sederhana. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, saya mengenal kehidupan keluarga yang dekat dengan pekerjaan dan lingkungan pedesaan.

Kenangan membantu orang tua di sawah menjadi bagian dari pengalaman masa kecil saya.

Ketika mengingat kembali masa tersebut, saya memahami bahwa kehidupan sederhana telah memberikan banyak pelajaran.

Saya belajar bahwa pekerjaan membutuhkan kesungguhan. Saya belajar bahwa hasil tidak datang begitu saja. Saya juga belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Seiring bertambahnya usia, saya menjalani pendidikan, organisasi, pekerjaan, dan berbagai aktivitas pengabdian.

Namun, sejauh apa pun perjalanan seseorang, asal-usul tetap menjadi bagian dari identitas kehidupannya.

Saya tidak ingin melupakan Desa Dangu dan keluarga yang menjadi tempat awal perjalanan ini.

Bagi saya, mengingat asal-usul bukan berarti hidup di masa lalu. Mengingat asal-usul adalah cara menjaga kesadaran tentang proses yang telah dilalui.

BAB 61

BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

Salah satu prinsip yang terus saya pegang dalam perjalanan hidup adalah "Bermanfaat bagi Orang Lain."

Kalimat tersebut sederhana, tetapi memiliki makna yang luas.

Saya memahami bahwa manusia hidup berdampingan dengan orang lain. Karena itu, kehidupan tidak seharusnya hanya diarahkan untuk memenuhi kepentingan pribadi.

Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda. Ada yang dapat memberikan manfaat melalui pendidikan, ada yang melalui pekerjaan, ada yang melalui kegiatan sosial, dan ada pula yang melalui pelayanan keagamaan.

Saya percaya bahwa setiap kemampuan memiliki ruang untuk digunakan dalam kebaikan.

Prinsip ini menjadi salah satu alasan saya terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi dan sosial. Saya ingin kehidupan yang dijalani dapat memberikan manfaat, meskipun dalam bentuk yang sederhana.

Namun, saya juga memahami bahwa keinginan untuk bermanfaat harus disertai kesadaran terhadap keterbatasan diri.

Tidak semua persoalan dapat diselesaikan oleh satu orang. Tidak semua harapan dapat diwujudkan dalam waktu singkat.

Yang dapat dilakukan adalah terus berusaha sesuai kemampuan, menjaga niat, dan memperbaiki langkah ketika menemukan kekurangan.

BAB 62

YAKIN USAHA SAMPAI

Selain prinsip untuk bermanfaat bagi orang lain, ada semboyan yang juga menjadi bagian dari perjalanan hidup saya, yaitu "Yakin Usaha Sampai."

Semboyan ini mengingatkan saya tentang pentingnya kesungguhan dalam menjalani proses.

Dalam perjalanan pendidikan, saya pernah menghadapi keterbatasan ekonomi. Dalam organisasi, saya menghadapi tanggung jawab kepemimpinan. Dalam pekerjaan dan kegiatan sosial, saya belajar tentang usaha dan kemandirian.

Sementara dalam dunia pendidikan, saya menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan lembaga.

Semua pengalaman tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan tidak dapat dipisahkan dari proses.

Saya tidak ingin memahami semboyan ini sebagai jaminan bahwa setiap keinginan pasti tercapai. Saya memaknainya sebagai dorongan untuk terus berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menerima hasil dengan penuh kesadaran.

Ada cita-cita yang dapat diwujudkan. Ada pula harapan yang membutuhkan waktu lebih panjang.

Yang terpenting adalah tidak berhenti belajar dan memperbaiki diri.

BAB 63

HIDUP UNTUK BERPROSES

Ada satu ungkapan yang juga menjadi bagian dari cara saya memandang kehidupan:

"Hidup untuk berproses dan berproses untuk memaknai hidup."

Bagi saya, kehidupan merupakan perjalanan yang tidak pernah berhenti memberikan pelajaran.

Setiap tahap memiliki tantangan masing-masing. Masa kecil memberikan pelajaran tentang kesederhanaan. Pendidikan memberikan pelajaran tentang pengetahuan dan perjuangan. Organisasi memberikan pelajaran tentang kepemimpinan dan kebersamaan.

Dunia kerja memberikan pelajaran tentang tanggung jawab dan kemandirian. Aktivitas sosial memberikan pelajaran tentang kepedulian. Sementara dunia pendidikan memberikan pelajaran tentang kesabaran dalam membangun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.

Saya menyadari bahwa proses tidak selalu menyenangkan. Ada keadaan yang membutuhkan kesabaran dan ada kesalahan yang harus diakui.

Namun, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan untuk memperbaiki diri.

Saya tidak ingin mengukur kehidupan hanya berdasarkan jabatan, penghargaan, atau pencapaian yang pernah diperoleh.

Hal yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjalani prosesnya, menjaga nilai-nilai yang diyakini, dan mengambil pelajaran dari setiap pengalaman.

BAB 64

BELAJAR DARI KESALAHAN DAN KEKURANGAN

Dalam perjalanan hidup, saya memahami bahwa tidak ada manusia yang terbebas dari kekurangan.

Saya pun memiliki keterbatasan dan pernah melakukan kesalahan.

Pengalaman dalam organisasi dan kepemimpinan mengajarkan bahwa seseorang perlu memiliki keberanian untuk mengevaluasi diri.

