Senin, Juli 11, 2022

HABIB ANIS BIN ALWY BIN ALI AL HABSY SHOHIBUL MAULID SIMTHUD DURAR

 HABIB ANIS BIN ALWY BIN ALI AL HABSY SHOHIBUL MAULID SIMTHUD DURAR 


Ditulis Ulang oleh :Abu Muhammad Haydar Husein Yuliansyah Riffai


Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat, Indonesia pada tanggal 5 Mei 1928. Ayah beliau adalah Habib Alwi. Sedangkan ibu beliau adalah syarifah Khadijah. Ketika beliau berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo. Setelah berpindah-pindah rumah di kota Solo, ayah beliau menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.


Sejak kecil, Habib Anis dididik oleh ayah sendiri, juga bersekolah di madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahannya. Pada usia 22 tahun, beliau menikahi Syarifah Syifa binti Thaha Assegaf, setahun kemudian lahirlah Habib Ali.


Tepat pada tahun itu juga, beliau menggantikan peran ayah beliau, Habib Alwi yang meninggal di Palembang. Habib Ali bin Alwi Al Habsyi adik beliau menyebut Habib Anis waktu itu seperti “anak muda yang berpakaian tua”.


Habib Anis merintis kemaqamannya sendiri dengan kesabaran dan istiqamah, sehingga besar sampai sekarang. Selain kegiatan di Masjid seperti pembacaan Maulid simthud-Durar dan haul Habib Ali Al-Habsyi setiap bulan Maulud, juga ada khataman Bukhari pada bulan sya’ban, khataman Ar-Ramadhan pada bulan Ramadhan. Sedangkan sehari-hari beliau mengajar di zawiyah pada tengah hari.


Pada waktu muda, Habib Anis adalah pedagang batik, dan memiliki kios di pasar Klewer Solo. Kios tersebut ditunggui Habib Ali adik beliau. Namun ketika kegiatan di masjid Ar-Riyadh semakin banyak, usaha perdagangan batik dihentikan. Habib Anis duduk tekun sebagai ulama.


Dari perkawinan dengan Syarifah Syifa Assegaf, Habib Anis dikaruniai enam putera yaitu Habib Ali, Habib Husein, Habib Ahmad, Habib Alwi, Habib Hasan, dan Habib Abdillah. Semua putera beliau tinggal di sekitar Gurawan.


Dalam masyarakat Solo, Habib Anis dikenal bergaul lintas sektoral dan lintas agama. Dan beliau netral dalam dunia politik.


Dalam sehari-hari Habib Anis sangat santun dan berbicara dengan bahasa jawa halus kepada orang jawa, berbicara bahasa sunda tinggi dengan orang sunda, berbahasa indonesia baik dengan orang luar jawa dan sunda, serta berbahasa arab Hadrami kepada sesama Habib.


Penampilan beliau rapi, senyumnya manis menawan, karena beliau memang sumeh (murah senyum) dan memiliki tahi lalat di dagu kanannya. Beberapa kalangan menyebutnya The smilling Habib.


Habib Anis sangat menghormati tamu, bahkan tamu tersebut merupakan doping semangat hidup beliau. Beliau tidak membeda-bedakan apahkah tamu tersebut berpangkat atau tidak, semua dijamunya dengan layak. Semua diperlakukan dengan hormat.


Seorang tukang becak (Pak Zen) 83 tahun yang sering mangkal di Masjid Ar-Riyadh mengatakan, Habib Anis itu ulama yang loman (pemurah, suka memberi). Ibu Nur Aini penjual warung angkringan depan Masjid Ar-Riyadh menuturkan, “Habib Anis itu bagi saya orangnya sangat sabar, santun, ucapannya halus. Dan tidak peranah menyakiti hati orang lain apalagi membuatnya marah”.


Saat ‘Idul Adha Habib Anis membagi-bagikan daging korban secara merata melalui RT sekitar Masjid Ar-Riyadh dan tidak membedakan Muslim atau non Muslim. Kalau dagingnya sisa, baru diberikan ke daerah lainnya.


Jika ada tetangga beliau atau handai taulan yang meninggal atau sakit, Habib Anis tetap berusaha menyempatkan diri berkunjung atau bersilaturrahmi. Tukang becak yang mangkal di depan Masjid Wiropaten tempat Habib Anis melaksanakan shalat jum’at selalu mendapatkan uang sedekah dari beliau. Menjelang hari raya Idul Fitri Habib Anis juga sering memberikan sarung secara Cuma-Cuma kepada para tetangga, muslim maupun non muslim. “Beri mereka sarung meskipun saat ini mereka belum masuk islam. Insya Allah suatu saat nanti dia akan teringat dan masuk islam.” Demikian salah satu ucapan Habib Anis yang ditirukan Habib Hasan salah seorang puteranya.


Meskipun Habib Anis bin Alwi bin Ali al Habsyi telah meninggalkan kita, namun kenangan dan penghormatan kepada beliau terus saja mengalir disampaikan oleh para habib atau para muhibbin. Habib Husein Mulachela keponakan Habib Anis mengatakan, pada saat meninggalnya Habib Anis dia dan isterinya tidak mendapatkan tiket pesawat, dan baru keesok harinya datang ke Solo melalui bandara Adi Sumarmo Yogyakarta. Selama semalam menunggu, mereka seperti mencium bau minyak wangi Habib Anis di kamarnya. “Aroma itu saya kenal betul karena Habib Anis membuat minyak wangi sendiri, sehingga aromanya khas.”


Dalam salah satu tausiyah, Habib Jindan mengatakan, “Seperti saat ini kkita sedang mengenang seorang manusia yang sangat dimuliakan, yaitu Nabi Muhammad SAW. Kita juga mengenang orang shalih yang telah meninggalkan kita pada tanggal 6 Nopember 2006 yaitu guru kita Habib Anis bin alwi bin Ali Al-Habsyi.


Ketika kita hadir pada saat pemakaman Habib Anis, jenazah yang diangkat tampak seperti pengantin yang sedang diarak ke pelaminannya yang baru. Bagi Habib Anis, kita melihat semasa hidup berjuang untuk berdakwah di masjid Ar-Riyadh dan kini setelah meninggal menempati Riyadhul Janah, taman-taman surga. Ketika takziyah pada pemakaman Habib Anis kita seolah-olah mengarak pengantin menuju Riyadhul Jannah, taman-taman surga Allah. Inilah tempat yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman, bertaqwa dan shalih. Kita sekarang seperti para sahabat Habib Ali Al-habsyi, penggubah maulid Simtuh-durar yang mengatakan bahwa, keteka mereka hidup di dunia, mereka seolah-olah tidak merasakan hidup di dunia tetapi hidup di surga. Sebab setiap hari diceritakan tentang akhirat, tentang ketentraman bathin di surga. Dan mereka baru menyadari baha mereka hidup di dunia yang penuh cobaan.


Kita selama ini hidup bersama Habib Anis, bertemu dalam majlis maulid, berjumpa dalam kesempatan rauhah dan berbagai kesempatan lainnya. Dalam berbagai kesempatan itu kita mendengar penuturan yang lembut dan menentramkan, sehingga sepertinya kita di surga. Dan kita merasakan bahwa kita hidup di dunia yang fana ketika menyaksikan bahwa beliau meninggal dunia. Namun begitu, kenangan beliau tetap terbayang di mata kita, kecintaan beliau tetap menyelimuti kita.


Habib AbduLlah Al-hadad ketika menyaksikan kepergian para guru beliau, mengatakan, “Kami kehilangan kebaikan para guru kami ketika mereka meninggal dunia. Segala kegembiraan kami telah lenyap, tempat yang biasa mereka duduki telah kosong, Allah telah mengambil milik-Nya Kami sedih dan kami menangis atas kepergian mereka. Ah…andai kematian hanya menimpa orang-orang yang jahat, dan orang-orang yang baik dibiarkan hidup oleh Allah. Aku akan tetap menangisi mereka selama aku hidup dan aku rindu kepada mereka. Aku akan selalu kasmaran untuk menatap wajah mereka. Aku akan megupayakan hidupku semampukun untuk selalu mengikuti jalan hidup para guruku, meneladani salafushalihin, menempuh jalan leluhurku.”


Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assagaf yang berada di Jeddah bercerita, “Ayahku Habib Ahmad bin Abdurrahman berkata kepadaku, ‘ya…Abdulkadir engkau lihat aku, ketahuilah jangan engkau menyimpang dari jalan orang tuamu’”. Ketika Habib Ahmad bin Abdurrahman meninggal dunia, Habib AbdulKadir tetap menempuh jalan orang tuanya dan dia tidak menyimpang sedikitpun jalan yang telah ditempuh oleh Habib Ahmad bin Abdurrahman.


