Senin, Desember 21, 2009

KONGRES XXV HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

PENJELASAN TEMA KONGRES XXV HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM
“MEMBANGUN HMI BARU DAN MASA DEPAN BANGSA”
Oleh Kongres XXV HMI
Perubahan adalah satu-satunya bukti kehidupan”),



“Bukanlah yang terkuat yang akan terus hidup, melainkan yang paling adaptif.”
--Charles Darwin (Ilmuwan)

“The ultimate measure of a man is not where he stands in moments of comfort and convenience, but where he stands at times of challenge and controversy”.
--Martin Luther King (pejuang HAM kulit hitam)

2
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”


H
impunan Mahasiswa Islam lahir 14 Rabiul Awal 1366 Hijriah, bertepatan dengan 5 Februari 1947 Masehi. Dus, pada 14 Rabiul Awal 1427 (kira-kira 14
Maret 2006) HMI genap berusia 61 tahun (hijriah) dan 5 Februari 2006 tepat
berusia 59 tahun (masehi). Suatu usia yang cukup berumur dan tentu saja mengundang sejumlah konsekuensi. Bagaimanakah kondisi HMI dalam usianya yang telah menginjak 61/59 tahun tersebut? Banyak instrumen analisa dan perspektif yang dapat kita gunakan untuk memahami kondisi HMI saat ini, diantaranya adalah arkeologi dan geneologi pengetahuan yang diperkenalkan oleh Michel Foucault.1

Metode arkeologi memfokuskan kajian pada pernyataan atau wacana dengan sistem prosedur yang memproduksi, mengatur, mendistribusi, mensirkulasi, dan mengoperasikannya. Mengupas wacana sebagai suatu sistem ‘internal’ dengan
‘prosedur-prosedurnya’ yang teratur. Sedangkan geneologi memberikan pusat perhatian pada hubungan timbal balik antara sistem kebenaran
(pernyataan/wacana) dengan sistem kuasa (mekanisme yang didalamnya suatu
“rezim politis” memproduksi kebenaran). Geneologi tidak berusaha menegakkan pondasi-pondasi epistemologis yang istimewa, tapi ia mau menunjukkan bahwa asal- usul apa yang kita anggap rasional, pembawa kebenaran, berakar dalam dominasi, penaklukan, hubungan kekuatan-kekuatan atau dalam suatu kata, kuasa.2

Dengan menggunakan perspektif arkelogi dan geneologi pengetahuan, berarti kita akan melihat realitas HMI saat ini sebagai suatu realitas wacana/sistem pengetahuan dimana di dalam sistem wacana/pengetahuan tersebut terdapat prosedur-prosedur yang memegang kendali atas proses produksi, pengaturan, pendistribusian, pensirkulasian, dan pengoperasian sistem wacana/pengetahuan tersebut serta terdapat sistem kuasa atau relasi kuasa yang mengukuhkan sistem wacana/pengetahuan tersebut. Prosedur-prosedur tersebut kemudian kita sebut



1 Michel Foucault lahir pada 15 Oktober 1926 di Pointers, Perancis. Ia menempuh pendidikan di ENS
(Ecole Normale Superieme) Universitas Sorbornne, Paris. Dia menulis banyak karya yang mengejutkan, diantaranya Histoire de la folie a l ‘age classiqe: Une archeologie du regard medical (Lahirnya Klinik: Sebuah Arkeologi tentang Tatapan Medis) (PUF, 1963); Les Mots et les Choses: Une archeologie des sciences humaines (Kata-kata dan benda-benda: Sebuah Arkeologi tentang Ilmu-Ilmu Manusia) (Gallimard, 1966); L ‘archeologie du Savoir (Arkeologi Pengetahuan) (Gallimard, 1969); Surveiller et Punir: Naissance de la Prison (Menjaga dan Menghukum: Lahirnya Penjara) (Gallimard, 1974): dan trilogi Histoire de la Sexualite
(Sejarah Seksualitas) (Gallimard, 1976-1984). Serta sebuah esai terkenal Nietzsche, Genealogy, History
(1971).
2 A. Widyarsono, Sekilas Mengenal Michel Foucault, dalam Pendahuluan buku P. Sunu Hardiyanta, Michel Foucault Disiplin Tubuh Bengkel Individu Modern, LkiS, Yogyakarta, 1997, hal 10-11. Contoh penerapan arkeologi dan geneologi pengetahuan adalah kajian Simon Philpott terhadap wacana politik Indonesia, ia menemukan bahwa wacana politik Indonesia dikendalikan oleh (relasi kuasa) pertama, faktor dekolonisasi, perang dingin, dan peran Amerika Serikat di Indonesia. Kedua, kehadiran teks-teks hegemonik yang dilahirkan para Indonesianis, yang hadir di awal kemunculan kajian politik Indonesia, yang kemudian membentuk rezim kajian. Faktor-faktor tersebut menghasilkan wacana politik Indonesia menjadi elitis, historisis, orientalis, dan terjebak dalam nalar realis yang spasial. Lihat Simon Philpott, Meruntuhkan Indonesia: Politik Postkolonial dan Otoritarianisme, penerjemah Nuruddin Mhd Ali & Uzair Fauzan, LkiS, Yogyakarta 2003.
3
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

sebagai fundamental codes of cultures3 yang mewakili dimensi “nalar” dan relasi kuasa mewakili dimensi politis.

Konsekuensi dari perspektif ini adalah bahwa realitas HMI saat ini tidaklah merupakan suatu realitas yang terbentuk dengan sendirinya melainkan terbentuk melalui proses diskursif dimana terjadi proses pengukuhan fundamental codes of cultures dan relasi kuasa tertentu dan proses peminggiran fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang lainnya. Fundamental codes of cultures dan relasi kuasa tersebut kemudian “berwenang” menentukan mana fakta-fakta sosial dan pengetahuan yang dapat terus eksis, bahkan muncul sebagai “pemenang” dan menjadi mainstream (arus utama) atau mendominasi “wajah” realitas namun juga ada fakta-fakta sosial dan pengetahuan yang jadi “pecundang” dan terpinggirkan
(pheripheri) sehingga ia bisa jadi hanya berupa bercak saja atau malah benar-benar tersamar dari “wajah” realitas. Contohnya, di HMI berkembang beragam wacana keagamaan, wacana keagamaan yang modern-moderat-inklusif nampaknya merupakan “pemenang” dan wacana keagamaan yang tradisional-radikal-eksklusif merupakan “pecundang”, tetap berkembang namun tidak menjadi mainstream. Contoh lain, frame berpikir political oriented merupakan “pemenang”, sementara frame berpikir yang berorientasikan profesi adalah “pecundang”. Kemudian, orientasi politik-struktural merupakan “pemenang”, dan orientasi politik-kultural merupakan “pecundang”. Semangat ketergantungan terhadap senior/alumni adalah
“pemenang” dan semangat independen/mandiri adalah “pecundang”, serta masih banyak contoh lainnya yang menentukan siapa pemenang dan pecundangnya merupakan “kewenangan” atau tergantung “selera” fundamental codes of cultures dan relasi kuasa.

Ketika sistem pengetahuan tersebut dengan fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang dimilikinya sudah demikian eksis dan tidak ada perlawanan terhadapnya, maka anggota HMI saat ini sesungguhnya tidak lebih dari robot-robot yang digerakkan secara otomatis oleh fundamental codes of cultures dan relasi kuasa tersebut. Ia dideterminasi cara berpikir dan tindakannya oleh fundamental codes of cultures dan relasi kuasa tersebut.

Dus, anggota HMI tidak lebih sebagai pelanjut tradisi tanpa inovasi. Sebagai pelanjut saja dari senior-seniornya, maka wajar saja bila istilah-istilah seperti “bagaimana senior? apa perintahnya”, “adinda terserah senior saja” dan sebagainya menjadi cukup populer di HMI. Istilah-istilah tersebut, secara ekstrim menggambarkan hubungan patron-client (tuan-hamba) antara senior (alumni) dan anggota HMI.





3 Secara bebas kita bisa menterjemahkan fundamental codes of cultures sebagai kaidah-kaidah dasar yang mengendalikan suatu kebudayaan. Dia juga dapat diartikan sebagai logika dasar atau nalar yang membentuk pola pikir dan pola tindakan suatu komunitas. Fundamental codes of cultures dapat diibaratkan suatu rel dan kereta api adalah pernyataan dan tindakan suatu komunitas. Fundamental codes of cultures tidak nampak di permukaan namun pernyataan-pernyataan yang dihasilkan suatu komunitas bila dianalisa lebih dalam melalui suatu metode tertentu akan menggambarkan keberadaan fundamental codes of culture-nya dengan sangat jelas.
4
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

Fundamental codes of cultures dan relasi kuasa ada yang buruk, dan tentu ada juga yang baik. Namun pasti ada fundamental codes of cultures dan relasi kuasa (yang buruk) yang menyebabkan kader HMI saat ini demikian pasrah pada “memory of the past”, pada kenangan masa lalu. Menggantungkan eksistensinya pada “kebesaran seniornya”, “berlindung di balik keagungan sejarah HMI” yang tidak pernah dibuatnya namun ia terus asyik memparasitkan diri menghisap “keberkahan” darinya. Inilah potret kader HMI yang kehilangan kritisismenya, tuli terhadap
“memory of the future” (cita-cita masa depan) dan mengambil sikap ‘resist to change’, menolak perubahan. Kader HMI lupa bahwa pernyataan senior/masa lalu memang ada benarnya namun banyak juga yang sudah tidak benar lagi karena ‘zaman telah berubah’. Dalam konteks ini, pernyataan almarhum Nurcholish Madjid agar HMI dibubarkan saja menemukan pembenar karena beliau melihat bahwa relevansi HMI bagi masa kini dan apalagi bagi masa depan sudah jauh berkurang, kalaupun bukannya tidak ada lagi. HMI tidak lagi menjadi elemen penggerak kemajuan melainkan kekuatan status quo dan bahkan sebaliknya menggerakkan pada kemunduran.

Dengan demikian siapakah yang patut disalahkan atas kondisi HMI yang katanya mengalami kemunduran, mengalami konflik perpecahan di tubuh PB HMI yang terjadi dua kali berturut-turut, dan kelemahan lainnya dari organisasi HMI saat ini? Tidak ada seorang pun yang perlu disalahkan karena kondisi HMI saat ini merupakan produk fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang hidup dalam tubuh HMI. Fundamental codes of cultures dan relasi kuasa dapat bersemayam dan dikukuhkan dalam media seperti doktrin organisasi, aturan organisasi (AD, ART dan penjabarannya), dalam pola pendanaan aktivitas HMI, dan dalam pola interaksi keseharian antara kader dan pengurus HMI atau antara kader/pengurus dengan alumninya. Semuanya terbentuk melalui proses historis yang agak sulit dikendalikan oleh orang per orang, hanya tanggung jawab kolektif (generasi) yang dapat menghadapinya. Persoalannya adalah telah terdapat sejumlah generasi yang tidak menyadari bahwa ada fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang bekerja di tubuh HMI, yang disamping mengusung kebesaran HMI namun juga bekerja “menghancurkan” HMI, menghantarkan HMI pada ketidakrelevanannya dengan zaman.

Menyadari hal tersebut, sudah sepatutnya generasi sekarang mengembangkan kesadaran untuk mengenali fundamental codes of cultures dan relasi kuasa tersebut, mengambil sikap dan tindakan terhadapnya. Iktiar inilah yang merupakan upaya menghadirkan suatu ‘HMI Baru’ dan merupakan suatu bentuk rasa tanggung jawab sebagai kader HMI yang cinta akan organisasinya. ‘HMI Baru’ adalah HMI yang terbebas dari fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang buruk yang menyebabkan ia tertawan oleh masa lalu, dan “menebalkan” fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang baik serta menanamkan benih suatu fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang baru sehingga HMI dapat menyambut ‘kelahirannya kembali’ dan dengan penampilan meyakinkan mewarnai
‘zaman yang telah berubah’ ini. Ikhtiar untuk melaksanakan hal ini membutuhkan komitmen kuat dan terfasilitasi dengan baik sehingga forum tertinggi organisasi, Kongres, merupakan wadah yang paling tepat untuk membangun dasar-dasar ‘HMI

5
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

Baru’ tersebut. Karena disana akan ditentukan (perubahan) doktrin organisasi
(NDP), aturan main yang mendasar dari organisasi (AD, ART dan penjabarannya), program kerja serta nakhoda baru organisasi. Momentum ini hadir dua tahun sekali....demi masa depan yang lebih baik, jangan sia-siakan kesempatan ini !!!