Mengakui kesalahan bukan berarti kehilangan harga diri. Justru kesediaan untuk mengakui kekurangan dapat menjadi awal untuk memperbaiki keadaan.

Saya belajar bahwa kritik perlu didengarkan, nasihat perlu dipertimbangkan, dan keputusan perlu dievaluasi.

Dalam menjalankan amanah, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan keyakinan bahwa dirinya benar. Ia juga harus bersedia melihat keadaan dari sudut pandang orang lain.

Saya ingin menjadikan pengalaman hidup sebagai bahan pembelajaran, bukan sebagai alasan untuk menyalahkan orang lain.

Sebab, pengabdian yang baik membutuhkan kerendahan hati untuk terus belajar.

BAB 65

KEBERHASILAN BUKAN HANYA TENTANG JABATAN

Dalam perjalanan hidup, saya pernah mendapatkan berbagai amanah organisasi dan kepemimpinan.

Saya pernah menjadi ketua organisasi mahasiswa, terlibat dalam kepengurusan organisasi kepemudaan, menjalankan kegiatan sosial, dan memimpin lembaga pendidikan.

Namun, saya memahami bahwa jabatan bukan ukuran tunggal keberhasilan seseorang.

Jabatan memiliki masa dan batas. Amanah dapat berubah, kepengurusan dapat berganti, dan keadaan dapat berkembang.

Karena itu, saya tidak ingin menjadikan jabatan sebagai satu-satunya ukuran nilai kehidupan.

Bagi saya, hal yang lebih penting adalah bagaimana amanah dijalankan.

Apakah tanggung jawab dilaksanakan dengan baik? Apakah kepercayaan dijaga? Apakah orang lain mendapatkan manfaat? Apakah ada kesediaan untuk memperbaiki kekurangan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih penting untuk dijadikan bahan refleksi.

Saya berharap setiap pengalaman kepemimpinan dapat meninggalkan pelajaran, bukan sekadar catatan tentang posisi yang pernah diduduki.

BAB 66

MAKNA PENGABDIAN DALAM KEHIDUPAN

Setelah menjalani berbagai perjalanan, saya semakin memahami bahwa pengabdian tidak selalu berbentuk kegiatan besar.

Pengabdian dapat hadir melalui pekerjaan yang dilakukan dengan tanggung jawab, pendidikan yang diberikan dengan kesungguhan, bantuan kepada masyarakat, pelayanan keagamaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Pengabdian juga dapat dilakukan dengan menjaga kepercayaan dan melaksanakan amanah yang telah diberikan.

Saya ingin memandang seluruh pengalaman tersebut sebagai bagian dari satu perjalanan yang saling berhubungan.

Masa kecil membentuk kesadaran tentang kesederhanaan. Pendidikan memberikan bekal pengetahuan. Organisasi menjadi tempat belajar kepemimpinan. Gerakan sosial mengembangkan kepedulian. Khadimul Ummat memperluas ruang pelayanan. Sementara PKBM Dhiyaul Amin menjadi salah satu tempat saya mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.

Semua itu memiliki nilai pembelajaran masing-masing.

Saya tidak ingin menganggap perjalanan ini telah selesai. Selama masih diberikan kesempatan, saya ingin terus belajar dan berusaha memberikan manfaat.

BAB 67

APA YANG INGIN DITINGGALKAN?

Setiap orang memiliki perjalanan hidup dan kesempatan yang berbeda.

Ada yang meninggalkan karya dalam bidang pendidikan. Ada yang dikenang melalui kegiatan sosial. Ada yang memberikan kontribusi melalui organisasi, pekerjaan, atau pelayanan kepada masyarakat.

Saya tidak mengetahui bagaimana orang lain akan mengingat perjalanan hidup saya kelak.

Namun, saya berharap apa yang pernah saya lakukan dapat memberikan manfaat, sekecil apa pun.

Saya ingin nilai kesederhanaan, kerja keras, kepedulian, dan tanggung jawab tetap menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Saya juga berharap generasi berikutnya dapat memahami bahwa pengabdian tidak harus dimulai dengan jabatan tinggi atau kemampuan yang besar.

Seseorang dapat memulai dari lingkungan terdekat, dari kemampuan yang dimiliki, dan dari kesempatan yang tersedia.

Jika ada satu hal yang ingin saya tekankan, maka hal itu adalah pentingnya menjalani kehidupan dengan tujuan yang baik.

Saya ingin perjalanan ini menjadi pengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan juga tentang apa yang dapat kita berikan.

PENUTUP BAGIAN VI

KELUARGA, NILAI, DAN PERJALANAN YANG TERUS BERLANJUT

Keluarga merupakan bagian penting dari perjalanan hidup saya. Dari keluarga sederhana di Desa Dangu, saya belajar tentang kerja keras dan kesederhanaan. Setelah membangun rumah tangga bersama Rahimah dan dikaruniai dua putra, saya semakin memahami luasnya tanggung jawab kehidupan.

Di tengah berbagai amanah organisasi, sosial, dan pendidikan, keluarga tetap menjadi bagian yang harus dijaga.

Saya juga belajar bahwa prinsip hidup harus diwujudkan melalui tindakan. Bermanfaat bagi orang lain, yakin usaha sampai, serta hidup untuk berproses dan memaknai hidup merupakan nilai-nilai yang ingin terus saya pegang.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini masih memiliki banyak kekurangan. Namun, saya berharap setiap pengalaman dapat menjadi pelajaran dan setiap amanah dapat dijalankan dengan lebih baik.

