JEJAK
PENGABDIAN
Dari
Desa Dangu Menapaki Jalan Pendidikan, Kepemimpinan, Kemanusiaan, dan Pengabdian
Muhamad
Edwan Ansari, S.Pd.I.
IDENTITAS BUKU
Judul: Jejak Pengabdian
Subjudul: Dari Desa Dangu Menapaki Jalan
Pendidikan, Kepemimpinan, Kemanusiaan, dan Pengabdian
Penulis: Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I.
Genre: Autobiografi, memoar, dan dokumentasi
perjalanan pengabdian
Asal Penulis: Desa Dangu, Kecamatan Batang Alai
Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
DEDIKASI
Buku ini saya persembahkan kepada kedua
orang tua yang telah membesarkan saya dengan kesederhanaan, doa, dan ketulusan.
Kepada ibu, yang doa dan harapannya
menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Kepada ayah, yang bersama
ibu telah mengajarkan arti kehidupan melalui kerja keras dan kesungguhan.
Kepada istri tercinta, Rahimah, dan
kedua anak saya, Muhammad Rafli Ansari serta Muhammad Hasan Baseri, yang
menjadi bagian dari perjalanan kehidupan dan pengabdian saya.
Kepada para guru, ulama, sahabat, rekan
seperjuangan, keluarga besar organisasi, para relawan, para dermawan, serta
seluruh orang yang pernah hadir dan memberikan pelajaran dalam perjalanan ini.
Dan
kepada siapa pun yang percaya bahwa kehidupan tidak hanya tentang apa yang kita
miliki, tetapi juga tentang apa yang dapat kita berikan kepada orang lain.
KATA PENGANTAR
Tidak semua perjalanan hidup dimulai
dari keadaan yang mudah. Ada yang memulai langkah dari keterbatasan, tumbuh
melalui berbagai pengalaman, dan belajar memahami kehidupan dari proses panjang
yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Buku ini saya tulis sebagai upaya
merekam perjalanan tersebut.
Saya bukan seseorang yang memiliki
perjalanan hidup tanpa kekurangan. Saya juga bukan manusia yang selalu berhasil
dalam setiap langkah. Ada masa ketika keadaan ekonomi menjadi tantangan, ada
masa ketika tanggung jawab terasa berat, ada pengalaman organisasi yang
mengajarkan arti kepemimpinan, dan ada perjalanan pengabdian yang mempertemukan
saya dengan begitu banyak orang.
Saya berasal dari Desa Dangu, sebuah
desa yang menjadi bagian dari perjalanan awal kehidupan saya. Saya tumbuh dalam
keluarga petani dengan kehidupan yang sederhana. Dari lingkungan itulah saya
mulai mengenal kerja keras, kesabaran, dan arti berusaha.
Perjalanan kemudian membawa saya
menempuh pendidikan, belajar di lingkungan pesantren, terlibat dalam organisasi
pelajar dan mahasiswa, mengikuti aktivitas kepemudaan, menjalani gerakan
sosial, membangun gerakan kerelawanan, hingga mendapatkan amanah dalam dunia
pendidikan.
Di antara perjalanan itu, ada nama-nama
yang tidak dapat saya pisahkan dari cerita ini. Ada orang tua, guru, ulama,
sahabat, rekan organisasi, para relawan, masyarakat, dan keluarga yang
memberikan dukungan dengan cara masing-masing.
Buku ini bukan dimaksudkan untuk
membesarkan diri atau mengklaim bahwa semua keberhasilan merupakan hasil usaha
pribadi. Sebaliknya, saya ingin mencatat bahwa perjalanan panjang selalu
melibatkan banyak tangan, banyak doa, dan banyak kebaikan dari orang lain.
Saya menyadari masih terdapat
kekurangan dalam penyusunan buku ini. Oleh karena itu, saya berharap catatan
ini dapat menjadi dokumentasi perjalanan, bahan refleksi, sekaligus pengingat
bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memberikan manfaat sesuai
kemampuan dan jalan hidupnya.
Semoga setiap ikhtiar yang pernah
dilakukan menjadi amal kebaikan dan mendapatkan ridha Allah SWT.
Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I.
DAFTAR ISI
BAGIAN I — AKAR KEHIDUPAN
- Anak
Desa dari Keluarga Petani
- Dangu,
Tempat Saya Memulai Kehidupan
- Keluarga,
Ibu, dan Nilai-Nilai Kehidupan
- Masa
Muda dan Awal Mengenal Tanggung Jawab
- Menempuh
Jalan Ilmu di Lingkungan Pesantren
- Belajar
Mengaji, Belajar Kehidupan
- Dari
Belajar Menjadi Mengajar
BAGIAN II — MENEMPUH JALAN PENDIDIKAN
DAN ORGANISASI
- Menjadi
Bagian dari Keluarga Besar SMAN 2 Barabai
- Belajar
Berorganisasi Sejak Muda
- Dari
OSIS Menuju Organisasi Kepemudaan
- BKPRMI
dan Pengabdian di Lingkungan Keagamaan
- Karang
Taruna dan Kepedulian terhadap Desa
- Memasuki
Dunia Kemahasiswaan
- Himpunan
Mahasiswa Islam dan Proses Pembentukan Kader
- Menjadi
Ketua Bidang Pembinaan Anggota HMI
- Mengelola
Latihan dan Proses Perkaderan
- Presiden
Mahasiswa STAI Al-Washliyah Barabai
- Memimpin
di Tengah Keterbatasan
- Kritik,
Aspirasi, dan Tanggung Jawab Kepemimpinan
- KNPI
dan Ruang Pengabdian Kepemudaan
BAGIAN III — AKTIVISME DAN GERAKAN
SOSIAL
- Mengenal
Persoalan Masyarakat
- GEMPPUR
dan Gerakan Kepedulian Murakata
- Menyuarakan
Aspirasi Masyarakat
- Perjuangan
Lingkungan dan Persoalan Jalan Daerah
- Dari
Aktivisme Menuju Pengabdian yang Lebih Luas
- Belajar
Bekerja, Berdagang, dan Bertahan
- Tetap
Berproses di Tengah Perubahan Kehidupan
BAGIAN IV — MEMBANGUN GERAKAN
KEMANUSIAAN
- Semut
Pemburu Berkah: Lahir dari Pengalaman Hidup
- 28
Agustus 2019: Awal Sebuah Gerakan
- Mengajak
Kawan-Kawan Bergerak Bersama
- Kecil
dalam Nama, Besar dalam Harapan
- Khadimul
Ummat: Jalan untuk Berkhidmat
- Membangun
Organisasi Kerelawanan
- Tiga
Sayap Juang Khadimul Ummat
- Dakwah,
Sosial, Pendidikan, dan Kemanusiaan
- Solidaritas
Hulu Sungai Tengah Peduli Palestina
- Gelombang
Pertama: Menghimpun Kepedulian
- Gelombang
Kedua: Menjaga Api Solidaritas
- Ketika
Banyak Organisasi Menjadi Satu Gerakan
- Kemanusiaan
sebagai Jalan Pengabdian
BAGIAN V — PENGABDIAN DALAM DUNIA
PENDIDIKAN
- Memasuki
Lingkungan PKBM Dhiyaul Amin
- Amanah
yang Datang dari Ayahanda
- Dari
Tutor Menjadi Kepala PKBM
- Menghadapi
Keterbatasan Perangkat Pembelajaran
- Dua
Laptop dan Perjuangan Mengikuti ANBK
- Menata
Dokumen dan Mempersiapkan Akreditasi
- Akreditasi
Paket B dan Paket C
- Rapor
Pendidikan: Membaca Hasil dan Kekurangan
- BOSP
Kinerja dan BOSP Afirmasi
- Penguatan
Kompetensi melalui Pembelajaran Mendalam
- Membuka
Program Paket A
- Dari
Keterbatasan Menuju Penguatan Sarana Pendidikan
- Membangun
PKBM untuk Masa Depan
- Ujian
Amanah, Kesabaran, dan Kepercayaan
- Keinginan
untuk Terus Mengabdi
BAGIAN VI — KELUARGA, NILAI HIDUP, DAN
REFLEKSI
- Rahimah
dan Perjalanan Rumah Tangga
- Menjadi
Suami dan Ayah
- Keluarga
sebagai Bagian dari Perjalanan Pengabdian
- Bermanfaat
bagi Orang Lain
- Yakin
Usaha Sampai
- Hidup
untuk Berproses
- Pengabdian
Tidak Selalu Harus Terlihat
BAGIAN VII — PENUTUP
- Jejak
yang Ingin Saya Tinggalkan
- Pengabdian
yang Tidak Mengenal Garis Akhir
- Untuk
Generasi yang Akan Melanjutkan
Lampiran dokumentasi, daftar
organisasi, daftar kegiatan, penghargaan, dan arsip foto.
PROLOG
Perjalanan yang Tidak Selalu Mudah
Setiap manusia memiliki perjalanan
hidupnya masing-masing. Ada perjalanan yang terlihat oleh banyak orang, ada
pula yang berlangsung dalam kesunyian. Ada keberhasilan yang mudah dikenang,
tetapi ada proses panjang di belakangnya yang sering kali tidak diketahui orang
lain.
Saya percaya bahwa kehidupan bukan
hanya tentang tempat seseorang dilahirkan, jabatan yang pernah diduduki, atau
pencapaian yang berhasil diraih. Kehidupan juga tentang bagaimana seseorang
menjalani proses, menghadapi keterbatasan, belajar dari kesalahan, dan berusaha
memberikan manfaat bagi orang lain.
Saya memulai perjalanan ini dari sebuah
desa bernama Dangu, di Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai
Tengah, Kalimantan Selatan.
Saya lahir pada 28 Agustus 1987 dalam
keluarga petani yang hidup sederhana. Saya adalah anak pertama dari dua
bersaudara. Kehidupan keluarga kami tidak dibangun di atas kemewahan. Orang tua
saya menjalani kehidupan dengan bekerja sebagai petani.
Dari kehidupan sederhana itu, saya
mengenal dunia yang sesungguhnya. Saya mengenal kerja keras, memahami bahwa
sesuatu membutuhkan usaha, dan belajar bahwa kehidupan tidak selalu memberikan
jalan yang mudah.
Ada banyak hal yang kemudian saya
jalani: pendidikan, pesantren, organisasi, aktivitas kepemudaan, gerakan
sosial, kerelawanan, kehidupan keluarga, dan pengabdian dalam dunia pendidikan.
Saya pernah berada dalam lingkungan
organisasi mahasiswa, menjadi Presiden Mahasiswa, terlibat dalam organisasi
kepemudaan, membangun gerakan kerelawanan, dan menerima amanah dalam organisasi
sosial kemanusiaan.
Saya juga menjalani perjalanan dalam
dunia pendidikan nonformal. Di PKBM Dhiyaul Amin, saya belajar bahwa mengelola
lembaga pendidikan bukan sekadar mengatur administrasi. Ada peserta didik yang
harus dilayani, tutor yang perlu diperkuat, sarana yang harus dikembangkan, dan
tanggung jawab yang harus dijaga.
Semua itu tidak terjadi dalam satu
hari. Ada proses, tantangan, dan pembelajaran yang menyertainya.
Buku ini adalah catatan perjalanan
tersebut. Saya ingin menuliskan apa yang pernah saya jalani, apa yang dapat
dipertanggungjawabkan melalui dokumen, dan apa yang menjadi pelajaran dari
setiap fase kehidupan.
Saya tidak bermaksud menampilkan diri
sebagai manusia yang paling berjasa. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa
seseorang yang berasal dari keluarga sederhana juga dapat terus belajar,
berorganisasi, bekerja, dan mengabdikan diri.
Sebab bagi saya, kehidupan tidak
berhenti pada pencapaian pribadi.
Hidup untuk berproses dan berproses
untuk memaknai hidup.
BAGIAN I
AKAR KEHIDUPAN
BAB 1
ANAK DESA DARI KELUARGA PETANI
Saya lahir pada 28 Agustus 1987 di Desa
Dangu, Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan
Selatan.
Desa Dangu adalah tempat saya memulai
kehidupan. Di sanalah saya tumbuh dalam lingkungan keluarga sederhana, mengenal
kehidupan masyarakat desa, dan menjalani masa kecil bersama keluarga.
Saya berasal dari keluarga petani. Ayah
dan ibu menjalani kehidupan dengan bekerja di sektor pertanian. Kehidupan
keluarga kami tidak berlimpah secara materi, tetapi dari lingkungan itulah saya
mulai mengenal nilai-nilai yang kemudian menjadi bekal dalam menjalani
kehidupan.
Saya adalah anak pertama dari dua
bersaudara. Sebagai anak pertama, saya tumbuh dengan pengalaman dan tanggung
jawab dalam keluarga yang ikut membentuk cara pandang saya terhadap kehidupan.
Salah satu kenangan masa kecil yang
masih melekat adalah pengalaman membantu orang tua di sawah. Saya mengenal
suasana persawahan, tanah yang berlumpur, dan pekerjaan pertanian yang
membutuhkan tenaga serta kesabaran.
Pengalaman itu mungkin terlihat
sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi saya, kehidupan di tengah keluarga
petani memberikan pelajaran yang tidak selalu dapat diperoleh dari ruang kelas.
Saya belajar bahwa sesuatu tidak hadir
begitu saja. Ada proses yang harus dijalani. Ada tenaga yang dikeluarkan. Ada
kesabaran yang dibutuhkan sebelum seseorang dapat menikmati hasil dari
pekerjaannya.
Nilai-nilai itulah yang kemudian
menjadi bagian dari cara saya memandang kehidupan.
Saya tidak ingin melupakan asal-usul.
Sebab, dari tempat sederhana itulah perjalanan panjang ini dimulai.
BAB 2
DANGU, TEMPAT SAYA MEMULAI KEHIDUPAN
Setiap orang memiliki tempat yang
menjadi bagian penting dari identitas hidupnya. Bagi saya, tempat itu adalah
Desa Dangu.
Desa bukan hanya tempat seseorang
dilahirkan. Desa juga merupakan lingkungan yang memperkenalkan seseorang kepada
kehidupan sosial, hubungan antarmanusia, kebersamaan, dan nilai-nilai yang
tumbuh di tengah masyarakat.
Saya tumbuh dalam lingkungan pedesaan
Hulu Sungai Tengah. Kehidupan keluarga petani menjadi bagian dari pengalaman
awal saya. Dari sana saya mengenal arti kesederhanaan dan memahami bahwa setiap
keluarga memiliki perjuangannya masing-masing.
Ketika mengenang masa kecil, salah satu
hal yang selalu saya ingat adalah pengalaman membantu di sawah. Tanah berlumpur
dan aktivitas pertanian menjadi bagian dari pengalaman hidup yang tidak
terpisahkan dari masa kecil saya.
Saya tidak memandang pengalaman itu
sebagai sesuatu yang harus disembunyikan. Justru dari pengalaman sederhana
itulah saya belajar menghargai pekerjaan dan perjuangan orang tua.
Perjalanan hidup saya kemudian membawa
saya keluar dari lingkungan awal untuk menempuh pendidikan dan mengikuti
berbagai kegiatan organisasi. Namun, asal-usul tetap menjadi bagian dari diri
saya.
Dari Dangu, saya belajar memulai. Dari
keluarga sederhana, saya belajar berusaha. Dan dari kehidupan masyarakat, saya
belajar bahwa keberadaan seseorang akan lebih berarti ketika dapat memberikan
manfaat bagi lingkungannya.
BAB 3
KELUARGA, IBU, DAN NILAI-NILAI
KEHIDUPAN
Keluarga adalah bagian penting dalam
perjalanan hidup saya.
Saya tumbuh dalam keluarga petani
dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Pengalaman tersebut membentuk pemahaman
saya tentang arti perjuangan dan pentingnya pendidikan.
Dalam perjalanan pendidikan, ada masa
ketika keadaan ekonomi menjadi tantangan yang sangat berat. Bahkan, pernah
muncul keinginan untuk menyerah dan tidak melanjutkan kuliah.
Namun, doa dan harapan ibu menjadi
salah satu kekuatan yang membuat saya tetap berusaha melanjutkan perjalanan.
Saya memahami bahwa harapan orang tua
bukanlah sesuatu yang ringan. Di balik keinginan agar anaknya memperoleh
pendidikan, terdapat pengorbanan, doa, dan harapan tentang masa depan yang
lebih baik.
Pengalaman itu menjadi pelajaran bagi
saya untuk tidak mudah melupakan perjuangan keluarga.
Saya juga belajar bahwa keberhasilan
tidak selalu diukur dari seberapa tinggi seseorang mencapai kedudukan. Ada
tanggung jawab yang lebih mendasar, yaitu bagaimana seseorang tetap menghargai
orang tua, menjaga keluarga, dan tidak kehilangan nilai-nilai kebaikan dalam
menjalani kehidupan.
Pada akhirnya, keluarga tetap menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan saya.
BAB 4
MASA MUDA DAN AWAL MENGENAL TANGGUNG
JAWAB
Masa muda merupakan salah satu fase
penting dalam pembentukan karakter seseorang.
Pada masa ini, saya mulai mengenal
berbagai lingkungan di luar keluarga. Pendidikan, pergaulan, kegiatan
keagamaan, dan organisasi memberikan kesempatan bagi saya untuk belajar tentang
tanggung jawab.
Saya mulai mengenal bahwa kehidupan
bermasyarakat membutuhkan keterlibatan. Seseorang tidak cukup hanya
memperhatikan kepentingan dirinya sendiri. Ada lingkungan yang perlu
diperhatikan, ada kegiatan yang membutuhkan bantuan, dan ada persoalan yang
memerlukan kepedulian bersama.
Keterlibatan dalam organisasi kemudian
menjadi salah satu jalan yang saya tempuh.
Pengalaman organisasi mengajarkan saya
untuk berinteraksi dengan banyak orang, memahami perbedaan pandangan, belajar
bekerja sama, dan menerima tanggung jawab.
Saya tidak langsung memahami semuanya.
Banyak hal yang harus dipelajari melalui proses. Ada pengalaman yang memberikan
keberanian, ada pula pengalaman yang menjadi bahan evaluasi.
Dari masa muda itulah benih
ketertarikan terhadap organisasi, pendidikan, dan pengabdian sosial mulai
tumbuh.
BAB 5
MENEMPUH JALAN ILMU DI LINGKUNGAN
PESANTREN
Pendidikan agama menjadi bagian penting
dalam perjalanan hidup saya.
Pada tahun 2004, saya ikut belajar di
Pondok Pesantren Darul Muttaqin Ilung. Setelah tahun 2006, pesantren tersebut
berubah nama menjadi Pondok Pesantren Nurul Muhibbin.
Lingkungan pesantren memberikan
pengalaman tersendiri dalam perjalanan pendidikan saya. Kegiatan belajar agama
menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu aktivitas yang saya ingat
adalah pembelajaran pada malam hari setelah salat Magrib.
Pada masa itu, kegiatan pembelajaran
diikuti oleh banyak orang. Berdasarkan ingatan saya, jumlah yang hadir dapat
mencapai ratusan orang, meskipun yang tetap istiqamah mengikuti kegiatan secara
rutin sekitar 30–40 orang. Kami bukan santri mukim hanya para pemuda-pemuda
desa yang ikut rutin belajar tiap hari di pondok Pesantren
Selain kegiatan pembelajaran di
pesantren, saya juga menjadi bagian dari kegiatan awal di Majelis Nurul
Muhibbin Ilung yang dipimpin oleh KH. Muhammad Bakhiet. Kegiatan majelis
tersebut berlangsung setiap malam Rabu, atau malam Kamis.