DEFINISI HMI BARU

I
khtiar menghadirkan ‘HMI Baru’ adalah bentuk perlawanan terhadap kondisi
HMI yang menjauhi idealitas, terjebak pada kejumudan dan kehilangan
“syahwat” inovasi. Untuk itu, ‘HMI Baru’ harus terampil memperlakukan masa

lalunya. Ia tahu mana yang patut diteruskan dan mana yang patut disudahi. Dalam bahasa lain, terampil membebaskan diri dari fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang buruk yang menyebabkan ia tertawan oleh masa lalu, dan “menebalkan” fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang baik serta terampil menanamkan benih fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang mampu membuatnya berseri-seri menyambut masa depan. Ia juga terampil menghadirkan masa depan dan benih-benihnya pada kondisi kekinian. Ia terampil mengelola tekanan masa lalu
(yang terkadang disertai tawaran “gula”) dan tuntutan masa depan (yang terkadang disertai “pil pahit”) yang kemudian diformulasikannya dalam kerja nyata organisasi.

Bila fundamental codes of cultures dan relasi kuasa yang buruk adalah dominasi materialisme dan political oriented dalam cara berpikir kita; ketidakpastian sumber pendanaan organisasi yang diantaranya berpengaruh pada kesulitan dalam mensinambungkan kerja-kerja organisasi dan kesulitan transparansi penggunaan dana; relasi kuasa yang dominan dengan politisi; serta sistem kepengurusan yang mengoligarki maka ‘HMI Baru’ harus membebaskan diri dari semua itu.

Secara normatif, kita dapat meraba bahwa ‘HMI Baru’ adalah HMI yang bila sebelumnya ia adalah organisasi kumpulan pemalas, maka ia adalah organisasi kumpulan orang rajin. BiIa sebelumnya adalah organisasi yang administrasi organisasinya buruk, maka ia adalah organisasi yang administrasi organisasinya baik. Bila sebelumnya adalah organisasi yang tidak transparan dalam pengelolaan uang, maka ia adalah organisasi yang transparan dalam pengelolaan uang. Bila sebelumnya ia adalah organisasi yang berkonflik dengan buruk, maka ia adalah organisasi yang berkonflik dengan baik. Bila sebelumnya adalah organisasi yang tidak independen, maka ia adalah organisasi yang independen. Bila sebelumnya adalah organisasi yang tidak inovatif, maka ia adalah organisasi yang inovatif, dan seterusnya. Masing-masing dari kita dapat menambahkan daftar tersebut dengan memasukkan apa yang tidak ideal dan memasukkan lawannya yang ideal sebagai satu karakter dari ’HMI Baru’. Namun yang pasti ’HMI Baru’ tidak asal beda dan tidak untuk benar-benar mendirikan suatu organisasi baru sebagai sempalan HMI seperti HMI MPO.







6
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

HMI BARU DAN MASA DEPAN BANGSA

K
eberadaan HMI tentunya memiliki dampak terhadap bangsa (dan negara) Indonesia, positif maupun negatif, dan besar maupun kecil. Hal ini disebabkan karena kader HMI adalah --hampir dapat dipastikan
seluruhnya— generasi muda bangsa Indonesia yang kelak Insya Allah akan menempati posisi strategis di bangsa Indonesia. Sehingga nilai-nilai dan kualitas sumber daya manusia yang mereka miliki akan turut menentukan nilai-nilai dan kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia di masa yang akan datang.

Oleh karena ia merupakan manifestasi idealitas HMI, ‘HMI Baru’ tentunya diharapkan memiliki dampak yang positif terhadap bangsa dan negara Indonesia. Logika yang dibangun memang merupakan logika linear sederhana. Hal ini tentu akan berjalan demikian bila terjadi transformasi yang baik dari ‘HMI Baru’ yang merupakan generasi muda bangsa tersebut hingga eks ‘HMI Baru’ yang kemudian memegang posisi strategis bangsa dan negara. Namun dari gambaran ini adalah logis bila dikatakan: membangun ‘HMI Baru’ pada dasarnya adalah membangun juga masa depan bangsa (dan negara) Indonesia yang lebih baik. Adalah tugas kita bersama mewujudkan pernyataan tersebut tidak menjadi klaim yang berlebihan.@



































7
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

KETETAPAN
KONGRES KE-25 HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM NOMOR : 01/K-25/01/1427

Tentang

AGENDA ACARA DAN TATA TERTIB KONGRES KE-25
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


Bismillaahirrahmaanirahiim


Kongres ke-25 Himpunan Mahasiswa Islam dengan senantiasa mengharapkan rahmat dan ridho Allah, setelah :

MENIMBANG : Untuk kelancaran dan ketertiban mekanisme Kongres ke-25 HMI, maka dipandang perlu untuk menetapkan Agenda Acara dan Tata Tertib Kongres ke-25 HMI.

MENGINGAT : 1.Pasal 12 Anggaran Dasar.
2.Pasal 11, 12, dan 13 Anggaran Rumah Tangga.

MEMPERHATIKAN : Hasil pembahasan Sidang Pleno I Kongres ke-25
HMI pada tanggal 24 Muharram 1426 H
bertepatan dengan tanggal 22 Februari 2006 M.

MEMUTUSKAN :

MENETAPKAN : 1. Agenda Acara dan Tata Tertib Kongres ke-25 HMI
sebagaimana terlampir.

2. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan didalamnya.

Billahittaufiq Wal Hidayah

Ditetapkan di : Makassar
Pada Tanggal : 24 Muharam1427 H
23 Februari 2006 M Waktu : 00.31 WITA.






8
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

PIMPINAN SIDANG
KONGRES KE-25 HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM



AGUSSALIM ALWI ARIP MUSTHOPA
SC SC

M A R B A W I DENI YUSUP
SC SC

MAS’AD MASRUR SYAHRUL MARHAM
SC SC

YUSAC FARHAN M I N A R N I
SC SC

HARIS KUSWORO A. KAIMUDIN
SC SC

SITI MAFRUROH Z U L F I K A R
SC SC

MAMAD SYA’BANI SIDRATAHTA MUKHTAR
SC SC

IIN INAWATI DEDING ZAMAH SYARI
SC SC

MUHAMMAD ANWAR DILA NOVITA
SC SC

SYAMSUDIN RAJAB ARMAN MATONDANG
SC SC

M. N A S I R RISMAN PASIGAI
SC SC

ENCEP HANIF AHMAD JAELANI MUHAMMAD RASYID
SC SC SC









9
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

KETETAPAN
KONGRES KE-25 HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM NOMOR : 02/K-25/01/1427

Tentang

PRESIDIUM SIDANG KONGRES KE-25
HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM


Bismillaahirrahmaanirahhiim


Kongres ke-25 Himpunan Mahasiswa Islam dengan senantiasa mengharapkan rahmat dan ridho Allah SWT, setelah :

MENIMBANG : Untuk kelancaran dan ketertiban mekanisme Kongres ke-25 HMI, maka dipandang perlu untuk menetapkan Presidium Sidang Kongres ke-25
HMI.

MENGINGAT : 1. Pasal 12 Anggaran Dasar.
2. Pasal 11, 12, dan 13 Anggaran Rumah Tangga.

MEMPERHATIKAN : Hasil pembahasan Sidang Pleno I Kongres ke-25
HMI pada tanggal 24 Muharram 1426 H
bertepatan dengan tanggal 22 Februari 2006 M.



MEMUTUSKAN :

MENETAPKAN : 1. Presidium Sidang Pleno Kongres ke-25 HMI yang terdiri dari :


a. Mokhtar Efendi
BADKO HMI NAD


b. Rismadianto Karo-Karo
BADKO HMI Sumut


c. Novi Zulfikar
BADKO HMI Sumbar


d. Weriza
BADKO HMI RIAU


e. Iik Zulfiqar BADKO HMI Sumbagsel


f. Ajat Sudrajat BADKO HMI Jawa Barat


g. Imam Subqi
BADKO HMI Jateng


h. Mashuriyanto
BADKO HMI Jatim




10
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

i. M. Rasulika
BADKO HMI Kalbar

j. Hariyadi Hamid
BADKO HMI Kaltim


k. Muh. Faisal
BADKO HMI Nusra


l. Hasriani Abdullah
BADKO HMI Sulselra


m. Ridwan Waimalaka BADKO HMI Malmalut


n. Dwi Julian BADKO HMI JabotabekaBa


o. Alvian BADKO HMI Kalselteng


p. Rahmat Umar BADKO HMI Sultenggo



2. Ketetapan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan akan ditinjau kembali bilamana terdapat kekeliruan didalamnya.


Billahittaufiq Wal Hidayah









Ditetapkan di : Makassar
Pada Tanggal : 24 Muharam 1427 H
23 Februari 2006 M Waktu : 01.05 WITA.




PIMPINAN SIDANG
KONGRES KE-25 HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM



AGUSSALIM ALWI ARIP MUSTHOPA
SC SC

M A R B A W I DENI YUSUP
SC SC

MAS’AD MASRUR SYAHRUL MARHAM
SC SC

YUSAC FARHAN M I N A R N I
SC SC

HARIS KUSWORO A. KAIMUDIN
SC SC




11
Hasil-hasil Ketetapan KONGRES HMI XXV di Makassar
“ Membangun HMI Baru dan Masa Depan Bangsa”

Thank you for trying Solid Converter PDF.
The trial version of this product only converts 10% of your document, with a 10 page maximum.
For this conversion, Solid Converter PDF converted 10 of 461 pages.
Please register Solid Converter PDF at http://www.solidpdf.com/buy.htm to remove this restriction.

HMI dan Konstruksi Abad XXI

HMI dan Konstruksi Abad XXI

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) lahir pada 5 Februari 1947. Berarti, sekitar pertengahan abad XX dan delapan belas bulan pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Nuansa ideologis sangat kuat mewarnai kelahirannya. Terutama ideologi nasionalisme dan semangat keislaman. Dalam perjalanannya selama 61 tahun, HMI mampu mensinergikan antara keduanya. Menjadi tidak asing di HMI, bahwa wacana keindonesiaan dan keislaman, bukanlah dua wacana yang terpisah. Keduanya merupakan dua ruang pemikiran yang saling mengisi dan tidak layak untuk dipertentangkan. Diantara dua ruang pemikiran inilah, pemikiran-pemikiran genuine anak-anak HMI dan alumninya banyak dilahirkan.
Semangat kelahiran tersebut yang sering dijadikan pijakan anak-anak HMI dalam berargumentasi bahwa konsepsi negara kebangsaan bisa diterima dan agenda membentuk Negara Islam tidak lagi relevan untuk dibicarakan. Selanjutnya entitas Islam tidak diutamakan untuk dilihat sebagai simbol melainkan sebagai nilai-nilai yang diekstraksi kepada keuniversalannya dan lebih tepat mewujud sebagai ‘penanda’ dari pada ‘petanda’. Sehingga pertanyaan yang muncul, bukan apakah berstatus Islam atau tidak, melainkan seberapa relevan, mewarnai, dan bermanfaat nilai-nilai Islam bagi individu dan bangsa yang memeluknya beserta perkembangan zaman yang mengiringinya.
Kerangka dasar inilah yang menstimulasi kegerahan para intelektual muslim muda yang tergabung di HMI berinisiatif melakukan gerakan pembaruan pemikiran Islam. Naskah Nilai-nilai Dasar Perjuangan yang disusun oleh Nurcholish Madjid dkk yang disahkan di Kongres HMI IX Malang tahun 1969, bukan saja monumental bagi sejarah pemikiran Islam di HMI, namun juga sejarah pemikiran Islam di Indonesia.
Dengan karakternya yang obsesif dengan kemodernan, Nurcholish dkk berhasil menyiapkan landasan pemikiran yang memungkinkan muslim Indonesia kompatibel bagi isu-isu pembangunan, demokrasi, dan hak asasi manusia. Perbedaan paradigma dalam memandang dan menghasilkan komponen kemodernan kerapkali memunculkan ketegangan diantara dunia Barat dan Islam. Namun Nurcholish Madjid dkk sejauh ini cukup berhasil menyiapkan landasan pemikiran (ideologi) bagi pertemuan keduanya di ruang universalisme.
Selanjutnya, fase ideologis khas abad XX yang mewarnai semangat kelahiran HMI yang dikembangkan dan diperbarui oleh Nurcholish Madjid dkk tersebut diaksentuasikan dengan strategi perjuangan HMI yang cenderung bergerak dengan karakter state/political structural oriented) sehingga alumninya berbondong-bondong berkumpul di dunia politik dan birokrasi. Memang banyak alumni HMI yang juga eksis di dunia swasta dan akademik, namun dalam arus utama mindset kader dan alumni ukuran kesuksesan dan ruang utama pengabdian adalah pada posisi politik.