Begitu juga Almarhum Habib Anis, tidak sedikitpun menyimpang dari yang ditempuh oleh ayah beliau, Habib Alwi. Hal serupa terjadi pada Habib Alwi , yang tetap menapaki jalan yang ditempuh oleh ayah beliau Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Dan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi sama juga menempu jalan orang tua, guru dan teladan beliau hingga sampai Nabi Muhammad SAW”……


Sedangkan Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, murid senior sekaligus cucu menantu Habib Anis mengatakan, maqam tinggi yang dimiliki Habib Anis didapatkan bukan karena berandai-andai atau duduk – duduk saja. Semua itu beliau peroleh setelah bertahun-tahun menanamkan cinta kepada Allah SWT, para shalihin dan kepada kaum muslimin umumnya. Semoga beliau dalam kuburnya melihat kehadiran kita di majlis ini, bahwa kita sebagai anak didiknya meneruskan perjuangan dakwahnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan, ‘Dan sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang’. Artinya kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih Allah menanamkan kepada makhluk-makhluk rasa kasih sayang kepadanya, cinta kepadanya, sebagaimana disabdakan RasuluLlah SAW dalam hadits yang diriwayatkan imam Bukhari, “Jika Allah mencintai hambanya maka Allah akan memanggil Jibril, menyampaikan bahwa Allah mencintai si Fulan. Mulai saat itu Jibril akan mencintai Fulan, sampai kapanpun. Jibril kemudian memanggil ahli langit untuk menyaksikan bahwa Allah mencintai Fulan. Maka ia memerintahkan mereka semua utuk eneicintai Fulan. Dengan begitu para penghuni langit mencintai Fulan. Setelah itu Allah letakkan di atas bumi ini rasa cinta untuk menerima orang yang dicintai Allah tersebut, dapat dekat dengan orang itu.” Dan insya Allah Habib Anis termasuk diantara orang-orang tersebut.”


Ada empat hal yang selalu disampaikan oleh Habib Anis kepada jama’ah yang hadir di majlis beliau, “Pertama, Kalau engkau ingin mengetahui diriku, lihatlah rumahku dan masjidku. Masjid ini tempat aku beribadah mengabdi kepada Allah. Kedua, zawiyah, di situlah aku menggembleng akhlak jama’ah sesuai akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketiga, kusediakan buku-buku lengkap di perpustakaan, tempat untuk menuntut ilmu. Dan keempat, aku bangun bangunan megah. Di situ ada pertokoan, karena setiap muslim hendaknya bekerja. Hendaklah ia berusaha untuk mengembangkan dakwah Nabi Muhammad SAW”…….


Kisah Habib Anis al Habsy dan Abah Guru Sekumpul


 Ada yang istimewa di Majelis Ilmu Gurawan, Pasar Kliwon, Solo, tempat mendiang Habib Anis bin Habib Alawy Al Habsy mengajar ilmu. Kendati tiap harinya yang hadir di majelis ilmu tak lebih dari 100 orang, namun ternyata majelis ilmu yang dirintis Habib Alawy sejak satu abad lebih itu, sudah disinggahi ribuan aulia dari penjuru Indonesia bahkan sampai luar negeri.


“Di Majelis Ilmu ini, sudah ribuan aulia pernah duduk,” ujar Ustadz Abdilah bin Abu Bakar kerabat Habib Anis beberapa waktu lalu sebelum mendengar majelis ilmu. Habib Abdillah sendiri mengaku sudah 16 tahun menghadiri majelis ilmu tiap siang dan tidak pernah absen.Para aulia yang pernah hadir di majelis ilmu yang rutin diselenggarakan tiap siang menjelang salat Dhuhur itu antara lain: KH Siroj (ulama terkemuka dari Solo),


Abuya Dimyati (Pandeglang, Banten), Tuan Guru KH.Muhammad Zaini bin KH Abdul Ghani Al Banjari sekumpul Martapura ,Soal Abah Guru Sekumpul  Ustadz  Abdilah memiliki cerita. Sekitar tahun 1970 an, usai menunaikan ibadah haji di Mekkah, Abah Guru Zaini datang ke Gurawan guna meminta ijazah 10 kitab maulid simtuduror 

Ketika itu, kata Abdillah, Habib Anis masih berdagang di Pasar Klewer. Seperti biasa, sekitar pukul 11.30 WIB Habib Anis dengan pakaian pedagang dan mengendarai vespa pulang untuk mengajar majelis ilmu.


Kepulangan Habib Anis diketahui oleh Abah Guru Sekumpul Namun Ulama kharismatik asal tanah Banjar, Martapura itu tidak mengetahui kalau si pengendara vespa itu Habib Anis, si guru yang dicari.“Begitu sampai Mesjid Riyadh, Habib Anis berganti pakaian dan muncul ke majelis dengan pakaian siap mengajar ilmu Abah Guru sekumpul belum sempat bertanya, Habib Anis sudah menjawab: Anda mau minta 10 kitab maulid dan diijazahi,”Abdillah mengisahkan.


Mendengar jawaban tersebut, Tuan Guru Sekumpul  heran karena belum bertanya sudah dijawab.Cerita menakjubkan lain dari Ustazd Abdillah adalah ketika dirinya bersama rombongan Habib Anis diundang Abah Guru Sekumpul  menghadiri Maulid Simtuduror di Martapura. Ketika pesawat rombongan Habib Anis melintas di atas Banjar, Martapura, Habib Anis melihat puluhan ribu santri menghadiri acara maulid. Suara terbang santri Abah Guru Sekumpul  terdengar keras dari pesawat yang membawa rombongan. Waktu itu Habib Anis bilang:


“Coba berhenti (Saat itu seolah-olah pesawat yang tumpangi juga berhenti). Lihat dibawah ribuan orang menabuh terbang.”Begitu mendarat di Bandara, banyak orang yang ingin menjemput. Untuk memuaskan tuan rumah yang ingin menjemput, Habib Anis meminta rombongan dibagi menjadi beberapa mobil. “Tiap mobil diisi satu orang dari rombongan. Saat itu ada sejumlah rombongan sekitar 100 orang,” ujar Ustazd Abdillah yang telah 16 tahun menghadiri majelis ilmu di Gurawan. Begitu dahsyatnya orang berilmu yang memiliki takwa yang tinggi.

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

 Ditulis ulang oleh : 

Editor :

Muhammad Edwan Ansari, S.Pd.I

COPYRIGHT © Catatan Edwan Ansari 


TUAN GURU KH. ZAKARIA Bin KH.RAMLI GADUNG RANTAU (1946-2006)

 TUAN GURU KH. ZAKARIA Bin KH.RAMLI GADUNG RANTAU

(1946-2006)


 


Tuan guru KH. Zakaria bin Hj Hafifah binti KH.Muhammad bin Syekh Salman Al Farisi ( Datu Gadung ) bin Qodhi H.Mahmud bin Asiah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Datu Kelampayan dilahirkan di desa Gadung pada tanggal 3 Pebruari 1946 dari pasangan tuan guru KH. Ramli dengan Hj. Hafifah anak dari tuan guru H. Muhammad yang kawin dengan Hj. Aisyah. Tuan guru Kh. Muhammad anak dari Tuan guru Syeikh Salman al-Farisi yang merupakan keturunan dari Datu Kalampayan Syeikh M Arsyad al-Banjari. Tuan guru KH. Zakaria cukup beruntung karena beliau dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang taat dalam menjalankan ibadah agama. Keluarga dengan tekun membimbing beliau agar kelak menjadi anak yang shaleh dan dapat berguna bagi masyarakat dan agama. Dorongan dan bimbingan dari keluarga merupakan salah satu faktor keberhasilan beliau dalam menuntut ilmu pengetahuan agama

 

Riwayat Pendidikan (mengaji )

 Sekolah Rakyat (SR)


Tuan guru KH. Zakaria pada masa anak-anak di sekolahkan oleh orang tua beliau di sekolah rakyat (SR) 6 tahun di Rantau. Setelah beberapa tahun beliau menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat, beliau dapat menamatkan pada tahun 1962. Selain sekolah di sekolah umum, beliau banyak dibimbing oleh kakek beliau Tuan guru KH. Muhammad. Tuan guru KH. Muhammad sangat sayang kepada Tuan guru KH. Zakaria karena beliau merupakan cucu laki-laki pertama

 

Mengaji di Pesantren Darussalam, Martapura

Menamatkan sekolah SR di rantau pada tahun 1962 dan juga mendapat bimbingan ilmu pengetahuan agama dari kakek beliau Tuan guru KH. Muhammad kemudian Tuan guru KH. Zakaria dikirim ke Martapura untuk menuntut ilmu pengetahuan agama di Pesantren Darussalam. Di Pesantren Darussalam beliau mulai belajar pada tingkat ibtidaiyah sampai beliau menamatkan Madrasah Aliyah pada tahun 1971. Selain belajar secara formal di Pesantren  Darussalam beliau juga mengaji kepada tuan guru-tuan guru yang ada di Martapura. Puluhan tahun telah beliau habiskan waktu di Martapura. Untuk menuntut ilmu pengetahuan agama yang kemudian diikuti oleh anak-anak beliau menuntut ilmu pengetahuan agama di pesantren Darussalam Martapura ini.