Pengalaman berada di lingkungan
pesantren dan majelis menjadi bagian dari proses pembentukan diri saya. Saya
memperoleh kesempatan untuk belajar, mengikuti kegiatan keagamaan, dan mengenal
kehidupan yang menempatkan ilmu serta pembinaan rohani sebagai bagian penting
dari keseharian.
Saya memahami bahwa perjalanan menuntut
ilmu bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan. Ia juga berkaitan dengan
kesungguhan, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, dan usaha memperbaiki
diri.
BAB 6
BELAJAR MENGAJI, BELAJAR KEHIDUPAN
Selain menjadi bagian dari lingkungan
pendidikan pesantren, saya juga mulai menjalani pengalaman mengajar Al-Qur'an.
Pada periode 2004–2010, saya mengajar
Al-Qur'an di TK TPA Al-Qur'an Dhiyaul Abidin Unit 008.
Pengalaman ini menjadi bagian penting
dalam perjalanan saya karena memberikan kesempatan untuk tidak hanya belajar,
tetapi juga membagikan pengetahuan yang telah diperoleh.
Mengajar memberikan tanggung jawab yang
berbeda. Ada amanah untuk menyampaikan pelajaran, ada kepercayaan yang harus
dijaga, dan ada kebutuhan untuk terus memperbaiki kemampuan diri.
Saya memandang pengalaman mengajar
tersebut sebagai salah satu awal perjalanan pengabdian dalam bidang pendidikan
dan keagamaan.
Dari sana saya semakin memahami bahwa
ilmu akan lebih bermakna ketika dapat memberikan manfaat kepada orang lain.
Pengalaman itu pula yang kemudian
menjadi bagian dari perjalanan panjang saya dalam dunia pendidikan, hingga pada
akhirnya memperoleh amanah untuk ikut mengelola lembaga pendidikan nonformal.
BAB 7
DARI BELAJAR MENJADI MENGAJAR
Ada fase ketika seseorang lebih banyak
menerima ilmu. Ada pula fase ketika seseorang mulai diberikan kesempatan untuk
membagikan ilmu kepada orang lain.
Bagi saya, pengalaman mengajar di TK
TPA Al-Qur'an Dhiyaul Abidin menjadi bagian dari peralihan tersebut.
Perjalanan mengajar sejak 2004 hingga
2010 berlangsung bersamaan dengan proses pendidikan dan aktivitas organisasi
yang saya jalani.
Saya belajar bahwa mengajar bukan hanya
menyampaikan materi. Mengajar juga menuntut tanggung jawab dan kesungguhan.
Seseorang harus berusaha memahami apa yang disampaikan agar dapat diterima oleh
orang yang belajar.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu
fondasi yang kelak berhubungan dengan perjalanan saya di bidang pendidikan
nonformal.
Saya tidak pernah menganggap perjalanan
ini selesai hanya karena pernah berada dalam satu lingkungan pendidikan. Setiap
pengalaman justru membuka kesempatan untuk belajar kembali.
Dari keluarga petani, saya belajar
tentang kerja keras. Dari pesantren, saya belajar tentang ilmu dan pembinaan
diri. Dari pengalaman mengajar, saya belajar tentang tanggung jawab membagikan
pengetahuan.
Ketiga pengalaman tersebut menjadi
bagian dari akar perjalanan pengabdian saya.
BAGIAN II
MENEMPUH JALAN PENDIDIKAN DAN
ORGANISASI
BAB 8
MENJADI BAGIAN DARI KELUARGA BESAR SMAN
2 BARABAI
Perjalanan pendidikan saya tidak hanya
berlangsung di ruang kelas. Seiring bertambahnya usia, saya mulai mengenal
lingkungan yang lebih luas dan mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam
berbagai kegiatan sekolah.
Salah satu bagian penting dari
perjalanan tersebut adalah ketika saya menjadi bagian dari SMAN 2 Barabai.
Di lingkungan sekolah, saya mulai
mengenal organisasi siswa. Bagi saya, organisasi menjadi ruang pembelajaran
yang berbeda dari kegiatan akademik. Di sana, seseorang belajar berkomunikasi,
bekerja sama, menyampaikan gagasan, dan menjalankan tanggung jawab.
Pada tahun 2004, saya tercatat sebagai
pengurus OSIS SMAN 2 Barabai pada bidang keagamaan. Kemudian, pada tahun 2005,
saya kembali menjalankan amanah sebagai Koordinator Bidang Keagamaan.
Saya juga tercatat pernah menjadi
Koordinator Hubungan Masyarakat Majelis Perwakilan Kelas (MPK) SMAN 2 Barabai
pada tahun 2006.
Keterlibatan dalam organisasi sekolah
menjadi salah satu pengalaman awal yang memperkenalkan saya pada dunia
kepemimpinan. Saya belajar bahwa sebuah kegiatan tidak dapat berjalan hanya
dengan keinginan satu orang. Dibutuhkan koordinasi, komunikasi, dan kesediaan
untuk bekerja bersama.
Pengalaman ini menjadi salah satu pintu
awal sebelum saya memasuki lingkungan organisasi yang lebih luas, terutama
organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.
BAB 9
BELAJAR BERORGANISASI SEJAK MUDA
Ketertarikan saya terhadap organisasi
tidak berhenti setelah mengikuti kegiatan di sekolah.
Saya melihat organisasi sebagai tempat
untuk belajar sekaligus memberikan kontribusi. Melalui organisasi, seseorang
dapat mengenal banyak orang, memahami persoalan masyarakat, dan memperoleh
kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan sosial maupun keagamaan.
Namun, saya juga memahami bahwa
berorganisasi bukan hanya tentang menjadi pengurus atau memiliki jabatan. Ada
tanggung jawab yang harus dijalankan dan ada kepercayaan yang harus dijaga.
Sejak masa muda, saya mulai terlibat
dalam beberapa organisasi. Pengalaman tersebut membentuk proses belajar yang
berlangsung secara bertahap.
Saya tidak datang dengan pemahaman yang
sempurna tentang kepemimpinan. Banyak hal yang saya pelajari melalui
keterlibatan langsung, melalui interaksi dengan orang lain, serta melalui
pengalaman menjalankan tugas organisasi.
Dari proses itu saya mulai memahami
bahwa seorang pengurus harus bersedia bekerja, bukan hanya hadir ketika ada
kegiatan. Ia harus memahami tanggung jawabnya dan berusaha menjalankan amanah
sebaik mungkin.
Organisasi juga mengajarkan bahwa
perbedaan pendapat merupakan sesuatu yang wajar. Hal yang penting adalah
bagaimana perbedaan tersebut dikelola agar tidak menghilangkan tujuan bersama.
BAB 10
BKPRMI DAN PENGABDIAN DI LINGKUNGAN
KEAGAMAAN
Selain kegiatan organisasi sekolah,
saya juga terlibat dalam organisasi kepemudaan yang bergerak di bidang
keagamaan.
Salah satunya adalah Badan Komunikasi
Pemuda Remaja Masjid Indonesia atau BKPRMI Kecamatan Batang Alai Utara.
Dalam perjalanan organisasi saya,
BKPRMI menjadi salah satu lingkungan yang mempertemukan semangat kepemudaan
dengan kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.
Saya tercatat terlibat sebagai anggota
atau pengurus BKPRMI Kecamatan Batang Alai Utara pada periode yang dimulai
sekitar tahun 2004 hingga 2010.
Keterlibatan dalam lingkungan
kepemudaan masjid memberikan pengalaman bahwa generasi muda memiliki ruang
untuk berperan dalam kehidupan keagamaan masyarakat.
Bagi saya, kegiatan keagamaan dan
organisasi kepemudaan bukan dua hal yang harus dipisahkan. Keduanya dapat
berjalan bersama dalam membangun karakter, memperkuat persaudaraan, dan
menumbuhkan kepedulian sosial.
Pengalaman ini kemudian menjadi bagian
dari perjalanan panjang saya dalam bidang dakwah dan pelayanan umat.
BAB 11
KARANG TARUNA DAN KEPEDULIAN TERHADAP
DESA
Pada tahun 2007, saya mulai menjalankan
amanah yang lebih besar dalam organisasi kepemudaan di lingkungan desa.
Saya tercatat sebagai Ketua Umum Karang
Taruna Tunas Jaya Desa Ilung Pasar Lama untuk periode 2007–2012.
Amanah tersebut menjadi pengalaman
penting karena organisasi yang dijalankan berada dekat dengan lingkungan
masyarakat tempat saya beraktivitas.
Karang Taruna merupakan ruang bagi
pemuda untuk belajar mengambil peran dalam kehidupan sosial. Di dalamnya
terdapat kesempatan untuk membangun kebersamaan dan mengembangkan kepedulian
terhadap lingkungan.
Menjadi ketua organisasi tentu membawa
tanggung jawab. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk memiliki gagasan,
tetapi juga harus mampu membangun komunikasi dan menjaga kerja sama.
Saya memahami bahwa jabatan ketua
bukanlah tujuan akhir. Jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan
kesungguhan.
Pengalaman di Karang Taruna menjadi
bagian dari proses saya mengenal kepemimpinan dalam lingkup yang lebih dekat
dengan kehidupan masyarakat.
Dari lingkungan desa, saya belajar
bahwa pengabdian dapat dimulai dari tempat seseorang tinggal dan berinteraksi
setiap hari.
BAB 12
MEMASUKI DUNIA KEMAHASISWAAN
Setelah menempuh pendidikan sebelumnya,
perjalanan saya berlanjut ke dunia perguruan tinggi.
Saya tercatat sebagai mahasiswa
angkatan 2007 di STAI Al-Washliyah Barabai. Memasuki lingkungan perguruan
tinggi membuka pengalaman baru dalam perjalanan pendidikan dan organisasi saya.
Dunia kemahasiswaan memiliki dinamika
tersendiri. Mahasiswa tidak hanya berhadapan dengan kegiatan akademik, tetapi
juga memiliki kesempatan untuk mengikuti diskusi, organisasi, kegiatan sosial,
dan berbagai proses pembentukan kepemimpinan.
Pada masa kuliah, saya aktif dalam
organisasi kemahasiswaan. Saya tercatat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa
Angkatan 2007 STAI Al-Washliyah untuk periode 2007–2012.
Selain itu, saya juga pernah menjadi
bagian dari Badan Eksekutif Mahasiswa STAI Al-Washliyah pada Departemen
Hubungan Masyarakat periode 2008–2009.
Keterlibatan tersebut menjadi bagian
dari proses belajar saya dalam lingkungan kampus.
Namun, perjalanan kuliah tidak selalu
berjalan mudah. Salah satu tantangan terbesar yang saya hadapi adalah kondisi
ekonomi keluarga.
Ada masa ketika keadaan tersebut
membuat saya berpikir untuk menyerah dan menghentikan perjalanan pendidikan.
Kuliah membutuhkan biaya, sementara kemampuan ekonomi keluarga sangat terbatas.
Dalam keadaan seperti itu, doa dan
harapan ibu menjadi salah satu kekuatan yang membuat saya berusaha bertahan.
Saya menyadari bahwa pendidikan bukan
hanya tentang keinginan pribadi. Ada harapan orang tua yang ikut menyertainya.
Karena itu, meskipun menghadapi
keterbatasan, saya berusaha melanjutkan proses pendidikan dan tetap aktif dalam
kegiatan kemahasiswaan.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa
perjuangan pendidikan sering kali berjalan berdampingan dengan perjuangan
kehidupan.
BAB 13
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM DAN PROSES
PEMBENTUKAN KADER
Di tengah perjalanan kemahasiswaan,
saya juga mengenal dan terlibat dalam Himpunan Mahasiswa Islam atau HMI Cabang
Barabai.
HMI menjadi salah satu ruang penting dalam
perjalanan organisasi saya. Melalui organisasi ini, saya mendapatkan kesempatan
untuk mengikuti proses perkaderan dan pembinaan mahasiswa.
Saya tercatat sebagai Ketua Bidang
Pembinaan Anggota HMI Cabang Barabai pada periode 2009–2010.
Amanah tersebut berkaitan dengan salah
satu aspek penting dalam organisasi, yaitu pembinaan anggota.
Bagi saya, pembinaan anggota bukan
sekadar kegiatan organisasi. Di dalamnya terdapat proses membangun pemahaman,
memperkuat tanggung jawab, dan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap anggota
memiliki kewajiban untuk terus belajar.
Organisasi membutuhkan anggota yang
tidak hanya tercatat dalam struktur kepengurusan, tetapi juga memiliki kemauan
untuk memahami tujuan dan nilai perjuangannya.
Pengalaman di HMI menjadi bagian dari
proses pembentukan cara pandang saya terhadap organisasi, kepemimpinan, dan
kehidupan kemahasiswaan.
Saya belajar bahwa seorang kader tidak
boleh berhenti pada pengalaman yang telah diperoleh. Ia harus terus membuka
diri terhadap pengetahuan, diskusi, dan evaluasi.
BAB 14
MENJADI BAGIAN DARI PROSES PERKADERAN
Perjalanan saya di HMI berlanjut pada
amanah berikutnya.
Pada periode 2011–2012, saya tercatat
sebagai Sekretaris Badan Pengelola Latihan HMI Cabang Barabai.
Badan Pengelola Latihan memiliki peran
dalam mendukung proses perkaderan organisasi. Melalui pengalaman tersebut, saya
semakin mengenal pentingnya proses pendidikan dan pembinaan dalam sebuah
organisasi.
Perkaderan tidak dapat dipahami hanya
sebagai kegiatan yang diselenggarakan pada waktu tertentu. Ia merupakan proses
untuk membentuk pemahaman, memperkuat kapasitas, dan mempersiapkan anggota agar
mampu menjalankan tanggung jawab organisasi.
Saya juga mendapatkan kesempatan untuk
terlibat dalam forum diskusi dan kegiatan pelatihan pada berbagai kesempatan.
Pengalaman tersebut memperluas ruang
belajar saya. Saya memahami bahwa kemampuan seseorang tidak hanya dibangun
melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui proses belajar yang
berkelanjutan.
Dalam perjalanan organisasi, kemampuan
berbicara dan menyampaikan gagasan memang penting. Namun, kemampuan
mendengarkan, memahami persoalan, dan menghargai pendapat orang lain juga sama
pentingnya.
Dari proses perkaderan inilah saya
semakin memahami bahwa organisasi harus menjadi tempat untuk membangun kualitas
manusia, bukan sekadar tempat mengumpulkan jabatan.
BAB 15
PRESIDEN MAHASISWA STAI AL-WASHLIYAH
BARABAI
Salah satu amanah penting dalam
perjalanan kemahasiswaan saya adalah ketika dipercaya menjadi Ketua Umum Badan
Eksekutif Mahasiswa STAI Al-Washliyah Barabai atau Presiden Mahasiswa periode
2010–2011.
Amanah tersebut menjadi salah satu fase
yang sangat berarti dalam perjalanan hidup saya.
Menjadi Presiden Mahasiswa bukan hanya
tentang memimpin sebuah organisasi kampus. Ada tanggung jawab untuk mengelola
organisasi, membangun komunikasi, dan menyuarakan aspirasi mahasiswa.
Pada masa itu, saya beberapa kali
terlibat dalam aksi penyampaian kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Saya memandang bahwa mahasiswa memiliki
ruang untuk menyampaikan aspirasi dan memberikan kritik terhadap kebijakan
publik. Kritik tersebut seharusnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat
yang demokratis, selama dilakukan dengan tanggung jawab dan tetap memperhatikan
ketentuan yang berlaku.
Dalam menjalankan amanah tersebut, saya
belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu berkaitan dengan hal-hal yang mudah.
Ada tanggung jawab yang harus dijalankan, ada keputusan yang harus
dipertimbangkan, dan ada konsekuensi yang harus dihadapi.
Saya juga menghadapi tantangan ekonomi
yang tidak ringan. Kondisi tersebut pernah membuat saya mempertimbangkan untuk
menyerah dalam pendidikan.
Namun, saya terus berusaha mengingat
harapan ibu dan tanggung jawab yang telah saya jalani.
Dari masa itu saya belajar bahwa
kepemimpinan tidak cukup hanya dengan keberanian menyampaikan pendapat. Seorang
pemimpin juga harus mampu menjaga komitmen, mengelola tanggung jawab, dan tidak
melupakan kewajiban terhadap pendidikan serta keluarga.
BAB 16
MEMIMPIN DI TENGAH KETERBATASAN
Menjalankan amanah sebagai Presiden
Mahasiswa pada periode 2010–2011 memberikan pengalaman yang tidak dapat saya
lepaskan dari perjalanan hidup.
Di satu sisi, saya harus menjalankan
tanggung jawab organisasi. Di sisi lain, saya tetap harus menghadapi kebutuhan
pribadi dan perjuangan menyelesaikan pendidikan.
Kondisi ekonomi menjadi tantangan yang
nyata dalam perjalanan tersebut.
Pernah terlintas keinginan untuk
berhenti kuliah. Namun, saya memahami bahwa pendidikan adalah harapan yang
telah diperjuangkan dan didoakan oleh orang tua.
Doa ibu menjadi pengingat agar saya
tidak mudah menyerah.
Pengalaman ini memberikan pelajaran
tentang arti kepemimpinan dalam keadaan terbatas. Seseorang tidak harus
menunggu kehidupannya sempurna untuk belajar bertanggung jawab.
Namun, keterbatasan juga mengajarkan
pentingnya menyadari kemampuan diri, mengatur prioritas, dan terus berusaha
mencari jalan terbaik.
Saya tidak ingin menggambarkan masa itu
sebagai perjalanan yang selalu berhasil. Ada kesulitan yang harus dihadapi dan
ada banyak hal yang harus dipelajari.
Yang dapat saya ambil dari pengalaman
tersebut adalah bahwa tanggung jawab harus dijalani dengan kesungguhan,
sementara setiap kekurangan harus menjadi bahan untuk memperbaiki diri.
BAB 17
KRITIK, ASPIRASI, DAN TANGGUNG JAWAB
KEPEMIMPINAN
Selama menjalankan amanah dalam
organisasi mahasiswa, saya beberapa kali terlibat dalam aksi penyampaian
aspirasi dan kritik terhadap kebijakan pemerintah daerah.
Bagi saya, kegiatan tersebut merupakan
bagian dari pengalaman aktivisme mahasiswa.
Mahasiswa memiliki kesempatan untuk
mengamati persoalan masyarakat, mendiskusikan kebijakan, dan menyampaikan
pandangan terhadap berbagai persoalan publik.
Namun, pengalaman tersebut juga
mengajarkan bahwa menyampaikan kritik harus disertai tanggung jawab.
Kritik seharusnya tidak hanya berangkat
dari ketidakpuasan. Kritik perlu didukung pemahaman terhadap persoalan dan
diarahkan pada perbaikan.
Saya belajar bahwa keberanian berbicara
harus diimbangi dengan kesediaan untuk mendengar. Sebab, persoalan masyarakat
tidak selalu dapat dipahami hanya dari satu sudut pandang.
Pengalaman dalam kegiatan mahasiswa
tersebut kemudian menjadi salah satu bekal ketika saya terlibat dalam gerakan
sosial dan kepemudaan di luar kampus.
Saya semakin memahami bahwa
kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan menggerakkan orang lain, melainkan
juga tentang kesediaan bertanggung jawab terhadap setiap langkah yang diambil.
BAB 18
KNPI DAN RUANG PENGABDIAN KEPEMUDAAN
Setelah melalui berbagai pengalaman
dalam organisasi mahasiswa, perjalanan saya berlanjut ke lingkungan organisasi
kepemudaan yang lebih luas.
Saya tercatat menjadi bagian dari Dewan
Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Pada periode 2012–2015, saya mengemban
amanah sebagai Wakil Sekretaris II DPD KNPI Hulu Sungai Tengah.