Paling tidak itulah arus utama yang nampak hingga saat ini yang memang sinergis dengan kebutuhan zamannya dan telah berhasil mencatatkan prestasi yang mengesankan. Namun kini zaman telah beralih. Abad sudah berganti, bukan lagi abad XX melainkan abad XXI yang tentunya akan membawa karakteristik sendiri yang berbeda dari abad XX. Masih akan relevankah karakteristik HMI yang didominasi state/political structural oriented tersebut?
Karakteristik Abad XXI
Agak sulit kita menggambarkan karakteristik abad XXI saat ini karena terlalu banyak kemungkinan yang dapat terjadi dalam masa waktu sekitar 100 tahun ke depan. Namun paling tidak apa yang kita sebut sebagai karakteristik awal abad XXI sudah dapat kita identifikasi dari berbagai peristiwa politik dan ekonomi serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di akhir abad XX dan dasawarsa pertama awal abad XXI ini.
Bila abad XX adalah abad industri dan ideologi, maka abad XXI merupakan abad teknologi informasi dan ekonomi. Thomas L. Friedman sudah berani menyebut dunia, seperti halnya Plato menyebutnya sekitar 2400 tahun yang lalu: The World is Flat. Baginya, dunia yang mengalami globalisasi bukan lagi digerakkan oleh driving force berupa Negara dan perusahaan multinasional seperti dalam globalisasi gelombang 1.0 dan 2.0, melainkan oleh individu. Globalisasi, berkat perkembangan teknologi informasi menjadi mungkin digerakkan oleh individu-individu. Globalisasi gelombang 3.0 ini memungkinkan bagi individu tanpa atas nama dan difasilitasi oleh Negara dan perusahaan besar mampu berbuat hal-hal yang besar.
Teknologi informasi lebih dahsyat dari teknologi transportasi dalam menyederhanakan ‘jarak’ (dimensi ruang-waktu sekaligus). Penyederhanaan inilah yang merubah sendi-sendi kehidupan masyarakat tercerabut hingga ke akar-akarnya. Komunikasi dan Silaturahmi menjadi lebih mudah, murah, dan cepat. Informasi mengalir lebih deras. Akibatnya struktur, hierarki, dan komando menjadi kurang bermakna. Seketika dunia menjadi mengecil dan seolah datar karena tidak lagi dibatasi oleh “dinding-dinding” geografis dan politis.
Karena komunikasi, silaturahmi, arus informasi menjadi lebih intens, maka kehidupan menjadi lebih dinamis dan berwana. Bila demikian, maka perubahan batas dan identitas hanyalah menunggu waktu. Apa yang kita anggap penting, dengan cepat akan menjadi kurang atau malah lebih penting. Informasi dan momentum menjadi sangat bernilai. Singkatnya, intensitas kehidupan meningkat.
Bila arus informasi meningkat, maka pergerakan modal dan juga ekonomi menjadi lebih labil karena mudah terpengaruh oleh informasi. Batas-batas Negara menjadi kabur, maka yang berlaku adalah ‘capital has no flag’. Negara tidak dapat lagi sepenuhnya mengendalikan aliran finansial.
Bila demikian, individu dan organisasi seperti apa yang dibutuhkan di abad XXI? Ternyata bukan sekedar individu yang knowledge-intensive melainkan juga berbakat. Kombinasi individu yang knowledge-intensive dan berbakat yang mampu bertahan dan tampil dipermukaan. Selanjutnya, organisasi yang dituntut adalah organisasi yang responsif, cepat bereaksi, dan cost-effective. Organisasi gemuk tidak lagi dibutuhkan, yang ada adalah ‘flat organization’. Dengan demikian, organisasi harus melakukan downsizing (perampingan) dan merombak strukturnya menjadi lebih datar.
Flat organization memungkinkan organisasi ‘menari’ dengan lebih lincah dan dapat tampil ‘seksi’ dibanyak kesempatan. Oleh karena itu, pemberdayaan anggota dan pengurus organisasi di garis depan (frontline) perlu diperhatikan secara khusus.
Agenda ke Depan
Kondisi HMI saat ini baik secara mindset maupun mekanisme dan infrastruktur organisasi masih belum kompatibel dengan kebutuhan organisasi yang dituntut abad XXI. Kondisi tersebut direpresentasikan oleh belum terciptanya kemandirian (pendanaan) organisasi, manajemen organisasi yang belum berbasiskan teknologi informasi, wawasan dan mindset kader yang belum konstruktif sesuai tantangan dan tuntutan abad XXI, serta infrastruktur organisasi yang belum mendukung bagi terselenggaranya roda organisasi yang cost-effective, dan lain-lain.
Akibat dua periode kepengurusan PB HMI mengalami konflik dan alumninya yang tergabung dalam KAHMI masih terbagi dua, HMI banyak mengalami kerugian untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan di lingkungan eksternalnya yang berlangsung cepat. Kepemimpinan PB HMI periode 2006-2008 saat ini cukup efektif menyediakan stabilitas dan stimulus awal bagi penataan organisasi. Hanya saja belum ada visi dan ‘peta jalan’ (roadmap) yang jelas untuk melakukan tranformasi sumber daya manusia dan postur organisasi sehingga lebih kompatibel bagi tantangan dan tuntutan abad XXI.
Tahun 2008 HMI akan berkongres untuk yang ke-26. Kongres dan kepemimpinan pasca Kongres tersebut harus mengambil momentum untuk meletakkan landasan dan melakukan transformasi sumber daya manusia dan postur organisasi bila HMI tidak mau rugi untuk yang kesekian kalinya. Dirgahayu HMI ke-61, Jayalah kembali.@

HMI 2010, 2020

HMI 2010, 2020

Melbourne, 27 Desember 2010

Pagi ini tiba-tiba aku ingin membuka situs www.pbhmi.com, tak terasa telah 2 bulan ini aku gak membukanya. Akhir-akhir ini memang aku agak “melupakan” HMI karena ada hal strategis yang sedang aku tangani. Suasana natal 2010 yang hingar bingar juga menyita perhatianku: penuh suka cita, menarik. Anehnya aku tak merasa terasing. Nama Tuhan disebut-sebut hampir tak ada henti oleh kaum kristiani, dan ucapan syukur pun berkumandang dari mulut kakek-nenek hingga balita. “Rasanya gak mungkin Tuhan memasukkan mereka ke neraka nantinya hanya karena mereka tidak beragama Islam”, gumamku. “Lagipula kita menjadi Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, dan Budha kan karena kita dilahirkan dari rahim Ibu yang beragama tersebut, bukan karena kita mencarinya”, pikiranku beralasan agar makin bisa enjoy dengan suasana suka cita natal dan jelang tahun baru 2011.

“Mungkin ada hal baru disana”, pikirku. Ku ambil laptopku, ku nyalakan dan tak lama kemudian www.pbhmi.com tersaji dihadapanku. Mataku langsung tertuju ke menu berita. Disana terpampang foto Akal Budi Ketum PB HMI hasil Kongres XXVII. Akal Budi mengatakan akan mengadakan worshop dan temu alumni untuk merumuskan visi HMI 2020. “Wow, ini menarik”, spontan aku berkata. “Workshop dan temu alumni akan dilaksanakan bertepatan dengan milad HMI ke-64 pada 5 Februari 2011”, lanjut Akal Budi di berita yang bertajuk “HMI menatap 2020”. “Kenapa 2020 ?”, reporter bertanya kepada Akal Budi. “Waktu 10 tahun adalah waktu yang realistis, tidak terlalu panjang dan terlalu pendek untuk merumuskan dan merealisasikan suatu gagasan visioner dan jangan lupa free trade area yang ditandatangani Soeharto 1994 di Bogor akan benar-benar direalisasikan untuk negara berkembang di Asia Pasifik pada tahun tersebut”, jawab Akal Budi. “HMI harus bersiap-siap secara serius dari sekarang untuk menghadapinya, bila tidak, HMI akan merasa sangat berdosa”, lanjut Akal Budi serius.

“Aku bangga nih dengan Ketum kayak gini, demen gua”, pikirku. HMI 2020! 5 Februari 2011. Aku bisa hadir gak ya? Kalau aku bisa hadir apa yang bisa aku sumbangkan? Tapi sebentar, memang HMI saat ini (2010) seperti apa? Mataku langsung mencari submenu keuangan di www.pbhmi.com. Dengan memasukkan password tertentu khusus keluarga besar HMI, aku bisa melihat laporan keuangan HMI. Disana tertulis Saldo Rp2,7 Milyar. “Lumayan besar”, ujarku. Berarti penggalangan dana HMI selama ini cukup efektif dan trust dari sumber-sumber keuangan terhadap HMI juga terjaga dengan baik. Ini aset yang sangat penting.

Memang sejak HMI melakukan penggalangan dana yang massif menggunakan teknologi informasi, konsisten menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas, serta positioning organisasi yang tepat sejak tahun 2007, berbagai dukungan berupa informasi, fasilitas, dan dana masuk secara konstan dan bahkan sering tidak terduga. Sehingga wajar bila HMI memiliki saldo sebesar itu, padahal berita aktifitas HMI yang menyita keuangan organisasi aku lihat sangat banyak. Informasi yang tersedia dalam www.pbhmi.com juga menunjukkan bahwa HMI saat ini lebih dari 50% pendanaannya sudah mandiri, tidak lagi “meminta-minta” mengandalkan “PT Proposalindo”. Manajemen organisasi juga sudah banyak mengandalkan manajemen organisasi berbasis teknologi informasi, seperti sistem data anggota dan manajemen arus informasi, aspirasi dan instruksi dari PB ke Badko dan Cabang serta arus sebaliknya. Suatu mekanisme yang kian sempurna sejak dipraktekkan tahun 2007. Pada waktu itu sudah dipraktekkan hasil rapat harian maupun presidium PB HMI dapat langsung diketahui Badko hingga Komisariat hanya beberapa jam setelah pimpinan rapat di PB HMI menutup rapat.

Di menu Badan Khusus juga dapat dilihat beberapa Lembaga Pengembangan Profesi sudah mulai eksis, tidak lagi pinggiran. Keberadaan mereka terasa kian berarti terutama LAPMI, LTMI, LEMI, LKMI, dan LDMI. Eksistensi HMI di kampus-kampus besar mulai bergairah kembali. Sistem pembinaan anggota juga terschedule dengan baik khususnya untuk LK II, LK III dan Pusdiklat Pimpinan HMI. Aku coba buka menu Bidang Pembinaan Anggota. Disana jelas terpampang jadwal LK II, LK III dan Pusdiklat dalam 1 tahun penuh. Konon, sebelumnya PB HMI telah memiliki standar kualifikasi Cabang dan Badko yang memiliki kemampuan menyelenggarakan LK II dan LK III. Setelah itu, masing-masing Cabang dan Badko yang memenuhi kualifikasi mengusulkan waktu penyelenggaraan LK II dan LK III dan PB mengaturnya sehingga tidak terjadi bentrok waktu dan jarak masing-masing LK terjaga dengan baik. Selanjutnya, mendekati waktu pelaksanaan, PB HMI tinggal transfer 50% dana yang dibutuhkan untuk penyelenggaraannya serta mengirimkan stafnya untuk mengawasi proses persiapan.

“Dengan kondisi saat ini yang demikian, kira-kira bagaimana dengan 2020 ya?” kembali aku berpikir. Aku pikir kondisi-kondisi saat ini (2010), yang sepertinya mustahil untuk tahun 2006, tentunya juga karena didukung oleh institusi PB HMI yang sangat stabil dan fungsional. Ini mungkin karena PB HMI lebih kondusif pasca konstitusi baru hasil Kongres XXV Makasar dan sekretariat baru PB HMI yang telah diresmikan pada tahun 2008 (aku lupa tanggal persisnya).