Tuan guru kH. Zakaria juga rajin membawa anak-anak laki-laki beliau kepada tuan guru-tuan guru di Martapura untuk didoakan dan mengambil berkah agar nantinya menjadi anak yang shaleh. Pada tahun 1981 beliau mengikuti persamaan sekolah di Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN) di Martapura. Setelah puluhan tahun mengaji ilmu pengetahuan agama di Martapura akhirnya kembali ke kampung halaman di desa Gadung untuk mengembangkan ilmu pengetahuan agama yang sudah diperoleh

 

Mengembangkan syiar Islam


Tuan guru H. Zakaria setelah cukup lama menuntut ilmu pengetahuan agama di Pesantren Darussalam, Martapura serta mengaji secara khusus dengan mendatangi untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama beliau kembali ke kampung halaman di Gadung. Di gadung beliau membuka pengajian di rumah meneruskan pengajian yang dilakukan oleh orang tua maupun kakek beliau Tuan guru KH. Muhammad. Berbagai ilmu pengetahuan agama yang disampaikan dalam pengajian tersebut di antaranya mengenai tauhid, fiqih dan tasawuf. Berbagai wilayah/desa yang datang mengikuti pengajian yang beliau pimpin seperti gadung, waringin, kupang,bakarangan, parigi, paul dan daerah lainnya.

Beliau juga memenuhi hajat masyarakat yang menghajatkan kepada beliau untuk memberikan pengajian-pengajian antara lain di bakarangan, parigi, karatau, kupang,tambarangan dan beberapa daerah lainnya. Setiap kali memenuhi hajat masyarakat dalam memberikan pengajian Tuan guru H. Zakaria menggunakan vespa sebagai sarana untuk memenuhi hajat masyarakat yang meminta beliau. Begitu sayangnya terhadap kendaraan vespa tersebut merupakan padaringan (sumber rejeki) bagi beliau. Vespa itulah yang beliau gunakan kemana-mana untuk memberikan hajat masyarakat yang meminta beliau memberikan ceramah agama sebagai siraman rohani. Beliau mengatakan begitu besar jasa kendaraan vespa itu dalam mengembangkan syiar islam kepada masyarakat.

Setelah sekian lama beliau memberikan pengajian kepada masyarakat, Tuan guru H. Zakaria kemudian pengajian dilakukan di rumah beliau saja di Gadung. Pangajian yang diadakan di rumah disampaikan untuk laki-laki dan kaum perempuan, bagi laki-laki diadakan setiap malam selasa dan rabu sedangkan untuk perempuan dilakukan setiap pagi jumat dan sore jumat untuk laki-laki. Tuan guru KH. Zakaria juga memberikan pengajian secara khusus dan mendalam kapada orang yang menginginkannya yang jumlahnya tidak banyak. Mereka yang mengaji secara khusus kebanyakan yang datang berasal dari luar daerah dan waktunya berbeda dengan pengajian masyarakat secara umum.

Di martapura pun beliau juga membuka pengajian kepada masyarakat yang dilakukan setelah pengajian yang dipimpin oleh Tuan guru KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau yang lazim disebut dengan Guru Sekumpul. Sepulang dari pengajian guru Sekumpul di Mushalla ar-Raudah, sekumpul martapura kemudian Tuan guru KH. Zakaria memberikan pengajian di rumah beliau di martapura. Pengajian yang disampaikan di rumah beliau di martapura mengenai Nur dan muridnya tidak terlalu banyak. Murid-muridnya berasal dari alumni Pesantren Darussalam serta mereka yang masih mengaji di Pesantren Darussalam , Martapura.

Tuan guru KH. Syarwani Abdan yang lazim disebut guru Bangil berkirim surat kepada Tuan guru KH. Zakaria yang isinya meminta beliau ke Bangil. Berhubungan biaya tidak ada maka permintaan itu tidak dapat dipenuhi oleh Tuan guru KH. Zakaria. Ternyata tuan guru H. Syarwani Abdan meminta untuk melakukan suluk (khalwat )berhubung tidak dapat datang ke bangil maka khalwat dilakukan di rumah. Khalwat ini beliau lakukan di tempat tidur sebelum bulan puasa (ramadhan) dan beliau tidak berbicara dengan siapapun dan seperti orang sakit, hal ini dilakukan agar beliau tidak terganggu. Khalwat ini dilakukan selama ± 40 hari dan masyarakat mengira beliau sakit sehingga masyarakat banyak yang mengkhawatirkan beliau. Ternyata pada malam hari raya terakhir khalwat maka pada shalat Hari Raya Idul Fitri beliau dapat mengimami.

Hampir seluruh hidup beliau digunakan untuk melakukan syiar islam (dakwah) kepada masyarakat dan bahkan sebelum meninggal beliau juga telah selesai memberikan pengajian kepada mayarakatyang menghajatkan kepada beliau. Setelah beliau meninggal dunia, pengajian kemudian di lanjutkan oleh anak-anak beliau yaitu Tuan Guru H. Yahya di Gadung dan H. Mahfuz di Martapura

 

Berpulang ke Rahmatullah

Tuan guru H. Zakaria adalah suatu sosok yang sangat pemurah dan tidak pemarah, beliau tidak pernah memarahi anak. Kemudian beliau selalu menerima tam uyang datang kapan saja ke tempat beliau di Gadung. Tamu yang datang kadang pagi, siang atau malam selalu beliau layani untuk meminta hajat dan keperluan lainnya. Ada saja yang datang subuh hari atau pada tengah malam selalu beliau layani dengan ramah sebab kata beliau orang yang datang tentu mempunyai keperluan atau masalah. Selama kita dapat membantu orang lain maka perlu dibantu sesuai kemampuan yang dimiliki dan kasihan mereka datang jauh-jauh.

Beberapa hari sebelum meninggal dunia, H. Yahya anak beliau mengajak untuk sembahyang malam nisfu sya’ban di sekumpul, Martapura. Tetapi dijawab oleh Tuan guru H. Zakaria bahwa beliau tetap berada di Gadung saja untuk mengimami sembahyang di mesjid di samping rumah beliau pada malam nisfu sya’ban. Kata beliau bahwa beliau sering saja bertemu dengan guru beliau yaitu Tuan guru KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (guru Sekumpul) dalam mimpi padahal guru Sekumpul sudah meninggal dunia.

Memang menurut H. Yahya anak beliau Guru Sekumpul meninggal dunia ayahnya sempat berucap bahwa beliau tidak akan lagi akan menyusul Guru Sekumpul. Ucapan yang disampaikan ayahanda tidak ditanggapi secara serius, namun 40 hari setelah Guru Sekumpul meninggal dunia beliaupun menyusul kealam baqa sesuai ucapan beliau kepada H. Yahya. Pada suatu hari ketika makan pagi Tuan guru KH. Zakaria pernah berbicara kepada H. Yahya bahwa beliau tadi malam bermimpi kembali bertemu dengan guru Sekumpul. Dalam mimpi tersebut Guru Sekumpul hidup nyaman seperti dalam istana dan banyak berkumpul para guru-guru Darussalam, Datu Syeikh Salman al-Farisi, kakek beliau Tuan guru KH. Muhammad dan Muhammad Nur (Julak Hanur). Dalam mimpi tersebut Guru Sekumpul berucap kepada Tuan guru KH. Zakaria ”Pabila lagi nyawa(kamu)Zak, di sini rami banar sudah takumpulan guru-guru nyawa (kamu)”.  Dijawab oleh Tuan guru H. Zakaria dalam mimpi tersebut “ Kalau guru yang membawai (mangajak) ulun hakun (mau)haja”.

H. Yahya bertanya kepada ayahandanya mengapa ayah menyetujui ajakan  yang disampaikan oleh Guru Sekumpul, lalu dijawab oleh beliau karena yang mengajak adalah paguruan maka beliau setujui ajakan tersebut. Berselang tiga setelah beliau bercerita kepada H. Yahya ternyata beliau benar-benar menyusul Guru Sekumpul dan beliau meninggal malam kamis 18  sya’ban 1427 H (tahun 2006M). sebelum meninggal dunia, beliau malam kamis itu sempat menyampaikan manakib Wali Allah di rumah warga di Tambarangan. Rencananya pembacaan manakib itu dilakukan pada malam jum’at tapi kemudian beliau ralat karena pada malam jum’at kata beliau ada acara. Ternyata benar setelah pulang dari membacakan manakib Wali Allah di Tambarangan, beliau pulang ke rumah dan tidak berapa lama beliau sesak nafas.