Keterlibatan dalam KNPI menjadi bagian
dari perjalanan saya dalam dunia kepemudaan daerah.
Lingkungan organisasi kepemudaan
mempertemukan berbagai latar belakang, gagasan, dan pengalaman. Di dalamnya
terdapat ruang untuk membangun komunikasi serta memperkuat peran pemuda dalam
kehidupan masyarakat.
Saya memahami bahwa pemuda memiliki
potensi untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah. Potensi tersebut perlu
diarahkan melalui kegiatan yang produktif, kepedulian sosial, dan kemauan untuk
terus belajar.
Pengalaman di KNPI juga menjadi bagian
dari proses saya memahami organisasi dalam lingkup yang lebih luas dibandingkan
organisasi sekolah maupun kampus.
BAB 19
DARI ORGANISASI MENUJU PENGABDIAN YANG
LEBIH LUAS
Jika saya melihat kembali perjalanan
sejak masa sekolah hingga memasuki organisasi kepemudaan, ada satu hal yang
terasa konsisten: keinginan untuk terus belajar dan mengambil bagian dalam
kehidupan sosial.
Saya memulai dari organisasi sekolah,
kemudian terlibat dalam kegiatan keagamaan, Karang Taruna, organisasi
mahasiswa, HMI, BEM, hingga KNPI.
Setiap organisasi memberikan pengalaman
yang berbeda. Ada ruang pembinaan, ruang kepemimpinan, ruang diskusi, dan ruang
untuk mengenal persoalan masyarakat.
Saya tidak menganggap semua pengalaman
tersebut sebagai pencapaian yang berdiri sendiri. Semuanya merupakan bagian
dari proses pembentukan diri.
Saya belajar bahwa organisasi bukan
tujuan akhir. Organisasi adalah salah satu sarana untuk belajar, bekerja sama,
dan memberikan kontribusi.
Dari pengalaman itu, saya semakin
memahami bahwa pengabdian dapat dilakukan melalui berbagai jalan. Ada yang
mengabdi melalui pendidikan, ada yang melalui kegiatan sosial, ada yang melalui
dakwah, dan ada pula yang mengambil bagian dalam gerakan kemanusiaan.
Perjalanan saya kemudian berlanjut
menuju aktivitas sosial yang lebih luas.
PENUTUP BAGIAN II
ORGANISASI SEBAGAI SEKOLAH KEHIDUPAN
Perjalanan organisasi sejak masa
sekolah hingga masa kemahasiswaan telah memberikan banyak pelajaran.
Saya belajar tentang kepemimpinan
melalui amanah yang diberikan. Saya belajar tentang tanggung jawab melalui
tugas yang harus dijalankan. Saya belajar tentang kebersamaan melalui interaksi
dengan berbagai orang.
Saya juga belajar bahwa jabatan tidak
selalu membuat seseorang menjadi lebih baik. Justru jabatan seharusnya menjadi
pengingat bahwa ada tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.
Di balik semua pengalaman tersebut,
terdapat satu pelajaran yang terus saya pegang: jangan berhenti belajar hanya
karena pernah mendapatkan amanah.
Sebab, perjalanan seseorang tidak
selesai ketika masa kepengurusan berakhir. Pengalaman yang diperoleh harus
menjadi bekal untuk menjalani tanggung jawab berikutnya.
Dari dunia sekolah, kampus, dan
organisasi kepemudaan, saya kemudian melangkah menuju ruang pengabdian yang
lebih luas.
Perjalanan berikutnya membawa saya
lebih dekat kepada persoalan masyarakat, gerakan sosial, dan kemanusiaan.
BAGIAN III
AKTIVISME DAN GERAKAN SOSIAL
BAB 20
MENGENAL PERSOALAN MASYARAKAT
Pengalaman berorganisasi memberikan
banyak pelajaran kepada saya. Namun, semakin lama saya terlibat dalam berbagai
kegiatan, semakin saya memahami bahwa organisasi tidak boleh hanya sibuk dengan
urusan internalnya sendiri.
Ada kehidupan masyarakat yang harus
diperhatikan. Ada persoalan yang membutuhkan kepedulian. Ada aspirasi yang
perlu disampaikan, dan ada keadaan yang menuntut seseorang untuk tidak sekadar
menjadi penonton.
Saya mulai melihat bahwa pengabdian
memiliki ruang yang sangat luas. Tidak hanya melalui jabatan dalam organisasi,
tetapi juga melalui keterlibatan dalam persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pengalaman di lingkungan sekolah,
pesantren, kampus, HMI, Karang Taruna, dan KNPI menjadi bagian dari bekal saya
untuk memahami kehidupan sosial.
Saya belajar bahwa setiap persoalan
masyarakat memiliki latar belakang dan kepentingannya sendiri. Karena itu,
seseorang perlu berusaha memahami persoalan sebelum mengambil sikap.
Dalam perjalanan berikutnya, saya
semakin banyak bersentuhan dengan aktivitas sosial dan gerakan masyarakat di
Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Bagi saya, kepedulian tidak cukup hanya
disampaikan melalui kata-kata. Kepedulian harus memiliki keberanian untuk
diwujudkan dalam tindakan yang bertanggung jawab.
BAB 21
GEMPPUR DAN GERAKAN KEPEDULIAN MURAKATA
Dalam perjalanan aktivisme di Hulu
Sungai Tengah, saya terlibat dalam gerakan yang dikenal dengan nama GEMPPUR,
singkatan dari Gerakan Masyarakat Peduli Penyelamat Murakata.
Gerakan ini menjadi salah satu bagian
dari pengalaman saya dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.
Nama Murakata memiliki kedekatan dengan
identitas daerah Hulu Sungai Tengah. Karena itu, kepedulian terhadap Murakata
bukan hanya persoalan nama atau simbol daerah, melainkan juga berkaitan dengan
perhatian terhadap kehidupan masyarakat dan berbagai persoalan yang mereka
hadapi.
Melalui aktivitas gerakan masyarakat,
saya semakin memahami bahwa kepedulian terhadap daerah membutuhkan keterlibatan
banyak pihak.
Setiap orang dapat memiliki pandangan
yang berbeda terhadap suatu persoalan. Namun, perbedaan tersebut tidak
seharusnya menghilangkan ruang untuk berdiskusi dan menyampaikan aspirasi.
Bagi saya, gerakan masyarakat harus
tetap menempatkan kepentingan publik sebagai perhatian utama. Keberanian
menyampaikan pendapat perlu berjalan bersama tanggung jawab, pemahaman terhadap
persoalan, dan komitmen menjaga ketertiban.
GEMPPUR menjadi salah satu catatan
dalam perjalanan saya memahami arti kepedulian terhadap daerah.
BAB 22
MENYUARAKAN ASPIRASI MASYARAKAT
Tahun 2017 menjadi salah satu periode
penting dalam perjalanan aktivisme saya.
Pada masa itu, saya terlibat dalam
sejumlah aksi penyampaian aspirasi masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Di antara persoalan yang menjadi perhatian adalah penggunaan jalan kabupaten
oleh kendaraan-kendaraan besar serta persoalan yang berkaitan dengan kawasan
Meratus.
Keterlibatan dalam aksi-aksi tersebut
merupakan bagian dari pengalaman saya dalam menyuarakan perhatian terhadap
persoalan daerah.
Saya memahami bahwa jalan merupakan
bagian penting dari kehidupan masyarakat. Jalan digunakan untuk aktivitas
sehari-hari, pendidikan, perdagangan, pelayanan, dan berbagai kebutuhan
lainnya.
Karena itu, persoalan yang berkaitan
dengan penggunaan dan kondisi jalan perlu mendapat perhatian.
Selain itu, persoalan Meratus juga
menjadi salah satu isu yang pernah menjadi perhatian dalam gerakan masyarakat
yang saya ikuti.
Saya tidak ingin menyederhanakan
persoalan-persoalan tersebut hanya menjadi cerita tentang aksi demonstrasi. Di
balik setiap aspirasi, selalu ada kepentingan masyarakat yang perlu dipahami
secara cermat.
Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa
menyampaikan pendapat merupakan tanggung jawab yang harus dilakukan dengan
pertimbangan. Kritik perlu disampaikan secara jelas, tetapi tetap menjaga
penghormatan terhadap orang lain dan ketertiban masyarakat.
Saya juga belajar bahwa sebuah gerakan
tidak boleh hanya berhenti pada momentum kegiatan. Hal yang lebih penting
adalah bagaimana kepedulian terhadap persoalan masyarakat tetap terpelihara.
BAB 23
AKTIVISME, KEBERANIAN, DAN TANGGUNG
JAWAB
Dalam perjalanan aktivisme, keberanian
sering kali menjadi hal yang terlihat oleh masyarakat. Seseorang yang hadir
dalam kegiatan penyampaian aspirasi mungkin terlihat sedang memperjuangkan
suatu persoalan.
Namun, di balik keberanian tersebut
terdapat tanggung jawab yang tidak boleh diabaikan.
Saya belajar bahwa menyampaikan kritik
bukan berarti meniadakan penghormatan. Berbeda pendapat bukan berarti harus
bermusuhan. Dan memperjuangkan kepentingan masyarakat bukan berarti mengabaikan
aturan serta tanggung jawab sosial.
Pengalaman organisasi mengajarkan saya
pentingnya koordinasi. Pengalaman aktivisme mengajarkan saya pentingnya
memahami persoalan. Sementara kehidupan bermasyarakat mengajarkan bahwa setiap
tindakan memiliki dampak terhadap orang lain.
Saya tidak ingin memandang perjalanan
aktivisme sebagai ukuran tunggal keberhasilan pengabdian. Ada banyak jalan lain
untuk membantu masyarakat, termasuk melalui pendidikan, kegiatan sosial,
pelayanan keagamaan, dan gerakan kemanusiaan.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin
memahami bahwa pengabdian tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan yang
terlihat ramai. Ada pekerjaan yang lebih banyak berlangsung di belakang layar,
tetapi tetap memiliki manfaat bagi masyarakat.
BAB 24
PENGALAMAN KEPEMUDAAN DAN RUANG
PENGABDIAN
Selain pengalaman dalam gerakan
masyarakat, perjalanan organisasi saya juga berlanjut melalui keterlibatan
dalam organisasi kepemudaan lainnya.
Saya pernah tercatat dalam kepengurusan
Pemuda Pancasila Kabupaten Hulu Sungai Tengah pada periode 2017–2018.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari
perjalanan saya mengenal lebih banyak lingkungan organisasi dan kehidupan
sosial masyarakat.
Setiap organisasi memiliki karakter,
ruang kegiatan, serta tanggung jawab yang berbeda. Namun, saya melihat bahwa
semuanya dapat menjadi ruang pembelajaran apabila dijalankan dengan
kesungguhan.
Saya semakin memahami bahwa seorang
aktivis tidak boleh berhenti pada identitas organisasi. Hal yang lebih penting
adalah nilai apa yang dipelajari dan manfaat apa yang dapat diberikan melalui
keterlibatan tersebut.
Pengalaman di berbagai organisasi
membuat saya bertemu dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda. Dari
pertemuan-pertemuan itulah saya belajar tentang keberagaman pandangan dan
pentingnya menjaga komunikasi.
Perjalanan tersebut menjadi bagian dari
proses yang kemudian membawa saya lebih dekat pada kegiatan sosial dan
kemanusiaan.
BAB 25
BEKERJA, BERUSAHA, DAN MEMAHAMI
KEHIDUPAN
Di luar aktivitas organisasi, saya juga
menjalani perjalanan dalam dunia pekerjaan.
Saya pernah bekerja pada bidang
pemasaran dan promosi di sebuah perusahaan penyedia layanan telekomunikasi.
Pengalaman bekerja memberikan kesempatan bagi saya untuk mengenal dunia
profesional dan berinteraksi dengan masyarakat melalui kegiatan pekerjaan.
Dunia kerja memiliki tuntutan yang
berbeda dari organisasi. Ada target yang harus dicapai, tanggung jawab
pekerjaan yang harus diselesaikan, dan kemampuan berkomunikasi yang perlu terus
dikembangkan.
Setelah melalui pengalaman bekerja,
saya kemudian menjalani usaha sendiri dan aktivitas perdagangan.
Perjalanan ini memberikan pelajaran
bahwa kehidupan tidak hanya berisi kegiatan organisasi atau aktivitas sosial.
Ada tanggung jawab ekonomi dan keluarga yang juga harus diperhatikan.
Saya memahami bahwa seseorang perlu
berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan, kehidupan keluarga, dan
pengabdian kepada masyarakat.
Tidak semua proses berjalan mudah.
Namun, setiap pengalaman memberikan pelajaran tentang kemandirian dan tanggung
jawab.
Saya semakin memahami bahwa pengabdian
tidak berarti mengabaikan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Justru seseorang
perlu berusaha mengelola kehidupannya agar tetap dapat menjalankan tanggung
jawab kepada keluarga sekaligus memberikan manfaat kepada lingkungan.
BAB 26
DARI AKTIVISME MENUJU GERAKAN
KEMANUSIAAN
Semakin banyak pengalaman yang saya
jalani, semakin saya memahami bahwa kepedulian sosial tidak cukup hanya
diwujudkan melalui penyampaian aspirasi.
Ada masyarakat yang membutuhkan bantuan
langsung. Ada keluarga yang menghadapi kesulitan. Ada orang-orang yang
memerlukan dukungan ketika mengalami musibah.
Saya mulai memandang kegiatan sosial
dan kemanusiaan sebagai salah satu jalan penting dalam pengabdian.
Pengalaman hidup dalam keluarga
sederhana membuat saya memahami bahwa kesulitan ekonomi bukan sekadar angka
dalam laporan. Ia dapat menjadi pengalaman nyata yang memengaruhi kehidupan
seseorang dan keluarganya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu
alasan mengapa saya memiliki perhatian terhadap kegiatan yang dapat membantu
masyarakat.
Saya ingin apa yang saya lakukan tidak
hanya berhenti pada pembicaraan tentang kepedulian. Saya ingin ada tindakan
nyata, sekecil apa pun kemampuan yang dimiliki.
Dari pemikiran inilah perjalanan saya
menuju gerakan kerelawanan semakin kuat.
BAB 27
28 AGUSTUS 2019: LAHIRNYA RELAWAN SEMUT
PEMBURU BERKAH
Tanggal 28 Agustus 2019 menjadi salah
satu tanggal penting dalam perjalanan pengabdian saya.
Pada tanggal tersebut, saya mendirikan Relawan
Semut Pemburu Berkah.
Ada pengalaman pribadi yang menjadi
latar belakang lahirnya gerakan ini. Saya berasal dari keluarga sederhana dan
pernah merasakan bagaimana kehidupan dalam keterbatasan ekonomi.
Pengalaman tersebut membuat saya
memiliki keinginan untuk melakukan sesuatu yang dapat memberikan manfaat bagi
lebih banyak orang.
Saya memahami bahwa tidak semua orang
memiliki kemampuan yang sama. Ada yang memiliki kekuatan materi, ada yang
memiliki tenaga, ada yang memiliki waktu, dan ada pula yang memiliki kemampuan
menggerakkan orang lain.
Namun, setiap kemampuan dapat menjadi
bagian dari kebaikan apabila digunakan dengan niat yang baik.
Semut Pemburu Berkah lahir dari
keinginan untuk mengajak lebih banyak orang bergerak dalam kegiatan sosial dan
kemanusiaan.
Nama Semut memberikan gambaran tentang
gerakan yang tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Seekor semut mungkin
terlihat kecil, tetapi semangat kebersamaan mengajarkan bahwa sesuatu yang
dikerjakan bersama dapat memberikan manfaat.
Bagi saya, hal yang terpenting bukanlah
seberapa besar nama sebuah gerakan, melainkan seberapa jauh gerakan tersebut
dapat menghadirkan manfaat.
Tanggal pendirian yang bertepatan
dengan hari kelahiran saya menjadi penanda tersendiri dalam perjalanan hidup.
Saya ingin menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat bahwa usia dan
kehidupan sebaiknya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.
BAB 28
SEMUT PEMBURU BERKAH: BERGERAK DARI
KEPEDULIAN
Relawan Semut Pemburu Berkah tidak
lahir dari keinginan untuk membangun nama pribadi. Gerakan ini lahir dari
keinginan untuk memberikan manfaat kepada banyak orang.
Dalam tahap awal, saya mendapatkan
dukungan dari teman-teman yang ikut memiliki semangat untuk bergerak bersama.
Saya sering memandang mereka sebagai
adik-adik, bukan karena hubungan biologis, melainkan karena kedekatan dalam
semangat dan perjuangan.
Mereka adalah adik-adik ideologis yang
ikut membangun kebersamaan dalam gerakan kerelawanan.
Saya menyadari bahwa sebuah gerakan
tidak akan berjalan apabila hanya bergantung pada satu orang. Dibutuhkan
orang-orang yang bersedia menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran, dan kepedulian.
Semut Pemburu Berkah menjadi ruang
untuk membangun semangat tersebut.
Dalam perjalanan gerakan sosial,
pengalaman yang paling penting bukan hanya tentang kegiatan yang berhasil
dilaksanakan. Ada proses membangun kepercayaan, menjaga kebersamaan, dan
mempertahankan semangat ketika menghadapi berbagai keterbatasan.
Saya memandang bahwa relawan adalah
orang-orang yang bersedia mengambil bagian dalam kebaikan tanpa harus selalu
menunggu penghargaan.
Mereka mungkin datang dari latar
belakang yang berbeda, tetapi memiliki kesempatan untuk bertemu dalam satu
tujuan: membantu sesama.
BAB 29
BELAJAR MENGHARGAI SETIAP IKHTIAR
Dalam kegiatan kerelawanan, tidak semua
orang dapat memberikan kontribusi dalam bentuk yang sama.
Ada yang membantu dengan tenaga. Ada
yang memberikan waktu. Ada yang menghubungkan relawan dengan orang-orang yang
membutuhkan bantuan. Ada yang memberikan dukungan melalui kemampuan dan sumber
daya yang dimiliki.
Saya belajar untuk menghargai setiap
bentuk kontribusi tersebut.
Gerakan sosial tidak seharusnya hanya
mengukur seseorang dari besarnya bantuan yang diberikan. Kepedulian juga dapat
hadir melalui hal-hal sederhana.
Pengalaman hidup saya mengajarkan bahwa
bantuan yang terlihat kecil bagi seseorang bisa menjadi sesuatu yang berarti
bagi orang lain.
Karena itu, saya ingin membangun
semangat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik sesuai
kemampuan masing-masing.
Saya juga memahami bahwa kegiatan
kerelawanan membutuhkan tanggung jawab. Kepercayaan masyarakat harus dijaga,
bantuan harus dikelola dengan baik, dan setiap kegiatan perlu dilaksanakan
secara terbuka serta dapat dipertanggungjawabkan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian
penting dalam perjalanan saya membangun gerakan sosial.
BAB 30
PENGABDIAN YANG TUMBUH DARI PENGALAMAN
HIDUP
Jika saya melihat kembali perjalanan
dari masa kecil hingga berdirinya Semut Pemburu Berkah, ada benang merah yang
menghubungkan semuanya.
Saya tumbuh dalam keluarga petani. Saya
mengenal keterbatasan ekonomi. Saya menjalani pendidikan dan pengalaman
organisasi. Saya belajar dari dunia kerja dan aktivitas sosial.
Semua pengalaman tersebut membentuk
cara saya memahami kehidupan.
Saya semakin menyadari bahwa seseorang
tidak harus menunggu memiliki segalanya untuk mulai membantu orang lain. Ia
dapat memulai dari apa yang dimiliki, dari lingkungan terdekat, dan dari
kemampuan yang tersedia.