Pengabdian bukan tentang seberapa panjang seseorang dikenal, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat ia usahakan selama hidupnya.

BAGIAN VII

REFLEKSI DAN WARISAN PENGABDIAN

BAB 68

MENENGOK KEMBALI PERJALANAN

Ketika menengok kembali perjalanan hidup, saya menyadari bahwa setiap masa memiliki cerita dan pelajarannya sendiri.

Saya lahir di Desa Dangu pada 28 Agustus 1987, dalam keluarga sederhana yang menggantungkan kehidupan pada pekerjaan sebagai petani. Masa kecil mengajarkan saya tentang kesederhanaan dan kerja keras.

Perjalanan pendidikan membawa saya mengenal lingkungan pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi. Dari tempat-tempat tersebut, saya mendapatkan pengalaman yang membentuk cara pandang terhadap kehidupan.

Organisasi menjadi ruang pembelajaran berikutnya. Saya pernah terlibat dalam organisasi siswa, organisasi mahasiswa, HMI, organisasi kepemudaan, dan berbagai gerakan masyarakat.

Dari sana saya belajar tentang kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab, dan kebersamaan.

Perjalanan sosial dan kemanusiaan kemudian memperluas ruang pengabdian. Berdirinya Relawan Semut Pemburu Berkah pada 28 Agustus 2019 dan keterlibatan dalam Khadimul Ummat sejak pendiriannya pada 30 Desember 2020 menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Selanjutnya, dunia pendidikan memberikan amanah baru melalui PKBM Dhiyaul Amin.

Jika seluruh perjalanan itu dirangkai, saya melihat bahwa hidup merupakan proses panjang yang saling terhubung.

Tidak ada satu pengalaman yang berdiri sendiri. Setiap masa memberikan bekal untuk menghadapi masa berikutnya.

Saya tidak menganggap seluruh perjalanan tersebut sebagai sesuatu yang sempurna. Ada kekurangan, keterbatasan, dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.

Namun, semuanya menjadi bagian dari proses pembelajaran yang patut disyukuri.

BAB 69

JANGAN MELUPAKAN ASAL-USUL

Salah satu pelajaran yang ingin saya pegang sepanjang kehidupan adalah jangan melupakan asal-usul.

Saya berasal dari keluarga petani di Desa Dangu. Kehidupan masa kecil yang sederhana menjadi bagian dari pembentukan diri saya.

Saya pernah membantu orang tua di sawah dan mengenal kehidupan yang dekat dengan pekerjaan sehari-hari.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki titik awal yang berbeda.

Tidak semua orang memulai perjalanan dari keadaan yang mudah. Ada yang harus berjuang dengan keterbatasan ekonomi, ada yang menghadapi hambatan pendidikan, dan ada pula yang membutuhkan waktu panjang untuk menemukan jalan hidupnya.

Karena itu, saya berharap siapa pun yang sedang menjalani perjuangan tidak merasa rendah diri karena keadaan awal kehidupannya.

Asal-usul bukanlah penghalang untuk berkembang. Masa lalu dapat menjadi sumber pelajaran untuk membangun masa depan.

Bagi saya, semakin jauh seseorang melangkah, semakin penting pula baginya untuk mengingat nilai-nilai yang membentuk dirinya.

Kesederhanaan, kerja keras, dan rasa syukur adalah nilai yang ingin terus saya jaga.

BAB 70

PESAN UNTUK GENERASI MUDA

Kepada generasi muda, saya ingin menyampaikan bahwa masa muda merupakan kesempatan berharga untuk belajar, berkembang, dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.

Jangan hanya mengejar pengakuan. Bangunlah kemampuan, pengetahuan, dan karakter.

Organisasi dapat menjadi ruang belajar yang baik apabila dijalankan dengan tujuan yang benar. Namun, jangan menjadikan jabatan sebagai tujuan utama.

Belajarlah bekerja bersama orang lain. Hargai perbedaan pendapat. Biasakan berdiskusi dengan baik. Dan jangan takut mengakui kesalahan ketika melakukan kekeliruan.

Pendidikan juga harus menjadi perhatian. Teruslah belajar, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman kehidupan.

Jangan merasa bahwa kesempatan hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki fasilitas lengkap. Keterbatasan memang dapat menjadi tantangan, tetapi jangan biarkan keadaan membuat semangat belajar hilang.

Saya juga ingin generasi muda memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Perhatikan keluarga, masyarakat, pendidikan, dan persoalan sosial. Jangan hanya menjadi penonton ketika ada sesuatu yang membutuhkan perhatian.

Mulailah dari hal sederhana. Bantulah sesuai kemampuan. Gunakan pengetahuan untuk kebaikan. Dan jagalah kepercayaan ketika diberikan amanah.

Saya percaya bahwa masa depan masyarakat membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kepedulian dan tanggung jawab.

BAB 71

PESAN UNTUK PARA AKTIVIS DAN RELAWAN

Kepada teman-teman yang bergerak dalam organisasi, aktivisme, dan kegiatan kerelawanan, saya ingin menyampaikan bahwa semangat saja tidak cukup.

Semangat harus disertai pengetahuan, kedewasaan, dan tanggung jawab.