Sebelum beliau meninggal dunia ada yang ganjil yaitu menantu beliau Habib Abdurrahman pada sekitar jam 23.00 WITA membuka semua pintu rumah. Kemudian Habib Abdurrahman berjalan menuju kubah Tuan Guru KH. Muhammad dan Tuan Guru KH. Ramli (orang tua Tuan guru KH. Zakaria) tidak berapa lama di kubah, Habib Abdurrahman kembali ke rumah. Kejadian ini ditanyakan istri beliau lalu dijawab oleh Tuan guru KH. Zakaria berpesan bahwa apapun yang dilakukan oleh Habib Abdurrahman jangan sekali ditegur atau dii’tiradh walaupun yang dilakukan menyalahi kebiasaan.

Setelah berucap demikian Tuan guru KH. Zakaria kebelakang untuk mengambil air wudhu kemudian kembali ke tempat tidur dengan ditunggui oleh istri dan anak beliau. Tidak berapa beliau mengucapkan tauhid sebanyak tiga kali dan mengucapkan Allah tiga kali setelah itu beliau menghembuskan nafas terakhir. Beliau meninggal dengan usia ± 60 tahun dan di kuburkan di Gadung berdekatan dengan kubur orang tua beliau Tuan Guru H. Ramli. Tuan guru H. Zakaria meninggalkan seorang istri dan empat orang anak, yaitu : Guru H. Yahya, Guru H. Mahfuz, dan dua anak perempuan

 

Keramat Beliau

 Membuat Pesuratan dan Rajah untuk Keselamatan

Ilmu-ilmu pesuratan dan rajah banyak diperoleh dari Datu beliau Syeikh Salman al-Farisi turun kepada Tuan guru KH. Muhammad sampai kepada Tuan guru H. Zakaria. Peralatan yang dilakukan untuk melakukan rajah terdiri dari paku, kayu enau, wadah kuningan serta minyak yang tidak pernah kering. Masyarakat yang datang untuk menjaga keselamatan kalau dirajah menggunakan alat-alat tersebut. Alat-alat tersebut sudah berumur ratusan tahun sebab digunakan mulai Syeikh Salman al-Farisi sampai diturunkan kepada Tuan guru H. Zakaria dan barangnya sampai masih digunakan. Begitu dibuatkan wafak atau pesuratan lain yang bertujuan untuk menjaga keselamatan dan terhindar dari niat jahat orang lain.

Ilmu Kuat (Gancang)

Pernah terjadi pohon kapuk yang lapuk yang cukup besar dekat rumah beliau tumbang akibat angin rebut, batang kapuk tersebut mengganggu jalan. Setelah dilihat beliau tidak ada orang maka beliau turun untuk memindahkan batang pohon kapuk tersebut ke pinggir jalan. Pohon kapuk yang cukup besar tersebut beliau angkat sendirian ke pinggir jalan dan tidak lagi menghalangi orang lewat. Begitu juga kendaraan vespa beliau jatuh ke sungai yang ada di depan rumah dapat diangkat beliau sendirian ke atas tanpa dibantu orang lain.

Sandal Hilang Datang Kembali

Ketika beliau menunaikan rukun islam kelima naik haji, pada waktu melaksanakan salah satu rukun haji sandal beliau tidak ada sebelah. Berhubung tidak ada sebelah maka sandal yang satunya itu dibawa ke tempat penginapan. Anak beliau yang sama-sama menunaikan naik haji ingin membelikan sandal karena kasihan melihat ayah tidak memakai sandal kata beliau nanti saja. Berada di penginapan tidak begitu lama ada orang mengantarkan sandal dan orang tersebut tidak ada yang kenal setelah ditanyakan kepada orang-orang yang berada di sekitar beliau.

Ilmu Tahan di Rebus Minyak

Ilmu yang diturunkan oleh Syeikh Salman Al-Farisi secara turun temurun dan sampai kepada Tuan guru H. Zakaria adalah ilmu tahan direbus pada minyak panas. Minyak goreng dimasukkan dalam kuali besar (kawah) dengan jumlah yang banyak, setelah minyak itu mendidih maka kita masuk dalam kuali besar. Dengan doa-doa dan bacaan maka orang yang masuk dalam kuali besar  tidak merasa kepanasan atau kulit melepuh.

Tidak Membedakan Tamu yang Datang

Tuan guru H. Zakaria tidak pernah membeda-bedakan orang yang ingin bertamu kapada beliau sekalipun orang tersebut nakal dan banyak melakukan maksiat. Hal ini pernah ditanyakan oleh anggota keluarga beliau kenapa menerima orang yang banyak melakukan maksiat. Dijawab oleh beliau pekerjaan yang dilakukan manusia itu masing-masing sedangkan kita mengerjakan yang diperintahkan agama dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh agama. Terpenting dalam hidup ini kata beliau adalah kita jangan sampai lupa kepada Tuhan  (Allah) yang menciptakan segala-segalanya

Alhamdulillah admin dulu (Yuliansyah Riffai ) sempat menimba ilmu kepada beliau waktu masih sekolah di Rantau

subhanallah mudah mudahan beliau dikumpulkan dengan datuknya dan para guru guru beliau dan mudah mudahan kita semua bisa berkumpul dengan beliau nantinya bersama guru guru kita,orang tua kita,kerabat kita dan seluruh umat muslimin dan muslimat berkat kecintaan kita dengan para mereka ..aamiin Ya Robbal alamin...

Penulis : Muhammad Edwan Ansari

 Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan

Tuan Guru KH.Muhammad Aini, Desa Pandai Kandangan.

 ABAH GURU SEKUMPUL 

MEMPERDALAM ILMU TAJWID




Bismillah...

"Suatu saat, atas saran Tuan Guru KH.Ahmad Zaini / Orang Tua KH.Husein Qodrie,KH.Badruddin, KH.Rosyad Martapura.

Abah Guru Sekumpul  yang saat itu masih sebagai santri di Pesantren Darussalam, diminta untuk memperdalam Ilmu Tajwid beliau kepada seorang yang dianggap pakar dan ahli dalam bidangnya.

Tuan Guru KH.Muhammad Zaini  ditujukan kepada seorang yang dikenal Qori, Hafizh dan memiliki suara merdu yang khas, yaitu: Tuan Guru KH.Muhammad Aini, Desa Pandai Kandangan.

Pada akhirnya, dihari yang ditentukan berangkatlah Abah Guru Sekumpul dengan menumpang bis dari Martapura menuju Kandangan.

Perjalanan saat itu cukup melelahkan, karena masa itu jalan tidak semulus sekarang. Setelah menempuh beberapa jam diperjalanan. akhirnya Abah Guru Sekumpul  sampai juga dikota dodol itu, dan langsung menuju kerumah sang Guru.

Ketika bertemu Tuan Guru KH.M.Aini, Abah Guru Zaini ditanya bermacam alasan kenapa sampai beliau datang jauh-jauh untuk belajar ke Kandangan ini.

Namun semua pertanyaan itu dijawab Abah Guru Zaini dengan sempurna dan memuaskan, sehingga Tuan Guru KH.Muhammad Aini akhirnya bersedia untuk mengajari Abah Guru Zaini (Abah Guru Sekumpul).

Untuk mengetahui bagaimana bacaan muridnya ini, Tuan Guru meminta Abah Guru Zaini membacakan surah Al-Fatihah...

Abah Guru Zaini pun lalu membaca Fatihah dengan suara beliau yang merdu.

Mendengar ini sang Tuan Guru menangis tersedu-sedu. Usai membaca AL-Fatihah, Abah Guru Zaini menanyakan sebab Gurunya itu menangis.

"Tuan Guru KH.Muhammad Aini menjelaskan:

"Seumur hidupku, aku belum pernah mendengar bacaan Fatihah sebagus yang ikam (kamu) bacakan tadi"

Subhanallah...

Selama sekitar seminggu disana, Abah Guru Zaini diajak mendampingi Tuan Guru KH.M.Aini menghadiri beberapa acara keagamaan.

Seringkali Abah Guru Zaini diminta untuk membacakan ayat suci Al-Qur'an, dan mengikuti acara maulid diberbagai tempat.

Setelah dirasa cukup belajar kepada Gurunya, Abah Guru Zaini mohon pamit dan minta izin untuk pulang ke Martapura.

Sang Guru mengizinkan, hanya saja saat itu sudah sore, kemungkinan mobil tumpangan ke Martapura atau arah Banjarmasin tidak ada.

Namun Abah Guru Sekumpul  meyakinkan guru beliau itu, bahwa mobil Insya Allah ada.

Saat itu sudah sore, Sang Guru pun mengantar Abah Guru Zaini dari rumahnya ketepi jalan.