Semut Pemburu Berkah menjadi salah satu
bentuk nyata dari pemahaman tersebut.
Saya tidak menganggap pendirian sebuah
gerakan sebagai akhir dari perjuangan. Justru setelah gerakan dibentuk,
tanggung jawab yang sesungguhnya dimulai.
Menjaga kepercayaan, merawat
kebersamaan, dan mempertahankan semangat kebaikan membutuhkan proses yang
panjang.
Saya percaya bahwa setiap ikhtiar yang
dilakukan dengan niat baik harus disertai kesungguhan dan tawakal kepada Allah
SWT.
Bermanfaat bagi Orang Lain. Yakin Usaha
Sampai.
PENUTUP BAGIAN III
DARI KEPEDULIAN MENUJU PELAYANAN UMAT
Perjalanan aktivisme dan gerakan sosial
mengajarkan saya bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui banyak cara.
Ada saat ketika saya belajar
menyampaikan aspirasi masyarakat. Ada masa ketika saya menjalani pekerjaan dan
usaha. Ada pula saat ketika saya mulai membangun gerakan kerelawanan bersama
orang-orang yang memiliki semangat serupa.
Semua pengalaman tersebut menjadi
bagian dari perjalanan menuju pengabdian yang lebih luas.
Saya semakin memahami bahwa kebaikan
tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat tumbuh dari
pengalaman hidup, dari kepedulian terhadap orang lain, dan dari kesediaan untuk
bekerja bersama.
Setelah Semut Pemburu Berkah berdiri,
perjalanan pengabdian saya berlanjut melalui keterlibatan dalam organisasi
kerelawanan yang memiliki ruang pelayanan lebih luas.
Di sinilah kisah Khadimul Ummat menjadi
bagian berikutnya dari perjalanan hidup saya.
Dari kepedulian, saya belajar bergerak.
Dari kebersamaan, saya belajar melayani.
BAGIAN IV
KHADIMUL UMMAT DAN PENGABDIAN UNTUK
KEMANUSIAAN
BAB 31
KHADIMUL UMMAT: MELUASKAN RUANG
PENGABDIAN
Setelah melalui berbagai pengalaman
dalam organisasi, aktivisme, dan gerakan kerelawanan, perjalanan pengabdian
saya memasuki tahap berikutnya.
Saya semakin memahami bahwa pelayanan
kepada masyarakat membutuhkan ruang gerak yang terorganisasi. Kegiatan sosial,
dakwah, pendidikan, dan kemanusiaan memiliki tantangan serta kebutuhan yang
berbeda. Namun, semuanya dapat dipertemukan dalam satu semangat, yaitu
berkhidmat kepada umat.
Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah,
lahirlah sebuah organisasi bernama Khadimul Ummat.
Organisasi ini didirikan pada tanggal 30
Desember 2020. Sejak awal, Khadimul Ummat dibangun sebagai organisasi yang
mandiri, tidak menjadi bagian dari partai politik maupun organisasi sayap
partai politik.
Khadimul Ummat memiliki perhatian pada
empat ruang pengabdian, yaitu dakwah, sosial, kemanusiaan, dan pendidikan.
Bagi saya, kehadiran organisasi ini
merupakan bagian dari ikhtiar memperluas pelayanan kepada masyarakat.
Pengabdian tidak boleh dibatasi oleh satu bidang saja apabila masih banyak
kebutuhan umat yang dapat diperhatikan.
Dalam dokumen pendirian organisasi,
Habib Nasir bin Usman Alhabsy tercatat sebagai Ketua Umum, sedangkan Muhammad
Edwan Ansari, S.Pd.I. tercatat sebagai Sekretaris Umum.
Dalam perjalanan organisasi berikutnya,
saya juga mendapat amanah sebagai Ketua Harian. Amanah tersebut merupakan
bagian dari proses dan perkembangan kepengurusan Khadimul Ummat.
Saya memahami bahwa jabatan dalam
organisasi bukanlah tujuan akhir. Jabatan adalah amanah yang harus dijalankan
dengan tanggung jawab.
BAB 32
LANDASAN PERJUANGAN DAN NILAI KHADIMUL
UMMAT
Setiap organisasi membutuhkan landasan
yang menjadi arah dalam menjalankan kegiatan. Khadimul Ummat dibangun dengan
berpedoman pada nilai-nilai Islam dan Pancasila.
Dalam kehidupan keagamaan, organisasi
ini berpegang pada akidah Ahlussunnah wal Jamaah, dengan corak pemahaman
Asy'ari dan fikih mazhab Syafi'i.
Landasan tersebut menjadi bagian dari
identitas keagamaan organisasi sekaligus pedoman dalam menjalankan pelayanan
kepada umat.
Khadimul Ummat juga memiliki lima nilai
penting yang menjadi pegangan dalam perjuangan.
Pertama, pedoman.
Al-Qur'an, As-Sunnah, Al-Ijma, dan
Al-Qiyas menjadi pedoman dalam memahami dan menjalankan ajaran Islam.
Kedua, motto.
"Ikhlas dan Ikhtiar serta Tawakal
melayani umat mencari ridha Allah SWT."
Motto ini mengingatkan bahwa pelayanan
kepada umat harus dilakukan dengan keikhlasan, disertai usaha yang
sungguh-sungguh, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Ketiga, semboyan.
"Berkhidmat kepada umat serta
rajut kebersamaan dalam taat kepada Allah SWT."
Semboyan ini menggambarkan bahwa
pelayanan dan kebersamaan merupakan bagian penting dalam perjalanan organisasi.
Keempat, filsafat.
"Pertolongan Allah SWT senantiasa
kepada para pelayan umat."
Kalimat ini menjadi pengingat bahwa
setiap ikhtiar pengabdian membutuhkan pertolongan dan petunjuk Allah SWT.
Kelima, prinsip perjuangan.
"Berjuang adalah kewajiban sedang
kemenangan adalah anugerah Allah SWT."
Prinsip ini mengajarkan bahwa manusia
berkewajiban berusaha, sedangkan hasil akhir merupakan ketentuan Allah SWT.
Kelima nilai tersebut bukan sekadar
rangkaian kalimat organisasi. Nilai-nilai itu menjadi pengingat agar setiap
amanah dijalankan dengan keikhlasan dan tanggung jawab.
BAB 33
VISI, MISI, DAN LIMA PARADIGMA
PELAYANAN
Khadimul Ummat memiliki visi mewujudkan
kehidupan Islami yang Rahmatan lil 'Alamin, dengan semangat persaudaraan dan
kepedulian sosial dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Visi tersebut memperlihatkan bahwa
kehidupan beragama harus berjalan bersama kepedulian terhadap sesama dan
tanggung jawab kebangsaan.
Misi organisasi diarahkan pada
pelayanan umat melalui bidang dakwah, sosial, dan pendidikan.
Untuk memperjelas arah gerak, Khadimul
Ummat mengembangkan lima paradigma pelayanan.
- Pendidikan
keagamaan,
sebagai upaya meningkatkan pemahaman dan pengetahuan keislaman.
- Dakwah, sebagai jalan menyampaikan
nilai-nilai Islam dan mengajak kepada kebaikan.
- Melayani
umat, sebagai
bentuk kepedulian terhadap kebutuhan masyarakat.
- Kemanusiaan
dan kesiapsiagaan bencana,
sebagai wujud kepedulian terhadap siapa pun yang membutuhkan pertolongan.
- Media
yang jujur dan amanah,
sebagai perhatian terhadap penyampaian informasi yang dapat dipercaya dan
bertanggung jawab.
Lima paradigma tersebut memperlihatkan
bahwa pelayanan umat tidak hanya berlangsung dalam kegiatan keagamaan.
Pendidikan, kemanusiaan, dan komunikasi publik juga memiliki peran penting.
Saya memandang bahwa organisasi harus
mampu menjawab kebutuhan masyarakat sesuai kemampuan dan sumber daya yang
dimiliki.
Karena itu, setiap bidang membutuhkan
orang-orang yang bersedia bekerja, belajar, dan menjaga amanah.
BAB 34
MEMBANGUN JARINGAN PELAYANAN DI HULU
SUNGAI TENGAH
Khadimul Ummat berpusat di Kabupaten
Hulu Sungai Tengah, dengan jaringan pelayanan yang dibangun melalui
markaz-markaz.
Dalam susunan organisasi yang telah
dijelaskan, terdapat 11 Markaz Kecamatan dan 1 Markaz Bersama.
Keberadaan markaz menjadi bagian dari
upaya membangun koordinasi dan memperluas jangkauan pelayanan.
Organisasi yang memiliki tujuan luas
tidak cukup hanya mengandalkan pengurus di tingkat pusat. Diperlukan hubungan
kerja dan kebersamaan dengan orang-orang yang berada di berbagai wilayah.
Dengan adanya jaringan markaz,
pelayanan diharapkan dapat lebih dekat dengan masyarakat.
Namun, jaringan organisasi bukan
semata-mata persoalan jumlah tempat atau struktur kepengurusan. Hal yang lebih
penting adalah bagaimana setiap bagian mampu menjalankan fungsi dan tanggung
jawabnya.
Saya memahami bahwa membangun
organisasi membutuhkan proses. Ada komunikasi yang harus dijaga, ada amanah
yang harus dibagi, dan ada kebersamaan yang perlu terus dirawat.
Khadimul Ummat menjadi ruang untuk
mengembangkan semangat tersebut.
BAB 35
TIGA SAYAP PERJUANGAN KHADIMUL UMMAT
Dalam menjalankan berbagai bidang
pengabdian, Khadimul Ummat memiliki tiga sayap organisasi, yaitu Laskar
Khadimul Ummat, Annisa Khadimul Ummat, dan Badan Kemanusiaan.
Ketiganya memiliki perhatian dan fungsi
yang berbeda, tetapi berada dalam semangat pelayanan yang sama.
1. Laskar Khadimul Ummat
Laskar Khadimul Ummat merupakan bagian
dari struktur organisasi.
Sayap ini beranggotakan orang-orang
yang mendapatkan pembinaan dan pelatihan untuk mendukung kegiatan pelayanan. Di
antaranya membantu pelaksanaan majelis, mendukung pelayanan kepada ulama dan
habaib dalam kegiatan majelis, membantu penanganan kebakaran, serta menjalankan
kegiatan pembinaan rohani.
Terdapat hubungan keanggotaan yang
jelas antara Laskar dan organisasi induk: setiap anggota Laskar merupakan
anggota Khadimul Ummat, tetapi tidak setiap anggota Khadimul Ummat menjadi
anggota Laskar.
Hal ini menunjukkan bahwa Laskar
merupakan bagian khusus dari organisasi dengan tanggung jawab tertentu.
2. Annisa Khadimul Ummat
Annisa Khadimul Ummat merupakan sayap
organisasi perempuan.
Kegiatannya diarahkan pada peningkatan
keterampilan, pengembangan intelektual, dan pelayanan sosial.
Salah satu program yang menjadi
perhatian adalah Program Keluarga Berkah, yaitu penyaluran bantuan
sembako kepada perempuan dhuafa.
Program tersebut memperlihatkan bahwa
pelayanan sosial dapat diarahkan untuk memperhatikan kelompok masyarakat yang
membutuhkan dukungan.
3. Badan Kemanusiaan
Badan Kemanusiaan atau BK menjadi sayap
yang memiliki perhatian terhadap pelayanan kemanusiaan dan bantuan kebencanaan.
Dalam menjalankan tugasnya, pelayanan
kemanusiaan tidak dibatasi oleh perbedaan suku, ras, maupun agama.
Prinsip tersebut penting karena nilai
kemanusiaan mengajarkan bahwa setiap orang yang membutuhkan pertolongan layak
mendapatkan perhatian.
Ketiga sayap ini menunjukkan bahwa
pelayanan umat dapat dilakukan melalui berbagai bentuk pengabdian.
BAB 36
BELAJAR MENJAGA AMANAH ORGANISASI
Menjadi bagian dari organisasi yang
memiliki banyak bidang pelayanan bukanlah perkara ringan.
Ada tanggung jawab yang harus
dijalankan, ada komunikasi yang perlu dijaga, dan ada kepercayaan yang harus
dipelihara.
Saya belajar bahwa organisasi tidak
dapat berjalan hanya dengan semangat pada saat pendirian. Semangat tersebut
harus diterjemahkan menjadi kerja yang berkelanjutan.
Dalam perjalanan Khadimul Ummat, saya
memahami pentingnya membangun kebersamaan dan menghargai peran setiap orang.
Tidak semua orang harus berada di
posisi yang sama. Setiap orang memiliki kemampuan dan tanggung jawab
masing-masing.
Karena itu, keberhasilan organisasi
tidak semestinya hanya dilihat dari satu nama atau satu jabatan. Ia merupakan
hasil kerja bersama dari orang-orang yang mengambil bagian sesuai amanahnya.
Bagi saya, menjadi pelayan umat berarti
bersedia belajar untuk menempatkan kepentingan pelayanan di atas kepentingan
pribadi.
BAB 37
PALESTINA: KEPEDULIAN YANG MELAMPAUI
BATAS DAERAH
Salah satu pengalaman penting dalam
perjalanan Khadimul Ummat adalah keterlibatan dalam aksi solidaritas untuk
Palestina.
Kepedulian terhadap Palestina
memperlihatkan bahwa perhatian kemanusiaan tidak harus berhenti pada batas
wilayah tempat seseorang tinggal.
Masyarakat Hulu Sungai Tengah memiliki
kesempatan untuk menunjukkan kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan yang
terjadi jauh dari daerah mereka.
Aksi solidaritas ini melibatkan
berbagai organisasi, komunitas, relawan, dan unsur masyarakat.
Keterlibatan banyak pihak menjadi
bagian penting dari kegiatan tersebut. Sebab, gerakan kemanusiaan membutuhkan
kebersamaan dan kepercayaan.
Dalam kegiatan ini, saya mendapatkan
amanah sebagai Ketua Koordinator pada dua gelombang aksi solidaritas.
Amanah tersebut mengajarkan saya bahwa
koordinasi merupakan salah satu unsur penting dalam kegiatan penggalangan dan
penyaluran bantuan.
Pengumpulan donasi bukanlah akhir dari
kegiatan. Dana yang dipercayakan masyarakat harus dikelola dan disalurkan
melalui jalur yang telah ditentukan.
Karena itu, transparansi, ketelitian,
dan tanggung jawab menjadi hal yang harus diperhatikan.
BAB 38
GELOMBANG PERTAMA: SOLIDARITAS
MASYARAKAT HULU SUNGAI TENGAH
Pada gelombang pertama, aksi
solidaritas Palestina dilaksanakan melalui gerakan bersama yang melibatkan
berbagai organisasi, komunitas, dan relawan.
Dalam kegiatan tersebut, saya dipercaya
menjadi Ketua Koordinator.
Muhammad Lutfi Yahya bertugas sebagai
sekretaris, Taufiqur Rahman sebagai bendahara, dan Munsyi Kusnadi sebagai
koordinator lapangan.
Posko utama kegiatan berpusat di Markaz
Khadimul Ummat.
Keterlibatan berbagai unsur masyarakat
memperlihatkan bahwa kepedulian dapat menyatukan orang-orang dari lingkungan
dan organisasi yang berbeda.
Berdasarkan catatan kegiatan, dana yang
berhasil dihimpun pada gelombang pertama mencapai:
Rp185.560.232
Dana tersebut disalurkan melalui BAZNAS
Republik Indonesia.
Bagi saya, angka tersebut bukan sekadar
jumlah uang yang terkumpul. Di dalamnya terdapat kepercayaan masyarakat dan
kontribusi banyak pihak yang telah ikut mengambil bagian.
Karena itu, setiap rupiah yang
dititipkan harus dipandang sebagai amanah.
Pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa
kegiatan kemanusiaan membutuhkan koordinasi yang baik, pembagian tugas, dan
jalur penyaluran yang jelas.
BAB 39
GELOMBANG KEDUA: MELANJUTKAN KEPEDULIAN
Setelah gelombang pertama, kepedulian
masyarakat terhadap Palestina kembali diwujudkan melalui gelombang kedua.
Kegiatan penggalangan dana berlangsung
pada 2 Desember sampai 31 Desember 2023.
Pengumpulan donasi dilakukan pada hari
Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu selama bulan Desember, dengan titik kegiatan di
berbagai persimpangan dan pasar di wilayah Hulu Sungai Tengah.
Dalam gelombang kedua ini, saya kembali
mendapatkan amanah sebagai Ketua Koordinator.
Sarju bertugas sebagai sekretaris,
sedangkan Taufiqur Rahman, S.H. menjadi bendahara.
Markaz Khadimul Ummat kembali menjadi
posko utama kegiatan.
Gelombang kedua menunjukkan bahwa
kepedulian masyarakat tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Semangat tersebut
kembali dilanjutkan melalui penggalangan bantuan yang melibatkan banyak pihak.
Berdasarkan catatan kegiatan, jumlah
donasi yang berhasil dihimpun mencapai:
Rp135.581.857
Dana tersebut disalurkan melalui Yayasan
Salam Palestina, yang dipimpin oleh KH Muhammad Syahid Joban, Lc.
Bagi saya, kegiatan ini menjadi
pengalaman penting dalam memahami tanggung jawab seorang koordinator.
Menggerakkan orang untuk berdonasi harus disertai tanggung jawab dalam
memastikan amanah tersebut sampai melalui jalur penyaluran yang ditetapkan.
Kegiatan kemanusiaan tidak boleh hanya
mengejar besarnya angka pengumpulan. Kepercayaan masyarakat harus tetap menjadi
hal utama.
BAB 40
CATATAN ANGKA DAN AMANAH KEMANUSIAAN
Dua gelombang aksi solidaritas
Palestina yang melibatkan masyarakat Hulu Sungai Tengah menghasilkan jumlah
donasi sebagai berikut:
|
Gelombang |
Jumlah donasi |
Jalur penyaluran |
|
Pertama |
Rp185.560.232 |
BAZNAS RI |
|
Kedua |
Rp135.581.857 |
Yayasan Salam Palestina |
|
Total |
Rp321.142.089 |
Dua jalur penyaluran |
Total donasi dari kedua gelombang
tersebut mencapai Rp321.142.089.
Angka ini merupakan hasil partisipasi
banyak pihak, bukan hasil kerja satu orang atau satu organisasi saja.
Berbagai organisasi, komunitas,
relawan, dan masyarakat ikut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Saya memandang bahwa salah satu
pelajaran terbesar dari kegiatan ini adalah pentingnya membangun kepercayaan.
Masyarakat memberikan bantuan karena
memiliki harapan agar amanah tersebut dapat disampaikan kepada pihak yang
membutuhkan. Oleh karena itu, pengelolaan dan penyaluran bantuan harus
dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Pengalaman ini juga mengajarkan bahwa
gerakan kemanusiaan membutuhkan kerja sama yang melampaui batas organisasi.
Tidak penting siapa yang paling banyak
disebut. Yang lebih penting adalah bagaimana seluruh pihak dapat bekerja
bersama untuk tujuan kemanusiaan.
BAB 41
MAKNA PENGABDIAN DALAM KHADIMUL UMMAT
Perjalanan bersama Khadimul Ummat
memberikan pengalaman tersendiri dalam kehidupan saya.
Organisasi ini mempertemukan berbagai
bidang pelayanan dalam satu ruang pengabdian. Dakwah, sosial, pendidikan, dan
kemanusiaan menjadi bagian dari arah geraknya.
Saya belajar bahwa melayani umat
membutuhkan kesabaran. Tidak semua kegiatan berjalan sesuai harapan, dan tidak
semua proses dapat diselesaikan dengan cepat.