Ketika menyampaikan aspirasi, pahami persoalannya. Ketika mengelola organisasi, jaga kepercayaan anggotanya. Ketika menggalang bantuan, pertanggungjawabkan amanah masyarakat.

Jangan sampai kegiatan sosial hanya menjadi sarana membangun nama. Jangan pula menjadikan organisasi sebagai tempat untuk saling menjatuhkan.

Organisasi seharusnya menjadi tempat belajar dan bekerja bersama.

Saya juga berharap para relawan tetap menjaga keikhlasan. Tidak semua kebaikan harus mendapatkan penghargaan atau pengakuan.

Ada pekerjaan yang terlihat oleh masyarakat, ada pula yang berlangsung tanpa banyak diketahui orang. Keduanya tetap memiliki nilai apabila dilakukan dengan niat dan tanggung jawab yang baik.

Pengalaman membangun Semut Pemburu Berkah dan terlibat dalam pelayanan Khadimul Ummat mengajarkan saya bahwa gerakan kemanusiaan membutuhkan banyak orang.

Tidak ada satu orang yang dapat menyelesaikan semua persoalan.

Karena itu, rawatlah kebersamaan. Hargai setiap kontribusi. Dan jangan pernah menganggap kecil bantuan yang diberikan orang lain.

BAB 72

PENDIDIKAN DAN HARAPAN UNTUK HULU SUNGAI TENGAH

Pendidikan merupakan salah satu bidang yang memiliki peran besar dalam menentukan masa depan masyarakat.

Melalui pengalaman di PKBM Dhiyaul Amin, saya semakin memahami bahwa kesempatan belajar harus terus diperluas.

Pendidikan kesetaraan memberikan ruang bagi masyarakat yang membutuhkan jalur pendidikan alternatif. Karena itu, lembaga pendidikan nonformal perlu terus meningkatkan mutu layanan.

Saya berharap PKBM Dhiyaul Amin semakin berkembang dalam kualitas pembelajaran, pengelolaan, sarana prasarana, dan pengembangan keterampilan peserta didik.

Saya juga memiliki harapan agar cita-cita pengembangan pendidikan Dhiyaul Amin dapat terus diperjuangkan secara bertahap.

Harapan tersebut mencakup penguatan layanan pendidikan yang telah berjalan dan cita-cita jangka panjang untuk menghadirkan lembaga pendidikan formal dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA.

Tentu semua itu membutuhkan perencanaan, dukungan, dan kerja bersama.

Lebih luas lagi, saya berharap pendidikan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah semakin memberikan kesempatan kepada seluruh masyarakat untuk berkembang.

Anak-anak dan generasi muda perlu mendapatkan ruang untuk belajar. Orang dewasa yang belum menyelesaikan pendidikan juga perlu memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan.

Pendidikan harus menjadi jalan untuk membangun pengetahuan, keterampilan, akhlak, dan kemandirian.

BAB 73

PENGABDIAN TIDAK HARUS MENUNGGU SEMPURNA

Dalam perjalanan hidup, saya semakin memahami bahwa seseorang tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai memberikan manfaat.

Setiap orang memiliki kekurangan. Setiap organisasi memiliki keterbatasan. Setiap lembaga memiliki pekerjaan rumah.

Namun, kekurangan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berusaha.

Kita dapat memulai dari kemampuan yang dimiliki, kemudian memperbaiki langkah secara bertahap.

Saya belajar bahwa pengabdian membutuhkan kesediaan untuk menerima kritik, mendengarkan nasihat, dan mengevaluasi diri.

Keinginan berbuat baik harus disertai kesadaran bahwa niat baik saja belum cukup. Pelaksanaannya juga harus dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab.

Saya ingin terus memegang prinsip bahwa setiap amanah perlu dijalankan dengan sungguh-sungguh.

Jika suatu saat kemampuan saya terbatas, saya berharap masih dapat memberikan manfaat melalui hal-hal sederhana.

Sebab, pengabdian tidak selalu diukur dari besarnya kegiatan. Ia juga dapat terlihat dari kesungguhan seseorang menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.

BAB 74

WARISAN YANG INGIN DITINGGALKAN

Ketika berbicara tentang warisan kehidupan, saya tidak hanya memikirkan sesuatu yang berbentuk materi.

Ada nilai-nilai yang jauh lebih penting untuk diwariskan kepada keluarga dan generasi berikutnya.

Saya ingin keluarga memahami pentingnya kesederhanaan, kerja keras, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.

Saya berharap kedua putra saya dapat tumbuh dengan pemahaman bahwa kehidupan bukan hanya tentang mengejar keberhasilan pribadi. Ada tanggung jawab kepada keluarga, masyarakat, dan Allah SWT.

Saya juga berharap setiap lembaga dan organisasi yang pernah menjadi bagian dari perjalanan saya dapat terus berkembang melalui kerja bersama orang-orang yang mengelolanya.

Jika ada sesuatu yang dapat ditinggalkan dari perjalanan ini, saya berharap hal tersebut berupa semangat untuk terus belajar, bekerja, dan memberikan manfaat.

Saya tidak ingin warisan pengabdian hanya berupa cerita tentang seseorang yang pernah memegang jabatan.

Saya berharap ada nilai baik yang dapat diteruskan, ada pengalaman yang dapat dipelajari, dan ada manfaat yang dapat dirasakan oleh orang lain.