Sesampainya ditepi jalan raya, tak diduga tiba-tiba berhenti sebuah mobil. Abah Guru Zaini pun pamit dan masuk kedalam mobil itu.

Belum jauh mobil itu berjalan dari berdirinya Sang Guru, mobil itu pun menghilang entah kemana, seperti tak berbekas. Subhanallah...

Semoga cerita yang pendek ini menambah kecintaan kita semua kepada Rasulullah, dzuriyat Rasulullah, para Auliya Allah, para Ulama, dan Orang-orang sholeh,khususnya kepada Abah Guru Sekumpul. Mendapat berkah & syafaat Abah Guru, diampuni segala dosa, dikabulkan segala hajat, panjang umur, sehat badan, murah rezeki, dan Allah mudahkan langkah kita semua untuk dapat selalu senantiasa menuntut ilmu 

Dari buku 100 Karomah dan Kemuliaan ABAH GURU SEKUMPUL 

Karangan: KH.M.Anshary El Kariem 

Ditulis Ulang :Abu Muhammad Haydar Husein Yuliansyah Riffai 

Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan



Makam Guru H.Abdul Aziz Depan langgar Darul Ihsan Bungur...

 Makam Guru H.Abdul Aziz

Depan langgar Darul Ihsan Bungur...





Yang tahu tentang sosok beliau silahkan tambahkan !!!

Minggu, Juli 10, 2022

KH.Ahmad Mughni bin KH.Ismail bin KH.Muhammad Thohir

KH.Ahmad Mughni bin KH.isma'il bin KH.Muhammad Thahir.Bin .KH.syihabuddin.

Wafat tgl.10 Zulhijjah 1414 H.



Beliau adalah ayahanda dari KH. Muhammad Bakhiet barabai..


KH.Ahmad Mughni bin KH.Ismail bin KH.Muhammad Thohir (Penyiuran Alabio ) bin Al-Alimul Allamah Mufti Syihabuddin (Banjar ) bin al-Imamul Kabir Waliyus Syahir asy-Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari (Datu kalampayan )



KH.Ahmad Mughni atau yang biasa disebut Ayah Nagara adalah seorang ulama kharismatik pada masanya. Beliau berguru kepada sejumlah ulama terkemuka di dunia ketika itu, seperti: 1) Syekh Ismail Alabio, ayah beliau sendiri yang merupakan murid dari Sayyid Bakri Syatha penulis kitab I'anatuth Thalibin, 2) Sayyid Muhsin al-Musawa, 3) Syekh Said Yamani, Mufti Makkah, 4) Syekh Ali al-Maliki, 5) Syekh Umar Hamdan, 6) Syekh Hasan Masyath, 7) Syekh Ahyad Bogor, 8) Sayyid Alawy bin Abbas al-Maliki, 9) Syekh Amin Kutbi, dan 10) Syekh Mahmud Fathoni. Semuanya pengajar di Masjidil Haram dan Makkah. Di antara teman beliau saat ngaji di Makkah adalah KH Syarwani Abdan Bangil.

KH Ahmad Mughni sangat istiqamah dalam beribadah, disiplin ketat, sholat jamaah selalu di awal waktu, rajin membaca kitab, dan pemurah. Beliau sangat menghargai waktu. Tidak jarang beliau tidur hanya skitar 2 jam setiap malam. Selebihnya diisi dengan ibadah dan belajar. Setiap jam 2 malam beliau tahajud, dan itu dikerjakan sejak usia 25 tahun.


Di antara keistimewaan beliau juga adalah kasyaf, mempunyai firasat yang tajam. Semisal ada orang kehilangan dompet, kemudian beliau bisa merincikan dimana posisi dompetnya yang tercecer. Cari di pasar, dompetnya teriinjak orang yang lewat. Itu contohnya.


Keilmuan beliau begitu dalam, persoalan apa saja yang dibawa ke beliau bisa dipecahkan dengan mudah. Ada banyak kitab yang beliau ajarkan, di antaranya: Marah Labid, Shohih Bukhari dan Muslim, Tuhfatul Muhtaj, Nihayatul Muhtaj, Ihya Ulumiddin, Iqazhul Himam, Kifayatul Atqiya', Sairus Salikin, Jam'ul Jawami, Nashoihul Ibad, Risalah Qusyairiyah, Rahmatul Ummah Tahrir, I'anatuth Thalibin, Jauharul Maknun, Tanbihul Ghofilin, Minhajul Qawim, Tanbihul Mughtarrin, Ghayatul Wusul, al-Luma', Insan Kamil, Mujarabat Dairabi, Syarah Ibnu Aqil, dan lain-lain.


Di antara kunci keberhasilan beliau adalah sungguh-sungguh. Beliau berujar, "Bahari aku mangaji kada pintar nang kaya ikam-ikam ni pang, aku tumpul tapi cangkal".


Beliau juga berpesan, apabila handak batamu Rasulullah, barasihi dahulu wadahnya. Maksudnya adalah perbanyak ampun dan taubat terlebih dahulu.


Sekarang beliau telah tiada, tapi ilmu dan semangat dakwah beliau diwarisi anak-anak beliau, di antaranya Almukarram Tuan Guru KH Muhammad Bakhiet (Pondok Pesantren Nurul Muhibbin Barabai ) dan adik guru Bakhiet KH Abdussalam (Pondok Pesantren Datu Ismail Kuaro Pase Kalimantan Timur)



Wallahu a'lam, wa 'ilmuhu atam, wa shallallahu 'alaihi wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam


Dikutip dari buku *Sang Mutiara* susunan KH Abdussalam bin KH Ahmad Mughni.


Editor : Muhammad Edwan Ansari,S.Pd.I

COPYRIGHT © Catatan Edwan Ansari, Barabai,  Kalimantan Selatan















Editor : Muhammad Edwan Ansari,S.Pd.I

COPYRIGHT © Catatan Edwan Ansari, Barabai,  Kalimantan Selatan


BIOGRAFI SINGKAT SYEKH MUHAMMAD SYARWANI ABDAN ALBANJARI (GURU BANGIL).

 BIOGRAFI  SINGKAT  SYEKH  MUHAMMAD  SYARWANI  ABDAN ALBANJARI  (GURU BANGIL).



            Syekh Syarwani atau yang lebih dikenal dengan guru bangil, nama lengkapnya adalah al-‘Alim al-Fadhil Syekh Muhammad Syarwani bin ‘Abdan bin Yusuf bin Ahmad bin Sholih bin Thohir bin Syamsuddin bin Sa’idah binti Maulana Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari.

            Ibunya bernama Hj Ulik binti H Abdul Ghoni bin H Abdul Rahim bin H Abu Su’ud bin Syekh Badruddin bin Syekh Kamaluddin.

            Beliau lahir tahun 1915 M/ 1334H. di kampung melayu ilir Martapura, guru beliau di Martapura, antara lain: 1). KH. Muhammad Kasyful Anwar albanjari (paman beliau sendiri), 2) al-Qodhi H Muhammad Thoha, dan 3) KH Ismail Khatib dalam Pagar.

            Pendiri pondok pesantren datu kalampayan Bangil ini, pada usia mudanya setelah mendalami ilmu agama di pondok pesantren Darussalam martapura pimpinan syekh Kasyful Anwar al-Banjari,  kemudian beliau bermukim di bangil untuk menuntut ilmu kepada ulama_ulama besar  seperti KH. Muhdor gondang, KH. Bajuri bangil, KH. ahmad jufri pasuruan, dan KH.abu hasan wetan alun bangil

            Pada usia 16 tahun, beliau berama sepupunya Syekh al-Mufassir walmuhaddits Anang Sya’roni arif pergi ketanah suci untuk menuntut ilmu agama  kepada ulama besar di sana dalam pengawasan dan bimbingan penuh syeckh Muhammad kasyful anwar al-Banjari. Di sana beliau berguru dengan sejumlah ulama besar antara lain: Assyyid Muhammad Amin Kutbi al-Hasaniy al-Madani, Sayyid Alwi bin Abbas al-Maliki al-Hasani al-Makki,  Syekh Umar Hamdan al-Mahrusiy al-Madaniy, Syekh Muhammad ‘Arobiy. Syekh Hasan Masysyath, syekh Abdullah al-Bukhori, syekh saifullah al-Dagistaniy, syekh syafi’I al-Qodahiy, Syekh Sulaiman ambon serta syekh Muhammad ahyad al-Buguri al-Batawi. Lebih dari 10 tahun beliau mengaji di tanah suci Makkah al-Mukarromah ini.

            Beliau dikenal oleh para kawan-kawan ngaji dan guru-gurunya sebagai santri yang cerdas dan tawadhu’. Beliau dan KH sya’roni arif disebut dengan DUA MUTIARA dari Banjar.