Kembali ku lihat hasil wawancara redaksi www.pbhmi.com dengan Akal Budi, Ketum PB HMI periode 2010-2012. Menurut Akal Budi, ”HMI dan keluarga besarnya tahun 2020 paling tidak bisa sama seperti Muhammadiyah memiliki banyak sekolah dan beberapa perguruan tinggi serta beberapa rumah sakit”. Aku setuju dengan Akal Budi, tapi jangan yang asal sekolah dan perguruan tinggi. Harus sekolah dan perguruan tinggi yang unggulan. Rumah Sakitnya juga harus memiliki kekhasan, seperti untuk kelas menengah ke bawah atau rumah sakit spesialis.

Aku pikir bisa lebih mantap bila masing-masing HMI Cabang pada tahun tersebut memiliki sekretariat yang permanen yang dilengkapi laboratorium komputer berfasilitas IT dan laboratorium kewirausahaan. Memiliki training centre di PB dan di masing-masing Cabang. Apalagi bila berbagai laboratorium dan training centre tersebut sudah terbiasa menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga di luar negeri. Tahun 2020, HMI juga sebaiknya memiliki sejumlah ”bengkel” untuk magang, lembaga penyalur tenaga kerja untuk memfasilitasi kader pasca HMI dan mampu membantu pembiayaan kader terpilihnya untuk sekolah ke luar negeri. ”Apalagi kini HMI mulai eksis di kampus-kampus besar di negeri ini. Sayang sumber daya mereka yang bagus bila tidak diteruskan ke perguruan tinggi kelas dunia”, pikirku, sebelum ku akhiri karena istriku memanggil mengajakku sarapan. ”Iya sayang, aku segera kesana”, segera ku bergegas.@ by A eM

laporan PPL

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Taufik dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyusun laporan Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II) di SMA Negeri 4 Barabai ini. Serta salawat dan salam kita panjatkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan para pengikut Beliau hingga akhir zaman.

Kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II) yang dilaksanakan pada tanggal 3 Agustus s.d. 21 Nopember 2009 ini dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah PPL II.

Adapun tujuan dan kegiatan PPL II ini adalah agar mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP PGRI) banjarmasin memiliki seperangkat pengalaman yang mencakup latihan mengajar dan tugas-tugas kependidikan di luar mengajar, secara terbimbing, terpadu dalam rangka membentuk profesi kependidikan yang professional di bidangnya.
Tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini, terutama pada :
1. Bapak Drs. Soenarto sebagai ketua STKIP PGRI Banjarmasin.
2. Bapak H. Khairuddin, S. Pd. Sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri 4 Barabai yang telah berkenan menerima kami umtuk melaksanakan PPL II.
3. Ibu Hj. Rezky Nefianti Wahab, M. Si. selaku ketua UPPL
4. Bapak Drs. Sirajuddin, selaku Dosen Pembimbing PPL II.
5. Ibu Sri Isna Hayati, S. Pd. selaku guru mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA Negeri 4 Barabai.
6. Seluruh Dewan Guru, Staf Tata Usaha, Staf Perpustakaan, BK dan OSIS SMA Negeri 4 Barabai.
7. Kedua orang tua, seluruh keluarga dan teman-teman yang telah memberikan bantuan secara moril dan materiil.
8. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu namanya yang telah membantu secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam penyusunan hasil kegiatan ini, penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan yang perlu disempunakan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan PPL II ini di masa yang akan datang.

Akhir kata atas segala dukungan, bantuan dan bimbingan yang selama ini telah diberikan semua pihak kepada penulis, semoga Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat serta Hidayah-Nya dan semoga hasil laporan PPL II ini membawa manfaat bagi penulis khususnya, dan bagi siapapun yang memerlukannya di kemudian hari.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Barabai, November 2009


Penulis









BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP PGRI) Banjarmasin merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mengupayakan terciptanya tenaga kependidikan yang berkualitas dan mampu terjun dalam kehidupan masyarakat. Dalam rangka memenuhi persyaratan pembentukan tenaga profesi kependidikan, mahasiswa diwajibkan mengikuti praktik Pengalaman Lapangan (PPL)
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) ini sebagai salah satu kegiatan kulikuler yang dilakukan oleh mahasiswa STKIP PGRI Banjarmasin mencakup latihan mengajar dan tugas pendidikan di luar mengajar secara terbimbing dan terpadu dilakukan untuk memenuhi persyaratan pembentukan profesi kependidikan. Praktik Pangalaman Lapangan terbagi menjadi dua, yaitu PPL I dan PPL II. Pada PPL I mahasiswa hanya melakukan observasi atau pengamatan untuk mengenal keadaan lingkungan sekolah dan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang dilakukan oleh guru mata pelajaran bahasa Inggris, serta mengetahui keadaan administrasi sekolah. Sedangkan PPL II mahasiswa melakukan kegiatan mengajar di dalam kelas untuk menerapakan ilmu yang telah diperoleh.
Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II) merupakan salah satu tahap kegiatan mengajar dan latihan tugas pendidikan lainnya yang dilaksanakan terintegrasi dan dalam situasi nyata di sekolah, latihan baik secara tebimbing maupun mandiri.
Kegiatan Prakik Pengalaman Lapangan II (PPL II) ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa STKIP PGRI Banjarmasin sebagai calon guru yang nantinya akan terjun sebagai seorang guru di suatu sekolah. Oleh karena itu, mahasiswa sebagai calon guru dilatih bagaimana cara mengajar yang baik dengan cara mempersiapkan materi, mengelola kelas, dan keterampilan lainnya, serta diharapkan mampu untuk mengatasi masalah-masalah yang timbul selama berlangsungnya proses belajar-mengajar di kelas.

B. Tujuan PPL II
Secara umum PPL II ditujukan untuk membentuk profesionalitas guru atau tenaga kependidikan yang lain. Sasaran yang ingin dicapai adalah terbentuknya pribadi calon pendidik yang mempunyai seperangkat pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap serta pola tingkah laku yang diperlukan bagi profesinya sehingga cakap dan tepat menggunakannya di dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Secara khusus PPL II bertujuan agar calon guru dapat:
1. Menerapkan berbagai kemampuan professional kegunaan secara utuh dan terpadu di dalam situasi nyata.
2. Mengembangkan aspek pribadi dan aspek sosial di lingkungan sosial.
3. Menarik kesimpulan nilai edukatif dari penghayatan dan pengalaman selama pelatihan melalui refleksi tersebut dalam bentuk laporan.

C. Waktu Pelaksanaan PPL II
Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II) ini dilaksanakan selama kurang lebih tiga bulan. Selama waktu tersebut mahasiswa berada di sekolah untuk mengikuti latihan mengajar setiap hari (magang). Waktu pelaksanaan PPL II ini berlangsung dari 3 Agustus s.d. 21 Nopember 2007.
Dengan masa observasi lebih dahulu selama satu minggu, hal ini dilakukan pada minggu pertama yang meliputi perencanaan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tugas-tugas seorang guru apabila akan mengajar. Pada minggu berikutnya mahasiswa ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan praktik mengajar selama 8 kali dengan 2 kali ujian, yaitu middle test dan final test.

D. Tempat Pelaksanaan
Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II) ini dilaksanakan di SMAN 4 Barabai yang berada di Jalan Surapati Desa Banua Jingah

E. Kegiatan dalam PPL II
Adapun kegiatan yang dilakukan dalam Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II) yaitu:
a. Materi pokok kegiatan latihan mengajar terbimbing dan mandiri.
1. Penyusunan Program Tahunan, semester dan silabus.
2. Pengembangan materi, media dan sumber belajar.
3. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan analisis materi pelajaran.
4. Pelaksanaan penilaian hasil belajar.
b. Materi pokok kegiatan latihan tugas kegunaan lain.
1. Merencanakan dan melaksanakan administrasi sekolah terutama tugas administrasi guru bidang studi.
2. Merencanakan dan melaksanakan bimbingan konsultasi belajar bidang studi bagi siwa.
3. Merencanakan dan melaksanakan kegiatan kurikulum dan ekstrakurikuler bagi siswa.








BAB II
RENCANA KEGIATAN PRAKTIK

Mahasiswa yang melaksanakan Praktik Pengalaman Lapangan dengan sistem magang dalam waktu 3 bulan diharapkan dapat menyelesaikan tugas latihan praktiknya minimal 8 kali pertemuan. Jadwal kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan atau latihan mengajar bagi mahasiswa calon pengajar ini dapat dilihat pada RPP yang dibuat mahasiswa.
Dalam penilaian praktik mengajar, terlebih dahulu berkonsultasi dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pamong. Penilaian berlangsung pada latihan mengajar yang ke-5 sebagai middle test dan latihan mengajar yang ke-8 sebagai final test.
Berikut ini dapat dilihat model Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang digunakan pada waktu penilaian praktik mengajar.










RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP)

A. Identitas : SMA Negeri 4 Barabai
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas : XII IS 3
Semester : I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

B. Standar Kompetensi ( SK )
9. Memahami makna teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk narrative, explanation, dan dicussion dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan.
C. Kompetensi Dasar (KD)
9.2. Merespon makna dan langkah retorika dalam esei yang menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan dalam teks berbentuk: narrative, explanation, dan discussion.
D. Indikator
- Membaca wacana ragam tulis yang dibahas
- Mengidentifikasi topik dari teks yang dibaca
- Mengidentifiasi informasi tertentu dari teks fungsional pendek
E. Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran siswa dapat:
1. Membaca teks Explanations secara skim dan scan
2. Mengidentifikasi topik dari teks yang dibaca
3. Mengidentifiasi informasi tertentu dari teks fungsional pendek
F. Materi Pembelajaran
EXPLANATION
Social Function: To explain involved in formation or working of natural or sociocultural phenomena.
Generic structure:
• A general statement to position the reader (introductory paragraph).
• A sequenced explanation of why or how something occurs.
• Concluding statement/paragraph (optional)
Significant language features:
• Focus or generic, non-human participans.
• Use mainly of material and rational processes.
• Use mainly of temporal and causal circumtances and conjunction.
• Use of simple present tense.
• Some use of passive voice to get theme right.

G. Media Pembelajaran
Alat : Alat-alat tulis
Bahan : Buku paket Progress, Ganeca Exact for Grade XII
H. Strategi, Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran
1. Strategi : Contextual Learning
2. Model : Cooperative Learning tipe
OPERAN KERTAS IDE
3. Pendekatan : Pendekatan Konsep
4. Metode : Diskusi Informasi
I. Skenario Kegiatan / Pengalaman
1. Kegiatan Pendahuluan
- Salam dan tegur sapa
- Berdoa
- Mengabsen
2. Kegiatan Inti
• Pre Activity :
Guru memberi beberapa pertanyaan:
1. Can you mention parts of our body? What are there?
2. Can you mention component of speech system? What are there?
• While Activity:
- Guru membagikan teks explanation
- Membaca nyaring bermakna teks explanation
- Siswa mendiskusikan berbagai aspek seperti isis, struktur teks secara berkelompok.
- Berlatih menjawab soal sesuai dengan teks explanation yang dibagikan
• Post Activity :
Menyimpulkam materi yang telah dipelajari
3. Kegiatan Penutup
Guru menanyakan kesulitan siswa dalam kegiatan pembelajaran
J. Penilaian
a) Teknik : Explanatory text
b) Bentuk : Tes tulis dan tes lisan
c) Instrumen : Terlampir









K. Referensi
Buku Progress, Ganeca Exact Grade XII Zumakhsin-Yulia Mufarichah

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing pada tanggal 5 Agustus 2009 dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Guru Pembimbing, Dosen Pembimbing, Mahasiswa,


Sri Isna Hayani, S. Pd Drs. Sirajuddin Asmaul Husna
NIP.19650314 198601 2 002 NIP. 19630515 199002 1 008 NPM. 3060612197


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah diserahkan pada tanggal 5 Agustus 2009 dan dengan demikian siap untuk dipakai latihan pada hari Kamis tanggal 6 Agustus 2009 jam pelajaran ke 1-2 dan merupakan latihan yang ke 1.