Pada akhirnya, manusia akan melewati masa dan kedudukannya masing-masing. Namun, kebaikan yang diusahakan dengan sungguh-sungguh diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan orang lain.

BAB 75

PERJALANAN YANG MASIH BERLANJUT

Menulis perjalanan hidup ini membuat saya kembali melihat berbagai tahap kehidupan yang telah dilalui.

Dari Desa Dangu, saya menjalani pendidikan, mengenal organisasi, memasuki dunia kerja, terlibat dalam gerakan sosial, membangun kegiatan kerelawanan, dan mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.

Perjalanan tersebut tidak selalu mudah.

Ada keterbatasan yang harus dihadapi. Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ada pula pengalaman yang mengajarkan saya untuk lebih sabar dan rendah hati.

Namun, saya percaya bahwa kehidupan akan terus memberikan kesempatan untuk belajar.

Saya tidak ingin menganggap buku ini sebagai tanda bahwa perjalanan pengabdian telah selesai.

Buku ini hanyalah catatan dari sebagian perjalanan yang telah dilalui hingga saat penulisan.

Masih ada cita-cita yang ingin diwujudkan. Masih ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat.

Selama Allah SWT masih memberikan kesempatan, saya ingin terus berusaha menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya.

Saya ingin tetap menjadi bagian dari masyarakat, tetap belajar, dan tetap mengusahakan kebaikan sesuai kemampuan.

EPILOG

JEJAK PENGABDIAN TIDAK BERHENTI DI SINI

Saya memulai perjalanan hidup dari sebuah desa bernama Dangu.

Di tempat itu, saya mengenal kehidupan keluarga petani, kesederhanaan, dan kerja keras. Saya tumbuh dengan pengalaman yang kemudian menjadi bagian dari cara saya memandang kehidupan.

Waktu membawa saya melewati berbagai tempat dan pengalaman.

Saya belajar di lingkungan pesantren dan sekolah. Saya mengenal organisasi sejak masa pelajar hingga mahasiswa. Saya terlibat dalam kegiatan kepemudaan, aktivisme, dan gerakan masyarakat.

Saya kemudian ikut membangun Relawan Semut Pemburu Berkah dan menjalani perjalanan bersama Khadimul Ummat. Saya juga mendapatkan amanah untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan melalui PKBM Dhiyaul Amin.

Setiap perjalanan memberikan pelajaran yang berbeda.

Ada pengalaman yang membuat saya semakin memahami arti kepemimpinan. Ada pengalaman yang mengajarkan pentingnya kebersamaan. Ada pula pengalaman yang mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan.

Saya tidak ingin menuliskan perjalanan ini seolah-olah semuanya berjalan sempurna.

Saya hanyalah manusia yang terus belajar, berusaha, dan memperbaiki diri.

Jika ada keberhasilan, tentu ada banyak orang yang ikut mengambil bagian. Jika ada kekurangan, saya berharap dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

Saya berterima kasih kepada orang tua yang telah menjadi bagian dari awal kehidupan saya. Kepada keluarga yang menemani perjalanan, kepada para guru dan ulama yang memberikan ilmu dan nasihat, kepada teman-teman seperjuangan, serta kepada semua pihak yang pernah bekerja bersama dalam berbagai kegiatan.

Saya juga berterima kasih kepada Ayahanda KH. Ahmad Junaidi atas amanah dan kepercayaan dalam perjalanan pengabdian di PKBM Dhiyaul Amin.

Kepada seluruh orang yang pernah hadir dalam perjalanan ini, saya berharap segala kebaikan yang telah diberikan mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.

Buku ini tidak dimaksudkan untuk mengukur siapa yang paling berjasa atau siapa yang paling berhasil. Buku ini merupakan upaya mencatat perjalanan, menyimpan pelajaran, dan membagikan nilai-nilai kehidupan yang saya peroleh.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan.

Tidak harus melalui jabatan besar. Tidak harus melalui kegiatan yang dikenal banyak orang. Bahkan, tindakan sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dan tanggung jawab dapat memberikan arti bagi kehidupan orang lain.

Perjalanan saya masih berlanjut.

Selama masih ada kesempatan, saya ingin terus belajar. Selama masih ada amanah, saya ingin berusaha menjalankannya. Selama masih ada ruang untuk berbuat baik, saya ingin mengambil bagian sesuai kemampuan.

Bermanfaat bagi Orang Lain.

Yakin Usaha Sampai.

Hidup untuk berproses dan berproses untuk memaknai hidup.

Semoga Allah SWT menerima setiap ikhtiar, mengampuni setiap kekurangan, dan menjadikan perjalanan hidup ini sebagai bagian dari amal kebaikan.

Jejak pengabdian tidak berhenti di sini.

LAMPIRAN

DOKUMENTASI PERJALANAN DAN PENGABDIAN

LAMPIRAN 1. IDENTITAS PENULIS

Nama: Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I.
Tempat, tanggal lahir: Desa Dangu, 28 Agustus 1987
Alamat keluarga: Desa Kasarangan, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.