Ada tanggung jawab yang membutuhkan
perencanaan. Ada kegiatan yang membutuhkan koordinasi. Ada pula keadaan yang
menuntut kesiapan untuk membantu.
Pengalaman dalam aksi solidaritas
Palestina menjadi salah satu contoh bahwa kebersamaan dapat menghasilkan
gerakan yang luas.
Namun, saya juga memahami bahwa
pengabdian tidak boleh berhenti pada kegiatan besar yang menarik perhatian.
Pelayanan kepada masyarakat harus terus tumbuh melalui kegiatan yang dekat
dengan kehidupan sehari-hari.
Saya ingin tetap memegang prinsip bahwa
setiap amanah harus dijalankan dengan ikhlas dan sungguh-sungguh.
Sebab, pada akhirnya, pengabdian bukan
tentang seberapa tinggi posisi seseorang dalam organisasi, melainkan seberapa
besar tanggung jawab yang bersedia ia jalankan.
PENUTUP BAGIAN IV
BERKHIDMAT KEPADA UMAT
Khadimul Ummat menjadi bagian penting
dalam perjalanan pengabdian saya.
Dari organisasi ini, saya belajar
tentang pelayanan yang lebih luas, tentang pentingnya jaringan, dan tentang
kekuatan kebersamaan.
Pengalaman dalam kegiatan dakwah,
sosial, pendidikan, serta kemanusiaan memberikan pelajaran bahwa setiap bidang
membutuhkan kesungguhan.
Dua gelombang aksi solidaritas
Palestina juga menjadi pengingat bahwa kepedulian masyarakat dapat melampaui
batas daerah dan organisasi.
Saya menyadari bahwa masih banyak hal
yang dapat dilakukan dan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki.
Namun, saya percaya bahwa pengabdian
tidak harus menunggu seseorang menjadi sempurna. Pengabdian dimulai dari
kesediaan untuk mengambil tanggung jawab, belajar dari pengalaman, dan terus
berusaha memberikan manfaat.
Berkhidmat kepada umat bukan sekadar
semboyan, melainkan amanah yang harus diwujudkan dalam kehidupan.
BAGIAN V
PENGABDIAN DALAM DUNIA PENDIDIKAN
PKBM DHIYAUL AMIN
BAB 42
AWAL PENGABDIAN DI PKBM DHIYAUL AMIN
Setelah melalui perjalanan panjang
dalam organisasi, aktivisme, dan gerakan sosial, saya mendapatkan kesempatan
untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan melalui PKBM Dhiyaul Amin.
Kesempatan itu hadir atas permintaan
dan amanah Ayahanda KH. Ahmad Junaidi, pengasuh Pondok Pesantren Dhiyaul Amin.
Bagi saya, amanah tersebut bukan
sekadar kesempatan untuk bekerja di sebuah lembaga pendidikan. Ada tanggung
jawab yang lebih luas, yaitu ikut mengambil bagian dalam perjuangan pendidikan
bagi masyarakat.
Pada tanggal 31 Agustus 2024,
saya diberi amanah menjadi seorang guru di PKBM Dhiyaul Amin.
Saat itu, saya mulai mengenal lebih
dekat keadaan lembaga, peserta didik, para tutor, dan berbagai kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan kesetaraan.
Saya memahami bahwa pendidikan
nonformal memiliki tantangan tersendiri. Peserta didik datang dengan latar
belakang, pengalaman, dan kebutuhan yang beragam. Karena itu, pelayanan
pendidikan harus disesuaikan dengan keadaan mereka.
Pada masa awal bergabung, saya melihat
masih banyak hal yang perlu dibenahi. Pengelolaan pembelajaran, administrasi,
sarana prasarana, pembiayaan, dan koordinasi menjadi beberapa hal yang
membutuhkan perhatian.
Saya tidak memandang keadaan tersebut
sebagai alasan untuk menjauh. Justru dari situlah saya mulai belajar memahami
tanggung jawab pengabdian di lembaga pendidikan.
Saya juga menyadari bahwa membangun
lembaga tidak dapat dilakukan sendirian. Diperlukan dukungan pimpinan pondok,
para tutor, tenaga kependidikan, peserta didik, serta seluruh pihak yang
memiliki kepedulian terhadap pendidikan.
BAB 43
ANBK PERTAMA DAN DUA BUAH LAPTOP
Salah satu pengalaman awal yang sangat
membekas dalam perjalanan saya di PKBM Dhiyaul Amin adalah pelaksanaan Asesmen
Nasional Berbasis Komputer atau ANBK.
Saat itu, PKBM menghadapi pelaksanaan
ANBK pertama. Kami ingin memastikan peserta didik tetap mendapatkan kesempatan
mengikuti kegiatan tersebut meskipun fasilitas yang tersedia masih sangat
terbatas.
Saya masih mengingat bahwa ketika itu
PKBM hanya memiliki dua buah laptop.
Kondisi tersebut tentu menjadi
tantangan. Pelaksanaan asesmen berbasis komputer membutuhkan perangkat yang
memadai, sedangkan lembaga belum memiliki fasilitas sesuai kebutuhan.
Namun, keterbatasan tidak boleh
langsung membuat kami menyerah.
Kami kemudian berikhtiar meminjam
Chromebook dari SDN 2 Kasarangan dengan izin Dinas Pendidikan agar peserta
didik tetap dapat mengikuti ANBK.
Bagi saya, pengalaman tersebut
memberikan pelajaran yang sangat penting.
Perjuangan pendidikan tidak selalu
dimulai dari gedung yang megah atau fasilitas yang lengkap. Kadang-kadang,
perjuangan dimulai dari kemampuan mencari jalan keluar atas keterbatasan yang
ada.
Kami hanya ingin memastikan bahwa
peserta didik tidak kehilangan kesempatan belajar dan mengikuti asesmen karena
keadaan fasilitas yang belum sempurna.
Dari pengalaman itu, saya semakin
memahami bahwa seorang pendidik bukan hanya bertugas menyampaikan materi
pembelajaran. Seorang pendidik juga harus memiliki kepedulian terhadap
kesempatan dan masa depan peserta didiknya.
BAB 44
1 JULI 2025: MENERIMA AMANAH SEBAGAI
KEPALA PKBM
Perjalanan saya di PKBM Dhiyaul Amin
kemudian memasuki babak baru.
Pada tanggal 1 Juli 2025, saya
kembali mendapatkan amanah yang lebih besar, yaitu menjadi Kepala PKBM Dhiyaul
Amin.
Amanah tersebut tentu tidak ringan.
Saya menyadari bahwa menjadi kepala
lembaga pendidikan bukan hanya tentang memimpin kegiatan administrasi. Ada
tanggung jawab terhadap mutu pembelajaran, pengelolaan sumber daya manusia,
pelayanan peserta didik, sarana prasarana, keuangan, serta keberlangsungan
lembaga.
Saya juga menyadari bahwa ilmu dan
pengalaman saya masih memiliki banyak keterbatasan.
Ada pertanyaan yang muncul dalam diri
saya: mampukah saya menjalankan amanah ini dengan baik?
Namun, saya berusaha memandang amanah
tersebut sebagai kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Saya tidak ingin menganggap jabatan
sebagai tanda bahwa seseorang sudah mengetahui segala sesuatu. Justru ketika
menerima amanah kepemimpinan, seseorang harus semakin bersedia belajar,
mendengarkan, dan menerima masukan.
Saya memahami bahwa PKBM Dhiyaul Amin
bukan milik pribadi saya. Lembaga ini memiliki sejarah, pendiri, pembina,
keluarga besar, tutor, peserta didik, dan masyarakat yang menjadi bagian dari
perjalanan perkembangannya.
Karena itu, tanggung jawab saya adalah
ikut menjaga dan mengembangkan lembaga sesuai amanah yang diberikan.
BAB 45
MENGHADAPI PRA-VISITASI AKREDITASI
Belum genap tiga bulan menjalankan
amanah sebagai kepala PKBM, kami harus menghadapi persiapan pra-visitasi
akreditasi.
Pada September 2025, persiapan untuk
kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada November 2025 mulai menjadi
perhatian utama.
Waktu yang tersedia terasa sangat
singkat. Kami harus menyiapkan kembali dokumen-dokumen sejak awal berdirinya
PKBM pada tahun 2023.
Ketika proses penelusuran dilakukan,
ternyata banyak dokumen belum tertata dengan baik. Ada dokumen yang belum
lengkap, ada arsip yang tercecer, dan ada pula bagian administrasi yang harus
disusun kembali.
Saya mulai memahami bahwa pekerjaan
kepala lembaga bukan hanya memastikan kegiatan pembelajaran berjalan. Ada
tanggung jawab untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan memiliki
dokumentasi dan bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Persiapan akreditasi menjadi salah satu
ujian awal kepemimpinan saya.
Kami harus bekerja dengan waktu yang
terbatas, sementara dokumen yang perlu disiapkan sangat banyak.
Dalam kondisi tersebut, saya berusaha
mengajak seluruh pihak untuk bekerja bersama. Saya memahami bahwa keberhasilan
persiapan tidak mungkin hanya bergantung pada kepala PKBM.
Kami membutuhkan bantuan orang-orang
yang memahami bidang masing-masing, khususnya dalam penyusunan dokumen
kurikulum dan pembelajaran.
BAB 46
39 BUNDEL DOKUMEN DAN PERJUANGAN
ADMINISTRASI
Salah satu bagian paling berat dalam
persiapan akreditasi adalah penyusunan dokumen.
Berdasarkan kebutuhan persiapan saat
itu, terdapat 39 bundel dokumen wajib dengan jumlah halaman mencapai
ratusan.
Dokumen tersebut mencakup berbagai
bidang, mulai dari:
- Dokumen
perencanaan lembaga.
- Dokumen
kurikulum dan pembelajaran.
- Dokumen
pendidik dan tenaga kependidikan.
- Dokumen
peserta didik.
- Dokumen
keuangan.
- Dokumen
sarana dan prasarana.
- Dokumen
penjaminan mutu dan evaluasi.
- Berbagai
dokumen pendukung lainnya.
Bagi orang yang tidak terlibat
langsung, pekerjaan tersebut mungkin terlihat seperti kegiatan mengumpulkan
berkas.
Namun, bagi kami, setiap dokumen
memiliki fungsi penting. Dokumen harus menggambarkan bagaimana lembaga
direncanakan, dikelola, melaksanakan pembelajaran, mengevaluasi hasil, dan
melakukan perbaikan.
Dalam proses itu, kami harus mencari
kembali arsip lama dan menyusun dokumen yang belum lengkap.
Waktu persiapan banyak digunakan untuk
menyelesaikan pekerjaan administrasi. Ada pekerjaan yang harus diperiksa
kembali, ada data yang perlu disesuaikan, dan ada dokumen yang harus disusun
secara lebih sistematis.
Saya sangat bersyukur karena tidak
menjalani proses tersebut sendirian.
Dukungan Ayahanda KH. Ahmad Junaidi,
keluarga besar PKBM, para tutor, serta orang-orang yang membantu menjadi
kekuatan dalam proses itu.
Saya juga memberikan penghargaan khusus
kepada Wakil Kepala Bidang Kurikulum yang membantu menyiapkan berbagai dokumen
pembelajaran dan administrasi pendukung.
Dari pengalaman tersebut, saya belajar
bahwa kepemimpinan bukan berarti mengerjakan semuanya sendiri. Kepemimpinan
juga berarti membangun kerja sama dan memberikan ruang bagi setiap orang untuk
berkontribusi sesuai kemampuannya.
BAB 47
AKREDITASI B: HASIL KERJA BERSAMA
Setelah melalui proses persiapan dan
penilaian, PKBM Dhiyaul Amin memperoleh hasil akreditasi untuk Program Paket B
dan Paket C dengan predikat B (Baik).
Hasil tersebut tercantum dalam SK Nomor
606/BAN-PDM/SK/2025.
Berdasarkan dokumen yang menjadi
pegangan lembaga, hasil akreditasi tersebut berlaku hingga tahun 2030.
Bagi saya, hasil ini menjadi salah satu
pencapaian penting dalam perjalanan PKBM Dhiyaul Amin.
Namun, saya tidak ingin memandang hasil
akreditasi sebagai keberhasilan pribadi.
Akreditasi merupakan hasil dari
berbagai unsur yang saling berkaitan. Ada dukungan pimpinan pondok, kerja para
tutor, tenaga kependidikan, pengelola, serta pihak-pihak yang membantu proses
persiapan.
Saya hanya menjadi salah satu bagian
dari proses tersebut.
Hasil akreditasi B juga bukan alasan
untuk berhenti memperbaiki diri. Predikat baik harus menjadi dorongan agar
lembaga terus meningkatkan mutu pelayanan pendidikan.
Saya memahami bahwa akreditasi bukan
tujuan akhir. Tujuan yang lebih penting adalah memastikan peserta didik
mendapatkan pelayanan pembelajaran yang baik, lingkungan pendidikan yang
mendukung, dan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka.
BAB 48
RAPOR PENDIDIKAN: MELIHAT HASIL DAN
KEKURANGAN
Selain akreditasi, salah satu hal yang
menjadi perhatian kami adalah Rapor Pendidikan.
Rapor Pendidikan membantu kami melihat
capaian lembaga sekaligus mengenali bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.
Ketika membandingkan hasil tahun 2024
dan 2025, kami melihat sejumlah perkembangan yang menggembirakan. Namun,
terdapat pula indikator yang mengalami penurunan sehingga perlu mendapat
perhatian.
Pada Program Paket B, capaian literasi
meningkat dari 62,22 menjadi 85,71, atau naik 23,49 poin.
Capaian numerasi Paket B meningkat dari
55,56 menjadi 73,81, atau naik 18,25 poin.
Sementara itu, kualitas pembelajaran
meningkat dari 59 menjadi 61,84, atau naik 2,84 poin.
Pada Program Paket C, capaian numerasi
meningkat dari 67,74 menjadi 73,33, atau naik 5,59 poin.
Namun, capaian literasi Paket C
mengalami penurunan dari 93,55 menjadi 76,67, atau turun 16,88 poin.
Meskipun demikian, indikator tersebut masih berada dalam kategori hijau
berdasarkan catatan evaluasi kami.
Data tersebut memberikan gambaran bahwa
peningkatan mutu pendidikan tidak selalu berlangsung secara merata.
Ada indikator yang meningkat, ada yang
perlu dipertahankan, dan ada pula yang membutuhkan strategi perbaikan lebih
lanjut.
Kami juga memberikan perhatian terhadap
kualitas pembelajaran, karakter peserta didik, serta kemampuan numerasi.
Saya belajar bahwa laporan pendidikan
tidak boleh hanya dibaca untuk mencari angka yang baik. Laporan tersebut harus
digunakan sebagai bahan refleksi untuk mengetahui apa yang sudah berjalan dan
apa yang masih perlu diperbaiki.
Bagi saya, keberanian melihat
kekurangan merupakan bagian penting dari kepemimpinan.
BAB 49
DARI DUA LAPTOP MENUJU PENGUATAN SARANA
DIGITAL
Salah satu perubahan yang sangat terasa
dalam perjalanan PKBM Dhiyaul Amin adalah perkembangan sarana pembelajaran.
Saya masih mengingat masa ketika
lembaga hanya memiliki dua laptop dan harus meminjam Chromebook untuk
pelaksanaan ANBK.
Seiring berjalannya waktu, lembaga
mulai mendapatkan tambahan sarana dan prasarana.
Pada tahun 2025, PKBM Dhiyaul Amin
memperoleh Papan Interaktif Digital atau Interactive Flat Panel dari
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Lembaga juga memperoleh satu unit
Laptop Merah Putih beserta hard disk dari kementerian.
Selain bantuan tersebut, pengadaan
melalui BOSP 2025 mencakup sejumlah perangkat dan perlengkapan, di antaranya
dua laptop untuk operator Dapodik dan ARKAS, dua belas laptop Acer Aspire Lite,
satu proyektor, satu printer, kipas angin, meja siswa, papan tulis, serta
perlengkapan pendukung lainnya.
Inventaris lembaga juga mencatat adanya
Smart TV 50 inci yang diperoleh sebagai hadiah Juara II Kualitas Data Dapodik
pada kegiatan Apresiasi GTK Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Tengah tahun
2024.
Dalam refleksi yang saya sampaikan pada
Juni 2026, jumlah komputer yang dimiliki PKBM telah mencapai 21 unit.
Perkembangan ini menjadi pengingat bagi
saya tentang perubahan yang dapat terjadi melalui proses dan ikhtiar bersama.
Dulu kami berusaha mencari perangkat
pinjaman agar peserta didik dapat mengikuti ANBK. Kemudian, perlahan-lahan
lembaga mulai memiliki sarana sendiri.
Tentu perjalanan penguatan fasilitas
belum selesai. Teknologi terus berkembang dan kebutuhan pembelajaran juga
semakin beragam.
Namun, saya bersyukur karena lembaga
telah memiliki modal awal yang lebih baik untuk memperkuat pembelajaran
berbasis digital.
BAB 50
MEMPERLUAS LAYANAN PENDIDIKAN MELALUI
PAKET A
Pada tahun 2025, PKBM Dhiyaul Amin juga
membuka Program Paket A yang setara dengan pendidikan sekolah dasar.
Pembukaan program tersebut menjadi
bagian dari upaya memperluas layanan pendidikan kepada masyarakat.
Saya memahami bahwa kebutuhan
pendidikan masyarakat tidak selalu sama. Ada yang membutuhkan layanan setara
sekolah dasar, ada yang membutuhkan pendidikan setara SMP, dan ada pula yang
membutuhkan pendidikan setara SMA.
PKBM memiliki peran untuk memberikan
kesempatan belajar melalui jalur pendidikan kesetaraan.
Dengan dibukanya Paket A, layanan
pendidikan di PKBM Dhiyaul Amin menjadi lebih luas.
Ke depan, lembaga juga merencanakan
persiapan akreditasi Program Paket A pada tahun 2027/2028.
Bagi saya, perluasan program bukan
sekadar menambah nama layanan. Setiap program harus disiapkan dengan
pengelolaan, pendidik, pembelajaran, administrasi, dan sarana pendukung yang
sesuai.
Karena itu, pembukaan Paket A harus
diikuti dengan penguatan kualitas penyelenggaraan pendidikan.
BAB 51
PENGUATAN LEMBAGA MELALUI BOSP KINERJA
DAN BOSP AFIRMASI
Dalam perjalanan pengembangan lembaga,
PKBM Dhiyaul Amin memperoleh dukungan melalui program bantuan pemerintah.
Salah satunya adalah BOSP Kinerja tahun
2025.
Berdasarkan catatan kinerja lembaga,
PKBM Dhiyaul Amin menjadi salah satu dari dua PKBM di Kabupaten Hulu Sungai
Tengah dari total 13 PKBM yang memperoleh BOSP Kinerja pada tahun tersebut.
Capaian ini menjadi salah satu bentuk
pengakuan terhadap kinerja lembaga, sekaligus tanggung jawab untuk terus
menjaga kualitas pengelolaan.
PKBM juga memperoleh BOSP Afirmasi
tahun 2025.
Dukungan tersebut diharapkan dapat
membantu penguatan sarana multimedia dan perangkat pembelajaran yang masih
dibutuhkan.
Selain itu, PKBM Dhiyaul Amin mengikuti
Pelatihan Pembelajaran Mendalam untuk Kepala Sekolah dan dua orang guru melalui
BGTK Kalimantan Selatan. Dalam catatan kinerja lembaga, keikutsertaan tersebut
disebut sebagai satu-satunya PKBM di Hulu Sungai Tengah yang mengikuti
pelatihan tersebut.