Guru Pembimbing


Sri Isna Hayani, S. Pd
NIP.19650314 198601 2 002
RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP)

A. Identitas : SMA Negeri 2 Barabai
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas : XII IS 2
Semester : I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

B. Standar Kompetensi ( SK )
1. Memahami makna dalam teks percakapan transaksional dan interpersonal resmi dan berlanjut dalam konteks kehidupan sehari-hari.
C. Kompetensi Dasar (KD)
1.1. Merespon makna dalam percakapan transaksional ( to get things done) dan berlanjut (sustained) secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan raham bahasa lisan dalam konteks kehidupan sehari-hari dan tidak melibatkan tindak tutur:
Mengusulkan, memohon, mengeluh, membahas kemungkinan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu, dan memerintah.


D. Indikator
a. Mengidentifikasi makna tindak tutur mengusulkan.
b. Merespon tindak tutur mengusulkan.
c. Mengidentifikasi makna tindak tutur memohon.
d. Merespon tindak tutur memohon.
e. Mengidentifikasi makna tindak tutur memerintah.
f. Merespon tindak tutur memerintah.
E. Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran siswa dapat:
1. Mengidentifikasi dan meresponbtindak tutur mengusulkan.
2. Mengidentifikasi dan merespon tindak tutur memohon.
3. Mengidentifikasi dan merespon tindak tutur memerintah.
F. Materi Pembelajaran
Can You Tell Me the Story
Listening:
• Listen to the suggestions, requests, and instructions.
• Accept and deny requests.
G. Media Pembelajaran
Alat : Alat-alat tulis
Bahan : Buku paket Developing English Competencies

H. Strategi, Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran
1. Strategi : Contextual Learning
2. Model : Cooperative Learning tipe
OPERAN KERTAS IDE
3. Pendekatan : Pendekatan Konsep
4. Metode : Diskusi Informasi

I. Skenario Kegiatan / Pengalaman
1. Kegiatan Pendahuluan
- Salam dan tegur sapa
- Berdoa
- Mengabsen
2. Kegiatan Inti
• Pre Activity :
Guru memberikan beberapa pertanyaan kepada siswa:
What would you say if:
1. You want to make suggestion?
2. You want to respond to someone’s suggestion?
3. You want to respond to someone’s request?
4. You want to respond to someone’s instruction?

• While Activity :
- Guru membagikan materi pelajaran berupa ungkapan-ungkapan dan respon yang digunakan dalam kalimat suggestions, requests, dan instructions.
- Guru terlebih dahulu menjelaskan ungkapan-ungkapan yang digunakan dalam kalimat requests, suggestions, dan instructions.
- Siswa berlatih menggunakan kalimat-kalimat requests, suggestions dan instructions dengan mengisi dialog yang kosong.

• Post Activity :
Menyimpulkam materi yang telah dipelajari
3. Kegiatan Penutup
Guru menanyakan kesulitan siswa dalam kegiatan pembelajaran
J. Penilaian
• Teknik : Merespon ungkapan-ungkapan mengusulkan, memohon dan memerintah
• Bentuk : Tes tulis dan tes lisan
• Instruman : Terlampir


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing pada tanggal 12 Agustus 2009 dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Guru Pembimbing, Dosen Pembimbing, Mahasiswa,


Sri Isna Hayani, S. Pd Drs. Sirajuddin Asmaul Husna
NIP.19650314 198601 2 002 NIP. 19630515 199002 1 008 NPM. 3060612197




Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah diserahkan pada tanggal 12 Agustus 2009 dan dengan demikian siap untuk dipakai latihan pada hari Kamis tanggal 13 Agustus 2009 jam pelajaran ke 4-5-6 dan merupakan latihan yang ke 2.

Guru Pembimbing,


Sri Isna Hayani, S. Pd
NIP.19650314 198601 2 002





RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP)

A. Identitas : SMA Negeri 2 Barabai
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas : XII IA 1
Semester : I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

B. Standar Kompetensi ( SK )
5. Memahami makna teks fungsional pendek dan monolog berbentuk reports, narrative, dan analytical exposition dalam konteks kehidupan sehari-hari.
C. Kompetensi Dasar (KD)
5.1. Merespon makna dalam teks monolog yang menggunakan ragam bahasa lisan secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari dalam teks berbentuk : report, narrative, dan analytical exposition.
D. Indikator
• Mengidentifikasi tokoh cerita yang didengar.
• Mengidentifikasi kejadian dalm teks yang didengar.
• Mengidentifikasi kasus yang didengar.


E. Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran siswa dapat:
1. Mengidentifikasi tokoh cerita yang didengar.
2. Mengidentifikasi kejadian dalm teks yang didengar.
3. Mengidentifikasi kasus yang didengar.
F. Materi Pembelajaran
Teks lisan berbentuk narrative.
G. Media Pembelajaran
Alat : Alat-alat tulis
Bahan : Buku paket Developing English Competencies for Grade XI of Natural and Social Science Programmes.
H. Strategi, Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran
1. Strategi : Contextual Learning
2. Model : Cooperative Learning tipe
OPERAN KERTAS IDE ( OKI )
3. Pendekatan : Pendekatan Konsep
4. Metode : Diskusi Informasi



I. Skenario Kegiatan / Pengalaman
1. Kegiatan Pendahuluan
- Salam dan tegur sapa
- Mengecek kehadiran siswa
2. Kegiatan Inti
• Pre Activity :
Siswa mencari sinonim kata sebelum mendengarkan teks monolog berbentuk narrative.

The following words are taken from the story. With your partner, match them to their synonyms on the right side.
Words Synonyms


1. patient
2. rush
3. careful
4. talk
5. worry
6. almost
7. pull
8. over
9. foolish
10. saying
a) Hurry
b) nearly
c) silly
d) unhurried
e) chat
f) Draw
g) regardful
h) above
i) proverb
j) be anxious

• While Activity :
- Guru menjelaskan apa yang dimaksud teks narrative.
- Guru membagikan lembar kerja kepada siswa.
- Guru memperdengarkan teks monolog kepada siswa.
- Siswa menjawab pertanyaan.
• Post Activity :
Guru memberikan kesimpulan tentang keterampilan berbahasa yang telah dilatihkan.
3. Kegiatan Penutup
Guru memberikan siswa kesempatan untuk mengungkapkan hambatan yang dialami siswa selama mengerjakan tugas.
J. Penilaian
• Teknik : Teks lisan berbentuk narrative
• Bentuk : Tes tulis dan tes lisan
• Instruman : Terlampir

K. Referensi
Developing English Competencies for Grade XI of Natural and Social Science Programmes.


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing pada tanggal 15 Agustus 2009 dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Guru Pembimbing, Dosen Pembimbing, Mahasiswa,

Sri Isna Hayani, S. Pd Drs. Sirajuddin Asmaul Husna
NIP.19650314 198601 2 002 NIP. 19630515 199002 1 008 NPM. 3060612197


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah diserahkan pada tanggal 18 Agustus 2009 dan dengan demikian siap untuk dipakai latihan pada hari Kamis tanggal 13 Agustus 2009 jam pelajaran ke 1-2 dan merupakan latihan yang ke 3.

Guru Pembimbing

Sri Isna Hayani, S. Pd
NIP.19650314 198601 2 002






RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP)

A. Identitas : SMA Negeri 2 Barabai
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas : XI IA 1
Semester : I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

B. Standar Kompetensi ( SK )
4. Mengungkapkan makna dalam teks percakapan transaksional dan interpersonal resmi dan berlanjut (sustained) dalam konteks kehidupan sehari-hari.
C. Kompetensi Dasar (KD)
4.1. Mengungkapakan makna dalam percakapan transaksional ( to get things done) dan berlanjut (sustained) secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan raham bahasa lisan dalam konteks kehidupan sehari-hari dan tidak melibatkan tindak tutur:
Menasehati, memperingatkan, meluluskan permintaan, serta menyatakan persaan relief, pain, dan pleasure.


D. Indikator
• Menggunakan tindak tutur menasehati.
• Merespon tindak tutur menasehati.
• Menggunakan tindak tutur memperingatkan.
• Merespon tindak tutur memperingatkan.
E. Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran siswa dapat:
a. Menggunakan dan merespon tindak tutur menasehati
b. Menggunakan dan merespon tindak tutur memperingatkan.
F. Materi Pembelajaran
Speaking: Giving advice and warning

Study the following expressions of giving advice and warnings.
Giving Advice


• I suggest that you ....
• She advises me to do the best.
• You should be patient.
• Everyone should not ....
• Why don’t you ...?






Giving Warnings

• You must not break the rules.
• Please, don’t ....
• I warn you not to ....
• Don’t do that.
• Don’t ....



G. Media Pembelajaran
Alat : Alat-alat tulis
Bahan : Buku paket Developing English Competencies for Grade XI.
H. Strategi, Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran
1. Strategi : Contextual Learning
2. Model : Cooperative Learning tipe
OPERAN KERTAS IDE (OKI)
3. Pendekatan : Pendekatan Konsep
4. Metode : Diskusi Informasi
I. Skenario Kegiatan / Pengalaman Belajar
1. Kegiatan Pendahuluan
- Salam dan tegur sapa
- Mengecek kehadiran siswa
2. Kegiatan Inti
• Pre Activity :
Guru memberikan beberapa pertanyaan;
1. What do you say if your friend often comec late?
2. What do youy say if you see a little boy playing with fire in his bedroom?
3. Do you friends play truant? Why?
4. Do your parents allow you to watch TV every evening?
• While Activity :
- Guru menjelaskan tentang giving advice dan warnings.
- Mendiskusikan tindak tutur yang didengar.
- Bermain peran secara berpasangan.
- Siswa mengerjakan soal.
• Post Activity :
Guru memberikan kesimpulan tentang keterampilan berbahasa yang telah dilatihkan.
3. Kegiatan Penutup
- Guru memberikan siswa kesempatan untuk mengungkapkan hambatan yang dialami siswa selama mengerjakan tugas.

J. Penilaian
o Teknik : Cara mengungkapkan tindak tutur menasehati dan memperingatkan
o Bentuk : Tes tulis dan tes lisan
o Instruman : Terlampir
K. Referensi
Developing English Competencies for Grade XI of Language Programme.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing pada tanggal 18 Agustus 2009 dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Guru Pembimbing, Dosen Pembimbing, Mahasiswa,


Sri Isna Hayani, S. Pd Drs. Sirajuddin Asmaul Husna
NIP.19650314 198601 2 002 NIP. 19630515 199002 1 008 NPM. 3060612197

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah diserahkan pada tanggal 18 Agustus 2009 dan dengan demikian siap untuk dipakai latihan pada hari Rabu tanggal 19 Agustus 2009 jam pelajaran ke 4-5 dan merupakan latihan yang ke 4.
Guru Pembimbing,


Sri Isna Hayani, S. Pd
NIP.19650314 198601 2 002




RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP)

A. Identitas : SMA Negeri 2 Barabai
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas : XI IA 1
Semester : I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

B. Standar Kompetensi ( SK )
9. Memahami makna teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk narrative, explanation, dan dicussion dalam konteks kehidupan sehari-hari dan untuk mengakses ilmu pengetahuan.
C. Kompetensi Dasar (KD)
9.1. Merespon makna dalam teks fungsional pendek (misalnya banner, poster, pamphlet, dll) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari.
D. Indikator
• Membaca nyaring bermakna wacana ragam tulis yang dibahas dengan ucapan dan intonasi yang benar.
• Mengidentifikasi topik dari teks yang dibaca.
• Mengidentifikasi informasi tertentu dari teks fungsional pendek.
E. Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran siswa dapat:
a. Membaca nyaring bermakna wacana ragam tulis yang dibahas dengan ucapan dan intonasi yang benar.
b. Mengidentifikasi topik dari teks yang dibaca.
c. Mengidentifikasi informasi tertentu dari teks fungsional pendek.
F. Materi Pembelajaran
Reading : Respond to the report text.
Report
Social function : to describe the way things are, with reference to a range of natural, manmade and social phenomena in our environment.
Generic structure :
General classification : introducing the thing that will be talked about.
Description : elaborating and reporting on the
subject in detail.




G. Media Pembelajaran
Alat : Alat-alat tulis
Bahan : Buku paket Developing English Competencies
H. Strategi, Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran
1. Strategi : Contextual Learning
2. Model : Cooperative Learning tipe
OPERAN KERTAS IDE
3. Pendekatan : Pendekatan Konsep
4. Metode : Diskusi Informasi
I. Skenario Kegiatan / Pengalaman Belajar
1. Kegiatan Pendahuluan
- Salam dan tegur sapa
- Berdoa
- Mengecek kehadiran siswa
2. Kegiatan Inti
• Pre Activity :
- Guru membagikan teks.
- Guru mengadakan tanya jawab tentang hewan-hewan yang terkenal di berbagai negara dan membedakan antara definition and descripton.