LAMPIRAN 2. RIWAYAT PENDIDIKAN DAN KEGIATAN KEAGAMAAN

LAMPIRAN 3. RIWAYAT ORGANISASI

Organisasi

Jabatan/peran

Periode

OSIS SMAN 2 Barabai

Kabid Keagamaan

2004

OSIS SMAN 2 Barabai

Koordinator Keagamaan

2005

MPK SMAN 2 Barabai

Koordinator Humas

2006

Karang Taruna Tunas Jaya Ilung Pasar Lama

Ketua Umum

2007–2012

Himpunan Mahasiswa Angkatan 2007 STAI Al-Washliyah

Ketua

2007–2012

BEM STAI Al-Washliyah

Departemen Humas

2008–2009

HMI Cabang Barabai

Ketua Bidang Pembinaan Anggota

2009–2010

BEM STAI Al-Washliyah

Ketua Umum/Presiden Mahasiswa

2010–2011

HMI Cabang Barabai

Sekretaris Badan Pengelola Latihan

2011–2012

DPD KNPI Hulu Sungai Tengah

Wakil Sekretaris II

2012–2015

Pemuda Pancasila HST

Pengurus

2017–2018

GEMPPUR

Gerakan masyarakat

Periode kegiatan 2017

Relawan Semut Pemburu Berkah

Pendiri

28 Agustus 2019

Khadimul Ummat

Sekretaris Umum pada dokumen pendirian; kemudian Ketua Harian

Sejak 2020

PKBM Dhiyaul Amin

Tutor

Sejak 31 Agustus 2024

PKBM Dhiyaul Amin

Kepala PKBM

Sejak 1 Juli 2025

Catatan: Riwayat jabatan dan periode perlu dicocokkan kembali dengan SK, sertifikat, atau dokumen organisasi sebelum diterbitkan.

LAMPIRAN 4. CATATAN AKSI SOLIDARITAS PALESTINA

Kegiatan

Jumlah donasi

Penyaluran

Gelombang pertama

Rp185.560.232

BAZNAS RI

Gelombang kedua, 2–31 Desember 2023

Rp135.581.857

Yayasan Salam Palestina

Total

Rp321.142.089

LAMPIRAN 5. CATATAN PENGEMBANGAN PKBM DHIYAUL AMIN

  • Bergabung sebagai tutor: 31 Agustus 2024.
  • Pelaksanaan ANBK pertama dengan keterbatasan dua laptop dan peminjaman Chromebook.
  • Menjadi Kepala PKBM: 1 Juli 2025.
  • Persiapan akreditasi tahun 2025.
  • Akreditasi Paket B dan Paket C: B (Baik).
  • Pembukaan Program Paket A.
  • Penguatan perangkat pembelajaran digital dan komputer.
  • Pengembangan rencana perpustakaan, laboratorium komputer, dan program keterampilan.

LAMPIRAN 6. PRINSIP HIDUP

  1. Bermanfaat bagi Orang Lain.
  2. Yakin Usaha Sampai.
  3. Hidup untuk berproses dan berproses untuk memaknai hidup.

LAMPIRAN 7. DOKUMENTASI FOTO

Tempatkan foto-foto asli berikut sesuai ketersediaan:

  • Foto masa kecil dan keluarga di Desa Dangu.
  • Foto pendidikan pesantren dan sekolah.
  • Foto kegiatan organisasi pelajar dan mahasiswa.
  • Foto kegiatan HMI dan KNPI.
  • Foto kegiatan GEMPPUR dan kepemudaan.
  • Foto pendirian dan kegiatan Semut Pemburu Berkah.
  • Foto kegiatan Khadimul Ummat.
  • Foto aksi solidaritas Palestina.
  • Foto kegiatan PKBM Dhiyaul Amin.
  • Foto akreditasi dan pengembangan sarana pendidikan.
  • Foto keluarga.

Setiap foto perlu dilengkapi keterangan waktu, tempat, kegiatan, dan nama orang yang dapat dipastikan identitasnya.

 

KESAN DAN PESAN

DARI SAHABAT SEPERJUANGAN

Puluhan Tahun Persahabatan, Kebersamaan, dan Penghormatan

Pembuka: Persahabatan yang Teruji oleh Waktu

Dalam perjalanan kehidupan, ada banyak orang yang hadir hanya untuk sementara, tetapi ada pula yang tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan panjang seseorang. Mereka bukan sekadar teman yang pernah bertemu, melainkan sahabat yang tumbuh bersama, berbagi pengalaman, melewati berbagai perubahan, dan menjaga hubungan persaudaraan dari masa ke masa.

Demikian pula persahabatan yang terjalin antara Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I., dengan sejumlah sahabat seperjuangannya sejak masa perkuliahan.

Bagi mereka, beliau lebih akrab disapa dengan panggilan Bang Edwan. Panggilan tersebut bukan sekadar sapaan, melainkan ungkapan kedekatan, rasa persaudaraan, dan penghormatan yang telah terbangun selama puluhan tahun.

Mereka mengenal Bang Edwan sejak masa kuliah, ketika perjalanan kehidupan masih berada dalam tahap pembentukan diri. Masa itu menjadi bagian dari sejarah kebersamaan yang tidak mudah dilupakan. Mereka pernah berada dalam lingkungan pendidikan yang sama, menjalani proses sebagai mahasiswa, mengenal dinamika organisasi, serta menyaksikan perjalanan masing-masing hingga memasuki berbagai fase kehidupan.

Waktu terus berjalan. Kehidupan membawa setiap orang pada kesibukan, pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab yang berbeda. Namun, panjangnya waktu tidak menghapus nilai sebuah persahabatan. Hubungan yang telah dibangun sejak masa muda tetap menjadi bagian berharga dari perjalanan mereka.