            Beliau mendapat kepercayaan untuk mengajar di masjidil  Haram beberapa tahun lamanya. Di Makkah beliau mendapat Ijazah Thoriqot annaqsyabandiah dari Syekh Umar Hamdan, dan thoriqot al-Sammaniyyah dari syekh Ali bin Abdullah al-Banjari..

            Setelah mengaji di Mekkah beliau pulang kampung dan membuka majlis dirumah dan mengajar di almamaternya yaitu PP Darussalam Martapura pimpinan Syekh Muhammad Kasyful Anwar al-Banjari, paman beliau sendiri.

            Pada tanggal 27 Rajab 1390H/ bulan September 1970 beliau mendirikan PP Datu Kalampaian di bangil, salah satu santri pertamanya adalah Syekh Muhamad as’ad  bin Syekh Muhammad ‘arfan al-Banjari.

Beliau wafat pada hari senin malam selasa tanggal 13 Shofar 1410/ 11 September 1989, sekitar jam 19.00 diusia 74 tahun. Dan dimakamkan di pemakaman al-Haddad Dawur Bangil, dekat Qubah Makam habib Muhammad bin Ja’far al-Haddad.  

            Menurut pengakuan abah guru sekumpul, guru bangil mempunyai kepribadian yang sangat sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga tidak banyak yang tau bahwa beliau adalah seorang ulama besar. Berpakaian sangat sederhana, bahkan beliau tidak mempunyai lemari pakaian khusus dan ranjang di kamarnya, pakaian beliau hanya numpang di bagian lemari kitabnya. Beliau ulama yang telah mengambil jalan Khumul, yaitu menjauh dari keramaian, tidak suka dan berharap kepada kemasyhuran/ketenaran. Sampai-sampai Syekh KH Abdul Hamid Pasuruan mengatakan: “ Saya ingin sekali seperti KH syarwani, dia itu alim tapi mastur (tertutup/tersembunyi), tidak masyhur. Kalau saya sudah terlanjur masyhur, jadi saya sering kerepotan karna harus melayani banyak orang/tamu. Menjadi masyhur itu tidak mudah, bebannya berat. Kalau KH Syarwani itu enak, jadinya tidak banyak didatangi orang”

            Pernah Suatu ketika sekelompok ulama/Kiayi berkumpul dan hendak memperdalam ilmu agama kepada KH Abdul Hamid, lalu beliau menolak dan menganjurkan untuk bertemu dengan KH Bangil, akhirnya mereka berangkat menuju rumah Kiai Bangil dengan mempersiapkan sejumlah pertanyaan untuk mengetahui seberapa dalam kah ilmu guru bangil itu. Ketika mereka sampai di rumah guru bangil, sang guru sedang duduk sambil membaca sebuah kitab. Di awal pembicaraan dan sebelum mereka mengajukan pertanyaan, guru bertanya lerlebih dahulu,:” Kalian kesini ingin bertanya ini dan itu kan???????” sambil menunjuk kitab yang masih dibukanya itu.

            Kejadian itu membuat kaget sekelompok kiai itu dan mereka yakin bahwa guru bangil  disamping mempunyai ilmu agama yang luas juga mempunyai mata batin/kasyaf  yang kuat.  Setelah itu mereka meminta guru untuk membuka majlis bagi mereka, namun beliau tidak langsung meng-iya-kannya, tetapi menanyakannya kepada KH Abdul Hamid dan setelah KH A.Hamid menyetujuinya, baru guru bangil memenuhi permintaan mereka untuk membuka majlis.

            Karya tulis beliau sangat banyak, antara lain adalah kitab al-Dakhirotuts-Tsaminah liahlil Istiqomah, isinya membahas seputar  amaliayah ahlussunah waljamaah seperti masalah talqin, tahlil dan tawassul.

            Murid-murid beliau sangat banyak, antara lain:


    KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghoni / guru sekumpul

    KH Muhammad As’ad bin Muhammad Arfan al-Banjari

    KH Muhammad Syukri Unus al-Nahwiy al-Banjari

    KH Prof DR. A. Syarwani Zuhri Balikpapan

    dll


Demikian sekilas sejarah hidup syekh Muhammad Syarwani Abdan al-Banjari, yang dengan mengingatnya fa insya Allah akan turun banyak rahmat kepada kita semua, dan semoga kisah sejarah ini menggugah hati kita untuk semakin bersemangat untuk mencari ilmu-ilmunya Allah, rajin beribadah, mengaji, istiqomah dalam mengaji, patuh dan berbakti kepada kepada orangtua dan guru , dan semakin cinta kita kepada Allah dan Rasulullah saw, hingga demikian kita akan mendapatkan keberkahan hidup di dunia dan di akhirat, amin.


SUMBER RAUDHATUL MUHIBBIN


Editor : Muhammad Edwan Ansari,S.Pd.I

COPYRIGHT © Catatan Edwan Ansari, Barabai,  Kalimantan Selatan

Syekh Ahmad Khatib Sambas_Kalbar(1803-1875)

 Syekh Ahmad Khatib Sambas_Kalbar(1803-1875)

Sang Pendiri Thoriqot Qodiriyah wan naqsyabandiyyah ( TQN )



Syeikh Ahmad Khatib Sambas yang merupakan Guru para Ulama Nusantara dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat.


Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.


Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.


Guru-gurunya :

1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.

2. Syeh Muhammad Arsyad Al Banjari

3. Syeh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)

4. Syeh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)

5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami

6. Syeh Ahmad al-Marzuqi

7. Syeh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.


Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.


Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.


Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas.


Syeikh Ahmad Khatob Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara.


Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam.


Peranan dan Karyanya


Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.


Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.


Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN nang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.


Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.


Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.


Murid-Muridnya antara lain :

1. Syeh Nawawi Al Bantani

2. Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura

3. Syeh Abdul Karim Banten

4. Syeh Tolhah Cirebon


Syeh Nawawi Al Bantani dan Syeh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syeh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syeh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah.


Sepeninggal Syeh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syeh Muhammad Kholil, Syeh Abdul Karim dan Syeh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Murid murid Syeh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb.


Sebagai contoh, Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain :

1. KH. Hasyim Asy’ari : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional.

2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri.

3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).

4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.

5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah

6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon.

7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.

8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia.

9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah.

10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis.

11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso.

12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep.

13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf.

14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan.

15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan

16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep.

17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso.

18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta.

20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo.

21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat.

22. KH. Abdul Hadi : Lamongan.

23. KH. Zainudin : Nganjuk

24. KH. Maksum : Lasem

25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung

26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo.

27. KH. Munajad : Kertosono

28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang

29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang

30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura

31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi

32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura.

33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso

34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat

35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik

36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.

Dari tiga murid Syeh Ahmad Khatib Sambas, Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah berkembang luas :


- Syeh Abdul Karim Banten mempunyai murid : H. Sangadeli Kaloran, H. Asnawi Bendung Lempuyang, H. Abu Bakar Pontang, H. Tubagus Isma’il Gulatjir dan H. Marzuki Tanara. Dari semua muridnya ini yang paling terkenal adalah yang disebut paling akhir. Dimana, sepulang dari Mekkah H. Marzuki Tanara mendirikan pondok pesantren di tempat kelahirannya (Tanara). Di Tanara ia mengajar dari tahun 1877-1888. Dua ulama terkemuka Banten, Wasid dan Tubagus Isma’il sering berkonsultasi kepadanya tentang masalah agama dan masalah yang ditimbulkan oleh kolonialisme.


Syeh Abdul Karim Banten sempat pulang ke Banten pada tahun 1872, membangkitkan perlawanan thd Belanda yaitu peristiwa pemberontakan petani Banten yang sejatinya adalah perlawanan para pengilkut Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Pada tahun 1876 Syeh Abdul Karim Banten kembali ke Mekkah menggantikan posisi Syeh Ahmad Khatib Sambas yang telah wafat.


TQN centre dari jalur Syeh Abdul Karim Banten selanjutnya berpusat di Pagentongan Bogor dibawah asuhan Syeh Thohir Falak.


- Syeh Tolhah Cirebon mempunyai murid Syeikh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad (Abah Sepuh) yang berguru selama 25 tahun kepada Syeh Tolhah, kemudian diperintahkan oleh gurunya untuk mendirikan pesantren Suryalaya di Tasikmalaya yang kemudian diteruskan oleh anaknya Syeikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom).


- Syeh Muhammad Kholil Bangkalan Madura memberikan estafet Mursyid kepada Syeh Ahmad Hasbullah di Rejoso Jombang, kemudian diteruskan kepada Syeh Khalil diteruskan kepada Syeh Romli Tamim, pimpinan pesantren Rejoso Jombang, diteruskan kepada anaknya Musta'in Romli ketua Jamiah Ahlul Thoriqot Muktabaroh.