Complete the table below with the correct words. Number one has been done for you.

Country
Indigenous Animal

1. Indonesia
2. ________
3. Australia
4. ________
5. ________ 1. Orangutan
2. Panda
3. ________
4. White elephant
5. Camel



• While Activity :
- Siswa membaca nyaring teks report.
- Siswa berlatih pronunciation beberapa kata sulit.
- Siswa menjawab pertanyaan sesuai dengan teks.
• Post Activity :
Guru memberikan kesimpulan tentang keterampilan berbahasa yang telah dilatihkan.
3. Kegiatan Penutup
- Guru memberikan siswa kesempatan untuk mengungkapkan hambatan yang dialami siswa selama mengerjakan tugas.

J. Penilaian
• Teknik : Cara mengungkapkan menyampaikan dan meminta pendapat dan kepuasan.
• Bentuk : Tes tulis dan tes lisan
• Instruman : Terlampir
K. Referensi
Developing English Competencies for Grade XI of Language Programme.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing pada tanggal 3 Oktober 2009 dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.
Guru Pembimbing, Dosen Pembimbing, Mahasiswa,

Sri Isna Hayani, S. Pd Drs. Sirajuddin Asmaul Husna
NIP.19650314 198601 2 002 NIP. 19630515 199002 1 008 NPM. 3060612197

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah diserahkan pada tanggal 3 Oktober 2009 dan dengan demikian siap untuk dipakai latihan pada hari Selasa tanggal 6 Oktober 2009 jam pelajaran ke 1-2 dan merupakan latihan yang ke 5.
Guru Pembimbing,

Sri Isna Hayani, S. Pd
NIP.19650314 198601 2 002

RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP)

A. Identitas : SMA Negeri 2 Barabai
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas : XII IA 1
Semester : I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

B. Standar Kompetensi ( SK )
4 Mengungkapkan makna dalam teks percakapan transaksional dan interpersonal resmi dan berlanjut (sustained) dalam konteks kehidupan sehari-hari.
C. Kompetensi Dasar (KD)
4.1. Mengungkapakan makna dalam percakapan transaksional ( to get things done) dan berlanjut (sustained) secara akurat, lancar dan berterima yang menggunakan raham bahasa lisan dalam konteks kehidupan sehari-hari dan tidak melibatkan tindak tutur:
Mengakui kesalahan, berjanji, menyalahkan, menuduh, mengungkapkan keingintahuan dan hasrat, menyatakan berbagai sikap.

D. Indikator
• Menggunakan tindak tutur menyalahkan/menuduh.
• Menggunakan tindak tutur mengakui kesalahan.
• Menggunakan tindak tutur berjanji.
E. Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran siswa dapat:
1. Mempraktekkan tindak tutur menyalahkan/menuduh.
2. Mempraktekkan tindak tutur mengakui kesalahan.
3. Mempraktekkan tindak tutur berjanji.
F. Materi Pembelajaran
Speaking:
• Use expression for blaming and accusing
• Use expressino for admitting and denying wrong doing
• Use expression for making a promise and swearing
G. Media Pembelajaran
Alat : Alat-alat tulis
Bahan : Buku paket Developing English Competencies for Grade XI.
H. Strategi, Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran
1. Strategi : Contextual Learning
2. Model : Cooperative Learning tipe
OPERAN KERTAS IDE (OKI)
3. Pendekatan : Pendekatan Konsep
4. Metode : Diskusi Informasi
II. Skenario Kegiatan / Pengalaman Belajar
1. Kegiatan Pendahuluan
- Salam dan tegur sapa
- Berdoa
- Mengecek kehadiran siswa
2. Kegiatan Inti
• Pre Activity :
Guru memberikan beberapa pertanyaan:
1. Your teacher gave you an assignment to write an essay on a particular topic. You were too busy to write the essay. Then, you copied an article from a magazine. Your teacher know you didn’t write the essay by your self. What might he say?
2. How didi you respond to your teacher’s accusation. Would you admit that you copied the artickle?
3. Would you apologize to you teacher? Would you regret it? How would you express the above?
• While Activity :
- Mendiskusikan tindak tutur yang digunakan dalam percakapan yang didengar.
- Bermain peran secara berpasangan.
- Siswa mengerjakan soal.
• Post Activity :
Guru memberikan kesimpulan tentang keterampilan berbahasa yang telah dilatihkan.
3. Kegiatan Penutup
- Guru memberikan siswa kesempatan untuk mengungkapkan hambatan yang dialami siswa selama mengerjakan tugas.
J. Penilaian
o Teknik : Cara mengungkapkan tindak tutur menyalahkan, mengakui kesalahan dan berjanji
o Bentuk : Tes tulis dan tes lisan
o Instruman : Terlampir
K. Referensi
Developing English Competencies for Grade XII of Natural and Science Programmes.





Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing pada tanggal 12 Oktober 2009 dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Guru Pembimbing, Dosen Pembimbing, Mahasiswa,


Sri Isna Hayani, S. Pd Drs. Sirajuddin Asmaul Husna
NIP.19650314 198601 2 002 NIP. 19630515 199002 1 008 NPM. 3060612197


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah diserahkan pada tanggal 12 Oktober 2009 dan dengan demikian siap untuk dipakai latihan pada hari Rabu tanggal 13 Oktober 2009 jam pelajaran ke 4-5 dan merupakan latihan yang ke 6.

Guru Pembimbing,


Sri Isna Hayani, S. Pd
NIP.19650314 198601 2 002




RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP)

A. Identitas : SMA Negeri 2 Barabai
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas : XII IS 2
Semester : I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

B. Standar Kompetensi ( SK )
10. Menggunakan makna teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk narrative, explanation, dan dicussion dalam konteks kehidupan sehari-hari.
C. Kompetensi Dasar (KD)
10.1. Menggunakan makna dalam teks fungsional pendek (misalnya banner, poster, pamphlet, dll) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari.
D. Indikator
• Menggunakan tata bahasa, kosa kata, tanda baca, ejaan, dan tata tulis dengan akurat


E. Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran siswa dapat menggunakan conjunction: because, because of, dan due to dengan tepat.
F. Materi Pembelajaran
Writing:

Conjunction: because, because of, and due to
1. Because is used to join two complete sentences together. They show cause and effect.

Firs sentences because second sentence
Pattern:

Examples:
a. I stayed at home because it was raining.
b. I ran out of the house because I heard a loud crash.
2. Because of and due to are used to introduce a cause in the form of noun phrase.

Sentence due to noun phrase
Pattern:

Examples:
a. I stayed at home due to the rain.
b. I couldn’t arrive home on time due to the traffic jam.

Because of noun phrase, sentence.
Pattern:
Examples:
a. Because of the rain, I stayed at home.
b. Because of the traffic jam, I couldn’t arrive home on time.

G. Media Pembelajaran
Alat : Alat-alat tulis
Bahan : English for a better life for grade XII
H. Strategi, Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran
1. Strategi : Contextual Learning
2. Model : Cooperative Learning tipe
OPERAN KERTAS IDE
3. Pendekatan : Pendekatan Konsep
4. Metode : Diskusi Informasi
I. Skenario Kegiatan / Pengalaman Belajar
1. Kegiatan Pendahuluan
- Salam dan tegur sapa
- Berdoa
- Mengecek kehadiran siswa



2. Kegiatan Inti
• Pre Activity :
- Guru mengadakan tanya jawab:
1. Who is she/he?
2. Do you like him/her? Why?
• While Activity :
- Guru menjelaskan tentang penggunaan conjunction: because, because of dan due to pada kalimat.
- Siswa berlatih menggunakan conjunction: because, because of dan due to pada kalimat.
- Siswa mengisi kalimat-kalimat yang kosong dengan menggunakan conjunction: because, because of atau due to pada kalimat.
• Post Activity :
Guru memberikan kesimpulan tentang keterampilan berbahasa yang telah dilatihkan.
3. Kegiatan Penutup
Guru memberikan siswa kesempatan untuk mengungkapkan hambatan yang dialami siswa selama mengerjakan tugas.
J. Penilaian
o Teknik : Conjunction: because, because of, and due to
o Bentuk : Tes tulis dan tes lisan
o Instruman :
1. Hemp was grown throughout history____________ its versatility. It can be used to make many different things.
2. Many species in the forest are threatened __________ logging takes place almost every day.
3. ____________ the moon’s gravitational pull, there are ocean tides.
4. Many species of wildlife are becoming extinct_________ the rainforest are being destroyed.
5. The Darmawans are moving out of town__________ their house caught on fire.
6. Mr. Tono has to work hard__________ he has to support his big family.
7. The people in this area are malnourished___________ the dense population.
8. The Hermans like to live in their new neighborhood___________ the people there are so friendly.
9. Vita couldn’t attend the class yesterday__________ her illness.
10. ___________ the flood, the houses are all destroyed.

Answer Key:
1. because of/due to
2. because
3. Because of/Due to
4. because
5. because
6. because
7. because of/due to
8. because
9. because of/due to
10. Because of/Due to

K. Referensi
English for a better life for grade XII

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing pada tanggal 15 Oktober 2009 dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Guru Pembimbing, Dosen Pembimbing, Mahasiswa,


Sri Isna Hayani, S.Pd Drs. Sirajuddin Asmaul Husna
NIP. 19650314 198601 2 002 NIP. 19639515 199002 1 008 NPM.3060612197


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah diserahkan pada tanggal 17 Oktober 2009 dan dengan demikian siap untuk dipakai latihan pada hari Senin tanggal 19 Oktober 2009 jam pelajaran ke 1-2 dan merupakan latihan yang ke 7.

Guru Pembimbing,


Sri Isna Hayani, S.Pd
NIP. 19650314 198601 2 002


RENCANA PELAKSAAN PEMBELAJARAN
( RPP)

A. Identitas : SMA Negeri 2 Barabai
Mata Pelajaran : Bahasa Inggris
Kelas : XII IS 1
Semester : I
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit

B. Standar Kompetensi ( SK )
10. Menggunakan makna teks fungsional pendek dan esei sederhana berbentuk narrative, explanation, dan dicussion dalam konteks kehidupan sehari-hari.
C. Kompetensi Dasar (KD)
10.1. Menggunakan makna dalam teks fungsional pendek (misalnya banner, poster, pamphlet, dll) resmi dan tak resmi yang menggunakan ragam bahasa tulis secara akurat, lancar dan berterima dalam konteks kehidupan sehari-hari.
D. Indikator
• Menggunakan tata bahasa, kosa kata, tanda baca, ejaan, dan tata tulis dengan akurat


E. Tujuan Pembelajaran
Pada akhir pembelajaran siswa dapat menggunakan conjunction: because, because of, dan due to dengan tepat.
F. Materi Pembelajaran
Writing:

Conjunction: because, because of, and due to
3. Because is used to join two complete sentences together. They show cause and effect.

Firs sentences because second sentence
Pattern:

Examples:
a. I stayed at home because it was raining.
b. I ran out of the house because I heard a loud crash.
4. Because of and due to are used to introduce a cause in the form of noun phrase.

Sentence due to noun phrase
Pattern:

Examples:
a. I stayed at home due to the rain.
b. I couldn’t arrive home on time due to the traffic jam.

Because of noun phrase, sentence.
Pattern:

Examples:
a. Because of the rain, I stayed at home.
b. Because of the traffic jam, I couldn’t arrive home on time.