Bagi kelima sahabat ini, Bang Edwan bukan hanya teman lama. Beliau juga dipandang sebagai sosok mentor dan guru yang mereka hormati. Pengalaman, pemikiran, serta perjalanan pengabdian yang telah dilaluinya menjadi bagian dari hal-hal yang dapat mereka jadikan pembelajaran.

Kesaksian mereka dalam buku ini bukan sekadar rangkaian pujian. Lebih dari itu, testimoni ini merupakan ungkapan penghormatan dari sahabat-sahabat yang telah mengenal Bang Edwan dalam perjalanan panjang persahabatan dan perjuangan.

1. AHMAD FAISYA, S.Pd.I.

Sahabat Seperjuangan Sejak Masa Perkuliahan

“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi kami.”

Persahabatan kami dengan Bang Edwan telah terjalin sejak masa perkuliahan. Waktu yang panjang telah membawa kami melewati berbagai tahapan kehidupan. Dari masa ketika kami sama-sama menjalani proses pendidikan hingga hari ini, hubungan persaudaraan tersebut tetap menjadi bagian yang kami hargai.

Bagi kami, Bang Edwan bukan hanya seorang sahabat yang telah dikenal selama puluhan tahun. Beliau juga merupakan sosok yang kami hormati sebagai mentor dan guru. Pengalaman hidup, pemikiran, serta perjalanan pengabdian yang telah dilaluinya merupakan hal-hal yang dapat memberikan pelajaran bagi kami.

Kami memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan proses masing-masing. Namun, mengenal seseorang dalam waktu yang panjang memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana pengalaman kehidupan menjadi bagian dari pembentukan pribadi.

Sebutan mentor dan guru yang kami berikan kepada Bang Edwan merupakan bentuk penghargaan dan rasa hormat. Kami berharap beliau senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, serta keberkahan dalam menjalankan berbagai amanah kehidupan.

Semoga persahabatan yang telah terjalin sejak masa kuliah ini terus terpelihara. Bagi kami, sahabat seperjuangan bukan hanya bagian dari cerita masa lalu, melainkan saudara yang tetap memiliki tempat dalam perjalanan hari ini dan masa mendatang.

2. SARBAINI, S.Pd.I.

Persahabatan Panjang yang Tetap Terjaga

“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi kami.”

Mengenal Bang Edwan sejak masa perkuliahan merupakan bagian dari perjalanan persahabatan yang sangat berarti. Puluhan tahun telah berlalu, dan masing-masing dari kami telah menjalani kehidupan dengan berbagai pengalaman serta tanggung jawab.

Namun, waktu yang terus berjalan tidak menghilangkan rasa persaudaraan yang telah terbangun sejak dahulu.

Bagi kami, Bang Edwan adalah sahabat seperjuangan yang patut dihormati. Beliau juga kami pandang sebagai mentor dan guru, sosok yang memiliki pengalaman dan pemikiran yang dapat menjadi sumber pembelajaran.

Persahabatan yang panjang mengajarkan bahwa hubungan baik bukan hanya tentang seberapa sering kita bertemu. Ada nilai saling menghargai, saling mendoakan, dan menjaga silaturahmi yang jauh lebih penting daripada sekadar pertemuan.

Kami menghargai perjalanan Bang Edwan, termasuk berbagai pengalaman dan amanah pengabdian yang telah dijalaninya. Semoga semua ikhtiar tersebut senantiasa membawa manfaat bagi keluarga dan masyarakat.

Harapan kami sederhana: semoga persahabatan ini tidak terputus oleh waktu dan kesibukan. Semoga Bang Edwan selalu diberikan kesehatan, umur yang berkah, dan kesempatan untuk terus berbagi kebaikan.

3. MUHAMMAD SAUPI, S.Pd.

Dari Teman Kuliah Menjadi Sahabat Seperjuangan

“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi kami.”

Perjalanan persahabatan kami dengan Bang Edwan dimulai sejak masa perkuliahan. Masa-masa tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang mempertemukan kami dalam proses belajar, bertumbuh, dan mengenal kehidupan.

Puluhan tahun kemudian, persahabatan itu tetap menjadi bagian dari kenangan dan hubungan baik yang kami jaga.

Bagi kami, Bang Edwan merupakan sosok sahabat seperjuangan yang juga kami hormati sebagai mentor dan guru. Kami memandang pengalaman dan perjalanan pengabdiannya sebagai bagian dari pembelajaran yang memiliki nilai tersendiri.

Dalam persahabatan, setiap orang memiliki kesempatan untuk saling memberikan pelajaran. Ada pengalaman yang dibagikan, ada pemikiran yang didiskusikan, dan ada nasihat yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menjalani kehidupan.

Karena itu, penghormatan kami kepada Bang Edwan bukan hanya karena beliau merupakan sahabat lama, tetapi juga karena kami menghargai pengalaman dan kontribusi yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Kami berharap hubungan persaudaraan yang telah terjalin selama puluhan tahun ini tetap terjaga. Semoga Bang Edwan selalu diberikan kesehatan, keteguhan, dan keberkahan dalam menjalankan pengabdian.

4. MUHAMMAD A. RASYIDILLAH, S.Pd.

Menghargai Perjalanan dan Pengalaman Seorang Sahabat

“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi kami.”