Ketika Syeh Mustain Romli berafiliasi ke Golkar, para pengurus Jamiah Ahlul Thoriqoh Muktabaroh membentuk JATMAN (Jamiah Ahlul Thoriqoh Muktabaroh An Nahdliyah) yang tetap berafiliasi ke NU dengan ketua Syeh Adlan Ali, salah satu murid Syeh Romli Tamim, pimpinan pesantren Cukir Jombang. Sepeninggal Kyai Adelan Ali ketua JATMAN dijabat oleh Habib Luthfi Bin Yahya Pekalongan (Tarekat Syadziliyah) sampai sekarang.


Syeh Romli Tamim juga mempunyai murid Syeh Muslih pesantren Mranggen Semarang yang mengembangkan tarekat TQN di Jawa Tengah.

Syaikh Umar bin Achmad Baradja, PENGARANG KITAB AKHLAKU LIL BANIN WA LIL BANAT

 MENGENANG PENGARANG KITAB AKHLAKU LIL BANIN WA LIL BANAT



Syaikh Umar bin Achmad Baradja lahir di kampung Ampel Maghfur, pada 10 Jumadil Akhir 1331 H/17 Mei 1913 M. Sejak kecil dia diasuh dan dididik kakeknya dari pihak ibu, Syaikh Hasan bin Muhammad Baradja , seoarang ulama ahli nahwu dan fiqih.





Nasab Baradja berasal dari (dan berpusat di) Seiwun, Hadramaut, Yaman. Sebagai nama nenek moyangnya yang ke-18, Syaikh Sa’ad, laqab (julukannya) Abi Raja’ (yang selalu berharap). Mata rantai keturunan tersebut bertemu pada kakek Nabi Muhammad SAW yang kelima , bernama Kilab bin Murrah.


Pada masa mudanya, Umar Baradja menuntut ilmu agama dan bahasa Arab dengan tekun, sehingga dia menguasai dan memahaminya. Berbagai ilmu agama dan bahasa Arab dia dapatkan dari ulama, ustadz, syaikh, baik melalui pertemuan langsung maupun melalui surat. Para alim ulama dan orang-orang shalih telah menyaksikan ketaqwaan dan kedudukannya sebagai ulama yang ‘amil. Ulama yang mengamalkan ilmunya.


Dia adalah salah seorang alumnus yang berhasil, didikan madrasah Al-Khairiyah di kampung Ampel, Surabaya, yang didirikan dan dibina Al-habib Al-Imam Muhammad bin Achmad Al-Muhdhar pada 1895. Sekolah yang berasaskan Ahlussunnah wal Jama’ah dan bermadzhab Syafi’i.


Guru-guru Syaikh Umar Baradja, antara lain, Al-Ustadz Abdul Qodir bin Ahmad bil Faqih (Malang), Al-Ustadz Muhammad bin Husein Ba’bud (Lawang), Al-Habib Abdul Qodir bin Hadi Assegaf, Al-Habib Muhammad bin Ahmad Assegaf (Surabaya), Al-Habib Alwi bin Abdullah Assegaf (Solo), Al-Habib Ahmad bin Alwi Al-Jufri (Pekalongan), Al-Habib Ali bin Husein Bin Syahab, Al-Habib Zein bin Abdullah Alkaf (Gresik), Al-Habib Ahmad bin Ghalib Al-Hamid (Surabaya), Al-Habib Alwi bin Muhammad Al-Muhdhar (Bondowoso), Al-Habib Abdullah bin Hasa Maulachela, Al-Habib Hamid bin Muhammad As-Sery(Malang), Syaikh Robaah Hassunah Al-Kholili (Palestina), Syaikh Muhammad Mursyid (Mesir) – keduanya tugas mengajar di Indonesia.


Guru-gurunya yang berada di luar negeri diantaranya, Al-Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki, As-Sayyid Muhammad bin Ami n Al-Quthbi, As-Syaikh Muhmmad Seif Nur, As-Syaikh Hasan Muhammad Al-Masysyath, Al-Habib Alwi bin Salim Alkaff, As-Syaikh Muhammad Said Al-Hadrawi Al-Makky (Mekkah), Al-Habib Muhammad bin Hady Assegaf(Seiwun, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Abdullah bin Ahmad Al-Haddar, Al-Habib Hadi 


bin Ahmad Al-Haddar (‘inat, Hadramaut, Yaman) , Al-habib Abdullah bin Thahir Al-Haddad (Geidun, Hadaramaut, Yaman), Al-Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiri (Tarim, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Hasan bin Ismail Bin Syeikh Abu Bakar (‘inat, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Ali bin Zein Al-Hadi, Al-Habib Alwi bin Abdullah Bin Syahab (Tarim, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Abdullah bin Hamid Assegaf (Seiwun, Hadramaut, Yaman), Al-Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar (Al-Baidhaa, Yaman) , Al-Habib Ali bin Zein Bilfagih (Abu Dhabi, Uni Emirat Arab), As-Syaikh Muhammad Bakhit Al-Muthii’i (Mesir), SayyidiMuhammad Al-Fatih Al-Kattani (Faaz, Maroko), Sayyidi Muhammad Al-Munthashir Al-Kattani (Marakisy, Maroko) , Al-Habib Alwi bin Thohir Al-Haddad (Johor, Malaysia), Syeikh Abdul ‘Aliim As-Shiddiqi (India), Syaikh Hasanain Muhammad Makhluf (Mesir), Al-Habib Abdul Qodir bin Achmad Assegaf (Jeddah, Arab Saudi).


Buku-buku karya Syaikh Umar Baraja dari Surabaya. Sudah sekitar 11 judul buku yang diterbitkan, seperti Al-Akhlaq Lil Banin, kitab Al-Akhlaq Lil Banat, kiab Sullam Fiqih, kitab 17 Jauharah, dan kitab Ad’iyah Ramadhan. Semuanya terbit dalam bahasa Arab, sejak 1950 telah digunakan sebagai buku kurikulum di seluruh pondok pesantren di Indonesia. Ya, secara tidak langsung Syaikh Umar Baradja ikut mengukir akhlaq para santri di Indonesia.


Buku-buku tersebut pernah di cetak Kairo, Mesir, pada 1969 atas biaya Syeikh Siraj Ka’ki, dermawan Mekkah, yang di bagikan secara cuma-cuma ke seluruh dunia Islam. Syukur alhamdulillah, atas ridha dan niatnya agar buku-buku ini menjadi jariyah dan bermanfaat luas, pada 1992 telah di terbitkan buku-buku tersebut ke dalam bahasa Indonesia, Jawa, Madura, dan Sunda.


Salah satu karya monumentanya adalah membangun Masjid Al-Khair (danakarya I-48/50, Surabaya) pada tahun 1971, bersama KH. Adnan Chamim, setelah mendapat petunjuk dari Al-Habib Sholeh bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul) dan Al-habib Zein bin Abdullah Al-Kaff (Gresik). 


Masjid ini sekarang digunakan untuk berbagai kepentingan dakwah masyarakat Surabaya. Penamplan Syeikh Umar sangat bersahaja, tetapi dihiasi sifat-sifat ketulusan niat yang disertai keikhlasan dalam segala amal perbuatan duniawi dan ukhrawi. Dia juga mejabarkan akhlaq ahlul bait, keluarga Nabi dan para sahabat, yang mencontoh baginda Nabi Muhammad SAW. Dia tidak suka membangga-banggakan diri, baik tentang ilmu, amal, maupun ibadah. Ini karena sifat tawadhu’ dan rendah hatinya sangat tinggi.


Pada saat sebelum mendekati ajalnya, Syaikh umar sempat berwasiat kepada putra-putra dan anak didiknya agar selalu berpegang teguh pada ajaran assalaf asshalih. Yaitu ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah, yang dianut mayoritas kaum muslim di Indonesia dan Thariqah ‘Alawiyyah, dan bermata rantai sampai kepada ahlul bait Nabi, para sahabat, yang semuanya bersumber dari Rasulullah SAW.


Syaikh Umar memanfaatkan ilmu, waktu, umur, dan membelanjakan hartanya di jalan Allah sampai akhir hayatnya. Ia memenuhi panggilan Rabb-nya pada hari Sabtu malam Ahad tanggal 16 Rabiuts Tsani 1411 H/3 November 1990 M pukul 23.10 WIB di Rumah Sakit Islam Surabaya, dalam usia 77 Tahun.


Keesokan harinya Ahad ba’da Ashar, ia dimakamkan, setelah dishalatkan di Masjid Agung Sunan Ampel, diimami putranya sendiri yang menjadi khalifah (penggantinya), Al-Ustadz Ahmad bin Umar Baradja. Jasad mulia itu dikuburkan di makam Islam Pegirian Surabaya. Prosesi pemakamannya dihadiri ribuan orang.