G. Media Pembelajaran
Alat : Alat-alat tulis
Bahan : English for a better life for grade XII
H. Strategi, Model, Pendekatan, dan Metode Pembelajaran
1. Strategi : Contextual Learning
2. Model : Cooperative Learning tipe
OPERAN KERTAS IDE
3. Pendekatan : Pendekatan Konsep
4. Metode : Diskusi Informasi
I. Skenario Kegiatan / Pengalaman Belajar
1. Kegiatan Pendahuluan
- Salam dan tegur sapa
- Mengecek kehadiran siswa



2. Kegiatan Inti
• Pre Activity :
- Guru mengadakan tanya jawab:
3. Who is she/he?
4. Do you like him/her? Why?
• While Activity :
- Guru menjelaskan tentang penggunaan conjunction: because, because of dan due to pada kalimat.
- Siswa berlatih menggunakan conjunction: because, because of dan due to pada kalimat.
- Siswa mengisi kalimat-kalimat yang kosong dengan menggunakan conjunction: because, because of atau due to pada kalimat.
• Post Activity :
Guru memberikan kesimpulan tentang keterampilan berbahasa yang telah dilatihkan.
3. Kegiatan Penutup
Guru memberikan siswa kesempatan untuk mengungkapkan hambatan yang dialami siswa selama mengerjakan tugas.
J. Penilaian
o Teknik : Conjunction: because, because of, and due to
o Bentuk : Tes tulis dan tes lisan
o Instruman :
11. Hemp was grown throughout history____________ its versatility. It can be used to make many different things.
12. Many species in the forest are threatened __________ logging takes place almost every day.
13. ____________ the moon’s gravitational pull, there are ocean tides.
14. Many species of wildlife are becoming extinct_________ the rainforest are being destroyed.
15. The Darmawans are moving out of town__________ their house caught on fire.
16. Mr. Tono has to work hard__________ he has to support his big family.
17. The people in this area are malnourished___________ the dense population.
18. The Hermans like to live in their new neighborhood___________ the people there are so friendly.
19. Vita couldn’t attend the class yesterday__________ her illness.
20. ___________ the flood, the houses are all destroyed.

Answer Key:
1. because of/due to
2. because
3. Because of/Due to
4. because
5. because
6. because
7. because of/due to
8. because
9. because of/due to
10. Because of/Due to

K. Referensi
English for a better life for grade XII

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah dikonsultasikan dengan Dosen Pembimbing dan Guru Pembimbing pada tanggal 15 Oktober 2009 dan telah memenuhi ketentuan yang berlaku.

Guru Pembimbing, Dosen Pembimbing, Mahasiswa,


Sri Isna Hayani, S.Pd Sirajuddin, S.Pd Asmaul Husna
NIP. 19650314 198601 2 002 NIP. 19639515 199002 1 008 NPM.3060612197


Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ini telah diserahkan pada tanggal 17 Oktober 2009 dan dengan demikian siap untuk dipakai latihan pada hari Senin tanggal 19 Oktober 2009 jam pelajaran ke 7-8 dan merupakan latihan yang ke 8.

Guru Pembimbing


Sri Isna Hayani, S.Pd
NIP. 19650314 198601 2 002


BAB III
PELAKSANAAN PROGRAM PPL II

A. Pelaksanaan Kegiatan Praktik Mengajar

1. Pelaksanaan Praktik Mengajar
Dalam praktik mengajar ini mahasiswa sebagai calon guru dituntut untuk dapat melaksanakan tugasnya secara optimal, agar apa yang disampaikan kepada siswa dapat diterapkan dengan baik sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Untuk memudahkan pencapaian tujuan tesebut calon guru dapat menggunakan alat Bantu atau alat peraga yang sesuai dengan materi pembelajaran.
Sebelum praktik mengajar di kelas, mahasiswa diharuskan membuat satuan pelajaran atau rencana pembelajaran. Bahan praktik mengajar ditentukan oleh mahasiswa dengan berpanduan pada silabus yang relevan dan menurut persetujuan Guru Pamong yang mencakup empat skill, yaitu listening, speaking, reading, dan writing. Materi pembelajaran disusun dalam bentuk Recana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dikonsultasikan dengan Guru Pamong dan Dosen Pembimbing untuk latihan 1 sampai 8. Jika sudah disetujui dan memenuhi segala kriteria yang telah ditentukan, maka siap untuk digunakan sebagai pedoman dalam mengajar.

2. Saran-Saran dari Guru Pamong dan Dosen Pembimbing
Adapun saran-saran yang diberikan Guru Pamong dan Dosen Pembimbing dari beberapa kali praktik mengajar di depan kelas, dapat disimpulkan sebagai berikut:
a. Menggunakan alat bantu seoptimal mungkin.
b. Sambil mengajar, juga harus diperhatikan keterlibatan siswa di kelas supaya pengelolaan kelas berjalan dengan baik.
c. Gunakan bahasa Inggris diikuti bahasa Indonesia agar instruksi guru dapat dipahami oleh siswa.

3. Hambatan / Kendala
Dalam setiap kegiatan pasti ada kendala-kendala yang dihadapi, walaupun tidak berdampak besar namun bisa menyebabkan kurangnya kepuasan, akan tetapi bila kendala/hambatan itu bisa diminimalisir sedemikian rupa, maka akan dapat mendatangkan kesuksesan bagi kita. Selama praktik mengajar, kendala-kendala yang dihadapi antara lain:
1. Kurangnya kedisiplinan dan kesungguhan siswa dalam mengikuti pelajaran, terutama pada pelajaran terakhir.
2. Ada sebagian siswa yang sulit diarahkan dalam proses belajar-mengajar.
3. Keterlambatan dalam mengerjakan tugas yang diberikan.

B. Analisis Pelaksanaan PPL II
.Pelaksaanaan praktik mengajar yang dilakukan merupakan suatu kegiatan yang terencana dan menggunakan media sebagai alat bantu di dalam proses belajar-mengajar, supaya siswa lebih tertarik dan semangat dalam mengikuti pelajaran, sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai.
Dalam pelaksanaan praktik mengajar, setiap kali pertemuan diberikan alokasi waktu, di mana mahasiswa PPL II diharapkan dapat menggunakan waktu tersebut seefisien mungkin untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Dalam menggunakan seperangkat pembelajaran, guru juga perlu memperhatikan kondisi sekolah, terutama yang berhubungan dengan sarana serta mempertimbangkan pula perkembangan dan kemampuan siswa. Di samping itu juga perlu memperhatikan dirinya sendiri, sebelum memberikan materi pelajaran, perlu ada persiapan terlebih dahulu.
Untuk menarik motivasi siswa dalam pelajaran bahasa Inggris, guru perlu menggunakan bahan-bahan yang sudah dipersiapkan semenarik mungkin, sehingga siswa lebih dapat terpacu dalam pembelajaran bahasa Inggris.
Realisasi kegiatan belajar mengajar di kelas dapat dikatakan berjalan dengan baik, apabila adanya persiapan dan penguasaan materi pelajaran yang matang oleh guru tersebut, sehingga tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan kurikulum.



BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
PPL II yang dilaksanakan bermaksud untuk pembentukan profesionalitas guru sebagai pengajar untuk meningkatkan SDM yang berkualitas tinggi. Selama melaksanakan PPL II di SMAN 4 Barabai penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Sistem magang PPL II, mahasiswa dituntut untuk melaksanakan praktik mengajar sebanyak 8 kali pertemuan, yang diharapkan nantinya mahasiswa akan terlatih jika terjun langsung ke dunia pandidikan dan pengajaran.
2. Sebelum melaksanakan penyajian materi di depan kelas, guru dituntut membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
3. Pelaksanaan praktik mengajar hendaknya perlu kesiapan yang matang baik mental maupun jasmani sehingga dapat melaksanakan kegiatan praktik mengajar di depan kelas.
4. Hambatan/kendala yang timbul dalam praktik mengajar menjadi pengalaman dan koreksi diri, bukan menjadi hal yang membuat pesimis dalam menghadapi kegiatan belajar-mengajar tersebut.


B. Saran-saran
Sebagai akhir dari laporan Praktik Pengalaman Lapangan II (PPL II) ini, penulis memberikan saran-saran yaitu:
1. interaksi yang ada di sekolah harus ditinggkatkan dan dikembangkan sehingga terjalin rasa persaudaraan dan kekeluargaan.
2. Kepada adik-adik mahasiswayang akan praktik mengajar, gunakanlah kesempatan ini dengan sebaik-baiknya dan tingkatkanlah motivasi serta kreativitas dalam praktik sebagai persyaratan yang harus dilakukan oleh setiap mahasiswa STKIP PGRI Banjarmasin dan sekaligus bekal dalam pengabdian diri pada masyarakat.

modul PPL

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : MTs. Negeri Pandawan
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Kelas/Semester : VII/Ganjil
Waktu : 2 x 40 menit


Standar Kompetensi : Memahami sifat-sifat Allah swt

Kompetinsi Dasar : Memahami dan menyakini sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah
swt yang nafsiah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiah.

Indikator : 1. Menjelaskan pengertian sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah swt
2. Hapal sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah swt
3. Menunjukan sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah swt yang nafsiah, salbiah, ma’ani dan ma’nawiyah.

Tujuan Pembelajaran : 1. Siswa dapat menjelaskan pengertian sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah swt.
2. siswa dapat menghapal sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah swt
3. siswa dapat mengimani sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah swt.

Materi Pembelajaran : Sifat-sifat Allah swt

Metode Pembelajaran : 1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Diskusi

Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran :
a. Kegiatan Awal
- Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan berdo’a meminta siswa untuk menyiapkan buku Akidah Akhlak.
b. Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan tentang pengertian sifat wajib, mustahil, dan jaiz allah swt.
- Siswa mendengar dan merangkum penjelasan guru.
c. Kegiatan Akhir
- Guru memberi tugas siswa untuk menghapal sifat wajib, mustahil dan jaiz Allah swt
- Siswa bersama-sama membaca bacaan hamdalah dan do’a sebagai penutup kegiatan.

Alat,Bahan dan sumber Belajar :
- Buku paket Akidah Akhlak kelas 1 penerbit Tiga serangkai, Solo.
- Buku-buku lain yang relevan.
- Caption

Penilaian :
- Jenis : tertulis dan lisan
- Bentuk : Bentuk uraian
- Instrumen



LEMBAR PENILAIAN
NO. Butir Soal Kunci Jawaban
1. Jelaskan pengertian sifat wajib bagi Allah ! Sifat wajib bagi Allah swt adalah sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah swt yang sesuai dengan keagungannya sebagai pencipta alam seisinya.
2. Sebutkan lima sifat wajib Allah swt ! a. Wujud
b. Qidam
c. Baqa
d. Mukhalafatu lil hawadisi
e. Qiyamuhu binafsihi
3. Diskusikan dengan teman-temanmu, bagaimana perbedaan antara sifat-sifat Allah swt .Dan sifat-sifat yang ada pada diri manusia !

Mengetahui Barabai, April 2009
Kepala Sekolah MTsN Pandawan Guru Mata Pelajaran



Drs.H.Imansyah Mahlan Dra.Hj.Amnah F.
NIP. 150 293 350 NIP. 093 110 023







RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

Nama Sekolah : MTs. Negeri Pandawan
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Kelas/Semester : VII/Ganjil
Waktu : 2 x 40 menit

Standar Kompetensi : Memahami sifat-sifat wajib Allah swt

Kompetinsi Dasar : Memahami dan menyakini sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz
Allah swt yang nafsiah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiah.

Indikator : 1. Menjelaskan makna sifat wajib Allah swt yang nafsiah dan salbiayah.
2. Menghapal sifat wajib Allah swt yang nafsiah dn salbiah beserta dalilnya.
3. Menunjukan dalil aqli dan naqli tentang sifat-sifat Allah yang nafsiah dan salbiah.
4. Menunjukan bukti sifat nafsiah dan salbiah (wujud,qidam,baqa,mukhalafatu lilhawadis, Qiyamuhu binafsihi dan wahdaniyah.
5. Menunjukan ciri-ciri orang yang beriman terhadap sifat wajib Allah yang nafsiah dan salbiyah.
6. Menunjukan sikap dan perilaku orang yang beriman terhadap sipat wajib yang nafsiah dan salbiyah.

Tujuan Pembelajaran : 1. Siswa dapat menjelaskan makna sifat wajib Allah swt yang nafsiah dan salbiyah
2. Siswa dapat hapal sifat wajib Allah swt yang nafsiah dan salbiyah.
3. Siswa dapat menunjukan dalil naqli dan aqli tentang sifat-sifat Allah yang nafsiah dan salbiyah.
4. Siswa dapat memberikan bukti sifat nafsiah dan salbiyah

Materi Pembelajaran : Sifat-sifat wajib Allah swt

Metode Pembelajaran : 1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Pemberian tugas


Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran :
a. Kegiatan Awal
- Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan berdo’a.
- Menjelaskan materi yang akan diajarkan beserta kompetensi yang akan dicapai secara singkat.
b. Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan tentang makna sifat wajib Allah swt yang nafsiyah dan salbiyah yang harus kita percayai. - Siswa mendengarkan dan merangkum penjelasan guru.
c. Kegiatan Akhir
- Guru memberi memberi pertanyaan tentang penjelasan yang diberikan
- Siswa bersama-sama membaca bacaan hamdalah dan do’a sebagai penutup kegiatan.
Alat, bahan dan sumber Belajar :
- Buku paket Akidah Akhlak kelas 1 penerbit Tiga serangkai, Solo.
- Buku-buku yang relevan.