Saya memandang bahwa dukungan
pemerintah harus dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Bantuan bukan sekadar tambahan anggaran
atau barang inventaris. Bantuan harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas
layanan pendidikan dan memberikan manfaat kepada peserta didik.
Karena itu, pengelolaan bantuan harus
mengikuti ketentuan yang berlaku dan disertai administrasi yang tertib.
BAB 52
MENGEMBANGKAN SARANA UNTUK MASA DEPAN
Perkembangan sarana PKBM Dhiyaul Amin
terus menjadi perhatian dalam perencanaan lembaga.
Dalam inventaris tahun 2026, terdapat
tambahan sarana yang meliputi tujuh unit komputer PC, dua rak buku, empat papan
tulis, enam meja siswa, perlengkapan olahraga, serta perlengkapan pendukung
lainnya.
Keberadaan komputer menjadi salah satu
modal untuk mengembangkan pembelajaran dan keterampilan digital.
Saya memiliki harapan agar fasilitas
tersebut dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk kegiatan pembelajaran reguler,
tetapi juga untuk pelatihan keterampilan komputer bagi para santri dan
santriah.
Selain itu, pengembangan perpustakaan
juga menjadi bagian dari rencana penguatan budaya literasi.
Bagi saya, perpustakaan bukan sekadar
ruangan yang berisi buku. Perpustakaan harus menjadi ruang untuk menumbuhkan
kebiasaan membaca, memperluas pengetahuan, dan membangun rasa ingin tahu.
Rencana pengembangan sarana ini masih
membutuhkan proses, dukungan, dan pengelolaan yang berkelanjutan.
Saya memahami bahwa pembangunan lembaga
tidak dapat dilakukan dalam satu waktu. Ada prioritas yang harus ditentukan dan
ada kebutuhan yang perlu dipenuhi secara bertahap.
BAB 53
KEPEMIMPINAN, KEKURANGAN, DAN
KEPERCAYAAN
Menjalankan amanah sebagai kepala PKBM
memberikan banyak pelajaran kepada saya.
Saya belajar bahwa memimpin lembaga
pendidikan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada persoalan yang harus
diselesaikan, ada keputusan yang perlu dipertimbangkan, dan ada keadaan yang
menuntut kesabaran.
Dalam perjalanan tersebut, saya juga
pernah menghadapi masa sulit ketika amanah sebagai kepala PKBM sempat
dinonaktifkan.
Saya memilih menghadapi keadaan itu
dengan sabar. Saya berusaha menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi dan
menyampaikan pengakuan atas kekurangan serta kesalahan saya sendiri.
Saya memahami bahwa dalam hubungan
pengabdian, seseorang tidak boleh hanya menuntut untuk dimengerti. Ia juga
harus bersedia mengevaluasi diri.
Alhamdulillah, Abah memberikan maaf.
Kemudian Ayahanda kembali memanggil dan memberikan kepercayaan kepada saya
untuk menjalankan amanah sebagai kepala PKBM.
Kepercayaan tersebut menjadi pengingat
bahwa amanah bukan sesuatu yang boleh dianggap ringan.
Saya tidak ingin membuka hal-hal
internal yang tidak perlu menjadi konsumsi publik. Cukuplah pengalaman itu
menjadi pelajaran tentang kesabaran, kerendahan hati, keberanian mengakui
kekurangan, dan pentingnya menjaga hubungan baik.
Sejak saat itu, saya semakin memahami
bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan mengatur orang lain.
Kepemimpinan juga tentang kemampuan memperbaiki diri sendiri.
BAB 54
CITA-CITA BESAR PENDIDIKAN DHIYAUL AMIN
Dalam perjalanan mengembangkan PKBM
Dhiyaul Amin, saya dan keluarga besar lembaga memiliki harapan agar pelayanan
pendidikan dapat terus berkembang.
Cita-cita yang disimpan adalah suatu
hari menghadirkan lembaga pendidikan formal Dhiyaul Amin mulai dari PAUD, SD,
SMP, hingga SMA.
Saya menyadari bahwa cita-cita tersebut
bukan pekerjaan sederhana. Diperlukan perencanaan, sumber daya manusia, sarana
prasarana, pembiayaan, legalitas, dan dukungan berbagai pihak.
Namun, cita-cita besar tidak harus
membuat seseorang berhenti melangkah hanya karena belum dapat diwujudkan hari
ini.
Kami ingin memulai dari penguatan
lembaga yang sudah ada.
Peningkatan kualitas pembelajaran,
penguatan literasi dan numerasi, pengembangan keterampilan, penataan
administrasi, serta penguatan sarana multimedia menjadi bagian dari prioritas.
Kami juga ingin mengembangkan program
keterampilan yang dapat memberikan bekal kepada peserta didik untuk menghadapi
kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan.
Bagi saya, pendidikan tidak cukup hanya
menghasilkan lulusan yang memperoleh ijazah. Pendidikan harus membantu
seseorang mengembangkan ilmu, akhlak, keterampilan, kemandirian, dan kemampuan
menghadapi masa depan.
BAB 55
MENGABDI SELAMA KEPERCAYAAN MASIH
DIBERIKAN
Setelah melalui berbagai pengalaman di
PKBM Dhiyaul Amin, saya semakin memahami bahwa pengabdian dalam dunia
pendidikan merupakan perjalanan panjang.
Ada masa ketika kami harus berjuang
dengan fasilitas yang sangat terbatas. Ada masa ketika administrasi harus
disusun kembali. Ada masa ketika akreditasi menjadi tanggung jawab besar. Ada
pula masa ketika lembaga mulai memperoleh berbagai dukungan dan menunjukkan
perkembangan.
Semua itu menjadi bagian dari
perjalanan bersama.
Saya menyadari bahwa apa yang telah
dicapai bukan hasil kerja satu orang. Ada Ayahanda KH. Ahmad Junaidi yang
memberikan amanah dan dukungan. Ada para tutor dan tenaga kependidikan yang
menjalankan tugas. Ada peserta didik yang menjadi alasan utama mengapa
pendidikan harus terus berjalan. Ada pula orang-orang yang membantu dengan cara
masing-masing.
Saya juga menyadari bahwa masih banyak
pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Masih ada sarana yang perlu dilengkapi.
Masih ada mutu pembelajaran yang harus ditingkatkan. Masih ada administrasi
yang perlu diperkuat. Masih ada cita-cita yang belum terwujud.
Namun, selama masih ada kesempatan
untuk belajar dan memperbaiki diri, saya ingin terus mengambil bagian dalam
perjalanan tersebut.
Saya pernah menyampaikan sebuah harapan
yang menjadi pegangan pribadi dalam menjalankan amanah ini:
"Saya ingin mengabdi di PKBM
Dhiyaul Amin hingga akhir hayat, selama Ayahanda masih memberikan kepercayaan
dan merestui saya untuk terus mengabdi."
Kalimat itu bukan berarti saya
menganggap diri tidak memiliki kekurangan. Justru saya memahami bahwa
pengabdian membutuhkan kesediaan untuk terus belajar, menerima nasihat, dan
memperbaiki kesalahan.
Saya ingin menjadikan PKBM Dhiyaul Amin
sebagai salah satu jalan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, agama, dan
umat.
Bagi saya, jabatan adalah titipan.
Kepercayaan adalah amanah. Dan pendidikan adalah salah satu jalan pengabdian
yang harus dijaga dengan kesungguhan.
PENUTUP BAGIAN V
PENDIDIKAN SEBAGAI JALAN PENGABDIAN
Perjalanan di PKBM Dhiyaul Amin
memperlihatkan kepada saya bahwa membangun lembaga pendidikan membutuhkan
kesabaran dan kerja bersama.
Dari dua laptop pada masa awal
pelaksanaan ANBK, kami kemudian berusaha memperkuat sarana pembelajaran secara
bertahap.
Dari dokumen yang belum tertata, kami
berusaha menyusun administrasi lembaga agar lebih baik.
Dari proses persiapan akreditasi, kami
mendapatkan hasil B untuk Program Paket B dan Paket C.
Dari evaluasi Rapor Pendidikan, kami
belajar melihat capaian sekaligus kekurangan.
Dari berbagai bantuan dan dukungan,
kami mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki sarana dan memperluas layanan
pendidikan.
Namun, semua itu bukan akhir
perjalanan.
Masih ada banyak pekerjaan yang harus
dilakukan dan banyak cita-cita yang perlu diperjuangkan.
Saya berharap PKBM Dhiyaul Amin terus
berkembang menjadi lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan belajar,
membangun akhlak, mengembangkan keterampilan, dan menghadirkan manfaat bagi
masyarakat.
Saya juga berharap seluruh orang yang
pernah mengambil bagian dalam perjuangan lembaga ini mendapatkan balasan
kebaikan dari Allah SWT.
Sebab, pendidikan bukan hanya tentang
mendirikan lembaga dan memberikan ijazah. Pendidikan adalah ikhtiar menjaga
harapan dan membuka masa depan.
BAGIAN VI
KELUARGA, NILAI KEHIDUPAN, DAN MAKNA
PENGABDIAN
BAB 56
KELUARGA: BAGIAN PENTING DALAM
PERJALANAN HIDUP
Di balik perjalanan seseorang, selalu
ada kehidupan pribadi yang menjadi bagian penting dari kisahnya.
Perjalanan organisasi, aktivitas
sosial, pekerjaan, dan pengabdian dalam dunia pendidikan merupakan bagian dari
kehidupan saya. Namun, ada ruang lain yang tidak kalah penting, yaitu keluarga.
Saya menyadari bahwa kehidupan tidak
hanya berbicara tentang apa yang dilakukan di tengah masyarakat. Ada tanggung
jawab di rumah yang juga harus dijaga. Ada orang-orang terdekat yang menjadi
bagian dari perjalanan hidup dan masa depan.
Saya berasal dari keluarga sederhana.
Ayah dan ibu bekerja sebagai petani. Dari kehidupan keluarga itulah saya
mengenal arti kerja keras dan kesederhanaan.
Pengalaman masa kecil di Desa Dangu
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan saya. Kehidupan keluarga
petani mengajarkan bahwa segala sesuatu membutuhkan usaha dan kesabaran.
Ketika kemudian saya menjalani
kehidupan berkeluarga, saya semakin memahami bahwa tanggung jawab seseorang
bertambah luas.
Keluarga bukan sekadar tempat kembali
setelah menjalankan berbagai aktivitas. Keluarga juga menjadi ruang untuk
belajar tentang tanggung jawab, kesetiaan terhadap amanah, dan arti kehidupan.
BAB 57
MEMBANGUN RUMAH TANGGA
Pada tahun 2013, saya menikah
dengan Rahimah.
Pernikahan tersebut menjadi salah satu
babak penting dalam perjalanan hidup saya. Sejak saat itu, kehidupan tidak lagi
hanya berpusat pada tanggung jawab pribadi, tetapi juga pada tanggung jawab
membangun rumah tangga.
Saya memahami bahwa membangun keluarga
merupakan proses yang membutuhkan kesabaran, komunikasi, dan tanggung jawab.
Kehidupan rumah tangga tidak dapat
diukur hanya dari keadaan yang terlihat. Di dalamnya terdapat berbagai tanggung
jawab yang harus dijalankan bersama.
Bagi saya, keluarga merupakan bagian
penting yang harus mendapatkan perhatian di tengah berbagai aktivitas di luar
rumah.
Saya ingin perjalanan pengabdian kepada
masyarakat tetap berjalan tanpa melupakan tanggung jawab terhadap keluarga.
Sebab, kebermanfaatan seseorang
seharusnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan yang luas, tetapi juga oleh
orang-orang yang hidup bersamanya.
BAB 58
DUA PUTRA DAN HARAPAN MASA DEPAN
Dari pernikahan dengan Rahimah, kami
dikaruniai dua orang putra, yaitu Muhammad Rafli Ansari dan Muhammad
Hasan Baseri.
Kehadiran anak-anak menjadi bagian
penting dalam perjalanan keluarga kami.
Sebagai seorang ayah, saya memahami
bahwa mendidik anak bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada
tanggung jawab untuk memberikan teladan, mendampingi pertumbuhan, serta
mengajarkan nilai-nilai kehidupan.
Saya berharap kedua putra saya dapat
tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak baik, bertanggung jawab, dan
bermanfaat bagi orang lain.
Saya juga ingin mereka memahami bahwa
kehidupan membutuhkan proses. Tidak semua hal dapat diperoleh dengan mudah, dan
setiap cita-cita memerlukan usaha.
Saya tidak ingin memaksakan jalan hidup
tertentu kepada mereka. Namun, saya berharap nilai-nilai kebaikan, kejujuran,
kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama dapat menjadi bekal dalam
perjalanan mereka kelak.
Bagi saya, keberhasilan sebagai orang
tua bukan hanya tentang apa yang dapat diberikan kepada anak, tetapi juga
tentang nilai-nilai baik yang dapat diwariskan melalui kehidupan sehari-hari.
BAB 59
KASARANGAN: TEMPAT KELUARGA MENJALANI
KEHIDUPAN
Setelah membangun rumah tangga,
keluarga kami tinggal di Desa Kasarangan, Kecamatan Labuan Amas Utara.
Tempat tinggal menjadi bagian dari
kehidupan keluarga dan perjalanan pengabdian saya.
Di satu sisi, saya memiliki aktivitas
dalam organisasi, pendidikan, dan kegiatan sosial. Di sisi lain, ada kehidupan
keluarga yang harus tetap diperhatikan.
Saya memahami bahwa menjalani berbagai
tanggung jawab membutuhkan pengelolaan waktu dan kemampuan menentukan
prioritas.
Tidak semua pekerjaan dapat dilakukan
sekaligus. Ada saat ketika seseorang harus menyelesaikan tanggung jawab
pekerjaan, dan ada saat ketika perhatian perlu diberikan kepada keluarga.
Saya terus belajar menjaga keseimbangan
tersebut.
Bagi saya, kehidupan yang bermanfaat
bukanlah kehidupan yang hanya dipenuhi kegiatan di luar rumah. Kehidupan yang
baik juga membutuhkan tanggung jawab terhadap keluarga dan lingkungan terdekat.
BAB 60
DARI DESA DANGU: AKAR YANG TIDAK
DILUPAKAN
Saya lahir dan tumbuh di Desa Dangu,
Kecamatan Batang Alai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
Di tempat itulah perjalanan hidup saya
dimulai pada tanggal 28 Agustus 1987.
Saya tumbuh dalam keluarga petani
dengan kehidupan yang sederhana. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, saya
mengenal kehidupan keluarga yang dekat dengan pekerjaan dan lingkungan
pedesaan.
Kenangan membantu orang tua di sawah
menjadi bagian dari pengalaman masa kecil saya.
Ketika mengingat kembali masa tersebut,
saya memahami bahwa kehidupan sederhana telah memberikan banyak pelajaran.
Saya belajar bahwa pekerjaan
membutuhkan kesungguhan. Saya belajar bahwa hasil tidak datang begitu saja.
Saya juga belajar bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan.
Seiring bertambahnya usia, saya
menjalani pendidikan, organisasi, pekerjaan, dan berbagai aktivitas pengabdian.
Namun, sejauh apa pun perjalanan
seseorang, asal-usul tetap menjadi bagian dari identitas kehidupannya.
Saya tidak ingin melupakan Desa Dangu
dan keluarga yang menjadi tempat awal perjalanan ini.
Bagi saya, mengingat asal-usul bukan
berarti hidup di masa lalu. Mengingat asal-usul adalah cara menjaga kesadaran
tentang proses yang telah dilalui.
BAB 61
BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN
Salah satu prinsip yang terus saya
pegang dalam perjalanan hidup adalah "Bermanfaat bagi Orang Lain."
Kalimat tersebut sederhana, tetapi
memiliki makna yang luas.
Saya memahami bahwa manusia hidup
berdampingan dengan orang lain. Karena itu, kehidupan tidak seharusnya hanya
diarahkan untuk memenuhi kepentingan pribadi.
Setiap orang memiliki kemampuan yang
berbeda. Ada yang dapat memberikan manfaat melalui pendidikan, ada yang melalui
pekerjaan, ada yang melalui kegiatan sosial, dan ada pula yang melalui
pelayanan keagamaan.
Saya percaya bahwa setiap kemampuan
memiliki ruang untuk digunakan dalam kebaikan.
Prinsip ini menjadi salah satu alasan
saya terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi dan sosial. Saya ingin
kehidupan yang dijalani dapat memberikan manfaat, meskipun dalam bentuk yang
sederhana.
Namun, saya juga memahami bahwa
keinginan untuk bermanfaat harus disertai kesadaran terhadap keterbatasan diri.
Tidak semua persoalan dapat
diselesaikan oleh satu orang. Tidak semua harapan dapat diwujudkan dalam waktu
singkat.
Yang dapat dilakukan adalah terus
berusaha sesuai kemampuan, menjaga niat, dan memperbaiki langkah ketika
menemukan kekurangan.
BAB 62
YAKIN USAHA SAMPAI
Selain prinsip untuk bermanfaat bagi
orang lain, ada semboyan yang juga menjadi bagian dari perjalanan hidup saya,
yaitu "Yakin Usaha Sampai."
Semboyan ini mengingatkan saya tentang
pentingnya kesungguhan dalam menjalani proses.
Dalam perjalanan pendidikan, saya
pernah menghadapi keterbatasan ekonomi. Dalam organisasi, saya menghadapi
tanggung jawab kepemimpinan. Dalam pekerjaan dan kegiatan sosial, saya belajar
tentang usaha dan kemandirian.
Sementara dalam dunia pendidikan, saya
menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan lembaga.
Semua pengalaman tersebut mengajarkan
bahwa keberhasilan tidak dapat dipisahkan dari proses.
Saya tidak ingin memahami semboyan ini
sebagai jaminan bahwa setiap keinginan pasti tercapai. Saya memaknainya sebagai
dorongan untuk terus berusaha dengan sungguh-sungguh, kemudian menerima hasil
dengan penuh kesadaran.
Ada cita-cita yang dapat diwujudkan.
Ada pula harapan yang membutuhkan waktu lebih panjang.
Yang terpenting adalah tidak berhenti
belajar dan memperbaiki diri.
BAB 63
HIDUP UNTUK BERPROSES
Ada satu ungkapan yang juga menjadi
bagian dari cara saya memandang kehidupan:
"Hidup untuk berproses dan
berproses untuk memaknai hidup."
Bagi saya, kehidupan merupakan
perjalanan yang tidak pernah berhenti memberikan pelajaran.
Setiap tahap memiliki tantangan
masing-masing. Masa kecil memberikan pelajaran tentang kesederhanaan.
Pendidikan memberikan pelajaran tentang pengetahuan dan perjuangan. Organisasi
memberikan pelajaran tentang kepemimpinan dan kebersamaan.
Dunia kerja memberikan pelajaran
tentang tanggung jawab dan kemandirian. Aktivitas sosial memberikan pelajaran
tentang kepedulian. Sementara dunia pendidikan memberikan pelajaran tentang
kesabaran dalam membangun sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
Saya menyadari bahwa proses tidak
selalu menyenangkan. Ada keadaan yang membutuhkan kesabaran dan ada kesalahan
yang harus diakui.
Namun, pengalaman tersebut dapat
menjadi bahan untuk memperbaiki diri.
Saya tidak ingin mengukur kehidupan
hanya berdasarkan jabatan, penghargaan, atau pencapaian yang pernah diperoleh.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana
seseorang menjalani prosesnya, menjaga nilai-nilai yang diyakini, dan mengambil
pelajaran dari setiap pengalaman.
BAB 64
BELAJAR DARI KESALAHAN DAN KEKURANGAN
Dalam perjalanan hidup, saya memahami
bahwa tidak ada manusia yang terbebas dari kekurangan.