Sejak masa perkuliahan, Bang Edwan telah menjadi bagian dari perjalanan persahabatan kami. Waktu yang panjang telah mempertemukan kami dengan berbagai pengalaman dan perubahan kehidupan.

Kami mengenal beliau bukan hanya sebagai teman kuliah, tetapi sebagai sahabat seperjuangan yang telah melalui perjalanan panjang bersama kami.

Bagi kami, Bang Edwan adalah sosok mentor dan guru yang patut mendapatkan penghormatan. Pengalaman, pemikiran, dan berbagai perjalanan pengabdian yang telah dilaluinya merupakan bagian dari hal-hal yang dapat dijadikan pembelajaran.

Persahabatan selama puluhan tahun memberikan makna bahwa setiap orang memiliki tempat dan peran dalam kehidupan orang lain. Hubungan yang dibangun melalui kebersamaan dan rasa saling menghargai akan tetap memiliki nilai, meskipun masing-masing telah menjalani kesibukan dan tanggung jawab yang berbeda.

Kami menghormati Bang Edwan sebagai sahabat lama sekaligus sosok yang memiliki pengalaman untuk dibagikan. Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam menjalankan setiap amanah.

Harapan kami, persahabatan yang telah terjalin sejak masa kuliah tetap menjadi ikatan persaudaraan yang terjaga sepanjang kehidupan.

5. MUHAMMAD ZULKIFLI, S.Pd.

Persaudaraan yang Melampaui Perjalanan Waktu

“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi kami.”

Persahabatan kami dengan Bang Edwan telah berlangsung sejak masa perkuliahan. Puluhan tahun bukanlah waktu yang singkat. Banyak perubahan kehidupan yang telah dilalui, banyak pengalaman yang telah diperoleh, dan berbagai tanggung jawab kini menjadi bagian dari kehidupan masing-masing.

Namun, persahabatan yang telah dibangun sejak dahulu tetap memiliki arti yang istimewa.

Bagi kami, Bang Edwan adalah sahabat seperjuangan yang kami hormati sebagai mentor dan guru. Kami memandang pengalaman dan perjalanan pengabdiannya sebagai sesuatu yang patut dihargai dan dapat menjadi sumber pembelajaran.

Sosok mentor dan guru tidak selalu harus berada dalam ruang kelas. Pengalaman kehidupan, pemikiran, dan cara seseorang menjalankan tanggung jawab juga dapat memberikan pelajaran bagi orang-orang di sekitarnya.

Kami menghormati Bang Edwan sebagai sahabat yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut. Sebutan mentor dan guru merupakan ungkapan penghargaan kami terhadap beliau.

Semoga Bang Edwan senantiasa diberikan kesehatan, umur yang berkah, serta kekuatan untuk terus menjalankan pengabdian dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kami berharap persaudaraan yang telah terjalin sejak masa kuliah tidak pernah berhenti. Sebab, persahabatan yang dijaga dengan ketulusan akan selalu memiliki tempat, meskipun waktu terus berjalan dan kehidupan terus berubah.

PENUTUP

BANG EDWAN: SAHABAT, MENTOR, DAN GURU DALAM PERJALANAN KEHIDUPAN

Lima kesaksian ini memperlihatkan satu hal yang sama: hubungan antara Bang Edwan dan para sahabatnya bukanlah hubungan yang baru terjalin. Mereka telah saling mengenal sejak masa perkuliahan dan mempertahankan persahabatan hingga hari ini.

Puluhan tahun kebersamaan menjadi bagian dari sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kehidupan mereka.

Panggilan Bang Edwan menjadi simbol kedekatan dan persaudaraan. Di balik sapaan sederhana tersebut terdapat rasa hormat dari sahabat-sahabat yang telah mengenal beliau dalam waktu yang panjang.

Mereka menyebut Bang Edwan sebagai mentor dan guru bagi mereka. Sebuah penghargaan yang tentu memiliki makna tersendiri, terutama ketika datang dari orang-orang yang telah mengenal perjalanan beliau sejak masa muda.

Bagi Bang Edwan, penghormatan seperti ini hendaknya menjadi pengingat untuk terus menjaga kerendahan hati. Sebab, dalam persahabatan tidak ada yang harus merasa lebih tinggi. Setiap orang memiliki pengalaman, kelebihan, kekurangan, dan pelajaran yang dapat dibagikan.

Hari ini, mereka mungkin memiliki kesibukan dan tanggung jawab masing-masing. Namun, sejarah persahabatan yang dimulai sejak bangku kuliah tetap menjadi bagian berharga dalam kehidupan.

Jabatan dapat berganti, pekerjaan dapat berubah, dan perjalanan hidup dapat membawa seseorang ke tempat yang berbeda. Akan tetapi, persaudaraan yang dibangun melalui kebersamaan dan saling menghormati layak untuk terus dijaga.

Puluhan tahun telah menjadi saksi. Mereka bukan sekadar teman kuliah, melainkan sahabat seperjuangan yang tumbuh bersama, saling mengenal, dan tetap menjaga persaudaraan hingga hari ini.

Bang Edwan, bagi kami, bukan hanya sahabat dari masa lalu, tetapi juga sosok yang tetap kami hormati dalam perjalanan kehidupan sekarang dan masa mendatang.

 

© 2026 Edwan Ansari. All Rights Reserved.