Penilaian :
- Penilaian proses (aspek) Afektif, kognitif, psikomotor
- Penilaian hasil (instrument)



LEMBAR PENILAIAN
NO. Butir Soal Kunci Jawaban
1. Sebutkan lima macam yang termasuk sifat salbiyah ! a. Hudus
b. Fana
c. Mumasalatu lil hawadisi
d. Intiyajun ila Ghairihi
e. Ta’adud
2. Jelaskan yang dimaksud dengan sifat ma’ani! Sifat ma’ani adalah sifat wajib Allah swt yang dapat digambarkan oleh akal pikiran manusia dan meyakinkan orang lain karena kebenarannya dapat dibuktikan dengan panca indera
3. Apa yang dimaksud Allah swt bersifat qudrah? Allah swt bersifat qudrah berarti maha kuasa




Mengetahui Barabai, April 2009
Kepala Sekolah MTsN Pandawan Guru Mata Pelajaran



Drs.H.Imansyah Mahlan Dra.Hj.Amnah F.
NIP. 150 293 350 NIP. 093 110 023
























RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Nama Sekolah : MTs. Negeri Pandawan
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Kelas/Semester : VII/Ganjil
Waktu : 2 x 40 menit

Standar Kompetensi : Memahami sifat-sifat mustahil Allah swt

Kompetensi Dasar : Memahami dan menyakini sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz
Allah swt yang nafsiah, salbiyah, ma’ani dan ma’nawiah.

Indikator : 1. Menjelaskan pengertian sifat-sifat mustahil Allah ; Adam, huduts, fana, mumatsalatuhu lil hawaditsi, ihtiyajuhu li qhairih, ta’addud.
2. Hapal sifat-sifat mustahil bagi Allah ; Adam, huduts, fana, mumatsalatuhu lil hawaditsi, intiyajuhu li qhairih, ta’addud
3. Menunjukan dalil aqli dan naqli tentang sifat-sifat mustahil Allah ; Adam, hudust, fana, mumatsalatuhu lil hawaditsi, ihtiyajuhu liqhairih, ta’addud.
4. Menunjukan ciri-ciri orang yang beriman terhadap sifat mustahil Allah ; Adam, huduts, fana, mumatsalatuhulil hawaditsi, ihtiyajuhu li qhairih, ta’addud
5. Menunjukan sikap dan perilaku orang yang beriman terhadap sifat mustahil Allah; Adam, huduts, fana,mumatsalatuhulil hawaditsi, ihtiyajuhu li qhairih, ta’addud

Tujuan Pembelajaran : 1. Siswa dapat menyebutkan pengertian sifat-sifat mustahil Allah ; ; Adam, huduts, fana,mumatsalatuhulil hawaditsi, ihtiyajuhu li qhairih, ta’addud
2. Siswa dapat hapal sifat-sifat mustahil Allah swt ; Adam, huduts, fana,mumatsalatuhulil hawaditsi, ihtiyajuhu li qhairih, ta’addud
3. Siswa dapat menunjukan dalil naqli dan aqli tentang sifat-sifat mustahil Allah .
4. Siswa dapat menunjukan ciri-ciri orang yang beriman terhadap sifat-sifat mustahil Allah

Materi Pembelajaran : Sifat-sifat mustahil Allah swt

Metode Pembelajaran : 1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Praktek

Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
a. Kegiatan Awal
- Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan berdo’a.
- Meminta siswa untuk menyiapkan buku Akidah Akhlak.
b. Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan tentang pengertian sifat-sifat mustahil Allah swt.. -Siswa mendengarkan dan merangkum penjelasan guru.
c. Kegiatan Akhir
- Guru memberi tugas untuk menghapal sifat-sifat mustahil Allah swt
- Siswa bersama-sama membaca bacaan hamdalah dan do’a sebagai penutup kegiatan.

Alat, bahan dan sumber Belajar :
- Buku paket Akidah Akhlak kelas 1 penerbit Tiga serangkai, Solo.
- Buku-buku yang relevan.

Penilaian :
- Penilaian proses (aspek) Afektif, kognitif, psikomotor
- Penilaian hasil (instrument)



LEMBAR PENILAIAN
NO. Butir Soal Kunci Jawaban
1. Apayang dimaksud dengan sifat Adam? Yang dimaksud sifat Adam adalah tidak ada
2. Sebutkan tiga ciri-ciri orang yang beriman terhadap sifat wajib bagi Allah a.Menyembah dan tidak menyekutukan Allah swt
b.Tidak berprasngka buruk kepada Allah swt
c.Berusaha untuk tidak sombong dalam hidup di dunia karena hanya Allah swt yang pantas untuk sombong.
3. Tuliskan Q.s.Al Hadid ayat 3 Allah swt bersifat qudrah berarti maha kuasa


Mengetahui Barabai, April 2009
Kepala Sekolah MTsN Pandawan Guru Mata Pelajaran



Drs.H.Imansyah Mahlan Dra.Hj.Amnah F.
NIP. 150 293 350 NIP. 093 110 023


















RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Nama Sekolah : MTs. Negeri Pandawan
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Kelas/Semester : VII/Ganjil
Waktu : 2 x 40 menit

Standar Kompetensi : Meneladani perilaku kehidupan sahabat

Kompetensi Dasar : Mencintai dan meneladani sifat dan perilaku kehidupan sahabat

Indikator : 1. Menunjukan sifat dan perilaku baik dari kehidupan Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, dan Musab bin Umair.
2. Mengidentifikasi nilai-nilai yang pantas diteladani dari Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, dan Musab bin Umair.
3. Meneladani sifat dan perilaku Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, dan Musab bin Umair.

Tujuan Pembelajaran : 1. Siswa dapat menunjukkan dan meneladani sfat dan perilaku Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, dan Musab bin Umair.
2. Siswa dapat memberi contoh nilai-nilai yang patut diteladani dari sahabat Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, dan Musab bin Umair

Materi Pembelajaran : Materi kehidupan sahabat

Metode Pembelajaran : 1. Ceramah
2. Diskusi
3. Pemberian tugas

Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
a. Kegiatan Awal
- Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah
- Meminta siswa untuk menyiapkan buku Aqidah Akhlak.
b. Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan tentang perilaku baik kehidupan sahabat Bilal bin Rabbah, Amar bin Yasir, dan Musab bin Umair
-Siswa mendengarkan dan merangkum penjelasan guru.
c. Kegiatan Akhir
- Siswa bersama-sama membaca bacaan hamdalah dan do’a sebagai penutup kegiatan

Alat, bahan dan sumber Belajar :
- Buku paket Aqidah Akhlak kelas 1 penerbit Tiga serangkai, Solo.
- Buku-buku yang relevan.

Penilaian :
- Penilaian proses (aspek) Afektif, kognitif, psikomotor
- Penilaian hasil (instrument)


LEMBAR PENILAIAN

1. Kapan penderitaan bilal sebagai budak berahir!
2. Mengapa Amir bin Yasir memihak kepada khalifah Ali bin Abi Thalib?
3. Apa rintangan yang diterima mus’ab bin umair ketika masih bersama ibunya?
4. tuliskan Q.S An-Nahl ayat 106 yang dibaca Rasulullah saw ketika menemui ammar bin yasir!
5. Buatlah rangkuman ketiga sahabat Rasulullah saw diatas dengan bahasamu sendiri!







Mengetahui Barabai, April 2009
Kepala Sekolah MTsN Pandawan Guru Mata Pelajaran



Drs.H.Imansyah Mahlan Dra.Hj.Amnah F.
NIP. 150 293 350 NIP. 093 110 023







RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


Nama Sekolah : MTs. Negeri Pandawan
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Kelas/Semester : VII/Ganjil
Waktu : 2 x 40 menit


Standar Kompetensi : Memahami iman kepada kitab-kitab Allah swt

Kompetinsi Dasar : Beriman kepada kitab-kitab Allah swt

Indikator : 1. Menjelaskan pengertian iman kepada kitab-kitab Allah swt
2. Menyebutkan nama-nama kitab-kitab Allah swt yang diturunkan kepada utusannya
3. Membedakan antara kitab dan suhuf
4. Mengambil hikmah dan fungsi beriman kepada kitab-kitab Allah swt
5. Menunjukan dalil aqli dan naqli beriman kepada kitab-kitab Allah swt
6. Memiliki sikap dan perilaku orang yang beriman kepada kitab-kitab Allah swt yang diturukan kepada para utusannya.

Tujuan Pembelajaran : 1. Siswa dapat menyebutkan pengertian dari iman kepada kitab-kitab Allah swt
2. Siswa dapat menyebutkan nama-nama kitab Allah swt yang diturunkan kepada utusannya
3. Siswa dapat membedakan antara kitab dan suhuf
4. Siswa dapat memberikan contoh dalil aqli dan naqli beriman kepada kitab-kitab Allah swt

Materi Pembelajaran : Materi Iman kepada kitab-kitab Allah swt

Metode Pembelajaran : 1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Pemberian tugas

Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
a. Kegiatan Awal
- Memberi salam dan memulai pelajaran dengan membaca basmalah dan do,a
- Menjelaskan materi yang akan diajarkan beserta kompetinsi yang akan dicapai secara singkat
- Meminta siswa untuk menyiapkan buku Aqidah aqhlak
b. Kegiatan Inti
- Guru menjelaskan tentang iman kepada kitab-kitab Allah swt
-Siswa mendengarkan dan merangkum penjelasan guru.
c. Kegiatan Akhir
- Guru memberi tugas tentang penjelasasn yang diberikan
- Siswa bersama-sama membaca bacaan hamdalallah dan do’a sebagai penutup kegiatan.

Alat, bahan dan sumber Belajar :
- Buku paket Akidah Akhlak kelas 1 penerbit Tiga serangkai, Solo.
- Al-Qur’an dan terjemahnya
- Buku-buku yang relevan

Note :
1. Bentuk matriks / susunan
2. Penilaian
3. Tujuan pembelajaran / kegiatan pembelajaran / pengalaman belajar ?
4. Instrumen ( kotak / tabel )

Penilaian :
a. Jenis : Tertulis dan lisan
b. Bentuk : Uraian
c. Instrumen :


LEMBAR PENILAIAN

1. Jelaskan pengertian iman kepada kitab-kitab Allah swt !
2. Sebutkan nama kitab-kitab Allah swt dan kepada siapakitab-kitab itu diturunkan !
3. Jelaskan perbedaan kitab dan shuhuf !
4.Sebutkan tiga perkara iman kepada kitb-kitab Allah swt
5.Tulislah ayat-ayat yang berhubungan dengan kitab-kitab dibawah ini !

NO. Kitab Surah dan ayat Bunyi Ayat
1.
2.
3.
4. Injil
Zabur
Taurat
Al-Quriah Surah Al-Ma’idah Ayat 46
Surah Al-Isra Ayat 55
Surah Al-ma’idah Ayat 4
Surah Ali’imran Ayat 1-4
Kunci Jawaban :

1. Iman kepada kitab-kitab Allah swt berarti meyakini adanyakitab tersebut serta meyakini kebenaran adanya.

2. Nama-nama kitab Allah swt adalah :
a. zabur, diwahyukan kepada Nabi Daud As
b. taurat, diwahyukan kepada Nabi Musa As
c. Injil, di wahyukan kepada Nabi Isa As
d. Al Quran, diwahyukan kepada Nabi Muhamad swt

3. Perbedaan kitab dan shuhuf adalah :
a. Kitab adalah kumpulan firman Allah swt yang diwahyukan kepada Rasul-Nya
b. Shuhuf adalah lembaran-lembaran yang berisi wahyu Allah swt yang diberikan kepada rasul-Nya untuk disampaikan kepada umat manusia .
4. Tiga perkara iman kepada kitab-kitab Allah swt adalah :


Mengetahui Barabai, April 2009
Kepala Sekolah MTsN Pandawan Guru Mata Pelajaran



Drs.H.Imansyah Mahlan Dra.Hj.Amnah F.
NIP. 150 293 350 NIP. 093 110 023