Saya pun memiliki keterbatasan dan
pernah melakukan kesalahan.
Pengalaman dalam organisasi dan
kepemimpinan mengajarkan bahwa seseorang perlu memiliki keberanian untuk
mengevaluasi diri.
Mengakui kesalahan bukan berarti
kehilangan harga diri. Justru kesediaan untuk mengakui kekurangan dapat menjadi
awal untuk memperbaiki keadaan.
Saya belajar bahwa kritik perlu
didengarkan, nasihat perlu dipertimbangkan, dan keputusan perlu dievaluasi.
Dalam menjalankan amanah, seseorang
tidak cukup hanya mengandalkan keyakinan bahwa dirinya benar. Ia juga harus
bersedia melihat keadaan dari sudut pandang orang lain.
Saya ingin menjadikan pengalaman hidup
sebagai bahan pembelajaran, bukan sebagai alasan untuk menyalahkan orang lain.
Sebab, pengabdian yang baik membutuhkan
kerendahan hati untuk terus belajar.
BAB 65
KEBERHASILAN BUKAN HANYA TENTANG
JABATAN
Dalam perjalanan hidup, saya pernah
mendapatkan berbagai amanah organisasi dan kepemimpinan.
Saya pernah menjadi ketua organisasi
mahasiswa, terlibat dalam kepengurusan organisasi kepemudaan, menjalankan
kegiatan sosial, dan memimpin lembaga pendidikan.
Namun, saya memahami bahwa jabatan
bukan ukuran tunggal keberhasilan seseorang.
Jabatan memiliki masa dan batas. Amanah
dapat berubah, kepengurusan dapat berganti, dan keadaan dapat berkembang.
Karena itu, saya tidak ingin menjadikan
jabatan sebagai satu-satunya ukuran nilai kehidupan.
Bagi saya, hal yang lebih penting
adalah bagaimana amanah dijalankan.
Apakah tanggung jawab dilaksanakan
dengan baik? Apakah kepercayaan dijaga? Apakah orang lain mendapatkan manfaat?
Apakah ada kesediaan untuk memperbaiki kekurangan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih
penting untuk dijadikan bahan refleksi.
Saya berharap setiap pengalaman
kepemimpinan dapat meninggalkan pelajaran, bukan sekadar catatan tentang posisi
yang pernah diduduki.
BAB 66
MAKNA PENGABDIAN DALAM KEHIDUPAN
Setelah menjalani berbagai perjalanan,
saya semakin memahami bahwa pengabdian tidak selalu berbentuk kegiatan besar.
Pengabdian dapat hadir melalui
pekerjaan yang dilakukan dengan tanggung jawab, pendidikan yang diberikan
dengan kesungguhan, bantuan kepada masyarakat, pelayanan keagamaan, dan
kepedulian terhadap sesama.
Pengabdian juga dapat dilakukan dengan
menjaga kepercayaan dan melaksanakan amanah yang telah diberikan.
Saya ingin memandang seluruh pengalaman
tersebut sebagai bagian dari satu perjalanan yang saling berhubungan.
Masa kecil membentuk kesadaran tentang
kesederhanaan. Pendidikan memberikan bekal pengetahuan. Organisasi menjadi
tempat belajar kepemimpinan. Gerakan sosial mengembangkan kepedulian. Khadimul
Ummat memperluas ruang pelayanan. Sementara PKBM Dhiyaul Amin menjadi salah
satu tempat saya mengabdikan diri dalam dunia pendidikan.
Semua itu memiliki nilai pembelajaran
masing-masing.
Saya tidak ingin menganggap perjalanan
ini telah selesai. Selama masih diberikan kesempatan, saya ingin terus belajar
dan berusaha memberikan manfaat.
BAB 67
APA YANG INGIN DITINGGALKAN?
Setiap orang memiliki perjalanan hidup
dan kesempatan yang berbeda.
Ada yang meninggalkan karya dalam
bidang pendidikan. Ada yang dikenang melalui kegiatan sosial. Ada yang
memberikan kontribusi melalui organisasi, pekerjaan, atau pelayanan kepada
masyarakat.
Saya tidak mengetahui bagaimana orang
lain akan mengingat perjalanan hidup saya kelak.
Namun, saya berharap apa yang pernah
saya lakukan dapat memberikan manfaat, sekecil apa pun.
Saya ingin nilai kesederhanaan, kerja
keras, kepedulian, dan tanggung jawab tetap menjadi bagian dari kehidupan
keluarga.
Saya juga berharap generasi berikutnya
dapat memahami bahwa pengabdian tidak harus dimulai dengan jabatan tinggi atau
kemampuan yang besar.
Seseorang dapat memulai dari lingkungan
terdekat, dari kemampuan yang dimiliki, dan dari kesempatan yang tersedia.
Jika ada satu hal yang ingin saya
tekankan, maka hal itu adalah pentingnya menjalani kehidupan dengan tujuan yang
baik.
Saya ingin perjalanan ini menjadi
pengingat bahwa kehidupan bukan hanya tentang apa yang berhasil kita kumpulkan,
melainkan juga tentang apa yang dapat kita berikan.
PENUTUP BAGIAN VI
KELUARGA, NILAI, DAN PERJALANAN YANG
TERUS BERLANJUT
Keluarga merupakan bagian penting dari
perjalanan hidup saya. Dari keluarga sederhana di Desa Dangu, saya belajar
tentang kerja keras dan kesederhanaan. Setelah membangun rumah tangga bersama
Rahimah dan dikaruniai dua putra, saya semakin memahami luasnya tanggung jawab
kehidupan.
Di tengah berbagai amanah organisasi,
sosial, dan pendidikan, keluarga tetap menjadi bagian yang harus dijaga.
Saya juga belajar bahwa prinsip hidup
harus diwujudkan melalui tindakan. Bermanfaat bagi orang lain, yakin usaha
sampai, serta hidup untuk berproses dan memaknai hidup merupakan nilai-nilai
yang ingin terus saya pegang.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini
masih memiliki banyak kekurangan. Namun, saya berharap setiap pengalaman dapat
menjadi pelajaran dan setiap amanah dapat dijalankan dengan lebih baik.
Pengabdian bukan tentang seberapa
panjang seseorang dikenal, melainkan tentang seberapa banyak kebaikan yang
dapat ia usahakan selama hidupnya.
BAGIAN VII
REFLEKSI DAN WARISAN PENGABDIAN
BAB 68
MENENGOK KEMBALI PERJALANAN
Ketika menengok kembali perjalanan
hidup, saya menyadari bahwa setiap masa memiliki cerita dan pelajarannya
sendiri.
Saya lahir di Desa Dangu pada 28
Agustus 1987, dalam keluarga sederhana yang menggantungkan kehidupan pada
pekerjaan sebagai petani. Masa kecil mengajarkan saya tentang kesederhanaan dan
kerja keras.
Perjalanan pendidikan membawa saya
mengenal lingkungan pesantren, sekolah, dan perguruan tinggi. Dari
tempat-tempat tersebut, saya mendapatkan pengalaman yang membentuk cara pandang
terhadap kehidupan.
Organisasi menjadi ruang pembelajaran
berikutnya. Saya pernah terlibat dalam organisasi siswa, organisasi mahasiswa,
HMI, organisasi kepemudaan, dan berbagai gerakan masyarakat.
Dari sana saya belajar tentang
kepemimpinan, komunikasi, tanggung jawab, dan kebersamaan.
Perjalanan sosial dan kemanusiaan
kemudian memperluas ruang pengabdian. Berdirinya Relawan Semut Pemburu Berkah
pada 28 Agustus 2019 dan keterlibatan dalam Khadimul Ummat sejak pendiriannya
pada 30 Desember 2020 menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Selanjutnya, dunia pendidikan
memberikan amanah baru melalui PKBM Dhiyaul Amin.
Jika seluruh perjalanan itu dirangkai,
saya melihat bahwa hidup merupakan proses panjang yang saling terhubung.
Tidak ada satu pengalaman yang berdiri
sendiri. Setiap masa memberikan bekal untuk menghadapi masa berikutnya.
Saya tidak menganggap seluruh
perjalanan tersebut sebagai sesuatu yang sempurna. Ada kekurangan,
keterbatasan, dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
Namun, semuanya menjadi bagian dari
proses pembelajaran yang patut disyukuri.
BAB 69
JANGAN MELUPAKAN ASAL-USUL
Salah satu pelajaran yang ingin saya
pegang sepanjang kehidupan adalah jangan melupakan asal-usul.
Saya berasal dari keluarga petani di
Desa Dangu. Kehidupan masa kecil yang sederhana menjadi bagian dari pembentukan
diri saya.
Saya pernah membantu orang tua di sawah
dan mengenal kehidupan yang dekat dengan pekerjaan sehari-hari.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat
bahwa setiap orang memiliki titik awal yang berbeda.
Tidak semua orang memulai perjalanan
dari keadaan yang mudah. Ada yang harus berjuang dengan keterbatasan ekonomi,
ada yang menghadapi hambatan pendidikan, dan ada pula yang membutuhkan waktu
panjang untuk menemukan jalan hidupnya.
Karena itu, saya berharap siapa pun
yang sedang menjalani perjuangan tidak merasa rendah diri karena keadaan awal
kehidupannya.
Asal-usul bukanlah penghalang untuk
berkembang. Masa lalu dapat menjadi sumber pelajaran untuk membangun masa
depan.
Bagi saya, semakin jauh seseorang
melangkah, semakin penting pula baginya untuk mengingat nilai-nilai yang
membentuk dirinya.
Kesederhanaan, kerja keras, dan rasa
syukur adalah nilai yang ingin terus saya jaga.
BAB 70
PESAN UNTUK GENERASI MUDA
Kepada generasi muda, saya ingin
menyampaikan bahwa masa muda merupakan kesempatan berharga untuk belajar,
berkembang, dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.
Jangan hanya mengejar pengakuan.
Bangunlah kemampuan, pengetahuan, dan karakter.
Organisasi dapat menjadi ruang belajar
yang baik apabila dijalankan dengan tujuan yang benar. Namun, jangan menjadikan
jabatan sebagai tujuan utama.
Belajarlah bekerja bersama orang lain.
Hargai perbedaan pendapat. Biasakan berdiskusi dengan baik. Dan jangan takut
mengakui kesalahan ketika melakukan kekeliruan.
Pendidikan juga harus menjadi
perhatian. Teruslah belajar, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman
kehidupan.
Jangan merasa bahwa kesempatan hanya
dimiliki oleh orang-orang yang memiliki fasilitas lengkap. Keterbatasan memang
dapat menjadi tantangan, tetapi jangan biarkan keadaan membuat semangat belajar
hilang.
Saya juga ingin generasi muda memiliki
kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Perhatikan keluarga, masyarakat,
pendidikan, dan persoalan sosial. Jangan hanya menjadi penonton ketika ada
sesuatu yang membutuhkan perhatian.
Mulailah dari hal sederhana. Bantulah
sesuai kemampuan. Gunakan pengetahuan untuk kebaikan. Dan jagalah kepercayaan
ketika diberikan amanah.
Saya percaya bahwa masa depan
masyarakat membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki
kepedulian dan tanggung jawab.
BAB 71
PESAN UNTUK PARA AKTIVIS DAN RELAWAN
Kepada teman-teman yang bergerak dalam
organisasi, aktivisme, dan kegiatan kerelawanan, saya ingin menyampaikan bahwa
semangat saja tidak cukup.
Semangat harus disertai pengetahuan,
kedewasaan, dan tanggung jawab.
Ketika menyampaikan aspirasi, pahami
persoalannya. Ketika mengelola organisasi, jaga kepercayaan anggotanya. Ketika
menggalang bantuan, pertanggungjawabkan amanah masyarakat.
Jangan sampai kegiatan sosial hanya
menjadi sarana membangun nama. Jangan pula menjadikan organisasi sebagai tempat
untuk saling menjatuhkan.
Organisasi seharusnya menjadi tempat
belajar dan bekerja bersama.
Saya juga berharap para relawan tetap
menjaga keikhlasan. Tidak semua kebaikan harus mendapatkan penghargaan atau
pengakuan.
Ada pekerjaan yang terlihat oleh
masyarakat, ada pula yang berlangsung tanpa banyak diketahui orang. Keduanya
tetap memiliki nilai apabila dilakukan dengan niat dan tanggung jawab yang
baik.
Pengalaman membangun Semut Pemburu
Berkah dan terlibat dalam pelayanan Khadimul Ummat mengajarkan saya bahwa
gerakan kemanusiaan membutuhkan banyak orang.
Tidak ada satu orang yang dapat
menyelesaikan semua persoalan.
Karena itu, rawatlah kebersamaan.
Hargai setiap kontribusi. Dan jangan pernah menganggap kecil bantuan yang
diberikan orang lain.
BAB 72
PENDIDIKAN DAN HARAPAN UNTUK HULU
SUNGAI TENGAH
Pendidikan merupakan salah satu bidang
yang memiliki peran besar dalam menentukan masa depan masyarakat.
Melalui pengalaman di PKBM Dhiyaul
Amin, saya semakin memahami bahwa kesempatan belajar harus terus diperluas.
Pendidikan kesetaraan memberikan ruang
bagi masyarakat yang membutuhkan jalur pendidikan alternatif. Karena itu,
lembaga pendidikan nonformal perlu terus meningkatkan mutu layanan.
Saya berharap PKBM Dhiyaul Amin semakin
berkembang dalam kualitas pembelajaran, pengelolaan, sarana prasarana, dan
pengembangan keterampilan peserta didik.
Saya juga memiliki harapan agar
cita-cita pengembangan pendidikan Dhiyaul Amin dapat terus diperjuangkan secara
bertahap.
Harapan tersebut mencakup penguatan
layanan pendidikan yang telah berjalan dan cita-cita jangka panjang untuk
menghadirkan lembaga pendidikan formal dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA.
Tentu semua itu membutuhkan
perencanaan, dukungan, dan kerja bersama.
Lebih luas lagi, saya berharap
pendidikan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah semakin memberikan kesempatan kepada
seluruh masyarakat untuk berkembang.
Anak-anak dan generasi muda perlu
mendapatkan ruang untuk belajar. Orang dewasa yang belum menyelesaikan
pendidikan juga perlu memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan.
Pendidikan harus menjadi jalan untuk
membangun pengetahuan, keterampilan, akhlak, dan kemandirian.
BAB 73
PENGABDIAN TIDAK HARUS MENUNGGU
SEMPURNA
Dalam perjalanan hidup, saya semakin
memahami bahwa seseorang tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai
memberikan manfaat.
Setiap orang memiliki kekurangan.
Setiap organisasi memiliki keterbatasan. Setiap lembaga memiliki pekerjaan
rumah.
Namun, kekurangan tidak seharusnya
menjadi alasan untuk berhenti berusaha.
Kita dapat memulai dari kemampuan yang
dimiliki, kemudian memperbaiki langkah secara bertahap.
Saya belajar bahwa pengabdian
membutuhkan kesediaan untuk menerima kritik, mendengarkan nasihat, dan
mengevaluasi diri.
Keinginan berbuat baik harus disertai
kesadaran bahwa niat baik saja belum cukup. Pelaksanaannya juga harus dilakukan
dengan cara yang bertanggung jawab.
Saya ingin terus memegang prinsip bahwa
setiap amanah perlu dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Jika suatu saat kemampuan saya
terbatas, saya berharap masih dapat memberikan manfaat melalui hal-hal
sederhana.
Sebab, pengabdian tidak selalu diukur
dari besarnya kegiatan. Ia juga dapat terlihat dari kesungguhan seseorang
menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya.
BAB 74
WARISAN YANG INGIN DITINGGALKAN
Ketika berbicara tentang warisan
kehidupan, saya tidak hanya memikirkan sesuatu yang berbentuk materi.
Ada nilai-nilai yang jauh lebih penting
untuk diwariskan kepada keluarga dan generasi berikutnya.
Saya ingin keluarga memahami pentingnya
kesederhanaan, kerja keras, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama.
Saya berharap kedua putra saya dapat
tumbuh dengan pemahaman bahwa kehidupan bukan hanya tentang mengejar
keberhasilan pribadi. Ada tanggung jawab kepada keluarga, masyarakat, dan Allah
SWT.
Saya juga berharap setiap lembaga dan
organisasi yang pernah menjadi bagian dari perjalanan saya dapat terus
berkembang melalui kerja bersama orang-orang yang mengelolanya.
Jika ada sesuatu yang dapat
ditinggalkan dari perjalanan ini, saya berharap hal tersebut berupa semangat
untuk terus belajar, bekerja, dan memberikan manfaat.
Saya tidak ingin warisan pengabdian
hanya berupa cerita tentang seseorang yang pernah memegang jabatan.
Saya berharap ada nilai baik yang dapat
diteruskan, ada pengalaman yang dapat dipelajari, dan ada manfaat yang dapat
dirasakan oleh orang lain.
Pada akhirnya, manusia akan melewati
masa dan kedudukannya masing-masing. Namun, kebaikan yang diusahakan dengan
sungguh-sungguh diharapkan dapat menjadi bagian dari kehidupan orang lain.
BAB 75
PERJALANAN YANG MASIH BERLANJUT
Menulis perjalanan hidup ini membuat
saya kembali melihat berbagai tahap kehidupan yang telah dilalui.
Dari Desa Dangu, saya menjalani
pendidikan, mengenal organisasi, memasuki dunia kerja, terlibat dalam gerakan
sosial, membangun kegiatan kerelawanan, dan mengabdikan diri dalam dunia
pendidikan.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah.
Ada keterbatasan yang harus dihadapi.
Ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Ada pula pengalaman yang
mengajarkan saya untuk lebih sabar dan rendah hati.
Namun, saya percaya bahwa kehidupan
akan terus memberikan kesempatan untuk belajar.
Saya tidak ingin menganggap buku ini
sebagai tanda bahwa perjalanan pengabdian telah selesai.
Buku ini hanyalah catatan dari sebagian
perjalanan yang telah dilalui hingga saat penulisan.
Masih ada cita-cita yang ingin
diwujudkan. Masih ada tanggung jawab yang harus dijalankan. Masih ada
kesempatan untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat.
Selama Allah SWT masih memberikan
kesempatan, saya ingin terus berusaha menjalani kehidupan dengan
sebaik-baiknya.
Saya ingin tetap menjadi bagian dari
masyarakat, tetap belajar, dan tetap mengusahakan kebaikan sesuai kemampuan.
EPILOG
JEJAK PENGABDIAN TIDAK BERHENTI DI SINI
Saya memulai perjalanan hidup dari
sebuah desa bernama Dangu.
Di tempat itu, saya mengenal kehidupan
keluarga petani, kesederhanaan, dan kerja keras. Saya tumbuh dengan pengalaman
yang kemudian menjadi bagian dari cara saya memandang kehidupan.
Waktu membawa saya melewati berbagai
tempat dan pengalaman.
Saya belajar di lingkungan pesantren
dan sekolah. Saya mengenal organisasi sejak masa pelajar hingga mahasiswa. Saya
terlibat dalam kegiatan kepemudaan, aktivisme, dan gerakan masyarakat.
Saya kemudian ikut membangun Relawan
Semut Pemburu Berkah dan menjalani perjalanan bersama Khadimul Ummat. Saya juga
mendapatkan amanah untuk mengabdikan diri dalam dunia pendidikan melalui PKBM
Dhiyaul Amin.
Setiap perjalanan memberikan pelajaran
yang berbeda.
Ada pengalaman yang membuat saya
semakin memahami arti kepemimpinan. Ada pengalaman yang mengajarkan pentingnya
kebersamaan. Ada pula pengalaman yang mengingatkan bahwa setiap manusia
memiliki kekurangan.