Sumber : Majalah AlKisah No. 07/Tahun V/26 Maret – 8 April 2007 Hal. 85-89.

Guru Samman Mulia, Guru Bangil, Guru Anang Sya'rani Areif, Guru Nashrun Thohir, Guru Abdurrahman Ismail, Guru Nawawi (

 Ini gambar langka yg diambil di kota Mekkah tahun 50 an, dimana ini merupakan gambar para Wali-wali Allah asal Martapura yg sedang menuntul Ilmu di Kota Mekkah yang hasilnya menjadikan Kota Martapura menjadi betul betul serambi mekkah.Ini gambar juga merupakan para Guru-Guru Abah Guru Sekumpul diantaranya Almarhum Guru Samman Mulia, Guru Bangil, Guru Anang Sya'rani Areif, Guru Nashrun Thohir, Guru

Abdurrahman Ismail, Guru Nawawi (Masih Hidup sekarang) dan Guru-guru Darussalam lainnya yg pada waktu itu rombongan asal Martapura yg menuntut Ilmu di Mekkah.Maaf lun kada tahu jua yg mana2 sidin karena kada pinandu,Sidin2 dahulu bermukim di rumah Datuk Kalampayan di Mekkah yg pada waktu itu diwarisi KH Ali Bin Abdullah Al Banjari (salah satu mursyid Tarekat Sammaniyah waktu itu abahnya Almarhum Guru Husin Ali).



Sekarang Rumah Datuk Kalampayan di jabal Hindi yg dulu 2 tingkat itu telah dihancurkan pemerintah saudi... kada kawa lagi kita meambil tabarruk dengan rumah yang pernah ditinggali para Wali-wali Allah itu. ( foto oleh saudara kami Rusdian nor ) aby husein al adamy

Syeikh Ahmad Khotib Sambas Guru Para Ulama Nusantara

SANTRI NUSANTARA PASTI NYAMBUNG DISINI SILSILAH GURUNYA 


SISILAH NASAB ILMU ULAMA NUsantara: Syeikh Ahmad Khotib Sambas Guru Para Ulama Nusantara



Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama yang mendirikan perkumpulan Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah. Perkumpulan Tarekat ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua Tarekat sufi besar. yakni Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsyabandiyah. 


Syekh Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 H. bertepatan dengan tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’. Pada masa-masa tersebut, tradisi merantau (nomaden) memang masih menjadi bagian cara hidup masyarakat di Kalimantan Barat. 


Ahmad Khatib Sambas menjalani masa-masa kecil dan masa remajanya. Di mana sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas. 


Karena terlihat keistimewaannya terhadap penguasaan ilmu-ilmu keagamaan, Ahmad Khatib Sambas kemudian dikirim oleh orang tuanya untuk meneruskan pendidikannya ke Timur Tengah, khususnya Mekkah. Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M. 


Guru-gurunya: 

1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas. 

2. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari 

3. Syekh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah) 

4. Syekh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah) 

5. Syeikh Abdul hafidzz al-Ajami 

6. Syekh Ahmad al-Marzuqi 

7. Syekh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah. 


Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air. 


Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syeikh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Makkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani yg masyhur disebut sayyid ulama hijaz(tuannya ulama makkah)  adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.


Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas. 


Syeikh Ahmad Khotib Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainny seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah. 


Sebagian besar penulis Eropa membuat catatan salah, ketika mereka menyatakan bahwa sebagian besar Ulama Indonesia bermusuhan dengan pengikut sufi. Hal terpenting yang perlu ditekankan adalah bahwa Syeikh Sambas adalah sebagai seorang Ulama (dalam asti intelektual), yan g juga sebagai seorang sufi (dalam arti pemuka thariqat) serta seorang pemimpin umat yang memiliki banyak sekali murid di Nusantara. 


Hal ini dikarenakan perkumpulan Thariqat Qadiriyyah wa Naqsabhandiyyah yang didirikannya, telah menarik perhatian sebagian masyarakat muslim Indonesia, khususnya di wilayah Madura, Banten, dan Cirebon, dan tersebar luas hingga ke Malaysia, Singapura, Thailand, dan Brunei Darussalam. 


Peranan Dan Karyanya 


Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini. 


Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan. 


Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN nang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah. 


Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini. 


Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manusrkip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam. 


Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid Beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. 


Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir. 


Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali. 


Murid-Muridnya Antara Lain: 

1. Syekh Nawawi Al Bantani 

2. Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura 

3. Syekh Abdul Karim Banten 

4. Syekh Tolhah Cirebon 


Syekh Nawawi Al Bantani dan Syekh Muhammad Kholil selain berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Sambas juga berguru kepada Syekh Ahmad Zaini Dahlan, mufti mazhab Syafii di Masjidil Haram Mekkah. 


Sepeninggal Syekh Ahmad Khatib Sambas, Imam Nawawi Al Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah tapi tidak diberi hak membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Sedangkan Syekh Muhammad Kholil, Syekh Abdul Karim dan Syekh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. 


Murid murid Syekh Ahmad Khatib Sambas diatas adalah guru para Ulama-Ulama Nusantara generasi berikutnya yang dikemudian hari menjadi ulama yang mendirikan pondok pesantren dan biasa dipanggil dan digelari sebagai KYAI, Tuan Guru, Ajengan, dsb. 


Sebagai contoh, Syekh Muhammad Kholil Bangkalan Madura mempunyai murid-murid antara lain: 


1. KH. Hasyim Asy’ar : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang. Beliau juga dikenal sebagai pendiri organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bahkan beliau tercatat sebagai Pahlawan Nasional punya murid Kh chudori magelang punya putra kh abdurrahman chudori guru alfaqir.

2. KHR. As’ad Syamsul Arifin : Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. Pesantren ini sekarang memiliki belasan ribu orang santri. 

3. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971). 

4. KH. Bisri Syamsuri: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang. 

5. KH. Maksum : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah 

6. KH. Bisri Mustofa : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Beliau juga dikenal sebagai mufassir Al Quran. Kitab tafsirnya dapat dibaca sampai sekarang, berjudul “Al-Ibriz” sebanyak 3 jilid tebal berhuruf jawa pegon. 

7. KH. Muhammad Siddiq : Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember. 

8. KH. Muhammad Hasan Genggong : Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong. Pesantren ini memiliki ribuan santri dari seluruh penjuru Indonesia. 

9. KH. Zaini Mun’im : Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Pesantren ini juga tergolong besar, memiliki ribuan santri dan sebuah Universitas yang cukup megah. 

10. KH. Abdullah Mubarok : Pendiri, Pengasuh Pondok , kini dikenal juga menampung pengobatan para morphinis. 

11. KH. Asy’ari : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Darut Tholabah, Wonosari Bondowoso. 

12. KH. Abi Sujak : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Astatinggi, Kebun Agung, Sumenep. 

13. KH. Ali Wafa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Temporejo, Jember. Pesantren ini mempunyai ciri khas yang tersendiri, yaitu keahliannya tentang ilmu nahwu dan sharaf. 

14. KH. Toha : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Bata-bata, Pamekasan. 

15. KH. Mustofa : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Macan Putih, Blambangan 

16. KH Usmuni : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Pandean Sumenep. 

17. KH. Karimullah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Curah Damai, Bondowoso. 

18. KH. Manaf Abdul Karim : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. 

19. KH. Munawwir : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. 

20. KH. Khozin : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Buduran, Sidoarjo. 

21. KH. Nawawi : Pendiri, pengasuh pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan. Pesantren ini sangat berwibawa. Selain karena prinsip salaf tetap dipegang teguh, juga sangat hati-hati dalam menerima sumbangan. Sering kali menolak sumbangan kalau patut diduga terdapat subhat. 

22. KH. Abdul Hadi : Lamongan. 

23. KH. Zainudin : Nganjuk 

24. KH. Maksum : Lasem 

25. KH. Abdul Fatah : Pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Al Fattah, Tulungagung 

26. KH. Zainul Abidin : Kraksan Probolinggo. 

27. KH. Munajad : Kertosono 

28. KH. Romli Tamim : Rejoso jombang 

29. KH. Muhammad Anwar : Pacul Bawang, Jombang 

30. KH. Abdul Madjid : Bata-bata, Pamekasan, Madura 

31. KH. Abdul Hamid bin Itsbat, banyuwangi 

32. KH. Muhammad Thohir jamaluddin : Sumber Gayam, Madura. 

33. KH. Zainur Rasyid : Kironggo, Bondowoso 

34. KH. Hasan Mustofa : Garut Jawa Barat 

35. KH. Raden Fakih Maskumambang : Gresik 

36. KH. Sayyid Ali Bafaqih : Pendiri, pengasuh Pesantren Loloan Barat, Negara, Bali.