Saya tidak ingin menuliskan perjalanan
ini seolah-olah semuanya berjalan sempurna.
Saya hanyalah manusia yang terus
belajar, berusaha, dan memperbaiki diri.
Jika ada keberhasilan, tentu ada banyak
orang yang ikut mengambil bagian. Jika ada kekurangan, saya berharap dapat
menjadikannya sebagai bahan evaluasi.
Saya berterima kasih kepada orang tua
yang telah menjadi bagian dari awal kehidupan saya. Kepada keluarga yang
menemani perjalanan, kepada para guru dan ulama yang memberikan ilmu dan
nasihat, kepada teman-teman seperjuangan, serta kepada semua pihak yang pernah
bekerja bersama dalam berbagai kegiatan.
Saya juga berterima kasih kepada
Ayahanda KH. Ahmad Junaidi atas amanah dan kepercayaan dalam perjalanan
pengabdian di PKBM Dhiyaul Amin.
Kepada seluruh orang yang pernah hadir
dalam perjalanan ini, saya berharap segala kebaikan yang telah diberikan
mendapatkan balasan terbaik dari Allah SWT.
Buku ini tidak dimaksudkan untuk
mengukur siapa yang paling berjasa atau siapa yang paling berhasil. Buku ini
merupakan upaya mencatat perjalanan, menyimpan pelajaran, dan membagikan
nilai-nilai kehidupan yang saya peroleh.
Saya percaya bahwa setiap orang
memiliki kesempatan untuk meninggalkan jejak kebaikan.
Tidak harus melalui jabatan besar.
Tidak harus melalui kegiatan yang dikenal banyak orang. Bahkan, tindakan
sederhana yang dilakukan dengan ketulusan dan tanggung jawab dapat memberikan
arti bagi kehidupan orang lain.
Perjalanan saya masih berlanjut.
Selama masih ada kesempatan, saya ingin
terus belajar. Selama masih ada amanah, saya ingin berusaha menjalankannya.
Selama masih ada ruang untuk berbuat baik, saya ingin mengambil bagian sesuai
kemampuan.
Bermanfaat bagi Orang Lain.
Yakin Usaha Sampai.
Hidup untuk berproses dan berproses
untuk memaknai hidup.
Semoga Allah SWT menerima setiap
ikhtiar, mengampuni setiap kekurangan, dan menjadikan perjalanan hidup ini
sebagai bagian dari amal kebaikan.
Jejak pengabdian tidak berhenti di
sini.
LAMPIRAN
DOKUMENTASI PERJALANAN DAN PENGABDIAN
LAMPIRAN 1. IDENTITAS PENULIS
Nama: Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I.
Tempat, tanggal lahir: Desa Dangu, 28 Agustus 1987
Alamat keluarga: Desa Kasarangan, Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten
Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan.
LAMPIRAN 2. RIWAYAT PENDIDIKAN DAN
KEGIATAN KEAGAMAAN
LAMPIRAN 3. RIWAYAT ORGANISASI
|
Organisasi |
Jabatan/peran |
Periode |
|
OSIS SMAN 2 Barabai |
Kabid Keagamaan |
2004 |
|
OSIS SMAN 2 Barabai |
Koordinator Keagamaan |
2005 |
|
MPK SMAN 2 Barabai |
Koordinator Humas |
2006 |
|
Karang Taruna Tunas Jaya Ilung Pasar
Lama |
Ketua Umum |
2007–2012 |
|
Himpunan Mahasiswa Angkatan 2007 STAI
Al-Washliyah |
Ketua |
2007–2012 |
|
BEM STAI Al-Washliyah |
Departemen Humas |
2008–2009 |
|
HMI Cabang Barabai |
Ketua Bidang Pembinaan Anggota |
2009–2010 |
|
BEM STAI Al-Washliyah |
Ketua Umum/Presiden Mahasiswa |
2010–2011 |
|
HMI Cabang Barabai |
Sekretaris Badan Pengelola Latihan |
2011–2012 |
|
DPD KNPI Hulu Sungai Tengah |
Wakil Sekretaris II |
2012–2015 |
|
Pemuda Pancasila HST |
Pengurus |
2017–2018 |
|
GEMPPUR |
Gerakan masyarakat |
Periode kegiatan 2017 |
|
Relawan Semut Pemburu Berkah |
Pendiri |
28 Agustus 2019 |
|
Khadimul Ummat |
Sekretaris Umum pada dokumen
pendirian; kemudian Ketua Harian |
Sejak 2020 |
|
PKBM Dhiyaul Amin |
Tutor |
Sejak 31 Agustus 2024 |
|
PKBM Dhiyaul Amin |
Kepala PKBM |
Sejak 1 Juli 2025 |
Catatan: Riwayat jabatan dan periode
perlu dicocokkan kembali dengan SK, sertifikat, atau dokumen organisasi sebelum
diterbitkan.
LAMPIRAN 4. CATATAN AKSI SOLIDARITAS
PALESTINA
|
Kegiatan |
Jumlah donasi |
Penyaluran |
|
Gelombang pertama |
Rp185.560.232 |
BAZNAS RI |
|
Gelombang kedua, 2–31 Desember 2023 |
Rp135.581.857 |
Yayasan Salam Palestina |
|
Total |
Rp321.142.089 |
LAMPIRAN 5. CATATAN PENGEMBANGAN PKBM
DHIYAUL AMIN
- Bergabung
sebagai tutor: 31 Agustus 2024.
- Pelaksanaan
ANBK pertama dengan keterbatasan dua laptop dan peminjaman Chromebook.
- Menjadi
Kepala PKBM: 1 Juli 2025.
- Persiapan
akreditasi tahun 2025.
- Akreditasi
Paket B dan Paket C: B (Baik).
- Pembukaan
Program Paket A.
- Penguatan
perangkat pembelajaran digital dan komputer.
- Pengembangan
rencana perpustakaan, laboratorium komputer, dan program keterampilan.
LAMPIRAN 6. PRINSIP HIDUP
- Bermanfaat
bagi Orang Lain.
- Yakin
Usaha Sampai.
- Hidup
untuk berproses dan berproses untuk memaknai hidup.
LAMPIRAN 7. DOKUMENTASI FOTO
Tempatkan foto-foto asli berikut sesuai
ketersediaan:
- Foto
masa kecil dan keluarga di Desa Dangu.
- Foto
pendidikan pesantren dan sekolah.
- Foto
kegiatan organisasi pelajar dan mahasiswa.
- Foto
kegiatan HMI dan KNPI.
- Foto
kegiatan GEMPPUR dan kepemudaan.
- Foto
pendirian dan kegiatan Semut Pemburu Berkah.
- Foto
kegiatan Khadimul Ummat.
- Foto
aksi solidaritas Palestina.
- Foto
kegiatan PKBM Dhiyaul Amin.
- Foto
akreditasi dan pengembangan sarana pendidikan.
- Foto
keluarga.
Setiap foto perlu dilengkapi keterangan
waktu, tempat, kegiatan, dan nama orang yang dapat dipastikan identitasnya.
KESAN DAN PESAN
DARI SAHABAT SEPERJUANGAN
Puluhan Tahun Persahabatan,
Kebersamaan, dan Penghormatan
Pembuka: Persahabatan yang Teruji oleh
Waktu
Dalam perjalanan kehidupan, ada banyak
orang yang hadir hanya untuk sementara, tetapi ada pula yang tetap menjadi
bagian penting dalam perjalanan panjang seseorang. Mereka bukan sekadar teman
yang pernah bertemu, melainkan sahabat yang tumbuh bersama, berbagi pengalaman,
melewati berbagai perubahan, dan menjaga hubungan persaudaraan dari masa ke
masa.
Demikian pula persahabatan yang
terjalin antara Muhamad Edwan Ansari, S.Pd.I., dengan sejumlah sahabat
seperjuangannya sejak masa perkuliahan.
Bagi mereka, beliau lebih akrab disapa
dengan panggilan Bang Edwan. Panggilan tersebut bukan sekadar sapaan,
melainkan ungkapan kedekatan, rasa persaudaraan, dan penghormatan yang telah
terbangun selama puluhan tahun.
Mereka mengenal Bang Edwan sejak masa
kuliah, ketika perjalanan kehidupan masih berada dalam tahap pembentukan diri.
Masa itu menjadi bagian dari sejarah kebersamaan yang tidak mudah dilupakan.
Mereka pernah berada dalam lingkungan pendidikan yang sama, menjalani proses
sebagai mahasiswa, mengenal dinamika organisasi, serta menyaksikan perjalanan
masing-masing hingga memasuki berbagai fase kehidupan.
Waktu terus berjalan. Kehidupan membawa
setiap orang pada kesibukan, pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab yang
berbeda. Namun, panjangnya waktu tidak menghapus nilai sebuah persahabatan.
Hubungan yang telah dibangun sejak masa muda tetap menjadi bagian berharga dari
perjalanan mereka.
Bagi kelima sahabat ini, Bang Edwan
bukan hanya teman lama. Beliau juga dipandang sebagai sosok mentor dan guru
yang mereka hormati. Pengalaman, pemikiran, serta perjalanan pengabdian yang
telah dilaluinya menjadi bagian dari hal-hal yang dapat mereka jadikan
pembelajaran.
Kesaksian mereka dalam buku ini bukan
sekadar rangkaian pujian. Lebih dari itu, testimoni ini merupakan ungkapan
penghormatan dari sahabat-sahabat yang telah mengenal Bang Edwan dalam
perjalanan panjang persahabatan dan perjuangan.
1. AHMAD FAISYA, S.Pd.I.
Sahabat Seperjuangan Sejak Masa
Perkuliahan
“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi
kami.”
Persahabatan kami dengan Bang Edwan
telah terjalin sejak masa perkuliahan. Waktu yang panjang telah membawa kami
melewati berbagai tahapan kehidupan. Dari masa ketika kami sama-sama menjalani
proses pendidikan hingga hari ini, hubungan persaudaraan tersebut tetap menjadi
bagian yang kami hargai.
Bagi kami, Bang Edwan bukan hanya
seorang sahabat yang telah dikenal selama puluhan tahun. Beliau juga merupakan
sosok yang kami hormati sebagai mentor dan guru. Pengalaman hidup, pemikiran,
serta perjalanan pengabdian yang telah dilaluinya merupakan hal-hal yang dapat
memberikan pelajaran bagi kami.
Kami memahami bahwa setiap orang
memiliki perjalanan dan proses masing-masing. Namun, mengenal seseorang dalam
waktu yang panjang memberikan kesempatan untuk melihat bagaimana pengalaman
kehidupan menjadi bagian dari pembentukan pribadi.
Sebutan mentor dan guru yang kami
berikan kepada Bang Edwan merupakan bentuk penghargaan dan rasa hormat. Kami
berharap beliau senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, serta keberkahan
dalam menjalankan berbagai amanah kehidupan.
Semoga persahabatan yang telah terjalin
sejak masa kuliah ini terus terpelihara. Bagi kami, sahabat seperjuangan bukan
hanya bagian dari cerita masa lalu, melainkan saudara yang tetap memiliki
tempat dalam perjalanan hari ini dan masa mendatang.
2. SARBAINI, S.Pd.I.
Persahabatan Panjang yang Tetap Terjaga
“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi
kami.”
Mengenal Bang Edwan sejak masa
perkuliahan merupakan bagian dari perjalanan persahabatan yang sangat berarti.
Puluhan tahun telah berlalu, dan masing-masing dari kami telah menjalani
kehidupan dengan berbagai pengalaman serta tanggung jawab.
Namun, waktu yang terus berjalan tidak
menghilangkan rasa persaudaraan yang telah terbangun sejak dahulu.
Bagi kami, Bang Edwan adalah sahabat
seperjuangan yang patut dihormati. Beliau juga kami pandang sebagai mentor dan
guru, sosok yang memiliki pengalaman dan pemikiran yang dapat menjadi sumber
pembelajaran.
Persahabatan yang panjang mengajarkan
bahwa hubungan baik bukan hanya tentang seberapa sering kita bertemu. Ada nilai
saling menghargai, saling mendoakan, dan menjaga silaturahmi yang jauh lebih
penting daripada sekadar pertemuan.
Kami menghargai perjalanan Bang Edwan,
termasuk berbagai pengalaman dan amanah pengabdian yang telah dijalaninya.
Semoga semua ikhtiar tersebut senantiasa membawa manfaat bagi keluarga dan
masyarakat.
Harapan kami sederhana: semoga
persahabatan ini tidak terputus oleh waktu dan kesibukan. Semoga Bang Edwan
selalu diberikan kesehatan, umur yang berkah, dan kesempatan untuk terus
berbagi kebaikan.
3. MUHAMMAD SAUPI, S.Pd.
Dari Teman Kuliah Menjadi Sahabat
Seperjuangan
“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi
kami.”
Perjalanan persahabatan kami dengan
Bang Edwan dimulai sejak masa perkuliahan. Masa-masa tersebut menjadi bagian
dari perjalanan yang mempertemukan kami dalam proses belajar, bertumbuh, dan
mengenal kehidupan.
Puluhan tahun kemudian, persahabatan
itu tetap menjadi bagian dari kenangan dan hubungan baik yang kami jaga.
Bagi kami, Bang Edwan merupakan sosok
sahabat seperjuangan yang juga kami hormati sebagai mentor dan guru. Kami
memandang pengalaman dan perjalanan pengabdiannya sebagai bagian dari
pembelajaran yang memiliki nilai tersendiri.
Dalam persahabatan, setiap orang
memiliki kesempatan untuk saling memberikan pelajaran. Ada pengalaman yang
dibagikan, ada pemikiran yang didiskusikan, dan ada nasihat yang dapat menjadi
bahan pertimbangan dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, penghormatan kami kepada
Bang Edwan bukan hanya karena beliau merupakan sahabat lama, tetapi juga karena
kami menghargai pengalaman dan kontribusi yang telah menjadi bagian dari
perjalanan hidupnya.
Kami berharap hubungan persaudaraan
yang telah terjalin selama puluhan tahun ini tetap terjaga. Semoga Bang Edwan
selalu diberikan kesehatan, keteguhan, dan keberkahan dalam menjalankan
pengabdian.
4. MUHAMMAD A. RASYIDILLAH, S.Pd.
Menghargai Perjalanan dan Pengalaman
Seorang Sahabat
“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi
kami.”
Sejak masa perkuliahan, Bang Edwan
telah menjadi bagian dari perjalanan persahabatan kami. Waktu yang panjang
telah mempertemukan kami dengan berbagai pengalaman dan perubahan kehidupan.
Kami mengenal beliau bukan hanya
sebagai teman kuliah, tetapi sebagai sahabat seperjuangan yang telah melalui
perjalanan panjang bersama kami.
Bagi kami, Bang Edwan adalah sosok
mentor dan guru yang patut mendapatkan penghormatan. Pengalaman, pemikiran, dan
berbagai perjalanan pengabdian yang telah dilaluinya merupakan bagian dari
hal-hal yang dapat dijadikan pembelajaran.
Persahabatan selama puluhan tahun
memberikan makna bahwa setiap orang memiliki tempat dan peran dalam kehidupan
orang lain. Hubungan yang dibangun melalui kebersamaan dan rasa saling
menghargai akan tetap memiliki nilai, meskipun masing-masing telah menjalani
kesibukan dan tanggung jawab yang berbeda.
Kami menghormati Bang Edwan sebagai
sahabat lama sekaligus sosok yang memiliki pengalaman untuk dibagikan. Semoga
beliau senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam
menjalankan setiap amanah.
Harapan kami, persahabatan yang telah
terjalin sejak masa kuliah tetap menjadi ikatan persaudaraan yang terjaga
sepanjang kehidupan.
5. MUHAMMAD ZULKIFLI, S.Pd.
Persaudaraan yang Melampaui Perjalanan
Waktu
“Bang Edwan adalah Mentor dan Guru bagi
kami.”
Persahabatan kami dengan Bang Edwan
telah berlangsung sejak masa perkuliahan. Puluhan tahun bukanlah waktu yang
singkat. Banyak perubahan kehidupan yang telah dilalui, banyak pengalaman yang
telah diperoleh, dan berbagai tanggung jawab kini menjadi bagian dari kehidupan
masing-masing.
Namun, persahabatan yang telah dibangun
sejak dahulu tetap memiliki arti yang istimewa.
Bagi kami, Bang Edwan adalah sahabat
seperjuangan yang kami hormati sebagai mentor dan guru. Kami memandang
pengalaman dan perjalanan pengabdiannya sebagai sesuatu yang patut dihargai dan
dapat menjadi sumber pembelajaran.
Sosok mentor dan guru tidak selalu
harus berada dalam ruang kelas. Pengalaman kehidupan, pemikiran, dan cara
seseorang menjalankan tanggung jawab juga dapat memberikan pelajaran bagi
orang-orang di sekitarnya.
Kami menghormati Bang Edwan sebagai
sahabat yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut. Sebutan
mentor dan guru merupakan ungkapan penghargaan kami terhadap beliau.
Semoga Bang Edwan senantiasa diberikan
kesehatan, umur yang berkah, serta kekuatan untuk terus menjalankan pengabdian
dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kami berharap persaudaraan yang telah
terjalin sejak masa kuliah tidak pernah berhenti. Sebab, persahabatan yang
dijaga dengan ketulusan akan selalu memiliki tempat, meskipun waktu terus
berjalan dan kehidupan terus berubah.
PENUTUP
BANG EDWAN: SAHABAT, MENTOR, DAN GURU
DALAM PERJALANAN KEHIDUPAN
Lima kesaksian ini memperlihatkan satu
hal yang sama: hubungan antara Bang Edwan dan para sahabatnya bukanlah hubungan
yang baru terjalin. Mereka telah saling mengenal sejak masa perkuliahan dan
mempertahankan persahabatan hingga hari ini.
Puluhan tahun kebersamaan menjadi
bagian dari sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kehidupan
mereka.
Panggilan Bang Edwan menjadi simbol
kedekatan dan persaudaraan. Di balik sapaan sederhana tersebut terdapat rasa
hormat dari sahabat-sahabat yang telah mengenal beliau dalam waktu yang
panjang.
Mereka menyebut Bang Edwan sebagai
mentor dan guru bagi mereka. Sebuah penghargaan yang tentu memiliki makna
tersendiri, terutama ketika datang dari orang-orang yang telah mengenal
perjalanan beliau sejak masa muda.
Bagi Bang Edwan, penghormatan seperti
ini hendaknya menjadi pengingat untuk terus menjaga kerendahan hati. Sebab,
dalam persahabatan tidak ada yang harus merasa lebih tinggi. Setiap orang
memiliki pengalaman, kelebihan, kekurangan, dan pelajaran yang dapat dibagikan.
Hari ini, mereka mungkin memiliki
kesibukan dan tanggung jawab masing-masing. Namun, sejarah persahabatan yang
dimulai sejak bangku kuliah tetap menjadi bagian berharga dalam kehidupan.
Jabatan dapat berganti, pekerjaan dapat
berubah, dan perjalanan hidup dapat membawa seseorang ke tempat yang berbeda.
Akan tetapi, persaudaraan yang dibangun melalui kebersamaan dan saling
menghormati layak untuk terus dijaga.
Puluhan tahun telah menjadi saksi.
Mereka bukan sekadar teman kuliah, melainkan sahabat seperjuangan yang tumbuh
bersama, saling mengenal, dan tetap menjaga persaudaraan hingga hari ini.
Bang Edwan, bagi kami, bukan hanya
sahabat dari masa lalu, tetapi juga sosok yang tetap kami hormati dalam
perjalanan kehidupan sekarang dan masa mendatang.
© 2026 Edwan Ansari. All Rights
Reserved.